Kamis, 21 Mei 2015

KPN hari ke-1: Pagi Milik 1 dan 2 Tahun yang Lalu


Pagi ini, adalah pagi pada setahun yang lalu. Serupa pula dengan setahun yang lalu sebelumnya. Menyambut pagi dengan debar-debar lama yang baru lagi. Matahari sudah sedemikian terik untuk ukuran sepagi ini. membangunkan mata yang masih menyipit. Rini belum turun juga dari kamar Andin ketika aku sudah meninggalkan kosan, lalu aku pergi tanpa pamit kepadanya
“Mamake, langsung ke kosan Wiwik aja ya, di dekat kosan Titin.”
Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Melewati gang Damai sekaligus membuatku berdoa agar dipertemukan dengan motornya Teguh yang terparkir di pinggir jalan, berarti di sanalah kosan Yudi. Tapi, nyatanya tak kutemui.

“Ah, mungkin mereka sudah menunggu di depan gerbang UNRI, Arengka.”
Parahnya, aku berkesimpulan bahwa mereka sudah pergi dan meninggalkan kami ketika tidak kami dapati tunggu mereka di tepi Arengka yang telah dijanji. Eh, ternyata sampai di tempat, mereka belum tiba di sini.
“Squat Jump 10 kali!”
Aku menurut demi pembolehan memasuki ruangan. Masih persis dengan tahun lalu, seleksi diawali dengan pembukaan oleh kepala Dipora Provinsi Riau, pak Edi Yusti. Dilanjutkan dengan tes tertulis tentang wawasan umum, kebaharian dan kemelayuan. Ah, bahkan soalnya menurutku sama. Sama sekali tidak ada beda.

***
Lantai teras aula hotel Akasia ini selalu saja begini. Basah. Becek. Ku lirik ke atas, ternyata sambungan antar sengnya yang bocor. Tapi, kenapa nggak dibenahi? Aku sampai hafal. Ini sudah tahun ketiga. Aku yakin, bahkan tembok-tembok hotel ini pun masih hafal denganku.
“Eh, Dek, itu Bang Agus Warok kan?”
“Iya. Dia ikut Pemuda Pelopor Mak,” jawab Teguh.
“Wah, udah cocok banget tuh ya! Dia kan udah lebih dari 2 tahun tuh bisnisnya.”
“Mak, ini buku bang Agus,” Yudi menyodorkan buku bersampul merah. Dari sampulnya yang penuh perlambangan itu, aku sudah bisa menebak bahwa itu adalah buku kumpulan puisi.
“Wah, kereeen. Yang ini tulisan Abang ya?” tanyaku langsung kepada orangnya.
“Iyaaa. Alhamdulillah, Abang kan udah lama tuh gabung dengan komunitas paragraph. Na, dari situlah Abang belajar sungguh-sungguh. Makanya, Paragraf itu nggak mau nerima orang banyak-banyak. Dari 50 an orang yang daftar, paling-paling yang diambil cuma 10 atau 11 orang. Kalau FLP kan banyak ya sekali penerimaan anggota? Tapi lambat laun berkurang. Kalau Paragraf memang lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas.”
Aku manggut-manggut saja mendengar penuturan bang Agus. Sempat terlintas di hati sebuah rindu kepada pertemuan dengan sosok-sosok luar biasa, tapi justru lebih banyak ingin mendengar. Adakah? Sedikit tersinggung juga ketika FLP disebutnya, meskipun memang benar adanya demikian. Tapi, walau bagaimanapun, FLP lah yang telah banyak berjasa menggodok penulis-penulis tersohor di negeri ini.

***
“Perhatian seluruhnya! Karena pembicara yang 1 lagi tidak bisa hadir, maka setelah materi tentang Kepemimpinan ini akan dilanjukan dengan interview.”
Kami tercengang. Kelegaan kami ternyata hanya sementara. Kini, kami mulai mengkhawatirkan diri lagi.
“Nah, siapa yang bisa menjelaskan makna Kepemimpinan berdasarkan pendapat anda?”
Melihat belum ada yang sigap mengangkat tangan, bang Renza selaku alumni KPN berkata,
“Ini adalah bagian dari penilaian juga. Jadi, diharapkan untuk dapat aktif dan tanggap!”
Aku menunjuk tangan dan menjelaskan tentang Kepemimpinan berdasarkan pandangan pribadi dan dimixing dengan Al-Quran. Lega. Akhirnya aku sudah berrhasil sumbang suara. Di kesempatan berikutnya pun aku selalu mengangkat tangan, tapi kali ini rebutan. Setidaknya, aku sudah berbicara. Itu dulu!
“Seluruh peserta diharapkan ke luar dulu, karena ruangan akan ditata untuk interview. Silahkan ditunggu panggilannya yaa.”

Kami ke luar dan ruangan ditutup. Jujur, sejak tadi pagi hingga sesaat sebelum pintu ditutup, aku masih merasa biasa saja. Tidak ada gelisah, tidak ada gundah apalagi resah. Tapi, kali ini semua itu tiba-tiba terakumulasi menjadi kepanikan tak tentu arah. Mungkin, aku pernah trauma dengan sistem interview tahun lalu yang membuatku gagal unggul,
“Kalau tahun lalu sih, 8 orang dipanggil ke dalam ruangan dan siapa pun dari alumni KPN boleh bertanya. Kalau kita nggak tahu jawabannya ya diam aja. Kalau tahu, angkat tangan. Ada yang sekelompok itu nggak ada yang tahu sama sekali jawabannya. Waktu itu aku nekat angkat tangan waktu ditanya, apa perbedaan arus sungai dengan arus laut?”
“Terus, Kakak jawab apa?” tanya Jufri.
“Kakak jawab aja, arus laut itu deras dan kencang sedangkan arus sungai itu lebih tenang. Hhaaahha dan ternyata jawaban Kakak itu salah total. Hemmm, setidaknya Kakak udah berani bicara waktu itu.”
Menceritakan hal itu justru semakin membuatku merasa tak tenang. Aku mengajak teman-teman semeja untuk berbagi ilmu dan berdiskusi tentang prediksi pertanyaan juri nanti. Beberapa orang yang sudah selesai diinterview belum berani kami tanyai. Jangan memberi tahu kepada teman-teman kalian tentang pertanyaan yang kalian dapatkan, karena itu akan merugikan kalian! Instruksi itu saja masih sangat lekat diingatanku. Apalagi pada mereka?

***
Ini bukan senja terasing. Aku pernah berada di sini setahun lalu dan setahun lalu sebelumnya. Bincang-bincang berbubuh cemas dan gelisah bercampur aduk dengan doa-doa yang tentu ucap; karena sudah lebur dengan panik. Ada teguh, firdaus, yudi, sofyan, wiwik, jufri dan yaumil yang semeja denganku. kamu duduk tepat di tengah lobi, di bawah sejuk kipas angin. Suara gemericik air tertumpah dari pot bunga bertingkat tiga. Pintu ‘panas’ itu belum juga terbuka. Ntah sedang apa 3 orang peserta di dalam sana. Ditanyai tentang dirinya kah? Budaya kah? Pemuda kah? Ah, hanya dia, juri dan Pemilik Merekalah yang paling tahu. Aku terus saja menunggu.
Ku lirik jam di tangan. Sudah menunjukkan pukul 17.29 wib. Seharusnya, kami bisa berlatih untuk penampilan kesenian 2 hari mendatang. Tapi, senja membuat kami tertahan di sini dalam tunggu yang tak berupa.

Yudi, Jufri dan Sofyan telah memisahkan diri pula dari kami dan duduk bersama di sudut pintu itu. Katanya mereka ingin menaklukkan ketegangan dan mengundang ketenangan. Aku sempat menghampiri, tapi lalu kembali ke sini lagi karena menghargai keinginan mereka untuk hening.
“Elysa Rizka Armala!” teriak staf Dispora yang sudah 3 tahun ini selalu ada di pemilihan ini.
Alhamdulillah, akhrinya namaku dipanggil juga. Dengan bismillah, ku masuki ruangan sejuk ini. Senja di luar hampir berganti remang. Aku mendekat dengan tenang ke pos pertama. Ada 1 kursi, tempat duduk peserta, dan 6 orang juri yang siap menanyai. Ada beberapa dari PCMI dan sisanya adalah alumni KPN.
“Have we met before?” tanya bang Dedi, alumni SSEYAP tahun 2013.
“Yes, ofcourse.”
“Where it was?”
“Cause I am economic education. So, that we are near.”
Sapaan dari bang Dedi membuatku sedikit mencair. Qori  kemudian membuka tanya,
“Coba jelaskan tentang pakaian sehari-sehari laki-laki dan perempuan melayu dan maknanya.”
Ah, ini kan yang baru saja kami bahas di luar. Alhamdulillah, aku sudah tahu jawabannya.
“Ada 3 hal yang tabu dan tidak boleh dilakukan oleh orang Melayu dalam berpakaian. Jelaskan apa ketiga hal tersebut!” tambah bang Dedi.

Aku bingung. Jujur aku belum dapat ilmu tentang yang satu ini. Tapi, ide tiba-tiba muncul,
“Saya kembali mengacu kepada symbol budaya Melayu, yaitu; Adat bersendi syarak, sarak bersendi kitabullah. Dalam islam, setidaknya ada 3 syarat dalam berpakaian, yaitu; tidak ketat, tidak transparan dan tidak berlebihan. Saya rasa, ini sejalan dengan pantang larang dalam berpakaian orang Melayu.”
Bang Dedi, bang Hendra manggut-manggut. Yesss! Semoga jawabanku benar dan nggak ngawur.
“Apa yang akan kamu ceritakan dari Rokan Hilir dan ketika kamu menceritakan itu, orang otomatis akan tahu bahwa itu ada di Rokan Hilir?” tanya bang Hendra pula.
Aku menceritakan tentang sebutan Bagansiapiapi tentang Negeri 1000 kubahnya dan budaya Bakar Tongkang yang telah diakui dunia. Berikut maknanya, bahwa tradisi tersebut adalah tentang komitmen orang-orang Tionghoa untuk setia menjadi WNI dan tidak akan kembali ke RRC.
Pos pertama lancar. Lanjut ke Pos kedua.
“Jelaskan kepada kami tentang diri anda,” pinta Wahyu, alumni Sail Komodo.
Ada 6 juri pula di sini dan aku bisa menjawab semua pertanyaannya dengan enjoy. Alhamdulillah, sebagian besar pun telah ku obrolkan dengan teman-teman semeja tadi.
“Teluk Tomini adalah pemekaran daerah dari Gorontalo. Di sanalah perhelatan akbar puncak acara KPN akan diselenggarakan.”
“Tomini itu teluk atau pulau sih” tanya kak Cici, alumni Sail Raja Ampat.
“Teluk, Kak. Sebab, teluk adalah perairan yang menjorok ke daratan.”
“Teluk yang paling besar itu teluk apa?” tanya pak Satria.
“Teluuukk…emmm…teluk Bayur?” tebakku.
Sontak saja semua juri di pos kedua ini tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Lalu, kak Cici berbisik pelan, bahwa teluk terbesar itu adalah Teluk Tomini. Wah, kenapa aku nggak pandai ngeles ya? Padahal jawaban itu sudah bisa diprediksi. hihii. Setelah itu, giliran pengetahuanku tentang kebaharian dan kemaritiman yang diuji.

“Jadi, Indonesia sebagai negara kepulauan sudah pasti negara maritime kah?”
Dengan mantap, ku jawab, “Iya.”
Tiba di pos ketiga, aku agak sedikit kelimpungan. KNPI saja aku sampai lupa apa singkatannya. Tapi, untungnya ada beberapa pertanyaan yang benar jawabannya dan beberapa yang lainnya bisa ku selewengkan dengan penjelasan  seirama tapi sebenarnya kurang nyambung. Yah, itu adalah bagian dari seni interview menurutku. Sebego apa pun kita, usahakan tetap tenang dan pandai-pandailah nge-les. hehe.
“Kemaritiman itu lebih kepada pelayarannya (jasa), sedangkan kebaharian itu lebih kepada potensi laut dan budayanya (produk),” jelas Yudi di luar ruangan ketika ku tanyai pertanyaan tadi. huahh, gitu toh?
***
18.40wib di dalam mesjid An-Nur
“Yang akan DATANG itu adalah yang DEKAT dan hari kiamat memang sudah dekat. Hari Kiamat itu akan datang pada hari Jumat. Boleh jadi esok. Tapi, kalau dilihat, tanda-tanda besar itu belum Nampak walaupun tanda-tanda kecil itu sudah jelas. Salah satunya adalah jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki bahkan hingga 50x lipat.”
Wah, ini issue akhir zaman yang sangat hangat. Kemungkinan poligami semakin besar donk? Aku faham bahwa semua orang ingin menyempurnakan agama (baca: menikah) dan apalagi yang dipilih kalau bukan berpologami? Sanggupkah aku?
“….masjid hanya dijadikan sebagai tempat singgah saja. Hanya datang ketika azan dan tidak berhubungan dengan kegiatan lainnya seperti kajian dan diskusi ilmiah.”
Aku mencermati ini sebagai kerisauan tersendiri. Ntah kenapa banyak sekali masjid-masjid yang baru dibangun. Kenapa harus demikian? Sementara pengunjungnya yang memang sedikit itu jadi bersaing dengan masjid sebelah yang tak terlalu jauh selisihnya. Kadang, yang aku nggak habis fikir ada juga yang membangun masjid di kawasan yang sepi. Mending kalau sederhana aja, ini menterengnya minta ampun dah!. Dari mesjid agung An-Nur ini pun ada juga masjid yang baru dibangun. Lah buat apa? Masjid ini pun nggak kurang-kurang nampung jamaah setiap harinya. Lapangannya juga luas buangeeeeet. *kadang, ntahlah!

“Kalau seandainya kematian itu bisa dibeli, pasti banyak orang yang berbondong-bondong membeli kematian.”
Yap! Benar banget. Bahkan mungkin semua orang akan mengeluarkan harta benda yang telah susah payah dikumpulkannya demi membeli kehidupan. Aku pun menakutinya. Tapi yang pernah ku dengar, kematian itu adalah hal paling dirindukan orang-orang beriman. Lantaran itu bisa mempertemukannya dengan Tuhan. Ah, akukah?
Aku meninjau dari celah hijab, memastikan keberadaan Yudi, Teguh dan Sofyan. Tidak ada. Aku segera menuruni tangga dan berjalan ke teras sayap kanan masjid. Aku sempat memberikan ultimatum untuk latihan perfoms di sana. Petir menyambar-nyambar menyertai hujan deras. Aku sedikit terkejut ketika ada bayangan di antara pilar-pilar. Setelah ku dekati, untungnya adalah seorang bapak yang sedang menunggui temannya berwudhu. huft! Dasar parnooo.

Benar saja, mereka sudah berkumpul di sana.
“Aku kira kalian ndengerin ceramah loh di dalam. Hoawaaalah,” sapaku ketika ku lihat mereka sudah sibuk berlatih membaca mantra. Ini adalah idenya dek Sofyan yang ternyata adalah adek tingkatku di Ekonomi. Cerobohnya aku sampai tidak mengenali adik sendiri. hiksss.
Aku dan Yudi rencananya akan membaca Puisi Batu Belah Batu Betangkup sementara yang lainnya akan bernyanyi dengan iringan gitar dari dek Sofyan. Widih, keren banget nih  bocah. Anak sanggar ternyata! Setelah sholat Isya, kami kembali berkumpul di sini dan Firdaus baru saja tiba.
“Maaf ya, hujannya baru bisa diajak kompromi nih!” jelasnya.
Kami terus melanjutkan latihan sampai menunggu hujan layak untuk kami pergi. 
Ciyeee, yang ikut KPN. Semangat ya Cinn.. kata Lia. 
Maacih ya. Ciyeee, yang ikutan DM2.. balasku. 
Eh, kok tahu? Dari Yaumil ya?
Iya. Saling nggak udah bercerita aja kita!
Hahahaa.. aku kan belum ikut DM1, rencananya mau nyelip-nyelip di antara musyma. Tertarik?
Gak, jawabku ketus. 
Okeydee. Hati-hati ya Cin pulangnyaaa.. 
Tidak ada balasan lagi dariku.

***
“Kak? Kakak marah ya sama Okta?” tanya Okta dari seberang telvon.
“Nggak kok. Eh, kemarin sih iya. Tapi, sekarang udah nggak lagi kok! Seru lohhh Dek, Teguh aja sampai bilang, rugi ya si Okta nggak ngerasain serunya kita.”
“Kak, proposal Okta itu udah separoh loh siapnya. Sekarang aja Okta lihat-lihat, eh, kok keren banget ya tulisanku?”
“Ngapa nggak balas-balas sms Kakak kemarin? Kalau bilang kan bisa Kakak bantu nyelesaikan.”
“Halah, lagaknya mau bantuin. Proposal dia aja belum siap sampek sore,” celetuk Teguh sambil melahap Minasnya di depanku.
Sekarang sudah pukul 22.00wib dan kami baru selesai makan malam di pinggiran Panam, setelah Colour Mart. Kami berpisah arah setelahnya. Hari ini melelahkan, tapi mengesankan.

Tidak ada komentar: