Jumat, 02 Oktober 2015

Ini Batikku, Mana Batikmu?



“Kita kok persis kayak anak-anak gini sih Rin?” tanyaku kepada Rini yang sama-sama sedang asyik dengan HP dalam posisi tengkurap, bersebelahan.
Rini melihat ke arahku kemudian kembali kepada dirinya sendiri. “Eh, iya iyaaa. Hahaaa.. ginilah El kalau punya HP, jadi autis kita dengan dunia kita sendiri.”
“Tuuu, HPnya salah Rin?”
“Enggg…enggak!”
Pagi ini ku putuskan sebagai hari bebas sarapan dan makan malam. Setelah pukul 08.00wib, Rini jalan kaki sendirian ke warung dekat kosan untuk sarapan. Nyaris aku tergoda untuk ikut pergi bersamanya. Tapi, ketika teringat dengan target, kembali ku teguhkan diri.
“Nggak ah Rin. Aku nggak mau. Yap, aku harus kuat!”
“Ya udah, awas ya kalau tiba-tiba nyusul aku nanti!”
“Insya allah nggak Rin,” jawabku sok yakin, sok tenang.
Anak-anak… hari ini kita ke mana? Selamat Hari Batik yaaa. Ada saran nggak kita bagusnya ngapain dan ke mana? Ke tempat belajar membatik gitu boleh juga. Ada yang tahu di mana?, Tanyaku ke grup chat MAWAPRES 2015.

Galeri Batik Rani, balas Okta.
Selalapnyaaa. Balasku pula, karena udah sering banget ke Rani.
Tipapu
Bububuyu
Mepong-mepong
De jambuuuuu.
Kalian ngomong apa sih *emot sedih. Balas Teguh tiba-tiba. Tentu aja karena dia terheran-heran dengan kata-kataku dan Okta. Hihiii.
Laili hadir di chat dengan membawa angin segar. Sebuah tempat belajar membatik dikabarkannya berasa di jalan Pemuda……………. Ada dek Novi, dek Doli dan dek Reza juga yang merespon. Keputusan sementaranya adalah pukul 14.00wib goes to kampung batik. Semoga beneran jadi. Semoga bakalan seru. Aamiin.

***
Azan Jumat berkumandang. Aku dan Rini bergegas sholat Zuhur dan bersiap-siap pergi.
“Rin, pakai batik ya! Dress codenya batik.”
“Bajuku udah ku masukkan ke dalam tas loh. Nggak usah aja aku pakai batik.”
“Lah, Rini beda sendirian donk kalau gitu?”
“Ya biar aja.”
Owalah, degil (baca: bandel parah) juga nih bocah ya! Padahal tadi dia bilang agak minder kalau ikut karena yang lainnya anak-anak MURC, tapi ketika ku sarankan untuk berbaur (pakai batik –red) dianya malah ogah. Sak karepmu lah nduk!
“Rini nggak mau pinjam baju batikku aja?”
“Emmm..nggak usah lah El.”
“Rini tuh nggak pandai menyesuaikan diri loh orangnya! Giliran semuanya pakai batik, dikasih solusi supaya bisa pakai batik pun nggak mau.”
“Huhuuhuuu… jadi gimana inii?” tanyanya, belagak kayak anak kecil nangis.
“Terserah elu dah! Heh, nanti jangan-jangan di tempat kerja pun Rini kayak gitu ya? bos nyuruh pakai blazer, terus Rini bilang dalam hati; Pakai kemeja ajalah, kan yang penting rapi. Haaa… hayooo.”
“Huhuuuu..”

Warung Gopek is our choice for this lunch. Aku dan Rini padahal niat banget pengen nyobain Telur Dadar Penyet, eh tapi malah nggak ada. Ya udah deh, aku nyobain ikan asin penyet aja dan Rini tempe+tahu penyet. Sama-sama Rp 10.000. Eh, tapi aku masih ada tambahannya; terong goreng dan nasi tambah. Heheehee.  Untung aja aku nggak minum teh es, jadi bisa ngirit Rp 300. Makan siang ini pun rencanya buat stok sampai malam pemirsaa, aku mau melanjutkan diet from dinner. Huahahaahaa…
“Eh, El udah ngasih kado buat Lia?”
“Belum. Yuk, kita kasih bareng. Apa ya kira-kira?”
“Jilbab aja gimana?”
“Boleeh.”
Jadi cek? Tanya Novi di grup.
Nggak tahu nih yang lainnya juga nggak pada ngerespon Cek. Cuma cek, raja, kakak n Laili doank nih.
Gerimis pun turun. Langit berwarna kelabu tadi ternyata pertanda gerimis akan datang, semoga berganti menjadi hujan. Aamiin. Aalhumma soyyiban nafi’aan. Aku dan Rini menyantap makan siang dengan lahap. Kami duduk di bangku terdepan, di teras warung ini. Ada 2 laki-laki yang sedang menyanyikan lagu kesekiannya di dekat kasir. 1 orang menabuh Konga dan satunya lagi bernyanyi sambil bergitar. Beberapa orang memberi mereka uang sebelum beranjak meninggalkan Warung Gopek.

“Rin, cowok yang main gitar, ganteng.”
“Hemmm… kalau lihat yang seger-seger aja, cepeet.”
Yap, melihat selintas aja ternyata telah membuatku ber-persepsi. Lalu, bagaimana bisa pak Danur bilang bahwa persepsi tidak mungkin muncul kalau kita tidak betul-betul mengenal objek? *aseeeekk, pembahasan tingkat bidadari, hehe.
“Kita ke tempat jilbab dulu ya Rin, baru ku antarkan Rini ke kolor mart.”
“Jadi.”
Ada 3 tempat jilbab yang kami datangi. Tempat yang ketiga barulah nemukan 2 jilbab yang cocok; jilbab Rini dan jilbab untuk Lia. Jilbab yang untuk Lia ini sebenarnya mau ku miliki aja, tapi ternyata aku nggak nemuin yang cocok buat Lia selain pilihanku itu. Dan, jilbab Rini itu pun rencananya untuk Lia, tapi karena dia suka, akhirnya dimilikinya. Huaaaahhhh. *sory yah ciinn, khabisnya ita-kita adalah cewek siiih.

***
“Mau nyari apa sih ke sini Ntuu?”
“Cari termos.”
“Untuk?”
“Untuk Bapakku. Biasanya Bapakku naruk air panas untuk dibawa pergi tu pakai Tupperware aja, kan itu cepat dingin jadinya.”
“Ohhh..gituuu. Eh, alat penyiang kulit ikan kemarin mana Rin? Kayaknya boleh juga tuuhh!”
“Heleeehh, kemarin ngejek aku; ‘Apalah kayak gitu aja dibellii?’ huhhh.”
Aku merengek-rengek meminta Rini mencarikannya untukku. Bukannya teliti mencari, aku malah merecoki Rini.
“Cari tu pake mata woy, bukan pake mulutt! Shut up your lambeeee (baca: mulut)!” kata Rini.
“Hihiiii.. iya nyonya menirrr. Naaahhhh! Ini diaaa!”
“Tu kan, kalau nyari pake mata pasti langsung ketemu.”
Rini masih teliti memilih-milih jenis termos yang harganya cocok dengan kantongnya. Sementara aku sibuk memfotonya dan memfoto diriku sendiri. *mumpung nggak ada orang ciiin. Hehe.
“El ada uang Rp 20.000?”
“Ada nihhh.”
“Nggak cukup soalnya uangku ini. Tadi untuk beli sticker wall aja udan 20 ribu, jilbab 25ribu.”
“Yuhuuu… eh, kita beli es kriim yuukk? Udah lama nggak makan es krim.”
“Uang kitaa Ell… hiksss. Maaf ya, uangnya ku pinjam duluu. Kita belum bisa makan es krim.”
“Yuhuuuuu.”

Dan, aku pun nggak jadi beli penyiang ikan tadi. Kapan-kapan aja deh belinya, kalau aku udah jadi muliarder, *loh?
“Cuy, kita sholat Ashar di Arrafah yuk?”
“Yuklah.”
Setelah sholat Ashar, aku mengajak Rini ke stadion utama Riau untuk jalan-jalan. Sekaligus, aku mau rapat dengan teman-teman komunitas Gerakan 1000 buku Riau.
“Katanya jam setengah 4, mana nih orangnya?” gumamku. Ku hentikan motorku di pintu masuk stadion dari arah datang Arengka.
“Coba telvon Teguh Elll.”
Baru aja mau ku tekan tombol dial, eh panggilan masuk dari Teguh langsung berdering.  Sering banget kayak gini. Teguh sedang OTW dan aku dimintanya menunggu sebentar.
“Rinnn, sambil nunggu Teguh, aku mau ngetik on the street ah! Tolong fotoin ekee yaa!” ku serahkan kameraku kepada Rini dan mulailah aku mengangsurkan cerita hari ini.
Agak was-was juga sebenarnya ketika berkali-kali orang ngebut-ngebutan melintas di depan kami. Khawatir kalau mereka berniat jahat terhadap gadget kami yang mencolok ini. Tapi, untunglah tak lama kemudian Teguh datang dan kami langsung menuju TKP. Ada Ospa dan PA juga ternyata.
“Rini ikutan duduk sama kami aja nggak apa-apa?” tanyaku ke Rini.

“Ya udah nggak apa-apa. Aku duduknya di ujung aja ya, dekat El, biar nggak ngganggu kalian.”
Sementara kami rapat, Rini membaca bukunya Teguh ‘Bumi Cinta’. Rapat dibuka oleh Teguh, dilanjutkan dengan perkenalan dan di akhiri dengan kalimat nyentriknya Ibnu…
“…Inilah yang banyak sekali organisator lupa, sebenarnya yang terpenting itu bagaimana kontribusi kita untuk masyarakat. Jalan ini termasuk untuk NGO yang ingin berkembang sampai ke level internasional sekalipun. Mau setebal apapun riwayat organisasi kita, kalau ternyata kita belum melakukan apa-apa untuk masyarakat, ya percuma sajaa..”
DEGGG! Setebal apapun? Adakah ia sedang berbicara tentang tumpukan berkas? Kalau iya, mungkin itu ada hubungannya dengan KPN-ku kemarin. Mungkin mapku yang paling berat isinya. Tapi, nyatanya itu tidak memberikan nilai plus untukku ketika semuanya hanya sebatas peraihan untuk diri sendiri.
“Ibnuu, duluan yaa,” aku berpamitan lebih dulu daripada yang lainnya. Maghrib telah menyelimuti hari. Sudah saatnya kami bergegas pulang.
“Yoi, thanks yaa.”

Di perjalanan pulang…
“Rin, tadi ada merasakan sesuatu yang berbeda nggak antara iklim organisasi kampus dan komunitas bebes gitu?”
“Engggg….. keren. Aku baru tahu kalau di Riau ini ada desa yang masih Animisme waktu tadi Ibnu bilang.”
“Aku juga baru tahu Rin. Kemarin Novi waktu pertama kali ikut rapat I-YES untuk acara workshop keliling dunia, dia bilang gini; ‘Cek, beda ya komunitas ni dengan organisasi di kampus’ gitu katanya Rin. Ya, namanya aja komunitas, semua orang bebas masuk dan lebih fleksibel sifatnya. Kebanyakan pun lebih berupa gerakan daripada kepanitiaan acara-acara.”
“Oooo……”
“Ahaaa! Aku tahu! Organisasi kampus tu condongnya mengadakan acara sedangkan komunitas tu condongnya mengadakan gerakan.”
“Ooooo……”
“Emang bener sih yang dibilang Ibnu tadi Rin, yang terpenting itu adalah bagaimana kita berkontribusi sebanyak mungkin untuk masyarakat dalam arti yang sebenarnya. Aku pun sedikit demi sedikit belajar dari perjalanan panjang seleksi KPN-ku. Dari seleksi itu aku sadar kalau ternyata semua sertifikat seminar, sertifikat kemenangan, sertifikat training itu sifatnya baru untuk diri sendiri. Termasuk waktu aku daftar program-program ke luar negeri, yang diminta itu bukannya apa yang pernah kita juarai Rin, tapi apa aksi sosial yang udah pernah kita lakukan. Dan, yang diminta itu adalah bukti dokumentasi kegiatan, bukan sertifikat. Luar biasa kan penghargaan program-program itu untuk pemuda bertipe volunteer?”
“Ooooo…..”
 “Ah, selalapnyaa oooo teruss.”

***
Ku pandangi 2 baju vintage dari mami. Problem keduanya adalah lengan tangan yang nanggung alis gantung. Aku punya ide untuk membuka lipatan di ujung lengannya dan mempermak sedemikian rupa, serapi mungkin sesuai tipe lipatannya.
“Rin, aku akan membongkar baju ini dengan tanganku sendiri!”
“Selalaapnya. Itulah kerjaan El.”
“Rini lihat nanti hasilnya. Pasti akan menakjubkan.”
Sebelum ku permak, baju itu ku pakai dan ku foto bergantian, supaya nanti bisa dibandingkan before-afternya.
“Udahlah tu! Sampai jam 12 malam nanti itulah kerjaan El kan?” sindir Rini.
“Eh, kok tempe? Hehe.”
“El nggak nulis rupanya?”
“Hiksss… jangan tanya itu dulu Rin. Aku masih linglung loh. Banyak fikiran di kepalaku ini.”
“Dan masih menyesuaikan kan?”
Yap, bener banget Rin. Tapi, menyesuaikan macam apa ini? Sesulit inikah aku kali ini terhadap lingkunganku sendiri? *emang aneh nih orang.
“El nggak merasa waktu El terbuang percuma rupanya?”
Hiksss. Parah amat nih bocah nyindirnya. Itu kan kalimatku tempo hari.

“Nggak lah Rinnn. Macam mana lagi, ini harus ku kerjakan sendiri.”
“Pulaknya tukang jahit di sini galak-galak kan? Kemarin di Siantar pun palak kali aku. Aku minta sama Nangboru (baca: tante) itu untuk masangin puring di kebayaku. Eh, malah dijawabnya gini; ‘Makin payahlah itu, membongkar lagi aku! Banyak lagi kerjaanku yang lain!’ gitu dijawabnya.”
“Lahh? Dia itu mau cari duit atau mau cari tinju?” celetukku, keheranan.
“Itulah makanya langsung nggak jadi aku jahit di situ. Malas kali ah.”
“Wah, ternyata nggak di sini aja yang galak-galak ya Rin, di sana juga gitu rupanya.”
“Sama doank pun.”
HPku berbunyi. Ada nomor baru yang memanggil. Setelah ku angkat, ternyata dia adalah wartawan Tribun Pekanbaru yang masih magang dan butuh berita tentang komunitas.
“Elysa punya Komunitas FKIP Menulis yaa?”
GLEKKK! Tahu dari mana nih orang?
“Adek tahu darimana?”
“Dari Bang Yudi Kak. Yudi FISIP. Kenal Kan?”
Aku terbelalak. Yudi remind me. “Kenal donk. Ohh… jadi dia merekomendasikan saya yaa?”
Kemudian aku menjelaskan kepadanya perihal FKIP Menulis. Sudah berbulan-bulan nggak aktif lagi semenjak androidku ku opname. Dan, sebenarnya itu hanya gerakan, bukan komunitas. Pengennya jadi komunitas, tapi nyatanya belum terkelola olehku.
“Besok bisa ketemu? Sibuk nggak besok?”

Sebenarnya aku ragu dia memuat tentang ini. Tapiii… “Jam 9 di UNRI gimana?”
“Okee deh. Makasih ya sebelumnya.”
Tadinya aku fikir dia adalah crew dari rubrik Jelita Riau Pos yang kata dek Novi baru diresafel. Tentang Jelita, kayaknya harus ku ikhlaskan dulu kemungkinannya. Setelah telvon di tutup, tak lama ada pula nomor baru yang menelvonku lagi. Ternyata bro Sandi UNP toh. Hampir aja dia ku ketusin karena cara jawabnya mencla mencle (ket: sambil ketawa-ketawa).
“Ikutlah El KTI PPIPM Fair di UNP.”
“Kapan DLnya?”
“Besok malam sebelum jam 12.”
“Weleeehhh. Mana terkejar Broooo.”
“Kirim yang ada aja, atau yang di Yogya kemarin tuu boleh juga.”
“Hussshhh! Mana boleh gitu. Itu kan udah pernah menang. Curang donk. Huahhhh. Kamu ikutlah Bro KTI di UNRI lagii.”
“Iya donk. Nih udah nggandeng anak IT. Semoga kita bisa ketemu lagi di sanaa.”
“Aamiiin.”

Tidak ada komentar: