Telpon berdering...
"Iya iya Fi... aku udah mau otw nih..." jawabku tanpa tunda.
"Udah jam setengah 9 nih Elll... anggota elu mane ni?" barulah Fifi bersuara.
"Iya..iya bentar lagi ku sms lagi mereka nih."
Motorku melaju menuju Auditorium FMIPA UR. Aku menjadi MC di sana. Malah belum tiba di tempat sampek jam segini. *maklum cin, make up-an duyuu eke,,heheh. Untung saja pak WR 3, Presma UR belum tiba. *huft, hampir saja. Setelah membantu teman-teman menyiapkan ini dan itu, acara ku buka dengan sebuah pantun...
"Iya iya Fi... aku udah mau otw nih..." jawabku tanpa tunda.
"Udah jam setengah 9 nih Elll... anggota elu mane ni?" barulah Fifi bersuara.
"Iya..iya bentar lagi ku sms lagi mereka nih."
Motorku melaju menuju Auditorium FMIPA UR. Aku menjadi MC di sana. Malah belum tiba di tempat sampek jam segini. *maklum cin, make up-an duyuu eke,,heheh. Untung saja pak WR 3, Presma UR belum tiba. *huft, hampir saja. Setelah membantu teman-teman menyiapkan ini dan itu, acara ku buka dengan sebuah pantun...
Jagalah selalu tutur wicara
Assalamualaikum mulanya kata
Saya sembah pembuka bicara
Sudah cukup lama aku tidak berjumpa pak Iyal tercinta. Senang rasa hati bisa melihatnya pagi ini. Ialah yang melantik kami--pengurus URC Periode 2014-2015. Dengan penuh kesadaran diri dan iman di hati, aku dan seluruh pengurus mengucap sumpah yang disaksikan oleh Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. *aku deg-degan pemirsa. Semoga amanah ini mem-baikkan selanjut-ku dan selanjut-banyak orang kemudian. *aku harus mewarnai URC dengan diri-ku yang penuh warna ini,,, wkwkwk aamiin.
Kak Azi hadir juga dan memberi kata sambutan. Ia sudah sembuh dari sakit DBD-nya yang nyaris sebulan. *rindu kakakkk...hiks. Yudi juga turut hadir, atas sebuah 'paksaan' untuk membaca puisi dipertengahan acara. Benar-benar tanpa persiapan. Aku tahu itu. Tapi barangkali inilah satu waktu yang baru ku mintai secara paksa kesediaannya. *terimakasih bro, kamu luar biasa n pantas mak harapkan.hihiii... Maaf gak ada honornya. wkwkwk
***
*Cerita tentang MUSCAB FLP
Setelah tugasku usai, langsung aku beranjak ke MUSCAB FLP di Kampus Madani School di jalan Bangau Sakti. Acara sudah dimulai seja 1 jam yang lalu. Aku terlambat, tapi tak mengapa. Daripada tidak sama sekali. Belum genap se-jam aku duduk mengikuti, bang Alam minta tolong untuk beli nasi bungkus. "Ambil Rp 300.000 ya di ATM abang. Ini paswordnya," pinta bang Alam.
"Bang percaya sama Elis?" tanyaku menyelidik. "Percaya" kata bang Alam, singkat.
Aku melaju bersama Ani lalu Mampir di ATM bank MANDIRI. Uang Rp 300.000 keluar dari mesin ATM dan aku segera mengambilnya, jangan sampai kejadian bodoh kemarin terulang lagi. *ciyee trauma,hehe. Resi ku ambil setelahnya. Tapi, kartu ATM yang ku tunggu-tunggu belum juga nongol. Aku mulai gelisah. Ku intip sela-sela tempat masuk ATM dan sepertinya ada yang tersangkut di sana. Ku sogok dengan KTM-ku dan ternyata dia semakin hilang. KTM-ku pun nyaris tertarik.
"Ni... Ani duluan aja beli lauknya. Ini uangnya udah keluar, tapi ATMnya nyangkut. Aku takut ninggalin ini, ntar ada yang bajak pula. Biar ku hubungi dulu bang Alamnya."
Ak nongkrong persis orang bego di depan ATM tadi. Setiap ada yang datang, mereka langsung ke ATM di sisi kanan pintu. Baguslah, fikirku. Daripada mereka juga jadi korban selanjutnya. Bang Adit menelvonku dan menyuruhku segera kembali ke MUSCAB supaya bisa jelasin langsung ke bang Alam apa yang terjadi. Sambil mendengar celotehan bang Adit, aku memperhatikan dari luar ATM--kini, seorang perempuan yang menarik uang di tempatku tadi dan ternyata berhasil tanpa ada masalah. Aku ternganga. Apa tanganku saja yang sedang sial???
***
*Tentang ternyata
Aku sampai di Kampus Madani dengan plastik besar dan berat berisi makanan. Sedangkan Ani menjinjing seplastik besar es teh. Aku mendekati mbak Sugi dan menjelaskan segalanya...
"...Tapi resi dan uangnya udah keluar loh, mbak. Ini buktinyaaaaaaa......" aku ternganga tiba-tiba. begitu juga bang Adit dan mbk Sugi. Lalu mendadak berubah jadi tawa geli.
Kartu ATM yang ku kira hilang ternyata ada di dalam tasku. Aku merasa ini sangat mustahil.
"Itu sama kayak kita habis nulis kak trus penanya kita sangkutin di telinga. Trus kita kehilanga. haha" ledek Putri dan disusul setuju dari beberapa suara. Aku tak sanggup menahan untuk menertawai diriku.
Usai makan siang, setiap peserta sidang dimintai pandangan umumnya mengenai LPJ. Aku yang memang belum membacanya malah mengomentari kinerja FLP. Di situ aku ungkapkan semua uneg-unegku. Tentang angkatan VIII yang ntah bagaimana rimbanya setelah hari pelantikan itu--Maret 2013, tentang penerbitan buku yang ntah keman harus ku tanya, tentang rancangan website FLP RIAU, FLP Pekanbaru dan FLP RANTING, sekaligus fanspagenya di facebook. Insya Allah semoga aku juga siap kalau tiba-tiba diamanahkan oleh top manajemen FLP, heehe..aamiin.
Ketika pemilihan ketua FLP Cabang Pekanbaru, namaku termasuk ke dalam 6 nama yang dicalonkan peserta sidang; bg Rahmat, bg Fathromi, bg Ilham, Aku, bg Alam, bg Suardi. Tapi syukurlah yang terpilih itu bukan aku, tapi bang Rahmat. *Yee..selamat bang. Coba aja kalau aku yang terpilih, syudahlah! hehee. Alhamdulillah kelar juga nih MUSCAB. Diakhiri dengan berfoto bersama. yeeee...
Kak Azi hadir juga dan memberi kata sambutan. Ia sudah sembuh dari sakit DBD-nya yang nyaris sebulan. *rindu kakakkk...hiks. Yudi juga turut hadir, atas sebuah 'paksaan' untuk membaca puisi dipertengahan acara. Benar-benar tanpa persiapan. Aku tahu itu. Tapi barangkali inilah satu waktu yang baru ku mintai secara paksa kesediaannya. *terimakasih bro, kamu luar biasa n pantas mak harapkan.hihiii... Maaf gak ada honornya. wkwkwk
***
*Cerita tentang MUSCAB FLP
Setelah tugasku usai, langsung aku beranjak ke MUSCAB FLP di Kampus Madani School di jalan Bangau Sakti. Acara sudah dimulai seja 1 jam yang lalu. Aku terlambat, tapi tak mengapa. Daripada tidak sama sekali. Belum genap se-jam aku duduk mengikuti, bang Alam minta tolong untuk beli nasi bungkus. "Ambil Rp 300.000 ya di ATM abang. Ini paswordnya," pinta bang Alam.
"Bang percaya sama Elis?" tanyaku menyelidik. "Percaya" kata bang Alam, singkat.
Aku melaju bersama Ani lalu Mampir di ATM bank MANDIRI. Uang Rp 300.000 keluar dari mesin ATM dan aku segera mengambilnya, jangan sampai kejadian bodoh kemarin terulang lagi. *ciyee trauma,hehe. Resi ku ambil setelahnya. Tapi, kartu ATM yang ku tunggu-tunggu belum juga nongol. Aku mulai gelisah. Ku intip sela-sela tempat masuk ATM dan sepertinya ada yang tersangkut di sana. Ku sogok dengan KTM-ku dan ternyata dia semakin hilang. KTM-ku pun nyaris tertarik.
"Ni... Ani duluan aja beli lauknya. Ini uangnya udah keluar, tapi ATMnya nyangkut. Aku takut ninggalin ini, ntar ada yang bajak pula. Biar ku hubungi dulu bang Alamnya."
Ak nongkrong persis orang bego di depan ATM tadi. Setiap ada yang datang, mereka langsung ke ATM di sisi kanan pintu. Baguslah, fikirku. Daripada mereka juga jadi korban selanjutnya. Bang Adit menelvonku dan menyuruhku segera kembali ke MUSCAB supaya bisa jelasin langsung ke bang Alam apa yang terjadi. Sambil mendengar celotehan bang Adit, aku memperhatikan dari luar ATM--kini, seorang perempuan yang menarik uang di tempatku tadi dan ternyata berhasil tanpa ada masalah. Aku ternganga. Apa tanganku saja yang sedang sial???
***
*Tentang ternyata
Aku sampai di Kampus Madani dengan plastik besar dan berat berisi makanan. Sedangkan Ani menjinjing seplastik besar es teh. Aku mendekati mbak Sugi dan menjelaskan segalanya...
"...Tapi resi dan uangnya udah keluar loh, mbak. Ini buktinyaaaaaaa......" aku ternganga tiba-tiba. begitu juga bang Adit dan mbk Sugi. Lalu mendadak berubah jadi tawa geli.
Kartu ATM yang ku kira hilang ternyata ada di dalam tasku. Aku merasa ini sangat mustahil.
"Itu sama kayak kita habis nulis kak trus penanya kita sangkutin di telinga. Trus kita kehilanga. haha" ledek Putri dan disusul setuju dari beberapa suara. Aku tak sanggup menahan untuk menertawai diriku.
Usai makan siang, setiap peserta sidang dimintai pandangan umumnya mengenai LPJ. Aku yang memang belum membacanya malah mengomentari kinerja FLP. Di situ aku ungkapkan semua uneg-unegku. Tentang angkatan VIII yang ntah bagaimana rimbanya setelah hari pelantikan itu--Maret 2013, tentang penerbitan buku yang ntah keman harus ku tanya, tentang rancangan website FLP RIAU, FLP Pekanbaru dan FLP RANTING, sekaligus fanspagenya di facebook. Insya Allah semoga aku juga siap kalau tiba-tiba diamanahkan oleh top manajemen FLP, heehe..aamiin.
Ketika pemilihan ketua FLP Cabang Pekanbaru, namaku termasuk ke dalam 6 nama yang dicalonkan peserta sidang; bg Rahmat, bg Fathromi, bg Ilham, Aku, bg Alam, bg Suardi. Tapi syukurlah yang terpilih itu bukan aku, tapi bang Rahmat. *Yee..selamat bang. Coba aja kalau aku yang terpilih, syudahlah! hehee. Alhamdulillah kelar juga nih MUSCAB. Diakhiri dengan berfoto bersama. yeeee...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar