"Aku mau ke Prodi pagi-pagi besok, Cin. Doakan lancar ya dan langsung di acc. Aku pengennya jam 7.30wib udah nunggu di depan Prodi Cin. Jadi, begitu bapaknya datang langsung ku serang. Kalau udah jam 09.00wib itu malas lagi, resiko ketemu teman-teman tu besar. hehe."
Dan pagi ini, ketika aku membaca sms Lia yang berbunyi:
Cin, udah jadi mu nemuin bapakmu tadi?
Aku hanya tersenyum dan menekan tombol back.
Lagi-lagi, aku kecanduan nulis. Udah 3 hari blogku nggak terupdate dan pagi ini aku pengen jor-joran menggenapinya. Nulis 1 cerita dalam 1 hari biasanya aku akan menghabiskan waktu setengah jam. Ini mending cuy, waktu pertama-tama belajar ngeblog dulu aku butuh waktu 3 jam. hahaa. Dan saat itu aku mikir: Sanggupkah aku konsisten nulis setiap hari dengan waktu 3 jam yang harus ku alokasikan per hari? hahha. Pagi ini, aku menyelesaikan 3 cerita dan 3 seni dalam waktu 2 jam. Tapi, ya itu penyakitnya, susah beranjak kalau udah keasyikan nulis. Ketika ku lihat jam di HP udah menunjukkan pukul 08.35wib, niat untuk ke Prodi udah ku blacklist. huft! *apalah yang akan dikatakan Mami atas kelakuan anaknya yang 1 ini ya?
"Cuy? Kita sarapan dulu kan?" tanyaku kepada Rini ketika dia minta tolong anterin ke BEM UR.
"Iya. Cepatlah siap-siap. Aku tinggal pake jilbab aja nyaa niii," selalu seperti itu kata-katanya.
Seperti biasa, aku memesan pecel dan 2 bakwan+1 perkedel jagung. Rini mesan lontong plus 1 tempe yang masih juga ku gerogoti. hahha Bukan hanya tempe sih sebenarnya yang ku gerogoti, tapi wilayah teritorinya di kamar pun ku caplok haha. Contohnya, gantungan baju, rak buku, pintu lemari, selalu aja ada barang-barangku yang bertengger cantik. *hahah sori tante.
Setelah sarapan, aku mengantarkan Rini ke BEM UR. Masih sepi.
"Loh Rin, ini ada acara apa kemarin?" tanyaku.
Aku memperhatikan seksama tulisan di depanku: Dapur BEM UR. Dan firasatku mulai nggak enak.
"Itu acara KEMEN PP kemarin. Masak-masak soto orang tuh. Loh? Itu kan kementrian El! hahaa.. tulaah udah lama nggak nongol di BEM sih jadi nggak tahu info kan?"
Aku menelan ludah. Maafkan hamba ya Allah yang nggak pandai adil. Ajarkan hamba.
Melihat kondisi BEM FKIP yang sepi (memang biasanya sepi sih kalau pagi), maka aku melanjutkan laju untuk pulang ke kosan. Apa lagi kalau bukan untuk menulis? Ku cek lagi beberapa postingan dan ternyata ada beberapa yang belum lengkap. hiksss, ini gara-gara pernah nggak sempat nulis dan tertimbun deh. Letih menulis, aku beralih ke FB. Aku mencari nama seseorang di pencarian. Nama yang telah lama mengendap di dasar hati. Nama yang dulu selalu bersanding dengan namaku kemana pun langkah membawa. Nama yang belakangan ini sudah bukan lagi idolaku, tapi tetap ku anggap teman. Ku ketikkan di sana: *e**inda *usp*t**ar*. Upssss! Kok nggak ketemu ya? Aku coba lagi. Lagi. Dan lagi. Tapi hasilnya tetap nihil. Aku mulai menduga bahwa dia memblokirku dari pertemanan. Sedih mulai menjalari sekujur tubuhku. Untuk apa? Apakah aku sedemikian tiada arti lagi bagi hidupnya? Sekarang jelas, siapa yang ingin menjauhi siapa. Siapa yang membenci siapa. Siapa yang memutuskan tali silaturahmi terhadap siapa. Ternyata ini yang ingin ditunjukkan Allah melalui firasat tadi. Aku memang sering diam-diam memantau wallnya. Bukan apa-apa, sekedar ingin tahu kabarnya. Semoga saja dia baik-baik di sana, baik hati, baik raga, baik cintanya. Semoga juga ia segera menyegerakan penyempurnaan cinta yang telah ia pilih sebagai jalannya itu.
Setelah sholat Zuhur, aku menyicil membungkus kado untuk Lia (jaket putih), Teguh-Jhon-Yudi (buku) dengan bubuhan pita hitam di atasnya. Ah, semoga saja mereka senang. Setelah selesai membungkusnya, giliran perutku yang menagih untuk diisi. Ya Allah! Duit lagi nggak ada. hiksss bagaimana ini? Aha! Tiba-tiba terlihat olehku uang Rp 7000, ini adalah uang pulsanya Resi kalau nggak salah kemarin. Segera ku sms kakak pengantar Nasi. Menjelang nasi diantar, aku mencari tambahan seribu lagi dari recehan-recehan di berbagai sudut kamar.
"Pesanaaan!" teriak si kakak dari luar kamar.
"..... uangnya ternyata kurang Rp 700 lagi, Kak. Saya udah nggak ada uang lagi. Kalau saya utang dulu boleh nggak, Kak Rp 700nya itu?" Setelah berfikir sejenak, akhirnya si Kakak mengiyakan. Ah, lagian udah langganan pun. Kalau nggak ngebolehin mah parah amat. Alhamdulillah, perutku terisi juga bermodalkan nekat dan keyakinan bahwa siang ini aku pasti bisa makan. hehe. Aku menyalakan film scooby doo sebagai peneman makanku. nyuumiii..
Setelah makan, perhatianku kembali tertuju ke FB. Kak Jasmadi! Geramku tiba-tiba memuncak lagi mengingatnya. Ku inbox segera dirinya di kolom pesan:
Yang berjanji, yang menghilang sesuka hati.
Sesaat kemudian, pesanku dibalas:
Kakak nggak kemana-mana kok El. Kak masih di sini.
Aku semakin geram. Bukan jawaban jenis ini yang ku harapkan. grrrrrrr! Aku hanya membalas:
Oh!
Melihatnya hanya me-read dan tidak ada respon lanjutan, aku yang jadi kalut. Ku tulis lagi:
Gimana komentar tentang novelnya, Kak? Udah 4 hari loh Elis nungguin.
Dan tahukah readers apa jawabannya?
Bagus kok, El. udah cocok banget kalau diterbitkan. Specchless Kakak.
Hanya itu? Oke baiklah. Akhirnya, ku jadi uring-uringan sendiri. Aku memintanya membaca novel itu bukan sekedar membaca loh. Terakhir kemarin, setelah membaca Novelku (yang lain) dia langsung memberikan banyak komentar dan saran. Nggak nanggung-nanggung cuy, 3 halaman langsung. Tapi, apa yang dikatakannya hari ini membuatku tersadar: mungkin aku terlalu berharap perlakuan dan responnya selalu sama. Aku yang salah! Salah besar! Karena telah berharap kepada orang yang hadirnya tiba-tiba dan mungkin perginya juga tiba-tiba. Yah, selamat deh.
Aku kembali merespon:
End said: thx ya kak.
Lalu, dia kembali membalas:
Kok end said El? Elis nggak mau lagi berkomunikasi lagi dengan Kakka? Huyaaah! Alang-alang El ko.
Aku hanya tersenyum. Tidak membalas apa-apa lagi. Tapi, jemariku segera mengetikkan status di FB dengan lincahnya:
Daripada berharap kepada sesuatu yang sementara kehadirannya, aku lebih memilih untuk tidak dihadiri (sama sekali) olehnya.
Efri seketika koment dengan emote sedih. haha. Dia adalah salah-satunya. upsss! Tapi kali ini nggak ada maksud nyindir dia loh pemirsaaahhh. Itu adalah sesuatu yang jujur dariku. Kalau ada yang merasa nggak cocok dengan sifatku tersebut, ya udah silahkan memilih yang lain. Aku nggak pernah melarang siapa pun yang merasa nggak betah denganku untuk pergi mencari keadaan yang lebih baik baginya. Sedih? Jangan ditanya deh. Aku adalah orang yang paling terpukul dari sebuah perpisahan. Sekali pun itu perpisahan dengan musuh. Aku tetap menyedihkannya. hiksss.. Aku kan orang feeling (Fe). Emang takdirnya menjadi orang yang melo. hhee
Hoaaaammmm. Ngantuk. Nggak ada salahnya aku tidur barang 20 menitan. HP ku letakkan di atas telapak tangan dan alarm telah distandby-kan. Setelah tenggelam ke alam mimpi, tidurku jadi terusik karena getaran HP. Ku lirik sejenak dan di sana tertera nama: Yana. Ah, aku malas mengangkatnya. Kalau sedang mengantuk seperti ini, rasanya malas berbicara di telpon sebelum sepenuh kantukku menghilang. Ku biarkan saja panggilan kesekiannya. Ah, lowbat pula jadinya. Duh, Dek sms aja kenapa sih? Mau bahas masalah baju kan? huft. Getarnya ku ganti dengan nada, untuk menghemat baterai dan bisa bertahan menjelang pelaksanaan misi sore ini.
Setelah berhias dan sholat Ashar, giliran Yudi yang menelvon:
"Maaak, dimana?" teriaknya dari ujung telpon.
"Tunggu ajaaa..dul" dan HPku benar-benar mati.
Ku gesa motor untuk segera sampai di Jembatan Kupu-kupu. Ada Yudi yang sedang tertunduk melhat layar HPnya.
"Cihuyyyyyy HP baru daaankkk..." teriakku setelah ku parkiran motor di dekatnya.
ASUS. Akhirnya tersampaikan juga hajatnya mengganti BB nya dengan Andro yang jauh lebih layak.
"ASUS Zenfone berapa ini, Bang?"
"C tipenya, Mak. Yang kayak punya Mamak itu nggak diproduksi lagi katanya."
Hiksss... HPku ternyata udah jadul aja pemirsaaahh.
"Teguh dan Jhon mana, Bang?"
"Udah otw katanya."
"Tolong telponkan Lia lah, dia dimana dan kado+balonnya gimana?"
Aku segera menuju BLM Faperika, tempat Lia berada saat ini dalam rangka kunjungan DPM. Ah, Di mana pula BLM Faperika berada? Kalau BEMnya sih aku tahu. Aku nyamperin segerombolan mahasiswa lugu yang berjalan ke arahku.
"Dek, BLMnya dimana ya?"
"Itu Kak. Di sana tuhh," mereka menunjuk ke arah BEM.
"Itu mah BEMnya, Dek."
Mereka saling bertanya-tanya kebingungan. Aku pun geleng-geleng kepala, bisa-bisanya mereka nggak tahu. Yah, walaupun anak baru tapi setidaknya kenallah gitu dengan lingkungan fakultasnya sendiri. Mereka mencegat 2 orang temannya yang melintas naik motor. Dan salah satu dari mereka nekat nanyain ke BEM tentang kejelasan keberadaan BLM dan segera dia berbalik ke arahku lagi.
"Kak, di sana rupanya. Setelah HIMA Dolphin itu, Kak," dia menunjuk ke seberang jalan dan aku butuh sedikit berlari-ria ke sana.
"Hayooo...besok harus bergabung ya dengan BLM. Masa letaknyanya aja sampek nggak tahu..." sindirku kepada adek-adek unyu itu.
Lia ke luar dari dalam sekre BLM yang ternyata luar biasa sempit. Dia menyodorkan sebungkus balon warna warni kepadaku.
"Aku ikutan juga, Cin. Biar ku selesaikan bungkus kadonya di DPM."
Kami berpisah arah karena parkirannya yang berjauhan.
Tapi, baru saja aku sampai lagi di jembatan kupu-kupu, tiba-tiba:
"Mak. Ini Lia minta tolong belikan bensin di Bina Krida karena motornya mogok."
Hoawaalaaah Cin. Baru aja pantatku nemplok di semen ini loh.
"I dont know. I dont Know!" Pekik teguh, salah tingkah.
Aku melirik ke arah perempuan yang baru melintas dan tadi sekilas terdengar berteriak:
"Hey? Ngapain kaliaaann?"
Astagfirullah! Riniiii! Ternyata Rini yang barusan lewat. Padahal tadi udah ku sms dan katanya dia sedang di BEM. Ah, rencana meleset! Pasti Rini udah melihat apa yang terjadi. Yang bikin kami ngakak adalah posisi kami tepat berada di pinggir jembatan dan menghadap ke jalan. Kenapa mesti di sini sih kawan-kawan dan akhirnya terlihat kan oleh Rini? Mana Yudi dengan gagahnya sedang memegang balon berwarna kuning pula, mulutku sedang bersusah payah meniup balon, begitu pun dengan Teguh dan Jhon. huaaa.... mimpi apa semalam? Tawa kami membahana Terutama Teguh.
"Sumpah! Aku kaget kali, Mak. Makanya aku langsung bilang i dont know aja. hahaa."
Keasyikan tertawa, Lia terlupakan pula.
Aku menerobos gerimis yang rinainya sejak tadi memang sudah rapi menetes.
Ku serahkan uang Rp 50.000 (minjem sama Teguh) kepada penjual bensin itu dan sengaja nggak ku minta kembaliannya karena 1 botolnya ku bawa ke dalam (sebagai jaminan aku akan mengembalikan botol itu). Sadis sih sebenarnya. Masa botol Aqua bekas aja sampai segitu dikhawatirkan (dilain kejadian yang pernah ku alami). Makanya, daripada hal itu terulang lagi, mending aku aja yang menyodorkan jaminan. Nggak enak banget rasanya dicurigai pemirsaaaa... dan kejujuran kita dibandingkan dengan sebotol Aqua bekas, usang dan jelek itu. hikssss
"Cinnnn...rencana kita kacau. hhiksss. Mu tau kenapa tadi kami ketawa terbahak-bahak waktu mu nelpon? Itu karena si Rini tiba-tiba lewat di depan kami. huhuuuu. Kecerobohan macam apa ini?"
Lia ikutan tergelak. hahaha, lucu memang. Aku saja terpancing lagi untuk tertawa. Lia segera melaju ke DPM dan datang kepada kami dengan membawa kado berwarna biru itu sementara aku dan para cowok-cowok maco (yang mendadak menggendong-gendong balon) sedang mengikatkan balon-balon itu di sepanjang jembatan putih ini. Giliran aku yang harus menjemput Rini dan mereka sudah bersiap-siap di posisi masing-masing. hehe
"Rin? Masih lama lagi pulangnya?" tanyaku ketika Rini ke luar dari BEM dengan ekspresi seolah tahu bahwa aku akan mengerjainya.
"Masih ni. Kenapa, El?" tanyanya dengan wajah yang ku terjemahkan sebagai ekspresi curiga.
Aku sedikit panik karena kehilangan akal setelah menyimpulkan bahwa aku nggak mungkin menculiknya dari BEM.
"Aku pinjam uang, Rin. Ada?" DUH! Kenapa jadi minjem uang? Aku lupa konsep nih. hiksss. Gimana mau jadi artis papan triplek? hueekk. Tadinya sempat terfikir untuk berpura-pura mengajaknya ku traktir makan, tapi itu mustahil banget karena dia kan tahu aku nang hadong fuluss. hiskss,
"Nggak ada lagi loh, El. Di KTM juga nggak ada. Emangnya buat apa?"
"(aku panik). Untuk bayar uang bengkel. Tadi motorku mendadak mogok!" konsep darimana pula ini?
"Emang El darimana?" tanyanya lagi.
"Dari BLM Faperika. Lia kan lagi kunjungan ke sana (trus, hubungannya apa? haa)."
"Pinjem aja sama Yudi. Dia masih di sana kan?"
"(alamak! aku makin panik). Iya... itulah tadi Teguh niup balon karena mau ngasih kejutan sama temannya yang ulang tahun, aku ikutan nimbrunglah di sana (semoga Rini nggak curiga)," aku melirik ke arahnya dan ekspresinya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kecurigaan. Berhasil!
Tapi, aku udah terlanjur bilang alasanku ke sini cuma mau minjem uang. Terus? Gimana caraku menculiknya? Ah, karena kebingungan, akhirnya aku kembali dengan tangan kosong.
"Loh? Maaak Kak Rininya manaaaa?" tanya Teguh dengan mata melotot.
Aku menceritakan kejadian salah konsep tadi.
"Loh? Kok jadi minjem duit sih? Bilang aja tadi kalau Mak butuh pertolongannya sebentar harusnya," timpal Yudi. Dan, mereka tertawa lagi dan menertawaiku.
"Masa MAWAPRES bisa salah konsep sih? Mak...Maaaak!" tambah Teguh lagi.
"Mu ajalah Cin yang ke sana. Sekalian minta tanda tangan bang Atqo buat Yudi dan bilang aja sama Rini gini: Rin, ikutlah bentar. Aku sama Elysa mau ngasih kejutan loh!. Gitu aja bilangnya."
Setelah melewati beberapa ketidaksetujuan, akhirnya pendapatku kali ini diterima. Lia kembali lagi dengan membawa tanda tangan bang Atqo beserta Rini. Hey! Kenapa matanya nggak terikat sarung mukena yang udah susah payah ku curi dari Mushola Rektorat tadi?
Lia mengkodeku bahwa Rini nggak mau menggunakannya. Ah, lagi-lagi keras kepalanya muncul. Ia hanya menutupi wajahnya dengan proposal Yudi.
"Apanya ini? (logat medan)" begitulah kalimatnya sambil dibukanya sesekali proposal itu.
Aku merasa nggak asyik lagi kalau udah seperti ini.
"Ah, Rini nggak asyik ah! Nutup mata aja nggak mau," aku gitu orangnya pemirsaaa.eheh
Yang pasti, dia udah melihat bahwa aku nggak sendirian di sini. Meskipun dia berada di balik pohon, tapi tetap aja pohon itu terbelah batangnya dan bisa dijangkau mata. hisksss... Padahal niatnya biar kayak yang ada ditipi-tipi rusak itu pemirsa. Mata Rini tertutup dan dituntun oleh Lia hingga berada di tengah jembatan sementara kami udah bersiap dengan rekaman kamera. Lalu, ketika dia membuka mata, kado berwarna biru telah berada di depan matanya dengan sodoran tangan kami berlima dan dia akan berkata (seperti yang di tipi-tipi juga): Waaaahhhhhh! Aku terharuuu..
Jadi, secara blak-blakan aja akhirnya kami menyodorkan kado itu pemirsaaa.
Dan, dia tetap berkomentar juga sih seperti yang di tipi-tipi tadi: Wiihhh, kirain ada apalah tadi.
Yah, walau pun nggak mirip-mirip banget, tapi bolehlah! No candle, no cake here.
Sebelum Rini membuka kadonya, giliran aku yang mengambil alih mimbar, hehe
"Nah, sebenarnya hari ini bukan hanya hari bahagia untuk Rini aja. Tapi, hari bahagia untuk kita semua. Ini ada kado-kado kecil juga buat kalian yang tercintaaa," (giliran aku yang sok romantis). Ku keluarkan 4 buah kado dari dalam tas pink-ku. Dan mereka terharu (kayaknya sih gitu)
"Foto dulu sebelum dibuka kadonyaa," teriakku.
Lalu, mereka membuka kado itu bersamaan.
"Widihhhh RUSIA...." teriak Teguh.
"Mak memang paling tahu yang dibutuhkan anak-anaknya ya? Makacih ya Mak," ungkap Lia sambil memeluk blazer putih dariku. hiksssss Mak terharu Nak.
Setelah berfoto dengan berbagai gaya dan pose, kami saling mengucap kata-kata cinta (apa itu? rahasia donk hehe *ntah iya ntah tidak pun).
"Lain kali kalau ada yang orang yang mau ngerjain itu dihargaiiii!" sindirku kepada Rini yang diiyakan oleh yang yang lainnya.
"Nggak nampak punnn tadiii," bela Rini.
Kami saling berpamitan dan melayangkan senyum kepada senja: Terimakasih atas rintik gerimis yang tadi dan cerita bersama balon berwarna-warni. Wahai senja,,, kami bahagia ^_^
"Keren banget dah tasnya, tahu aja kesukaanku," ujar Rini ketika aku dan dia sedang menunggu si bapak memasak pesanan kami: mie goreng keramat. (asal usul keramat adalah dari roman story-nya Rini yang udah dikuburnya hidup-hidup, eh!)
Jangan tanya darimana kami mendapatkan uang. Sudah pasti dari kembalian beli bensin tadi (ngerampok kembalian uang Teguh ceritanya). Alhamdulillah, kita nggak jadi kepalaran malam ini pemirsa....heheh
"Rin, coba check nama si kawan itu di FBmu. Nemu nggak? Soalnya di FBku nggak nemu."
Setelah Rini menge-check dan ditemuilah nama yang tak ku temui lagi di FBku itu.
"Ah, syudahlah El. Lupakanlah dia. Ini pilihan dia. Ntah apalah, segitunya kali. Aku walau sebenci apa pun dengan orang nggak pernah aku ngeblokir dia loh," papar Rini.
Dan, ketika Andin mampir sebentar ke kamarku, aku otomatis menceritakannya juga kepada Andin,
"Syudahlah El! Biarkan saja dia bahagia di sana. Kan masih ada aku, ada Rini, ada Yudi. upsss!"
IYA. Benar. Masih ada mereka yang mencintaiku. Banyak. Dan terus bertambah bahkan. ^_^
Dan pagi ini, ketika aku membaca sms Lia yang berbunyi:
Cin, udah jadi mu nemuin bapakmu tadi?
Aku hanya tersenyum dan menekan tombol back.
Lagi-lagi, aku kecanduan nulis. Udah 3 hari blogku nggak terupdate dan pagi ini aku pengen jor-joran menggenapinya. Nulis 1 cerita dalam 1 hari biasanya aku akan menghabiskan waktu setengah jam. Ini mending cuy, waktu pertama-tama belajar ngeblog dulu aku butuh waktu 3 jam. hahaa. Dan saat itu aku mikir: Sanggupkah aku konsisten nulis setiap hari dengan waktu 3 jam yang harus ku alokasikan per hari? hahha. Pagi ini, aku menyelesaikan 3 cerita dan 3 seni dalam waktu 2 jam. Tapi, ya itu penyakitnya, susah beranjak kalau udah keasyikan nulis. Ketika ku lihat jam di HP udah menunjukkan pukul 08.35wib, niat untuk ke Prodi udah ku blacklist. huft! *apalah yang akan dikatakan Mami atas kelakuan anaknya yang 1 ini ya?
"Cuy? Kita sarapan dulu kan?" tanyaku kepada Rini ketika dia minta tolong anterin ke BEM UR.
"Iya. Cepatlah siap-siap. Aku tinggal pake jilbab aja nyaa niii," selalu seperti itu kata-katanya.
Seperti biasa, aku memesan pecel dan 2 bakwan+1 perkedel jagung. Rini mesan lontong plus 1 tempe yang masih juga ku gerogoti. hahha Bukan hanya tempe sih sebenarnya yang ku gerogoti, tapi wilayah teritorinya di kamar pun ku caplok haha. Contohnya, gantungan baju, rak buku, pintu lemari, selalu aja ada barang-barangku yang bertengger cantik. *hahah sori tante.
Setelah sarapan, aku mengantarkan Rini ke BEM UR. Masih sepi.
"Loh Rin, ini ada acara apa kemarin?" tanyaku.
Aku memperhatikan seksama tulisan di depanku: Dapur BEM UR. Dan firasatku mulai nggak enak.
"Itu acara KEMEN PP kemarin. Masak-masak soto orang tuh. Loh? Itu kan kementrian El! hahaa.. tulaah udah lama nggak nongol di BEM sih jadi nggak tahu info kan?"
Aku menelan ludah. Maafkan hamba ya Allah yang nggak pandai adil. Ajarkan hamba.
Melihat kondisi BEM FKIP yang sepi (memang biasanya sepi sih kalau pagi), maka aku melanjutkan laju untuk pulang ke kosan. Apa lagi kalau bukan untuk menulis? Ku cek lagi beberapa postingan dan ternyata ada beberapa yang belum lengkap. hiksss, ini gara-gara pernah nggak sempat nulis dan tertimbun deh. Letih menulis, aku beralih ke FB. Aku mencari nama seseorang di pencarian. Nama yang telah lama mengendap di dasar hati. Nama yang dulu selalu bersanding dengan namaku kemana pun langkah membawa. Nama yang belakangan ini sudah bukan lagi idolaku, tapi tetap ku anggap teman. Ku ketikkan di sana: *e**inda *usp*t**ar*. Upssss! Kok nggak ketemu ya? Aku coba lagi. Lagi. Dan lagi. Tapi hasilnya tetap nihil. Aku mulai menduga bahwa dia memblokirku dari pertemanan. Sedih mulai menjalari sekujur tubuhku. Untuk apa? Apakah aku sedemikian tiada arti lagi bagi hidupnya? Sekarang jelas, siapa yang ingin menjauhi siapa. Siapa yang membenci siapa. Siapa yang memutuskan tali silaturahmi terhadap siapa. Ternyata ini yang ingin ditunjukkan Allah melalui firasat tadi. Aku memang sering diam-diam memantau wallnya. Bukan apa-apa, sekedar ingin tahu kabarnya. Semoga saja dia baik-baik di sana, baik hati, baik raga, baik cintanya. Semoga juga ia segera menyegerakan penyempurnaan cinta yang telah ia pilih sebagai jalannya itu.
Setelah sholat Zuhur, aku menyicil membungkus kado untuk Lia (jaket putih), Teguh-Jhon-Yudi (buku) dengan bubuhan pita hitam di atasnya. Ah, semoga saja mereka senang. Setelah selesai membungkusnya, giliran perutku yang menagih untuk diisi. Ya Allah! Duit lagi nggak ada. hiksss bagaimana ini? Aha! Tiba-tiba terlihat olehku uang Rp 7000, ini adalah uang pulsanya Resi kalau nggak salah kemarin. Segera ku sms kakak pengantar Nasi. Menjelang nasi diantar, aku mencari tambahan seribu lagi dari recehan-recehan di berbagai sudut kamar.
"Pesanaaan!" teriak si kakak dari luar kamar.
"..... uangnya ternyata kurang Rp 700 lagi, Kak. Saya udah nggak ada uang lagi. Kalau saya utang dulu boleh nggak, Kak Rp 700nya itu?" Setelah berfikir sejenak, akhirnya si Kakak mengiyakan. Ah, lagian udah langganan pun. Kalau nggak ngebolehin mah parah amat. Alhamdulillah, perutku terisi juga bermodalkan nekat dan keyakinan bahwa siang ini aku pasti bisa makan. hehe. Aku menyalakan film scooby doo sebagai peneman makanku. nyuumiii..
Setelah makan, perhatianku kembali tertuju ke FB. Kak Jasmadi! Geramku tiba-tiba memuncak lagi mengingatnya. Ku inbox segera dirinya di kolom pesan:
Yang berjanji, yang menghilang sesuka hati.
Sesaat kemudian, pesanku dibalas:
Kakak nggak kemana-mana kok El. Kak masih di sini.
Aku semakin geram. Bukan jawaban jenis ini yang ku harapkan. grrrrrrr! Aku hanya membalas:
Oh!
Melihatnya hanya me-read dan tidak ada respon lanjutan, aku yang jadi kalut. Ku tulis lagi:
Gimana komentar tentang novelnya, Kak? Udah 4 hari loh Elis nungguin.
Dan tahukah readers apa jawabannya?
Bagus kok, El. udah cocok banget kalau diterbitkan. Specchless Kakak.
Hanya itu? Oke baiklah. Akhirnya, ku jadi uring-uringan sendiri. Aku memintanya membaca novel itu bukan sekedar membaca loh. Terakhir kemarin, setelah membaca Novelku (yang lain) dia langsung memberikan banyak komentar dan saran. Nggak nanggung-nanggung cuy, 3 halaman langsung. Tapi, apa yang dikatakannya hari ini membuatku tersadar: mungkin aku terlalu berharap perlakuan dan responnya selalu sama. Aku yang salah! Salah besar! Karena telah berharap kepada orang yang hadirnya tiba-tiba dan mungkin perginya juga tiba-tiba. Yah, selamat deh.
Aku kembali merespon:
End said: thx ya kak.
Lalu, dia kembali membalas:
Kok end said El? Elis nggak mau lagi berkomunikasi lagi dengan Kakka? Huyaaah! Alang-alang El ko.
Aku hanya tersenyum. Tidak membalas apa-apa lagi. Tapi, jemariku segera mengetikkan status di FB dengan lincahnya:
Daripada berharap kepada sesuatu yang sementara kehadirannya, aku lebih memilih untuk tidak dihadiri (sama sekali) olehnya.
Efri seketika koment dengan emote sedih. haha. Dia adalah salah-satunya. upsss! Tapi kali ini nggak ada maksud nyindir dia loh pemirsaaahhh. Itu adalah sesuatu yang jujur dariku. Kalau ada yang merasa nggak cocok dengan sifatku tersebut, ya udah silahkan memilih yang lain. Aku nggak pernah melarang siapa pun yang merasa nggak betah denganku untuk pergi mencari keadaan yang lebih baik baginya. Sedih? Jangan ditanya deh. Aku adalah orang yang paling terpukul dari sebuah perpisahan. Sekali pun itu perpisahan dengan musuh. Aku tetap menyedihkannya. hiksss.. Aku kan orang feeling (Fe). Emang takdirnya menjadi orang yang melo. hhee
Hoaaaammmm. Ngantuk. Nggak ada salahnya aku tidur barang 20 menitan. HP ku letakkan di atas telapak tangan dan alarm telah distandby-kan. Setelah tenggelam ke alam mimpi, tidurku jadi terusik karena getaran HP. Ku lirik sejenak dan di sana tertera nama: Yana. Ah, aku malas mengangkatnya. Kalau sedang mengantuk seperti ini, rasanya malas berbicara di telpon sebelum sepenuh kantukku menghilang. Ku biarkan saja panggilan kesekiannya. Ah, lowbat pula jadinya. Duh, Dek sms aja kenapa sih? Mau bahas masalah baju kan? huft. Getarnya ku ganti dengan nada, untuk menghemat baterai dan bisa bertahan menjelang pelaksanaan misi sore ini.
Setelah berhias dan sholat Ashar, giliran Yudi yang menelvon:
"Maaak, dimana?" teriaknya dari ujung telpon.
"Tunggu ajaaa..dul" dan HPku benar-benar mati.
Ku gesa motor untuk segera sampai di Jembatan Kupu-kupu. Ada Yudi yang sedang tertunduk melhat layar HPnya.
"Cihuyyyyyy HP baru daaankkk..." teriakku setelah ku parkiran motor di dekatnya.
ASUS. Akhirnya tersampaikan juga hajatnya mengganti BB nya dengan Andro yang jauh lebih layak.
"ASUS Zenfone berapa ini, Bang?"
"C tipenya, Mak. Yang kayak punya Mamak itu nggak diproduksi lagi katanya."
Hiksss... HPku ternyata udah jadul aja pemirsaaahh.
"Teguh dan Jhon mana, Bang?"
"Udah otw katanya."
"Tolong telponkan Lia lah, dia dimana dan kado+balonnya gimana?"
Aku segera menuju BLM Faperika, tempat Lia berada saat ini dalam rangka kunjungan DPM. Ah, Di mana pula BLM Faperika berada? Kalau BEMnya sih aku tahu. Aku nyamperin segerombolan mahasiswa lugu yang berjalan ke arahku.
"Dek, BLMnya dimana ya?"
"Itu Kak. Di sana tuhh," mereka menunjuk ke arah BEM.
"Itu mah BEMnya, Dek."
Mereka saling bertanya-tanya kebingungan. Aku pun geleng-geleng kepala, bisa-bisanya mereka nggak tahu. Yah, walaupun anak baru tapi setidaknya kenallah gitu dengan lingkungan fakultasnya sendiri. Mereka mencegat 2 orang temannya yang melintas naik motor. Dan salah satu dari mereka nekat nanyain ke BEM tentang kejelasan keberadaan BLM dan segera dia berbalik ke arahku lagi.
"Kak, di sana rupanya. Setelah HIMA Dolphin itu, Kak," dia menunjuk ke seberang jalan dan aku butuh sedikit berlari-ria ke sana.
"Hayooo...besok harus bergabung ya dengan BLM. Masa letaknyanya aja sampek nggak tahu..." sindirku kepada adek-adek unyu itu.
Lia ke luar dari dalam sekre BLM yang ternyata luar biasa sempit. Dia menyodorkan sebungkus balon warna warni kepadaku.
"Aku ikutan juga, Cin. Biar ku selesaikan bungkus kadonya di DPM."
Kami berpisah arah karena parkirannya yang berjauhan.
Tapi, baru saja aku sampai lagi di jembatan kupu-kupu, tiba-tiba:
"Mak. Ini Lia minta tolong belikan bensin di Bina Krida karena motornya mogok."
Hoawaalaaah Cin. Baru aja pantatku nemplok di semen ini loh.
"I dont know. I dont Know!" Pekik teguh, salah tingkah.
Aku melirik ke arah perempuan yang baru melintas dan tadi sekilas terdengar berteriak:
"Hey? Ngapain kaliaaann?"
Astagfirullah! Riniiii! Ternyata Rini yang barusan lewat. Padahal tadi udah ku sms dan katanya dia sedang di BEM. Ah, rencana meleset! Pasti Rini udah melihat apa yang terjadi. Yang bikin kami ngakak adalah posisi kami tepat berada di pinggir jembatan dan menghadap ke jalan. Kenapa mesti di sini sih kawan-kawan dan akhirnya terlihat kan oleh Rini? Mana Yudi dengan gagahnya sedang memegang balon berwarna kuning pula, mulutku sedang bersusah payah meniup balon, begitu pun dengan Teguh dan Jhon. huaaa.... mimpi apa semalam? Tawa kami membahana Terutama Teguh.
"Sumpah! Aku kaget kali, Mak. Makanya aku langsung bilang i dont know aja. hahaa."
Keasyikan tertawa, Lia terlupakan pula.
Aku menerobos gerimis yang rinainya sejak tadi memang sudah rapi menetes.
Ku serahkan uang Rp 50.000 (minjem sama Teguh) kepada penjual bensin itu dan sengaja nggak ku minta kembaliannya karena 1 botolnya ku bawa ke dalam (sebagai jaminan aku akan mengembalikan botol itu). Sadis sih sebenarnya. Masa botol Aqua bekas aja sampai segitu dikhawatirkan (dilain kejadian yang pernah ku alami). Makanya, daripada hal itu terulang lagi, mending aku aja yang menyodorkan jaminan. Nggak enak banget rasanya dicurigai pemirsaaaa... dan kejujuran kita dibandingkan dengan sebotol Aqua bekas, usang dan jelek itu. hikssss
"Cinnnn...rencana kita kacau. hhiksss. Mu tau kenapa tadi kami ketawa terbahak-bahak waktu mu nelpon? Itu karena si Rini tiba-tiba lewat di depan kami. huhuuuu. Kecerobohan macam apa ini?"
Lia ikutan tergelak. hahaha, lucu memang. Aku saja terpancing lagi untuk tertawa. Lia segera melaju ke DPM dan datang kepada kami dengan membawa kado berwarna biru itu sementara aku dan para cowok-cowok maco (yang mendadak menggendong-gendong balon) sedang mengikatkan balon-balon itu di sepanjang jembatan putih ini. Giliran aku yang harus menjemput Rini dan mereka sudah bersiap-siap di posisi masing-masing. hehe
"Rin? Masih lama lagi pulangnya?" tanyaku ketika Rini ke luar dari BEM dengan ekspresi seolah tahu bahwa aku akan mengerjainya.
"Masih ni. Kenapa, El?" tanyanya dengan wajah yang ku terjemahkan sebagai ekspresi curiga.
Aku sedikit panik karena kehilangan akal setelah menyimpulkan bahwa aku nggak mungkin menculiknya dari BEM.
"Aku pinjam uang, Rin. Ada?" DUH! Kenapa jadi minjem uang? Aku lupa konsep nih. hiksss. Gimana mau jadi artis papan triplek? hueekk. Tadinya sempat terfikir untuk berpura-pura mengajaknya ku traktir makan, tapi itu mustahil banget karena dia kan tahu aku nang hadong fuluss. hiskss,
"Nggak ada lagi loh, El. Di KTM juga nggak ada. Emangnya buat apa?"
"(aku panik). Untuk bayar uang bengkel. Tadi motorku mendadak mogok!" konsep darimana pula ini?
"Emang El darimana?" tanyanya lagi.
"Dari BLM Faperika. Lia kan lagi kunjungan ke sana (trus, hubungannya apa? haa)."
"Pinjem aja sama Yudi. Dia masih di sana kan?"
"(alamak! aku makin panik). Iya... itulah tadi Teguh niup balon karena mau ngasih kejutan sama temannya yang ulang tahun, aku ikutan nimbrunglah di sana (semoga Rini nggak curiga)," aku melirik ke arahnya dan ekspresinya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kecurigaan. Berhasil!
Tapi, aku udah terlanjur bilang alasanku ke sini cuma mau minjem uang. Terus? Gimana caraku menculiknya? Ah, karena kebingungan, akhirnya aku kembali dengan tangan kosong.
"Loh? Maaak Kak Rininya manaaaa?" tanya Teguh dengan mata melotot.
Aku menceritakan kejadian salah konsep tadi.
"Loh? Kok jadi minjem duit sih? Bilang aja tadi kalau Mak butuh pertolongannya sebentar harusnya," timpal Yudi. Dan, mereka tertawa lagi dan menertawaiku.
"Masa MAWAPRES bisa salah konsep sih? Mak...Maaaak!" tambah Teguh lagi.
"Mu ajalah Cin yang ke sana. Sekalian minta tanda tangan bang Atqo buat Yudi dan bilang aja sama Rini gini: Rin, ikutlah bentar. Aku sama Elysa mau ngasih kejutan loh!. Gitu aja bilangnya."
Setelah melewati beberapa ketidaksetujuan, akhirnya pendapatku kali ini diterima. Lia kembali lagi dengan membawa tanda tangan bang Atqo beserta Rini. Hey! Kenapa matanya nggak terikat sarung mukena yang udah susah payah ku curi dari Mushola Rektorat tadi?
Lia mengkodeku bahwa Rini nggak mau menggunakannya. Ah, lagi-lagi keras kepalanya muncul. Ia hanya menutupi wajahnya dengan proposal Yudi.
"Apanya ini? (logat medan)" begitulah kalimatnya sambil dibukanya sesekali proposal itu.
Aku merasa nggak asyik lagi kalau udah seperti ini.
"Ah, Rini nggak asyik ah! Nutup mata aja nggak mau," aku gitu orangnya pemirsaaa.eheh
Yang pasti, dia udah melihat bahwa aku nggak sendirian di sini. Meskipun dia berada di balik pohon, tapi tetap aja pohon itu terbelah batangnya dan bisa dijangkau mata. hisksss... Padahal niatnya biar kayak yang ada ditipi-tipi rusak itu pemirsa. Mata Rini tertutup dan dituntun oleh Lia hingga berada di tengah jembatan sementara kami udah bersiap dengan rekaman kamera. Lalu, ketika dia membuka mata, kado berwarna biru telah berada di depan matanya dengan sodoran tangan kami berlima dan dia akan berkata (seperti yang di tipi-tipi juga): Waaaahhhhhh! Aku terharuuu..
Jadi, secara blak-blakan aja akhirnya kami menyodorkan kado itu pemirsaaa.
Dan, dia tetap berkomentar juga sih seperti yang di tipi-tipi tadi: Wiihhh, kirain ada apalah tadi.
Yah, walau pun nggak mirip-mirip banget, tapi bolehlah! No candle, no cake here.
Sebelum Rini membuka kadonya, giliran aku yang mengambil alih mimbar, hehe
"Nah, sebenarnya hari ini bukan hanya hari bahagia untuk Rini aja. Tapi, hari bahagia untuk kita semua. Ini ada kado-kado kecil juga buat kalian yang tercintaaa," (giliran aku yang sok romantis). Ku keluarkan 4 buah kado dari dalam tas pink-ku. Dan mereka terharu (kayaknya sih gitu)
"Foto dulu sebelum dibuka kadonyaa," teriakku.
Lalu, mereka membuka kado itu bersamaan.
"Widihhhh RUSIA...." teriak Teguh.
"Mak memang paling tahu yang dibutuhkan anak-anaknya ya? Makacih ya Mak," ungkap Lia sambil memeluk blazer putih dariku. hiksssss Mak terharu Nak.
Setelah berfoto dengan berbagai gaya dan pose, kami saling mengucap kata-kata cinta (apa itu? rahasia donk hehe *ntah iya ntah tidak pun).
"Lain kali kalau ada yang orang yang mau ngerjain itu dihargaiiii!" sindirku kepada Rini yang diiyakan oleh yang yang lainnya.
"Nggak nampak punnn tadiii," bela Rini.
Kami saling berpamitan dan melayangkan senyum kepada senja: Terimakasih atas rintik gerimis yang tadi dan cerita bersama balon berwarna-warni. Wahai senja,,, kami bahagia ^_^
"Keren banget dah tasnya, tahu aja kesukaanku," ujar Rini ketika aku dan dia sedang menunggu si bapak memasak pesanan kami: mie goreng keramat. (asal usul keramat adalah dari roman story-nya Rini yang udah dikuburnya hidup-hidup, eh!)
Jangan tanya darimana kami mendapatkan uang. Sudah pasti dari kembalian beli bensin tadi (ngerampok kembalian uang Teguh ceritanya). Alhamdulillah, kita nggak jadi kepalaran malam ini pemirsa....heheh
"Rin, coba check nama si kawan itu di FBmu. Nemu nggak? Soalnya di FBku nggak nemu."
Setelah Rini menge-check dan ditemuilah nama yang tak ku temui lagi di FBku itu.
"Ah, syudahlah El. Lupakanlah dia. Ini pilihan dia. Ntah apalah, segitunya kali. Aku walau sebenci apa pun dengan orang nggak pernah aku ngeblokir dia loh," papar Rini.
Dan, ketika Andin mampir sebentar ke kamarku, aku otomatis menceritakannya juga kepada Andin,
"Syudahlah El! Biarkan saja dia bahagia di sana. Kan masih ada aku, ada Rini, ada Yudi. upsss!"
IYA. Benar. Masih ada mereka yang mencintaiku. Banyak. Dan terus bertambah bahkan. ^_^


3 komentar:
lucu dan menarik ceritanya kakak, jd penasaran dengan orng yang kau cari di fb itu...
aku pikir itu blazer yg sama, ternyata ohh ternyata
makasih mak ciiint
cint riiin, kudu nurut
masi tertawa dengan ucapan
"masa MAWAPRES bisa salah konsep"
huahahahaha
Posting Komentar