Sabtu, 06 Juni 2015

Dikenal Orang Dulu, Baru Diminta Naik Panggung

Kerupuk kentang dan keripik ubi pedas plus saus pemberian kak Dila kemarin sangat bermanfaat pagi ini. Setidaknya ada yang bisa kami kunyah sambil menunggu nasi masak. Hehee. Oh ya, tadi malam aku tersentak dan terbangung mendadak pukul 2.00wib. Ku dapati laptopku yang masih tercas dan laptop Rini yang berada tepat di samping kananku. Untung aja nggak tertimpa tubuhku. Huaahh..
Yang aku ingat terakhir kali sebelum aku tertidur adalah aku sedang nonton Comic Story dari laptopnya Rincuy karena laptopku sedang dicas dengan casa baru. *wewww! Udah, itu aja yang ku ingat. Sudah pasti aku tertidur. *seharusnya aku hafal dengan kebiasaanku itu. Kalau judulnya udah ‘sambil tiduran’ pasti pada akhirnya aku benar-benar ketiduran. Aku harus kembali ke prinsip; kalau ngantuk ya tidur, kalau mau baca buku ya duduk, kalau laper ya makan. Intinya jangan sambil-sambilan.

Menyesal karena aku belum menulis sepatah kata pun sebelum tidur membuatku wajib menulis kali ini sebelum kembali tertidur. Aku beranjak dari tempat tidur, mencabut cas laptop, mencuci muka, gosok gigi dan kemudian menulis.
“Cerita tentang Duta Bahasa kemarin belum Kakak update ya?”
Terngiang dengan pertanyaan Okta membuatku ingin menyelesaikan segera kisah kemarin, sebelum ingatan memudar dan mood berubah lagi. Aku coba bertahan menulis sampai jam 3.20wib. Alhamdulillah dapat 6 lembar juga nih! Aku putuskan untuk tidur sebentar sampai pukul 04.30wib. Tapi nyatanya alarm di telingaku tidak mampu mengabulkannya. Aku kembali terbangun pukul 06.30wib. huaaahhh. Selamat bersinar sang mentariiii.

Aku sempat buka FB sebentar untuk melihat-lihat informasi dan pemberitahuan terkini. Sebelum quota malamku limit, aku sempat mengetikkan status ini,
Ketika aku menduga segalanya nyata
Ternyata Allah masih berkata: “Tunggu dulu!”
Ketika tanda-tanda mengisyratkanku kepada pencapaian sesuatu
Ternyata Allah masih berkata: “Tunggu dulu!”
Ketika firasatku menandakan sesuatu
Ternyata Allah masih berkata: “Tunggu dulu!”
Ketika aku upaya telah dirasa maksimal
Ternyata Allah masih berkata: “Tunggu dulu!”
Ketika doa telah dirasa sempurna genapnya
Ternyata Allah masih berkata: “Tunggu dulu!”
Maka, aku menjawab di dalam hati: “Baiklah Allah-ku, aku akan menunggunya!”
Baju yang belum ku cuci ternyata buanyak banget. Bahkan udah menggunung. Niat untuk menemui bu ** ku tunda sejenak, ada pakaian segunung yang lebih menunggu untuk ku eksekusi. Setelah sarapan, aku mencuci 3 baskom rendaman baju di kamar mandi lalu menjemurnya di ujung jemuran sana.

“Cuy! Nggak usahlah nyuci dulu hari ini, jemurannya habis dibrorong orang dah!”
Rini nurut. Akhirnya dia meneruskan nonton film koreanya itu. Setelah sholat Zuhur, aku dan Rini menemui Andin yang hari ini Yudisium di Gedung Sutan balia, FISIP. Sahabatku sudah S.Ip aja nih!
“El itu Yudi!” kata Rini.
“Iyaaa. Eh, jangan liatin dia. Jangan senyum ke dia. Jangan melihat ke arahnya Rin! Plisss. Aku nggak suka posisi kikuk dan kaku.”
“Iya iya.. ini nggak ku lihat ke sana haa..”
Saat kami kelinglungan mencari sosok Andin, akhirnya yang dicari-cari melambaikan tangannya juga.
“Ciyeee..selamat yaaa Ciin.. Akhirnyaa,” kataku kepada Andin.
“Iyaaa..makacihh. Itu tadi yang ngangkat telvon Rini kamu kaannn? Ih, aku tahu kok suara genit kamuuu!”
“Iyyaa Ciinnn… Yudi udah ngucapin selamat belum sama Andin?”
“Udah. Katanya: ‘Selamat ya Beb!’ gitu loh El.. ‘Beb yang manaaa?’ hheeh.”
“Rin, kok aku belum ngerasa iri juga ya?” bisikku kepada Rini.
“Iya aku juga loh. Ya Allah, kembalikan kami menjadi makhluk yang normaaal ya Allah,” kata Rini.
“Eh, aku udah tahu loh cara menghias jilbab kayak ginii. Nanti kalian tenang aja pokoknya,” kata Andin.

“Ah, Andin kan sebentar lagi bakal ninggalin kami. Boro-boro nunggu Oktober,” jawabku.
“Eh, nggak loh! Aku rencananya mau cari kerja di sini ajaa…yee yeee..” Andin kegirangan.
Lelah berfoto-foto dan berjingkrak-jingkrakan, kami beralih ke deretan tempat duduk di hotspot area. Eh, aku ngelihat wajah Mami (Diah, teman Pend Akun 011). Ntah kenapa hasrat ogahku untuk menegur sedang kambuh. Aku melengos aja tanpa menyapa Diah yang memang tidak melihat ke arahku.
“Mamiiii…”
“Hey sayaaaangg?” jawab Diah.
Begitulah aku. Jika tiba-tiba ingin, tidak perlu menunggu momentum atau alasan untuk bergerak. Aku akan bergerak tiba-tiba seperti barusan.
“Siapa yang wisuda Mi?” tanyaku.
“Ini teman SMK Mami yank..” jawab Diah. Loh dia kan cewek yang ku kagumi sejak tadi karena kecantikannya berbalut kesederhanaan.
“Cantik ya Mi. Simple juga gayanya.”
“Dia itu tomboy Yank. Makanya nggak mau rempong dandannya.”
Tujuan utamaku menyapa Diah tercapai. Aku sekaligus dibuatnya terpelongo lewat kalimatnya berikut ini, “Mami udah ngajuin judul 11x dan semuanya ditolah loh Yank.”
“Ya ampuuun Mi…” aku terharu. Bagaimana aku bisa cengeng seperti ini sementara Diah saja jauh lebih pantas dikasihani
daripada aku? Ah, baru akan mengajukan judul aja aku sudah sering mundur kalau ketua Prodi nggak bisa ditemui.
“Zega aja dipersulit Lis, padahal tinggal ujian hasil lagi dia tuh! Sampai dia bikin status di BBM: Hari ini, tanggal 25 Mei 2015, aku berhenti mengejar wisuda bulan Oktober! Gitu haa Lis saking patah semangatnya Zega.”

Aku tertegun. Zega yang akan ujian hasil bisa mengalami kendala semacam itu? Lalu, bagaimana nasibku yang belum memulai apa-apa ini? Ah, bayangan itu muncul menghantuiku lagi. Bagaimana jika pengujiku adalah dirinya? Grrrrr!
“Mi, kira-kira kita masih bisa nggak ngejar wisuda Oktober?” tanyaku hati-hati.
“Nggak Yank!” jawab Diah dengan yakin. “Libur puasa, libur lebaran dan belum lagi jadwal ujian yang udah padat sampai bulan Juli,” tambah Diah lagi.
“Gitu ya Mi?”
“Iya Yank!” Diah tetap saja yakin. Hayooo El, baru kelabakan sekarang kan? Hayoooo. “Eh, mimpi Elis yang dulu itu gimana ceritanya?”
“Mimpi yang mana tuh Mi?” aku tak terlalu yakin dengan pradugaku.
“Yang itu loh, Elis pengen nulis cerita islami, terus Elis pengen jadi pemainnya sekaligus.”
“OOHHHH yang ituuuuu,” aku terkesima. Sangat ku sambut dank u terimakasihi orang-orang seperti Diah ini; mengingat dan mengingatkan tentang mimpiku. Ntah kapan aku bercerita kepadanya pun aku sudah lupa. Tapi, tidak dengan Diah.
“Masih Mi. Masih terus diupayakan. Ya inilah kerja Elis, nulis di setiap waktu senggang. Doakan ya Mii.”
“Tulisan Elis itu renyah loh! Sederhana, mudah dibaca tapi dapet sastranya.”
“Ih Mami bisa aja mujinyaaa.”
“Serius loh Yank!”

***
Rini ke luar dari BEM dengan membawa kardus bekas kertas yang terlihat berat.
“Apaan aja tuh isinya?”
“Palu sidang sama berkas-berkas. Kita ke rektorat dulu ya, biar nggak segan ntar  waktu mau izin. Biar bisa cepat kita nyusul Andin dan Risky.”
Aku melaju, membawa Rini ke rektorat. Aku membantunya menaiki rektorat hingga ke lantai 4. Belum ada orang ternyata. Masih sepi dan Rini harus mempersiapkan meja dan berkas registrasi peserta sidang. Aku langsung mengeluarkan senjata pembunuh waktu luang; Laptop putihku.
“Sibuk kali Kak,” sapa Adek perempuan, anggota PPRU juga yang pernah mewawancaraiku. Aduh, aku lupa namanya. Destra apa ya kalau nggak salah..
“Nggak juga Dek, heheh,” aku meminimize laman word dan beralih ke folder-folder sembarangan supaya nggak ketahun kalau sedang nulis. Ternyata setelah ku perhatikan, nulis itu bisa bikin orang lain kepo. Karena mereka penasaran dengan apa yang sedang kita tulis.
Aku menyempatkan diri masuk ke dalam aula rektorat ini. Terlihat kursi-kursi merah dengan pola yang sudah diatur sedemikian rupa menyesaki ruangan ini. Aku menangkap suasana tegang dan penuh fikir di sini.

“Kami izin dulu yaaa,” kata Rini kepada teman-temannya.
Dan ketika sudah sampai di bawah, “Rin, jangan lupa sedekah kita!”
“Oh iyaa. Yuklah sekarang aja!”
Supaya lebih praktis dan efisien, Rini ikutan masuk ke dalam ATM BRI dan menransfer ke rekening resmi Aksi CepatTanggap untuk muslim Rohingya.
“Banyak kali Elll…” kata Rini ketika melihat angka Rp 200.000 di layar ATM. Lalu ku tekan tombol Kirim.
“Insya allah kalau untuk yang beginian, aku nggak pernah pelit meskipun kondisi sedang sempit Cuy.”
Ya Allah, mudahkanlah segala proses skripsiku. Izinkanlah aku wisuda bulan Oktober, walaupun aku nggak tahu caranya tapi Engkau pasti tahu caranya. Lembutkan hati bu ** ya Allah untuk memaafkanku. Mudahkan dan berikanlah jalan serta kemudahan untukku dalam meminta maaf kepadanya. Ya Allah, jauhkanlah aku dan keluargaku dari segala macam bencana besar dan kesulitan besar.
Aku berdoa dengan suara setengah berbisik sambil menunggu Rini menransfer uangnya.
“Buruan berdoa Rin! Ini saat-saat yang mustajab.” Saranku.
Wah, pas ke luar dari ATM, ternyata antrian udah panjang aja nih. Untung aja waktu kami datang tadi belum ada orang sama sekali yang ngantri.

“El, HP El getar-getar nih!”
“Halloo Mi… Apakabar? (tanyaku dengan gaya bencong). El baru aja sedekah Rp 200.000 untuk Rohingya Mi.”
“Uang yang mana yang kau pake tuh?”
“Ya Uang jajan El lah.”
“Nggak mau tahulah. Pokoknya uang itu harus cukup sampai sebulan ini. Mempeng banget sebanyak itu, kecuali kalau udah kerja nah iyaaa.”
“Loh, bukannya sedekah itulah yang membuat kita kaya Mi? Ya kalau El belum kerja, berarti balasannya untuk kedua orang tua. La jadi?”
“Hem…nyam-nyam-nyaammm.”
Mami justru lebih parah lagi kalau sudah bersedekah. Jumlahnya sampai jutaan dan diantara oleh Mami langsung ke rumah-rumah penduduk yang layk disantuni. Mamilah yang telah mengajariku arti penting berbagi kepada sesama.

***
Suara Andin menyambut kedatangan kami dalam wujud lagu barat ntar apa judulnya.
“Eh, mundur lagi El!” pekik Rini ketika aku kelewatan dari halaman parkir. “Owalaah, nyanyi pula diaa. Malulah kita masuk ke dalam kalau nggak disambutnya. Dikira kita mau kondangan padahal kita kan mau numpang makan.”
“Iya nih. Kita tungguin Andin aja dulu yaa.”
“Tolong smskan si Andin lah El biar dia ke sini.”
Bukannya menuruti permintaan Rini, aku malah mengetikkan pesan lain,
Assalamualaikum
Adek-adek, Kakak merasa cara belajar menulis kita kurang efektif. Tugas yang diberikan Romi pun nggak ada yang ngumpul kan? Jadi, Kakak minta Sabtu depan Adik-adik udah bawa tulisan masing-masing, apapun jenisnya (sesuai kemampuan masnig-masing) dan kita diskusikan di kelas tersebut. Semoga cara itu bisa lebih efektif.
Send to Nisa
Tombol kirim telah ku klik. Pesan terkirim.
Dek, tolong sebarkan sms itu ke semua anggota kelas menulis yaa…mksihh.
“Udah El sms Andin?” tanya Rini memastikan.
“Hemmm…” aku hanya berdehem.
“Riiin!” pekik seseorang dari depan tenda.
Dia Putri. Saudaranya Andin. Kami bergegas menujunya dan berhasil melewati barisan tempat duduk orang tua penyambut tamu dengan membungkukkan tubuh. Lalu, kami duduk 3 meter dari depan pentas dan tepat di depan pelaminan pengantin. Posisi yang sangat strategis. Noleh ke kiri lihat pentas, lihat ke depan lihat pelaminan. Hehe.
“El, lihatlah tuh! Film documenter mereka,” pinta Rini.
Aku menuruti arah pandangnya. Di dekat pelaminan ada LCD yang menayangkan proses pra pernikahan kak Ririn dan bang Eska.
Nggak perlu basa-basi lagi karena emang udah basi, hehe. Kami langsung menuju deretan makanan.
“Rin, kita makan nasi dulu ya!”
“Iya. Nanti kita baru ke babak kedua,” mata Rini mengisyaratkan sebuah misi penyerbuan makanan.
“Okeeeh!”
Aku mengambil fillet ikan (nggak tahu ikan apa nih. Nggak terdeteksi dari rasanya), sayur tumis kol+wortel+brokoli dan tumis ayam. Tak lupa kerupuk menjadi pelengkap. Aku segera duduk kembali tanpa menunggu Rini.
“Kenapa difoto dulu Sa? Jangan lupa berdoa,” sara Azon, pacar Risky.
“Iya nih mau berdoa. Tapi foto dulu buat kenang-kenangan,” jawabku.

***
“El, kok buka laptop? Di sini adalah wilayah bebas tugas!” kata Andin. Aku hanya tersenyum.
“Eh, nama suami kak Ririn ini siapa? (tiba-tiba aku teringat papan bunga di depan) bang Eska ya?” tanyaku lagi.
“Iyaaa.,” kata Rini. Aku kembali melanjutkan mengetik. Lumayan nulis, daripada melongo aja, bathinku.
“Kau bikin apa Sa? Laporan?” tanya Risku pula. Aku manggut-manggut.
“Elysa! Di mana pun tempatnya, nulisss terussss. Jangan bilang ngisi blog!”
“Apa ?” tanyaku, kurang jelas.
“JANGAN BILANG EL NGISI BLOOGG!” pekik Andin lagi.
“Sengaja. Biar dapat feelnya!” bisikku kepada Rini.
Aku menikmati alunan music India yang didendangkan oleh biduan. Aku sudah menangkap foto penampakan desain tenda ini yang semuanya serba merah dan hijau. This what I most like. Besok, ketika aku menikah akankah aku menggunakan nasyid? Atau hanya menggunakan instrument Piano/Biola seperti yanag pernah ku rencanakan? Atau tanpa music sama sekali? Tanyaku di dalam hati.

Lagi-lagi muncul pertanyaan di dalam hatiku? “Bagaimana menandai kesiapan menikah dari dalam hati?”
Ah, tapi kata kak Dila kalau kita belum kefikiran menikah, berarti belum ada jodohnya atau belum mendekat jdoohnya.
“El, ambil lagi lah makanannya! Jangan biarkan yang tadi jadi yang terakhir,” kata Andin.
“Rin, ambil bakso yuk?”
“Aku nggak suka bakso!”
Hampir aja mau ku ajakin ngambil batagor dan teringat bahwa Rincuy nggak suka sama pecel. Pecel dan batagor beda tipis soalnya.
“El? Balik kita?” tanya Rini setelah cukup lama aku mengetik dan mungkin dia bĂȘte karena nggak ada hasrat untuk ngambil makanan lagi.
“El? Gendut kali sih pipimu! Teriak Andin lagi.  Ah, mengganggu konsentrasiku aja nih bocah. Sengaja ya Ndin? Tanyaku di dalam hati.
“Masa iya Ndin? Tapi cantik kan?” tanyaku.
“Naik 5 kg lagi ilang idungmu nanti tuh!” tambah Andin lagi.
“Ah, ngambil sate ah!” Rini akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Aku ikutan juga ah!.hehe
Tapi, belum sempat aku beranjak, Rini sudah duduk lagi di sampingku dengan membawa sate. “Ih, kok nggak dikasih sendok sih? Gimana nya cara motongnya ni?” tanya Rini kepada diri sendiri dengan logat batak.
“Apa itu emangnya? Lontongnya ya?” tanyaku.
“Menurut ngana?”

***
“Dek, tiba-tiba Kakak menyimpulkan sesuatu dari kehidupan ini. Pada dasarnya, kita akan melewati ketiga fase ini; yang pertama, fase sosialisasi. Fase ini adalah fase pencarian jati diri, ingin mengubah sifat yang dirasa buruk dan sering sekali mempertanyakan diri sendiri terhadap sesuatu. Yang kedua adalah fase Kompetisi. Di fase ini, kita mulai mengukur diri. Seberapa mampukah kita bersaing dengan lawan-lawan? Tapi Dek, kompetisi ini seperti apa yang pernah dikatakan oleh bang Azhari: ‘Menang atau kalah adalah pilihan dewan juri, tapi usahan maksimal itu adalah milih kita semua.’ Dan yang terakhir adalah fase Aktualisasi. Difase inilah kita akan mulai berfikir bahwa kita harus ke luar dari fase kompetisi yang segal penilainnya di tangan juri. Sadar atau tidak, ketika kita sedang mengikuti sebuah perlombaan, berarti kita sedang rela dibatasi. Lihatlah! Semuanya seperti itu. Kita harus melakukan sesuatu sesuai perintah dari juri. Nah, kita harus ke luar dari fase menyebalkan ini. Di fase inilah Kakak yakin akan lebih berkembang. Sekarang, Adek hanya harus fokus kepada bakat Adek, pernah dengar PASSION PRENEUR nggak?Kakak yakin sekali, Adek bakal menjadi sesuatau yang di luar batas.”

“Hemmm..Okta sepakat! Tapi, kok tiba-tiba Kakak kefikiran hal itu? Sejak kapan.”
“Sejak waktu tadi sore Adek main  ke kosan Kakak dan Adek bilang; ‘Mungkin Okta menguasai teori, tapi Okta nggak punya tubuh yang porporsional. Tapi setidaknya Okta udah berhasil menaklukkan mimpi Okta sejak lama itu, Kak’.”
“Eh,Cek besok-besok kau ajak aja Rincuy ke sini. Enak dan banyak kan porsinya?” kata Joni. Aku mengiyakan. Kami sudah berganti ke plan B nih sebenarnya. Rincuy belum pulang ketika 2 bocah ini menjemputku ke tempat bakso di jalan Suka Karya, makanya kami beralih ke tempat Ajo biar lebih dekat dan aku nggak masalah ke luar sendirian karena masih di Manyar Sakti. Eh, ternyata recomended juga nih tempatnya.
Aku manggut-manggut mengiyakan saran Joncek sambil terus fokus melahap lauk ikan Serai dan keripik cabe yang ternyata punya tantenya Vera di Dumai. Widih keren banget! Udah terkenal juga nih keripik. Aku juga pernah lihat Teguh bawa keripik ini dari Dumai. Ah, ternyata Vera dan Teguh sama-sama orang Dumai bah!

Rin, aku nggak mau naik panggung dulu baru kemudian dikenal orang. Aku maunya dikenal orang dulu barulah diminta naik panggung.
Kalimat serta-mertaku tadi siang.

Tidak ada komentar: