Minggu, 19 Oktober 2014

Inspirasi: Di Bawah Langit Yogya

*Part 1
“Perlombaan itu bisa diikuti oleh semua orang kan? Kecuali kalau mereka mengirimkan surat ke kampus dan meminta utusan dari FKIP, ini kan tidak? Kalian saja kan yang pandai-pandai ikut?”
“Pak, selama ini perlombaan nasional yang saya ikuti itu memang terbuka untuk umum. Siapapun berkesempatan untuk mencoba dan ini adalah inisitatif kami untuk mencari informasi itu”.
“Nah, inisiatif kalian inilah yang tidak bisa didanai. Kecuali kalau ini menjadi program tahunan dan ada pos anggarannya”.
“Okey, sudah faham kan? Tapi kalian tetap berangkat kan walaupun tidak dapat bantuan?”
Dengan senyum, aku menjawab “Tentu saja tidak pak. Kami tidak akan final, karena kami tidak punya dana”. Aku keluar dari ruangan itu dengan sebisa mungkin menyembunyikan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk.

Perbincangan dengan 2 orang ‘Besar’ di FKIP ini ternyata tidak membuahkan solusi sama sekali. Aku terus saja berjalan dengan cepat menuruni tangga DEKANAT dan menumpahkan air mata di kursi koridor. Karena sudah banyak yang tertahan, akhirnya aku menangis sejadi-jadinya, tapi sama sekali tak ada suara. Lia, Nila dan aku sama-sama terdiam beberapa saat sambil mengelus-elus pundakku. Hingga air mata reda. “Kita tidak jadi berangkat. Kecuali kalau ada keajaiban,” kataku akhirnya.
Malamnya, aku mengadu ke mama (sebenarnya berharap untuk di danai, hehe). Tapi mama justru mengatakan “Ngapain sedih? Berarti gak rezeki. Yang penting udah berusaha, udah masuk 15 besar, udah di undang, eh ternyata gak dapat bantuan lagian kan mau PPL, nanti kalau berangkat gimana coba?”. Sudah merengek-rengek sambil menangis, Cuma dapat kalimat ‘motivasi’ seperti itu. Perlahan aku mulai rela, dan berfikir pasti ada hikmah di balik semua ini.

*Part 2
Sebelum Talkshow ‘ORASI’ (Obrolan Prestasi) dimulai, panitia LKTI kembali menanyakan kepastian keberangkatan kepadaku. Dengan bismillah, aku jawab
Mohon maaf, Finalis dari Universitas Riau tidak bisa menghadiri Final nanti karena tidak mendapat dukungan dari Kampus. Kecuali kalau ada keajaiban. Mohon doanya saja.
Aku memberikan diriku sepenuhnya dalam ORASI ini, membagikan cerita inspiratif tentang perjalananku. Final LKTI sudah ku lupakan. Sebenarnya, aku bisa saja meninggalkan acara ini untuk kembali berusaha mencari dana. Tapi tidak mungkin, ini amanah sedangkan itu adalah egoku.
Mbak, ini ada alternative dari panitia. Tidak harus semuanya datang kalau itu memberatkan, cukup perwakilannya saja tidak apa-apa mbak. Sayang loh kalau gak diikutin mbak.
Sms dari panitia ini seolah-olah menghadirkan harapan baru untukku. Usai sholat zuhur dan setelah menolak bebearapa teman yang mengajak makan siang bersama, aku kembali ke kos untuk mengambil proposan dan bergegas menemui pak Syafrial PD III FKIP. Tiba-tiba semangat itu hadir lagi, aku sangat yakin bahwa harapan itu masih ada. Waktuku menjadi lebih berharga disaat-saat seperti ini dibandingkan dengan makan siang dan berkumpul bersama teman-teman.


Aku mengadu kepada pak Iya, layaknya seorang anak yang mengadukan masalahnya kepada orangtuanya. Saat itulah aku tahu banyak hal yang Selama ini tak terbaca olehku. Pak Iyal banyak bercerita. Obrolan terpaksa terpotong karena ada pengurus BEM yang menemui bapak. Aku menunggu lebih dari 1 jam. Perut yang sejak tadi terasa perih, lagi-lagi ku tepiskan lagi.

“Bapak ingin sekali kamu bisa berangkat. Kamu lihat ini nak?” pak Iyal menunjukkan amplop tunjangan gajinya. Tertulis di sana angka Rp 6.800.000.
“Ini, Rp 1.500.000 bapak berikan secara pribadi buat kamu. Bapak ingin kamu berangkat. Bapak bangga padamu,” aku terima uang itu dengan perasaan terharu.
“Pak, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan bapak. Doakan urusan elysa lancar ya pak dan semoga bisa menang. Mohon doanya selalu”.
Ya Allah, bimbing aku untuk menjadi pemenang. Aku ingin memberikan piala untuk pak Iyal.
Doaku dalam hati saat meninggalkan ruangannya.


*Part 3
Setelah melalui perundingan panjang, akhirnya Lia dan aku yang berangkat ke Yogya tentunya dengan tambahan dana dari orangtua kami tercinta. Persiapan ini rasanya begitu singkat. Final akan di mulai besok, maka hari ini kami harus berangkat. Tiket baru terbeli pada jam 08.00 pagi ini untuk penerbangan nanti sore pukul 17.00. benar-benar gila. Kami menggesa persiapan-persiapan luar biasa dalam waktu yang singkat ini. Dengan bismillah, semoga semua persiapan ini SEMPURNA.
Tepat pukul 16.00 aku tiba di pintu check ini bandara. Lia sudah sejak tadi sampai. “Perasaanku gak enak cin, tadi baji gamisku tergiling di rantai motor, aku gak apa-apasih. Tapi bajuku rusak dan hasur digunting. Trus, kunci kamarku tiba-tiba patah jadi 2, tadi aku pergi dengan pintu yang gak terkunci. Trus, jam tanganku patah, trus gelang persahabatan KKN ku juga rusak. Perasaanku gak enak loh”.
Melihatku yang panic seperti itu, lia hanya menjawab “Gak boleh berfikir gitu, beroda saja semuanya baik-baik”. Aku tetap saja menggerutu dan uring-uringan. Setelah sholat ashar, barulah tenang. Mau tidak mau aku harus berangkat, pilihan ini telah ku ambil dan aku yang memulainya.


Kami mendarat pukul 19.00 di Soekarno Hatta. Dengan pertimbangan biaya, kami menggunakan bus menuju yogya. Kami baru sadar bus yang kami naiki ini tidak sesuai ketika sudah memasuki jawa tengah paginya. Seharusnya kami naik bus dari terminal kemayoran, bukan dari pulo gadung (kalau mau ke yogya). Ini memang ketidaktahuan di tengah keterbatasan waktu. Kami memilih pulo gadung karena buka 24 jam, sedangkan yang lainnya itu tutup sekitar jam 20.00-21.00. cari aman ceritanya.
Berdasarkan instruksi LO, Kami turun di Magelang dan di jemput menuju UNY kampus Wates. Sejak kemarin, panitia terlihat sangat senang ketika kami bisa berangkat. Di perjalanan, mereka berulang kali menghubungi kami dan memastikan kami aman. Tiba di wisma pada pukul 16.30. nyaris 24 jam perjalanan yang kami tempuh. Setelah makan siang, dan mandi, kami kembali menggesa persiapan. Aku menyelesaikan slide poserpoint dan lia membaca materi.
Setibanya di kampus UNY, kami disambut hangat oleh panitia dan para finalis. Mereka seolah-olah lega sekaligus bahagia melihat kedatangan kami. “Mbak, aku punya nazar, kalau yang dari Riau udah dating, mau ku peluk,” kata salah satu panitia. Segitunya? Ternyata ketua pelaksana yang telah mengatakan semua ini di pembukaan tadi. Pantas saja semua orang tahu. Heeheee… dan kami adalah peserta yang paling terakhir datang dan paling terakhir tampil.
Sesuai kebiasanku, aku meminta doa restu dari kedua orangtua sebelum tampil. Lia juga demikian. Alhamdulillah semuanya lebih dari Lancar. Juri justru banyak memuji daripada mengkritik. Presentase tadi rasanya bukan seperti presentase, semuanya terasa singkat dan cepat.


Di culture night, seluruh peserta menampilkan budaya masing-masing, ada yang ice breaking, berpuisi, bernyanyi, beatbox dan hanya kami spesial (ciyeee). Kami menyuguhkan tari Rentak Bulian, khas Indragiri Hulu yang juga menjadi ide Karya Tulis Ilmiah. kami. Hari yang luar biasa ini akhirnya terlewati juga, kami istirahat dalam kedamaian.


*Part 4
Peserta seminar nasional dengan tema “Menyongsong generasi emas Indonesia 2045” membludak. Kami duduk diantara puluhan peserta lainnya. Tonggak kemajuan suatu bangsa memang tertumpu pada bahu generasi muda. Sudah saatnya kita berbuat lebih banyak lagi untuk berperan dalam pembangunan tersebut lewat ‘porsi’ kita masing-masing.
Setelah seminar, tibalah saatnya Pengumuman juara 1,2 dan 3. Aku dan Lia tidak mimpi apa-apa semalam. Kami pasrah, juara 3 ternyata bukan kami, tapi dari kampus UNY. Mungkinkan kami di posisi 1 atau 2?
Juara 2 di raih oleh…… (rasanya aku sudah sangat rindu dengan pengumuman mendebarkan semacam ini)
Universitas Riau. Dipersilahkan maju ke depan.
Aku dan liaa saling berpandangan dan menangis di tempat duduk ini. semua mata tertuju kepada kami. Ini ANUGERAH, bukan KEHEBATAN kami.
Cin, tau gak kenapa aku pake baju ini lagi? Karena aku pengen dipanggil ke depan lagi sebagai pemenang seperti di Madiun kemarin. Kata Lia sambil terisak-isak. Aku memeluknya.

Pak, Piala ini kami persembahkan untukmu yang berhati malaikat. Ini tak sebanding dengan semua kebaikan bapak. Bapak adalah KEJAIBAN itu, yang selalu aku doakan dari ketidakmungkinan di hari kemarin. Semoga Allah selalu memelihara bapak dan keluarga.
Salam cinta dari kami, untuk Pak SYAFRIAL, PD III FKIP UR.

Tidak ada komentar: