Pagi-pagi banget udah keluar rumah buat memenuhi janji rapat tentang persiapan MAWAPRES. Tema kostumku hari ini adalah Merah-Putih berkibarlah benderaku. hehe. Alhamdulillahirobbil'alamin, Maha sejuk Allah beserta kesejukan yang Ia ciptakan dalam cerita pagi. Sungguh, demikianlah sebuah nikmat yang sering terlupa untuk disyukuri.
Setelah sampai di mushola rektorat, deng deng! Nggak ada orang satu pun. Pukul 07.27 wib, aku kembali mengingatkan teman-teman riset lewat bbm. Barulah Yaumil dan Reza datang. Huaaa,, nggak apa-apa deh! Aku juga udah sempet nulis 1 cerita di blog karena menunggu. Persiapan MAWAPRES ternyata harus digesa. "Kata bang Enda Kak, mereka nyiapain MAWAPRES ini 1 bulan loh! Ini kita cuma kurang dari 20 hari takutnya nggak maksimal kak," kata Reza. Secepat kilat kami nyiapin agenda acara dan nyusun proposal mentah untuk MAWAPRES. Hiksss, aku terharu kalau kita se-solid ini pemirsa....
Yaumil nyebarin surat rekomendasi panitia MAWAPRES ke fakultas-fakultas, sementara aku dan dek Reza nemuin pak Iyal untuk menanyakan siapa gerangan pembina MAWAPRES tahun ini. Dan, ternyata orangnya masih sama dengan pembina PKM UR juga, yaitu pak Syaiful Bahri dosen Teknik.
"Bang, gimana spanduk kita? Kok belum selesai juga, Bang?" tanyaku.
"Kita kan belum tahu gimana ukuran spanduknya. Belum tahu kan? Kita harus nyesuaikan dengan dana universitas juga. Kita kan cuma pelaksana aja, sementara ini acara kampus. Abang juga nggak negerti brapa ukurannya dan berapa banyak mau dicetak," kata bang Dade.
"Pak, ukuran spanduknya berapa ya kira-kira?" tanyaku waktu bertemu pak Iyal. Reza menyenggol tanganku dan mengerdipkan mata.
"Kak, nggak mesti juga hal gituan kita tanya sama pak PR 3," bisiknya padaku.
"Nggak mungkin kan nanya spanduk juga kepada saya. Coba tanya sama Kasubag atau bang Toni," sara pak PR 2.
"Bang! Brapa ukuran spanduk dan berapa banyak yang harus kami tempah, Bang?" tanyaku pada bang Toni. Reza kembali menyikutku.
"Kak, bodoh kali kita kalau hal teknis gitu kita tanyakan juga. Kita tempah ajalah pandai-pandai kita, Kak," jelas Reza di luar ruangan.
"Loh! Kata Bang Dade kan gitu, Dek," jawabku polos.
"Jangan percaya gitu aja kak sama orang. Nampak kali kita bodohnya kalau tanya-tanyain itu ke rektorat," terang dek Reza lagi.
Hiksss, luar biasa banget dek Reza dan betapa tidak lihainya aku dalam menempatkan diri. hiksss. Walaupun dia lebih muda daripada aku, tapi aku merasa hrus belajar sesuatu darinya. Dia gesit, cerdas dan tegas. Lanjut ke teknik buat nemuin pak Syaiful. Eh, pak Syaifulnya nggak ada di tempat. Setelah Zuhur aku akan kembali lagi ke sini karena dek Reza masuk kuliah.
Mau lihat acara INTEREST-nya KOMAHI aja nggak sempat sama sekali. Selain karena bayar (cuma Rp 15.000 sih, tapi yang namanya aja nggak megang uang), juga karena nggak sempat. Hikss,, maafin kakak ya dek Emji cantik. Maafin Elis juga bang Wira, karena nggak bisa lihat abang di sana.
Perut terasa keroncongan banget menjelang jam 12.00wib, karena tadi pagi emang belum sarapan. Akhirnya, aku nekat minjam uang dek Reza Rp 20.000 (hikss, saking nggak ada duitnya. Ya Allah lapangkan rezeki hamba), trus makan deh di kantin Teknik. Ya Allah, selalu aja enak-enak makanannya. Kali ini aku ngambil lauk sambal ikan laut, 1 perkedel dan 1 tempe bacem. Nyam-nyam enak banget. Aku sendirian, bodo amat emang gue fikirin. Waktu pertama kali gue sampe sih banyak yang ngeliatin, itu mungkin karena penampilan gue yang ke-guru-an sekaligus hari ini gue emang waw. Yah yah, boleh jadi kan pemirsa? hihii. Pas bayar, untungnya cuma Rp 14.000, Rp 6000nya buat jaga-jaga. hehee
Setelah sampai di mushola rektorat, deng deng! Nggak ada orang satu pun. Pukul 07.27 wib, aku kembali mengingatkan teman-teman riset lewat bbm. Barulah Yaumil dan Reza datang. Huaaa,, nggak apa-apa deh! Aku juga udah sempet nulis 1 cerita di blog karena menunggu. Persiapan MAWAPRES ternyata harus digesa. "Kata bang Enda Kak, mereka nyiapain MAWAPRES ini 1 bulan loh! Ini kita cuma kurang dari 20 hari takutnya nggak maksimal kak," kata Reza. Secepat kilat kami nyiapin agenda acara dan nyusun proposal mentah untuk MAWAPRES. Hiksss, aku terharu kalau kita se-solid ini pemirsa....
Yaumil nyebarin surat rekomendasi panitia MAWAPRES ke fakultas-fakultas, sementara aku dan dek Reza nemuin pak Iyal untuk menanyakan siapa gerangan pembina MAWAPRES tahun ini. Dan, ternyata orangnya masih sama dengan pembina PKM UR juga, yaitu pak Syaiful Bahri dosen Teknik.
"Bang, gimana spanduk kita? Kok belum selesai juga, Bang?" tanyaku.
"Kita kan belum tahu gimana ukuran spanduknya. Belum tahu kan? Kita harus nyesuaikan dengan dana universitas juga. Kita kan cuma pelaksana aja, sementara ini acara kampus. Abang juga nggak negerti brapa ukurannya dan berapa banyak mau dicetak," kata bang Dade.
"Pak, ukuran spanduknya berapa ya kira-kira?" tanyaku waktu bertemu pak Iyal. Reza menyenggol tanganku dan mengerdipkan mata.
"Kak, nggak mesti juga hal gituan kita tanya sama pak PR 3," bisiknya padaku.
"Nggak mungkin kan nanya spanduk juga kepada saya. Coba tanya sama Kasubag atau bang Toni," sara pak PR 2.
"Bang! Brapa ukuran spanduk dan berapa banyak yang harus kami tempah, Bang?" tanyaku pada bang Toni. Reza kembali menyikutku.
"Kak, bodoh kali kita kalau hal teknis gitu kita tanyakan juga. Kita tempah ajalah pandai-pandai kita, Kak," jelas Reza di luar ruangan.
"Loh! Kata Bang Dade kan gitu, Dek," jawabku polos.
"Jangan percaya gitu aja kak sama orang. Nampak kali kita bodohnya kalau tanya-tanyain itu ke rektorat," terang dek Reza lagi.
Hiksss, luar biasa banget dek Reza dan betapa tidak lihainya aku dalam menempatkan diri. hiksss. Walaupun dia lebih muda daripada aku, tapi aku merasa hrus belajar sesuatu darinya. Dia gesit, cerdas dan tegas. Lanjut ke teknik buat nemuin pak Syaiful. Eh, pak Syaifulnya nggak ada di tempat. Setelah Zuhur aku akan kembali lagi ke sini karena dek Reza masuk kuliah.
Mau lihat acara INTEREST-nya KOMAHI aja nggak sempat sama sekali. Selain karena bayar (cuma Rp 15.000 sih, tapi yang namanya aja nggak megang uang), juga karena nggak sempat. Hikss,, maafin kakak ya dek Emji cantik. Maafin Elis juga bang Wira, karena nggak bisa lihat abang di sana.
Perut terasa keroncongan banget menjelang jam 12.00wib, karena tadi pagi emang belum sarapan. Akhirnya, aku nekat minjam uang dek Reza Rp 20.000 (hikss, saking nggak ada duitnya. Ya Allah lapangkan rezeki hamba), trus makan deh di kantin Teknik. Ya Allah, selalu aja enak-enak makanannya. Kali ini aku ngambil lauk sambal ikan laut, 1 perkedel dan 1 tempe bacem. Nyam-nyam enak banget. Aku sendirian, bodo amat emang gue fikirin. Waktu pertama kali gue sampe sih banyak yang ngeliatin, itu mungkin karena penampilan gue yang ke-guru-an sekaligus hari ini gue emang waw. Yah yah, boleh jadi kan pemirsa? hihii. Pas bayar, untungnya cuma Rp 14.000, Rp 6000nya buat jaga-jaga. hehee
Tidak ada komentar:
Posting Komentar