Selasa, 21 April 2015

Kakak Rindu Kepadamu, Bang

Saat melihat wajahnya, aku sadar bahwa ia semakin menua. Ntah apa sebabnya, padahal setahun yang lalu ketika baru mengenalnya, wajahnya jauh lebih muda daripada yang saat ini ku lihat. Kenapa? Mungkinkah karena ia sering mengulur bahkan menghujungkan waktu sholat? Atau karena kesibukannya ber-betu akik ria? Atau karena kebiasaannya bergadang dan tidur dipagi hari. Kadang, ketika mata hari hampir tepat berada di ubun-ubun, aku mendapatinya belum juga mandi.

Bagaimana caraku mengomentarinya? Menasehatinya? Atau bahkan sekedar mengingatkan tentang cerita istrinya berikut ini:
"Dulu pernah. Waktu pertama-tama kami menikah, El. Tapi, sekarang nggak pernah lagi. heemmmm," ia mendengus panjang. Pertanda harapan yang ntah masih diharapkan atau terpaksa ditiadakan.

Bang, Kakak sangat ingin Abang kembali seperti dulu. Sholat Maghrib berjamaah dan Abang menjadi imamnya. Usai maghrib, membimbing anak-anak dan Kakak mengaji bersama.  Kakak rindu hal itu Bang. Mungkin dia hanya kehilangan kata-kata untuk berkata kepada Abang.

Ah, seandainya saja kalimat itu bisa ku utarakan. Betapa indah dan mudah, bukan?
Semoga.

Tidak ada komentar: