“Rin, aku bener-bener nggak bisa ikut Musyma nih ternyata.
Jam 9 ini aku ada acara FLP juga. Hemmm… setidaknya aku udah datang bentar
kemarin walaupun sebelum acaranya mulai. Hehe.”
“Arassoohh. Aku duluan pergi ya. Daaa,” Kata Rincuy.
Giliran aku yang bergegas setelah menulis beberapa postingan
yang belum lengkap. Eh, pas aku mau ke luar pintu kosan, masih ada Rincuy di
teras, “El, antarinlah aku. Ntah kapan pun aku dijemputnya nih!”
Niatku untuk berjalan kaki aja ke kampus berubah. Tanpa
mengiyakan Rincuy, aku segera masuk ke dalam lagi untuk mengambil kunci motor.
Eh, ketika aku kembali mengunci pintu kamar, Rini berteriak, “El, aku
duluaaaaaaan.” Huh! Kepiye toh ndukkk?
Aku fikir aku sudah terlambat, ku lirik jam di HP, 08.55wib.
Huft syukurlah!
Barusan aku nerima sms dari nomor tak bernama, katanya acara
FLPnya di saung MTK. Padahal semalam aku dapat sms acaranya di saung Bahasa
Indonesia. Aku mampir ke MTK dan ternyata belum ada orang di sana. Ku lanjutkan
langkah ke Bahasa Indonesia dan ternyata tidak ada orang juga. Ku putuskan
untuk menunggu kepastian sambil mengetik di koridor di dekat HIMA PBSI. Tempat
ini punya kenangan, ketika Okta menjelaskan teknis pemilihan Duta FKIP setahun
yang lalu kepadaku, Lia dan Inur.
Ada 2 orang yang baru saja memarkirkan motornya, mereka
mendekat kemudian menyalamiku. Salah satunya adalah Tiwi, adik bimbingan club
menulisku di FLP. Ah, aku ingat dia sekosan dengan Titin dan Titin pernah
bilang bahwa dia sering menceritakan tentangku tapi setiap kali aku main ke kosan
Titin, dia nggak pernah berani menyapaku. Huahahhhhh, kenapa bisa gitu sih dek?
*Ya, aku sok cool aja jadinya.
Yang cewek di saung
MTK, yang cowok di saung Bahasa Indonesia
Setelah menerima sms itu, aku langsung mengajak 2 adik ini
ke saung MTK. Ada mbak Sugi dan bang Alam juga di sana ternyata dan beberapa
orang lainnya. Masih sepi sih sebenarnya, tapi lebih jelas menunggunyadaripada
di sana tadi, sepi.
“Elysa nggak dapat undangan dari Bang Wira kemarin?” tanya
bang Alam.
“Ada Bang, tapi ada acara juga kemarin makanya nggak bisa
pergi. Rame kemarin yang pergi Bang?”
“Rame, itu aja pas kami datang acaranya udah selesai.”
“Hah? Masa iya Bang?”
“Makanan udah pada habis, tapi tetap banyak juga sih yang
datang. Ya soalnya kan mereka nyewa gedung di PTPN V kemarin tuu. Eh, nama-nama
Adik binaan Elysa udah diterima kan?”
“Udah Bang. Ini sedang nunggu yang lainnya, baru 2 orang
yang udah datang.”
Tak lama kemudian, bang Alam dan peserta cowok memisahkan
diri ke saung Bahasa Indonesia. Kami pun demikian, beranjak ke Balai Bahasa
karena mengantisipasi keributan acara Family Gatheringnya HIMA PENTIKA di
sebelah saung ini.
“Elis bantuin Mbak nanti mengecek bacaan mereka dan minta
mereka presentasi tentang bacaannya itu yaa,” pinta mbak Sugi di tengah
perjalanan kaki kami.
“Sip sip Mbak.”
Seperti khalaqoh pada umumnya, acara dimula dengan membaca
Al-Quran secara bergilir (kali ini 5 ayat per orang) dan langsung dilanjutkan
dengan materi keislaman dari mbak Sugi.
“…jadi tolong dihafal ya surat Asy-Syuara ayat 224-227 itu
karena di sana termuat ancaman untuk penyair-penyair yang dimurkai Allah dan
criteria penyair yang diridhoi oleh Allah. Penyair yang dimaksud di sini bukan
hanya pembaca puisi, tetapi juga penulis karena ia merangkai kata-kata dengan
indah. Nah, dakwah bil qolam (Dakwah dengan PENA) yang sebenarnya adalah ketika
kita bisa menjawab syair-syair orang-orang kafir dengan tulisan yang
mencerahkan. Misalnya ada yang mendeskreditkan orang-orang Islam, lalu kita
menulis tentang hal-hal yang berkebalikan dengan itu. Pernah dengar nama Zainab
al Ghazali? Nah, dia menulis artikel di Mesir dengan kondisi pemerintahan mesir
yang otoriter dan dia berani mengkritisi kondisi tersebut. Lalu dia ditangkap
dan dipenjara di tempat yang gelap dan di penuhi anjing. Dia berdoa agar Allah
menghilangkan rasa sakit karena gigitan anjing-anjing itu.Begitulah orang-orang
yang dekat dengan Allah, tidak ada sesuatu yang mustahil di dunia ini. Dakwah
itu kan ada 2; amar makruf dan nahi mungkar. Coba kita maksimalkan lewat pena
kita ini untuk bisa menyampaikan kebaikan tersebut.”
“Tauhidullah artinya mengesakan Allah. Kenapa kita mengawali
materi dari sini? Supaya dalam berkarya, kita berkarya dengan mengedepankan
nilai-nilai akidah yang benar. Agar kita tidak melakukan pembenaran terhadap
kondisi yang rusak bahkan ikut-ikutan terlibat di dalamnya. Kalau kita
berbicara tentang tauhidullah, sesungguhnya inilah inti dari berbagai masalah
dalam kehidupan kita. Bisa diartikan bahwa orang yang ketauhidannya sudah
benar, maka ia akan mengembalikan semua masalahnya kepada Allah. Ada yang tahu
apa saja tauhidullah?”
Semua peserta menggeleng-gelengkan kepala sambil saling bertatap-tatapan.
“Segala sesuatu yang membuat kita resah, galau dan membaut
kita tidak nyaman ternyata resepnya ada pada tauhidullah itu. Ketika kita
disibukkan dengan masalah-masalah, ternyata itu indikasi bahwa tauhidullah kita
terkendala. Ada 3 aspek di sini; yang
pertama, Allahlah satu-satunya Sang Maha Pencipta. Ada yang bisa membantu
saya mendeskripsikannya?”
Mala mengangkat tangannya, “Mungkin jika itu berbentuk
ujian, itu bertujuan untuk kebaikan kita. Bahwa Allahlah yang menghendaki
segala sesuatu yang terjadi kepada kita.”
Seorang perempuan nomor 2 dari sebelah kananku angkat bicara
juga, “Allah sebagai pencipta itu adalah Allahlah sebagai pencipta segala
sesuatu di dunia ini, termasuk diri kita maka seharusnya sebagai seorang hamba,
kita harus berserah diri kepada-Nya.”
“Baik, berarti intinya kita meyakini bahwa Allahlah yang
telah menciptakan segala sesuatunya. Jadi, disitulah yang membedakan
nilai-nilai aqidah kita dengan orang di luar golongan kita. Di dalam surat Al-Furqon
ayat ke 2, dijelaskan bahwa kita telah diciptakan dan ditetapkan oleh Allah dengan
ukuran-ukuran yang tepat. Yang kedua
adalah Allahlah satu-satunya sang Maha Pemberi Rezeki. Kalau kita memahami
ini, seharusnya kita tidak perlu merasa resah dan gelisah ketika tidak punya
uang atau belum bertemu jodoh, karena semuanya telah diatur oleh Allah. Maka,
kalau hal ini sudah benar-benar kita fahami, kita akan menjadi orang yang ridho
dan santai. Bumi ini luas dan semua ini diperuntukkan untuk kita, tapi
persoalannya bukan rezeki yang tidak datang, tapi persepsi kita yang salah
terhadap rezeki itu. Bukankah ini yang sebenarnya sering kita hadapi di dalam
hidup ini? Ada orang yang masalahnya sedikit, tapi udah heboh banget. Tapi ada
juga orang yang banyak masalahnya, tapi bisa tetap tenang. Maka, sebenarnya
masalah itu hanya terletak pada soal persepsi dan perspektif. Misalnya selama
ini dia selalu ngirim karya ke media tapi nggak terbit-terbit juga, atau yang
ikut lomba dan nggak pernah menang, maka kalau orang yang punya persepsi
berbeda, ia akan mengubah cara mencapainya. Mungkin selama ini hanya fokus
menulis cerpen dan kini ia mulai mencoba menulis puisi atau essay atau
mengganti media sasarannya. Pokoknya dia menjadi kreatif dan tidak stress
karena kegagalannya karena ia meyakini bahwa Allah telah mengatur rezekinya.”
Mbak Sugi melanjutkan kembali, “Yang ketiga adalah Allahlah Sang Raja, satu-satunya pemilik kerajaan
langit dan bumi. Allahlah yang mengatur dan berkuasa atas segala rezeki.
Pentingnya materi ini bukan hanya untuk kalian hafal, tapi untuk kita
implementasikan ke dalam karya-karya kita apapun jenisnya. Jangan sampai
berfikir FLP kok idealis banget ya? Belum apa-apa udah dikasih materi sedalam
ini? Kalau pun di dalam tulisan kita itu
tidak mengandung amar ma’ruf nahi mungkar, setidaknya tidak ada kemungkaran di
dalam tulisan-tulisan kita.”
Setelah mbak Sugi menutup materinya, ia menyerahkan kepadaku
untuk pesannya tadi.
“Nah, sekarang adalah saatnya mengoreksi tugas baca
Adik-adik semua. Silahkan sebutkan buku apa yang dibaca, siapa penulisnya dan
sampaikan hikmah atau intisarinya. Oke, dimulai dari sebelah kiri Kakak. Kepada
ek Eli, disilahkan.”
“Eli membaca buku dari Habiburrahman El Sirazi dengan judul
Pudarnya Pesona Cleo Patra. Menceritakan tokoh aku yang dijodohkan dengan
Rihana karena kedua orang tuanya adalah bersahabat sejak di pesantren. Setelah
mereka menikah, tokoh aku itu semakin memberontak dan mengutuk kenapa dirinya
tidak juga bsia mencintai istrinya? Tapi, Rihana tetap menyayangi dan berbakti
kepada suaminya. Suatu ketika, tokoh aku bertemu dengan seseorang yang
mempunyai istri seorang gadis mesir dan pernikahannya kacau. Maka, dia sadar
dan menutup mimpi-mimpinya tentang sosok istri idamannya; wanita mesir yang
cantiknya seperti Cleo Patra. Untung saja istrinya adalah orang jawa, fikirnya.
Tapi, si aku tetap saja berkeras hati dan belum bisa mencintai istrinya sampai
istrinya hamil besar dan pulang kampung ke rumah orang tuanya. Suatu hari, ia
menemukan surat istrinya di bawah tempat tidurnya dan membaca surat yang berisi
kata-kata cinta untuknya. Ia terharu dan seketika muncullah cinta di dalam
hatinya. Tapi dia terlambat karena ternyata istrinya telah meninggal seminggu
yang lalu, juga dengan si jabang bayi. Hikmah dari cerita ini adalah bahwa kita
harus mensyukuri nikmat dari Allah dan mencintai istri atau suami kita karena
Allah.”
Eli menarik nafas sebelum melanjutkan cerita keduanya di
dalam buku yang sama.
“Berikutnya adalah cerita yang berjudul Setetes Embun Cinta
Niyala. Ada 2 tokoh utama di dalam cerita ini; Niyala dan Fai. Jadi begini…
bla.bla.bla… Niyala tidak ingin dijodohkan dengan Fai karena masa lalu Fai yang
buruk dan Niala mengetahui segalanya. Niala meminta Fai untuk berbohong tentang
dirinya bahwa dia sudah punya orang yang dia cintai bahkan sejak SMP. (ntah
bagaimana ceritanya, aku kecolongan menyimak) Fai menikahi Niala malam itu juga
dengan mahar 85 juta dari hasil tabungannya selama kuliah di luar negeri…
bla.bla.bla.”
“Selanjutnya, Mala. Disilahkan,” kataku.
“Maaf sebelumnya, saya baru membaca karena saya juga baru
tahu pada hari jumat tentang tugas ini. Buku ini menceritakan tentang
perjodohan juga, judulnya Melepas Ranting Hati. Bla..bla..bla”
“Selanjutnya, disilahkan,” karena aku nggak tahu nama Adek
itu.
“Saya akan menceritakan dari BAB 7 saja dari buku Agar
Bidadari Cemburu Padamu karya Salim A Fillah. Disebutkan bahwa: Jika kau benar mencintainya,
maka ikutilah langkahnya. Seperti firman Allah di dalam Al-Quran bahwa kalau
kita mencintai Allah, maka kita harus mengikuti perintah dan ajaran yang
disampaikan oleh Rosulullah. Maka kita akan dicintai oleh Allah dan Rosulullah.
Setiap ibadah, harus didasarkan atas cinta dan ikhlas karena Allah. Berikutnya,
waktu juga harus kita gunakan dengan sebaik-baiknya karena sesungguhnya hal yang
sering kita lalaikan adalah kelapangan. Kata Hasan Al Bana: ‘kalau saja waktu
bisa ku beli, maka aku akan membelinya dari orang-orang yang menganggur itu
agar bisa ku jadikan ibadah-ibadah yang produktif’.”
“Selanjutnyaaa…” pintaku.
“Antologi cerpen dan puisi daerah. Dan, dari sekian banyak
yang saya baca, saya terkesan dengan cerpen yang judulnya Tandus. Ini tentang seorang anak yang tidak pandai mengendalikan
egonya. Ketika ayahnya meninggal, dia tidak pandai dan mahir mengolah
perusahaan. Hinggak suatu hari ia dijodohkan oleh ibunya dengan Ningrum yang
merupakan sarjana Ekonomi supaya bisa membantu mengurus perusahaan. Tapi Arman
malah menolak dan justru semakin terjerumus ke dalam dunia malam karena
pengaruh teman-temannya. Ternyata temannya yang bernama Sillu adalah penipu
internasional sehingga harta perusahaan ludes dan Arman jatuh miskin. Ibunya
juga telah lama meninggal setelah Arman mengecewakannya. Nah, ada juga puisi
tentang Aceh yang saya sukai di sini, bla bla bla.”
“Silahkan selanjutnya.”
“Ana nggak baca novel atau puisi atau cerpen seperti
teman-teman yang lain. Tapi karena ini akan memasuki bulan Ramadhan, maka ana
membaca buku tentang Indahnya Bulan Ramadhan di Rumah Kita. Nah, jadi bulan
Ramadhan diibaratkan sebagai kedatangan sang kekasih yang sudah lama tidak
bertemu. Maka, tentu kita harus menyibukkan diri untuk menyambutnya dan penuh
gembira. Apakah ramadhan kali ini akan kita sambut dengan cara seperti itu atau
bagaimana? Silahkan teman-teman jawab di dalam hati. Rosulullah juga paling
banyak berpuasa di bulan syakban karena ini merupakan persiapan menyambut
kedatangan ramadhan. Mari kita meningkatkan tilawah juga menjelang bulan
ramadhan, sebagaimana kita tahu bahwa 10 hari pertama adalah rahmat, 10 hari
pertengahan adalah pengampunan dan 10 hari terakhir adalah pembebasan dari
siksa api neraka. Kemudian, ada beberapa golongan orang-orang yang berpuasa;
yang pertama, golongan puasa orang umum (hanya menahan lapar dan haus),
golongan orang khusus (plus menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa dan
makruhnya puasa), yang ketiga adalah golongan orang super khusus (golongan yang
selain yang dua tadi, dia menambahkan dengan peningkatan kedekatan diri kepada
Allah). Nah, semua itu harus diprogramkan sebelum ramadhan, jangan setelah
ramadhan datang dan baru kaget: ‘eh, ramadhan udah datang ya?’ Hehe.”
Tanpa ku persilahkan, perempuan di sebelahnya melanjutkan
bicara. “Menurut saya, kisah cinta di dalam novel Assalamualaikum Beijing ini biasa saja sama seperti ksiah cinta
pada umumnya. Tapi, cara Asma Nadia menyuguhkannya itulah yang membuat saya
terkesan. Bla.bla.bla.”
Ketika ku lihat sebelah kiriku sudah tuntas dan terhanti di
mbak Sugi, “Ayok silahkan yang disebelah kanan saya,” sambil tersenyum.
“Saya akan mengupas tentang buku teman kita yaitu Suci
Ramadhani, yang berjudul RPP Muslimah.
Nah, yang akan saya kupas terutama adalah tentang galau yang sering sekali kita
alami. Galau adalah kondisi dimana kita merasa resah. Tips yang pertama supaya
tidak galau adalah sabar, yang kedua adalah curhat kepada Allah yang ketiga
adalah zikir yaitu dengan mengingat Allah. Dia mengatakan bahwa ada beberapa
sebab orang tidak mau berprestasi; 1. Wajah tidak mendukung 2. Berkaca mata 3.
Urusan Jerawat 4. Nggak cantik atau nggak ganteng lalu minder. Ini adalah salah
satu buku yang sangat inspiratif dan menyajikan langkah-langkah bagaimana kita
sebagai muslimah harus berprestasi. Jangan hanya karena urusan
ketidaksempurnaan fisik, kita jadi minder dan nggak mau berprestasi.”
Dua perempuan di sebelahnya menolak berbicara karena mengaku belum membaca
bukutersebab nggak tahu tentang penugasan ini. Lalu ku persilahkan perempuan di
sebelah mereka berdua untuk menyampaikan bacaannya tentang sirah Nabawiyah.
“Sedikit evaluasi untuk kita semua, kita diwajibkan untuk membaca
minimal 1 buku dalam sepekan ya, bukan 1 bab atau 1 cerpen saja. Nah, ini
umpamanya seperti Resensi, tapi secara lisan. Silahkan, disampaikan keunggulan
atau kekurangan buku yang kit abaca tersebut. Dan sangat dianjurkan untuk kita
semua untuk membaca buku-buku sastra. Wajib
hukumnya setiap anggota FLP bisa menulis cerpen. Hehehe. Mungkin ada
yang ingin ditanyakan? Oh ya, 2 pekan dalam ramadhan, masih berlangsung ya
pertemuan menulisnya.”
Eli bertanya, “Pertemuannya setiap pekan juga Mbak?”
“Iya, setiap pekan juga. Mau diliburkan sayang, karena kita
juga butuh belajar. Tapi, itu bisa dilobi dengan mentornya. Terserah gimana
enaknya, siapa tahu ada yang mau memadatkan jadwal supaya cepat selesai juga
boleh.”
Beberapa orang berikutnya bertanya tentang buku-buku sastra
kepada mbak Sugi dan mbak Sugi menjawabnya“…Jadi Habiburrahman El Siraz itu
termasuk dewan pertimbangan FLP, makanya sastranya bentuknya pencerahan seperti
itu. Tapi kalau sastra religus belum ada secara khusus labelnya. Karena sastra
pencerahan itu adalah sastra religious. Tapi kalau dalam puisi, ada puisi sufi
istilahnya. Riau ini seharusnya bisa menjadi kiblat sastra karena kejayaan kita
sudah dimulai sejak dulu, tapi sekarang justru terpuruk dan tidak pesat
perkembangannya. Sutarji Coulzum bahri salah satu sastrawan dari Riau yang
namanya sudah harum sampai ke tingkat nasioanl dan dinobatkan sebagai Presiden
Penyair di Indonesia, kampungnya di Rengat.”
Ya Allah, aku pengen
dinobatkan sebagai Presiden Novel Indonesia, doaku di dalam hati. Tapi,
bagaimana mungkin? 5 buah novel pun belum pernah ku terbitkan. Hiksss… just
bismillah on beginning.
“Kak, Kakak sedang ngapain? Boleh lihat apa yang sedang
Kakak tulis?” tanya perempuan di sampingku.
“Nggak boleh Dek, heeh” jawabku sambil tersenyum. Wajar saja
kalau dia penasaran, karena aku terus mengetik selagi bincang-bincang ini
berlangsung. Semoga yang tertangkap adalah yang terbaik dan pilihan karena ku
racik dengan penghayatan dan pengalaman secara langsung. Hemmm..nyesal, kenapa
waktu di Thailand kemarin belum serajin ini ya? Padahal banyak penghayatan dan
pemaknaan yang tentunya bisa ku hasilkan dari pengalaman tersebut. Hikssss.. ya
Allah, terbangkan aku lagiiii….
“…jadi sebenarnya penulis adalah orang yang paling mahir
dalam membunuh waktu luang. Salah satunya dengan cara membaca dan menulis.”
Tutupku setelah dipersilahkan memberikan closing statemen oleh mbak Sugi.
Sebuah kehormatan bagiku.
***
“Elceeeekkkk!” teriak Okta dari koridor Bahasa Indonesia
ketika aku melangkah ke luar dari Balai Bahasa.
Aku menghampirinya. Dia sedang bersama seorang abang yang
selalu mengejeknya begini, “Okta, kalau duduk cukup 1 kursi ajalah. Jangan
sampai 2 kursi gitu.” see? Hahah. Kasihan ya Okcek. Karena lapar, aku ngajaki
Okta untuk get lunch di Pondok Hijau. Kami berjalan berdua menuju PH, sementara
Joni sedang masuk kelas. Okta ngakunya nggak mau makan karena masih kenyang,
tapi dia gangguin aku makan sampai pesan nasi tambah segala. Hahaa…. Nggak Cuma
itu, dia juga beli tela-tela dengan uangnya yang tersisa; Rp 3000. Hehehe.
Barulah setelah itu kami kembali ke saung Bahasa Indonesia.
Okcek mengaktifkan Wifi Hotspotnya untuk membaca blogku sementara aku sholat
Zuhur duluan di mushola alam (karena ruangannya terbuka) di samping saung.
Aroma amis milik para Nila terhirup olehku. Melongokkan kepala
ke bawah saung sepintas, maka mata akan disuguhkan dengan kelebatan para Nila
berbadan tanggung itu. Kini, aku sedang menyaksikan Okta dan Joni melempatkan
kunyahan tela-tela dari mulur mereka ke kolam dan langsung diperebutkan oleh
para Nila. Gemericik suara peralihan air dari pipa ke kolam ikan ini pun
membuat suasana menjadi sedemikian asri. Joni baru saja datang dan langsung
sholat Zuhur di mushola alam juga.
“Kak, Kakak anak FLP kan? (aku manggut-manggut) Okta mau
nantangin Kakak. Dalam waktu sejam, coba Kakak tulis puisi tentang suasana di
taman ini. Tapi jangan diposting dulu, nanti Okta koreksi dulu. Halah, sok-sok
ngoreksi pula si Okta nih kata si Elis di dalam hati. Hahaah” tebak Okta.
Lalu, dia sholat dan aku mulai mengetik. Tapi, hanya
berhasil 3 baris saja dan aku menunjukkannya kepapada Okta. “Koreksilah Cek!”
pintaku.
“Nggak ada yang mau dikoreksi. Nggak bagus pun puisinya.”
GUBRAKKK! Ampyun daahhhh….
Ada aku, Okta abang pengejek Okta yang belum juga ku tahu
namanya dan Joni yang sedang ngecas HP di sudut saung. Kami bertiga saling
bertebak teka-teki untuk membunuh kantuk dan suntuk. Perutku sampai sakit
banget karena teka-teki konyol si Okta. Tapi, pada akhirnya aku menyerah juga
kepada lelah, “Dek, Kakak pulang dulu yaaa.. Ngantuk. Terus, baju Kakak pun ada
yang masih belum disetrika juga nih.”
“Okeh. Hati-hati Elceekkk,” pekik Okta.
***
“Astaghfirullahal ‘azim. Jam berapa ini?” aku terkejut dan
terbangun mendadak dari tidur nyenyakku. Mau melihat HP, HPnya lupa ku cas.
Lalu ku nyalakan laptop. Pukul 16.20wib.
Aku bergegas sholat Ashar dan ketika aku sudah rakaat ke 2, Rincuy pulang.
“Kamu pasti baru pulang juga kan?” tanya Rini ketika aku
selesai sholat.
“Baru bangun tidur Cuy. Duh, enak banget loh tidurnya. Kipas
anginnya sepoy-sepoy euy!” jawabku antusias. “Eh, bajumu itu kasihan loh kering
kerontang di luar.”
“Biarin ajalah. Kan orang itu di luar nyaaa.”
“Ih, emang nggak punya perasaan. Aku bisa mendengar jeritan
dan teriakan mereka untuk minta diangkat ke dalam loh!”
“Ada gila gilanya El ni. (Rini melangkah ke jendela kamar)
Mana ada orang tu teriak-teriak? Tenang ajanya orang tu di luar.”
“Emang Rini nggak peka! Aku aja merasa kasihan dengan
mereka. Sejak tadi aku memikirkan nasib mereka yang badannya udah retak-retak
karena kepanasan.”
Rini membulatkan matannya, “Emang ada gila gilanya El ni.”
Giliran Rini yang sholat Ashar. Setelah itu, dia
mengeluarkan nasi bungkusnya dari Musyma yang baru berakhir tadi.
“Rin, cepat atau lambat, akan tiba masanya kita akan saling
mengurusi diri masing-masing.”
“Hemmm..bener-bener-bener. Tapi, kok El tiba-tiba ngomong
gitu?”
“Karena tiba-tiba aja aku teringat dengan ** dan ** yang
nggak bisa memahami ketidakhadiran dan ketidaksempatanku.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar