"El! Udah jam 8 loh!”
Aku
mengajak Rini terus masuk ke gang ini hingga kami bisa melihat dengan jelas
tampak depan gedung biru bertingkat 2 ini. Banyak juga mobil-mobil pribadi yang
terparkir di halamannya. Ketika aku mengambil beberapa gambar, para imigran
yang sedang duduk-duduk di bawah pohon di halaman itu memandangku sambil
tersenyum. Aku geli sekaligus was-was. Tapi berusaha ku alihkan pandangan agar
tidak terfokus kepada mereka.
“Beli jus
Kak. Ke sana,” aku menunjuk ke arah selatan dari tempat dudukku ini. Sesekali,
pandanganku menyelip-nyelip ke arah panggung utama yang terhalangi lalu lalang
pengunjung.
Aku tersentak dari keasyikanku, “Oh iya yaaa… Kita kan mau
pergi!”
“Nis.. Tadi ada loh orang yang susah dibangunkan sahur. Yah,
mau gimana lagi lah Nis? Yang membangunkan sampai ketiduran gara-gara yang
dibangunkan nggak mau bangun juga. Kita mana bisa berbuat apa-apa lagi kan
Nis?” Rini mengajak cerita si kucing yang pagi-pagi udah nangkring di tempat
tidurnya.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Bukan aku namanya kalau
gampang dibangunin. Ckckkck. Hihii.
Mbak, Romi lulus KTI
yang di UNNES. Mbak ada contoh proposal untuk ngajuin dana?
Ada Dek. Sihiyyy…
kereeeen dank! Mu ke sinilah, Mbak nggak ke kampus do hari ini.
Ya udah, aku mandi
dulu ya baru ke sana ya. Dan pastikan Mbak juga udah mandi! Grrrrr
Tapi,
hingga beberapa menit kemudian, aku nyatanya masih belum bergerak juga dari
atas tempat tidur.
“Mbaaakkk..
Mbaaak Eeell…”
“Yuhuuuu,”
aku buru-buru ke luar.
“Pasti
belum mandi kan? Hisss, jorkiii..Siapalah yang mau sama dia nih nantik!” ledek
Romcek.
Ni bocah
jauh-jauh ke sini tapi nggak bawa flashdisk, hemmm. Dia minta tolong aku untuk
ngirimkan lewat email aja. Aku sih nggak masalah dan mau-mau aja, tapi
masalahnya, modemku baru aja dapat peringatan bakalan habis. Hiksss.
“Yang dari
UNRI 2 loh Mbak yang lolos..”
“Siapa 1
lagi Dek?”
“Si Azlina
juga lolos tuh.”
Alhamdulillah.
Aku bahagia mendengarnya dan semoga selanjutnya semakin meningkat. Karena ini
memang cita-cita lamaku. Sedih rasanya ketika menyadari hanya aku yang lolos
dari UNRI, dulu. Yang aku fikirkan adalah: Hanya akukah yang memang terpilih
masuk final? Atau memang yang menulis KTI dari UNRI yang memang nggak ada?
Huaaahhhh…
***
“Lah, Rin?”
“Kenapa
El?” Rini keheranan ketika aku mendadak menghentikan kemudiku. Hampir saja kami
sampai di jalan Delima, berkat jalan pintas dari Arengka.
“Jilbab
cokelat yang mau dipinjam Kak Dila ketinggalan loh Rin. Kita kan tujuan
utamanya ke sana karena mau ngasihkan itu. Lah kalau itu ketinggalan, buat apa
kita jauh-jauh ke sana? Rini pun kenapa ngak ngingatkan aku tadi?” ujarku,
malah menyalahkan Rini.
“Yuklah
putar balik. Ntar biar aku aja yang ngambilin. Turunkan aku di PMIPA aja bair
jalan kaki.”
“Okkeeehh.”
Dek, jam berapa ke
mari? Giliran kak Dila pula yang mengSMSku.
Ini udah di jalan
Kak. Tapi karena lupa bawa jilbab cokelatnya, akhirnya ini balik lagi.
***
“Rin, kita
nyebrang!” ajakku kepada Rini. “Di depan udah forbidden, kalau diteruskan harus muter lagi dari jalan Sudirman.”
“Arassoohh.”
Setelah
masuk ke dalam lobi Green Hotel, tempat kak Dila menginap, “Rin, kita titipkan
ajalah ndak dengan receptionist? Daripada capek-capek naik ke atas, kita kan
mau cepat. Ntar pas Kak Dila pulang biar receptionistnya aja yang nyerahin ke
kak Dila. Gimana?”
“Ya udah,
kalau emang bisa.”
Nggak ada
yang nggak bisa bagiku kalau aku sudah yakin. Dan, ternyata memang benar bisa
bahkan kami disambut ramah banget. Setelah itu, kami langung ke purna MTQ. Masih
sepi. Mungkin karena masih pagi. Aku memarkirkan motorku di luar pagar MTQ.
“Rin,
meriksa apa sih orang ini? Kok pada masuk-masuk ke dalam bus ini?” bisikku
kepada Rini.
“Ngurus SIM
mungkin. Namanya aja mobil SIM keliling.”
“Oooooooooo…”
Langkah
pertama, aku mengajak Rini foto-foto narsis di Anjungan Idrus Tintin nan
berdiri megah dan menyilaukan mata. “Rin, Rin, jangan-jangan yang sedang
berselimut sarung inilah mereka.”
“Hemmm…kayaknya
iya.”
Aku
lanagsung menjepret foto 4 orang laki-laki berbalut sarung yang sedang tidur
nyenyak. Tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang menggeliat sambil menguap.
Aku memperhatikannya lekat-lekat untuk memastikan wajahnya.
“Rin,
kayaknya mereka bukan imigran itu deh. Soalnya barusan ada yang menggeliat dan
aku lihat wajahnya wajah pribumi,” laporku buru-buru kepada Rini.
“Mungkin
orang-orang yang nunggu stand-stand di sini tuh!”
“Hemm..bisa
jadi.”
Dari Idrus
Tintin, kami beranjak menuju gedung putih di belakang komplek MTQ ini. 3 hari
yang lalu kak Dila sudah menunjukiku tempat itu. Hari ini, aku akan menuntaskan
rasa penasaranku! Kamu disambut oleh jalan lintas tepat di belakang komplek MTQ
ini. Setelah berbelok kanan sedikit, kami berbelok ke kiri.
Papan besar
di pangkal gang bertuliskan; RUMAH
DETENSI IMIGRAN,menyambut kehadiran kami. Aku sedikit keheranan. “Loh Rin?”
“Detensi
itu kan semacam rumah tahanan gitu. Kok bagus amat ya?” kata Rini pula.
Aku
mengajak Rini terus masuk ke gang ini hingga kami bisa melihat dengan jelas
tampak depan gedung biru bertingkat 2 ini. Banyak juga mobil-mobil pribadi yang
terparkir di halamannya. Ketika aku mengambil beberapa gambar, para imigran
yang sedang duduk-duduk di bawah pohon di halaman itu memandangku sambil
tersenyum. Aku geli sekaligus was-was. Tapi berusaha ku alihkan pandangan agar
tidak terfokus kepada mereka.
Kami terus
saja berjalan, melewati seorang laki-laki penyapu jalan yang sempat juga ku
tangkap fotonya.
“El, aku
takut loh!”
“Nanggung
Rin. Biarkita tahu juga, gedung apa yang bagus banget ini?” kataku sambil
memandang gedung tinggi tepat di depan kantor Imigran ini.
“Jangan
jauh-jauh El, nanti aku pitam lagi.”
“Nggak
jauh-jauh, sampai di ujung gang ini aja tuh. Penasaran aku, tempat apa sih yang
indah ini?”
“Kayak
gini, indah El?”
“Indahlah.
Lihatlah nih asri banget.”
NURSEY DINAS KBERSIHAN DAN
PERTAMANAN KOTA PEKANBARU
Kami
menemui kalimat itu di gapura hijau yang menjulang tinggi, belok ke kanan
sedikit maka kita akan memasuki kawasan pembibitan dan pemeliharaan bakal
pohon-pohon perindang kota. Hemmm.. asri banget, awalnya aku menduga ini adalah
dinas Pertanian. Sudah memastikan tentang tempat ini, aku mengajak Rini memutar
arah kembali.
Melewati
gedung biru ini lagi membuat rasa penasaranku tentang para Imigran itu semakin
berapi-api. Tapi, belum ada satu pun dari mereka yang ke luar dari kawasan
tanpa pagar ini. Selama ini, mereka memang terlihat ketika siang hingga sore
hari. Bisa jadi itu adalah jadwal izin mereka untuk ke luar, atau memang
kebetulan hari ini saja mereka anteng di tempat seperti ini?
Aku dan
Rini menyelinap, memasuki bagian belakang anjungan Rokan Hilir di sela-sela
pagar tertutup tapi tak beraturan. Agenda selanjutnya adalah mengabadikan
kenangan di tempat-tempat indah ini; Venue Sepak Takraw, Dekranasda Provinsi
Riau, Anjungan Kampar dan terakhir adalah Anjungan Pelalawan. Di sinilah kami
akan menghabiskan sepanjang siang. Anjungan ini memang biasanya dijadikan
tempat sholat, maka lengkaplah sudah kami tidak perlu beranjak ke mana-mana
lagi.
Dreettt..Dreeettt
Panggilan
masuk dari kak Dila. Aku sedang tidak ingin mengangkatnya, tapi setelah
panggilan berakhir, aku mengSMSnya; Kak,
bakwan dan jilbabnya udah kami titipkan di receptionistnya Kak. Dan, tidak ada jawaban apapun dari
kak Dila.
Karena SMS
barusan, tiba-tiba ada rasa yang ingin ku utarakan melalui SMS juga,
Pada akhirnya, kita
memang saling sendiri-sendiri.
Mementingkan diri
sendiri
Memenangkan diri
sendiri
Atau memikirkan diri
sendiri
Send to : Lia, Joni, Rini, Romi
Sebenarnya
masih ada beberapa nama lagi yang ingin ku kirimi kalimat itu. Tapi, niatku
tertahan karena beberapa pertimbangan. Setidaknya rasaku telah terbagi dan
terbahasakan kepada mereka yang 4 ini dulu.
Setiap orang ada masanya
dan setiap masa ada orangnya…
Hanya persoalan
waktu,
Apakah sendiri atau
bersama orang lain
Happy Monday ^_^
Balas Lia.
Rasaku seolah terbalas tapi tak terfahami olehnya. Inilah yang ku sebut; Jarak tetaplah jarak!
***
Kami
berjalan kea rah kanan, ke gedung Idrus Tintin. Ada mushola di bagian
basemennya. Yah, sebenarnya bukan mushola sih, cuma tempat sholat aja di sudut
ruangan dekat tangga naik ke atas. Kemarin, aku prihatin banget soalnya yang
sholat banyak banget tapi sajadahnya sedikit. Kalau sajadahnya dimiringkan, eh
lantainya nggak yakin bersih. Agak becek gitu soalnya habis dari toilet, orang
langsung ke sana aja dan nggak ada keset kakinya.
***
“Bang?
Mukenanya nggak ada ya?” tanyaku kepada laki-laki muda yang sepertinya tinggal
di sini.
“Wah, nggak
ada Mbak,” jawabnya. Padahal terakhir ke sini sama Lia, ada loh mukenanya.
Hemmm… aku segera ngajakin Rini capcusss dari sini.
“Kita
terpaksa pindah tempata nongkrong Rin, mukenanya nggak ada. Padahal kan udah
enak di sini, ada TVnya juga.”
“El
jalannya jangan cepat-cepat. Ntar aku pitam lagi,” pinta Rincuy.
Kami
berjalan kea rah kanan, ke gedung Idrus Tintin. Ada mushola di bagian
basemennya. Yah, sebenarnya bukan mushola sih, cuma tempat sholat aja di sudut
ruangan dekat tangga naik ke atas. Kemarin, aku prihatin banget soalnya yang
sholat banyak banget tapi sajadahnya sedikit. Kalau sajadahnya dimiringkan, eh
lantainya nggak yakin bersih. Agak becek gitu soalnya habis dari toilet, orang
langsung ke sana aja dan nggak ada keset kakinya.
Alhamdulillah,
kali ini sudah ada tikarnya ternyata. Jauh lebih baiklah daripada yang kemarin.
Aku bahkan sempat tertidur juga sambil nungguin laptopnya Rincuy dicas. Setelah
itu, Rini ngajakin nonton band di panggung utama, di depan gedung ini. Aku sih kalau
dengerin music kuat banget pas sedang puasa ini justru tambah puyeng. Akhirnya
ku ajak aja RIni ke stand Rokan Hilir, ada kak Dila di sana.
Eh, kami
ditawarin makan karena kak Dilanya sedang makan. Hemm…aku sih pengen banget,
tapi kami kan sedang puasa cinnn. *tahan nafsuu dulu. Aku yang ternyata masih
ngantuk banget akhirnya tidur lagi di sudut stand. Gantian dengan Rini, giliran
dia yang tidur setelah aku bangun. Teringat dengan naskah bang Alam yang belum
ada separuh ku edit, akhirnya aku melanjutkannya lagi. Kalau suntuk, sesekali
aku buka FB atau baca buku Travel in Love yang udah seminggu belum juga selesai
ku baca.
Tiba-tiba,
BRUUUKKKKK!
“Eh,
Deeekkk,” pekik kak Dila karena pajangan foto-foto jadul yang ku sandari ternyata
terpeleset dari mejanya. “Patah tuh Bang ukirannya,” kata Kak Dila sambil
membantuku menyambut lukisan itu.
Si abang
langsung merekatkan kembali ukiran yang patah itu dengan lem, aku nyegir karena
merasa bersalah, “ Duuuhh..maafin ya Baaang..” pintaku.
“Hah? Ada
yang patah ya?” kata abang yang lainnya pula.
“Nggak
apa-apa doh, cuma sedikit aja nih,” jawa abang yang tadi.
Aku melirik
mata kak Dila yang sedang fokus ngelihatin abang itu merekatkan ukiran, mataku berbinar
seolah berbicara, “Kak, Abang ini ganteng yaa…” kira-kira begitu. Haha, kak
Dila sudah langsung faham isyarat mataku itu.
“El kenapa
senyum-senyum?” tambah Rini dengan sengaja. Aku terus saja memperhatikan si
abang yang sedang berusaha memperbaiki kerusakan karena ulahku.
Dia udah nikah
n punya 2 anak
Aku membaca
SMS kak Dila yang baru saja dikirimnya. Mataku
membulat, seolah bertanya kembali, “Seriuslah Kak?” dan kak Dila
menganggukkan kepala sekaligus tertawa karenanya.
“Hoawaalaah
El, seleranya kok sama suami orang,” kata Rini lagi setelah si abang pergi.
Huaaahhhh..
“Eh, Dek,
Dek. Tuh lihat Ibu-ibu Pakistan lewat sama anaknya.”
Aku melihat
ke depan. Ada seorang ibu berwajah seperti orang India lewat di depan stand
bersama kedua anaknya.
“Yang jadi
pertanyaan sekarang adalah, mau sampai kapan mereka dipelihara di sini Kak? Kok
bisa gitu dengan leluasa dan bahagia mereka keluyuran kemana aja? Anggap aja
seperti tamu, kita pasti akan menyambut baik siapa pun yang bertamu ke rumah
kita, tapi kalau udah tinggal terlalu lama ya bahaya juga. Kita kan butuh
menafkahi dan ngurusi keluarga kita yang lainnya juga. Nah, itu yang bikin Elis
penasaran.”
“Itulah
Dek, kadang mereka saking udah bosannya makan kue-kue jatah yang dikasih sama
orang Imigrasi itu mereka jual loh sama orang sini. Roti bantal yang besar itu
ada dijualnya Cuma Rp 10.000. Ha, pernah waktu itu malah dijualnya Rp 10.000 3
bungkus.”
Kayaknya
kalau mau tahu banyak hal tentang para imigran itu hanya ada 2 cara; 1. Aku
harus berani mendekati salah satu dari mereka dan tanya-tanya atau yang ke 2.
Aku harus tanya langsung ke Imigrasi, supaya semuanya jelas dan aku bisa
menulis sesuatu dari semua ini. Banyak loh masyarakat yang nggak tahu menahu
tentang kepastian fenomena ini. Pernah juga ada yang menduga mereka membawa
pemahaman yang menyesatkan. Aku sih kurang yakin, soalnya untuk komunikasi
dengan penduduk setempat pun mereka kesulitan dan kerjaannya (setahu aku) cuma keluyuran
doank. Yah, intinya mereka nganggur di sini. Aku takut berburuk sangka aja,
karena walaupun mereka orang asing, tetap aja aku dan mereka adalah saudara
yang harus saling berbaik sangka *ciyeeee, bijaknyaaa..hihii
***
Pukul 18.20wib
Aku duduk
di Stand Kuliner di tengah padatnya tenda dalam Pekanbaru Expo ini. Rini sedang
memesan Juice sedangkan kak Dila masih sibuk memilih-milih jilbab. Ku keluarkan
laptop putih kesayanganku dari dalam tas dan mulailah jemari menari.
“Rini ke
mana?” kak Dila menepuk pundakku dari belakang.
“Beli jus
Kak. Ke sana,” aku menunjuk ke arah selatan dari tempat dudukku ini. Sesekali,
pandanganku menyelip-nyelip ke arah panggung utama yang terhalangi lalu lalang
pengunjung.
“Dek,
belilah air tebunya ke Abang yang itu,” kak Dila menunjuk kea rah penjual air
tebu di dekat stand-stand kabupaten. “Bilang aja nanti dibayar sama Kakak yang
di stand kabupaten Rokan Hilir,” pinta kak Dila. Aku menuruti dan dengan ragu
ku katakan kepada si abang pesan dari kak Dila. Syukurlah ia percaya. “Namanya
aja Kakak udah langganan sama Abang itu Dek!” jelas kak Dila.
Ketika aku
kembali bersama Rini, 3 piring nasi Gurih yang kami pesan sudah terhidang. 5
menit kemudian, aku dan Rini berbuka puasa. Nikmat sekali rasanya ketika air es
tebu ini mengaliri kerongkongan yang dahaga. Nyam-nyam-nyam…
“Dek, Dek,
lihatlah tuh imigrannya,” senggol kak Dila ke pinggangku. Aku menuruti arah
pandangnya dan benar saja, beberapa orang imigran melintas bergantian sambil
melihat-lihat stand di sekitarnya. Ada yang bertubuh tinggi, berkulit putih dan
bermata sipit dan ada juga yang agak hitam seperti orang India. Di antara
beberapa orang yang berseliweran itu, mataku paling terkesan kepada seorang
laki-laki yang ku prediksi berusia 25 tahun ke atas, matanya sipit dan cukup
tinggi. Melihatnya membuatku teringat kepada Jab, buddy-ku selama seminggu di Thailand. Tapi, lebih cakep Jab sih
daripada dia. Hehe.
Jadi ingat
kata-kata teman, “El ni kayaknya emang suka sama cowok yang matanya sipit lah
ya?” haha, kayaknya sih emang bener tuh pendapatnya.
“Rini nggak
habis Rin?” tanyaku kepada Rini yang sedang tekun menghabiskan nasinya.
“Jahat yak
an Rin? Bukannya ditanya: ‘Rini kurang nasinya Rin?’ ini malah mau diminta
porsinya. Hahah.”
“Elysa
emang gitu Kak orangnya,” sahut Rini.
Baru saja
aku mencuri air Tebunya kak Dila dan kak Dila memberikan saran jitu untukkum
“Dek, pergilah ke Stand Sirup Kurnia itu Dek! Mintalah esnya, gratis loh. Bawa
gelasmu itu,” kak Dila menunjuk kea rah barat.
“Seriuslah
Kak? Masa minta cuma-cuma sih?” aku meragu.
“Serius
loh, ngapain Kakak bohong?”
“Darimana
Kakak tahu kalau itu gratis?”
“Udahlah
buruan, pokoknya Kakak jamin omongan Kakak ini bener.”
“Nanti
kalau El malu gimana Kak?”
“Panggil
nama Kakak. Biar Kakak datangin mereka.”
Lalu aku
pergi dengan gelas bekas air tebu tadi dan kembali lagi dengan gelas yang penuh
berisi es berwarna pink kemerahan.
“Malu kau
Dek?” tanya Kak Dila,
“Heheh,
nggak Kak. Tapi, El masih kurang percaya. Untungnya mereka kayak gitu apa ya
Kak?”
“Kan mereka
sedang promosi. Kalau kita pesan langsung ke agennya, sirupnya bakal diantar ke
rumah dan dapat buku gratis pula Dek, untuk wilayah Pekanbaru aja tapi loh.
Kalau ke Bagansiapiapi ya bayarlah. Hehe.”
“Wihhh..baik
banget sih mereka!”
“Ini sirup
asli dari Medan loh Dek. Sirup Kurniaaa,” kak Dila mengulang merknya.
Dipenghujung
maghrib, kak Dila dihampiri oleh mertua dan iparnya yang tadi siang tiba dari
Kubu. Heboh banget obrolan mereka, persis banget kayak 2 orang sahabat yang uda
lama banget nggak ketemu. Aku dan Rini permisi lebih dulu untuk mengejar sholat
maghrib.
“Dek,
tolong kasih tahu mahasiswa sini untuk membuatkan mushola untuk sholat. Besar
dosa pemerintah ini karena nggak memperhatikan tempat sholat. Bangunan mirip
mesjid tapi mushola pun nggak disediakan di sini. Ntah macam mana lahhh…” kata
seorang bapak tak dikenal yang baru saja ke luar dari pintu masuk ke mushola.
Di depan pintu memang tertulis; TOILET DAN MUSHOLA, tapi mushola yang dimaksud
ternyata adalah ruangan panjang yang menyatu dengan tangga naik dan toilet.
Huft! Aku pun setuju dengan keluhan bapak tadi.
Makanya
tadi waktu sholat Ashar, aku lebih memilih untuk sholat si anjungan Pelalawan
karena tempatnya jauh lebih layak dan rapi. Sampai-sampai aku rela ngantri
dengan ibu pemilik mukenah. Daripada harus bayar Rp 2000 dan bertempat di ruang
tanpa batas seperti itu.
Usai sholat
maghrib, aku dan Rini bergegas menuju stand lagi. “Rin, Kakak-kakak yang jagain
kotak uang di toilet itu….”
“Sholat
nggak yaaa?” sambung Rini segera.
“Iya kan
Rin? Kok mereka nggak bergerak juga dari tempat duduknya. Yah, semoga aja
mereka sholat.”
“Aamiin…”
“Eh, Cuy,
kenapa setiap kita sholat, kita sering banget meletakkan tas kita di depan
kita. Alasannya apa?”
“Untuk
batas.”
“Selain itu
apa lagi? Takut tas kita dicuri orang mungkin?”
“Iya, itu
juga sekaligus sih..”
“Bener
jawabanmu tadi Rin. Ta situ gunanya untuk pembatas kalau kita sholat di tempat
terbuka dan kalau kita sholat di mesjid, usahakan cari tempat yang punya
penghalang. Contohnya di belakang pilar-pilarnya..”
“Atau
dipinggirnya…”
“Nah, betul
itu. Yang penting, kita yakin nggak ada orang yang melintas di depan kita.
Karena kalau ada orang yang melintas di depan orang yang sedang sholat itu dosa
besar loh!” mataku terbelalak kepada 2 orang imigran yang berjalan dari arah
berlawanan dari langkah kami. “Rin, lihatlah mereka itu. Ganteng dan keren
banget kan? Ntah mau kemanalah mereka serapi itu? Yang mengherankan itu kok
mereka bisa dengan santai dan aman aja melintas ke sana ke mari di sini?
Kayaknya kita emang baik banget ya? Menyambut setiap orang yang datang ke sini
bahkan sampai tinggal lama kali.”
“Iya..
itulah. Ntah gimana pun,” Rini nggak kalah pusingnya dariku. “El, ingat ya trip
ke-2 kita.”
“Siiipppp.
Mau apa? Mie ayam atau…”
“Aku sate
padang ajalah.”
“Siipppppp…”
***
***
“Kak, El
nggak bisa loh kayak Kakak; sambil makan, sambil lihatin orang-orang yang
lewat. El kalau makan ya makan, nggak bisa sambil-sambilan. Harus fokus gitu.”
“Iya, El
kan kalau nggak 0% ya 100%. Tapi Kakak bisa 2 2nya Dek. Walaupun sedang makan
gini, kalau ada orang yang datang ya Kakak langsung berdiri melayani. Harus
gitu Dek kalau kita mau jadi penjual yang baik. Makanya orang-orang ini senang
sama Kakak, soalnya Kakak rajin kata mereka. Sampai kadang Ibu-ibu geram nengok
Kakak, ‘Biarlah Dila, Ibu aja yang jualin, Dila makan aja. Jangan
berdiri-berdiri, nanti nasi tersuap pula ke hidung’ hahah, lucu Kakak
dengarnya.”
“Berarti
Kakak adalah penjual teladan dan berstandar internasional,” haaalaah, apaan sih
yang aku omongin ini. hihii. Aku, Rini dan kak Dila menyerbu 1 porsi nasi bungkus
yang buanyak banget porsinya. Bertiga pun tetap nggak habis nih nasinya.
Lumayan untuk hemat, karena tadinya kami mau jajan sate atau mie ayam aja.
Pukul
22.00wib,
“Dek,
tolong bawakan 2 plastik besar ini ya. Kakak jalan kaki aja sama teman Kakak ke
hotelnya.”
Aku dan
Rini membawa masing-masing 1 plastik besar dan ngeloyor aja pergi ke parkiran. Kami sadar sih kak Dila belum
juga beranjak dari kerumunan orang-orang tadi, tapi karena pada akhirnya pun
kami akan pulang duluan, ya makanya kami main langsung-langsung aja. Udah
ngantuk banget nih cinnn..
Kami
menitipkan barang-barang tadi ke receptionist lagi, plus jilbab dan gorengan
yang ternyata belum diambil dengan kak Dila. “Rin, ini Abang-abang yang kemarin
salah ku kasihkan kunci motorku Rin. Kayaknya dia ingat deh sama aku. Soalnya
dia senyum-senyum gitu kan waktu kita kasihkan barang-barang tadi?”
“Huffft!”
Hai cintaku, lagi ngapain? aku mengirimi mami SMS.
Lagi mikirin my lovely yang sesaat menghilang
Siapa mi emangnya? Emeh ya? (baca: kucing)
Si Gembrrrootttttt.. Balas mami pula.
Hahaha, doakan semua urusan El lancar dan dimudahkan Allah ya mi.. Daaa, selamat tidurrr...
Aamiin ^_^.. Masih lama lagi tidurnya niii...
Hemm...dia adalah wanitaku. Masih ada sesuatu yang belum sempat juga ku ceritakan dan ku keluhkan kepadanya... Mami, semoga engkau baik-baik saja di sana..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar