Pagi ini, adalah pagi pada setahun yang lalu. Serupa pula
dengan setahun yang lalu sebelumnya. Menyambut pagi dengan debar-debar lama
yang baru lagi. Matahari sudah sedemikian terik untuk ukuran sepagi ini.
membangunkan mata yang masih menyipit. Rini belum turun juga dari kamar Andin
ketika aku sudah meninggalkan kosan, lalu aku pergi tanpa pamit kepadanya
“Mamake, langsung ke kosan Wiwik aja ya, di dekat kosan
Titin.”
Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Melewati gang Damai
sekaligus membuatku berdoa agar dipertemukan dengan motornya Teguh yang
terparkir di pinggir jalan, berarti di sanalah kosan Yudi. Tapi, nyatanya tak
kutemui.
“Ah, mungkin mereka sudah menunggu di depan gerbang UNRI,
Arengka.”
Parahnya, aku berkesimpulan bahwa mereka sudah pergi dan
meninggalkan kami ketika tidak kami dapati tunggu mereka di tepi Arengka yang
telah dijanji. Eh, ternyata sampai di tempat, mereka belum tiba di sini.
“Squat Jump 10 kali!”
Aku menurut demi pembolehan memasuki ruangan. Masih persis
dengan tahun lalu, seleksi diawali dengan pembukaan oleh kepala Dipora Provinsi
Riau, pak Edi Yusti. Dilanjutkan dengan tes tertulis tentang wawasan umum,
kebaharian dan kemelayuan. Ah, bahkan soalnya menurutku sama. Sama sekali tidak
ada beda.
***
Lantai teras aula hotel Akasia ini selalu saja begini.
Basah. Becek. Ku lirik ke atas, ternyata sambungan antar sengnya yang bocor.
Tapi, kenapa nggak dibenahi? Aku sampai hafal. Ini sudah tahun ketiga. Aku
yakin, bahkan tembok-tembok hotel ini pun masih hafal denganku.
“Eh, Dek, itu Bang Agus Warok kan?”
“Iya. Dia ikut Pemuda Pelopor Mak,” jawab Teguh.
“Wah, udah cocok banget tuh ya! Dia kan udah lebih dari 2
tahun tuh bisnisnya.”
“Mak, ini buku bang Agus,” Yudi menyodorkan buku bersampul
merah. Dari sampulnya yang penuh perlambangan itu, aku sudah bisa menebak bahwa
itu adalah buku kumpulan puisi.
“Wah, kereeen. Yang ini tulisan Abang ya?” tanyaku langsung
kepada orangnya.
“Iyaaa. Alhamdulillah, Abang kan udah lama tuh gabung dengan
komunitas paragraph. Na, dari situlah Abang belajar sungguh-sungguh. Makanya,
Paragraf itu nggak mau nerima orang banyak-banyak. Dari 50 an orang yang
daftar, paling-paling yang diambil cuma 10 atau 11 orang. Kalau FLP kan banyak
ya sekali penerimaan anggota? Tapi lambat laun berkurang. Kalau Paragraf memang
lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas.”
Aku manggut-manggut saja mendengar penuturan bang Agus.
Sempat terlintas di hati sebuah rindu kepada pertemuan dengan sosok-sosok luar
biasa, tapi justru lebih banyak ingin mendengar. Adakah? Sedikit tersinggung
juga ketika FLP disebutnya, meskipun memang benar adanya demikian. Tapi, walau
bagaimanapun, FLP lah yang telah banyak berjasa menggodok penulis-penulis
tersohor di negeri ini.
***
“Perhatian seluruhnya! Karena pembicara yang 1 lagi tidak
bisa hadir, maka setelah materi tentang Kepemimpinan ini akan dilanjukan dengan
interview.”
Kami tercengang. Kelegaan kami ternyata hanya sementara.
Kini, kami mulai mengkhawatirkan diri lagi.
“Nah, siapa yang bisa menjelaskan makna Kepemimpinan
berdasarkan pendapat anda?”
Melihat belum ada yang sigap mengangkat tangan, bang Renza
selaku alumni KPN berkata,
“Ini adalah bagian dari penilaian juga. Jadi, diharapkan
untuk dapat aktif dan tanggap!”
Aku menunjuk tangan dan menjelaskan tentang Kepemimpinan
berdasarkan pandangan pribadi dan dimixing dengan Al-Quran. Lega. Akhirnya aku
sudah berrhasil sumbang suara. Di kesempatan berikutnya pun aku selalu
mengangkat tangan, tapi kali ini rebutan. Setidaknya, aku sudah berbicara. Itu
dulu!
“Seluruh peserta diharapkan ke luar dulu, karena ruangan
akan ditata untuk interview. Silahkan ditunggu panggilannya yaa.”
Kami ke luar dan ruangan ditutup. Jujur, sejak tadi pagi
hingga sesaat sebelum pintu ditutup, aku masih merasa biasa saja. Tidak ada
gelisah, tidak ada gundah apalagi resah. Tapi, kali ini semua itu tiba-tiba
terakumulasi menjadi kepanikan tak tentu arah. Mungkin, aku pernah trauma
dengan sistem interview tahun lalu yang membuatku gagal unggul,
“Kalau tahun lalu sih, 8 orang dipanggil ke dalam ruangan
dan siapa pun dari alumni KPN boleh bertanya. Kalau kita nggak tahu jawabannya
ya diam aja. Kalau tahu, angkat tangan. Ada yang sekelompok itu nggak ada yang
tahu sama sekali jawabannya. Waktu itu aku nekat angkat tangan waktu ditanya,
apa perbedaan arus sungai dengan arus laut?”
“Terus, Kakak jawab apa?” tanya Jufri.
“Kakak jawab aja, arus laut itu deras dan kencang sedangkan
arus sungai itu lebih tenang. Hhaaahha dan ternyata jawaban Kakak itu salah
total. Hemmm, setidaknya Kakak udah berani bicara waktu itu.”
Menceritakan hal itu justru semakin membuatku merasa tak
tenang. Aku mengajak teman-teman semeja untuk berbagi ilmu dan berdiskusi
tentang prediksi pertanyaan juri nanti. Beberapa orang yang sudah selesai
diinterview belum berani kami tanyai. Jangan
memberi tahu kepada teman-teman kalian tentang pertanyaan yang kalian dapatkan,
karena itu akan merugikan kalian! Instruksi itu saja masih sangat lekat
diingatanku. Apalagi pada mereka?
***
Ini bukan senja terasing. Aku pernah berada di sini setahun
lalu dan setahun lalu sebelumnya. Bincang-bincang berbubuh cemas dan gelisah
bercampur aduk dengan doa-doa yang tentu ucap; karena sudah lebur dengan panik.
Ada teguh, firdaus, yudi, sofyan, wiwik, jufri dan yaumil yang semeja denganku.
kamu duduk tepat di tengah lobi, di bawah sejuk kipas angin. Suara gemericik
air tertumpah dari pot bunga bertingkat tiga. Pintu ‘panas’ itu belum juga
terbuka. Ntah sedang apa 3 orang peserta di dalam sana. Ditanyai tentang
dirinya kah? Budaya kah? Pemuda kah? Ah, hanya dia, juri dan Pemilik Merekalah
yang paling tahu. Aku terus saja menunggu.
Ku lirik jam di tangan. Sudah menunjukkan pukul 17.29 wib.
Seharusnya, kami bisa berlatih untuk penampilan kesenian 2 hari mendatang.
Tapi, senja membuat kami tertahan di sini dalam tunggu yang tak berupa.
Yudi, Jufri dan Sofyan telah memisahkan diri pula dari kami
dan duduk bersama di sudut pintu itu. Katanya mereka ingin menaklukkan
ketegangan dan mengundang ketenangan. Aku sempat menghampiri, tapi lalu kembali
ke sini lagi karena menghargai keinginan mereka untuk hening.
“Elysa Rizka Armala!” teriak
staf Dispora yang sudah 3 tahun ini selalu ada di pemilihan ini.
Alhamdulillah, akhrinya namaku
dipanggil juga. Dengan bismillah, ku masuki ruangan sejuk ini. Senja di luar
hampir berganti remang. Aku mendekat dengan tenang ke pos pertama. Ada 1 kursi,
tempat duduk peserta, dan 6 orang juri yang siap menanyai. Ada beberapa dari
PCMI dan sisanya adalah alumni KPN.
“Have we met before?” tanya bang
Dedi, alumni SSEYAP tahun 2013.
“Yes, ofcourse.”
“Where it was?”
“Cause I am economic education.
So, that we are near.”
Sapaan dari bang Dedi membuatku
sedikit mencair. Qori kemudian membuka
tanya,
“Coba jelaskan tentang pakaian
sehari-sehari laki-laki dan perempuan melayu dan maknanya.”
Ah, ini kan yang baru saja kami
bahas di luar. Alhamdulillah, aku sudah tahu jawabannya.
“Ada 3 hal yang tabu dan tidak
boleh dilakukan oleh orang Melayu dalam berpakaian. Jelaskan apa ketiga hal
tersebut!” tambah bang Dedi.
Aku bingung. Jujur aku belum
dapat ilmu tentang yang satu ini. Tapi, ide tiba-tiba muncul,
“Saya kembali mengacu kepada
symbol budaya Melayu, yaitu; Adat
bersendi syarak, sarak bersendi kitabullah. Dalam islam, setidaknya ada 3
syarat dalam berpakaian, yaitu; tidak ketat, tidak transparan dan tidak
berlebihan. Saya rasa, ini sejalan dengan pantang larang dalam berpakaian orang
Melayu.”
Bang Dedi, bang Hendra
manggut-manggut. Yesss! Semoga jawabanku benar dan nggak ngawur.
“Apa yang akan kamu ceritakan
dari Rokan Hilir dan ketika kamu menceritakan itu, orang otomatis akan tahu
bahwa itu ada di Rokan Hilir?” tanya bang Hendra pula.
Aku menceritakan tentang sebutan
Bagansiapiapi tentang Negeri 1000 kubahnya dan budaya Bakar Tongkang yang telah
diakui dunia. Berikut maknanya, bahwa tradisi tersebut adalah tentang komitmen
orang-orang Tionghoa untuk setia menjadi WNI dan tidak akan kembali ke RRC.
Pos pertama lancar. Lanjut ke
Pos kedua.
“Jelaskan kepada kami tentang
diri anda,” pinta Wahyu, alumni Sail Komodo.
Ada 6 juri pula di sini dan aku
bisa menjawab semua pertanyaannya dengan enjoy. Alhamdulillah, sebagian besar
pun telah ku obrolkan dengan teman-teman semeja tadi.
“Teluk Tomini adalah pemekaran
daerah dari Gorontalo. Di sanalah perhelatan akbar puncak acara KPN akan
diselenggarakan.”
“Tomini itu teluk atau pulau
sih” tanya kak Cici, alumni Sail Raja Ampat.
“Teluk, Kak. Sebab, teluk adalah
perairan yang menjorok ke daratan.”
“Teluk yang paling besar itu
teluk apa?” tanya pak Satria.
“Teluuukk…emmm…teluk Bayur?”
tebakku.
Sontak saja semua juri di pos
kedua ini tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Lalu, kak Cici berbisik
pelan, bahwa teluk terbesar itu adalah Teluk Tomini. Wah, kenapa aku nggak
pandai ngeles ya? Padahal jawaban itu sudah bisa diprediksi. hihii. Setelah
itu, giliran pengetahuanku tentang kebaharian dan kemaritiman yang diuji.
“Jadi, Indonesia sebagai negara
kepulauan sudah pasti negara maritime kah?”
Dengan mantap, ku jawab, “Iya.”
Tiba di pos ketiga, aku agak
sedikit kelimpungan. KNPI saja aku sampai lupa apa singkatannya. Tapi,
untungnya ada beberapa pertanyaan yang benar jawabannya dan beberapa yang
lainnya bisa ku selewengkan dengan penjelasan
seirama tapi sebenarnya kurang nyambung. Yah, itu adalah bagian dari
seni interview menurutku. Sebego apa pun kita, usahakan tetap tenang dan
pandai-pandailah nge-les. hehe.
“Kemaritiman itu lebih kepada
pelayarannya (jasa), sedangkan kebaharian itu lebih kepada potensi laut dan
budayanya (produk),” jelas Yudi di luar ruangan ketika ku tanyai pertanyaan
tadi. huahh, gitu toh?
***
18.40wib di dalam mesjid An-Nur
“Yang akan DATANG itu adalah yang DEKAT dan hari kiamat
memang sudah dekat. Hari Kiamat itu akan datang pada hari Jumat. Boleh jadi
esok. Tapi, kalau dilihat, tanda-tanda besar itu belum Nampak walaupun
tanda-tanda kecil itu sudah jelas. Salah satunya adalah jumlah perempuan lebih
banyak daripada laki-laki bahkan hingga 50x lipat.”
Wah, ini issue akhir zaman yang sangat hangat. Kemungkinan
poligami semakin besar donk? Aku faham bahwa semua orang ingin menyempurnakan
agama (baca: menikah) dan apalagi yang dipilih kalau bukan berpologami?
Sanggupkah aku?
“….masjid hanya dijadikan sebagai tempat singgah saja. Hanya
datang ketika azan dan tidak berhubungan dengan kegiatan lainnya seperti kajian
dan diskusi ilmiah.”
Aku mencermati ini sebagai kerisauan tersendiri. Ntah kenapa
banyak sekali masjid-masjid yang baru dibangun. Kenapa harus demikian?
Sementara pengunjungnya yang memang sedikit itu jadi bersaing dengan masjid
sebelah yang tak terlalu jauh selisihnya. Kadang, yang aku nggak habis fikir
ada juga yang membangun masjid di kawasan yang sepi. Mending kalau sederhana
aja, ini menterengnya minta ampun dah!. Dari mesjid agung An-Nur ini pun ada
juga masjid yang baru dibangun. Lah buat apa? Masjid ini pun nggak
kurang-kurang nampung jamaah setiap harinya. Lapangannya juga luas buangeeeeet.
*kadang, ntahlah!
“Kalau seandainya kematian itu bisa dibeli, pasti banyak
orang yang berbondong-bondong membeli kematian.”
Yap! Benar banget. Bahkan mungkin semua orang akan
mengeluarkan harta benda yang telah susah payah dikumpulkannya demi membeli
kehidupan. Aku pun menakutinya. Tapi yang pernah ku dengar, kematian itu adalah
hal paling dirindukan orang-orang beriman. Lantaran itu bisa mempertemukannya
dengan Tuhan. Ah, akukah?
Aku meninjau dari celah hijab, memastikan keberadaan Yudi,
Teguh dan Sofyan. Tidak ada. Aku segera menuruni tangga dan berjalan ke teras
sayap kanan masjid. Aku sempat memberikan ultimatum untuk latihan perfoms di
sana. Petir menyambar-nyambar menyertai hujan deras. Aku sedikit terkejut
ketika ada bayangan di antara pilar-pilar. Setelah ku dekati, untungnya adalah
seorang bapak yang sedang menunggui temannya berwudhu. huft! Dasar parnooo.
Benar saja, mereka sudah berkumpul di sana.
“Aku kira kalian ndengerin ceramah loh di dalam.
Hoawaaalah,” sapaku ketika ku lihat mereka sudah sibuk berlatih membaca mantra.
Ini adalah idenya dek Sofyan yang ternyata adalah adek tingkatku di Ekonomi.
Cerobohnya aku sampai tidak mengenali adik sendiri. hiksss.
Aku dan Yudi rencananya akan membaca Puisi Batu Belah Batu
Betangkup sementara yang lainnya akan bernyanyi dengan iringan gitar dari dek
Sofyan. Widih, keren banget nih bocah.
Anak sanggar ternyata! Setelah sholat Isya, kami kembali berkumpul di sini dan
Firdaus baru saja tiba.
“Maaf ya, hujannya baru bisa diajak kompromi nih!” jelasnya.
Kami terus melanjutkan latihan sampai menunggu hujan layak
untuk kami pergi.
Ciyeee, yang ikut
KPN. Semangat ya Cinn.. kata Lia.
Maacih ya. Ciyeee,
yang ikutan DM2.. balasku.
Eh, kok tahu? Dari
Yaumil ya?
Iya. Saling nggak
udah bercerita aja kita!
Hahahaa.. aku kan
belum ikut DM1, rencananya mau nyelip-nyelip di antara musyma. Tertarik?
Gak, jawabku
ketus.
Okeydee. Hati-hati
ya Cin pulangnyaaa..
Tidak ada balasan lagi dariku.
***
“Kak? Kakak marah ya sama Okta?” tanya Okta dari seberang
telvon.
“Nggak kok. Eh, kemarin sih iya. Tapi, sekarang udah nggak
lagi kok! Seru lohhh Dek, Teguh aja sampai bilang, rugi ya si Okta nggak ngerasain serunya kita.”
“Kak, proposal Okta itu udah separoh loh siapnya. Sekarang
aja Okta lihat-lihat, eh, kok keren banget ya tulisanku?”
“Ngapa nggak balas-balas sms Kakak kemarin? Kalau bilang kan
bisa Kakak bantu nyelesaikan.”
“Halah, lagaknya mau bantuin. Proposal dia aja belum siap
sampek sore,” celetuk Teguh sambil melahap Minasnya di depanku.
Sekarang sudah pukul 22.00wib dan kami baru selesai makan
malam di pinggiran Panam, setelah Colour Mart. Kami berpisah arah setelahnya.
Hari ini melelahkan, tapi mengesankan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar