Dek, jam berapa ke
kampus?
Aku nggak kuliah
Mbak.
Kalau gitu, kita
selesaikan segera tugas kita yaa…
Lalu, aku kembali kepada kesibukanku terhadap huruf-huruf
bisu. 2 jam kemudian, Romi mengirimiku sms lagi, Mbak,
Romi udah di BEM FKIP.
Aku bergegas berkemas dan beranjak ke BEM FKIP. Romi sudah
stand by di sana dan kami jalan kaki menuju Pendidikan Ekonomi. Ada kelas yang
baru aja selesai UAS, Romi langsung masuk dan aku mengikutinya dari belakang.
Ada 8 orang di kelas ini yang tersisa lalu mulailah Romi menebar pesona. Masih
seperti yang sebelumnya, “Kalau kalian nggak bisa mencapai IPK 4, berarti
kerjaan kalian kuliah-pulang itu nggak guna. Kecuali, IPK 3,7 tapi
kuliah-ngerjain KTI-organisasi, nah itu baru Abang acungi jempol!”
Ada sekitar 6 orang yang daftar dan sisanya masih
fikir-fikir dulu katanya. Aku dan Romi beranjak menuju kelas berikutnya. Kali
ini sasaran kami adalah kelasnya bu Venny yang kelihatannya juga sedang ujian.
Kami rela nunggu agak lama demi sasaran empuk ini. Ada Xhintika yang sedang
nunggu ibu juga di luar kelas. Jadilah kami ngobrol ria tentang skripsi dan
Romi juga ikutan nimbrung tentang pengalamannya di Bengkulu kemarin. Kebetulan
, Xhintika adalah orang Bengkulu. Aku menyimak cerita mereka yang seru banget.
Hemm…jadi rindu dengan Bengkulu.
“…alah, Elis bentar aja tuh nulisnyaaaa,” kata Xhintika. Ah,
selalu seperti itu kalimat-kalimat bertema skripsi yang tertuju kepadaku. Tapi,
nyatanya sampai detik ini aku belum juga bebuat apa-apa. Kadang, di situ saya
merasa sedih! Hikssss.
Bu, ibu di mana? Ini
udah banyak adik-adiknya yang minat daftar KTI bu..
Rencananya, kalau sempat mencuri waktu, aku ingin ke Prodi
dulu untuk menyerahkan nama-nama yang ada ini. Tapi, pesanku tidak juga
berbalas sampai bu Venny ke luar dari kelas. Aku dan Romi siaga di depan pintu
untuk menghalangi adik-adik ini ke luar kelas.
“Masukkk dulu bentar ya Dekkkk..Ada kabar gembira nih yang
akan Abang dan Kak Elis sampaikan,” pinta Romi. Kali ini masih Romi yang
menjadi tumbalku untuk menyampaikan tujuan. Aku nggak sekocak dia dan ini demi
menghindari kebosanan mendengar.
“…mungkin selama ini kita hanya membayar uang untuk kuliah
aja. Cobalah mulai saat ini kita manfaatkan uang yang udah kita bayar itu untuk
fasilitas lainnya. Contohnya Mbak Elis ini, udah ke mana-mana bahkan udah ke
Thailand dan itu gratis, dibiayai oleh Rektorat. Gitu baru kece, nggak usah
khawatir, itu kan uang kita juga kok!” rayu Romi.
Alhamdulillah, pendaftar melonjak. Dari kelas ini kami
berhasil mendapatkan 25 orang lebih peminat. Total semua pendaftar 35 orang-an
hingga kini. Kami kembali ke BEM dengan wajah sumringah. Aku jadi lapar dan
memesan nasi berlauk telur dadar kepada Ibu kantin BEM FKIP. Nggak
nanggung-nanggung, aku sampai nambah dengan lauk ayam sambal. Nyam-nyam-nyam.
*itu perut apa karet yak? Huaahhh.
Yuda datang dan makan di sebelah kanan-depanku, disusul Okta
yang baru saja ke luar kelas dan duduk tepat di depanku. “Ciyeee…pasti Kakak
grogi kan gara-gara ada Yuda di sini?” goda Okta. Aku senyum-senyum nggak jelas
aja mendengarnya.
Tak lama Okta di sini, dia harus masuk kelas lagi pukul
14.00wib. Tapi kami sempat bercerita tentang persiapan Duta Bahasa esok dan
beberapa masalah hidup yang terkadang pelik tapi harus dihadapai ini *lobay!
Hahha. Okta juga sempat bercerita kepadaku tentang dosennya yang marah
kepadanya lantaran Okta ngeMC di acara FKIP Celebration kemarin dan tidak masuk
kelas. *acian aliii yaa ciiin.
“Kak, tiba-tiba tendanya berubah jadi ungu warnanya.”
“Masa iya?”
“Iya. Cobalah lihat kalau nggak percaya,” saran Okta.
Aku melongok dari warung ini dari sela-sela pagarnya.
Ternyata benar kata Okta. Ku raih kamera dan menjepretnya beberapa kali. “Dek,
berarti panggung itu untukmu!” kataku kepada Okta.
“Ya Allah, aamiin. Pas pula itu kan warna kesukaan Okta Kak.
Kemarin padahal masih kuning warnanya kan Cek?”
“Iya Dek. Semoga benar panggung itu untukmu. Untuk kita
maksudnya.”
“Aamiin Kak. Kak, Okta tiba-tiba pengen kali kerja di Balai
Bahasa ini loh. Perhatikanlah, suasananya nggak kayak suasana kantor pada
umumnya. Justru terasa banget kekeluargaannya. Itu yang Okta rasakan setiap
kali ke sana.”
“Widiiih…Kakak juga memikirkan hal yang sama loh Dek. Yah,
kita berdoa aja semoga kita menang dan ada link buat kerja di sana. Kakak juga
kalau menang, berharap banget dikasih kerjaan di sana, walaupun cuma
bantu-bantu memperkenalkan dan sosialisasi bahasa dan nggak digaji pun nggak
apa-apalah.”
“Sama Kak. Okta juga berfikir gitu. Allah Maha menyaksikan
niat mulia kita Kak. Kita sama-sama nggak pengen menang cuma sekedar menang tanpa bakti.”
***
“Kak Titiiiinnn, dicariin Kak Elysa ni haaaa,” teriak Nani
dari teras kepada Titin yang katanya sedang di kosan sebelah. Aku bahagia
mendengar teriakan barusan. Itu artinya antara Titin dan Nani sudah tidak ada
masalah lagi. Alhamdulillah. Aku jadi nggak sabar mendengar ceritanya langsung
dari Titin.
“Tin nggak ada pulsa loh Mamakeee… Mamake pun pake sms
segala, tinggal datang aja pun ke sini.”
Aku dan Titin ngobrol ria di kamarnya. Aku juga sudah
mendengar cerita tentang Nani yang sebenarnya. Aku sangat bersyukur dan bahagia
mendengarnya. Karena, aku sudah faham betul rasanya bermasalah dengan teman
apalagi teman sekamar. Duh! Nggak enak banget lah pokoknya rasanya.
Happy Birthday Titin
^_^ Dari Yaumil
Mataku lekat menatap tulisan indah yang sengaja ditempel
Titin di sela mading di kamarnya. Ketika Titin ke luar dari kamar, aku bertanya
kepada Nani, “Dek, Kak Titin kapan ultahnya ya?”
“Udah lamaa Kak. Kalau nggak salah bulah 3 kemarin deh!”
“Hiiii. Masa iya Dek? Wah, udah lamaaa banget ya. Kakak
nggak update FB dan BBM nih, jadinya gini deh. Ya ampuuun Tin, maafin Mamake
yaaa. Segan pulak kalau baru sekarang Kakak ngucapin dengan ekspresi merasa
bersalah gitu. Hiksss… Ah, Kakak pura-pura nggak tahu aja lah! Tumben juga
Yaumil nggak ngajak-ngajak ngadoin Titin,” gumamku setengah nada.
Aku masih bingung menentukan kreasi jenis apa yang akan ku
pakai untuk besok. Aku bilang ke Titin bahwa aku pengennya yang simple aja. Aku
udah lihat-lihat di IGnya Titin dan udah lihat-lihat tutorial hijab di laptop
Titin tapi belum ada satu pun yang nyantol di hatiku. Hemmm..Titin pun jadi
ikut-ikutan bingung.
Dreettt Dreeettt
HPku bergetar di atas tempat tidur Titin. Aku meraihnya dan
ternyata panggilan dari nama yang belakangan taka sing,
“Hallo Bu…”
“Elysa sedang di mana sekarang?”
“Wah, sekarang udah nggak di kampus lagi Bu,” jawabku ketika
ingatan terhubung dengan pesanku yang tak berbalas tadi pagi. Aku fikir, ibu
baru saja membacanya dan mau bertemu denganku.
“Gimana udah ada nama-nama yang berminat Lis?”
“Ada nih Bu, lumayan banyak juga sampai 20 an orang lebih.”
“Wah, banyak juga ya. Ibu kalau mereka mentah banget juga
nggak maul ah Lis,” jelasnya. Aku tertegun. Loh
Bu, namanya pembimbing ya memang harus membimbing dari awal-lah. Mereka nggak
sama kayak Elis, bahkan mungkin mereka sangat buta tentang KTI, bathinku. “Jadi, apa aja yang udah kamu sampaikan
ke mereka Lis?”
“Kami tadi dan kemarin Cuma memotivasi dan mengiming-imingi
mereka aja Bu tentang betapa enaknya bisa nulis KTI itu. Karena, kalau kami
jelaskan teknis penulisan PKM ke mereka langsung, takutnya mereka malah
mendaftar pun jadi ogah karena udah takut dan stress dulu Bu. Hhehe.”
“Oh gitu. Dari semester berapa aja tuh yang daftar Lis?”
“Semester 2 dan 4 Bu.
“Wah, kalau semester 2 itu kan belum ngambil METOPEL, jadi
agak repot juga tuh membimbingnya karena belum ada bekal sama sekali.”
“Ennngg..tapi nggak juga deh Bu, soalnya PKM itu punya
panduan sendiri dan nggak mirip kayak skripsi kok Bu. Makanya kami bilang ke
mereka supaya jangan khawatir karena akan langsung dibimbing oleh dosennya.
Nah, setidaknya Ibu atau dosen yang lainnya ngasih pengantar ke mereka dulu nih
sebelum mereka dibentuk ke dalam kelompok-kelompok dan mulai ngerjakan.”
“Itulah, Ibu juga pengennya gerak cepat karena targetnya
sebelum libur ini mereka udah punya rancangan ide untuk PKM ini. Kamu bisa
antarkan nama-nama dan nomor telvon mereka ke saya Lis?” tanyanya.
“Hemmm.. Jam berapa tuh Bu? Elis kebetulan mau pergi juga
sama teman ke Kualu. Soalnya ada perlengkapan untuk Final Duta Bahasa besok
yang belum lengkap Bu.”
“Masa kamu ke sini sebentar aja nggak bisa sih Lis? Saya di
jalan Delima kok kan tinggal belok ke kiri aja kalau dari UNRI nggak jauh kok
ke dalamnya sekita 300meter lah. Saya tunggu kamu di sini ya,” tanyanya dengan
nada seolah memaksa.
“Oo’ohhh…iya Bu, Elysa usahakan.”
“Makasih ya Lis. Saya tunggu jam 4,” tutupnya.
Ntah kenapa perasaanku terus saja penuh khawatir dan
debar-debar. Terutama sejak hari minggu, ketika pertama kali aku ditelvon oleh
bu **. Di dalam hatiku hanya ada pertanyaan, bisakah aku bekerjasama dengan baik dalam hal ini? Ntahlah, aku
hanya sedang tidak terlalu yakin. Sebelumnya, aku tidak pernah ada urusan yang
lebih spesifik selain sebagai mahasiswa dan dosen saja.
Hingga pukul 4 sore, aku belum juga menemukan perpaduan gaya
yang tepat untuk penampilanku esok. Titin barusan membatalkan rencana ke Kualu
untuk menjemput make upnya, karena aku sudah setuju menggunakan Wardah saja.
Untungnya Titin mempunyai banyak stok dan perlengkapan untuk itu semua.
Sekarang, aku jadi ragu untuk pergi ke Delima.
Dreettt Dreeet..
HPku bergetar. Aku ragu mengangkatnya dan masih
menimbang-nimbang untuk pergi atau tidak pergi. Kalau aku pergi, motorku pun
sedang tidak sehat, persiapan belum fix, gladi resik dengan Okta belum selesai
dan beberapa persiapan lainnya yang harus diselesaikan serba cepat. Karena
terlalu lama mengangkatnya, panggilan selesai.
Kalau seandainya ibu tidak menelvon lagi, aku akan
mengSMSnya dan meminta maaf karena tidak bisa ke sana lalu ku kirimkan saja
semua nama-nama itu lewat SMS.
Dreettt dreeettt,
Ternyta HPku kembali bergetar. Ku angkat dan ku rapikan
suaraku sebelum berbicara.
“Haloo Elis, kamu di mana?” tanya suara di seberang sana
setengah memekik.
“Bu, mohon maaf nih, ternyata Elis nggak jadi pergi ku
Kualunya jadi Elis juga nggak bisa ke Delima, Bu. Bu, tadi Ibu minta nama-nama
dan nomor HP mereka kan? Gimana kalau Elis ketik aja lewat sms Bu? Nggak
apa-apa Elis ketik aja semuanya. Bisa Bu?” tanyaku hati-hati.
“Kamu kok sombong sekali sih sekarang Lis?” tanyanya dengan
nada tinggi. LOH? Kok jadi ke sana pula arah pembicaraannya? Fikirku.”Apa
karena kamu nggak ada teori lagi sama saya?”
“Loh Bu, bukan itu maksud Elis Bu. Elis juga nggak bisa ke
sana karena persiapan dan gladi resik untuk final Duta Bahasa besok belum si…”
“SMS saya tadi pagi juga nggak kamu balas.” Belum selesai
aku menjelaskan, kalimatku telah terpotong. Seolah ia nggak mau mendengar dan
memahami alasan apapun dari kesibukanku.
“SMS yang mana Bu? Nggak ada masuk Bu ke sini.”
“Kamu jangan bohong ya Lis,” katanya dengan nada tertahan.
“Jilbab kamu itu besar loh! Jangan coba-coba bohong sama saya ya kamu. Masa
nggak masuk sedangkan di HP saya aja ada laporannya.”
Aku tertegun sebentar, mematut diriku yang terpantul dari kaca
besar milik Titin. “Emang nggak ada masuk Bu SMSnya.”
“Kamu ingat dulu waktu kamu baru pulang dari luar negeri,
kamu antarkan tugas kamu malam-malam jam 10 ke rumah saya? Terus saya terima! Saya
kecewa sekali sama kamu ya Lis. Nggak nyangka saya!” . Tak lama telvon
diakhiri.
Aku tidak bisa membalas dengan kata-kata manapun. Bukan
karena aku merasa bersalah atau apa. Aku hanya sedang terheran-heran, bagaimana
bisa cerita ini menjalar sampai ke ranah tak berhubung. Kenapa semuanya jadi
diungkit-ungkit seperti ini? Bahkan yang paling tidak bisa ku terima adalah
ketika jilbabku pun ikut diseret-seret ke permasalahan ini. Kenapa? Kenapa
dosen yang selama ini selalu ku hormati bisa semarah dan setidakbijaksana itu?
“Mamake. Ada apa?” tanya Titin pelan.
“Tin, Mamake ke BEM FKIP dulu ya. Nanti siap-siap aja. Habis
maghrib Mamake jemput.”
“Hati-hati Mamakeee,” teriak Titin.
***
“… ya ampun Mbak. Kok jadi kayak gitu ibu itu ya? Aku nggak suka kalau Ibu itu menghubung-hubungkan ke jilbab segala. Terus
gimana nih cerita kita selanjutnya?” tanya Romi, tak kalah panik. Aku pun sudah
sempat menitikkan air mata ketika menceritakan semuanya.
“Dek, kamu temui Ibu itu dan serahkan nama-nama ini.
Sebelumnya, telvonlah Ibu tu dulu. Bilang, bahwa Mbak nggak bisa ke sana
makanya mu yang ngantarin ke sana. Ini nomornya Dek,” aku menyodorkan HPku
kepada Romi. Ku raih sembarang kertas di atar meja tempat memprint di sudut
ruang serbaguna BEM FKIP ini. Lalu ku tuliskan semua nama-nama yang tertulis di
buku oret-oretku (baca: buku catatan segala catatan)
“Hallo Bu… Iya, ini Romi Bu. Mbak Elis nggak bisa ngantarkan
ke san, jadi Romi nih yang akan ngantarkan Bu. Ibu di mana posisinya sekarang?
Hemmm… oke-oke Bu, Romi langsung ke sana ya Bu.”
“Gimana Dek? Nada bicara Ibu itu kayak orang sedang marah
nggak?”
“Nggak sih Mbak, biasa aja. Romi udah tahu alamatnya.
Buruaan Mbak. Udahlah lah tuh besok-besok aja sisanya,” kata Romi sambil
menarik kertas yang sedang ku tulisi. Masih ada 3 nama lagi yang belum sempat
ku tuliskan di sana. Sedangkan 1 halaman HVS itu sudah penuh. Weeewww! Bu, lihatlah semua ini, kalau memang Elysa
sombong dan nggak mau nolong Ibu, nggak perlu susah payah Elysa ngerjain semua
itu dan bersabar nunggu untuk bisa masuk dari kelas ke kelas, bathinku.
“Astaghfirullah, ya Allah, Mbak. Negri kali Ibu iniii…” lanjut Romi lagi sambil
menyerahkan HPku.
Aku membaca pesan yang ditunjukkan Romi barusan, Elis, ternyata kamu itu tipe orang yang tak
menghargai orang lain ya. Tak sangka saya. Harusnya kamu SMS lah kalau tak bisa
ke Delima jam 4. Saya udah nunggu. Tolong formulis yang sudah mendaftar tadi
titip di Prodi besok pagi. Makasih dan saya tak mau lagi ada komunikasi dengan
kamu. Mudah2an nanti ketika kamu seminar, saya tidak jadi penguji kamu.
Diterima :
16.42.53
03-06-2015
Ludah yang ku telan rasanya berubah jadi pahit sepahit getah
buah Mahoni. Benarkah kalimat ini milik dosenku? Bermimpikah aku? Tapi kenapa
kalau mimpi bisa seburuk ini?
Bu, tadi Elis sedang
memastikan bisa atau tidaknya berangkat. Tapi, ternyata keputusan itu baru ada
ketika tadi Ibu menelvon saya lagi. Maaf ya bu. Bu, saya sangat menghargai ibu
dan semua guru-guru saya ^_^ Balasku
kemudian. Terserahlah, SMS itu dibaca atau langsung dihapus oleh penerimanya
tapi setidaknya aku telah berusaha menjelaskan sesuatu. Sebenarnya masih banyak
lagi yang ingin ku jelaskan, tapi ragu dengan banyak pertimbangan yang
mengirinya. Maka ku cukupkan hanya segitu saja.
Vera datang membawa hills setinggi 10cm berwarna emas untuk
ku coba untuk memakainya. Awalnya aku menolak, tapi karena Vera, Joni dan yang
lainnya memaksa, maka ku coba juga akhirnya.
“Sempit nih Dek Vera di kaki Kakak. Takutnya ntar malah
koyak dan rusak pula,” kataku setelah ku coba memasangnya dan berdiri.
“Masa iya Kak? Tapi kata Kakak ukuran kaki Kakak 39?”
“Iya. Tapi nggak tahu kenapa yang ini nih kecil di kaki Kakak.
Mungkin karena tapak kaki Kakak lebar kali ya?”
Akhirnya sepatu itu dicoba oleh Novi dan ia membooking
sepatu itu untuk jaga-jaga meskipun Novi dan aku sama-sama berniat pakai wedges
saja. Lalu, aku mengajak Dani dan Novi untuk sama-sama gladi resik langsung di
atas panggung. Eh, kebetulan Romi baru aja sampai lagi di sini, aku langsung
menanyainya, “Gimana Dek?”
“Nggak ketemu dengan Ibu tu Mbak karena senamnya udah
dimulai. Jadi, aku titipkan dengan recepcionstnya aja. Mbak tahu nggak kertas
apa yang Mbak pake untuk nulis tadi?”
“Emang kertas apaan Dek?”
“Disebaliknya itu ada lambang dan tulisan tentang PPRF loh,
Mbak. Aku pas tahu itu langsung ku foto kopi dank u masukkan ke dalam amplop.
Wah, jangan sampai pula masalah nambah gara-gara itu kan, huft!”
“Dek, menurutmulah nih! Salah Mbak Dek?” tanyaku serius.
“Mbak mau jawaban yang jujur atau bohong nih?” tanyanya
kembali.
“Jujur deh!”
“Menurutku Mbak salah, Mbak! Tapi jangan marah yaa..”
“Loh? Di mana salahnya coba?”
“Mbak udah tahu nggak bisa pergi, kenapa nggak minta tolong
sama aku aja? Aku kan nganggur, Mbak.”
Oh iya ya, bathinku. “Dek, Mbak sama sekali nggak ingat
dengan mu loh. Soalnya kan yang dimintai tolong kan Mbak, nggak kefikiran pula
untuk mengalihkannya ke orang lain. Mbak terlalu bingung dan banyak
pertimbangan untuk bicara ke Ibu itu Dek. Mau nolak pun nggak bisa. Mbak udah
berusaha jujur nggak bisa ke sana, eh malah diharuskan bisa. Nah, sekalinya
benar-benar nggak bisa ya gini kejadiannya.”
“Mbak, mau bagaimana pun, dosen itu nggak pernah salah. Kita
ini tetap dianggap anak-anak bagi mereka Mbak. Dah, sekarang berdoa aja semoga
dia nggak jadi penguji Mbak waktu Mbak ujian. Nah, nanti kalau sholat atau
sedekah, berdoalah 2 hal Mbak; 1. Ya Allah, tolong lembutkanlah hatinya untuk
memaafkanku, 2. Ya Allah, jika ia tidak mau memaafkanku, jangan sampai aku
terlibat urusan lagi dengannya. Dan, jangan pernah takut dengan manusia Mbak!”
Aku mengilhami kalimat Romi barusan. Dia luar biasa memang.
Dan, akukah yang luar bisa itu?
Aku kemudian mengajak yang lainnya untuk bergegas menuju
Balai Bahasa. Kami berlatih berjalan di atas panggung dan mempelajari cara naik
dan cara turu dari panggung. Ada Yana dan Joni yang senantiasa menunggu dan
ikut-ikutan memberikan saran kepada kami. Gladi resik usai sesaat sebelum azan
Maghrib berkumandang. Semoga persiapan malam ini bisa maksimal.
***
Pukul 20.30wib aku menjemput Titin ke kosannya.Ternyata dia
ketiduran dengan handsfree yang masih terpasang di telinga. Aku
membangunkannya. Sambil membiarkan Titin berkemas-kemas, aku bercerita tentang
kisah tadi siang. Dan inilah komentar Titin, “Mungkin Ibu tu nggak bisa
menerima kesibukan Mamake karena baginya itu nggak masuk akal. Soalnya
mahasiswa kan umumnya nggaklah sampai sesibuk Mamake gitu.”
“Hemm….bisa jadi Tin..hahaa”
Aku membawa Titin ke kosan untuk meletakkan semua
baran-barangnya, kemudian kami berburu jilbab ke warung-warung jilbab
disepanjang Bina Krida. Sempat 1 tempat berburu jilbab dengan Novi, tapi aku
mengajak Titin pindah ke warung lain dengan mengendap-endap.
“Mamake kenapa kok segitunya?”
“Sttt… yang namanya saingan itu nggak enak kalau saling tahu
persiapannya. Mana surprise lagi besok!”
Jilbab satin berwarna ungu dan pashmina blink-blink pilihan
Titin ku terima dengan senang hati. Tak lupa pula ku bayar ke penjualnya
*hahah, nggak mungkin ku colong kan? Hihii. Dilanjutkan dengan ke kosan Vera
untuk menjemput hills hitam yang katanya boleh ku pinjam. Titin bilang, aku
cocok banget menggunakannya daripada menggunakan wedgesnya Titin yang tadinya
juga mau ku pinjam.
“Ini lebih anggun dan cocok kalau dipasangkan dengan baju
melayu Mamake tuuu.”
Setelah dari rumah Vera, kami ngantri cantik di Rahmat
burger untuk membeli jus. Aku pesan jus Terong Belanda, Titin jus Jambu Biji
dan Rini jus Alpokat. Agenda selanjutnya adalah make over jilbab sampai nemu
yang cocok dengan keinginanku. Maka, aku klik banget dengan gaya ala India yang
memang ku request secara pribadi kepada Titin. Heheh. Kata Titin sih aku nggak
cocok pakai gaya itu karena pipiku harus ditutupi, bukan malah dipameri. Hahah.
Tapi, yang judulnya aja Aku udah Suka,
mana peduli lagi aku dengan komentar orang. *di situ kadang saya merasa saya
terlalu egois, hehe.
***
“Ya Allah, sekarang saya baru benar-benar merasa gelisah
karena masalah tadi siang. Ya Allah, tolong Engkau lembutkanlah hatinya untuk
memaafkanku. Dan ini adalah pelajarang berharga untukku. Benar kata Romi, kalau
memang benar ini adalah karma karena kesalahanku, aku harus bersyukur karena
cepat kedatangannya. Dibanding nanti-nanti dan saat itu kita sudah lupa dengan
kesalahan yang pernah kita lakukan. Ya Allah, ampuni aku. Engkau bersamaku,
maka jangan biarkan aku takut.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar