Sabtu, 11 April 2015

Gerakan Indonesia Menulis

Ku lirik jam di sudut kanan layar laptop. 01.06wib.
Ah, syudah larut ternyata. Aku baru selesai mengkonsep naskah buku selanjutnya. Doakan segera kelar yah, pengemar setia. hehe.
Sudah beberapa kali aku mendengar beberapa orang dari mereka bertanya, "Kak? Buku kita gimana?" dan aku selalu menjawab, "Sabar ya, Dek! Kakak belum bisa fokus ke sana. hikss." Aku tahu mereka sangat berharap bisa menggenggam buku ini. Demikian pun aku. Maka, malam ini aku memula. Tadi sempat tertidur beberapa menit dan terjaga setelah Reni minta tolong bukain pintu. Waaah, makasih banget deh buat Dia karena kalau nggak, tentu aku udah tertidur sampai pagi. Akhir-akhir ini lelah memang selalu berkuasa di pelupuk mata. Berkat tidur yang sejenak tadi ditambah semangat menyelesaikan naskah, aku bertahan hingga detik ini. Waktu tidak pernah mau menunggu untuk kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Maka, aku nggak rela melewatkan waktu begitu saja jika tubuhku sedang mampu siaga.

Tadi sudah mantap dengan penerbit dan percetakannya dan insya Allah akan on process sama beliau. Sejauh ini, aku menyadari bahwa mencari penerbit yang menawarkan harga murah saja tidak cukup. Pada akhirnya, kita pasti akan berharap karya kita dibaca oleh banyak orang. Maka, PR selanjutnya adalah menemukan penerbit yang murah + mahir promo. Nah, baru deh KOMPLIT. Percuma kan punya buku kalau nggak ada yang baca? Kan niatnya ingin menginspirasi banyak orang, toh?
Kipas angin baru saja ku matikan. Dingin hembusannya membuat perutku berkerocok. Hah! Daripada kambuh lagi anemianya biarlah aku tidur dengan peluh kali ini. Suasana sudah hening, kecuali jangkrik yang sepanjang malam tidak pernah terlelap. Juga suara-suara nyamuk yang beterbangan tak tahu sopan santun. hissss aku bunuh ntar, loh! hiyaaakkk.

Tadi, dapat BC dari kak Vivin, bahwa besok ada sosialisasi pemilihan DUTA MAHASISWA GENRE. Wah, ini kan hot issue yang seminggu ini sedang gencar ku cari tahu. Ah, sungguh aku tertarik! Tapi, jadi agak bimbang karena seharian tadi udah bolos pelatihan sastra di Balai Bahasa Provinsi Riau, masa besok mau absent lagi? Bukan apa-apa sih, aku cuma khawatir kapan lagi kemahiranku terupgrade? Bukannya cita-citaku ingin jadi NOVELIS dan masuk LAYAR LEBAR? Ah, tapi yang ini juga penting. Lihat saja besok apa yang akan mantap ku ikuti. Aku serahkan jawabannya kepada Pemilik Jawab.

Hoaaaammmm... saatnya memenuhi hak tubuh. Bismika Allahumma ahya wa Ammut. See u..

***
Huaaahhh, kaaaaaaaan aku kesiangan.
Ini nih bahayanya kalau nggak ada Rincek.
Padahal alarm udah ku nyalakan dan lagunya pun menggelegar.
Tapi nyatanya aku nggak terbangun juga.
Setelah memulai hari dengan tunai kewajiban kepada-Nya, aku pula yang menunaikan kewajibanku pada diri. Ah, aku sudah hafal dengan kebiasanku. Aku segera merapikan kamar, karena kalau ku dahulukan menulis, maka aku pasti akan berat untuk beranjak dari posisi pewe. Biasalah, aku kalau udah nulis itu lupa lautan. Dan baru akan berhenti ketika melihat jam sudah pukul 08.00wib. Sejak pertama kali membuka mata tadi pagi, aku tiba-tiba mendapatkan ilham untuk menghadiri workshop sastra di Balai Bahasa. Tentang duta Genre? Insyaallah dek Nanda cukup membantu informasi nanti. Giliran aku yang akan akan mengejar-ngejarnya, tunggu saja dek haghaghag.

Selamat bersemangat pemirsaaa!
Saya berkemas dan bergegas dulu yak. ^_^

***
Wah, udah mulai yak?
Duh!!! Telat lagi saya pemirsaaahhh.hikss.
Segera ke lantai 2 dan mengisi absen, diberi seminar kit oleh panitia dan barulah saya memasuki ruangan luas yang peserta dan pengisinya melantai. Waah, istimewa.
Oh, ternyata si Ibu cantik di depan sana sedang menjelaskan tentang Pemilihan DUTA BAHASA tahun ini. yuhuuu, insya allah aku akan mengikutinya. Yang membuatku ber-aamiin ria adalah ketika si Ibu berkata tentang 2 tempat yang akan dihadiri oleh para pemenang, untuk even bahasa tahun ini adalah di Medan dan untuk even sastranya adalah di Jambi. Izinkan hamba menapak di sana ya Allah..aamiin, mataku berbinar dan hati bergemuruh doa. Tahun kemarin, di Kepri dan aku tidak ber-rezeki ke sana. Semoga tahun ini aku bisa lebih GEMILANG, lalu meng-gemilangi banyak orang lainnya.

"Ada juga perlombaan dendang Pantun. Dan, tahun kemarin pesertanya sangat sedikit. Ternyata, walaupun kita tinggal di bumi melayu dan orang Melayu, minat dan keterampilan terhadap pantun tidak serta merta tinggi."

Sinyal kreativitas dan naluri kepantunanku mulai mengetuk-ngetuk niat.
Bismillah, Duta Bahasa, Lomba Debat bahasa dan Dendang Pantun. Tahun ini harus lebih amazing! Aamiin. Harus ada mimpi dan target-target baru yang melahirkan banyak karya. Aamiin. Si Ibu memeohon diri setelah bang Marhalim Zaini datang (beliau adalah pemateri pertama hari ini). Medan sudah 3x nyaris ku kunjungi, hiksss mimpi udah kepalang tinggi tapi kenyataan tak setinggi mimpi. Semoga lewat even-even luar biasa --yang nggak boleh sampai terlewatkan ini, aku bisa menyentuh tanah seberang. Aamiin.

"Dek! Lebih luar biasa hari ini atau yang kemarin?"tanyaku kepada Ayu--Unand, di sebelahku.
"Lebih seru hari ini kok, Kak. Tenang aja, Kakak nggak rugi kok karena kemarin nggak datang," jelasnya sambil mengelus lututku. Ah, dia tahu saja tentang perasaan dan fikiranku. hihii
Workshop hari ini luar biasa banget. Aku banyak dapat ilmu baru, meskipun agak-agak 20 menitan aku berada di luar ruangan karena harus menelvon banyak orang untuk fixasi persiapan MAWAPRES Universitas 3 hari lagi. hiksss.

Hati-hati dengan tulisanmu. Jangan asal menulis saja. Bayangkan! 1 kata saja yang kita tulis dan 1x saja ditulis, akan dibaca berulang kali oleh orang lain. Makanya, ikhlaslah dalam menulis! Kalau nggak pun menang atau dimuat di media, kita tetap sabar. Dan, kalau beruntung, kita nggak sombong.

Aku mendengar kalimat itu disela-sela hilir-mudik suara-suara di telvon.
Ah, indah nian kalimat itu.  3 orang pembicara hari ini adalah : Marhalim Zaini, Gervin dan.... emm, siapa ya orang yang luar biasa tadi? Aku emang agak susah mengingat nama orang. Dimaklumi aja ya pemirsaa..hehe. Lewat bang marhalim, aku bersemangat membentuk komunitas. Udah ada banyak rancangan dan udah ku tuliskan langsung, tinggal eksekusinya!. Lewat bang Gervin, aku terinspirasi untuk terus menyisipkan pesan Ketuhanan di setiap karya, tapi tidak harus menggunakan simbol-simbol agar lebih menyatu dan bisa dibaca semua kalangan. Lalu, lewat abang yang terakhir ini aku terinspirasi untuk lebih giat lagi mengirim naskah ke media dan jangan serta merta mengutuk-ngutuk redaktur, karena tanggungjawab redaktur itu banyaaak banget dan pertimbangannya juga banyak.

Dapat nasi kotaaak...yeyee! Aku dan teman-teman yang baru ku kenal ini langsung cari posisi pewe untuk lunch bareng. Ah, aku senang berada di lingkungan baru seperti ini. Mereka tidak mengenaliku sama sekali, aku  juga belajar mengenali mereka. Bukan hanya masakan yang perlu dibumbui, hati juga perlu disuguhkan berbagai rasa agar ia lebih peka dan bisa meresapi banyak makna

Setelah lunch dan praying Zuhur, aku on going to dek Okta.
Belum aja aku habis melewati gerbang Balai Bahasa ini, pandanganku sudah menangkap sosok dek Okta yang sedang duduk berdua denga temannya yang ntah siapa. Aku melambaikan tangan antusias kepadanya tapi dia tidak melihatnya. *kacang gorennngg..hikss
"Kenapa, Dek? Kok kayaknya sedang bete gitu? Ke BEM yuk? Ada Romcek kan?"
"Nggak mau Okta, Kak. Di sini ajalah kita."jawabnya dengan wajah yang tak seceria biasanya.
Aku sibuk menelvon dan ditelvon oleh teman-teman panitia. Aku hubungi Yudi dan sempat kesal karena dia kurang peka terhadap hasil penilaian yang juga belum diumumkan. Aku meminta kontak staf yang mengurusi seleksi di FISIP kemarin. Dan, tahukah kalian siapakah pemenangnya? Dua orang yang luar biasa itu adalah dek Fitri dan dek Fauzi. Kalau Fauzi sih, aku nggak heran lagi. Kerjanya emang udah terbang ke berbagai negara. Nah, yang membuat aku berkesan itu adalah dengan dek Fitri. Obrolan singkat sore itu benar-benar tak sia-sia. Alhamdulillah, aku turut bangga dan bersyukur atas kabar baik ini. Meskipun, Yudi yang ku bimbing lebih lama tidak terpilih kali ini. Tapi, aku bangga karena dia telah berhasil berani dan turut ambil posisi dalam ajang bergengsi ini.

"Setidaknya Abang mencoba, Mak! Kalau besok ada yang tanya: pernah ikut MAWAPRES? Dengan bangga Abang akan jawab: PERNAH!" itulah niat luar biasanya. Mengejar kebijaksanaan di setiap pergulatan. Sihiiiyy, anak-anak Mak udah menuai hasilnya masing-masing ternyata. Alhamdulillah.

Giliran Okta pula kini yang menagih peduli,
"Kak, Okta pengen ceritaaaaa," rengeknya. Lalu mengalirlah cerita dari bibirnya dan aku menyimak dengan seksama.
"Kak, kadang Okta merasa dia sayaaaang banget sama Okta. Tapi, kadang Okta juga merasa dia sangat cuek, Kak. Okta  diri Okta disayangi, tapi tidak benar-benar disayangi. Okta cuma ter-sayangi. Kakak tahu kan makna ter? Ibarat kalau dalam susunan kalimat itu ada S-P-O-K, nah Okta cuma jadi pelengkapnya. Ngerti kan, Kak?" dan aku mengangguk takzim.

"Pernah Kak, Okta ada masalah dan 2 minggu nggak Okta sapa dia. Bukannya Okta benci dengannya, Okta emang gitu, orangnya Kak.  Okta cuma nggak bisa menceritakan apa yang Okta rasakan. Dan dia selalu nanya: Ta! Kau kenapa?, gitu Kak dengan lembut dielusnya kepada Okta. Hingga suatu hari, dia bilang gini, Ta! Jalan-jalan yuk! Kau butuh melihat dunia luar. Dan ternyata Okta dibawa ke kosan sahabat kami kak. Di sana, mereka udah berkumpul berdua menyambut kami. Okta nggak nyangka akan dibawa ke sini, Kak! Dia tiba-tiba bilang: Woy, aku akan cerita apa yang sebenarnya terjadi. Aku nggak tahu apa salahku woy, aku nggak tahu ntah kesalah apa yang udah ku perbuat sehingga 2 minggu ini aku dicuekkin Okta. Nah, hari ini aku mau dengar darinya langsung ada apa sebenarnya? Gitu Kak katanya. Dalam hati Okta: Kenapa nggak ditanyakan aja ini di kosan?"

Dahiku mengkerut. Tanganku memukul-mukul kursi dalam keadaan tergenggam. Mendengarkan cerita Okta, membuatku hanyut dan ikut merasakan hatinya. Sebab, sedikit-banyaknya aku melihat kisahku di dalam kisahnya.

"Terus Kak, dia bilang gini: Tapi woy, aku baru sadar bahwa 2 minggu ini aku udah belajar banyak. Kondisi Okta yang nggak jelas ini sangat menginspirasiku, gituuuu katanya, Kak. Bayangkanlah, Kak betapa terkejutnya Okta saat itu," ia berhenti sejenak dan berkata lagi, "Setiap kali aku pergi siaran dari jam 21.00wib-24.00wib, aku selalu bertanya di dalam hati: Okta itu kenapa ya? Dan dia selalu jadi bahan pembicaraanku di radio, woy. Gitu ha Kak, katanyaaa."

Aku menyaksikan semburat kemerahan di pelupuk matanya.
Tak sadar, aku pun ikut terharu.

"Di situlah Okta merasa: Ya Allah, betapa sayangnya sahabatku ini kepadaku. Saat itu, Okta merasa kami benar-benar lengkap. Kami ber-5 memang berbeda-beda sifatnya, Kak. Tapi persahabatan inilah yang menyatukan kami," jelas Okta dan seketika semburat merah tadi berganti sumringah.

"Dek! Ada lirik lagu Maidany yang cocok buat adek. Gini bunyinya," Aku mengucapkan kalimat dan Okta lincah mengetik di HP kecil mungil itu.

Janganlah selalu mengharapkan orang lain harus mengerti perasaanmu
Walaupun ia adalahsahabat karibmu sendiri
Karena perasaan adalah bahasa hati
Yang dapat berubah disetiap waktu
Mungkin kini, dia adalah orang yang bisa memahamimu
Mungkin esok, dia adalah orang yang paling tidak mengerti perasaan hatimu
janganlah memaksa karena saudaramu juga adalah seorang manusia biasa.

Melantunkan senandung itu membuatku mengingat kembali sosoknya.
Dia yang telah membuatku lebih baik.
Dia yang telah menghembuskan semangat.
Dan dia juga yang telah tega pergi serta merta dariku!

***
Ada Nilam malam ini di sini. Baru kujemput sore tadi. Aku faham, dia tidak sedang mengincar apa-apa di sini. Tapi, suasana baru dengan berada di sisiku mungkin membuatnya merasa lebih baik. Bosan boleh dimiliki oleh siapa saja, termasuk Nilam walaupun ia terlihat sangat menikmati prosesnya di pesantrennya. Aku menyimak lantunan ayat-ayat suci dari bibirnya Maghrib ini. Merdu, menyentuh dan hikmat. Ah, aku malu. Bahkan hafalanku saja tidak bertambah dari hari ke hari. hiksss, bantu hamba untuk adil terhadap persiapan bertemu-Mu ya Allah.

"El, mumpung sedang berdiri, sekalian donk kipas anginnya diarahin!" pinta Rini.
Setelah ku turuti inginnya, aku tersentak melihat nama di HP yang sedang bergetar ini.
"Cek? Bang Anu! Angkat nggak ya?" tanyaku sambil menyodorkan HP itu untuk dilihat oleh Rini.
"Angkatlah! Kenapa pula nggak diangkat?"
Dengan ragu, aku mengangkatnya. Suara di seberang sana berkata Hallo dan aku membalasnya Hallo. Setelah beberapa saat melakukan improvisasi dan penyesuaian kembali dengan suara ini, akhirnya aku bisa memposisikan diri.
"Jadi berapa lama lagi wisudanya, Elysa?" tanyanya kepadaku.
Ah, pertanyaan sejenis ini sesekali terserap menjadi makna berbeda. Aku menjawab ceria,
"Optimis, Oktober ini Bang! Berarti 4 bulan lagi lah kira-kira."
"Setelah ini mau lanjut kemana, Lis? S2? Berkarir? SM3T? Indonesia Mengajar? atauuuu,"
Dia menjeda beberapa saat kata-kata berikutnya. Atau apa, Bang? Atau apa? Atau apa? Aku jadi seolah-olah mengarahkan dugaku pada sebuah kata. Ah, tapi mungkinkah itu?
"Atau mau langsung jadi duta besar?" ucapnya akhirnya.
Ah, itu rupanya? Bukan yang seperti yang ku maksud. Tapi, baguslah! Setidaknya, dia tidak seperti kebanyakan cowok yang hanya senang melihat para cewek merona atau salang tingkah.

Suara itu terdengar lebih berat sekarang. Lebih banyak jedanya. Tidak seperti 2 tahun lalu yang cair dan asal bunyi. Tapi, suasana seperti ini justru membuatku kikuk. Banyak jeda yang ada di antara kata. Aku pun tak tahu kenapa aku juga ber-jeda sepertinya. Aku sudah mulai pandai mengimbanginya atau aku yang lupa kesadaran karenanya?

"Oke deh, Lis gitu aja ya. Semoga Elis sehat selalu, cepat wisuda, sukses selalu dan lancar segala aktivitasnya," aku menyela kalimatnya dengan aamiin berulang kali dan membalikkan doa itu untuknya.
Aku tahu obrolan ini akan segera diakhirinya. Aku menurut. Ah, kemanakah aku yang dulu begitu lincah menanyainya banyak hal? Demi sebuah AGAR. Agar ia bisa lebih lama berbicara denganku, agar aku bisa lebih lama mendengar, agar bisa lebih banyak menikmati nada santunnya. Ah, aku yang sekarang ternyata bukan lagi aku yang dulu. Tidak tahu persis apa alasannya. Hanya saja aku meyakini bahwa dia '0' besar terhadapku. Meski sebenarnya masih ingin berlama wicara, kali ini aku memilih untuk menuruti alurnya.

"Assalamualaikum.." tutupnya. Persis seperti yang ku duga.
"Waalaikumsalam.." aku pun menutupnya. Tidak ada yang perlu ku pura-purai lagi untuk menambah kuantitas bicara. Kali ini, aku ingin segalanya mengalir dan berjalan dengan alami. Tidak ada tambal sana pancing sini. Alami akan selalu lebih istimewa!
Ku alihkan perhatianku ke layar laptop. Sudah terbuka halaman facebook di layar laptop dan mulailah aku menghamburkan malam bersama dunia tak nyata.
Kak? Gimana novelnya? Segera dikomen yaaa
Lalu seseorang di seberang sana menjawab,
Mantap Lis idenya.. jalur cerita nya jga ok.. cma ada kurang2 dikit lah.. Sabar ya.. lg fokus baca n kasi komen ni.. kak usahain malam ni jga kelar ya.. hehe  kakak nanti pembeli pertama novek ell klo dah terbit..

Alhamdulillah, gumamku. Serasa dianugerahi Allah alasan untuk terus dan tetap menulis. Karena, pada akhirnya pembaca kita yang akan terus menagih tulisan-tulisan kita. Hingga jadilah kita terus menulis dan melupakan kejenuhan itu. Bismillah! Kirimkan aku pembaca setiaa lagi ya Allah, hihii.. aamiin. Kamukah selanjutnya? Kapan lagi bisa kenal dengan orang luar biasa yang baik hati dan rajin menabung ini? *hueeekksss

Tidak ada komentar: