Sabtu, 08 Agustus 2015

Seharusnya ini, Seharusnya itu

Kalau udah kehilangan, barulah aku berkata; ‘Seharusnya ini, seharusnya itu’ untuk melampiaskan rasa bersalah. Udah sejak hari senin kemarin padahal aku tanya ke Atika kapan ada jadwal ujian. Atika mengatakan tanggal 10 bahkan dia mendesakku untuk segera mendaftar ujian. Tapi……., ya bukan Elysa namanya kalau tidak menunda pekerjaan. Bak kata si kawan lama, ‘Elysa ni suka kali ngerjakan yang sunnah dulu. Utamakanlah yang wajib duluan, El’ sampai sekarang aku masih ingat kata-katanya itu. Kalau sampai saat ini dia masih ada, dia pasti akan bilang, ‘Elysa nggak pernah berubah ya ternyata dari dulu.’
Aku menamai sifatku ini Terlalu Optimis, tapi nggak logis. Kadang, di beberapa kesempatan, aku memang sering beruntung dan mendapatkan miracle. Dan, nggak jarang juga aku bernasib sial karena kehilangan kesempatan. Kemarin, aku terlalu yakin bisa menyelesaikan proposal itu dalam sekejap mata dan baru hari Jumat kemarin aku tersadar bahwa hari ini adalah hari Sabtu; kesempatan terakhirku untuk mendaftar ujian proposal. Nyatanya apa? Keoptimisanku itu lesap seketika. Yang tersisa tinggallah penyesalan diam-diam dan berusaha pura-pura tidak menyesal. Inilah aku yang ku akui.
“Elis harus merubah kebiasaan Elis menunda. Karena belum tentu nantinya Elis selalu beruntung. Kalau nggak beruntung gimana? Mau diperbaiki, Elis udah nggak punya waktu lagi. Kalau cepat selesai kan cepat disempurnakan lagi.”
Yap, intinya adalah cepat menyelesaikan supaya sempat memperbaiki.

***
“El, El, sahur.”
“Udah jam berapa ini?”
“Setengah 5.”
Aku teringat bahwa jatah gorenganku semalam udah ku habiskan. Jadi, aku nggak punya makanan lagi untuk sahur.
“Aku udah Rin. Lanjutlah.”
Lalu, aku kembali merebah setelah sempat terduduk sebentar.
“Belum azan kan Rin?” tanyaku sambil mengisi air minum ke dalam gelas.
“Itu sedang azan.”
Ku letakkan kembali gelasku ungu itu, padahal tinggal diminum aja. Yah, mau bagaimana lagi. Waktu sudah menyudahi. Aku segera membaca niat di dalam hati. Setelah sholat subuh, niatnya sih mau perbaiki proposal lagi sebelum nanti ku bawa ke hadapan pak Sua atau pak Danur. Tapi, kenyataannya aku ngantuk berat dan tertidur sampek jam setengah 8. huaahhh... habisnya, di luar sedang hujan rintik-rintik cuyyy. Jarang-jarang menikmati suasana begini. hehe

***
Assalamualaikum Cin, kita pilih trip jam 1 nanti ya, habis zuhur dulu dari kampus. Ajak Rini juga yaa.
Waalaikumsalam wr. Wb. Hah? Acara apa emangnya Cin?
Acara mendoa di rumah Iqbal loooh. Bise Cin? Ada acara lain mu? Hiksss..
Biscaaa kok.
Aku sampai lupa kalau aku ada janji sama Lia untuk berangkat bareng ke rumah Iqbal. Ah, itu nanti dululah ku fikirkan. Yang terpenting sekarang, aku segera menemuin pak Suarman untuk revisi. Semoga nggak banyak kesalahan deh di tulisanku ini.
“Loh? Kok kosong?” tanyaku dalam hati. Dari jauh, aku sudah bisa memastikan bahwa pak Sua nggak ada di kampus karena nggak ada satu pun mobil di sana.
“Yaaahhh.. gimana ini ya Allah?”
Assalamualaikum Pak. Hari ini Bapak ke kampus? (sent to pak Sua)
Dan, SMS yang sama tapi dengan redaksi berbeda ku kirimkan juga kepada pak Danur, Assalamaulaikum Pak, apakah pagi ini bapak berada di kampus gobah?
Aku bingung harus ke mana. Akhirnya, muncullah inisiatif untuk wifian di perpus UR. Baru aja duduk dan ngonekkin jaringan, aku jadi ngidam mie bihun goreng. *Makan? (Iya, makan!) Tapi, tadi katanya puasa? (Oh iya, aku lupa bilang bahwa aku udah batalin puasa karena undangan ke rumah Iqbal tadi, RIni juga udah) Oooohhh, gituu. Hehe.
“Heemmmmmmm….. enak banget nih mie bihun goreng. Rasanya nggak lebai, simpel, tapi semua takarannya pas banget,” aku berbicara sendiri, pelaan.
Sambil menyuap mie ke dalam mulut, tanganku sesekali menjelajah ke dunia maya. Aku baru saja menyelesaikan 3 cerita untuk diikutkan lomba menulis di blog tentang Pengalaman Lebaran yang Lebih Baik oleh Sunlife Finance. Yuhuuu…semoga menang. Aamiin. Aku udah menabur umpan dengan 3 naskah ceritaku; Antara Bangladesh dan Skripsi, 2 Dosa 2 Pengampunan dan Maaf  Tak Kenal Batas. Semoga salah satunya ada yang ‘nyantol’ ammiin.
Insya Allah, jam 11 saya udah ada di kampus
Aku melirik jam. Masih pukul 10.17wib. Masih ada waktu sekitar sejam lagi di sini untuk menunggu pak Suarman.
Saya sudah di sini sejak tadi pagi. Sudah 9 orang yang bimbingan dengan saya
Pesan dari pak Danur barusan menyentakku. Aku terlalu tidak berani mengambil keputusan untuk ke Gobah tadi pagi. Tapi, aku sudah terlanjur membuat janji dengan pak Suarman sekarang. Ah, aku yakin semua ini ada hikmahnya. Aku ditentukan untuk bertemu pak Suarman dulu sebelum pak Danur.

***
Di atas motor yang melaju perlahan, aku menjauhi perpus dan mendekat ke Pekon. Sekarang, aku sudah berada di lajur kiri dan bersiap berbelok ke kanan, ke parkiran Pekon. Tapi, tunggu dulu! Aku memelankan laju motorku untuk memastikan siapakah kelima orang yang sedang berjalan bersamaan dari parkiran itu. Ah, itu kan Atika, Doni dan yang lainnya.
Tanpa perencanaan apa pun, aku berbelok ke lajur kanan demi menghindari pertemuan dengan mereka. Teruusss saja aku melaju ke arah  LPM, Puskom lalu kembali lagi ke jalan linta di depan Perpus. Perjalanan macam apa ini? Kurang kerjaan banget.
Sekarang, aku tidak melihat mereka lagi di sana. Tanpa ragu, ku masuki pelataran Pendidikan Ekonomi dan bergegas ke ruangan pak Suarman.

***
“Rin, ternyata naluri ilmiahku udah memudar.”
“Memudar?”
“Iya, memudar. Tadi proposalku lumayan banyak dapat coretan dari Pak Sua. Ada juga hal-hal kecil yang seharusnya aku tahu, tapi nyatanya aku luput.”
Ku hempaskan badanku di atas lantai keramik ini. Sebenarnya, seusai dari pak Suarman tadi aku masih punya waktu untuk OL di perpus. Tapi, setelah ku fikir-fikir, sebaiknya aku kembali ke kos saja. Sekarang, aku sedang tidak butuh fokus, aku butuh cerita.
“Aku juga nggak bisa ujian senin besok Rin karena nggak keburu lagi daftarnya. Aku kurang antisipasi.”
“Ya udaaah.. nggak apa-apa.”
“Pak Suarman itu baiiiiiiik banget Rin. Waktu aku masuk ke ruangannya tadi, aku mikir dia bakal nanya, ‘Ke mana aja lah Elysa ni? Masa ngerjain proposal aja sampai seminggu lebih?’ ternyata nggak Rin. Bapak cuma nanya, ‘Gimana progresnya Elysa?’ dah, cuma itu aja loh. Terus, ku kasihkanlah print-an proposalku. Ternyata banyak banget yang dikoerksi sama bapak tu Rin. Bahkan, ada hal-hal yang udah aku tahu selama nggarap KTI, tapi dikasih tahu lagi dengan bapak tu. Dalam hatiku, ‘Ya Allah jangan sampek Bapak ini nyalahkan aku atau ngungkit-ngungkit tentang KTI yang sering ku menangkaaan’ dan ternyata itu memang hanya kekhawatiranku aja Rin.”
“Alhamdulillah kala gitu. Bapak kita baik-baik semuaa.”

“Tadi Bapak itu bilang, ‘Kalau saya sih selalu standby di sini, kecuali kalau ada ujian. Nah, hari senin besok ini ada ujian, mungkin saya nguji’. Sejujurnya, aku takut kali Bapak itu nyindir aku, ‘Seharusnya jadwal ujian besok itu bisa Elysa kejar kalau Elysa cepat ngerjainnya’ tapi Alhamdulillah Rin, bapak itu nggak ada nyindir aku sama sekali. Ya Allah, kok baik banget ya bapak ituu. Meskipun aku lambat gini, bapak itu pun nggak pernah bilang ‘Elysa sih lama kali mulai nggarapnya’ nggak pernah Rin, nggak pernah sama sekali itu dilakukannya.”
“Emang kita ini kurang asem kali ya El, bapak kita baik banget. Tapi, eh malah kita yang macam bandit gini. Bapak kita sama-sama mudah ditemui. Kalau Bapakmu itu karena dia ketua jurusan makanya selalu standby. El tahu kan pak Faisal?”
“Yang kemarin pake baju koko putih bukan sih? Waktu nguji Yudi kan?”
“Iya. Bapak itu selalu memudahkan urusan orang. Kadang, ada kan dosen lain yang terlalu jujur, dalam artian kalau dia nggak bisa nolong kita atau nggak sesuai prosedur, dia bener-bener nggak mau bantu. Tapi, kalau Bapak ini beda, dia selalu mengupayakan dulu yang bisa dia bantu untuk orang. Eh, kawan-kawanku kan ngajak kondangan ke tempat kawan kami yang nikah. Tapi, ntah kenapa loh aku males kali ketemu anak-anak HI tuu. Duh, gimana ya?”
“Tapi kita mau ke tempat Iqbal. Pilih ajalah salah satu Rin. Tadi pun aku takut banget ketemu teman-teman aku. Sampek aku rela loh Rin muter lagi ngelewati FISIP, LPM, Perpus dan balik lagi ke Pekon demi agar nggak ketemu mereka. Nggak siap ditanya-tanya dan nggak siap untuk tahu bahwa mereka udah sampai ini dan itu prosesnya.”
“Samalah El penyakit kita.”

“Aku ngerasa semakin jauh aja dengan teman-teman di Pekon itu Rin. Sejak dulu sih aku emang agak beda dengan mereka. Aku punya kesibukan sendiri. Apalagi masa-masa kayak gini, makin nggak ada jalanku untuk berakrab-akrab ria sama mereka. Kalau bisa, aku pengen ujian diam-diam, sidang diam-diam aja biar ntar mereka tahunya pas wisuda aja. Kemarin aku lihat foto temanku yang udah sidang kan Rin, dipakein mahkota lah, dipakein selempang lah, dikasih bunga lah, ya ampuuun pokoknya teman-temannya pada ngerayainlah. Terus, aku bertanya di hati, ‘Besok siapa ya kawanku yang nggituin aku?’ kayaknya nggak ada deh. Yang dari Pekon loh ya maksudku.”
“Pas sidang, bukannya nggak boleh dilihat ya?”
“Dulu nggak boleh. Sekarang boleh kok.”
Setelah sholat Zuhur, aku dan Rini langsung chaw ke jalan Rawa Bening, Arifin Ahmad, rumah kediaman Iqbal. Karena ragu-ragu dengan alamatnya, kami sempat kebablasan sampai ke Sudirman dan resikonya adalah kami harus untuk muter balik cukup jauh. Parahnya, hari ini jalanan padet banget, nggak separah biasanya. Belum lagi debu knalpot yang tengik dan matahari yang terik. Lia udah nunggu di simpang Rawa Indah. Kami masuk ke dalam bersama. Ternyata mamanya Iqbal akan berangkat haji, awalnya sih kami fikir mendoa untuk rumah baru. Hehe.
“Semoga menjadi haji yang mabrur ya Pak, Buu.”
“Semoga berkah ya perjalanannya..”
“Semoga selamat sampai tujuan ya Buu…”

Satu per satu kami saling menyalami kedua orang tua iqbal beriringan dengan doa. Ketika kami hendak pulang pun kami kembali menyalami mereka.
“Rin, kok aku ngerasa pusing ya? Apa karena dendeng yang kita makan barusan?” kataku di parkiran motor.
“Kalau nggak sanggup berhenti dulu Ell.”
“Kayaknya aku darah tinggi deh, soalnya kemarin waktu cek tensi, normal. Biasanya aku kan 100 atau 110, ini kemarin normal 120. Eh, sekarang makan daging, mungkin dia naik lagi. “
“Tulah, jangan merepeet aja kerjanya. Biar nggak darah tinggi El.”
“Loh?”

***
Sekarang pukul 21.49wib. Aku baru saja mengusap air mata yang jatuh di penghujung film Assalamualaikum Beijing. Yap, aku memang udah menontonnya di bioskop bersama Lia bulan Januari lalu. Tapi, malam ini aku ingin sekali mengulang menontonnya. Biasanya, aku akan dapat energy baru ketika menonton sesuatu yang subhanallah. Setiap kali nonton film-film berlatar luar negeri, aku berdoa di dalam hati, “Ya Allah, aku pengeeen ke saanaa.” Dan, setiap kali nonton film cinta yang so sweet, aku juga berdoa, “Ya Allah, aku pengen kisah cintaku seindah itu.” hhehe.
Aku pernah  ke Lia, “Cin, kalau nonton sesuatu yang menurutmu bagus, berdoalah saat itu juga semoga film itu akan menjadi nyata dalam hidupmu.”
“Semoga tulisan-tulisan ini menjadi tambahan pahala di sisi Allah untuk bersiap siaga kapan saja Allah mau menjemputku,” kata Asma di dalam film tadi.
Ya Allah, maaf, maaf, maaf kalau hamba lupa untuk senantiasa meniatkan tulisanku untuk-Mu. Hari ini, Engkau kembali mengingatkanku bahwa segala sesuatnya harus demi Engkau. Aku sering lupa itu. Demi-demi yang lain sering kali mahir menyelip di antara aku dan Engkau. Mungkin, aku juga yang rela begitu. Ampuun ya Allahh.. aamppuun. Terimas segala apa yang ku tulis ini sebagai persembahanku untuk-Mu. Hanya kita.

Tidak ada komentar: