Minggu, 07 Juni 2015

Presiden Novel Indonesia


“Rin, aku bener-bener nggak bisa ikut Musyma nih ternyata. Jam 9 ini aku ada acara FLP juga. Hemmm… setidaknya aku udah datang bentar kemarin walaupun sebelum acaranya mulai. Hehe.”
“Arassoohh. Aku duluan pergi ya. Daaa,” Kata Rincuy.
Giliran aku yang bergegas setelah menulis beberapa postingan yang belum lengkap. Eh, pas aku mau ke luar pintu kosan, masih ada Rincuy di teras, “El, antarinlah aku. Ntah kapan pun aku dijemputnya nih!”
Niatku untuk berjalan kaki aja ke kampus berubah. Tanpa mengiyakan Rincuy, aku segera masuk ke dalam lagi untuk mengambil kunci motor. Eh, ketika aku kembali mengunci pintu kamar, Rini berteriak, “El, aku duluaaaaaaan.” Huh! Kepiye toh ndukkk?
Aku fikir aku sudah terlambat, ku lirik jam di HP, 08.55wib. Huft syukurlah!
Barusan aku nerima sms dari nomor tak bernama, katanya acara FLPnya di saung MTK. Padahal semalam aku dapat sms acaranya di saung Bahasa Indonesia. Aku mampir ke MTK dan ternyata belum ada orang di sana. Ku lanjutkan langkah ke Bahasa Indonesia dan ternyata tidak ada orang juga. Ku putuskan untuk menunggu kepastian sambil mengetik di koridor di dekat HIMA PBSI. Tempat ini punya kenangan, ketika Okta menjelaskan teknis pemilihan Duta FKIP setahun yang lalu kepadaku, Lia dan Inur.

Ada 2 orang yang baru saja memarkirkan motornya, mereka mendekat kemudian menyalamiku. Salah satunya adalah Tiwi, adik bimbingan club menulisku di FLP. Ah, aku ingat dia sekosan dengan Titin dan Titin pernah bilang bahwa dia sering menceritakan tentangku tapi setiap kali aku main ke kosan Titin, dia nggak pernah berani menyapaku. Huahahhhhh, kenapa bisa gitu sih dek? *Ya, aku sok cool aja jadinya.
Yang cewek di saung MTK, yang cowok di saung Bahasa Indonesia
Setelah menerima sms itu, aku langsung mengajak 2 adik ini ke saung MTK. Ada mbak Sugi dan bang Alam juga di sana ternyata dan beberapa orang lainnya. Masih sepi sih sebenarnya, tapi lebih jelas menunggunyadaripada di sana tadi, sepi.
“Elysa nggak dapat undangan dari Bang Wira kemarin?” tanya bang Alam.
“Ada Bang, tapi ada acara juga kemarin makanya nggak bisa pergi. Rame kemarin yang pergi Bang?”
“Rame, itu aja pas kami datang acaranya udah selesai.”
“Hah? Masa iya Bang?”
“Makanan udah pada habis, tapi tetap banyak juga sih yang datang. Ya soalnya kan mereka nyewa gedung di PTPN V kemarin tuu. Eh, nama-nama Adik binaan Elysa udah diterima kan?”
“Udah Bang. Ini sedang nunggu yang lainnya, baru 2 orang yang udah datang.”

Tak lama kemudian, bang Alam dan peserta cowok memisahkan diri ke saung Bahasa Indonesia. Kami pun demikian, beranjak ke Balai Bahasa karena mengantisipasi keributan acara Family Gatheringnya HIMA PENTIKA di sebelah saung ini.
“Elis bantuin Mbak nanti mengecek bacaan mereka dan minta mereka presentasi tentang bacaannya itu yaa,” pinta mbak Sugi di tengah perjalanan kaki kami.
“Sip sip Mbak.”
Seperti khalaqoh pada umumnya, acara dimula dengan membaca Al-Quran secara bergilir (kali ini 5 ayat per orang) dan langsung dilanjutkan dengan materi keislaman dari mbak Sugi.
“…jadi tolong dihafal ya surat Asy-Syuara ayat 224-227 itu karena di sana termuat ancaman untuk penyair-penyair yang dimurkai Allah dan criteria penyair yang diridhoi oleh Allah. Penyair yang dimaksud di sini bukan hanya pembaca puisi, tetapi juga penulis karena ia merangkai kata-kata dengan indah. Nah, dakwah bil qolam (Dakwah dengan PENA) yang sebenarnya adalah ketika kita bisa menjawab syair-syair orang-orang kafir dengan tulisan yang mencerahkan. Misalnya ada yang mendeskreditkan orang-orang Islam, lalu kita menulis tentang hal-hal yang berkebalikan dengan itu. Pernah dengar nama Zainab al Ghazali? Nah, dia menulis artikel di Mesir dengan kondisi pemerintahan mesir yang otoriter dan dia berani mengkritisi kondisi tersebut. Lalu dia ditangkap dan dipenjara di tempat yang gelap dan di penuhi anjing. Dia berdoa agar Allah menghilangkan rasa sakit karena gigitan anjing-anjing itu.Begitulah orang-orang yang dekat dengan Allah, tidak ada sesuatu yang mustahil di dunia ini. Dakwah itu kan ada 2; amar makruf dan nahi mungkar. Coba kita maksimalkan lewat pena kita ini untuk bisa menyampaikan kebaikan tersebut.”

Mbak sugi jeda sejenak sebelum memasuki penyampaian berikutnya.
“Tauhidullah artinya mengesakan Allah. Kenapa kita mengawali materi dari sini? Supaya dalam berkarya, kita berkarya dengan mengedepankan nilai-nilai akidah yang benar. Agar kita tidak melakukan pembenaran terhadap kondisi yang rusak bahkan ikut-ikutan terlibat di dalamnya. Kalau kita berbicara tentang tauhidullah, sesungguhnya inilah inti dari berbagai masalah dalam kehidupan kita. Bisa diartikan bahwa orang yang ketauhidannya sudah benar, maka ia akan mengembalikan semua masalahnya kepada Allah. Ada yang tahu apa saja tauhidullah?”
Semua peserta menggeleng-gelengkan kepala sambil saling bertatap-tatapan.
“Segala sesuatu yang membuat kita resah, galau dan membaut kita tidak nyaman ternyata resepnya ada pada tauhidullah itu. Ketika kita disibukkan dengan masalah-masalah, ternyata itu indikasi bahwa tauhidullah kita terkendala. Ada 3 aspek di sini; yang pertama, Allahlah satu-satunya Sang Maha Pencipta. Ada yang bisa membantu saya mendeskripsikannya?”
Mala mengangkat tangannya, “Mungkin jika itu berbentuk ujian, itu bertujuan untuk kebaikan kita. Bahwa Allahlah yang menghendaki segala sesuatu yang terjadi kepada kita.”
Seorang perempuan nomor 2 dari sebelah kananku angkat bicara juga, “Allah sebagai pencipta itu adalah Allahlah sebagai pencipta segala sesuatu di dunia ini, termasuk diri kita maka seharusnya sebagai seorang hamba, kita harus berserah diri kepada-Nya.”

“Baik, berarti intinya kita meyakini bahwa Allahlah yang telah menciptakan segala sesuatunya. Jadi, disitulah yang membedakan nilai-nilai aqidah kita dengan orang di luar golongan kita. Di dalam surat Al-Furqon ayat ke 2, dijelaskan bahwa kita telah diciptakan dan ditetapkan oleh Allah dengan ukuran-ukuran yang tepat. Yang kedua adalah Allahlah satu-satunya sang Maha Pemberi Rezeki. Kalau kita memahami ini, seharusnya kita tidak perlu merasa resah dan gelisah ketika tidak punya uang atau belum bertemu jodoh, karena semuanya telah diatur oleh Allah. Maka, kalau hal ini sudah benar-benar kita fahami, kita akan menjadi orang yang ridho dan santai. Bumi ini luas dan semua ini diperuntukkan untuk kita, tapi persoalannya bukan rezeki yang tidak datang, tapi persepsi kita yang salah terhadap rezeki itu. Bukankah ini yang sebenarnya sering kita hadapi di dalam hidup ini? Ada orang yang masalahnya sedikit, tapi udah heboh banget. Tapi ada juga orang yang banyak masalahnya, tapi bisa tetap tenang. Maka, sebenarnya masalah itu hanya terletak pada soal persepsi dan perspektif. Misalnya selama ini dia selalu ngirim karya ke media tapi nggak terbit-terbit juga, atau yang ikut lomba dan nggak pernah menang, maka kalau orang yang punya persepsi berbeda, ia akan mengubah cara mencapainya. Mungkin selama ini hanya fokus menulis cerpen dan kini ia mulai mencoba menulis puisi atau essay atau mengganti media sasarannya. Pokoknya dia menjadi kreatif dan tidak stress karena kegagalannya karena ia meyakini bahwa Allah telah mengatur rezekinya.”
Mbak Sugi melanjutkan kembali, “Yang ketiga adalah Allahlah Sang Raja, satu-satunya pemilik kerajaan langit dan bumi. Allahlah yang mengatur dan berkuasa atas segala rezeki. Pentingnya materi ini bukan hanya untuk kalian hafal, tapi untuk kita implementasikan ke dalam karya-karya kita apapun jenisnya. Jangan sampai berfikir FLP kok idealis banget ya? Belum apa-apa udah dikasih materi sedalam ini? Kalau  pun di dalam tulisan kita itu tidak mengandung amar ma’ruf nahi mungkar, setidaknya tidak ada kemungkaran di dalam tulisan-tulisan kita.”

Setelah mbak Sugi menutup materinya, ia menyerahkan kepadaku untuk pesannya tadi.
“Nah, sekarang adalah saatnya mengoreksi tugas baca Adik-adik semua. Silahkan sebutkan buku apa yang dibaca, siapa penulisnya dan sampaikan hikmah atau intisarinya. Oke, dimulai dari sebelah kiri Kakak. Kepada ek Eli, disilahkan.”
“Eli membaca buku dari Habiburrahman El Sirazi dengan judul Pudarnya Pesona Cleo Patra. Menceritakan tokoh aku yang dijodohkan dengan Rihana karena kedua orang tuanya adalah bersahabat sejak di pesantren. Setelah mereka menikah, tokoh aku itu semakin memberontak dan mengutuk kenapa dirinya tidak juga bsia mencintai istrinya? Tapi, Rihana tetap menyayangi dan berbakti kepada suaminya. Suatu ketika, tokoh aku bertemu dengan seseorang yang mempunyai istri seorang gadis mesir dan pernikahannya kacau. Maka, dia sadar dan menutup mimpi-mimpinya tentang sosok istri idamannya; wanita mesir yang cantiknya seperti Cleo Patra. Untung saja istrinya adalah orang jawa, fikirnya. Tapi, si aku tetap saja berkeras hati dan belum bisa mencintai istrinya sampai istrinya hamil besar dan pulang kampung ke rumah orang tuanya. Suatu hari, ia menemukan surat istrinya di bawah tempat tidurnya dan membaca surat yang berisi kata-kata cinta untuknya. Ia terharu dan seketika muncullah cinta di dalam hatinya. Tapi dia terlambat karena ternyata istrinya telah meninggal seminggu yang lalu, juga dengan si jabang bayi. Hikmah dari cerita ini adalah bahwa kita harus mensyukuri nikmat dari Allah dan mencintai istri atau suami kita karena Allah.”

Eli menarik nafas sebelum melanjutkan cerita keduanya di dalam buku yang sama.
“Berikutnya adalah cerita yang berjudul Setetes Embun Cinta Niyala. Ada 2 tokoh utama di dalam cerita ini; Niyala dan Fai. Jadi begini… bla.bla.bla… Niyala tidak ingin dijodohkan dengan Fai karena masa lalu Fai yang buruk dan Niala mengetahui segalanya. Niala meminta Fai untuk berbohong tentang dirinya bahwa dia sudah punya orang yang dia cintai bahkan sejak SMP. (ntah bagaimana ceritanya, aku kecolongan menyimak) Fai menikahi Niala malam itu juga dengan mahar 85 juta dari hasil tabungannya selama kuliah di luar negeri… bla.bla.bla.”
“Selanjutnya, Mala. Disilahkan,” kataku.
“Maaf sebelumnya, saya baru membaca karena saya juga baru tahu pada hari jumat tentang tugas ini. Buku ini menceritakan tentang perjodohan juga, judulnya Melepas Ranting Hati. Bla..bla..bla”
“Selanjutnya, disilahkan,” karena aku nggak tahu nama Adek itu.
“Saya akan menceritakan dari BAB 7 saja dari buku Agar Bidadari Cemburu Padamu karya Salim A Fillah. Disebutkan bahwa: Jika kau benar mencintainya, maka ikutilah langkahnya. Seperti firman Allah di dalam Al-Quran bahwa kalau kita mencintai Allah, maka kita harus mengikuti perintah dan ajaran yang disampaikan oleh Rosulullah. Maka kita akan dicintai oleh Allah dan Rosulullah. Setiap ibadah, harus didasarkan atas cinta dan ikhlas karena Allah. Berikutnya, waktu juga harus kita gunakan dengan sebaik-baiknya karena sesungguhnya hal yang sering kita lalaikan adalah kelapangan. Kata Hasan Al Bana: ‘kalau saja waktu bisa ku beli, maka aku akan membelinya dari orang-orang yang menganggur itu agar bisa ku jadikan ibadah-ibadah yang produktif’.”
“Selanjutnyaaa…” pintaku.
“Antologi cerpen dan puisi daerah. Dan, dari sekian banyak yang saya baca, saya terkesan dengan cerpen yang judulnya Tandus. Ini tentang seorang anak yang tidak pandai mengendalikan egonya. Ketika ayahnya meninggal, dia tidak pandai dan mahir mengolah perusahaan. Hinggak suatu hari ia dijodohkan oleh ibunya dengan Ningrum yang merupakan sarjana Ekonomi supaya bisa membantu mengurus perusahaan. Tapi Arman malah menolak dan justru semakin terjerumus ke dalam dunia malam karena pengaruh teman-temannya. Ternyata temannya yang bernama Sillu adalah penipu internasional sehingga harta perusahaan ludes dan Arman jatuh miskin. Ibunya juga telah lama meninggal setelah Arman mengecewakannya. Nah, ada juga puisi tentang Aceh yang saya sukai di sini, bla bla bla.”

“Silahkan selanjutnya.”
“Ana nggak baca novel atau puisi atau cerpen seperti teman-teman yang lain. Tapi karena ini akan memasuki bulan Ramadhan, maka ana membaca buku tentang Indahnya Bulan Ramadhan di Rumah Kita. Nah, jadi bulan Ramadhan diibaratkan sebagai kedatangan sang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Maka, tentu kita harus menyibukkan diri untuk menyambutnya dan penuh gembira. Apakah ramadhan kali ini akan kita sambut dengan cara seperti itu atau bagaimana? Silahkan teman-teman jawab di dalam hati. Rosulullah juga paling banyak berpuasa di bulan syakban karena ini merupakan persiapan menyambut kedatangan ramadhan. Mari kita meningkatkan tilawah juga menjelang bulan ramadhan, sebagaimana kita tahu bahwa 10 hari pertama adalah rahmat, 10 hari pertengahan adalah pengampunan dan 10 hari terakhir adalah pembebasan dari siksa api neraka. Kemudian, ada beberapa golongan orang-orang yang berpuasa; yang pertama, golongan puasa orang umum (hanya menahan lapar dan haus), golongan orang khusus (plus menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa dan makruhnya puasa), yang ketiga adalah golongan orang super khusus (golongan yang selain yang dua tadi, dia menambahkan dengan peningkatan kedekatan diri kepada Allah). Nah, semua itu harus diprogramkan sebelum ramadhan, jangan setelah ramadhan datang dan baru kaget: ‘eh, ramadhan udah datang ya?’ Hehe.”
Tanpa ku persilahkan, perempuan di sebelahnya melanjutkan bicara. “Menurut saya, kisah cinta di dalam novel Assalamualaikum Beijing ini biasa saja sama seperti ksiah cinta pada umumnya. Tapi, cara Asma Nadia menyuguhkannya itulah yang membuat saya terkesan. Bla.bla.bla.”
Ketika ku lihat sebelah kiriku sudah tuntas dan terhanti di mbak Sugi, “Ayok silahkan yang disebelah kanan saya,” sambil tersenyum.
“Saya akan mengupas tentang buku teman kita yaitu Suci Ramadhani, yang berjudul RPP Muslimah. Nah, yang akan saya kupas terutama adalah tentang galau yang sering sekali kita alami. Galau adalah kondisi dimana kita merasa resah. Tips yang pertama supaya tidak galau adalah sabar, yang kedua adalah curhat kepada Allah yang ketiga adalah zikir yaitu dengan mengingat Allah. Dia mengatakan bahwa ada beberapa sebab orang tidak mau berprestasi; 1. Wajah tidak mendukung 2. Berkaca mata 3. Urusan Jerawat 4. Nggak cantik atau nggak ganteng lalu minder. Ini adalah salah satu buku yang sangat inspiratif dan menyajikan langkah-langkah bagaimana kita sebagai muslimah harus berprestasi. Jangan hanya karena urusan ketidaksempurnaan fisik, kita jadi minder dan nggak mau berprestasi.”

Dua perempuan di sebelahnya  menolak berbicara karena mengaku belum membaca bukutersebab nggak tahu tentang penugasan ini. Lalu ku persilahkan perempuan di sebelah mereka berdua untuk menyampaikan bacaannya tentang sirah Nabawiyah.
“Sedikit evaluasi untuk kita semua, kita diwajibkan untuk membaca minimal 1 buku dalam sepekan ya, bukan 1 bab atau 1 cerpen saja. Nah, ini umpamanya seperti Resensi, tapi secara lisan. Silahkan, disampaikan keunggulan atau kekurangan buku yang kit abaca tersebut. Dan sangat dianjurkan untuk kita semua untuk membaca buku-buku sastra. Wajib  hukumnya setiap anggota FLP bisa menulis cerpen. Hehehe. Mungkin ada yang ingin ditanyakan? Oh ya, 2 pekan dalam ramadhan, masih berlangsung ya pertemuan menulisnya.”
Eli bertanya, “Pertemuannya setiap pekan juga Mbak?”
“Iya, setiap pekan juga. Mau diliburkan sayang, karena kita juga butuh belajar. Tapi, itu bisa dilobi dengan mentornya. Terserah gimana enaknya, siapa tahu ada yang mau memadatkan jadwal supaya cepat selesai juga boleh.”
Beberapa orang berikutnya bertanya tentang buku-buku sastra kepada mbak Sugi dan mbak Sugi menjawabnya“…Jadi Habiburrahman El Siraz itu termasuk dewan pertimbangan FLP, makanya sastranya bentuknya pencerahan seperti itu. Tapi kalau sastra religus belum ada secara khusus labelnya. Karena sastra pencerahan itu adalah sastra religious. Tapi kalau dalam puisi, ada puisi sufi istilahnya. Riau ini seharusnya bisa menjadi kiblat sastra karena kejayaan kita sudah dimulai sejak dulu, tapi sekarang justru terpuruk dan tidak pesat perkembangannya. Sutarji Coulzum bahri salah satu sastrawan dari Riau yang namanya sudah harum sampai ke tingkat nasioanl dan dinobatkan sebagai Presiden Penyair di Indonesia, kampungnya di Rengat.”

Ya Allah, aku pengen dinobatkan sebagai Presiden Novel Indonesia, doaku di dalam hati. Tapi, bagaimana mungkin? 5 buah novel pun belum pernah ku terbitkan. Hiksss… just bismillah on beginning.
“Kak, Kakak sedang ngapain? Boleh lihat apa yang sedang Kakak tulis?” tanya perempuan di sampingku.
“Nggak boleh Dek, heeh” jawabku sambil tersenyum. Wajar saja kalau dia penasaran, karena aku terus mengetik selagi bincang-bincang ini berlangsung. Semoga yang tertangkap adalah yang terbaik dan pilihan karena ku racik dengan penghayatan dan pengalaman secara langsung. Hemmm..nyesal, kenapa waktu di Thailand kemarin belum serajin ini ya? Padahal banyak penghayatan dan pemaknaan yang tentunya bisa ku hasilkan dari pengalaman tersebut. Hikssss.. ya Allah, terbangkan aku lagiiii….
“…jadi sebenarnya penulis adalah orang yang paling mahir dalam membunuh waktu luang. Salah satunya dengan cara membaca dan menulis.” Tutupku setelah dipersilahkan memberikan closing statemen oleh mbak Sugi. Sebuah kehormatan bagiku.

***
“Elceeeekkkk!” teriak Okta dari koridor Bahasa Indonesia ketika aku melangkah ke luar dari Balai Bahasa.
Aku menghampirinya. Dia sedang bersama seorang abang yang selalu mengejeknya begini, “Okta, kalau duduk cukup 1 kursi ajalah. Jangan sampai 2 kursi gitu.” see? Hahah. Kasihan ya Okcek. Karena lapar, aku ngajaki Okta untuk get lunch di Pondok Hijau. Kami berjalan berdua menuju PH, sementara Joni sedang masuk kelas. Okta ngakunya nggak mau makan karena masih kenyang, tapi dia gangguin aku makan sampai pesan nasi tambah segala. Hahaa…. Nggak Cuma itu, dia juga beli tela-tela dengan uangnya yang tersisa; Rp 3000. Hehehe.
Barulah setelah itu kami kembali ke saung Bahasa Indonesia. Okcek mengaktifkan Wifi Hotspotnya untuk membaca blogku sementara aku sholat Zuhur duluan di mushola alam (karena ruangannya terbuka) di samping saung.
Aroma amis milik para Nila terhirup olehku. Melongokkan kepala ke bawah saung sepintas, maka mata akan disuguhkan dengan kelebatan para Nila berbadan tanggung itu. Kini, aku sedang menyaksikan Okta dan Joni melempatkan kunyahan tela-tela dari mulur mereka ke kolam dan langsung diperebutkan oleh para Nila. Gemericik suara peralihan air dari pipa ke kolam ikan ini pun membuat suasana menjadi sedemikian asri. Joni baru saja datang dan langsung sholat Zuhur di mushola alam juga.

“Kak, Kakak anak FLP kan? (aku manggut-manggut) Okta mau nantangin Kakak. Dalam waktu sejam, coba Kakak tulis puisi tentang suasana di taman ini. Tapi jangan diposting dulu, nanti Okta koreksi dulu. Halah, sok-sok ngoreksi pula si Okta nih kata si Elis di dalam hati. Hahaah” tebak Okta.
Lalu, dia sholat dan aku mulai mengetik. Tapi, hanya berhasil 3 baris saja dan aku menunjukkannya kepapada Okta. “Koreksilah Cek!” pintaku.
“Nggak ada yang mau dikoreksi. Nggak bagus pun puisinya.” GUBRAKKK! Ampyun daahhhh….
Ada aku, Okta abang pengejek Okta yang belum juga ku tahu namanya dan Joni yang sedang ngecas HP di sudut saung. Kami bertiga saling bertebak teka-teki untuk membunuh kantuk dan suntuk. Perutku sampai sakit banget karena teka-teki konyol si Okta. Tapi, pada akhirnya aku menyerah juga kepada lelah, “Dek, Kakak pulang dulu yaaa.. Ngantuk. Terus, baju Kakak pun ada yang masih belum disetrika juga nih.”
“Okeh. Hati-hati Elceekkk,” pekik Okta.

***
“Astaghfirullahal ‘azim. Jam berapa ini?” aku terkejut dan terbangun mendadak dari tidur nyenyakku. Mau melihat HP, HPnya lupa ku cas. Lalu ku nyalakan laptop. Pukul  16.20wib. Aku bergegas sholat Ashar dan ketika aku sudah rakaat ke 2, Rincuy pulang.
“Kamu pasti baru pulang juga kan?” tanya Rini ketika aku selesai sholat.
“Baru bangun tidur Cuy. Duh, enak banget loh tidurnya. Kipas anginnya sepoy-sepoy euy!” jawabku antusias. “Eh, bajumu itu kasihan loh kering kerontang di luar.”
“Biarin ajalah. Kan orang itu di luar nyaaa.”
“Ih, emang nggak punya perasaan. Aku bisa mendengar jeritan dan teriakan mereka untuk minta diangkat ke dalam loh!”
“Ada gila gilanya El ni. (Rini melangkah ke jendela kamar) Mana ada orang tu teriak-teriak? Tenang ajanya orang tu di luar.”
“Emang Rini nggak peka! Aku aja merasa kasihan dengan mereka. Sejak tadi aku memikirkan nasib mereka yang badannya udah retak-retak karena kepanasan.”
Rini membulatkan matannya, “Emang ada gila gilanya El ni.”
Giliran Rini yang sholat Ashar. Setelah itu, dia mengeluarkan nasi bungkusnya dari Musyma yang baru berakhir tadi.
“Rin, cepat atau lambat, akan tiba masanya kita akan saling mengurusi diri masing-masing.”
“Hemmm..bener-bener-bener. Tapi, kok El tiba-tiba ngomong gitu?”
“Karena tiba-tiba aja aku teringat dengan ** dan ** yang nggak bisa memahami ketidakhadiran dan ketidaksempatanku.”

Tidak ada komentar: