Senggolan tangan Rini dibahuku itu menyentakku,
“Astaghfirullah hal’aziim!” pekikku, seperti biasanya.
Aku terduduk seketika dan panik. Ku raih HP di samping kanan
bantal yang alarmnya masih berdering, Pukul
03.35wib. Hari masih begitu dini ternyata, Syukurlah! Aku beranjak dari tempat tidur lalu bergegas menunaikan
Tahajud. Ini adalah jam tak lazim bagiku. Merasa asing dengan pertigaan malam, padahal inilah
waktu terkhusyuk sesungguhnya. Aku tahu itu, tapi aku sering dibodohi nafsu sendiri.
Ya Allah, bantu aku
menyempurnakan persiapanku di dalam waktu yang tidak lagi lama ini!
“Rin, passwordnya apa nih?”
“Loh? Beneran ada paswordnya?”
“Iyalah! Macam mana nya? Udahlah dia yang bikin!”
Aku sedikit geli. Ternyata Rini benar-benar memprotect
laptopnya karena ngambek sama aku semalam. hihiii. Gara-gara kartu memoriku
nggak ku pinjamin aja puuun, “Ciyeeee, ngambeeek nih yeee. Berarti Rini nggak lulus uji
kelayakaaannn...” godaku semalam.
Azan subuh sudah berkumandang pula. Sementara 1 halaman HVS
ini pun belum juga terisi sempurna. Malah mata sudah sempat pula membuta (baca:
tertidur). Akhirnya ku lanjutkan lagi
setelah ibadah Subuh tertunai. Ideku masih ide awal; MELUHURKAN BAHASA,
MEMULIAKAN BANGSA. Berasal dari syair Gurindam 12 yang berbunyi, “Jika ingin
mengenal suatu bangsa, lihatlah kepada budi bahasa,” keren kan? *biasa aja tuh!
hihiii. Sebenarnya yang membingungkan itu adalah menyajikan ide aplikatif untuk
menyelesaikan masalah kesastraan dan kebahasaan itu sendiri. Tapi, daripada
waktuku habis untuk memikirkan itu, maka aku hanya menjabarkan tentang
manajemen berbahasa; 3 penggunaan bahasa sesuai tempat dan fungsinya. Karena,
penilaian artikel di sini sepertinya berbeda dengan yang dinasional. Jika, aku
berkesempatan menjadi juara 1nya (aamiin), insya allah saran dari bang Hilman
akan sepenuhnya ku terapkan. Yang penting, judulku menarik dulu nih dan EYDnya
udah bener.
Pukul 07.35wib, aku baru selesai dengan artikel Duta Bahasa
dan fixasi draf MC untuk pembukaan MTQ pagi ini. Baju sudah penuh keringat
padahal tampil juga belum nih!. Untungnya proses ngeprinnya cepat, aku segera
ke kampus.
“Mau ke Balai Bahasa, Bang,” kataku kepada pak satpam supaya
diizinkan masuk.
“Oktaaaaaaaaaaa,” pekikku ketika aku baru memasuki pelataran
Balai Bahasa dan melihat kelebatan Okta memasuki gedung ini.
Okta ke luar dan aku segera memberikan artikelku,
“Ini harus rangkap 4 loh, Cek!”
“Nggak mau tahu Cek, pokoknya tolong urusin apa yang kurang
ya. Ini eke mau langsung ke MTQ. Yuhuuu..maaciiii…”
***
Aku berjalan bak putrid keraton. Bukan karena kecantikan
atau penampilanku, tapi karena rok baju melayu yang ku pakai ini sangat sempit
dan aku susah berjalan karenanya. hihiii.
“Mil, perhatiin nggak baju Mamake ini sempit?”
“Awak nggak perhatikan. Tapi, Adek itu bilang kayaknya baju
kita ketukar, hehee. Iya ya Mamake, sempti ya sama Mamake? Berarti ini bajunya
Vera ya yang Umil pake?”
“Iya kayaknya. Waktu dulu Mamake ke Yogya kan pakai baju ini
juga. Dan memang yang Umil pake itu yang Mamake pake waktu itu dan yang ini
dipake Lia.”
Mumpung peserta yang datang masih sepi, kami beringsut ke
kosanku untuk berganti baju. Eh, di dekat pintu masuk FKIP ketemu Oktacek lagi.
Aku hanya menegurnya dengan: “Yuhuuuuuuuu,” aja.
“Nah, ini baru longgar!” kata Yaumil setelah kami bertukar kostum.
“Iya nih. Tadi tersiksa banget untuk jalan.”
Motorku kayaknya mulai berulah nih, bunyi-bunyi terus
sepanjang jalan. Kayaknya ada baut-baut yang copot deh! Tapi, berhubung yang
nyupir bukan aku, yah aku pasrah aja. Soalnya, tuannya pasti tahu cara memperlakukan
motornya dengan baik dan benar.
Kami sudah sampai kembali di venue panjat tebing UR. Masih
ada banyak yang perlu dilatih lagi, maka kami langsung mengambil posisi di
ruang di atas mimbar untuk latihan. Disuruh gladi resik langsung sih, tapi kami
menolak soalnya takut nggak surprise lagi, cee illeeee…
“Awak grogi kali loh Mamake.”
“Nyantai aja Cin.. Bawa senyum. hehe”
***
“MTQ MAHASISWA UNIVERSITAS RIAU. Diselenggarakan oleh UKMI
Ar-Royyan Universitas Riau, 1-5 Juni 2015. Sambutlah, pembawa acara kita, Elysa
Rizka Armala dan Yaumil Atia.”
Itu kalimat yang dibacakan oleh si ikhwan Ar-Royyan.
*makasih ya dek Okta ilmunya, ehhe.
Aku dan Yaumil muncul dari tengah-tengah penontoh, kemudian
menaiki panggung megah bertema hijau-biru nan begitu asri. Bertaburan
bunga-bunga di sepanjang tangga bahkan hingga pelataran panggungnya. Dedaunan
bertuliskan 99 asma Allah melengkung menjadi gerbang panggung ini. Bukan hanya
Yaumil yang terperanga, aku yang bahkan tadi pagi baru datang pun lebih
terperanga.
“….memulai majelis dengan bismillah, jari tersimpuh
menghatur sembah,” kami mengucapkan salam bersama sambil menangkupkan tangan dan sedikit menurunkan tubuh.
“….kepada-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kan kembali,”
Yaumil menyambutku dengan kalimat puji syukur kepada Allah. Lalu, ku sambung
kalimatnya dengan sholawat kepada Rosulullah.
Begitulah seterusnya. Kami sudah faham tentang porsi
masing-masing dan inilah pentingnya LATIHAN. Kami duduk di samping kanan
panggung dan sediki tertutupi oleh dedaunan asmaul husna. Di setiap jeda, kami
selalu mengoreksi apa yang salah dan yang akan disampaikan lagi. Aku pernah salah, Yaumil pun demikian. Tapi,
kami bisa saling menutupi 1 sama lain dan tidak terlalu menghiraukan kesalahan
kami itu. Supaya efek percaya dirilah yang mnucul dari dalam diri dan dirasakan
oleh semua penonton. *ceee illeeee..
“Mil, Mamake langsung ke BEM FKIP ya? Soalnya mau tanya ke
Okta, gimana hasil TM Duta Bahasa tadi.”
“Mamake mau nggak ngantari awak ke kosan dulu? Segan kali
awak pakai baju ini.”
Aku mengantarkan Umil ke kosannya dan disuguhi agar-agar
buatannya yang sungguh manis rasanya pemirsaaa. Semut pun bakal kena diabetes
mungkin, wkwkwkw. Setelah itu, ku antarkan Yaumil ke rektorat, katanya mau
nanyain kejelasan uang MAWAPRES. Aku segera cussss ke BEM FKIP. Eh, selain ada
Okta, ada Yana, Rahel dan Romi juga rupanya.
“Darimana Mbak kok pake baju kayak gitu?”
“NgeMC tadi di pembukaan MTQ.”
“Iyuuuhh, masa Mbak diminta jadi MC? Ntar di sana malah
presentasi KTI pula?” ledek Romcek. Di amah emang selalu iseng begitu
orangnyaaa.
“Kak, udahbaca sms Okta semalam kan?”
Tiba-tiba aku teringat lagi dengan sms ini, Kak, ternyata Okta udah banyak ketinggalan
cerita blog Kakak.
“Udah donk! Tulah kan nggak diupdate..”
“Kak, sumpahlah ya! Si YM itu gitu ya Kak? (aku mengangguk). Ya
Allah Kak, Okta nggak menyangka loh! Pasti Kakak sekarang kecewa banget kaann..”
ujar Okta sok simpatik. “Okta suka dengan Kakak yang berani menyebutkan nama
orangnya kalau Kakak nggak suka. Menurut Okta, itu nggak masalah. Karena Kakak
udah berani jujur dan apa adanya. Tapi beneran loh, Okta nggak nyangka dengan si
YM tuuu.”
“Siapa sih dia tuh woooy!” tanya Romi dan Yana, kepo.
Aku sedang tidak ingin memperjelas yang satu ini. Akhirnya ku
giring pembicaraan ke hasil TM Duta Bahasa tadi pagi.
“Kak, ntah kenapa ya walau pun mereka yang cowok-cowok itu
badannya bagus, ganteng-ganteng, tapi ntah kenapa sampai detik ini Okta nggak
ada mindernya. Biasa aja. Dan Kak, Okta lihat Kakak sangat potensial loh untuk
menang setelah ngelihat yang cewek-cewek tadi. (aku menyimak dengan seirus
sampai keningku berkerut). Dan, ini ntah prasangka Okta aja atau gimana ya Kak,
tadi Okta dengar ibu yang membimbing kami TM tadi tuh bilang gini ke kawannya, ‘Ini
lagi lihat-lihat yang masuk 5 besar!’ katanya Kak sambil memisah-misahkan
berkas kita dan foto-foto kita dilihatin juga.”
“Ah, mungkin Ibu itu cuma bercanda aja, Dek. Jangan terlalu
seriusss. Dia tuh ngumpulin foto-foto itu sesuai seleranya aja karena nggak ada
kerjaan tuh!. eheh. Positif Thinking aja.”
Aku langsung memesan makan siang. Niat hati ingin berlaukkan ekor
ikan Patin, tapi karena udah habis akhirnya ke ikan Lele deh. Bismillah aja,
walau pun kemarin udah tahu gimana kelakuan buruk si Lele. hehe. Okta dan
Romcek pun makan bersamaku.
“Kak Oki Setiana Dewiiii…” teriak Okta kepada Lia dan Rini dan
baru saja datang.
“Hai Adeeeekkk. Ciyee, yang bakal jadi Duta Bahasaaaa,” balas Lia.
Lia dan Rini memastikan apakah berkas KTInya udah ku antar. Heheh,
ini pasti Rini biang kerok kepanikan Lia karena Rin ngelihat pertinggal KTI di
atas tempat tidurku.
“Udah loh! Sejak hari minggu kemarin pun. Itu yang di kamar
pertinggal buat kita.”
“Oooohhh..” kata Rini.
Mereka berdua tak lama di sini dan langsung pamit ke kosanku buat
ngangsur ngerjain PPT buat antisipasi ketidakpastian panitia. Supaya, kapan pun
kami harus presentasi, kami sudah siap. Aku belum bisa pulang karena harus
menunaikan amanah dari bu Heny dulu nih di Pekon.
Kami sholat Zhuhur di Balai Bahasa. Ternyata tempat ini bukan
hanya tempat favoritku dan Okta, tetapi juga tempat favoritnya Romi dan Ditra
untuk sholat. *habisnya deket sih ciiinn! hehe. Eh, sekeluarnya aku dari
toilet, Ditra udah mengimami 3 orang laki-laki itu; Joni, Okta dan Romcek.
*ciyeeee, yang diimami oleh sahabatnya… Semoga kalian cepat romantis kayak dulu
lagi ya, Dek!
***
“Nggak masuk ya kita? Kasih tahu aku kalau masuk ya, aku titip tas
nih!,” kata Romcek kepada ke 5 orang teman perempuannya itu. “Yuk Mbak! Kita
cari mangsa!”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar