Jumat, 08 Mei 2015

Sedekah Membawa Ruah Berkah


Pagi ini (sudah seperti biasanya) aku ingin menulis. Postingan tentang cerita kemarin belum kelar karena aku lembur sampai jam 01.00wib dini hari untuk menyelesaikan hadiah ulang tahun untuk kak Jas. Ah, tapi ternyata paket modemku habis pula. Punya Rini pun habis. Kok berbarengan gini yak? Ini sudah semacam candu bagiku. Mulailah aku uring-uringan nggak jelas dan akhirnya mengalihkannya dengan membaca buku *widih, keren ya jenis stressnya? Hehe. Sejujurnya, aku sangat ingin tahu apa respon kak Jas atas ucapan yang ku posting di blogku semalam. Aku penasaran banget! Masih marah nggak jelaskah? Atau menyesali marahnya yang nggak jelas kepadaku? Atau no komen aja? Aku udah siap atas semua kemungkinan itu. Kalau memang begini akhir ceritanya, aku ikhlas. Toh, sejak awal aku pun nggak pernah berharap dihadiri seperti ini olehnya. Aku ikhlas ya Allah…

Suntuk baca buku, aku mulai mematching-matchingkan dressku dengan rompi, hhehe *ini salah satu hobi juga, sempet berniat bikin boutique muslimah kayak kak Oki ntar, aamiin ya Allah. Bosan dengan bebajuan, akhirnya aku luluran. Dan setelahnya, aku putuskan untuk ber-aerobic ria. Mungkin ini adalah aerobic pertamaku selama tahun 2015. Kebiasaan aerobicku setiap pagi –setelah  tertular dari Titin sejak KKN–  terampas oleh masa-masa PPL yang menyita waktu pagiku untuk persiapan mengajar. Saat itu, aku mulai menyadari bahwa aku ini berjiwa bebas. Menyiapkan bahan ajar ternyata membuatku bosan. Belum lagi ketika mendapati respon-reaksi dari murid-murid yang tidak sesuai prediksi. Orang pasti akan berkata: Namanya juga murid, ya memang begitu sifatnya. Sungguh perkataan itu berat sekali bagiku! Dari hal itu, aku menyimpulkan sesuatu lagi: Kayaknya menjadi guru di sekolah bukan passionku deh! Lebih asyik jadi dosen aja! heheh

“Rin, sarapan di mana kita?” tanyaku.
“Di tempat biasa ajah!”
“Aku udah kurusan belum, Rin?”
“Ya Allah, El. Baru sekali loh senamnya, paling baru beberapa gram aja ngurangnya. Itupun mungkin daki-daki El aja, hehe.”
Aku rindu banget dengan kurusku dulu. Emang terkesan kayak orang yang hidupnya menderita sih, tapi badan lebih ringan *meski pun leletnya nggak berubah. Tapi, setidaknya, baju-baju pada longgar dan jauh dari ancaman darah tinggi. Untungnya aku emang si darah rendah, sampai sekarang pun kalau ditensi masih sering rendah. Bener kata mami dan papi, kalau udah terlanjur gemuk yang dikhawatirkan bakal susah kembali kurus. Hiksss.
“El, pokoknya kali ini kita cuma boleh makan gorengan 2 aja ya. Aku 1 dan El 1.”
“Kenapa gitu, Rin?”
“Karena uangnya nggak cukup coy.”

Tapi, aku nggak bisa menahan godaan untuk itu. Ku periksa uang di dalam tas, semoga ada yang nyangkut. Dan, tercuatlah uang Rp 10.000 dari bagian belakang tas pink-ku. Ah, ini kan dari dek Joni kemarin supaya aku ngisi minyak. Akhirnya, pagi ini bisa makan 2 gorengan juga. Eh, 3 kok! Soalnya punya Rini juga ada yang ku rampok. Hehe. Tujuan berikutnya adalah nongkrong di pustaka UR untuk wifi-an gratis. Tapi, lagi-lagi aku nggak pernah berhasil wifi-an dengan lancar di sini. Jaringannya yang nggak bisa dikonekkan lah, lelet lah, minta password lah. Makanya, aku selalu nyisihin Rp 50.000 per bulannya untuk kebutuhan yang satu ini. *aku gitu orangnya, nggak bisa diPHP-in! (sama internet hehe). Biarlah aku nggak udah BBM-an, asalkan modem aktif dan aku bisa goggling, blogging, dan chating di FB atau twitter. Ini nggak bisa ditawar-tawar.

Menunggu wifi terkonek membuatku jadi nggak mood. Sementara adik-adik di sebelahku udah sejak tadi berinternet ria dengan lancarnya. Anehnya, laptopku dan laptopnya Rini nggak bisa.
“Rin, pergi yuk! Aku nggak semangat. Teguh pun mendadak dipanggil ke FEKON katanya. Aneh dia itu, katanya semalaam timnya nggak terpilih, ini katanya timnya mau final. Ntahlah!”
“Mau ke mana emangnya kita?”
“Pulang.”
“Ngapain? Nanti paling aku Cuma nonton aja, terus ketiduran. Mending antarin aku ke BEM aja.”
“Emang aku mau tidur aja. Ntahlah Rin, aku memang sering melemah kalau hari Jumat. Beda dengan hari Senin-Kamis. Badanku juga nggak fresh rasanya, mungkin karena udah lama nggak olahraga. Yuklah kita pulang aja! Nggak usah lagi ke BEM tuh!” bujukku.
“Suntuk, El di rumah. Mending kita ke FEKON EXPO aja yuk?”
“Sepi pun. Mau ngapain di sana!”
Aku putuskan untuk tidur di atas pangkuan tangan, di depan Rini, di atas meja kramik, di samping perpus ini. *banyak amat ‘di’nya sih! Hhehe. Untung meja ini hanya milikku dan Rini saja kali ini.
“Rin, udah berapa lama aku tertidur?” tanyaku dengan model terbangun yang selalu sama: terkejut.
“Baru 5 menit pun!” jawab Rincuy sambil tetap melototi laptopnya.
“Masa iya? Kayaknya udah lama deh!”

Mak, finalnya udah mau dimulai nih. Buruan ya. Tempatnya di ruang Yudicium FEKON.
Aku dan Rini segera bergerak ke FEKON. Sempet diusir sama panitia karena salah parkir, hiksss sedih kali nasib hamba. Sebenarnya, badanku masih enggan untuk dibawa beraktifitas, tapi karena yang memintaku datang bukan orang sembarangan, maka aku akan anteng mantengin finalnya sampai selesai.
“Rin! Masa iya sih aku tidur Cuma 5 menit aja tadi? Perasaan udah lama loh!” aku masih ngeyel dan melanjutkan obrolan tentang si 5 menit.
“Jadi menurut El berapa menit?” tanya Rincuy pula.
“10 menitlah kayaknya, ndak?”
“Ya udah 10 menitlah kalau gitu,” Rini pasrah. Ia menuruti mauku yang nggak masuk akal.
“Eh, tapi kayaknya lebih lama deh, Rin. 15 menit tuh aku yakin banget.”
“Ya udah, 15 menit aja kalau gitu.”

Aku terbahak-bahak. Ajang tanya-jawab kok malah berubah jadi tawar-menawar begini? hahaha. Ini aku yang gila atau Rini yang stress yak? *Kayaknya 2 2nya sama doank deh, cin! Hahaa. Sesampainya di ruang Yudicum, aku langsung dititipi iphone-nya Teguh untuk memoto-motonya. Sedikit keheranan dengan sistem perdebatannya kali ini. 3 tim didudukkan di mimbar, dihadapkan kepada 2 orang juri. Moderator memberikan kasus dan masing-masing pembicara 1 setiap kelompok menyampaikan argumennya. Dilanjutkan dengan pembicara 2 setiap kelompok untuk memperkuat pernyataan pembicara 1 dan boleh diinterupsi. Terakhir, masing-masing juri memberikan 1 buah pertanyaan untuk semua kelompok dan hanya boleh dijawab oleh pembicara 3 tanpa interupsi. Kesan debatnya nggak kerasa menurutku. Tapi, bolehlah! Ini cara baru!

Aku dan Rini segera beranjak tanpa berpamitan kepada Teguh. Iphone-nya ku titipkan kepada Darma. Di pintu masuk ke lapangan expo aku dan Rini bernarsis ria dengan memegang bacaan-bacaan alay yang membalut pipet. Barulah setelahnya kami mengisi buku tamu. Nah, ada hal aneh ketika aku sedang menuliskan namaku,
“Kak, siapa nama Kakak?” tanya seorang laki-laki di sampingku.
Aku menjawab, “Elysa Riska Armala, Dek!” tanpa menoleh ke arahn si adek *idih sok tua.
Dan, ketika aku berbalik,
“Kak, Kakak ada kehilangan memory card nggak?”
“Huaaahhh, adaaaaaa. Mana diaaa dek?!” tanyaku, histeris.
“Kan, bener!” kata temannya yang lain.
“Ada di rumah, Kak. Besoklah Adek bawakan ya, Kak,” jawabnya.
Aku segera meminta nomor HPnya. Ternyata, dia bisa tahu aku pemiliknya dari foto-foto narsis harian yang belum ku cut ke laptop. *maklum aja, saya sangat butuh hardisk pemirsa tapi belum ada hepeng. 

“Kami zoom-kan foto Kakak dan terbacalah nama lengkap Kakak di name tag yang Kakak pakai,” kata teman yang 1nya lagi. Mereka bertiga. Dan sepertinya bersahabat, makanya saling tahu tentang misteri penemuan memoriku itu. hihiii. Aku fikir, ada hikmah dan gunanya juga ya makai name tag kayak beberapa hari yang lalu itu. Selain lebih keren, lebih mudah dikenali juga lebih berwibawa. Mereka berpamitan, mungkin karena akan sholat Jumat. Aku dan Rini berjalan memasuki kawasan expo dan berfoto ria di gambar uang-uangan besar.
“El, kok cocok?!” kata Rini ketika aku menempelkan muka di lobang uang Rp 500. Pemirsa tahu kan itu gambar apa? Huahahhh..
Exponya masih sepi. Kami berkunjung ke stand Putri Hijab Indonesia. Aku mengajak Rini ke sini karena silau dengan selempang yang di gunakan kak Weri, Runner up 3 Putri Hijab tahun 2015. Beliau orang Tembilahan ternyata, tapi kuliahnya di UIN Syahid. Selain difotoin dengang Rini, aku juga minta selfian pake kamera kak Weri dan tukarang pin BB, hehe.
“Kak, apa sih motivasi Kakak untuk mengikuti ajang ini?” tanyaku.
“Kan badan Kakak lumayan tinggi nih, makanya Kakak fikir nggak ada salahnya nyoba, biar ketinggian Kakak lebih berguna. Hehe. Tapi, nggak mesti hijabnya digimana-gimanain kok, Dek, sederhana juga boleh. Kadang orang mikirnya harus glamor dan heboh gitu ya? Padahal nggak mesti. Justru mungkin kita memang cocoknya dengan penampilan yang sederhana dan bersahaya, ya nggak masalah waktu audisinya pakai pakaian yang kayak gitu. Karena memang nggak ada patokannya harus gayanya kayak gini kayak gitu. Ada beberapa aspek yang dinilai di sini, yang pertama publick speaking, intelegenci-nya dan keislaman…..”

Aku cukup tertarik. Tapi, tidak terlalu. Karena, meskipun aku sering kecentilan, tetap aja aku tidak ingin secara sengaja mengikuti ajang yang memang arahnya ke ‘sana’. Hemmm, sebenarnya mengikuti Duta Bahasa pun aku masih ragu. Tapi, bismillah aku akan mencobanya karena arah kerjanya adalah pada kebahasaan. *meskipun aku sering banget ngerusak bahasa sih sebenarnya. Tapi, setidaknya blogku ini adalah caraku mengkampanyekan cara berbahasa yang baik (yang benar, nantilah dulu ya). Karena berbahasa bagiku adalah keterampilan menyampaikan pesan kepada penerimanya (pendengar atau pembaca). Makanya, kalau ada yang sering mengalami kesalahfahaman orang lain terhadap ucapannya, artinya ia belum berhasil ‘nyambung’ dengan penerima pesan. Nah, kecerdasan berbahasa seperi inilah yang mesti diasah. Kita pasti sering mendengar perkelahian karena kesalahfahaman, tawuran karena hasutan, bahkan pembunuhan karena salah ucap. Ternyata, sebahaya itulah akibat kesalahan berbahasa. FATAL! Akhirnya, tujuan berbahasa sebagai alat pemersatu mengalami disorientasi. Sejauh ini, nggak ada yang yang marah sama aku gara-gara tulisanku di blog. Yang ketagihan dan suka sih banyak! hehe*kayaknya ini bisa dijadikan alat perayu dewan juri deh, wkwkwkwk.

“Rin, gawat!”
“Kenapa lagi nya!” tanya Rini dengan logat Batak. Lagi-lagi.
“Nama Adek tadi siapa ya? Aku lupa ntah nyimpan dengan nama apa tadi di kontak.”
“Hoawalah El. Astaghfirullahal’aziiim, kok bego ya?” sindir Rini ala Dzawin –SUCI 4.
“Duh! Mana HPku memang sedang eror pula. Banyak banget kontak yang ilang tak bernama nih.” Akhirnya, setelah dengan sabar mengecek satu per satu daftar kontak, aku menemukan Muslim sebagai nama asing di sana. Ah, jangan-jangan dialah orangnya! Tapi, ketika ku hubungi malah nggak aktif nomornya. Ah, jangan-jangan aku salah tulis nomor pula tadi!
“Cuy, aku tiba-tiba dapat inspirasi untuk nulis cerpen. Judulnya Misteri Hilangnya Memori Kamera, hehe. Ceritanya adalah tentang seorang cowok yang menemukan memori yang udah lama dicari-cari si cewek. Dan, dengan cara yang misterius akhirnya mereka bertemu. Nah, karena kecerobohan dan karena kebegoan si cewek yang lupa minta no.HP cowok tadi, akhirnya untuk waktu yang lama ia harus bersabar lagi. Setelah sekian lama, ternyata mereka ketemu lagi dan dikembalikanlah memori itu. Belakangan, cewek itu sadar bahwa si cowok adalah sosok penting di balik kesuksesannya. Nah, kesuksesannya itulah yang ntah apa dan harus dipermak dulu. Keren kan idenya? (padahal biasa aja, hehe).”
“Hemmm, buatlah buaaat! (Logat Batak lagi). Coba deh lihat di buku tamu tadi. Ada nggak yang namanya Muslim?”

Aku segera mengeceknya dan, “Nggak ada, Rin!” jawabku dengan lemah.
Rini kemudian mengajakku sholat Zuhur. Dia mulai khawatir bawelku kambuh kalau udah kebingungan begini. sebelumnya, kami mampir di warung di samping mushola FEKON untuk membeli Niu Green Tea. Betapa romantisnya kami, sebotol berdua. *bilang aja ngirit! Hikssss. Tadi pun, Rini tidur di pahaku dan aku bersandar di batang pohon pinang sambil membaca buku Notes from Qatar­-nya bang Assad. *kurang romantis apa coba? Kucing pun sampai nggak berani mengganggu kami, hihiii.
“Rin, kita nggak usah makan siang aja ya!” pintaku.
“Iya. Semoga nggak kelaparan ya kita.”
Usai sholat, fikiranku memang lebih segar. Setiap ketemu dengan temanku atau temannya Rini, aku selalu bertanya: “Kenal dengan Muslim?” padahal belum tentu bener juga adek itu namanya Muslim, hehe.
Mak, jangan pulang dulu ya. Jam 2 ini pengumumannya.Pinta Teguh.
Iya, Mak masih di expo kok ini! Jawabku.
Aku mendapatkan nomor HP Muslim dari dek Afif. Ternyata, kata Afif nomornya memang banyak *ini orang jualan kartu apa yak? Hehe. Awalnya, aku ragu. Karena, Afif nggak tahu dia angkatan berapa tapi ia mengaku mengenal namanya. Makanya, ia berusaha mencari tahu nomornya, demi aku. *aku terharu, pemirsaaa, hehe.
Waalaikumsalam. Iya, Kak ini Muslim. Kapan Muslim kembaliin memori Kakak?

“Dek Afifff.. Alhamdulillah dia orang yang Kak cari. Udah dibalas nih sms Kakak. Makasih ya, Dek,” kataku kepada Afif yang duduk tak jauh dariku. Ada Teguh di sampingku dan kami sama-sama menikmati 2 MC yang baru membuka bicara. Di sisi kananku, ada stand HMJ IE yang ramai banget pengunjungnya. Karena penasaran, aku mendekati mereka.
“Ayook Kak! Coba aja, nggak apa-apa kok!” seorang perempuan bertudung labuh memintaku mencoba ajang penghipnotisan. Perempuan yang baru berdiri dari kursi ‘panas’ itu terlihat berusaha melemaskan pergelangan tangannya. Kata si penyulap, dia telah berhasil terhipnotis dan itu bukti bahwa ia mudah berfokus. *berbahaya kan itu artinya, cin?
Karena mereka terus memintaku, aku menyanggupi. *aku kan baik hati dan nggak tega-an orangnya cuy. Ku panggil Rini supaya memfotoku selama aksi ini berlangsung. Sebenarnya, tadi sedikit takut. Tapi karena ini hanya percobaan dan tidak akan ditanyai apa pun, makanya aku jadi berani. Hehe. *soalnya, aku kan takut gembong mafiaku terbongkar cinn.

“Tolong dengarkan sugesti saya saja. Suara-suara lainnya hanya akan mengantarkan anda untuk tertidur lebih dalam, lebih dalam dan lebih dalam (gimana aku bisa tidur? Mataku aja terbuka gini. Piye iki toh?). Kerahkan semua emosi anda dan tumpukan di kepalan tangan anda ini. Bayangkan tangan anda adalah besi atau baja yang tidak bisa dipatahkan. Resapi itu lebih dalam dan lebih dalam lagi….bla bla bla.”
Aku menuruti instruksinya, tapi masih ada rasa khawatir di dalam hati dan pada akhirnya memang hipnotis itu nggak mempan sama sekali. Tanganku tetap lemas dan tidak mengeras.
“Adek kan bisa juga menghipnotis, Mak!”
Ah, kalau tahu Teguh bisa menghipnotis, besok-besok aku maulah dihipnotis olehnya. Hehe, kalau dengan orang yang dikenal sih aku nggak takut. Tapi tetep aja harus ada orang yang mendampingiku *siapa tahu anakku tiba-tiba berniat jadi Sangkuriang, hiiiii.  Tiba-tiba aku teringat ada janji untuk motoin dek Joni hari ini. Tapi, langit aja semendung ini! Ah, semoga dek Joni mengerti deh.

“Mak, gimana sih caranya mengingat semua poin-poin penting yang mau kita ceritakan di blog? Kadang, waktu mau nulis masih ingat. Tapi, pas sedang ditulis, eh malah lupa.”
“Dicatet, Dek kata kuncinya di Note HP,” jawabku singkat. Teguh mengangguk.
“Eh, ada lagi yang paling ampuh (teguh berekspresi penasaran). Melalui foto-foto, Dek. Makanya, banyak yang bilang Mak hantu foto. Emang iya, itu bener. Tujuannya ya untuk menangkan momen, Dek. Makanya Mak inget semua yang mau Mak ceritakan di Blog.”
Setelah sholat Ashar, aku bertemu dengan pangeran penemu memoriku di depan mushola FEKON. Aku sangat berterimakasih kepadanya. Untung saja yang menemukannya adalah orang baik seperti dirinya. Terimakasih ya Allah, sedekah itu semakin meyakinkanku akan dekatnya pertolongan-Mu. Bak mendapatkan sekarung emas, aku benar-benar bahagia menggenggam benda kecil yang sudah 4 hari ku cari-cari. Aku menciumnya, tanda rinduku.
Kak, jaga ya memorinya. Jangan sampai hilang lagi nanti.
Hehehe, Kakak akan menjaganya, Dek. Makasih ya adeeeekkkk ^_^ Kehilangan ini membuat kakak banyak belajar.

Aku bertemu Novi dan Yana di halaman expo. Mereka cantik. *tapi aku nggak kalah cantik donk! Hehe (kepedean). Sambil menanti pengumuman lomba pidato yang diikutinya, mulailah mengalir cerita dari bibir Novi. Tentang pemilihan Mahasiswa Teladan di FKIP yang kontroversional, perdebatan panjangnya dengan teman-teman panitia, permasalahan penamaan Duta Pendidikan atau Mahasiswa Teladan, hingga tentang kekhawatirannya terhadap hasil perlombaan pidato yang sedang dinantinya ini.
“Dek, Teguh! Gantian ya fotoin Novi ntar. Dia akan dipanggil ke depan juga,” kataku kepada Teguh yang sedang menggendong piala kemenangannya. Dia sempat berkata kepadaku sebelum menaiki panggung,
“Mak, ini piala pertama Adeeeekkkkk. Finally…”
“Adek mendapatkannya sekarang ^_^,” jawabku dengan tersenyum.
Juara 2 dan 3 lomba pidato sudah diumumkan dan nama Novi tidak tersebutkan.
“Kalau pun nggak menang, nggak apa-apa dek!” kataku sambil mengelus tangannya. Novi mengangguk. Tapi, cemasnya masih tergambar jelas.

Dan, MC memang benar-benar menyebut namanya. Aku spontas memeluknya erat. Dia memang luar biasa!
Teguh. Semalam, ia baru saja mengadukan kekecewaannya kepadaku terhadap keputusan dewan juri yang tidak berpihak kepada timnya. Dan, ntah bagaimana cerita ajaibnya hari ini ia justru yang menggenggam piala dengan penuh binary. Kamu memang luar biasa, Dek! Bermula dari rasa KECEWA, berakhir dengan sebuah kata: “Mak, benar kan apa yang Adek bilang di status semalam: kebenaran tidak akan pernah bersekutu!
Aku diajak adik-adik MAWAPRES untuk ikutan rapat. Ada Novi, Teguh, Afif, Ibna, Fauzan, Reza, Yana, Raja dan Ada Okta dan Joni tapi mereka sok cuek ketika dipanggil. Eh, pas rapat dimulai, dari banner tempat berfoto, mereka malah melengos pergi ke parkiran dan berlalu bersama motornya tanpa menoleh kea rah kami.

“Aku bener-bener nggak ngerti dengan mereka,” sebuah suara membuyarkan lamunan yang tadinya serentak tertuju kepada Okta dan Joni.
Jangan bertingkah! Ke sinilah.
5 menit kemudian, mereka muncul dan bergabung bersama kami. Duduk tepat di sampingku.
“Eh, siapa ini? Jangan dihiraukan ya!” kata Fauzan. Biasanya, Fauzanlah yang selalu dibully oleh mereka. haha.
Pembahasan mulai dari pengkonsepan baju dan DL pembayaran, pembuatan buku inspiratif ala MAWAPRES, seminar nasional, program pengabdian di setiap fakultas yang dinamai Sekolah MAWAPRES, merambah hingga pembahasan Putri Indonesia, idenya Okta.
“Ini saran ya. Seperti di dalam pemilihan Putri Indonesia, mereka punya slogan yang disebut: Brain, Beauty and Behaviour. Nah, MAWAPRES juga harus punya slogan yang menunjukkan MAWAPRES itu seperti ini loh. Eh, tapi nggak usahlah lagi! Enak kali kalian punya baju bagus. Eh, nyesal pula aku ngasih saran kayak gitu.”
“Abaikan Okta, ayo kita rumuskan slogan itu sekarang!” kataku yang sudah terlanjur terasuki saran ‘kompor gas’nya Okta.

Setelah melalui perdebatan dan pertikaian tentang kata-kata dan bahasa, akhirnya ideku diterima: Prestatif, Inspiratif dan Kontributif, telah resmi menjadi slogan MAWAPRES mulai detik ini hingga seterusnya (di UR).
PLAKKK!!!
Botol fress tea melayang ke pipiku. Siapa lagi kalau bukan Okta pelakunya? Ia sedang menggangu Novi padahal Reza sedang membacakan kesimpulan rapat. Ketika ia ingin membalas, nasibku yang tidak beruntung. Ku sapu perlahan (dengan dendam, ehhe) pipiku yang basah terkena cipratan embun dingin di botol itu. Okta merengek minta maaf karena memastikanku marah,
“Cek, ngambek ya? Maaf ya Cek!” (ni anak udah tahu salah, masih nggak slopan jugak).
“Lain kali lihat-lihatlah tempat dan waktu, Dek!” tegasku.
"Woy Novi! Gara-gara kaulah kak Elis marah sama aku!" dia mulai menyalahkan Novicek. Padahal itu murni kesalahannya, dasar Oktacek!
Pak WD III FEKON yang sedang berdiri di depan lokasi tujuan kami berfoto, segera kami tarik untuk bergabung bernarsis ria bersama kami. Ini memang hari yang indah. Aku pun turut mengindah dan keindahan ini sangat ku terimakasihi kepada Pemilik Keindahan.
"Alhamdulillah ya hari ini kita banyak dapat rezeki," kata Rini dalam perjalanan kami menuju parkiran motor. 
"Iyah, Cuy! Kita dapat Moca Shake dari Yayan, Fresh Tea dari Afif, Cracker Gandum dari Reza, bisa lihat Novi menang, Dek Teguh menang, udah nyoba dihipnotis juga walau pun gagal dan yang terpenting adalah kartu memoriku udah ketemu."
"Iya ya, Alhamdulillah. Coba tadi kalau kita pulang? Nggak ketemu kan El dengan rezeki itu hari ini!" sindir Rincuy.
"Makasih ya Cuy, karena udah berhasil melarangku pulang tadi. Kalau aku nggak nurut, tentu aja rezeki ini belum tentu aku dapatkan, hikssss."
“Kak! Okta boleh jujur?” tanya Okta dari seberang telpon.
“Yuhuuuuuuuuuu…” jawabku, nyeleneh.
“Okta udah baca yang kak suruh itu. Nah, sekarang Okta mau jujur sama Kakak dan tolong ya ini ditulis di blog; INSPIRASI.”
“Yuhuuuuuuuuu.”
“Kakak penulis, kan? Nah, dari tulisan-tulisan yang udah Okta baca selama ini, Okta akui Kakak udah bisa menyajikan pesan yang ingin Kakak sampaikan. Tapi Kak, tulisan Kakak sama sekali nggak MENJUAL. Kakak nggak bisa membaca pembaca untuk ikut merasakan posisi Kakak loh! Okta merasa, Kakak nggak punya power di sini. Tapi, kalau di dalam KTI, Kakak punya power itu. Kakak bisa membuat juri tertarik dari ide dan judul Kakak. Padahal Kak, Okta tahu jalan ceritanya bagus banget, tapi Kakak nggak berhasil menyentuh hati Okta. Nah, sekarang, Okta tanya sama Kakak, apa tujuan Kakak menulis?”

“Menginspirasi orang lain. Tapi Dek, di blog ini, Kakak memang nggak menujukan tulisan ini untuk terlalu nyastra. Kakak memang bertujuan untuk menceritakan secara gamblang, apa adanya dan pesannya langsung sampai kepada pembaca. Ibaratnya kalau menjemur baju, Kakak bentangkan baju itu dijemuran, itulah yang sedang Kakak lakukan dengan tulisan Kakak sekarang. Nah, kalau Kakak memang berniat mempermainkan perasaan pembaca, Kakak akan menjemur kain Kakak tadi dengan cara yang aneh, yang nggak biasa dilakukan orang sehingga orang akan bertanya; Nih Elis kok gini ya jemurnya? Maksudnya apa ya? Nah, menurut Kakak itu ada 1 hal yang sama tapi tujuannya berbeda. Seperti itulah yang terjadi di tulisan-tulisan Kakak. Ini memang diary online, Dek,” belaku. Okta tak ku izinkan menginterupsi kalimatku.

“Kak, sebenarnya bukan itu Kak poinnya. Bukan tentang cara menjemur kainnya harus gini atau gitu. Kakak hanya perlu mempoles cerita Kakak itu dan mengemasnya lebih menarik lagi. Konfliknya dimainkan lagi , beeehhh! Pasti bakal kece banget tuh! Kak, sempatkanlah dalam seminggu untuk mengedit semua tulisan-tulisan Kakak itu. Okta yakin, semuanya akan jadi lebih keren lagi. Kak, MENULISLAH SECARA SEMPURNA! Kalau Kakak berhasil memainkan perasaan pembaca dan akhirnya ia tersentuh dan terinspirasi oleh Kakak. Pasti Kakak akan semakin merasa senang dan puas Kak! eh, itu saran dari Okta aja loh! Nggak sopan pula Okta menasehati Kakak. Padahal siapalah Okta? Ehhe. Jangan marah ya, Kak.”
“Mana pula Kakak marah? Justru Kakak berterimakasihlah karena udah diingatkan oleh Okta.”

Aku tergugu. Ingatanku membeku pada kenangan sebuah sore. Di awali dari rasa nekat dan diakhiri dengan tekad. Sore itu, aku memutuskan untuk menguras tabunganku. Uang yang sebenarnya cukup untuk menafkahiku 3 minggu telah ku kuras. Tapi, bukan aku namanya kalau tak berani berbuat nekat! Dan bukan Okta namanya kalau dia tak pandai membungkamku. Mendengar kritikan Okta, membuatku membaca diri. Detik ini juga, aku memperotes diriku sendiri dan menagih tekad yang kataku akan mengunggulkan diri.
Tulisan Kakak nggak berhasil menyentuh hati Okta!
Kalimat itu terngiang lagi. Kamu sempurna dek! Sempurna membidik hati Kakak yang buta lagi tuli. Tak tahu arah ke mana pergi.  Detik ini juga, Kakak menggugat janji ! Persaksikanlah wahai diri !

Tidak ada komentar: