Senin, 18 Mei 2015

Teler Tapi Seneng, Siak Jadi Saksinya

Hari ini berbeda. Aku luar biasa. Mereka luar biasa. Perjalanan ini Luar biasa. Tidak terbayangkan sama sekali olehku, sore ini akan menjadi seindah tadi. Senja di pinggiran sungai Siak menjadi saksi persaudaraan yang hanya berisi ketenangan tanpa reriak. Memang, senja yang sempurna baru menyapa ketika kami telah dipenghujung pulang raga. Tapi setidaknya sore di pinggiran sungai Siak tadi telah menjadi pemisah paling romantis antara kami dengan hari. Senja pun ikut cemburu.

Semoga pisah tak sekedar berakhir sebagai pisah. Semoga jalan tak usai sebagai kenangan jalan. Semoga kita bisa membuat segala yang tadi menjadi jauh lebih bermakna dan penuh guna. Salah satunya dengan melebihkan diri untuk pertarungan yang telah terlanjur kita pilih ini.

***
Tadi pagi nyaris menjadi pagi yang menyebalkan. Bagaimana tidak, sudah jam 11.00wib tapi Okta
belum juga ada kabar. Jadi atau nggak sih? Sementara, Teguh dan Yudi udah ready sejak tadi. Yaumil yang sempat meragu pun jadi kembali berapi-api. Semalam, dia sempat melemah. Aku baru membaca pesannya tadi pagi,
Assalamualaikum Mamake, awak nggak jadi ikut KPN tahun ini mamake. Maaf ya mamake.
Aku mulai menerka-nerka alasan yang bersembunyi di balik hatinya. Tapi, daripada menduga-duga nggak jelas, maka pagi ini aku mempertanyakannya,
Kenapa Mil? Tanyaku singkat. 
Awak belum ada persiapan dan pengetahuan tentang seleksi ini pun masih minim. Daripada awak bikin malu nanti.
Jawaban itu membuatku geram sekaligus geli. Aku sampai bisa membayangkan cara bicaranya seandainya dia saat itu di depanku.
Howalaahh! Itulah gunanya Mamake ajak gabung bareng Teguh dan yang lainnya. Biar kita bisa siap-siap bareng. Piye toh!
Menurut Mamake awal gimana?, tanyanya kemudian.
Ikutlah yuk? Umil nggak mau nemenin mamake emangnya? Jam 11.00wib ini kami mau kunjungan ke gerai batik Riau dan rumah Tenun. Yuk kita pergi? Bawa selempang ya. *Jangan banyak tanya untuk apa.

Teguh dan Yudi udah ngacir duluan pula ke Gramedia. Ada yang mau dibeli kata Teguh. Lain kasusnya dengan kami yang udah ngumpul di BEM FKIP, tapi masih mencari solusi untuk Okta.
"Kakak ajalah yang pergi ya? Okta nggak usah ikut lagi. Paling-paling Okta nggak jadi ikut KPN aja."
Saran macam apa itu? Rini meminjaminya HP untuk menelvon Rahel yang katanya membawa kunci motornya Joni. Duh! Malah nggak aktif pula.
"Kita lihatlah sampai jam 1 ini, kalau nggak dapat juga motornya, berarti Okta nggak usah ikut ya, Kak."
Kami baru sadar ternyata udah hampir jam 12 aja nih.
"Jalan tersadis adalah, orang dua ini nggak udah ikut. (mataku mengkode Rini dan adiknya Yaumil, hehhe), itulah yang tersadis kalau memang nggak nemu solusinya. Soalnya Okta nggak mungkin nggak ikutan, kan dia juru kunci kita. Dan, yang mau ikut seleksi kan kita."
Rini menarik tanganku dan berkata, "Pulangkan saja aku, El. Pulangkan saja!" ndanya memang lembut, tapi penuh ancaman. hihiii.
Eh, Umil tiba-tiba dapat ide untuk nelvon adiknya yang lain dan ternyata dapat! *dia punya banyak adek di mana-mana ya nampaknya. Kakak yang penyayang banget emang. Waktu KKn juga dialah yang paling banyak dapat kado dan kenang-kenangan dari adek-adek sekampung. *Aku mah apa atuh? Denger anak-anak teriak-teriak aja rasanya udah mau ku telen aja. wkwkwk.

Kami melaju ketika suara azan Zuhur mendayu, merayu. Dan, kami berhenti di masjid cantik; Namira. Nah, inilah suara azan yang menyambutku dan Rini kemarin ketika baru sampai di SKA. Serasa kayak di manaaaa gitu. Keren binggo arsiteknya, halamannya luas dan di kiri-kanannya ada toko-toko pakaian dan makanan juga. Waktu berwudhu pun kami kembali dibuat terkesima dengan kebersihan dan desainnya yang simple tapi mewah. Mau ku foto, tapi teman-teman sedang wudhu, nggak mungkin kan? Eh, niat ke luar agak terakhir, tapi ada ibu-ibu pula yang masuk. Nyesss! Waktu masuk ke dalam mesjidnya apalagi. Aku ternganga dan minta difotoin berkali-kali oleh Rini.
"Eh, kita cepatlah beranjak lagi. Udah jam berapa ini tapi belum juga sampai tujuan," bujuk Rini ketika aku lelet. Eh, malah dia juga minta fotoin di depan masjid. cihuuuuyyy.

Nggak pake mampir-mampir lagi, kami langsung ke Galeri Batik Rani di jalan Jend. Sudirman, tepat banget berseberangan dengan Ramayana. Tapi, tunggu dulu, Yaumil dan Wanda mana? huaaah, kami lupa bahwa motor mereka lelet dan kami ngebut. Teguh dan Yudi pake ngajakin ngumpul dulu di puswil dan makan bareng di sana pula. Bukan apa-apa sih, aku cuma nggak mau ribet. Laper sih laper, tapi kalau aku harus muter lagi ke sana mah aku masih mikir juga. Mana cuaca terik banget lagi. Rela deh, ngegembel aja di teras Rani ini sambil selfian pake Andronya Rincuy.
"Kak, Okta boleh nggak pinjam uang sama Kakak?"
"Berapa?"
"*beep..  ada Kak?"
"Ada. Nih...."

Ya Allah, aku rindu suatu masa yang ketika itu, aku bisa meringankan kesusahan orang lain tanpa mengkhawatirkan diriku lagi karena aku sudah CUKUP. Sama halnya ketika banyak banget teman-teman yang minta buku Januariku digratisin buat mereka. Ada yang ngaku memang nggak punya duit padahal pengen baca. Ya Allah, aku rindu suatu masa yang ketika itu, mencari keuntungan bukan lagi tujuanku menerbitkan buku. Saat itu, aku hanya berfokus bagaimana caranya tulisanku bisa dibaca oleh banyak orang dan bermanfaat untuk membuat hidup menjadi lebih baik. Semoga ya Allah, semoga, semoga!

Setelah semuanya berkumpul, aku meminta Yaumil untuk iktuta make selempang sebelum memasuki ruangan.
"Malu kali awak (logat medan). Mesti ya Mamake kita pakai selempang?" tanya Umil.
"Hemm, Miil, mereka nggak mau kalau cuma nerima orang-orang biasa untuk sekedar tanya-tanya."
Hanya menjawab oooo panjang, Yaumil pun bergegas mengenakan selempangnya. Aku langsung menyalami kak (duh, siapa ya namanya? sebut aja Mawar) Mawar ketika Okta mulai memperkenalkan diri,
"Nah, mereka ini adalah Mahasiswa Berprestasi UR, Kak. Kami berencana untuk mengikuti seleksi Kapal Pemuda Nusantara tahun ini seperti Abang yang kemarin pakai selempang biru itu Kak." Setelah menjaul nama kami, Okta pun menjual nama bang Hendra. Kebetulan, ketika hari batik nasional beberapa bulan yang lalu (wah, aku nggak ingat pula tanggalnya nih pemirsaaa), kami berkunjung ke sini bersama para duta FKIP.

Si Kakak bener-bener baik dan menyambut hangat kedatangan kami. Mengalirlah berbagai macam penjelasan tentang motif-motif Batik khas Riau dan songketnya.
"Produksinya dari Jawa, Dek. Nggak dari Riau asli. Kita cuma punya desainnya aja."
"Oh, inilah salah satu penyebab kenapa Batik Riau ini mahal. Ongkos produksi dan transportasi sangat membebani," tanggapku.
"Untungnya kita cuma nanggung ongkos transportasinya aja, Mbak. Kebetulan Ibu pemiliknya orang Pekalongan, jadi di sanalah Batik ini diproduksi."
"Owaalaaahhh.gitu toh!" ujar kami bersamaan.

Aku pun udah menduga tentang hal ini jauh hari. Intinya, produktifitas yang rendah menghasilkan harga barang melambung dan tidak kompetitiv. Ya Allah, tiba-tiba pengen jadi pengusaha Batik aja nih. Pengen menelurkan motif-motif baru sekaligus meningkatkan penghasil dan pengrajin batik di Riau. Mungkin, ini cuma ada di Pekanbaru, di daerah justru batik-batik Cina yang mendominasi, contohnya aja di Bagansiapiapi. Baju tidurku rata-rata yang produksi mereka. Kayaknya sih bahannya pun import dari Jawa, tapi mereka yang menjahit dan akhirnya menentukan harga jual. Nggak tega banget jadi penonton di negeri sendiri! Tanah kita tanah bertuah, jangan diam dan rela kalah!

Rini pitam setelah ke luar dari Rani. Dia sedang berpuasa sunah Senin hari ini dan tadi waktu dia mau ikut, aku udah wanti-wanti aja kalau dia nggak kuat. Eh, taunya beneran. Ya udahlah, ku tawarin aja sekaligus air minum, ehhe. Sampai pucat gitu anak orang kan berabe. Perutku juga keroncongan banget. Nggak nyadar udah jam setengah 3 dan kami belom makan. Teguh dan Yudi mah enak udah makan di puswil tadi.
"El, aku numpang nyandar dibahu ya? Udah nggak bisa ngelihat apa-apa lagi mataku ini."
Aku mengangguk dan membiarkan kepala Rini beserta helmnya nangkring di bahuku sejenak, menuju RM. Aku mesen ikan Pepes dengan nasi tambah. Jadi, bisa makan berdua dengan Rini. Sementara Okta mesen ayam bakar.
"Kak Umil kok nggak nyampek-nyampek Kak? Kemana dia?" tanya Okta.
Aku mengisyaratkan bahwa aku sudah memberitahu Yaumil tempat ini. Maklum aja pemirsa, kalau aku sedang lapar emang nggak bisa diganggu. Tapi, baru sebentar berjeda, Okta nanyain hal yang sama lagi. Huaahh, sejak tadi selalu aja kehilangan jejak dan terpisah gini. 

Ternyata bukan hanya sampai di situ, setelah meninggalkan tempat makan yang persis di samping Ramayana ini, kejadian serupa terulang lagi.
"Ngapain kalian di Rani lagi? Mak kan tadi bilang di seberangnya, Dek. Bukan di depan Rani lagi. Gimana nya?!"
Yaumil menghampiriku yang sedang berhenti di pinggir jalan, di depan bank BNI dan tidak jauh lagi dari jembatang layang Siak.
"Mamake! Lihat itu! (sambil menunjuk ke belakangku). Ternyata ada Persatuan Nelayan Seluruh Indonesia (PNSN) ini. Ah! Bisa jadi referensi juga tuh! Kok Umil baru tahu ya?."
Setelah Yudi dan Teguh mendekat, giliran Okta yang menghilang. huaaahhh, ternyata dia udah ngacir duluan mangkal di persimpangan tepat di bawah jembatan layang yang belum juga selesai dibangung itu. Kami melaju ke sana.
"Rin, coba kalau aku nggak pergi dari rumah, udah berapa banyak cerita yang berhasil ku selesaikan ya?" tanyaku ke Rini.
"Hemmm, itu pula yang ditanyak-nyaa," jawabnya dengan malas. Logat Bataknya nggak usah ditanya lagi, sudah pasti mengikutinya.

Sempat nyasar dan ketemu tugu 0 km di dekat pelabuhan. Ah, setiap provinsi kayaknya punya tugu ini ya? Soalnya, Lia pernah bercerita di Aceh itu ada tugu 0 km di Sabang letaknya (kalau nggak salah ya). Berkat ketelitian yang kelewat batas, akhirnya kami melewati 2 jembatan lekton dan ternyata jalan yang kami cari berada di sebelah lekton yang pertama kali kami temui.. Grrrr !!!
"Hari ini Okta sudah berhasil mengerjai kita berkali-kali! hemmm.." Rini berbisik kepadaku.
"Yuhuuuu... Rin, fotoinlah momen-momen ini haaa," pintaku ketika kami memasuki areal kumuh di bawah jembatan. Bau oli dan drum-drum plastik menyambut kami tanpa wangi. Setelah berbelok ke kanan, kami menemui masjid dan segera sholat Ashar. Dimana pun toilet yang ku temui, aku pasti akan selalu jalan perlahan dan mengedap-endap. Walaupun kata Rini (dan ku akui) aku jorkii, tapi untuk urusan toilet nggak ada toleransi. Aku mending nggak usah buang air, daripada masuk ke dalam toilet yang iyuuuuhhh. huweeekkk.
"Jorkii nggak, Mil?" tanyaku kepada Umil yang baru ke luar.
"Nggak kok, Mamake. Aiii? Gitu kali nengoknya?"
"Hiii, gelap. Sereeeemm. Jangan-jangan banyak si han-han (baca: hantu)."
Aku bener-bener nggak jadi masuk ke dalam dan segera berwudhu saja. Masuk ke dalam tempat yang menurutku jorki akan mempengaruhi keyakinanku tentang si suci. Daripada cipratan si jorki bikin aku nggak suci, mending nggak usah deh. iyuuuh!

***
"Bu, di sungai Siak ini apa potensi alamnya?" tanya Okta kepada ibu penenun.
"Hemm, apa ya? Orang sini pun bukan nelayan pekerjaan utamanya. Ikan pun tak ada lagi di sini. Paling-paling kalau ada yang mau memancing satu-satu barulah pergi ke sungai. Kapal besar tu pun untuk ngangkut barang-barang menyebrang aja."
"Airnya memang keruh begini atau dulunya bening, Bu?"
"Memang kayak gitulah sejak dulu."
"Apa nama alat penenun ini, Bu?" tanyaku.
Si ibu nanya ke ibu-ibu yang lain untuk menjawab pertanyaanku, "ATBM namanya."
"Hah? Apa kepanjanganya itu Bu?"
"Alat Tenun Bukan Mesin artinya. Kan memang ini bukan mesin, masih manual ya," jelas ibu.
Yudi main borong aja tuh! Kain serupa ulos bertuliskan Pekanbaru telah masuk ke dalam tasnya. Jauh banget dah harganya kalau dibandingin dengan Rani tadi. Selendang songket yang dibeli Yudi itu hanya Rp 50.000 saja. Aku pengen banget beli sih, tapi aku kurang suka warnanya. Ah, lagian aku juga punya tuh selendang dari Palembang dan belum pernah ku pakai. Tahan dulu kali ya niat belanjanya.
Kami sangat puas bertanya-tanya dan melihat rumah panggung yang memang digunakan untuk menenun ini. Unik dan sangat tradisional.
"Bu, butuh berapa lama untuk menyelesaikan songket ini?"
"I minggu bisalah selesai 1."
"Cuma 1 Bu?"
"Iya, 1 itu panjangnya 2 meter."
Ooooo...gitu. Memang, ini bukan pekerjaan mudah. Kami diajari juga sepintas tentang cara menenun. Bener-bener butuh kesabaran. Apalagi ketika mendengar bahwa sekitar 3000 helai benang haru dimasukkan ke dalam lubang-lubang berjejer, persis jarum terbalik. Widih! Kayaknya kalau mau jadi istri yang penyayang dan sabar, harus dites dulu deh ketekunan dan kesabarannya dalam menenun. hehe. Nggak ketinggalan juga kami bernarsis ria dengan songket-songket ini. Untungnya nggak dimarah loh pemirsaaa, kami justru di ramahinn.
"Assalamualaikum buu... kami pamit ya, Bu. Terimkasih banyaaak."
Kami berpamitan sambil memboyong kartu nama usaha yang dibina oleh PNPM itu. *aku juga kurang tahu apa kepanjangannya, eheh. Tapi, tadi aku fotoin kok biar nggak malu-maluin ntar kalau ditanya.
"Ibuuuu..." teriakku dari bawah dan sang ibu melongokkan kepalanya ke luar jendela.
"Rumah ini namanya rumah apa, Bu?" teriakku lagi setelah kebingungan nyari tahu plank nama yang nggak ketemu.
"Rumah Tenun Nak. Udah tahu aja semua orang tuh ini dia rumahnya."

Kami memarkirkan motor di pinggir jalan di depan Rumah Singgah Tuan Kandi. Kata si Okta sih ini nama si raja Siak. Tapi, tadi waktu ku pastikan hal itu kepada ibu penenun, eh beliau juga ragu. Tapi, ragu tak membuat kami jadi ragu pula untuk berfoto ria tanpa malu. hihii. Langkah pun beringsut ke pinggirasn sungai Siak yang serupa taman ini. Aku merasakan suasana di pinggiran sungai Rokan di Bagansiapiapi. Persis seperti ini nuansanya, tapi tak seluas ini sungainya.

Kebersamaan ternyata bisa menulari rasa lapar juga ya? Ketika Okta dan Yudi datang dengan 2 piring sate dan 2 es segar, kami nggak bisa tinggal diam. Terjadilah tragedi rebutan tusuk sate yang menjijaykan itu.
"Adek,,,? Nggak dalam tuh airnya?" tanya Okta kepada 2 orang anak laki-laki yang sedang menenteng karet ban mobil.
"Dalam Bang. Kasih aku Rp 10.000 biar aku lompat dari atas jembatan ini."
"Eh, nggak usah! Kami cuma mau tanya aja loh, Dek." Kata Yaumil
"Matilah anak orang wooy," kata Okta.
Bukan main pmeberaninya tuh bocah, dia naik ke jembatan yang busyet banget tingginya ini dengan cara merayapi balokan besi yang kemiringannya 50 derajat.
"Jangan Dekkk... nggak usah lagii," teriak Umil.
"Dia nyari uang tuh makanya nawarin kayak tadi tuh ke kita," kata dek Wanda.
Kami melahap sate seperti sambil nonton bioskop film Divergen aja. Ya Allah, kami berteriak kencang ketika melihat tuh bocak udah siap-siap aja mau terjun ke bawah. Dan, untunglah dia selamat. huft! Okta memberinya uang Rp 5000 (uang Umil sebenarnya, ehe) ketika dia menawarkan diri untuk nyebur lagi dengan harga Rp 10.000.
"Udah cukup, Dek. Nggak usah Dek. Nggak perlu lagi yaaa. Ini rezeki kamu sayang, terima yaa," kata Okta sambil menyerahkan uang tadi.

***
Maafkan ananda kak Elysa Rizka Armala dan Kanda Hendra Dermawan. Nanda menyeraaaaaah, tidak sanggup rasanya. Diburu waktu dan ide yang masih buntu...
Ada kak Vivien juga yang ikut komentar di sana. Lia juga ada. Aku hanya nimbrung; Jangan OL teruss woy! Cari ideee segeraaa...
Jujur, sebenarnya aku pun bingung, bahkan sampai detik ini, pukul 23.39wib, aku belum juga dapat ide. Aku mengadukan hal ini kepada bang Hendra.
Bang, elis masih ragu tentang terasi. Ada pendatang baru bang, namanya Yaumil yang merupakan sahabat Elis dari SMA 1 Bangko dan tahun ini dialah MAWAPRES 3 UR. Dia pun mengangkat tentang terasi karena memang itu KTInya untuk MAWAPRES kemarin bang. Rasanya Elis nggak mau jadi pesaingnya dan pembanding juri dalam menulai 2 tulisan kami ini. Elis yang ngajak dia, Elis pula yang menyaingi dia.

Tapi, bang Hendra hanya menjawab sederhana dan singkat,

Apapun yang Elis tulis, abang selalu support. Semangat adinda!
Setidaknya, aku sedikit lega karena sudah jujur kepadanya. Oh ya, besok kan aku bakal ketemu juga dengan bang Hendra untuk gladi resik dalam acara (aduh, lupa namanya) di SMP IT Madani School, tempatnya mengajar. Nah, ini kejadiannya serba cepat dan kilat. Tadi pagi, sewaktu menunggu Okta dapet pinjeman motor, aku ditelvon bang hendra,
"Oh, ini Bang Hendra yaa.. ada apa Bang?"
"Elis bisa ngeMC hari Rabu ini?"
"Di mana Bang?" tanyaku. Okta yang duduk tepat di depanku manggut-manggut kenceng banget. Mengisyaratkanku untuk wajib menerima permintaan bang Hendra tanpa tapi.
"Di SMP IT Madani, Elysaaa. Bisa kan?" Okta semakin kuat anggukannya seolah sudah tahu apa yang bang Hendra minta dariku.
"Insya Allah bisa Bang."
"Makasih ya, Dek!" telvon ditutup seketika.
Aku nggak ngerti. Dan, mulailah Okta menjelaskan bahwa dirinya dan cs, semuanya terlibat di acara Parade Seni makanya dia menyarankan bang Hendra untuk menghubungiku. Jujur, aku belum pernah kefikiran bakal ngeMC di luar. Di kampus pun biasanya sebagai MC formal aja.
"Dek, Kakak nggak pinter loh ngeMC non formaaaal," aku memelas.
"Okta ajarin!" kata Okta dengan santainya. Dan, ntah Okta yang sedang penuh hipnotis atau apa, aku pun nurut aja tanpa ada perlawanan kata. Yah, semoga ini baik dan menjadi langkahku untuk mengepakkan sayap lebih lebar. aamiin.

Tidak ada komentar: