Oke, ini udah jam 23.58wib.
Aku masih berkutat dengan social service hingga pukul segini.
Aku mau cerita tentang seleksi MAWAPRES yang kacau di FISIP.
Jadi gini, beberapa hari yang lalu: Rabu, 8 April 2015 pukul 13.30wib FISIP mengadakan seleksi MAWAPRES tingkat fakultas. Sejak jam 10.00wib, aku dan Teguh udah membersamai Yudi di perpus mempersiapkan segala sesuatunya. Meskipun kabarnya KTInya nggak diseleksi, tapi Yudi tetap berusaha mendekasi kesempurnaan. Dari sistem seleksinya aja udah melenceng jauh dari ketentuan mana pun. Isu yang merebak adalah akan digunakannya sistem FGD (Forum Group Discussion) untuk penyeleksian. Aku udah minta Yudi melobi panitia yang kali ini bukan dari mahasiswa. Tapi nihil. Azhari, sebagai sang Juara pun tidak bisa berperan serta. Ah, jam semakin mendekati deadline dan aku tahu Yudi nggak sempat makan siang.
Mak, buruan. Udah mau dimulai nih
Kata dek Teguh yang masih di samping Yudi.
Saat itu, aku di sisi Lia sedang membantunya pula mengoreksi KTInya untuk seleksi besok pagi. Benar-benar gagal melihat Yudi ternyata kali ini. Aku nggak bisa meninggalkan Lia dalam keadaan semrawut seperti ini. Tapi, leganya adalah ketika Yudi cerita bahwa sistem seleksinya nggak seperti yang diduga dan dia tahu sebelumnya. Dan, kalau pun aku ikut, aku nggak bisa melihat dia. Emangnya seperti apa seleksinya?
Jadi gini ternyata...
Satu per satu peserta di minta masuk ke dalam ruangan hanya ada dirinya dan 3 orang dewan juri. KTI memang nggak dinilai, tapi mereka diminta mempresentasikan gagasan untuk KTI mereka. *nah loh? piye iki? Ada yang fasih berbahasa inggris, ya monggo digunakan. Kalau nggak, ya kayak Yudi deh di mix and match dengan bahasa Indonesia. Mana pengujinya serem banget lagi.
"Ah, ntahlah Mak. Abang udah pasrah. Sama sekali nggak berani berharap lolos," aku nggak pernah lihat Yudi se-pesimis ini sebelumnya.
Ketika mendengar Teguh menang di FEKON, semakin besar pula harapanku agar dia pun lolos. Lia juga ku harapi demikian. Aku ingin mereka bersaing dalam atmosfir kekeluargaan di Universitas. *eyaaakk. Hari berganti hari, kadang aku nelvon Yudi kadang juga nelvon dek Fitri dan jawabannya tetap sama, "Belum juga diumumkan hasilnya."
Aku gusar. FKIP sudah memperoleh 2 kandidat dan sudah menyerahkan berkas pula ke Universitas. Sementara FISIP? Masih sama. Ah, aku juga nggak pernah menyaksikan FISIP yang demikian ini. Maka, hari Minggu kemarin, 11 April 2015, kembali ku teror Yudi untuk mencari tahu.
Kenapa Abang diam aja?
Lakukan sesuatu untuk mencari tahu Bang.
Kalau pun Abang nggak menang,
Setidaknya Abang udah memperjuangkan sesuatu untuk orang lain.
Kataku kepadanya lewat sms. Tidak ada jawaban dan dia membuatku semakin naik daun. *eh, naik darah maksudnya. Aku menelvonnya dan dia menyuguhnya nomor Bang Rendi, staf PD3 FISIP. Aku menghubunginya dan tak lama kemudian telvonku dijawab,
"... tapi nama-nama pemenangnya sudah ada ini, Bu," helooo gue yang imut ini dipanggil Ibuk? hah
"Boleh saya tahu siapa nama-namanya, Pak?"
"Yang pertama itu... emmm, Fitri Hardiyanti," Ah, bukan dirimu ternyata Bang. Semoga yang kedua.
"Okey, Pak. Yang kedua siapa?"
"Yang keduaaa, Miftahul Fauzi," GLEK! Bukan dirimu juga. Mungkinkah yang ketiga?
"Yang ketiganya siapa ya Pak kalau boleh saya tahu?"
Dan beliau menyebutkan nama seseorang yang tidak ku kenal sama sekali.
Huft! Ternyata abang memang nggak rezekinya menyusul dek Teguh. Ya syudahlah! Mak yakin, ada rencana yang lebih indah untukmu di depan sana.
Dan.........
Malam ini, aku baru berhasil mendapatkan nomor HP Fauzi. Tepak pukul 22.28wib, aku menghubunginya. Hanya lewat sms karena dia nggak punya nomor Telkomsel. *hikss, padahal paket nelvon meluber nih ciinn.. Dia luar biasaaa banget. Aku tahu dia. Tapi, apakah saat ini dia sedang menyiapkan KTInya? atau sama sekali nggak tahu bahwa dirinya sang juara itu?
Hah? Serius, Kak? Masya Allah. Fauzi nggak tahu kak. Ini KTInya juga baru BAB 1 Kak. misspreparation banget kalau gini. Fitri ajalah yang maju kalau gitu, Kak. Fauzi mundur dengan berat hati. Nggak mungkin nyelesaikan waktu dalam waktu 8 jam ini kak...
Demikianlah rangkuman balasan smsnya kepadaku.
Huft! Aku juga kalau berada di posisinya, mungkin akan melakukan hal yang sama.
Mengalami keadaan ini membuatku mengingat kisah 2 tahun lalu di FKIP. Persis! Tapi aku tidak tinggal diam saat itu. Ah, indah sekali ternyata untuk dikenang. Air mataku itu yang menjadi doa dan Allah yang telah menyulapnya menjadi banyak kisah luar biasa.
Aku bimbang. Tiba-tiba muncul sebuah misi di kepalaku. Ku hubungi dek Fitri yang ternyata persiapannya sudah 100%.
"...setuju, Kak. Daripada dari FISIP berkurang 1 orang kan? Setuju banget, Kak!"
Lalu, si pemeran utama di kepalaku ini segera ku hubungi. Tak peduli jam sudah memelotiku sinis; pukul 23.35wib.
"halloo? Apa, Mak?"
"heyy! Cari tempat yang nggak ributttttt. Dengarkan Makkkk!"
"Iya iya, ini lagi nonton bola soalnya," jawabnya polos. "Ini udah ke pinggir jalan aku."
Lalu aku menjelaskan misiku kepadanya. Dia pun menyimak di bawah tekananku. haha. *mak galak.
"Hahhaaahaa! Mana mungkin, Mak dibolehin kayak gitu!" sanggahnya.
"Heh! Sttttt! Dengarkan Mak dulu. Mak tabok ntar!" ancamku lagi dan dia terdiam.
"Oke deh! Kalau gitu, aku harus bergadang malam ini. Makasih Mak," tutupnya.
"Sisanya, biar Mak yang handle! Sipp?"
HUFT!!!
Rencana macam apa ini ya Allah?
Engkau mengabulkan pintaku, pintanya dan pinta mereka dengan cara yang penuh tanpa duga.
Jika memang rezeki, bagaimana pun rumitnya keadaan, pasti akan akan ada jalan untuk kembali.
Fabiayyi'alaa irobbikuma tukadzibaan. ^_^
Aku masih berkutat dengan social service hingga pukul segini.
Aku mau cerita tentang seleksi MAWAPRES yang kacau di FISIP.
Jadi gini, beberapa hari yang lalu: Rabu, 8 April 2015 pukul 13.30wib FISIP mengadakan seleksi MAWAPRES tingkat fakultas. Sejak jam 10.00wib, aku dan Teguh udah membersamai Yudi di perpus mempersiapkan segala sesuatunya. Meskipun kabarnya KTInya nggak diseleksi, tapi Yudi tetap berusaha mendekasi kesempurnaan. Dari sistem seleksinya aja udah melenceng jauh dari ketentuan mana pun. Isu yang merebak adalah akan digunakannya sistem FGD (Forum Group Discussion) untuk penyeleksian. Aku udah minta Yudi melobi panitia yang kali ini bukan dari mahasiswa. Tapi nihil. Azhari, sebagai sang Juara pun tidak bisa berperan serta. Ah, jam semakin mendekati deadline dan aku tahu Yudi nggak sempat makan siang.
Mak, buruan. Udah mau dimulai nih
Kata dek Teguh yang masih di samping Yudi.
Saat itu, aku di sisi Lia sedang membantunya pula mengoreksi KTInya untuk seleksi besok pagi. Benar-benar gagal melihat Yudi ternyata kali ini. Aku nggak bisa meninggalkan Lia dalam keadaan semrawut seperti ini. Tapi, leganya adalah ketika Yudi cerita bahwa sistem seleksinya nggak seperti yang diduga dan dia tahu sebelumnya. Dan, kalau pun aku ikut, aku nggak bisa melihat dia. Emangnya seperti apa seleksinya?
Jadi gini ternyata...
Satu per satu peserta di minta masuk ke dalam ruangan hanya ada dirinya dan 3 orang dewan juri. KTI memang nggak dinilai, tapi mereka diminta mempresentasikan gagasan untuk KTI mereka. *nah loh? piye iki? Ada yang fasih berbahasa inggris, ya monggo digunakan. Kalau nggak, ya kayak Yudi deh di mix and match dengan bahasa Indonesia. Mana pengujinya serem banget lagi.
"Ah, ntahlah Mak. Abang udah pasrah. Sama sekali nggak berani berharap lolos," aku nggak pernah lihat Yudi se-pesimis ini sebelumnya.
Ketika mendengar Teguh menang di FEKON, semakin besar pula harapanku agar dia pun lolos. Lia juga ku harapi demikian. Aku ingin mereka bersaing dalam atmosfir kekeluargaan di Universitas. *eyaaakk. Hari berganti hari, kadang aku nelvon Yudi kadang juga nelvon dek Fitri dan jawabannya tetap sama, "Belum juga diumumkan hasilnya."
Aku gusar. FKIP sudah memperoleh 2 kandidat dan sudah menyerahkan berkas pula ke Universitas. Sementara FISIP? Masih sama. Ah, aku juga nggak pernah menyaksikan FISIP yang demikian ini. Maka, hari Minggu kemarin, 11 April 2015, kembali ku teror Yudi untuk mencari tahu.
Kenapa Abang diam aja?
Lakukan sesuatu untuk mencari tahu Bang.
Kalau pun Abang nggak menang,
Setidaknya Abang udah memperjuangkan sesuatu untuk orang lain.
Kataku kepadanya lewat sms. Tidak ada jawaban dan dia membuatku semakin naik daun. *eh, naik darah maksudnya. Aku menelvonnya dan dia menyuguhnya nomor Bang Rendi, staf PD3 FISIP. Aku menghubunginya dan tak lama kemudian telvonku dijawab,
"... tapi nama-nama pemenangnya sudah ada ini, Bu," helooo gue yang imut ini dipanggil Ibuk? hah
"Boleh saya tahu siapa nama-namanya, Pak?"
"Yang pertama itu... emmm, Fitri Hardiyanti," Ah, bukan dirimu ternyata Bang. Semoga yang kedua.
"Okey, Pak. Yang kedua siapa?"
"Yang keduaaa, Miftahul Fauzi," GLEK! Bukan dirimu juga. Mungkinkah yang ketiga?
"Yang ketiganya siapa ya Pak kalau boleh saya tahu?"
Dan beliau menyebutkan nama seseorang yang tidak ku kenal sama sekali.
Huft! Ternyata abang memang nggak rezekinya menyusul dek Teguh. Ya syudahlah! Mak yakin, ada rencana yang lebih indah untukmu di depan sana.
Dan.........
Malam ini, aku baru berhasil mendapatkan nomor HP Fauzi. Tepak pukul 22.28wib, aku menghubunginya. Hanya lewat sms karena dia nggak punya nomor Telkomsel. *hikss, padahal paket nelvon meluber nih ciinn.. Dia luar biasaaa banget. Aku tahu dia. Tapi, apakah saat ini dia sedang menyiapkan KTInya? atau sama sekali nggak tahu bahwa dirinya sang juara itu?
Hah? Serius, Kak? Masya Allah. Fauzi nggak tahu kak. Ini KTInya juga baru BAB 1 Kak. misspreparation banget kalau gini. Fitri ajalah yang maju kalau gitu, Kak. Fauzi mundur dengan berat hati. Nggak mungkin nyelesaikan waktu dalam waktu 8 jam ini kak...
Demikianlah rangkuman balasan smsnya kepadaku.
Huft! Aku juga kalau berada di posisinya, mungkin akan melakukan hal yang sama.
Mengalami keadaan ini membuatku mengingat kisah 2 tahun lalu di FKIP. Persis! Tapi aku tidak tinggal diam saat itu. Ah, indah sekali ternyata untuk dikenang. Air mataku itu yang menjadi doa dan Allah yang telah menyulapnya menjadi banyak kisah luar biasa.
Aku bimbang. Tiba-tiba muncul sebuah misi di kepalaku. Ku hubungi dek Fitri yang ternyata persiapannya sudah 100%.
"...setuju, Kak. Daripada dari FISIP berkurang 1 orang kan? Setuju banget, Kak!"
Lalu, si pemeran utama di kepalaku ini segera ku hubungi. Tak peduli jam sudah memelotiku sinis; pukul 23.35wib.
"halloo? Apa, Mak?"
"heyy! Cari tempat yang nggak ributttttt. Dengarkan Makkkk!"
"Iya iya, ini lagi nonton bola soalnya," jawabnya polos. "Ini udah ke pinggir jalan aku."
Lalu aku menjelaskan misiku kepadanya. Dia pun menyimak di bawah tekananku. haha. *mak galak.
"Hahhaaahaa! Mana mungkin, Mak dibolehin kayak gitu!" sanggahnya.
"Heh! Sttttt! Dengarkan Mak dulu. Mak tabok ntar!" ancamku lagi dan dia terdiam.
"Oke deh! Kalau gitu, aku harus bergadang malam ini. Makasih Mak," tutupnya.
"Sisanya, biar Mak yang handle! Sipp?"
HUFT!!!
Rencana macam apa ini ya Allah?
Engkau mengabulkan pintaku, pintanya dan pinta mereka dengan cara yang penuh tanpa duga.
Jika memang rezeki, bagaimana pun rumitnya keadaan, pasti akan akan ada jalan untuk kembali.
Fabiayyi'alaa irobbikuma tukadzibaan. ^_^
Aku yang kembali menyaksikan pergantian hari : 00.35wib. Hujung kantuk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar