Senin, 08 Juni 2015

Jadi Detektif itu Ternyata nggak Gampang

"El! Udah jam 8 loh!”
Aku tersentak dari keasyikanku, “Oh iya yaaa… Kita kan mau pergi!”
“Nis.. Tadi ada loh orang yang susah dibangunkan sahur. Yah, mau gimana lagi lah Nis? Yang membangunkan sampai ketiduran gara-gara yang dibangunkan nggak mau bangun juga. Kita mana bisa berbuat apa-apa lagi kan Nis?” Rini mengajak cerita si kucing yang pagi-pagi udah nangkring di tempat tidurnya.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Bukan aku namanya kalau gampang dibangunin. Ckckkck. Hihii.
Mbak, Romi lulus KTI yang di UNNES. Mbak ada contoh proposal untuk ngajuin dana?
Ada Dek. Sihiyyy… kereeeen dank! Mu ke sinilah, Mbak nggak ke kampus do hari ini.
Ya udah, aku mandi dulu ya baru ke sana ya. Dan pastikan Mbak juga udah mandi! Grrrrr
Tapi, hingga beberapa menit kemudian, aku nyatanya masih belum bergerak juga dari atas tempat tidur.
“Mbaaakkk.. Mbaaak Eeell…”
“Yuhuuuu,” aku buru-buru ke luar.
“Pasti belum mandi kan? Hisss, jorkiii..Siapalah yang mau sama dia nih nantik!” ledek Romcek.
Ni bocah jauh-jauh ke sini tapi nggak bawa flashdisk, hemmm. Dia minta tolong aku untuk ngirimkan lewat email aja. Aku sih nggak masalah dan mau-mau aja, tapi masalahnya, modemku baru aja dapat peringatan bakalan habis. Hiksss.

“Yang dari UNRI 2 loh Mbak yang lolos..”
“Siapa 1 lagi Dek?”
“Si Azlina juga lolos tuh.”
Alhamdulillah. Aku bahagia mendengarnya dan semoga selanjutnya semakin meningkat. Karena ini memang cita-cita lamaku. Sedih rasanya ketika menyadari hanya aku yang lolos dari UNRI, dulu. Yang aku fikirkan adalah: Hanya akukah yang memang terpilih masuk final? Atau memang yang menulis KTI dari UNRI yang memang nggak ada? Huaaahhhh…
***
“Lah, Rin?”
“Kenapa El?” Rini keheranan ketika aku mendadak menghentikan kemudiku. Hampir saja kami sampai di jalan Delima, berkat jalan pintas dari Arengka.
“Jilbab cokelat yang mau dipinjam Kak Dila ketinggalan loh Rin. Kita kan tujuan utamanya ke sana karena mau ngasihkan itu. Lah kalau itu ketinggalan, buat apa kita jauh-jauh ke sana? Rini pun kenapa ngak ngingatkan aku tadi?” ujarku, malah menyalahkan Rini.
“Yuklah putar balik. Ntar biar aku aja yang ngambilin. Turunkan aku di PMIPA aja bair jalan kaki.”
“Okkeeehh.”
Dek, jam berapa ke mari? Giliran kak Dila pula yang mengSMSku.
Ini udah di jalan Kak. Tapi karena lupa bawa jilbab cokelatnya, akhirnya ini balik lagi.

***
“Rin, kita nyebrang!” ajakku kepada Rini. “Di depan udah forbidden, kalau diteruskan harus muter lagi dari jalan Sudirman.”
“Arassoohh.”
Setelah masuk ke dalam lobi Green Hotel, tempat kak Dila menginap, “Rin, kita titipkan ajalah ndak dengan receptionist? Daripada capek-capek naik ke atas, kita kan mau cepat. Ntar pas Kak Dila pulang biar receptionistnya aja yang nyerahin ke kak Dila. Gimana?”
“Ya udah, kalau emang bisa.”
Nggak ada yang nggak bisa bagiku kalau aku sudah yakin. Dan, ternyata memang benar bisa bahkan kami disambut ramah banget. Setelah itu, kami langung ke purna MTQ. Masih sepi. Mungkin karena masih pagi. Aku memarkirkan motorku di luar pagar MTQ.
“Rin, meriksa apa sih orang ini? Kok pada masuk-masuk ke dalam bus ini?” bisikku kepada Rini.
“Ngurus SIM mungkin. Namanya aja mobil SIM keliling.”
“Oooooooooo…”
Langkah pertama, aku mengajak Rini foto-foto narsis di Anjungan Idrus Tintin nan berdiri megah dan menyilaukan mata. “Rin, Rin, jangan-jangan yang sedang berselimut sarung inilah mereka.”
“Hemmm…kayaknya iya.”
Aku lanagsung menjepret foto 4 orang laki-laki berbalut sarung yang sedang tidur nyenyak. Tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang menggeliat sambil menguap. Aku memperhatikannya lekat-lekat untuk memastikan wajahnya.
“Rin, kayaknya mereka bukan imigran itu deh. Soalnya barusan ada yang menggeliat dan aku lihat wajahnya wajah pribumi,” laporku buru-buru kepada Rini.
“Mungkin orang-orang yang nunggu stand-stand di sini tuh!”
“Hemm..bisa jadi.”
Dari Idrus Tintin, kami beranjak menuju gedung putih di belakang komplek MTQ ini. 3 hari yang lalu kak Dila sudah menunjukiku tempat itu. Hari ini, aku akan menuntaskan rasa penasaranku! Kamu disambut oleh jalan lintas tepat di belakang komplek MTQ ini. Setelah berbelok kanan sedikit, kami berbelok ke kiri.
Papan besar di pangkal gang bertuliskan; RUMAH DETENSI IMIGRAN,menyambut kehadiran kami. Aku sedikit keheranan. “Loh Rin?”
“Detensi itu kan semacam rumah tahanan gitu. Kok bagus amat ya?” kata Rini pula.
Aku mengajak Rini terus masuk ke gang ini hingga kami bisa melihat dengan jelas tampak depan gedung biru bertingkat 2 ini. Banyak juga mobil-mobil pribadi yang terparkir di halamannya. Ketika aku mengambil beberapa gambar, para imigran yang sedang duduk-duduk di bawah pohon di halaman itu memandangku sambil tersenyum. Aku geli sekaligus was-was. Tapi berusaha ku alihkan pandangan agar tidak terfokus kepada mereka.
Kami terus saja berjalan, melewati seorang laki-laki penyapu jalan yang sempat juga ku tangkap fotonya.
“El, aku takut loh!”
“Nanggung Rin. Biarkita tahu juga, gedung apa yang bagus banget ini?” kataku sambil memandang gedung tinggi tepat di depan kantor Imigran ini.
“Jangan jauh-jauh El, nanti aku pitam lagi.”
“Nggak jauh-jauh, sampai di ujung gang ini aja tuh. Penasaran aku, tempat apa sih yang indah ini?”
“Kayak gini, indah El?”
“Indahlah. Lihatlah nih asri banget.”
NURSEY DINAS KBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA PEKANBARU
Kami menemui kalimat itu di gapura hijau yang menjulang tinggi, belok ke kanan sedikit maka kita akan memasuki kawasan pembibitan dan pemeliharaan bakal pohon-pohon perindang kota. Hemmm.. asri banget, awalnya aku menduga ini adalah dinas Pertanian. Sudah memastikan tentang tempat ini, aku mengajak Rini memutar arah kembali.
Melewati gedung biru ini lagi membuat rasa penasaranku tentang para Imigran itu semakin berapi-api. Tapi, belum ada satu pun dari mereka yang ke luar dari kawasan tanpa pagar ini. Selama ini, mereka memang terlihat ketika siang hingga sore hari. Bisa jadi itu adalah jadwal izin mereka untuk ke luar, atau memang kebetulan hari ini saja mereka anteng di tempat seperti ini?
Aku dan Rini menyelinap, memasuki bagian belakang anjungan Rokan Hilir di sela-sela pagar tertutup tapi tak beraturan. Agenda selanjutnya adalah mengabadikan kenangan di tempat-tempat indah ini; Venue Sepak Takraw, Dekranasda Provinsi Riau, Anjungan Kampar dan terakhir adalah Anjungan Pelalawan. Di sinilah kami akan menghabiskan sepanjang siang. Anjungan ini memang biasanya dijadikan tempat sholat, maka lengkaplah sudah kami tidak perlu beranjak ke mana-mana lagi.
Dreettt..Dreeettt
Panggilan masuk dari kak Dila. Aku sedang tidak ingin mengangkatnya, tapi setelah panggilan berakhir, aku mengSMSnya; Kak, bakwan dan jilbabnya udah kami titipkan di receptionistnya Kak. Dan, tidak ada jawaban apapun dari kak Dila.
Karena SMS barusan, tiba-tiba ada rasa yang ingin ku utarakan melalui SMS juga,
Pada akhirnya, kita memang saling sendiri-sendiri.
Mementingkan diri sendiri
Memenangkan diri sendiri
Atau memikirkan diri sendiri
Send to : Lia, Joni, Rini, Romi
Sebenarnya masih ada beberapa nama lagi yang ingin ku kirimi kalimat itu. Tapi, niatku tertahan karena beberapa pertimbangan. Setidaknya rasaku telah terbagi dan terbahasakan kepada mereka yang 4 ini dulu.
Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya…
Hanya persoalan waktu,
Apakah sendiri atau bersama orang lain
Happy Monday ^_^
Balas Lia. Rasaku seolah terbalas tapi tak terfahami olehnya. Inilah yang ku sebut; Jarak tetaplah jarak!

***

“Bang? Mukenanya nggak ada ya?” tanyaku kepada laki-laki muda yang sepertinya tinggal di sini.

“Wah, nggak ada Mbak,” jawabnya. Padahal terakhir ke sini sama Lia, ada loh mukenanya. Hemmm… aku segera ngajakin Rini capcusss dari sini.
“Kita terpaksa pindah tempata nongkrong Rin, mukenanya nggak ada. Padahal kan udah enak di sini, ada TVnya juga.”
“El jalannya jangan cepat-cepat. Ntar aku pitam lagi,” pinta Rincuy.
Kami berjalan kea rah kanan, ke gedung Idrus Tintin. Ada mushola di bagian basemennya. Yah, sebenarnya bukan mushola sih, cuma tempat sholat aja di sudut ruangan dekat tangga naik ke atas. Kemarin, aku prihatin banget soalnya yang sholat banyak banget tapi sajadahnya sedikit. Kalau sajadahnya dimiringkan, eh lantainya nggak yakin bersih. Agak becek gitu soalnya habis dari toilet, orang langsung ke sana aja dan nggak ada keset kakinya.
Alhamdulillah, kali ini sudah ada tikarnya ternyata. Jauh lebih baiklah daripada yang kemarin. Aku bahkan sempat tertidur juga sambil nungguin laptopnya Rincuy dicas. Setelah itu, Rini ngajakin nonton band di panggung utama, di depan gedung ini. Aku sih kalau dengerin music kuat banget pas sedang puasa ini justru tambah puyeng. Akhirnya ku ajak aja RIni ke stand Rokan Hilir, ada kak Dila di sana.
Eh, kami ditawarin makan karena kak Dilanya sedang makan. Hemm…aku sih pengen banget, tapi kami kan sedang puasa cinnn. *tahan nafsuu dulu. Aku yang ternyata masih ngantuk banget akhirnya tidur lagi di sudut stand. Gantian dengan Rini, giliran dia yang tidur setelah aku bangun. Teringat dengan naskah bang Alam yang belum ada separuh ku edit, akhirnya aku melanjutkannya lagi. Kalau suntuk, sesekali aku buka FB atau baca buku Travel in Love yang udah seminggu belum juga selesai ku baca.

Tiba-tiba, BRUUUKKKKK!
“Eh, Deeekkk,” pekik kak Dila karena pajangan foto-foto jadul yang ku sandari ternyata terpeleset dari mejanya. “Patah tuh Bang ukirannya,” kata Kak Dila sambil membantuku menyambut lukisan itu.
Si abang langsung merekatkan kembali ukiran yang patah itu dengan lem, aku nyegir karena merasa bersalah, “ Duuuhh..maafin ya Baaang..” pintaku.
“Hah? Ada yang patah ya?” kata abang yang lainnya pula.
“Nggak apa-apa doh, cuma sedikit aja nih,” jawa abang yang tadi.
Aku melirik mata kak Dila yang sedang fokus ngelihatin abang itu merekatkan ukiran, mataku berbinar seolah berbicara, “Kak, Abang ini ganteng yaa…” kira-kira begitu. Haha, kak Dila sudah langsung faham isyarat mataku itu.
“El kenapa senyum-senyum?” tambah Rini dengan sengaja. Aku terus saja memperhatikan si abang yang sedang berusaha memperbaiki kerusakan karena ulahku.
Dia udah nikah n punya 2 anak
Aku membaca SMS kak Dila yang baru saja dikirimnya. Mataku  membulat, seolah bertanya kembali, “Seriuslah Kak?” dan kak Dila menganggukkan kepala sekaligus tertawa karenanya.
“Hoawaalaah El, seleranya kok sama suami orang,” kata Rini lagi setelah si abang pergi. Huaaahhhh..
“Eh, Dek, Dek. Tuh lihat Ibu-ibu Pakistan lewat sama anaknya.”

Aku melihat ke depan. Ada seorang ibu berwajah seperti orang India lewat di depan stand bersama kedua anaknya.
“Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, mau sampai kapan mereka dipelihara di sini Kak? Kok bisa gitu dengan leluasa dan bahagia mereka keluyuran kemana aja? Anggap aja seperti tamu, kita pasti akan menyambut baik siapa pun yang bertamu ke rumah kita, tapi kalau udah tinggal terlalu lama ya bahaya juga. Kita kan butuh menafkahi dan ngurusi keluarga kita yang lainnya juga. Nah, itu yang bikin Elis penasaran.”
“Itulah Dek, kadang mereka saking udah bosannya makan kue-kue jatah yang dikasih sama orang Imigrasi itu mereka jual loh sama orang sini. Roti bantal yang besar itu ada dijualnya Cuma Rp 10.000. Ha, pernah waktu itu malah dijualnya Rp 10.000 3 bungkus.”
Kayaknya kalau mau tahu banyak hal tentang para imigran itu hanya ada 2 cara; 1. Aku harus berani mendekati salah satu dari mereka dan tanya-tanya atau yang ke 2. Aku harus tanya langsung ke Imigrasi, supaya semuanya jelas dan aku bisa menulis sesuatu dari semua ini. Banyak loh masyarakat yang nggak tahu menahu tentang kepastian fenomena ini. Pernah juga ada yang menduga mereka membawa pemahaman yang menyesatkan. Aku sih kurang yakin, soalnya untuk komunikasi dengan penduduk setempat pun mereka kesulitan dan kerjaannya (setahu aku) cuma keluyuran doank. Yah, intinya mereka nganggur di sini. Aku takut berburuk sangka aja, karena walaupun mereka orang asing, tetap aja aku dan mereka adalah saudara yang harus saling berbaik sangka *ciyeeee, bijaknyaaa..hihii
 
***
Pukul 18.20wib
Aku duduk di Stand Kuliner di tengah padatnya tenda dalam Pekanbaru Expo ini. Rini sedang memesan Juice sedangkan kak Dila masih sibuk memilih-milih jilbab. Ku keluarkan laptop putih kesayanganku dari dalam tas dan mulailah jemari menari.
“Rini ke mana?” kak Dila menepuk pundakku dari belakang.
“Beli jus Kak. Ke sana,” aku menunjuk ke arah selatan dari tempat dudukku ini. Sesekali, pandanganku menyelip-nyelip ke arah panggung utama yang terhalangi lalu lalang pengunjung.
“Dek, belilah air tebunya ke Abang yang itu,” kak Dila menunjuk kea rah penjual air tebu di dekat stand-stand kabupaten. “Bilang aja nanti dibayar sama Kakak yang di stand kabupaten Rokan Hilir,” pinta kak Dila. Aku menuruti dan dengan ragu ku katakan kepada si abang pesan dari kak Dila. Syukurlah ia percaya. “Namanya aja Kakak udah langganan sama Abang itu Dek!” jelas kak Dila.
Ketika aku kembali bersama Rini, 3 piring nasi Gurih yang kami pesan sudah terhidang. 5 menit kemudian, aku dan Rini berbuka puasa. Nikmat sekali rasanya ketika air es tebu ini mengaliri kerongkongan yang dahaga. Nyam-nyam-nyam…
“Dek, Dek, lihatlah tuh imigrannya,” senggol kak Dila ke pinggangku. Aku menuruti arah pandangnya dan benar saja, beberapa orang imigran melintas bergantian sambil melihat-lihat stand di sekitarnya. Ada yang bertubuh tinggi, berkulit putih dan bermata sipit dan ada juga yang agak hitam seperti orang India. Di antara beberapa orang yang berseliweran itu, mataku paling terkesan kepada seorang laki-laki yang ku prediksi berusia 25 tahun ke atas, matanya sipit dan cukup tinggi. Melihatnya membuatku teringat kepada Jab, buddy-ku selama seminggu di Thailand. Tapi, lebih cakep Jab sih daripada dia. Hehe.
Jadi ingat kata-kata teman, “El ni kayaknya emang suka sama cowok yang matanya sipit lah ya?” haha, kayaknya sih emang bener tuh pendapatnya.
“Rini nggak habis Rin?” tanyaku kepada Rini yang sedang tekun menghabiskan nasinya.
“Jahat yak an Rin? Bukannya ditanya: ‘Rini kurang nasinya Rin?’ ini malah mau diminta porsinya. Hahah.”
“Elysa emang gitu Kak orangnya,” sahut Rini.
Baru saja aku mencuri air Tebunya kak Dila dan kak Dila memberikan saran jitu untukkum “Dek, pergilah ke Stand Sirup Kurnia itu Dek! Mintalah esnya, gratis loh. Bawa gelasmu itu,” kak Dila menunjuk kea rah barat.
“Seriuslah Kak? Masa minta cuma-cuma sih?” aku meragu.
“Serius loh, ngapain Kakak bohong?”
“Darimana Kakak tahu kalau itu gratis?”
“Udahlah buruan, pokoknya Kakak jamin omongan Kakak ini bener.”
“Nanti kalau El malu gimana Kak?”
“Panggil nama Kakak. Biar Kakak datangin mereka.”
Lalu aku pergi dengan gelas bekas air tebu tadi dan kembali lagi dengan gelas yang penuh berisi es berwarna pink kemerahan.
“Malu kau Dek?” tanya Kak Dila,
“Heheh, nggak Kak. Tapi, El masih kurang percaya. Untungnya mereka kayak gitu apa ya Kak?”
“Kan mereka sedang promosi. Kalau kita pesan langsung ke agennya, sirupnya bakal diantar ke rumah dan dapat buku gratis pula Dek, untuk wilayah Pekanbaru aja tapi loh. Kalau ke Bagansiapiapi ya bayarlah. Hehe.”
“Wihhh..baik banget sih mereka!”
“Ini sirup asli dari Medan loh Dek. Sirup Kurniaaa,” kak Dila mengulang merknya.
Dipenghujung maghrib, kak Dila dihampiri oleh mertua dan iparnya yang tadi siang tiba dari Kubu. Heboh banget obrolan mereka, persis banget kayak 2 orang sahabat yang uda lama banget nggak ketemu. Aku dan Rini permisi lebih dulu untuk mengejar sholat maghrib.
“Dek, tolong kasih tahu mahasiswa sini untuk membuatkan mushola untuk sholat. Besar dosa pemerintah ini karena nggak memperhatikan tempat sholat. Bangunan mirip mesjid tapi mushola pun nggak disediakan di sini. Ntah macam mana lahhh…” kata seorang bapak tak dikenal yang baru saja ke luar dari pintu masuk ke mushola. Di depan pintu memang tertulis; TOILET DAN MUSHOLA, tapi mushola yang dimaksud ternyata adalah ruangan panjang yang menyatu dengan tangga naik dan toilet. Huft! Aku pun setuju dengan keluhan bapak tadi.
Makanya tadi waktu sholat Ashar, aku lebih memilih untuk sholat si anjungan Pelalawan karena tempatnya jauh lebih layak dan rapi. Sampai-sampai aku rela ngantri dengan ibu pemilik mukenah. Daripada harus bayar Rp 2000 dan bertempat di ruang tanpa batas seperti itu.
Usai sholat maghrib, aku dan Rini bergegas menuju stand lagi. “Rin, Kakak-kakak yang jagain kotak uang di toilet itu….”
“Sholat nggak yaaa?” sambung Rini segera.
“Iya kan Rin? Kok mereka nggak bergerak juga dari tempat duduknya. Yah, semoga aja mereka sholat.”
“Aamiin…”
“Eh, Cuy, kenapa setiap kita sholat, kita sering banget meletakkan tas kita di depan kita. Alasannya apa?”
“Untuk batas.”
“Selain itu apa lagi? Takut tas kita dicuri orang mungkin?”
“Iya, itu juga sekaligus sih..”
“Bener jawabanmu tadi Rin. Ta situ gunanya untuk pembatas kalau kita sholat di tempat terbuka dan kalau kita sholat di mesjid, usahakan cari tempat yang punya penghalang. Contohnya di belakang pilar-pilarnya..”
“Atau dipinggirnya…”
“Nah, betul itu. Yang penting, kita yakin nggak ada orang yang melintas di depan kita. Karena kalau ada orang yang melintas di depan orang yang sedang sholat itu dosa besar loh!” mataku terbelalak kepada 2 orang imigran yang berjalan dari arah berlawanan dari langkah kami. “Rin, lihatlah mereka itu. Ganteng dan keren banget kan? Ntah mau kemanalah mereka serapi itu? Yang mengherankan itu kok mereka bisa dengan santai dan aman aja melintas ke sana ke mari di sini? Kayaknya kita emang baik banget ya? Menyambut setiap orang yang datang ke sini bahkan sampai tinggal lama kali.”
“Iya.. itulah. Ntah gimana pun,” Rini nggak kalah pusingnya dariku. “El, ingat ya trip ke-2 kita.”
“Siiipppp. Mau apa? Mie ayam atau…”
“Aku sate padang ajalah.”
“Siipppppp…”

***

“Kak, El nggak bisa loh kayak Kakak; sambil makan, sambil lihatin orang-orang yang lewat. El kalau makan ya makan, nggak bisa sambil-sambilan. Harus fokus gitu.”

“Iya, El kan kalau nggak 0% ya 100%. Tapi Kakak bisa 2 2nya Dek. Walaupun sedang makan gini, kalau ada orang yang datang ya Kakak langsung berdiri melayani. Harus gitu Dek kalau kita mau jadi penjual yang baik. Makanya orang-orang ini senang sama Kakak, soalnya Kakak rajin kata mereka. Sampai kadang Ibu-ibu geram nengok Kakak, ‘Biarlah Dila, Ibu aja yang jualin, Dila makan aja. Jangan berdiri-berdiri, nanti nasi tersuap pula ke hidung’ hahah, lucu Kakak dengarnya.”
“Berarti Kakak adalah penjual teladan dan berstandar internasional,” haaalaah, apaan sih yang aku omongin ini. hihii. Aku, Rini dan kak Dila menyerbu 1 porsi nasi bungkus yang buanyak banget porsinya. Bertiga pun tetap nggak habis nih nasinya. Lumayan untuk hemat, karena tadinya kami mau jajan sate atau mie ayam aja.
Pukul 22.00wib,
“Dek, tolong bawakan 2 plastik besar ini ya. Kakak jalan kaki aja sama teman Kakak ke hotelnya.”
Aku dan Rini membawa masing-masing 1 plastik besar dan ngeloyor aja pergi  ke parkiran. Kami sadar sih kak Dila belum juga beranjak dari kerumunan orang-orang tadi, tapi karena pada akhirnya pun kami akan pulang duluan, ya makanya kami main langsung-langsung aja. Udah ngantuk banget nih cinnn..
Kami menitipkan barang-barang tadi ke receptionist lagi, plus jilbab dan gorengan yang ternyata belum diambil dengan kak Dila. “Rin, ini Abang-abang yang kemarin salah ku kasihkan kunci motorku Rin. Kayaknya dia ingat deh sama aku. Soalnya dia senyum-senyum gitu kan waktu kita kasihkan barang-barang tadi?”
“Huffft!” 
Hai cintaku, lagi ngapain? aku mengirimi mami SMS.
Lagi mikirin my lovely yang sesaat menghilang
Siapa mi emangnya? Emeh ya? (baca: kucing)
Si Gembrrrootttttt.. Balas mami pula.
Hahaha, doakan semua urusan El lancar dan dimudahkan Allah ya mi.. Daaa, selamat tidurrr...
Aamiin ^_^.. Masih lama lagi tidurnya niii...
Hemm...dia adalah wanitaku. Masih ada sesuatu yang belum sempat juga ku ceritakan dan ku keluhkan kepadanya... Mami, semoga engkau baik-baik saja di sana..

Tidak ada komentar: