Sabtu, 01 Agustus 2015

Inspirasi: Taat tapi Bukan Malaikat

"Kak! Sholatlah lagi. Udah jam 22.00 loh" aku mengingatkan lagi. Tapi tetap tidak ada tanggapan. Games di tangan tetap jadi fokus fikiran. Koin-koin beterbangan di layar Android memenuhi keranjang nilai. Aku terus memperhatikannya.
"Kak!" kejarku lagi.
Ia hanya mendehem. Ya Allah, ampuni kami.
Kata siapa mereka yang berjilbab menjulur sudah pasti selalu taat? Kata siapa mereka yang berpenampilan alim selalu tepat waktu menggenapi panggilan Tuhan? Kata siapa? Siapa yang bisa menjaminnya? Tidak ada. Tidak juga aku. Walaupun dulu aku begitu; menilai sama pada apa yang terlihat mata.
/1/
Setibanya di Mall ini, azan Maghrib tak lama berkumandang kemudian.
"Kita cari mushola dulu yuk kak!" Ajakku. Ia tak menjawab. Seolah tak tertarik dengan ajakanku. Aku menarik tangannya keluar dari jejeran etalase panjang terbentang itu.
"Nah, itu musholanya" lega-ku.
"Kakak nanti ajalah sholat maghribnya dek. Sekaligus sama Isya aja nanti!". GLEKKK. Aku tersentak.
"Yakin kak?" tanyaku memastikan.
"Iya!" tegasnya.

***
/2/
Di tengah perjalanan, di atas motor melaju yang ku kendarai. "Kak, sholat Zhuhur dimana ya kita?" tanyaku.
"Dimana mau sholat di sini dek?" tanyanya pesimis. Padahal, ini kan pusat perbelanjaan yang sudah dapat dipastikan menyediakan tempat sholat; lazimnya di sini.
"Nah... kita turun ke bawah dulu harusnya nih. Di bawah ada mushola, itu yang terdekat" jelasku. "Kakak nanti ajalah sekalian sholat Ashar dek!".
Aku keheranan, "Kenapa gitu kak?" tanyaku.
"Kakak kan masih terhitung Musafir dek, jadi dapat keringanan" jelasnya. Aku masih belum puas.
"Loh kak? Sekarang kan kakak udah di Pekanbaru dan kita sedang jalan-jalan. Ini nggak darurat lagi kak. Karena kita bisa sholat dan banyak pula tempat sholatnya kak." Aku menegaskan yang menurutku benar.
"Adek tu nggak ngerti. Kakak udah pernah tanya sama ustadz kakak, itu boleh aja karena kakak kan dari perjalanan jauh dan itu dibatasi selama 3 hari dek keringanannya" jelasnya lagi. Aku terdiam. Terpaksa diam, lebih tepatnya. Tapi masih dijejali tanya.
Kami tiba di masjid sebelum waktu Zhuhur berakhir...
"Sini biar kakak pegangin tas adek!" tawarnya. Aku mengiyakan, karena kondisi toilet amburadul; belum siap renovasi. Setelah selesai berwudhu, aku mendapati si kakak sedang berbaring di dalam masjid.
"Kakak nggak sekalian sholat sekarang kak?" tanyaku menyelidik.
"Nanti aja kakak pas Ashar. Capek kali." GLEKKKK. Capek? Capek ini adalah pilihan kita loh kak--karena kita muter-muter buat belanja seharian.

***
/3/
"Yuk!!!" Ia mengkodeku untuk segera menyelesaikan dandanan.
"Loh, kakak gak sholat Isya dulu? udah jam 20.00 loh kak!" bujukku.
"Kakak nanti aja waktu sholat Tahajud dek!"
"Loh kok gitu kak? Itu gak lalai ya namanya?"
"Waktu sholat Isya itu kan panjang dek. Kalau kakak sholat Isya sekarang, kakak nanti pasti malas Tahajud. Karena, hati udah tenang. Sebaliknya, kakak pasti akan terbangun Tahajud karena merasa ada kewajiban yang belum kakak tunaikan. Dah tau kakak gitu triknya dek biar Tahajud".
(sambil terheran-heran mengangguk terpaksa).
"Tapi, kalau seandainya kakak gak terbangun gimana? Tinggallah sholat Isyanya kalau gitu kak?"
"Gak dek. Kakak pasti terbangun karena hati kakak belum tenang. Tau kakak nyoo."
(Terdiam lagi) Aku yang kurang ilmu? Atau si kakak yang terlalu banyak tahu?

***
Dulu, aku (dan mungkin juga sama dengan anda) menganggap seseorang yang berpenampilan sempurna (jilbab longgar, tebal, dalam) adalah orang-orang TANPA CELA. Kita menduga bahwa dia sudah pasti tepat waktu sholatnya, banyak sunnahnya, terpelihara lisannya, putih hatinya dan bla bla bla. Dan ketika mereka suatu saat melakukan salah, kita benar-benar gak bisa terima dan biasanya langsung  menyalahkan pakaiannya atau mengkambing-hitamkan amalan-amalannya. Aku pun (dulu). Tapi sekarang tidak lagi. Aku menganggap 'se-sempurna' apapun penampilan mereka, mereka tetap MANUSIA BIASA yang sangat mungkin KHILAF. Mereka bukan MALAIKAT yang tanpa nafsu. Mereka bisa saja salah dan kita bisa saja mengingatkan, setuju???

Ya Allah, himpun hati-hati kami dalam se-wadah cahaya-Mu, se-sinar petunju-Mu, se-lurus jalan-Mu. Jangan biarkan sesuatu pun terserak sedangkan Engkau tidak meridhoi. Aammiin y Allah.

Senja di Februari 24th 2015
#Karena engkau kakak-ku

2 komentar:

tengkunovenia@gmail.com mengatakan...

Manap kakak ^_^

Unknown mengatakan...

hihiii...Alhamdulillah dek. Semoga 'kakak-kakak' lain di luar sana (atau bahkan diri kita) semakin sadar dan memperbaiki yang pincang dari diri ini..aamiin