"El! Kak Dila nanya lagi ni haa, kapan mau dilegalisir sertifikatnya?" tanya Rini sambil mematut Androidnya.
"Bilang: hari ini!. Berapa lembar sih legalisirnya?"
"15 lembar katanya."
Lalu aku kembali kepada kata-kataku yang hampir selesai ku rias. Sebenarnya sudah ingin beranjak, tapi ketika menyadari bahwa cerita Februariku belum terupdate, aku urung. Jadilah aku membulatkan tekad untuk menghabiskan hari di depan kalender dan laptop.
Pagi-pagi banget, sekitar jam 07.00wib Rini udah berangkat.
Jangan tanya, dia nggak nanggung sibuknya sekarang. Udah jadi sibkers semenjak terjun ke PPRU. Jangan peduliin kalau ada yang menduga dirimu stress menghadapi skripsi dan memilih PPRU sebagai pelarian, ya Rin? Keep going on aja. Wolesss meenn.
Jam 09.00wib, lapar perutku menjadi-jadi. Padahal aku niatnya brunch (breakfast dan lunch) aja sekalian tadi. Tapi, perih perut kali ini nggak sanggup ku tepikan.
Assalamualaikum Kak, pesan nasi bungku lauk Ikan Lele ya. Di pondokan Chi-chi, makasih kak...
Sarapan kali ini tertolong oleh uang Teguh kemarin. hiksss. Aku melahap sarapan kali ini yang luar biasanya terasa nikmatnya (karena kelaperan) sambil menuntaskan film scooby doo kemarin. Lalu, aku membereskan kamar, mandi dan mendirikan sholat Duha.
Duh! Yudi ngapain pula nelvon jam segini? Loh ternyata dia udah di depan kosan dan bersiap
merepotkanku untuk menemaninya menemui pak Iyal. Tapi, kali ini aku merasa kurang tepat jika menemaninya. Nanti terkesan bahwa aku adalah pelancar urusan Yudi untuk melobi pak Iyal. Aku ingin Yudi yang menemui pak Iyal secara langsung dan bilang aja bahwa dia uda dapat rekomendasi dari URC untuk pergi. Beres kan?
Yudi pergi dan aku kembali menarikan jari.
Aku betah banget nggak kemana-mana selama bersama tulisan. Aku kembali menge-check blogku dibulan Maret dan ternyata aku sudah sebulan tidak mengupdate aktivitas harianku di blog. hiksss, untung saja ada kalender yang ku beri kode-kode udah ngapain aja aku di tanggal-tanggal itu. Oh ya, yang paling nggak bisa ngapdet blog itu pas ada kak Dila di sini. Karena, dikit-dikit aku terlihat fokus dengan ketikanku, si kakak langsung nanya: "serius kali pun, dek" atau bahkan ngajakin aku ke luar dengan alasan, "mumpung Kakak sedang di sini." ya, ya, ya aku nggak bisa menolak juga. Biasanya setelah subuh sampai jam 08.00wib aku mengetik ria sampai puas, ini jam 07.00wib kak Dila udah ngerengek minta diantarin ke Mona. Mana mungkin ku tolak, karena dia sedang pelatihan di sana. hehhe. pisss kak!
Mengulang masa-masa aku ngurus kasus tertelannya uangku ke BNI membuatku sedikit teringat dengan perasaan marahku kepada si satpam. Inilah resiko kalau menuliskan ulang kejadian yang kita alami sendiri. Lalu, pukul 15.35 Lia datang membawa telur penyet kesukaanku. Aku segera menyantapnya dengan mengaum seperti kucing, kata Rini. Kayak ambulan, kalau kata Titin. hehe
"Cin, bang Zul ulang tahun loh, mu nggak ngucapin?" tanya Lia.
"Hari ini?"
"Iya! Kan tanggal 22 April nih."
"Ah, apa pentingnya ngucapin sama dia? Ulang tahunku aja dia nggak pernah ngucapin," sanggahku.
"Eh, tapi boleh juga deh ntar ku tuliskan di blog ucapannya dan aku tag di FB. Lumayan kan nambah-nambah jumlah pengunjung blogku," GUBRAKKK!
Melihat Lia yang sibuk memasang kembali jilbabnya dan buru-buru berkemas, aku bertanya:
"Mu mau kemana lagi rupanya, Cin?"
"Mau back to house lagi nih."
"Cepet amat? Tumben?"
"Iya. Biasanya kan hampir maghrib terus pulangnya, sekali-kali pulang cepat kan lebih baik."
Selalu ada kalimat luar biasa dari ucapan Lia. Hati berwarna apakah gerangan yag ia miliki itu? Merahkah? Birukah? Atau putih?
Pukul 17.00wib, aku bertemu dengan PENAPPUCINO rangers dan membahas projek kami. Aku jalan kaki (karena nanggung, udah sore baru ngeluarin motor dari kandang) lewat dari belakang MAPALA SULUH dan semak belukar serta aroma hutannya yang kentara. Lalu, melewati kantin FKP, kelas-kelas Fisika dan aku terhenti memperhatikan pepohonan yang terletak di depan ruang kelas Fisika, di samping kantin FKIP, ternyata telah ditebang total. Aku ingat ada pohon Beringin di depan sini, kini telah gundul habis. hiksss, meski pun beringin itu seram dan banyak juntaian-juntaiannya, menurutku dia nggak mengganggu kok. Aku sedih.
Rencananya mau menanyakan hal itu ke dek Novi, tapi hamba terlupa pula. Langsung fokus berbincang tentang PENAPPUCINO aja. Alhasil, diperolehlah kesepakatan bahwa jumlah pemesanan buku tergantung kepada permintaan masing-masing penulisnya dan keuntunganya otomatis menjadi miliknya. Lia, Eli, Joni, Anggi, Romi dan Eri masing-masing memesan 5 buah buku. Sedangkan aku dan Novi masing-masing 10 buku, totalnya adalah 50 buku. Uang muka seketika berada di depanku berkat repetan mulutnya si Romcek dan sisanya serahkan saja kepadaku pemirsa....
Malamnya, ketika mami menelvonku, ingin sekali ku katakan kepadanya begini: Mi, El mau nerbitin buku lagi. Kali ini bersama adek-adek di FKIP dan penerbitnya jauh lebih murah tarifnya dibanding yang kemarin. Kalimat itu telah bulat dan siap meluncur dari bibirku. Tapi, seketika ku tarik kembali niatku itu, lantaran aku khawatir mami akan teringat lagi dengan bukuku yang kemarin dan bertanya: Buku yang kemarin udah laku semua? Aku sama sekali nggak menyalahkan mami atau merasa kesal dengan pertanyaan itu. Wajar! Aku memang telah banyak merepotkannya dan membuatnya yakin memberikan uang begitu banyak lantaran aku sudah membuatnya yakin dengan optimisku. Sayang seribu kali sayang, keyakinanku itu ternyata tak 100% benar. Kemarin aku berfikir, dengan kami yang berjumlah 5 orang ini akan mudah menjual masing-masing 20 buku. Tapi, nyatanya apa? Tidak semuanya yang 'menjual'. Mungkin hanya Yudi yang paling dominan penjualannya. Apapun yang terjadi ini, aku juga nggak pantas menyesalinya. Minimal, Allah maha melihat niat baik dan perjuanganku untuk kebaikan orang lain. ^_^. aamiin
Aku juga udah selesai memberi hadiah kepada bang Zul: Tulisan singkat tentang kisah perjuangan MAWAPRES tahun 2012 lalu. Semoga dia suka. hehe
"Bilang: hari ini!. Berapa lembar sih legalisirnya?"
"15 lembar katanya."
Lalu aku kembali kepada kata-kataku yang hampir selesai ku rias. Sebenarnya sudah ingin beranjak, tapi ketika menyadari bahwa cerita Februariku belum terupdate, aku urung. Jadilah aku membulatkan tekad untuk menghabiskan hari di depan kalender dan laptop.
Pagi-pagi banget, sekitar jam 07.00wib Rini udah berangkat.
Jangan tanya, dia nggak nanggung sibuknya sekarang. Udah jadi sibkers semenjak terjun ke PPRU. Jangan peduliin kalau ada yang menduga dirimu stress menghadapi skripsi dan memilih PPRU sebagai pelarian, ya Rin? Keep going on aja. Wolesss meenn.
Jam 09.00wib, lapar perutku menjadi-jadi. Padahal aku niatnya brunch (breakfast dan lunch) aja sekalian tadi. Tapi, perih perut kali ini nggak sanggup ku tepikan.Assalamualaikum Kak, pesan nasi bungku lauk Ikan Lele ya. Di pondokan Chi-chi, makasih kak...
Sarapan kali ini tertolong oleh uang Teguh kemarin. hiksss. Aku melahap sarapan kali ini yang luar biasanya terasa nikmatnya (karena kelaperan) sambil menuntaskan film scooby doo kemarin. Lalu, aku membereskan kamar, mandi dan mendirikan sholat Duha.
Duh! Yudi ngapain pula nelvon jam segini? Loh ternyata dia udah di depan kosan dan bersiap
merepotkanku untuk menemaninya menemui pak Iyal. Tapi, kali ini aku merasa kurang tepat jika menemaninya. Nanti terkesan bahwa aku adalah pelancar urusan Yudi untuk melobi pak Iyal. Aku ingin Yudi yang menemui pak Iyal secara langsung dan bilang aja bahwa dia uda dapat rekomendasi dari URC untuk pergi. Beres kan?
Yudi pergi dan aku kembali menarikan jari.
Aku betah banget nggak kemana-mana selama bersama tulisan. Aku kembali menge-check blogku dibulan Maret dan ternyata aku sudah sebulan tidak mengupdate aktivitas harianku di blog. hiksss, untung saja ada kalender yang ku beri kode-kode udah ngapain aja aku di tanggal-tanggal itu. Oh ya, yang paling nggak bisa ngapdet blog itu pas ada kak Dila di sini. Karena, dikit-dikit aku terlihat fokus dengan ketikanku, si kakak langsung nanya: "serius kali pun, dek" atau bahkan ngajakin aku ke luar dengan alasan, "mumpung Kakak sedang di sini." ya, ya, ya aku nggak bisa menolak juga. Biasanya setelah subuh sampai jam 08.00wib aku mengetik ria sampai puas, ini jam 07.00wib kak Dila udah ngerengek minta diantarin ke Mona. Mana mungkin ku tolak, karena dia sedang pelatihan di sana. hehhe. pisss kak!
Mengulang masa-masa aku ngurus kasus tertelannya uangku ke BNI membuatku sedikit teringat dengan perasaan marahku kepada si satpam. Inilah resiko kalau menuliskan ulang kejadian yang kita alami sendiri. Lalu, pukul 15.35 Lia datang membawa telur penyet kesukaanku. Aku segera menyantapnya dengan mengaum seperti kucing, kata Rini. Kayak ambulan, kalau kata Titin. hehe
"Cin, bang Zul ulang tahun loh, mu nggak ngucapin?" tanya Lia.
"Hari ini?"
"Iya! Kan tanggal 22 April nih."
"Ah, apa pentingnya ngucapin sama dia? Ulang tahunku aja dia nggak pernah ngucapin," sanggahku.
"Eh, tapi boleh juga deh ntar ku tuliskan di blog ucapannya dan aku tag di FB. Lumayan kan nambah-nambah jumlah pengunjung blogku," GUBRAKKK!
Melihat Lia yang sibuk memasang kembali jilbabnya dan buru-buru berkemas, aku bertanya:
"Mu mau kemana lagi rupanya, Cin?"
"Mau back to house lagi nih."
"Cepet amat? Tumben?"
"Iya. Biasanya kan hampir maghrib terus pulangnya, sekali-kali pulang cepat kan lebih baik."
Selalu ada kalimat luar biasa dari ucapan Lia. Hati berwarna apakah gerangan yag ia miliki itu? Merahkah? Birukah? Atau putih?
Pukul 17.00wib, aku bertemu dengan PENAPPUCINO rangers dan membahas projek kami. Aku jalan kaki (karena nanggung, udah sore baru ngeluarin motor dari kandang) lewat dari belakang MAPALA SULUH dan semak belukar serta aroma hutannya yang kentara. Lalu, melewati kantin FKP, kelas-kelas Fisika dan aku terhenti memperhatikan pepohonan yang terletak di depan ruang kelas Fisika, di samping kantin FKIP, ternyata telah ditebang total. Aku ingat ada pohon Beringin di depan sini, kini telah gundul habis. hiksss, meski pun beringin itu seram dan banyak juntaian-juntaiannya, menurutku dia nggak mengganggu kok. Aku sedih.
Rencananya mau menanyakan hal itu ke dek Novi, tapi hamba terlupa pula. Langsung fokus berbincang tentang PENAPPUCINO aja. Alhasil, diperolehlah kesepakatan bahwa jumlah pemesanan buku tergantung kepada permintaan masing-masing penulisnya dan keuntunganya otomatis menjadi miliknya. Lia, Eli, Joni, Anggi, Romi dan Eri masing-masing memesan 5 buah buku. Sedangkan aku dan Novi masing-masing 10 buku, totalnya adalah 50 buku. Uang muka seketika berada di depanku berkat repetan mulutnya si Romcek dan sisanya serahkan saja kepadaku pemirsa....
Malamnya, ketika mami menelvonku, ingin sekali ku katakan kepadanya begini: Mi, El mau nerbitin buku lagi. Kali ini bersama adek-adek di FKIP dan penerbitnya jauh lebih murah tarifnya dibanding yang kemarin. Kalimat itu telah bulat dan siap meluncur dari bibirku. Tapi, seketika ku tarik kembali niatku itu, lantaran aku khawatir mami akan teringat lagi dengan bukuku yang kemarin dan bertanya: Buku yang kemarin udah laku semua? Aku sama sekali nggak menyalahkan mami atau merasa kesal dengan pertanyaan itu. Wajar! Aku memang telah banyak merepotkannya dan membuatnya yakin memberikan uang begitu banyak lantaran aku sudah membuatnya yakin dengan optimisku. Sayang seribu kali sayang, keyakinanku itu ternyata tak 100% benar. Kemarin aku berfikir, dengan kami yang berjumlah 5 orang ini akan mudah menjual masing-masing 20 buku. Tapi, nyatanya apa? Tidak semuanya yang 'menjual'. Mungkin hanya Yudi yang paling dominan penjualannya. Apapun yang terjadi ini, aku juga nggak pantas menyesalinya. Minimal, Allah maha melihat niat baik dan perjuanganku untuk kebaikan orang lain. ^_^. aamiin
Aku juga udah selesai memberi hadiah kepada bang Zul: Tulisan singkat tentang kisah perjuangan MAWAPRES tahun 2012 lalu. Semoga dia suka. hehe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar