Pagi ini (sudah seperti biasanya) aku ingin menulis. Postingan tentang cerita kemarin belum kelar karena aku lembur sampai jam 01.00wib dini hari untuk menyelesaikan hadiah ulang tahun untuk kak Jas. Ah, tapi ternyata paket modemku habis pula. Punya Rini pun habis. Kok berbarengan gini yak? Ini sudah semacam candu bagiku. Mulailah aku uring-uringan nggak jelas dan akhirnya mengalihkannya dengan membaca buku *widih, keren ya jenis stressnya? Hehe. Sejujurnya, aku sangat ingin tahu apa respon kak Jas atas ucapan yang ku posting di blogku semalam. Aku penasaran banget! Masih marah nggak jelaskah? Atau menyesali marahnya yang nggak jelas kepadaku? Atau no komen aja? Aku udah siap atas semua kemungkinan itu. Kalau memang begini akhir ceritanya, aku ikhlas. Toh, sejak awal aku pun nggak pernah berharap dihadiri seperti ini olehnya. Aku ikhlas ya Allah…
Suntuk baca
buku, aku mulai mematching-matchingkan dressku dengan rompi, hhehe *ini salah
satu hobi juga, sempet berniat bikin boutique muslimah kayak kak Oki ntar,
aamiin ya Allah. Bosan dengan bebajuan, akhirnya aku luluran. Dan setelahnya, aku
putuskan untuk ber-aerobic ria. Mungkin ini adalah aerobic pertamaku selama
tahun 2015. Kebiasaan aerobicku setiap pagi –setelah tertular dari Titin sejak KKN– terampas oleh masa-masa PPL yang menyita waktu
pagiku untuk persiapan mengajar. Saat itu, aku mulai menyadari bahwa aku ini berjiwa bebas. Menyiapkan bahan ajar
ternyata membuatku bosan. Belum lagi
ketika mendapati respon-reaksi dari murid-murid yang tidak sesuai prediksi.
Orang pasti akan berkata: Namanya juga
murid, ya memang begitu sifatnya. Sungguh perkataan itu berat sekali
bagiku! Dari hal itu, aku menyimpulkan sesuatu lagi: Kayaknya menjadi guru di sekolah bukan passionku deh! Lebih asyik jadi
dosen aja! heheh
“Rin, sarapan
di mana kita?” tanyaku.
“Di tempat
biasa ajah!”
“Aku udah
kurusan belum, Rin?”
“Ya Allah,
El. Baru sekali loh senamnya, paling baru beberapa gram aja ngurangnya. Itupun
mungkin daki-daki El aja, hehe.”
Aku rindu banget
dengan kurusku dulu. Emang terkesan kayak orang yang hidupnya menderita sih,
tapi badan lebih ringan *meski pun leletnya nggak berubah. Tapi, setidaknya,
baju-baju pada longgar dan jauh dari ancaman darah tinggi. Untungnya aku emang
si darah rendah, sampai sekarang pun kalau ditensi masih sering rendah. Bener
kata mami dan papi, kalau udah terlanjur gemuk yang dikhawatirkan bakal susah
kembali kurus. Hiksss.
“El, pokoknya
kali ini kita cuma boleh makan gorengan 2 aja ya. Aku 1 dan El 1.”
“Kenapa gitu,
Rin?”
“Karena
uangnya nggak cukup coy.”
Tapi, aku
nggak bisa menahan godaan untuk itu. Ku periksa uang di dalam tas, semoga ada
yang nyangkut. Dan, tercuatlah uang Rp 10.000 dari bagian belakang tas pink-ku.
Ah, ini kan dari dek Joni kemarin supaya aku ngisi minyak. Akhirnya, pagi ini
bisa makan 2 gorengan juga. Eh, 3 kok! Soalnya punya Rini juga ada yang ku
rampok. Hehe. Tujuan berikutnya adalah nongkrong di pustaka UR untuk wifi-an
gratis. Tapi, lagi-lagi aku nggak pernah berhasil wifi-an dengan lancar di sini.
Jaringannya yang nggak bisa dikonekkan lah, lelet lah, minta password lah.
Makanya, aku selalu nyisihin Rp 50.000 per bulannya untuk kebutuhan yang satu
ini. *aku gitu orangnya, nggak bisa diPHP-in! (sama internet hehe). Biarlah aku
nggak udah BBM-an, asalkan modem aktif dan aku bisa goggling, blogging, dan
chating di FB atau twitter. Ini nggak bisa ditawar-tawar.
Menunggu wifi
terkonek membuatku jadi nggak mood. Sementara adik-adik di sebelahku udah sejak
tadi berinternet ria dengan lancarnya. Anehnya, laptopku dan laptopnya Rini
nggak bisa.
“Rin, pergi
yuk! Aku nggak semangat. Teguh pun mendadak dipanggil ke FEKON katanya. Aneh
dia itu, katanya semalaam timnya nggak terpilih, ini katanya timnya mau final.
Ntahlah!”
“Mau ke mana
emangnya kita?”
“Pulang.”
“Ngapain?
Nanti paling aku Cuma nonton aja, terus ketiduran. Mending antarin aku ke BEM
aja.”
“Emang aku
mau tidur aja. Ntahlah Rin, aku memang sering melemah kalau hari Jumat. Beda
dengan hari Senin-Kamis. Badanku juga nggak fresh rasanya, mungkin karena udah
lama nggak olahraga. Yuklah kita pulang aja! Nggak usah lagi ke BEM tuh!”
bujukku.
“Suntuk, El
di rumah. Mending kita ke FEKON EXPO aja yuk?”
“Sepi pun.
Mau ngapain di sana!”
Aku putuskan
untuk tidur di atas pangkuan tangan, di depan Rini, di atas meja kramik, di
samping perpus ini. *banyak amat ‘di’nya sih! Hhehe. Untung meja ini hanya
milikku dan Rini saja kali ini.
“Rin, udah
berapa lama aku tertidur?” tanyaku dengan model terbangun yang selalu sama:
terkejut.
“Baru 5 menit
pun!” jawab Rincuy sambil tetap melototi laptopnya.
“Masa iya?
Kayaknya udah lama deh!”
Mak, finalnya udah
mau dimulai nih. Buruan ya. Tempatnya di ruang Yudicium FEKON.
Aku dan Rini
segera bergerak ke FEKON. Sempet diusir sama panitia karena salah parkir,
hiksss sedih kali nasib hamba. Sebenarnya, badanku masih enggan untuk dibawa
beraktifitas, tapi karena yang memintaku datang bukan orang sembarangan, maka
aku akan anteng mantengin finalnya sampai selesai.
“Rin! Masa
iya sih aku tidur Cuma 5 menit aja tadi? Perasaan udah lama loh!” aku masih
ngeyel dan melanjutkan obrolan tentang si 5 menit.
“10 menitlah
kayaknya, ndak?”
“Ya udah 10
menitlah kalau gitu,” Rini pasrah. Ia menuruti mauku yang nggak masuk akal.
“Eh, tapi
kayaknya lebih lama deh, Rin. 15 menit tuh aku yakin banget.”
“Ya udah, 15
menit aja kalau gitu.”
Aku
terbahak-bahak. Ajang tanya-jawab kok malah berubah jadi tawar-menawar begini?
hahaha. Ini aku yang gila atau Rini yang stress yak? *Kayaknya 2 2nya sama
doank deh, cin! Hahaa. Sesampainya di ruang Yudicum, aku langsung dititipi
iphone-nya Teguh untuk memoto-motonya. Sedikit keheranan dengan sistem
perdebatannya kali ini. 3 tim didudukkan di mimbar, dihadapkan kepada 2 orang
juri. Moderator memberikan kasus dan masing-masing pembicara 1 setiap kelompok
menyampaikan argumennya. Dilanjutkan dengan pembicara 2 setiap kelompok untuk
memperkuat pernyataan pembicara 1 dan boleh diinterupsi. Terakhir,
masing-masing juri memberikan 1 buah pertanyaan untuk semua kelompok dan hanya
boleh dijawab oleh pembicara 3 tanpa interupsi. Kesan debatnya nggak kerasa
menurutku. Tapi, bolehlah! Ini cara baru!
Aku dan Rini
segera beranjak tanpa berpamitan kepada Teguh. Iphone-nya ku titipkan kepada
Darma. Di pintu masuk ke lapangan expo aku dan Rini bernarsis ria dengan
memegang bacaan-bacaan alay yang membalut pipet. Barulah setelahnya kami
mengisi buku tamu. Nah, ada hal aneh ketika aku sedang menuliskan namaku,
Aku menjawab,
“Elysa Riska Armala, Dek!” tanpa menoleh ke arahn si adek *idih sok tua.
Dan, ketika
aku berbalik,
“Kak, Kakak
ada kehilangan memory card nggak?”
“Huaaahhh,
adaaaaaa. Mana diaaa dek?!” tanyaku, histeris.
“Kan, bener!”
kata temannya yang lain.
“Ada di
rumah, Kak. Besoklah Adek bawakan ya, Kak,” jawabnya.
Aku segera
meminta nomor HPnya. Ternyata, dia bisa tahu aku pemiliknya dari foto-foto
narsis harian yang belum ku cut ke laptop. *maklum aja, saya sangat butuh
hardisk pemirsa tapi belum ada hepeng.
“Kami
zoom-kan foto Kakak dan terbacalah nama lengkap Kakak di name tag yang Kakak
pakai,” kata teman yang 1nya lagi. Mereka bertiga. Dan sepertinya bersahabat,
makanya saling tahu tentang misteri penemuan memoriku itu. hihiii. Aku fikir,
ada hikmah dan gunanya juga ya makai name tag kayak beberapa hari yang lalu
itu. Selain lebih keren, lebih mudah dikenali juga lebih berwibawa. Mereka
berpamitan, mungkin karena akan sholat Jumat. Aku dan Rini berjalan memasuki
kawasan expo dan berfoto ria di gambar uang-uangan besar.
“El, kok
cocok?!” kata Rini ketika aku menempelkan muka di lobang uang Rp 500. Pemirsa
tahu kan itu gambar apa? Huahahhh..
Exponya masih
sepi. Kami berkunjung ke stand Putri Hijab Indonesia. Aku mengajak Rini ke sini
karena silau dengan selempang yang di gunakan kak Weri, Runner up 3 Putri Hijab
tahun 2015. Beliau orang Tembilahan ternyata, tapi kuliahnya di UIN Syahid.
Selain difotoin dengang Rini, aku juga minta selfian pake kamera kak Weri dan
tukarang pin BB, hehe.
“Kak, apa sih
motivasi Kakak untuk mengikuti ajang ini?” tanyaku.
“Kan badan
Kakak lumayan tinggi nih, makanya Kakak fikir nggak ada salahnya nyoba, biar
ketinggian Kakak lebih berguna. Hehe. Tapi, nggak mesti hijabnya
digimana-gimanain kok, Dek, sederhana juga boleh. Kadang orang mikirnya harus
glamor dan heboh gitu ya? Padahal nggak mesti. Justru mungkin kita memang
cocoknya dengan penampilan yang sederhana dan bersahaya, ya nggak masalah waktu
audisinya pakai pakaian yang kayak gitu. Karena memang nggak ada patokannya
harus gayanya kayak gini kayak gitu. Ada beberapa aspek yang dinilai di sini,
yang pertama publick speaking, intelegenci-nya dan keislaman…..”
Aku cukup
tertarik. Tapi, tidak terlalu. Karena, meskipun aku sering kecentilan, tetap
aja aku tidak ingin secara sengaja mengikuti ajang yang memang arahnya ke ‘sana’.
Hemmm, sebenarnya mengikuti Duta Bahasa pun aku masih ragu. Tapi, bismillah aku
akan mencobanya karena arah kerjanya adalah pada kebahasaan. *meskipun aku
sering banget ngerusak bahasa sih sebenarnya. Tapi, setidaknya blogku ini
adalah caraku mengkampanyekan cara berbahasa yang baik (yang benar, nantilah
dulu ya). Karena berbahasa bagiku adalah keterampilan menyampaikan pesan kepada
penerimanya (pendengar atau pembaca). Makanya, kalau ada yang sering mengalami
kesalahfahaman orang lain terhadap ucapannya, artinya ia belum berhasil ‘nyambung’
dengan penerima pesan. Nah, kecerdasan berbahasa seperi inilah yang mesti
diasah. Kita pasti sering mendengar perkelahian karena kesalahfahaman, tawuran
karena hasutan, bahkan pembunuhan karena salah ucap. Ternyata, sebahaya itulah
akibat kesalahan berbahasa. FATAL! Akhirnya, tujuan berbahasa sebagai alat
pemersatu mengalami disorientasi. Sejauh ini, nggak ada yang yang marah sama
aku gara-gara tulisanku di blog. Yang ketagihan dan suka sih banyak! hehe*kayaknya
ini bisa dijadikan alat perayu dewan juri deh, wkwkwkwk.
“Rin, gawat!”
“Kenapa lagi
nya!” tanya Rini dengan logat Batak. Lagi-lagi.
“Nama Adek
tadi siapa ya? Aku lupa ntah nyimpan dengan nama apa tadi di kontak.”
“Hoawalah El.
Astaghfirullahal’aziiim, kok bego ya?” sindir Rini ala Dzawin –SUCI 4.
“Duh! Mana HPku
memang sedang eror pula. Banyak banget kontak yang ilang tak bernama nih.” Akhirnya,
setelah dengan sabar mengecek satu per satu daftar kontak, aku menemukan Muslim sebagai nama asing di sana. Ah,
jangan-jangan dialah orangnya! Tapi, ketika ku hubungi malah nggak aktif
nomornya. Ah, jangan-jangan aku salah tulis nomor pula tadi!
“Cuy, aku
tiba-tiba dapat inspirasi untuk nulis cerpen. Judulnya Misteri Hilangnya Memori Kamera, hehe. Ceritanya adalah tentang
seorang cowok yang menemukan memori yang udah lama dicari-cari si cewek. Dan,
dengan cara yang misterius akhirnya mereka bertemu. Nah, karena kecerobohan dan
karena kebegoan si cewek yang lupa minta no.HP cowok tadi, akhirnya untuk waktu
yang lama ia harus bersabar lagi. Setelah sekian lama, ternyata mereka ketemu
lagi dan dikembalikanlah memori itu. Belakangan, cewek itu sadar bahwa si cowok
adalah sosok penting di balik kesuksesannya. Nah, kesuksesannya itulah yang
ntah apa dan harus dipermak dulu. Keren kan idenya? (padahal biasa aja, hehe).”
“Hemmm,
buatlah buaaat! (Logat Batak lagi). Coba deh lihat di buku tamu tadi. Ada nggak
yang namanya Muslim?”
Aku segera
mengeceknya dan, “Nggak ada, Rin!” jawabku dengan lemah.
Rini kemudian
mengajakku sholat Zuhur. Dia mulai khawatir bawelku kambuh kalau udah
kebingungan begini. sebelumnya, kami mampir di warung di samping mushola FEKON
untuk membeli Niu Green Tea. Betapa romantisnya kami, sebotol berdua. *bilang
aja ngirit! Hikssss. Tadi pun, Rini tidur di pahaku dan aku bersandar di batang
pohon pinang sambil membaca buku Notes
from Qatar-nya bang Assad. *kurang romantis apa coba? Kucing pun sampai
nggak berani mengganggu kami, hihiii.
“Rin, kita
nggak usah makan siang aja ya!” pintaku.
“Iya. Semoga nggak
kelaparan ya kita.”
Usai sholat,
fikiranku memang lebih segar. Setiap ketemu dengan temanku atau temannya Rini,
aku selalu bertanya: “Kenal dengan Muslim?” padahal belum tentu bener juga adek
itu namanya Muslim, hehe.
Mak, jangan pulang
dulu ya. Jam 2 ini pengumumannya.Pinta
Teguh.
Iya, Mak masih di
expo kok ini! Jawabku.
Aku mendapatkan
nomor HP Muslim dari dek Afif. Ternyata, kata Afif nomornya memang banyak *ini
orang jualan kartu apa yak? Hehe. Awalnya, aku ragu. Karena, Afif nggak tahu
dia angkatan berapa tapi ia mengaku mengenal namanya. Makanya, ia berusaha
mencari tahu nomornya, demi aku. *aku terharu, pemirsaaa, hehe.
Waalaikumsalam. Iya,
Kak ini Muslim. Kapan Muslim kembaliin memori Kakak?
“Dek Afifff..
Alhamdulillah dia orang yang Kak cari. Udah dibalas nih sms Kakak. Makasih ya,
Dek,” kataku kepada Afif yang duduk tak jauh dariku. Ada Teguh di sampingku dan
kami sama-sama menikmati 2 MC yang baru membuka bicara. Di sisi kananku, ada
stand HMJ IE yang ramai banget pengunjungnya. Karena penasaran, aku mendekati
mereka.
“Ayook Kak!
Coba aja, nggak apa-apa kok!” seorang perempuan bertudung labuh memintaku
mencoba ajang penghipnotisan. Perempuan yang baru berdiri dari kursi ‘panas’
itu terlihat berusaha melemaskan pergelangan tangannya. Kata si penyulap, dia
telah berhasil terhipnotis dan itu bukti bahwa ia mudah berfokus. *berbahaya
kan itu artinya, cin?
Karena mereka
terus memintaku, aku menyanggupi. *aku kan baik hati dan nggak tega-an orangnya
cuy. Ku panggil Rini supaya memfotoku selama aksi ini berlangsung. Sebenarnya,
tadi sedikit takut. Tapi karena ini hanya percobaan dan tidak akan ditanyai apa
pun, makanya aku jadi berani. Hehe. *soalnya, aku kan takut gembong mafiaku
terbongkar cinn.
“Tolong
dengarkan sugesti saya saja. Suara-suara lainnya hanya akan mengantarkan anda
untuk tertidur lebih dalam, lebih dalam dan lebih dalam (gimana aku bisa tidur?
Mataku aja terbuka gini. Piye iki toh?). Kerahkan semua emosi anda dan tumpukan
di kepalan tangan anda ini. Bayangkan tangan anda adalah besi atau baja yang
tidak bisa dipatahkan. Resapi itu lebih dalam dan lebih dalam lagi….bla bla
bla.”
Aku menuruti
instruksinya, tapi masih ada rasa khawatir di dalam hati dan pada akhirnya
memang hipnotis itu nggak mempan sama sekali. Tanganku tetap lemas dan tidak
mengeras.
“Adek kan
bisa juga menghipnotis, Mak!”
Ah, kalau
tahu Teguh bisa menghipnotis, besok-besok aku maulah dihipnotis olehnya. Hehe,
kalau dengan orang yang dikenal sih aku nggak takut. Tapi tetep aja harus ada
orang yang mendampingiku *siapa tahu anakku tiba-tiba berniat jadi Sangkuriang,
hiiiii. Tiba-tiba aku teringat ada janji
untuk motoin dek Joni hari ini. Tapi, langit aja semendung ini! Ah, semoga dek
Joni mengerti deh.
“Mak, gimana
sih caranya mengingat semua poin-poin penting yang mau kita ceritakan di blog?
Kadang, waktu mau nulis masih ingat. Tapi, pas sedang ditulis, eh malah lupa.”
“Dicatet, Dek
kata kuncinya di Note HP,” jawabku singkat. Teguh mengangguk.
“Eh, ada lagi
yang paling ampuh (teguh berekspresi penasaran). Melalui foto-foto, Dek. Makanya,
banyak yang bilang Mak hantu foto. Emang iya, itu bener. Tujuannya ya untuk
menangkan momen, Dek. Makanya Mak inget semua yang mau Mak ceritakan di Blog.”
Setelah
sholat Ashar, aku bertemu dengan pangeran penemu memoriku di depan mushola
FEKON. Aku sangat berterimakasih kepadanya. Untung saja yang menemukannya
adalah orang baik seperti dirinya. Terimakasih ya Allah, sedekah itu semakin
meyakinkanku akan dekatnya pertolongan-Mu. Bak mendapatkan sekarung emas, aku
benar-benar bahagia menggenggam benda kecil yang sudah 4 hari ku cari-cari. Aku
menciumnya, tanda rinduku.
Kak, jaga ya
memorinya. Jangan sampai hilang lagi nanti.
Hehehe, Kakak akan
menjaganya, Dek. Makasih ya adeeeekkkk ^_^ Kehilangan ini membuat kakak banyak
belajar.
Aku bertemu
Novi dan Yana di halaman expo. Mereka cantik. *tapi aku nggak kalah cantik
donk! Hehe (kepedean). Sambil menanti pengumuman lomba pidato yang diikutinya,
mulailah mengalir cerita dari bibir Novi. Tentang pemilihan Mahasiswa Teladan di
FKIP yang kontroversional, perdebatan panjangnya dengan teman-teman panitia,
permasalahan penamaan Duta Pendidikan atau Mahasiswa Teladan, hingga tentang
kekhawatirannya terhadap hasil perlombaan pidato yang sedang dinantinya ini.
“Dek, Teguh!
Gantian ya fotoin Novi ntar. Dia akan dipanggil ke depan juga,” kataku kepada
Teguh yang sedang menggendong piala kemenangannya. Dia sempat berkata kepadaku
sebelum menaiki panggung,
“Mak, ini
piala pertama Adeeeekkkkk. Finally…”
“Adek
mendapatkannya sekarang ^_^,” jawabku dengan tersenyum.
Juara 2 dan 3
lomba pidato sudah diumumkan dan nama Novi tidak tersebutkan.
“Kalau pun
nggak menang, nggak apa-apa dek!” kataku sambil mengelus tangannya. Novi
mengangguk. Tapi, cemasnya masih tergambar jelas.
Dan, MC
memang benar-benar menyebut namanya. Aku spontas memeluknya erat. Dia memang
luar biasa!
Teguh. Semalam,
ia baru saja mengadukan kekecewaannya kepadaku terhadap keputusan dewan juri
yang tidak berpihak kepada timnya. Dan, ntah bagaimana cerita ajaibnya hari ini
ia justru yang menggenggam piala dengan penuh binary. Kamu memang luar biasa,
Dek! Bermula dari rasa KECEWA, berakhir dengan sebuah kata: “Mak, benar kan apa
yang Adek bilang di status semalam:
kebenaran tidak akan pernah bersekutu!”
Aku diajak
adik-adik MAWAPRES untuk ikutan rapat. Ada Novi, Teguh, Afif, Ibna, Fauzan,
Reza, Yana, Raja dan Ada Okta dan Joni tapi mereka sok cuek ketika dipanggil.
Eh, pas rapat dimulai, dari banner tempat berfoto, mereka malah melengos pergi
ke parkiran dan berlalu bersama motornya tanpa menoleh kea rah kami.
“Aku
bener-bener nggak ngerti dengan mereka,” sebuah suara membuyarkan lamunan yang tadinya
serentak tertuju kepada Okta dan Joni.
Jangan bertingkah!
Ke sinilah.
5 menit
kemudian, mereka muncul dan bergabung bersama kami. Duduk tepat di sampingku.
“Eh, siapa
ini? Jangan dihiraukan ya!” kata Fauzan. Biasanya, Fauzanlah yang selalu dibully
oleh mereka. haha.
Pembahasan mulai
dari pengkonsepan baju dan DL pembayaran, pembuatan buku inspiratif ala
MAWAPRES, seminar nasional, program pengabdian di setiap fakultas yang dinamai Sekolah MAWAPRES, merambah hingga
pembahasan Putri Indonesia, idenya Okta.
“Ini saran
ya. Seperti di dalam pemilihan Putri Indonesia, mereka punya slogan yang
disebut: Brain, Beauty and Behaviour. Nah, MAWAPRES juga harus punya slogan
yang menunjukkan MAWAPRES itu seperti ini loh. Eh, tapi nggak usahlah lagi!
Enak kali kalian punya baju bagus. Eh, nyesal pula aku ngasih saran kayak gitu.”
“Abaikan
Okta, ayo kita rumuskan slogan itu sekarang!” kataku yang sudah terlanjur
terasuki saran ‘kompor gas’nya Okta.
Setelah
melalui perdebatan dan pertikaian tentang kata-kata dan bahasa, akhirnya ideku
diterima: Prestatif, Inspiratif dan
Kontributif, telah resmi menjadi slogan MAWAPRES mulai detik ini hingga
seterusnya (di UR).
PLAKKK!!!
Botol fress
tea melayang ke pipiku. Siapa lagi kalau bukan Okta pelakunya? Ia sedang menggangu Novi
padahal Reza sedang membacakan kesimpulan rapat. Ketika ia ingin membalas,
nasibku yang tidak beruntung. Ku sapu perlahan (dengan dendam, ehhe) pipiku yang basah terkena cipratan embun
dingin di botol itu. Okta merengek minta maaf karena memastikanku marah,
“Cek, ngambek
ya? Maaf ya Cek!” (ni anak udah tahu salah, masih nggak slopan jugak).
“Lain kali
lihat-lihatlah tempat dan waktu, Dek!” tegasku.
"Woy Novi! Gara-gara kaulah kak Elis marah sama aku!" dia mulai menyalahkan Novicek. Padahal itu murni kesalahannya, dasar Oktacek!
"Woy Novi! Gara-gara kaulah kak Elis marah sama aku!" dia mulai menyalahkan Novicek. Padahal itu murni kesalahannya, dasar Oktacek!
Pak WD III
FEKON yang sedang berdiri di depan lokasi tujuan kami berfoto, segera kami
tarik untuk bergabung bernarsis ria bersama kami. Ini memang hari yang indah. Aku
pun turut mengindah dan keindahan ini sangat ku terimakasihi kepada Pemilik
Keindahan.
"Alhamdulillah ya hari ini kita banyak dapat rezeki," kata Rini dalam perjalanan kami menuju parkiran motor.
"Iyah, Cuy! Kita dapat Moca Shake dari Yayan, Fresh Tea dari Afif, Cracker Gandum dari Reza, bisa lihat Novi menang, Dek Teguh menang, udah nyoba dihipnotis juga walau pun gagal dan yang terpenting adalah kartu memoriku udah ketemu."
"Iya ya, Alhamdulillah. Coba tadi kalau kita pulang? Nggak ketemu kan El dengan rezeki itu hari ini!" sindir Rincuy.
"Makasih ya Cuy, karena udah berhasil melarangku pulang tadi. Kalau aku nggak nurut, tentu aja rezeki ini belum tentu aku dapatkan, hikssss."
"Alhamdulillah ya hari ini kita banyak dapat rezeki," kata Rini dalam perjalanan kami menuju parkiran motor.
"Iyah, Cuy! Kita dapat Moca Shake dari Yayan, Fresh Tea dari Afif, Cracker Gandum dari Reza, bisa lihat Novi menang, Dek Teguh menang, udah nyoba dihipnotis juga walau pun gagal dan yang terpenting adalah kartu memoriku udah ketemu."
"Iya ya, Alhamdulillah. Coba tadi kalau kita pulang? Nggak ketemu kan El dengan rezeki itu hari ini!" sindir Rincuy.
"Makasih ya Cuy, karena udah berhasil melarangku pulang tadi. Kalau aku nggak nurut, tentu aja rezeki ini belum tentu aku dapatkan, hikssss."
“Kak! Okta
boleh jujur?” tanya Okta dari seberang telpon.
“Yuhuuuuuuuuuu…”
jawabku, nyeleneh.
“Okta udah
baca yang kak suruh itu. Nah, sekarang Okta mau jujur sama Kakak dan tolong ya
ini ditulis di blog; INSPIRASI.”
“Yuhuuuuuuuuu.”
“Kakak
penulis, kan? Nah, dari tulisan-tulisan yang udah Okta baca selama ini, Okta
akui Kakak udah bisa menyajikan pesan yang ingin Kakak sampaikan. Tapi Kak, tulisan
Kakak sama sekali nggak MENJUAL. Kakak nggak bisa membaca pembaca untuk ikut
merasakan posisi Kakak loh! Okta merasa, Kakak nggak punya power di sini. Tapi,
kalau di dalam KTI, Kakak punya power itu. Kakak bisa membuat juri tertarik dari
ide dan judul Kakak. Padahal Kak, Okta tahu jalan ceritanya bagus banget, tapi
Kakak nggak berhasil menyentuh hati Okta. Nah, sekarang, Okta tanya sama Kakak,
apa tujuan Kakak menulis?”
“Menginspirasi
orang lain. Tapi Dek, di blog ini, Kakak memang nggak menujukan tulisan ini
untuk terlalu nyastra. Kakak memang
bertujuan untuk menceritakan secara gamblang, apa adanya dan pesannya langsung
sampai kepada pembaca. Ibaratnya kalau menjemur baju, Kakak bentangkan baju itu
dijemuran, itulah yang sedang Kakak lakukan dengan tulisan Kakak sekarang. Nah,
kalau Kakak memang berniat mempermainkan perasaan pembaca, Kakak akan menjemur
kain Kakak tadi dengan cara yang aneh, yang nggak biasa dilakukan orang
sehingga orang akan bertanya; Nih Elis kok gini ya jemurnya? Maksudnya apa ya?
Nah, menurut Kakak itu ada 1 hal yang sama tapi tujuannya berbeda. Seperti
itulah yang terjadi di tulisan-tulisan Kakak. Ini memang diary online, Dek,”
belaku. Okta tak ku izinkan menginterupsi kalimatku.
“Kak,
sebenarnya bukan itu Kak poinnya. Bukan tentang cara menjemur kainnya harus
gini atau gitu. Kakak hanya perlu mempoles cerita Kakak itu dan mengemasnya
lebih menarik lagi. Konfliknya dimainkan lagi , beeehhh! Pasti bakal kece
banget tuh! Kak, sempatkanlah dalam seminggu untuk mengedit semua
tulisan-tulisan Kakak itu. Okta yakin, semuanya akan jadi lebih keren lagi. Kak,
MENULISLAH SECARA SEMPURNA! Kalau Kakak berhasil memainkan perasaan pembaca dan
akhirnya ia tersentuh dan terinspirasi oleh Kakak. Pasti Kakak akan semakin
merasa senang dan puas Kak! eh, itu saran dari Okta aja loh! Nggak sopan pula
Okta menasehati Kakak. Padahal siapalah Okta? Ehhe. Jangan marah ya, Kak.”
“Mana pula
Kakak marah? Justru Kakak berterimakasihlah karena udah diingatkan oleh Okta.”
Aku tergugu. Ingatanku
membeku pada kenangan sebuah sore. Di awali dari rasa nekat dan diakhiri dengan
tekad. Sore itu, aku
memutuskan untuk menguras tabunganku. Uang yang sebenarnya cukup untuk
menafkahiku 3 minggu telah ku kuras. Tapi, bukan aku namanya kalau tak berani
berbuat nekat! Dan bukan Okta namanya kalau dia tak pandai membungkamku. Mendengar
kritikan Okta, membuatku membaca diri. Detik ini juga, aku memperotes diriku
sendiri dan menagih tekad yang kataku akan mengunggulkan diri.
Tulisan Kakak nggak berhasil menyentuh
hati Okta!
Kalimat itu
terngiang lagi. Kamu sempurna dek! Sempurna membidik hati Kakak yang buta
lagi tuli. Tak tahu arah ke mana pergi. Detik
ini juga, Kakak menggugat janji ! Persaksikanlah wahai diri !




Tidak ada komentar:
Posting Komentar