Sabtu, 20 Juni 2015

Ramadhan ke-3; Menang atau Kalah itu Tentang Selera Juri

Kalau loe ngelihat ada 2 orang cewek yang jalan kaki dini hari dan celingukan nyari tempat makan, itu gue dan Rini orangnya! hahaha
***
“Maaf ya Café Ceria, kami nggak mampir di tempatmu malam ini. Karena, hargamu nggak bersahabat dengan kantong kami,” kata Rini ketika kami melewati café Ceria.
“Kita makan di mana nih jadinya? Tempat Abang rajin buka nggak ya tuh?”
“Nggak buka El. Kita ke Putri Tiga aja.”
Akhirnya aku dan Rini memilih RM. Putri Tiga sebagai tempat sahur kami. Letaknya di 1/3 bentangan jalan Bina Krida ini, tepat di sebelah RM. Panam Raya yang lebih ramai karena tempatnya lebih bagus dan lebih besar di sini. Tapi, tunggu dulu, kenapa Rini nggak mau ke sana?
“Aku malas aja sama Ibu itu. Ntah kenapa masih kecewa aku sama kejudesannya kemarin.”
“Ibu itu kasir atau pelayan Rin?”
“Kadang dia duduk di kasir, kadang melayani juga. Atau mukanya memang gitu ya dari sononya?”
Rasanya, dulu aku pernah makan di situ bersama Icha dan Riris kalau nggak salah. Dan, seingatku aman-aman aja sih waktu itu pelayanannya, cuma agak lama karena ramai pengunjung. Hemm..mungkin nasibnya Rini kemarin sedang nggak bagus.
Aku ingat belum membalas SMS mami semalam,
Kemarin ngantar Nilamnya jam 4 Mi. Nggak nangis kok dia mi kayaknya

Ketika kami sedang berjalan menuju mushola Arrafah, mami nelvon.
“…nggak ada kok Nilam nangis kemarin Mi.”
“Itulah, kemarin dia bilang mau lihat baju gamis tuu tapi Mbak Ela nggak punya uang lagi katanya.”
Aku terkejut. Mulai khawatir mami akan menanyakan kebenaran hal itu kepadaku.
“Lah, Ummi bilang kan lebaran masih lama, kecuali tinggal sebentar lagi dan belum beli baju. Nanti kalau udah mau pulang baru dikirim uangnya dan belilah baju di sana. Ini menyibuk kali, kayak uda mau lebaran aja. Udah sahur ni?”
Aku lega sebenar lega karena dugaanku tidak wujud. “Udah Mi. kami sahur di luar dan ini menuju mushola biar sholat Subuh sekalian sebelum pulang.”
Aku ingin menanyakan lagi saat ini juga tentang Muhrim-Non Muhrim yang udah 2x ku SMS mami buat nanyain hal itu ke papi. Tapi, ntah kenapa aku menangkap sinyal bahwa mami memang nggak/belum ingin membahas itu. Niatku urung seketika.
“Edo mana Mi?”
“Tu lagi nyuci piring.”
“Weewww hebaatt..”
Aku pun sangat berharap bahwa dek Edo adalah Muhrimku. Menutup aurat setiap ke luar dari rumah untuk menghindari pandangan non muhrim sudah biasa ku lakukan. Tapi, bagaimana kalau ternyata non muhrim itu ada di rumahku sendiri? Sejujurnya, aku paling tidak suka ketidaknyamanan dan keterbatasan di rumahku sendiri. Hiksss..

***
Mbak, Edo pulang hari jumat atau sabtu. Jadi, kalau mau jumpa edo di loket ALS Pekanbaru aja.
Yang beberapa hari ini sedang difikirkan dan dikhawatirkan akhirnya terjawab. Aku sedih sebenarnya karena belum ketemu Edo, eh orangnya udah mau pulang lagi. Tapi, yang melegakan adalah karena aku tidak khawatir lagi dan bisa lebih leluasa kalau nanti pulang ke rumah. Hemm…tinggal dek Alfi nih yang ntah gimana ceritanya nanti.
Hah? Cepat kali dek? Balasku kemudian.
Hehe.. tahun ini belum bisa lebaran di sini karena mau minta izin mamak dan untuk pindah sekolah ke sini. Kalau tahun depan bisa lebaran di sini.
Oh, ternyata bukan hanya Alfi yang pengen tinggal dan sekolah di sini. Edo juga iya. Ya Allah, ntah apa yang dilakukan oleh keluargaku, terutama mami sehingga banyak sekali saudara yang senang datang ke mari.
Tanggung kalau Edo pindah ke sini pas udah kelas 3. Mending kuliahnya aja di sini. Hehee
Iya ya Mbak. Ya udah, ikut pendapat mbak ela aja.
Hehe. Bilang sama mama coba.
Iya..ntar dibilang.
Aku lega ya Allah. Terimakasih atas jawabanmu ini. Terimakasih Allah-ku.

***
Pukul 12.00wib, Lia tiba di kosanku dari perjalanan pulang kampungnya. Syukurlah! Aku fikir, Lia bakal lama sampai di sininya dari Kampar. Waktu Lia datang, aku nyaris terlelap. Kalau terlambat dikit aja, pasti aku udah lewat. Heheh.
“Cin, kalau ada orang yang nggak balas pesan kita, jangan langsung berfikiran bahwa dia marah sama kita. Berfikir positif aja, mungkin dia nggak sempat balas atau dia sedang ada kesibukan lain. Supaya, kita pun nggak mudah terpancing untuk marah ke orang lain,” saran Lia ketika aku curhat tentang beberapa orang yang berubah ramahnya kepadaku.
Obrolan beralih kepada tunggakan uang kosanku. Aku udah telat bayar 5 hari, itu artinya dendaku udah Rp 10.000. hiksss. Niat hati mau meminjam uangnya Lia, eh ternyata uangnya Lia pun pas-pasan banget sebanyak uang kosanku. Ya udah, pilih makan atau pilih bayar kosan? Hiksss. Ya Allah, segerakanlah datangnya rezekimu itu… aamiin.

***
Aku membiarkan angin menerbangkan jilbab unguku sesukanya. Sementara Rini sudah standby dengan kamera untuk memfotoku. Cuaca siang ini memang sangat terik, tapi Alhamdulillah dari lantai 2 masjid Arfaunnas ini, semilir angin syurga telah menggantikan posisi dahaga.
Peserta lainnya masih belum lengkap. Lia sudah asyik bersama Al-Qurannya sejak beberapa menit tadi. Aku menyusulnya menekuri Al-Quran, Rini juga.
“Yuk, kita langsung ke ruangan LPIQ,” ajak Hompi -panitia MTQ- menuju ruangan yang terletak di sebelah kiri mesjid, di lantai 2 ini.
Kami telah berada di dalam ruangan berukuran 3x4cm ini. Ada kami bertiga, 3 orang dari kelompok 2 dan 1 orang dari kelompok 1 (Catatan: kelompok menunjukkan juara). Selain itu, ada Fahri sebagia ketua pelaksana dan Ustad Fahri yang kemarin menjadi juri dan hari ini membimbing kami.
“Utusan dari setiap cabang lomba sudah kami dapatkan pada tanggal 30 Juni ini, jadi setidaknya pada tanggal 28 Juni semua pembinaan sudah selesai dan kami sudah mendapatkan nama-nama tersebut,” jelas Fahri. Setelah acara dibuka oleh Fahri, ustad Fahri dipersilahkan untuk menyampaikan materi. (Ini ceritanya, nama ustad dan ketua pelaksanannya sama-sama Fahri ya pemirsaaa).
“…jadi, ananda sekalian yang paling penting di sini bukan pada lombanya, tapi pada pengalaman menulis ilmiah dan kontribusi kita atas persoalan agama. Tujuan dari eksplorasi kandungan Al-Quran ini adalah untuk membesarkan Al-Quran itu sendiri, bukannya ide kita yang jadi terlihat seolah-oleh lebih besar daripada Al-Quran. Perbedaan KTI Al-Quran dengan KTI Sekuler adalah: KTI Al-Quran berangkat dari keyakinan terhadap kebenaran Al-Quran, sedangkan KTI Sekuler berangkat dari keragu-raguan atau hipotesa. Selanjutnya, ada 3 hal utama dalam KTI Al-Quran yaitu; 1. Bersifat reflektif referensial, yaitu cerminan dari fenomena sosial yang dibutuhkan solusinya. Idealnya, dalam 1 halaman itu mempunya 3 referensi. Jadi, dalam 10 halaman ini setidaknya punya 30 referensi.”

How could it, ustad? 10 halaman maksimal itu kan bukan hanya teori aja isinya. Dalam bab Gagasan pun nggak semuanya diisi dengan teori. Macam mana nya ustad niii?, fikiranku menerawang.
“2. Sifatnya Tematik. Kita harus menghimpun semua ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan topik yang kita bahas, tapi bukan mengkliping ayat ya! Setelah itu, barulah kita perkuat dengan hasil penelitian para ilmuan. Ananda bisa mendownload ebook yang berjudul Wawasan Al-Quran karya Quraish Sihab di internet. Ia sangat mahir dan terampil dalam menjabarkan makna kandungan Al-Quran.”
Aku jadi teringat kembali saran ini. Saran yang pernah disarankan oleh 3 orang juri ketika final kemarin, ya salah satunya adalah ustad Fahri ini. Tapi, sampai detik ini belum juga ku download. Hiksss.
“Dan yang ke 3. Bersifat Ilmiah-Popouler. Aritnya, bahasa yang digunakan dalam penulisan KTI Al-Quran ini harus bisa dikonsumsi oleh semua kalangan dan level pendidikan, tidak terlalu ilmiah sehingga sulit difahami dan tidak kaku. Nah, besar harapan kepada generasi muda muslim untuk selalu rajin menulis seperti orang-orang zaman dahulu. Sekarang, jumlah Yahudi sebesar 12 juta jiwa sedangkan jumlah muslim sebesar 1,6 Milyar, tapi kita hanya mampu menghasilkan 3000-4000 karya ilmiah. Jauh tertinggal dengan Yahudi yang sudah mencapai 5000-6000 karya. Ini adalah PR besar kita. Kita adalah mayoritas tapi terkesan seperti minoritas. Mereka minoritas tapi seolah-olah mayoritas karena karyanya. Tulislah tema-tema yang bermanfaat dan harus up date ilmu.”
Ketika dipersilahkan bertanya, aku mengangkat tangan dan menanyakan beberapa hal kepada ustad. Dari penjelasannya, aku menemukan ada sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikiranku. Dan, ternyata dek Intan juga memikirkan hal yang sama. Kemudian, dek Intan mencoba memperjelas keadaan dengan mengimbuhkan pertanyaannya di atas pertanyaanku,
“Ustad, setahu saya PKM-GT itu memang yang diminta adalah gagasan penulisnya atau produknya sebagai solusi yang ditawarkan. Kalau tentang memperkuat teori atau menolak teori itu bukan di PKM GT setahu saya, tapi di PKM-AI. Nah, inilah yang ingin saya tanyakan Ustad, mana yang lebih utama; kita mengeksplorasi kandungan alquran saja atau sekaligus mengajukan ide sebagai solusi kita dalam bentuk produk?”

Aku, Rini dan Lia manggut-manggut. Rasanya, pertanyaan Intan barusan sudah sangat mewakili beberapa hal yang sebelumnya tak sempurna ku tanyakan.
“…jika disertai dengan gagasan, tentu saja itu adalah hal yang baik. Tapi, sebenarnya saya pun belum membaca dengan seksama panduan PKM-GT ini, termasuk waktu menjadi hakim kemarin. Kalau saya menyimpulkan sekarang, takutnya saya salah menyimpulkan pula. Maka yang terpenting sekarang adalah sempurnakan tulisan ananda itu dengan beberapa kiat yang telah saya berikan tadi, selebihnya kita akan bahas lagi dipertemuan berikutnya.”
Risky, sebagai pemenang 1 turu angkat bicara, “Ustad, saya ingin menambahkan. Di panduan PKM ini saya baca bahwa tujuan PKM GT ini adalah untuk mengasah pemikiran kreatif mahasiswa atas permasalahan sosial yang terjadi dengan solusi dan gagasan yang bermanfaat untuk masyarakat. Nah, bisa kita lihat di sini bahwa solusi yang kita ajukan dalam KTI kita itu tidak melulu harus produk. Teori baru yang kita ciptakan itu sudah termasuk solusi untuk masyarakat sebenarnya. Begitu menurut saya ustad.”
Oke, terus pertanyaannya; gimana cara kamu menyampaikan gagasan kamu itu ke masyarakat? Helloo bung, tulisan kita ini hanya akan berakhir di majelis presentase saja! Yang mendengar pun hanya kita, juri dan panitia. Masyarakat di luar nggak bakal mau baca ide kita di atas kertas ini. So, how could you run it?
Ingin rasanya aku bersuara lagi. Tapi, menimbang perkataan ustad Fahri bahwa sebetulnya beliau pun belum banyak tahu tentan PKM GT ini, maka aku lebih baik mengalah kepada jeda. Insya Allah dan semoga dipertemuan berikutnya semuanya bisa menjadi lebih gamblang dan ‘ngena’. Aamiin.

***

Obrolan antara kami (pemenang 2 dan pemenang 3) berlanjut di teras masjid Arfaunnas…
“Kakak waktu itu belum datang makanya Kakak nggak tahu gimana seremnya juri-juri menyudutkan yang tampil Kak, gara-gara kami mengutamakan pengajuan gagasan aja dan analisis kandungan Al-Qurannya kurang dalam. Kakak datangnya pas urutan ke berapa? 7 atau 8?”
“7 Dek,” jawabku.
“Nah, kalau itu udah agak enakan lah komentar jurinya Kak. Sampai kami itu pada bilang, ‘Woy, kita pulang aja lah yuk? Takut haaa’ gitu loh Kak. Kak Reza kan kemarin menyajikan ide tentang Franchise syariah tu jadi nggak pede gara-gara itu. Udah sejak kemarin loh Kak, juri itu kelihatan banget condongnya sama yang juara 1 tuh. Ya gimana analisisnya nggak mendalam sementara ayat-ayat tentang proses penciptaan manusia itu memang banyak di Al-Quran. Makanya seolah-olah dia lengkap banget landasannya.”
“Iya. Sebenarnya, sejak awal dia nampil pun Kakak udah mikir idenya biasa banget. Itu kan memang udah ada di dalam Al-Quran, terus WOWnya dimana? Sejak SMA pun kita udah belajar kalau tentang itu. Sebenarnya, kalau dia ditanya, ‘Masalah dalam KTImu ini apa memangnya?’ itu dia pasti udah nggak bisa jawab Dek. Ya, karena nggak ada masalah. Kecuali nih, kalau dia ngangkat tentang Pemanfaatan Blog sebagai Media Penyampaian Hikmah Penciptaan Manusia, nah itu lebih TOP. Karena apa? Idenya udah tuntas. Kalau masih berhenti di analisis aja sih sebenarnya tulisannya belum selesai.”
“Tapi syukurlah ya Kak, tadi kayaknya ustadnya udah agak terbuka fikirannya. Makanya, rasanya kita wajib meluruskannya tadi Kak.”
“Kalau memang jurinya kemarin pada nggak tahu tentang panduan PKM-GT, berarti panitia nih yang harus kita ingatkan. Jangan hanya panduan MTQnya aja yang dikasih, tapi penulisan ala PKM-GTnya pun harus dikasih tahu sebelum presentasi,” tambah Lia.
Mengalami kisah ini membuatku ingat kata-kata Azhari, Menang atau kalah itu hanya soal selera juri.
“Dek, sebenarnya kemenangan ini hanyalah tentang selera juri aja,” ucapku serius.
“Kakak gimana? Ganti idenya?”
“Kayaknya nggak deh Dek, soalnya waktunya kan cuma sampai hari senin. Nggak sempat lagi Dek,” tandasku. Intan dan teman-temannya berpamitan lebih dulu sementara kami bertiga meneruskan ritual ‘ngadem’ di sini, sambil nunggu Ashar.

***
“Cin, kalau kita mau nurutin selera juri, sebenarnya ada sebuah ide yang mungkin belum banyak orang yang tahu.”
“Apa itu Cin?” tanya Lia sambil memperbaiki jilbabnya.
“Sebenarnya, semua ciptaan Allah di dunia ini berhijab. Contohnya aja Salak. Salak selain dilapisi oleh kulitnya, dilapisi lagi oleh kulit arinya kan? Nah, bukan hanya itu, bumi kita pun dihijabi dengan atmosfer. Bahwa galaksi kita pun dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. Nah, kalau yang terakhir itu bahasa dari Al-Quran tu Cin.”
“Subhanallah. Mu pernah baca dari mana tuh Cin? Kece amaaaat. Boleh juga tuh ditulis.”
“Jadi ide baru kita?” tanyaku.
“Bukan. Jadi tulisan di blogmu loh!”
“Ooohhhh…”
Nggak nyangka, aku ketemu dek Novi di toilet ketika akan berwudhu.
“Kak, banyaaakk kali yang pengen Novi ceritakan sama Kakak. Tapi, Novi masih belum merdeka dari ujian-ujian ini. Ggggrrrrrrr !.”
“Ya udah, tunggu ujiannya selesai dulu kalau gitu. Kapan terakhir ujiannya?”
“Hari rabu Kak.”
Sebelum mendahuluiku, Novi berkata lagi, “Gendut!” dia mengejekku.
Aku memukul bahunya, tapi dia mengelak.

***
“Dimana Cek?”
“Masih di Arfaunnas Cek.”
“Belum selesai lagi acaranya?”
“Udah kok. Kami lagi ngadem aja di sini Cek.”
“Okta ke sana sekarang. Tolong Kakak ke bawah, ke dekat parkiran mobil!”
Okta selalu begitu. Kalau tidak begitu, bukan Okta namanya. Aku berlarian kecil menuruni tangga, berbelok ke teras masjid dan memakai sepatu di turunan lantai terasnya. Sudah ada Okta dan Joni di halaman masjid ini.
“Cek, kami mau jualan. Ikut nggak?”
“Jualan apa emangnya? Di mana?”
“Jualan gorengan. Di Kualu. Ikut nggak?”
“Nggah ah, ape kali (baca: capek kali). Eh, kemarin ngeMC di mana sih?”
“Kami tuh kemarin jualan Cek, nggak ada doh ngeMC tuh. Hahah.”
“Hawalah! Sekarang apa yang mau ditunjukkan sama eke?” desakku.
Okta meminta Joni memberikan I-Phonenya kepadaku. Aku menerimanya dan sangat penasaran dengan apa yang ingin mereka tunjukkan kepadaku. Dannn… ternyata yang mereka tunjukkan adalah…jreng, jreng, jreeeeng… Foto Okta pakai jilbab yang gayanya persis banget dengan jilbabku waktu Duta Bahasa kemarin. Hoawaallaaah!
“Hhahahaa, lucu, lucu. Tapi jangan bikin malu ya. Awas kalau diupload ke Instagram atau FB yaa!” ancamku.
“Yee…udah kami upload ke Instagram dahh.. weeee.”
“Itu aja nyo yang mau kalian tunjukkan?”
“Iya. Daa Elceekkk… kami jualan dulu.”
“Yuhuuuuu…” Aku hanya sedang nggak habis fikir. Ckckck.

***
“El, bagu lagi El pakai jilbab kayak gini. Muka El jadi tirus.”
“Bagus kayak gini Rin?! Cantikan juga kalau aku pakai jilbabnya kayak gini,” aku memperagakan gaya jilbabku yang biasanya sisi kirinya ku mencongkan agak ke dalam. “Nah, kalau kayak gini, rasanya mataku leluasa melihat. Kalau kayak sekarang ini ya ampuuunnn, mukaku separohnya tenggelam dan pandanganku terkurung. Nggak leluasa pokokny!”
“Isss..benci kali aku lihat pipi El itu!”
Aku terkekeh dan semakin memamerkan pipi tembem alias pipi bakpao-ku kepada Rini. Lagian, aku memang benar-benar nggak nyaman menggunakan jilbab yang terlalu ke depan menutupi pipi, sebentar aja bicara rasanya udah geser aja dia dan mencuri perhatianku untuk terus memperbaikinya. Hemm..jadi, kesimpulannya pipi tembemku adalah kunci kenyamananku berjilbab. Karena, jilbabnya jadi kenceng karena nyangkut di pipi heheheh. *Suai pemirsaaa?

***


“Sekarang jam 17.15wib. Duh, berapa menit lagi ya azannya?” tanya Lia.
“15 menit lagi lah Cin. Kenapa emangnya?”
“Aku mau mandi dulu. Sempat nggak ya?”
“Sempat aja sih kayaknya. Tapi ngebut ya! Aku sama Rini sih udah niat nggak mandi Cin, hehe. Program penghematan air Cinnn. Hehe”
“Isss Jorkiii, gimana mau ngurusin…”
Suami? Tebakku.
“Suamiii..” kata Lia akhirnya.
“Ciyeeeeeeeee…” sahutku dan Rini spontan.
“Ya elaaahh, ketahuan kali yang pengen cepet-cepeet,” ledekku.
“Heh, nggk sekarang ya tapi. Gue tahun depan loh,” sahut Lia lagi.
Tahun depan? Tahun 2016 cin? Nggak kecepatan tuh cin? Aku gimana cin? Perjuangan kita gimana cin? Udahan aja?
Lia bergegas ke kosan sementara aku dan Rini menunggu maghrib di RM. Mandiri. 15 menit kemudian, azan benar-benar berkumandang. Kami langsung menyantap Lapek Bugi yang dibawa Lia tadi dari kampungnya. Hemm..nyummiii.
“Niat kita buat ikutan buka bersama di Arfaunnas urung ya Rin. Hehe.”
“Ya iyalah. Buka bersamanya di sana emang nggak diadain pun. Hihiii. Malah kitanya yang ngarep.”




***
“…dan tausiyah malam ini akan disampaikan oleh ustad Muslim. Kepada ustad, waktu dan tempat kami persilahkan.”
Jadi, yang dipersilahkan itu ustadnya? Waktunya? Atau tempatnya? Aku selalu geli mendengar kalimat itu. Kesalahan serupa terjadi di mana-mana ternyata pemirsaaa. Wah, kalau ada pak Syarfi di sini pasti beliau udah mengkritisi hal ini.
“Malam ini, saya akan menyampaikan tausyiah yang berjudul Ramadhan Adalah Sekolahnya Orang Bertakwa. Takwa adalah gelar, kita umpamakan saja seperti gelar pendidikan. Apakah gelar itu bisa diraih begitu saja? Atau hanya dengan menyebut-nyebutnya saja? Tentu tidak! Kita butuh uang, waktu dan fikiran untuk meraihnya. Tapi, gelar dunia tidak punya jaminan bahwa ada Takwa di dalamnya. Takwa ini adalah untuk semua kalangan dan profesi selagi dia muslim. Karena, yang paling menentukan keselamatan kita adalah AGAMA. Setidaknya ada 3 nikmat yang kita rasakan di dunia ini; 1. Nikmat dari luar diri kita. Contohnya harta, tahta, wanita. Kalau kita dapatkan, kita akan bahagia karena itu menyangkut dengan kebutuhan kita. 2. Nikmat dari dalam diri kita. Contohnya adalah sehat, penglihatan, nafas, nyawa. Kalau nikmat yang ini sakit, maka kita rela mengorbankan nikmat yang ke 1 tadi yang penting bisa sembuh. Tapi, ternyata ada nikmat yang paling tinggi, yaitu Nikmat AGAMA. Kalau yang tadi, kita sudah faham bagaimana cara menjaganya sedangkan kalau yang ke tiga, ramadhanlah cara menjaganya.”
Aku hanya mengetik inti sari tausyiah dair ustad ini di HP. Mau buka laptop, takutnya malah jadi pusat perhatian. Jarak shaf cowok dengan kami yang terdepan ini pun deket bangeeet.  *Cucok deh, ciin.
“Apabila hatimu bergembira karena kebaikan yang kamu lakukan dan bersedih atas keburukan yang kamu lakukan, itu adalah tanda bahwa kamu telah beriman. Tapi, iman kita juga akan lusuh seperti lusuhnya baju. Seseorang akan terbentuk dirinya dari Iman dan kebiasaan hidupnya. Orang yang tega dan biasa aja meninggalkan sholat adalah karena dia nggak merasakan nikmat atas nikmat tertinggi tadi. Rasanya hambar dan dia nggak bisa merasakan manisnya iman. Yah, penyebabnya ada 3 hal saja; 1. Kehilangan keyakinan hikmah disetiap perintah Allah, 2.  Cinta dunia.”
“Nah, dengerin tuh El!” celetuk Rini.
“Dan yang ke 3 adalah karena hatinya tertutup dosa. Ucapkanlah laaillah ha illallah dan istighfar sebanyak-banyaknya untuk membersihkan hari kita dari noda-noda tadi.”
Rasanya, aku pengen banget kentut, tapi udah ku paksakan sejak tausyiah ini baru dimulai dan hasilnya tetap nggak bisa. Ya Allah, ternyata bisa kentut itu pun adalah nikmat.

***
“Loh? Kok gelap kamar kita Rin?” tanyaku kepada Rini yang sudah lebih dulu sampai di apartemen.
“Iya. Emang nggak bisa hidup lagi nampaknya tuh! Waktu aku sampek tadi, udah mati aja dia.”
“Yah, macam mana lagi? Memang udah sampai di situ rezekinya,” aku menirukan kalimat Lia.
Untung aja power bank-ku udah ku isi tadi, jadi bisa deh dipakai untuk menerangiku menulis. Sebenarnya, lampu kamar mandi menyala. Tapi nggak mungkin kan aku nulisnya menghadap ke sana? *huweeekkkk..
Lia dan Rini berpamitan untuk tidur lebih dulu dari pada aku. Tapi, sebelumnya aku ngajak Lia diskusi tentang beberapa pemikiran sekaligus kekhawatiranku. Seru rasanya! Udah lama banget kayaknya aku nggak ngobrol kritis gini dengannya. Bersamanya, aku selalu punya ide-ide gila.
“Eh, by the way si kawan tadi kayaknya merasa tersindir ya dengan pertanyaan-pertanyaan kita tu? Baguslah, memang itu sih yang aku mau. Sebenarnya sekaligus menyadarkan dan meluruskan ustadnya juga biar sesuai dengan role of play-nya.”
“Iya, namanya aja pertanyaan kita ngarahnya ke sana terus, Cin. Meskipun kita nggak nyebutin secara gamblang, ya dia merasa lah. Makanya dia gusar.”
Kasihan ya Adeknya, diserang dengan anak 2012 dan 2011, perkataan dek Intan tadi sore terngiang olehku. Semoga dia terus semangat berkarya dan terus nulis KTI setelah ini. aamiin.
Kini, giliran Okta yang nelvon dan dipertengahan obrolan aku menceritakan tentang dilemma KTI itu kepada Okta. Dan, tahu nggak saran luar biasanya Okta?
“Kak, seharusnya jurinya itu harus ada yang ahli agama, satu lagi ahli penulisan supaya lengkap dan penilaiannya objektif Kak.”
Okta pun mengaku punya penilaian yang sama terhadap ke tiga juri kemarin. Tentang pola fikir dan selera mereka. Apalagi salah satu dari mereka ternyata adalah guru Okta waktu di pesantren.
“Adek kapan pulang kampung?”
“Setelah pelepasan KKN Cek.”
“Kapan tuh?”
“Tanggal 27 ini. Barulah Okta pulang kampung sampai sebelum tanggal 2 karena tanggal 2 kami udah berangkat.”
Aku jadi teringat, setahun yang lalu pada menit ini, aku dan teman-teman baru selesai membereskan rumah kosong yang menjadi posko KKN kami. Dan, saat itu aku sedang dicekam ketakutan, lantaran abang pemegang kuncinya bilang bahwa pemilik rumah itu pindah ke Malaysia setelah istrinya meninggal ketika melahirkan. Hiiiii, sereemm..
*Eke atuttt Cin. Bobok dulu yaaa… hihii
 

Tidak ada komentar: