Kalau loe ngelihat
ada 2 orang cewek yang jalan kaki dini hari dan celingukan nyari tempat makan,
itu gue dan Rini orangnya! hahaha
***
“Maaf ya Café Ceria, kami nggak mampir di tempatmu malam
ini. Karena, hargamu nggak bersahabat dengan kantong kami,” kata Rini ketika
kami melewati café Ceria.
“Kita makan di mana nih jadinya? Tempat Abang rajin buka
nggak ya tuh?”
“Nggak buka El. Kita ke Putri Tiga aja.”
Akhirnya aku dan Rini memilih RM. Putri Tiga sebagai tempat
sahur kami. Letaknya di 1/3 bentangan jalan Bina Krida ini, tepat di sebelah
RM. Panam Raya yang lebih ramai karena tempatnya lebih bagus dan lebih besar di
sini. Tapi, tunggu dulu, kenapa Rini nggak mau ke sana?
“Aku malas aja sama Ibu itu. Ntah kenapa masih kecewa aku
sama kejudesannya kemarin.”
“Ibu itu kasir atau pelayan Rin?”
“Kadang dia duduk di kasir, kadang melayani juga. Atau
mukanya memang gitu ya dari sononya?”
Rasanya, dulu aku pernah makan di situ bersama Icha dan
Riris kalau nggak salah. Dan, seingatku aman-aman aja sih waktu itu pelayanannya,
cuma agak lama karena ramai pengunjung. Hemm..mungkin nasibnya Rini kemarin
sedang nggak bagus.
Aku ingat belum membalas SMS mami semalam,
Kemarin ngantar Nilamnya jam 4
Mi. Nggak nangis kok dia mi kayaknya
Ketika kami
sedang berjalan menuju mushola Arrafah, mami nelvon.
“…nggak ada
kok Nilam nangis kemarin Mi.”
“Itulah,
kemarin dia bilang mau lihat baju gamis tuu tapi Mbak Ela nggak punya uang lagi
katanya.”
Aku
terkejut. Mulai khawatir mami akan menanyakan kebenaran hal itu kepadaku.
“Lah, Ummi
bilang kan lebaran masih lama, kecuali tinggal sebentar lagi dan belum beli
baju. Nanti kalau udah mau pulang baru dikirim uangnya dan belilah baju di
sana. Ini menyibuk kali, kayak uda mau lebaran aja. Udah sahur ni?”
Aku lega
sebenar lega karena dugaanku tidak wujud. “Udah Mi. kami sahur di luar dan ini
menuju mushola biar sholat Subuh sekalian sebelum pulang.”
Aku ingin
menanyakan lagi saat ini juga tentang
Muhrim-Non Muhrim yang udah 2x ku SMS mami buat nanyain hal itu ke papi.
Tapi, ntah kenapa aku menangkap sinyal bahwa mami memang nggak/belum ingin
membahas itu. Niatku urung seketika.
“Edo mana
Mi?”
“Tu lagi
nyuci piring.”
“Weewww
hebaatt..”
Aku pun
sangat berharap bahwa dek Edo adalah Muhrimku. Menutup aurat setiap ke luar
dari rumah untuk menghindari pandangan non muhrim sudah biasa ku lakukan. Tapi,
bagaimana kalau ternyata non muhrim itu ada di rumahku sendiri? Sejujurnya, aku
paling tidak suka ketidaknyamanan dan keterbatasan di rumahku sendiri. Hiksss..
***
Mbak, Edo pulang
hari jumat atau sabtu. Jadi, kalau mau jumpa edo di loket ALS Pekanbaru aja.
Yang
beberapa hari ini sedang difikirkan dan dikhawatirkan akhirnya terjawab. Aku
sedih sebenarnya karena belum ketemu Edo, eh orangnya udah mau pulang lagi.
Tapi, yang melegakan adalah karena aku tidak khawatir lagi dan bisa lebih
leluasa kalau nanti pulang ke rumah. Hemm…tinggal dek Alfi nih yang ntah gimana
ceritanya nanti.
Hah? Cepat kali dek?
Balasku kemudian.
Hehe.. tahun ini
belum bisa lebaran di sini karena mau minta izin mamak dan untuk pindah sekolah
ke sini. Kalau tahun depan bisa lebaran di sini.
Oh,
ternyata bukan hanya Alfi yang pengen tinggal dan sekolah di sini. Edo juga
iya. Ya Allah, ntah apa yang dilakukan oleh keluargaku, terutama mami sehingga
banyak sekali saudara yang senang datang ke mari.
Tanggung kalau Edo
pindah ke sini pas udah kelas 3. Mending kuliahnya aja di sini. Hehee
Iya ya Mbak. Ya
udah, ikut pendapat mbak ela aja.
Hehe. Bilang sama
mama coba.
Iya..ntar dibilang.
Aku lega ya
Allah. Terimakasih atas jawabanmu ini. Terimakasih Allah-ku.
***
Pukul
12.00wib, Lia tiba di kosanku dari perjalanan pulang kampungnya. Syukurlah! Aku
fikir, Lia bakal lama sampai di sininya dari Kampar. Waktu Lia datang, aku
nyaris terlelap. Kalau terlambat dikit aja, pasti aku udah lewat. Heheh.
“Cin, kalau
ada orang yang nggak balas pesan kita, jangan langsung berfikiran bahwa dia
marah sama kita. Berfikir positif aja, mungkin dia nggak sempat balas atau dia
sedang ada kesibukan lain. Supaya, kita pun nggak mudah terpancing untuk marah
ke orang lain,” saran Lia ketika aku curhat tentang beberapa orang yang berubah
ramahnya kepadaku.
Obrolan
beralih kepada tunggakan uang kosanku. Aku udah telat bayar 5 hari, itu artinya
dendaku udah Rp 10.000. hiksss. Niat hati mau meminjam uangnya Lia, eh ternyata
uangnya Lia pun pas-pasan banget sebanyak uang kosanku. Ya udah, pilih makan
atau pilih bayar kosan? Hiksss. Ya Allah,
segerakanlah datangnya rezekimu itu… aamiin.
***
Aku
membiarkan angin menerbangkan jilbab unguku sesukanya. Sementara Rini sudah
standby dengan kamera untuk memfotoku. Cuaca siang ini memang sangat terik,
tapi Alhamdulillah dari lantai 2 masjid Arfaunnas ini, semilir angin syurga
telah menggantikan posisi dahaga.
Peserta
lainnya masih belum lengkap. Lia sudah asyik bersama Al-Qurannya sejak beberapa
menit tadi. Aku menyusulnya menekuri Al-Quran, Rini juga.
“Yuk, kita
langsung ke ruangan LPIQ,” ajak Hompi -panitia MTQ- menuju ruangan yang
terletak di sebelah kiri mesjid, di lantai 2 ini.
Kami telah
berada di dalam ruangan berukuran 3x4cm ini. Ada kami bertiga, 3 orang dari
kelompok 2 dan 1 orang dari kelompok 1 (Catatan: kelompok menunjukkan juara).
Selain itu, ada Fahri sebagia ketua pelaksana dan Ustad Fahri yang kemarin
menjadi juri dan hari ini membimbing kami.
“Utusan
dari setiap cabang lomba sudah kami dapatkan pada tanggal 30 Juni ini, jadi
setidaknya pada tanggal 28 Juni semua pembinaan sudah selesai dan kami sudah
mendapatkan nama-nama tersebut,” jelas Fahri. Setelah acara dibuka oleh Fahri,
ustad Fahri dipersilahkan untuk menyampaikan materi. (Ini ceritanya, nama ustad
dan ketua pelaksanannya sama-sama Fahri ya pemirsaaa).
“…jadi,
ananda sekalian yang paling penting di sini bukan pada lombanya, tapi pada
pengalaman menulis ilmiah dan kontribusi kita atas persoalan agama. Tujuan dari
eksplorasi kandungan Al-Quran ini adalah untuk
membesarkan Al-Quran itu sendiri, bukannya ide kita yang jadi terlihat
seolah-oleh lebih besar daripada Al-Quran. Perbedaan KTI Al-Quran dengan
KTI Sekuler adalah: KTI Al-Quran berangkat dari keyakinan terhadap kebenaran
Al-Quran, sedangkan KTI Sekuler berangkat dari keragu-raguan atau hipotesa.
Selanjutnya, ada 3 hal utama dalam KTI Al-Quran yaitu; 1. Bersifat reflektif
referensial, yaitu cerminan dari fenomena sosial yang dibutuhkan solusinya.
Idealnya, dalam 1 halaman itu mempunya 3 referensi. Jadi, dalam 10 halaman ini
setidaknya punya 30 referensi.”
How could it, ustad? 10 halaman
maksimal itu kan bukan hanya teori aja isinya. Dalam bab Gagasan pun nggak
semuanya diisi dengan teori. Macam mana nya ustad niii?, fikiranku menerawang.
“2.
Sifatnya Tematik. Kita harus menghimpun semua ayat-ayat Al-Quran yang
berhubungan dengan topik yang kita bahas, tapi bukan mengkliping ayat ya!
Setelah itu, barulah kita perkuat dengan hasil penelitian para ilmuan. Ananda
bisa mendownload ebook yang berjudul Wawasan
Al-Quran karya Quraish Sihab di internet. Ia sangat mahir dan terampil
dalam menjabarkan makna kandungan Al-Quran.”
Aku jadi
teringat kembali saran ini. Saran yang pernah disarankan oleh 3 orang juri
ketika final kemarin, ya salah satunya adalah ustad Fahri ini. Tapi, sampai
detik ini belum juga ku download. Hiksss.
“Dan yang
ke 3. Bersifat Ilmiah-Popouler. Aritnya, bahasa yang digunakan dalam penulisan
KTI Al-Quran ini harus bisa dikonsumsi oleh semua kalangan dan level
pendidikan, tidak terlalu ilmiah sehingga sulit difahami dan tidak kaku. Nah,
besar harapan kepada generasi muda muslim untuk selalu rajin menulis seperti
orang-orang zaman dahulu. Sekarang, jumlah Yahudi sebesar 12 juta jiwa
sedangkan jumlah muslim sebesar 1,6 Milyar, tapi kita hanya mampu menghasilkan
3000-4000 karya ilmiah. Jauh tertinggal dengan Yahudi yang sudah mencapai
5000-6000 karya. Ini adalah PR besar kita. Kita adalah mayoritas tapi terkesan
seperti minoritas. Mereka minoritas tapi seolah-olah mayoritas karena karyanya.
Tulislah tema-tema yang bermanfaat dan harus up date ilmu.”
Ketika
dipersilahkan bertanya, aku mengangkat tangan dan menanyakan beberapa hal
kepada ustad. Dari penjelasannya, aku menemukan ada sesuatu yang tidak sejalan
dengan pemikiranku. Dan, ternyata dek Intan juga memikirkan hal yang sama.
Kemudian, dek Intan mencoba memperjelas keadaan dengan mengimbuhkan
pertanyaannya di atas pertanyaanku,
“Ustad,
setahu saya PKM-GT itu memang yang diminta adalah gagasan penulisnya atau
produknya sebagai solusi yang ditawarkan. Kalau tentang memperkuat teori atau
menolak teori itu bukan di PKM GT setahu saya, tapi di PKM-AI. Nah, inilah yang
ingin saya tanyakan Ustad, mana yang lebih utama; kita mengeksplorasi kandungan
alquran saja atau sekaligus mengajukan ide sebagai solusi kita dalam bentuk
produk?”
Aku, Rini
dan Lia manggut-manggut. Rasanya, pertanyaan Intan barusan sudah sangat mewakili
beberapa hal yang sebelumnya tak sempurna ku tanyakan.
“…jika
disertai dengan gagasan, tentu saja itu adalah hal yang baik. Tapi, sebenarnya
saya pun belum membaca dengan seksama panduan PKM-GT ini, termasuk waktu
menjadi hakim kemarin. Kalau saya menyimpulkan sekarang, takutnya saya salah
menyimpulkan pula. Maka yang terpenting sekarang adalah sempurnakan tulisan
ananda itu dengan beberapa kiat yang telah saya berikan tadi, selebihnya kita
akan bahas lagi dipertemuan berikutnya.”
Risky, sebagai pemenang 1 turu angkat bicara, “Ustad, saya
ingin menambahkan. Di panduan PKM ini saya baca bahwa tujuan PKM GT ini adalah
untuk mengasah pemikiran kreatif mahasiswa atas permasalahan sosial yang
terjadi dengan solusi dan gagasan yang bermanfaat untuk masyarakat. Nah, bisa
kita lihat di sini bahwa solusi yang kita ajukan dalam KTI kita itu tidak
melulu harus produk. Teori baru yang kita ciptakan itu sudah termasuk solusi
untuk masyarakat sebenarnya. Begitu menurut saya ustad.”
Oke, terus
pertanyaannya; gimana cara kamu menyampaikan gagasan kamu itu ke masyarakat?
Helloo bung, tulisan kita ini hanya akan berakhir di majelis presentase saja!
Yang mendengar pun hanya kita, juri dan panitia. Masyarakat di luar nggak bakal
mau baca ide kita di atas kertas ini. So, how could you run it?
Ingin rasanya aku bersuara lagi. Tapi, menimbang perkataan
ustad Fahri bahwa sebetulnya beliau pun belum banyak tahu tentan PKM GT ini,
maka aku lebih baik mengalah kepada jeda. Insya Allah dan semoga dipertemuan
berikutnya semuanya bisa menjadi lebih gamblang dan ‘ngena’. Aamiin.
***
Obrolan antara kami (pemenang 2 dan pemenang 3) berlanjut di
teras masjid Arfaunnas…
“Kakak waktu itu belum datang makanya Kakak nggak tahu gimana
seremnya juri-juri menyudutkan yang tampil Kak, gara-gara kami mengutamakan
pengajuan gagasan aja dan analisis kandungan Al-Qurannya kurang dalam. Kakak
datangnya pas urutan ke berapa? 7 atau 8?”
“7 Dek,” jawabku.
“Nah, kalau itu udah agak enakan lah komentar jurinya Kak.
Sampai kami itu pada bilang, ‘Woy, kita pulang aja lah yuk? Takut haaa’ gitu
loh Kak. Kak Reza kan kemarin menyajikan ide tentang Franchise syariah tu jadi
nggak pede gara-gara itu. Udah sejak kemarin loh Kak, juri itu kelihatan banget
condongnya sama yang juara 1 tuh. Ya gimana analisisnya nggak mendalam
sementara ayat-ayat tentang proses penciptaan manusia itu memang banyak di
Al-Quran. Makanya seolah-olah dia lengkap banget landasannya.”
“Iya. Sebenarnya, sejak awal dia nampil pun Kakak udah mikir
idenya biasa banget. Itu kan memang udah ada di dalam Al-Quran, terus WOWnya
dimana? Sejak SMA pun kita udah belajar kalau tentang itu. Sebenarnya, kalau
dia ditanya, ‘Masalah dalam KTImu ini apa memangnya?’ itu dia pasti udah nggak
bisa jawab Dek. Ya, karena nggak ada masalah. Kecuali nih, kalau dia ngangkat
tentang Pemanfaatan Blog sebagai Media
Penyampaian Hikmah Penciptaan Manusia, nah itu lebih TOP. Karena apa?
Idenya udah tuntas. Kalau masih berhenti di analisis aja sih sebenarnya tulisannya
belum selesai.”
“Tapi syukurlah ya Kak, tadi kayaknya ustadnya udah agak
terbuka fikirannya. Makanya, rasanya kita wajib meluruskannya tadi Kak.”
“Kalau memang jurinya kemarin pada nggak tahu tentang
panduan PKM-GT, berarti panitia nih yang harus kita ingatkan. Jangan hanya
panduan MTQnya aja yang dikasih, tapi penulisan ala PKM-GTnya pun harus dikasih
tahu sebelum presentasi,” tambah Lia.
Mengalami kisah ini membuatku ingat kata-kata Azhari, Menang atau kalah itu hanya soal selera
juri.
“Dek, sebenarnya kemenangan ini hanyalah tentang selera juri
aja,” ucapku serius.
“Kakak gimana? Ganti idenya?”
“Kayaknya nggak deh Dek, soalnya waktunya kan cuma sampai
hari senin. Nggak sempat lagi Dek,” tandasku. Intan dan teman-temannya
berpamitan lebih dulu sementara kami bertiga meneruskan ritual ‘ngadem’ di
sini, sambil nunggu Ashar.
***
“Cin, kalau kita mau nurutin selera juri, sebenarnya ada
sebuah ide yang mungkin belum banyak orang yang tahu.”
“Apa itu Cin?” tanya Lia sambil memperbaiki jilbabnya.
“Sebenarnya, semua ciptaan Allah di dunia ini berhijab.
Contohnya aja Salak. Salak selain dilapisi oleh kulitnya, dilapisi lagi oleh
kulit arinya kan? Nah, bukan hanya itu, bumi kita pun dihijabi dengan atmosfer.
Bahwa galaksi kita pun dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. Nah, kalau
yang terakhir itu bahasa dari Al-Quran tu Cin.”
“Subhanallah. Mu pernah baca dari mana tuh Cin? Kece
amaaaat. Boleh juga tuh ditulis.”
“Jadi ide baru kita?” tanyaku.
“Bukan. Jadi tulisan di blogmu loh!”
“Ooohhhh…”
Nggak nyangka, aku ketemu dek Novi di toilet ketika akan
berwudhu.
“Kak, banyaaakk kali yang pengen Novi ceritakan sama Kakak.
Tapi, Novi masih belum merdeka dari ujian-ujian ini. Ggggrrrrrrr !.”
“Ya udah, tunggu ujiannya selesai dulu kalau gitu. Kapan
terakhir ujiannya?”
“Hari rabu Kak.”
Sebelum mendahuluiku, Novi berkata lagi, “Gendut!” dia
mengejekku.
Aku memukul bahunya, tapi dia mengelak.
***
“Dimana Cek?”
“Masih di Arfaunnas Cek.”
“Belum selesai lagi acaranya?”
“Udah kok. Kami lagi ngadem aja di sini Cek.”
“Okta ke sana sekarang. Tolong Kakak ke bawah, ke dekat
parkiran mobil!”
Okta selalu begitu. Kalau tidak begitu, bukan Okta namanya.
Aku berlarian kecil menuruni tangga, berbelok ke teras masjid dan memakai
sepatu di turunan lantai terasnya. Sudah ada Okta dan Joni di halaman masjid
ini.
“Cek, kami mau jualan. Ikut nggak?”
“Jualan apa emangnya? Di mana?”
“Jualan gorengan. Di Kualu. Ikut nggak?”
“Nggah ah, ape kali (baca: capek kali). Eh, kemarin ngeMC di
mana sih?”
“Kami tuh kemarin jualan Cek, nggak ada doh ngeMC tuh.
Hahah.”
“Hawalah! Sekarang apa yang mau ditunjukkan sama eke?”
desakku.
Okta meminta Joni memberikan I-Phonenya kepadaku. Aku
menerimanya dan sangat penasaran dengan apa yang ingin mereka tunjukkan
kepadaku. Dannn… ternyata yang mereka tunjukkan adalah…jreng, jreng, jreeeeng…
Foto Okta pakai jilbab yang gayanya persis banget dengan jilbabku waktu Duta
Bahasa kemarin. Hoawaallaaah!
“Hhahahaa, lucu, lucu. Tapi jangan bikin malu ya. Awas kalau
diupload ke Instagram atau FB yaa!” ancamku.
“Yee…udah kami upload ke Instagram dahh.. weeee.”
“Itu aja nyo yang mau kalian tunjukkan?”
“Iya. Daa Elceekkk… kami jualan dulu.”
“Yuhuuuuu…” Aku hanya sedang nggak habis fikir. Ckckck.
***
“El, bagu lagi El pakai jilbab kayak gini. Muka El jadi
tirus.”
“Bagus kayak gini Rin?! Cantikan juga kalau aku pakai
jilbabnya kayak gini,” aku memperagakan gaya jilbabku yang biasanya sisi
kirinya ku mencongkan agak ke dalam. “Nah, kalau kayak gini, rasanya mataku
leluasa melihat. Kalau kayak sekarang ini ya ampuuunnn, mukaku separohnya
tenggelam dan pandanganku terkurung. Nggak leluasa pokokny!”
“Isss..benci kali aku lihat pipi El itu!”
Aku terkekeh dan semakin memamerkan pipi tembem alias pipi
bakpao-ku kepada Rini. Lagian, aku memang benar-benar nggak nyaman menggunakan
jilbab yang terlalu ke depan menutupi pipi, sebentar aja bicara rasanya udah
geser aja dia dan mencuri perhatianku untuk terus memperbaikinya. Hemm..jadi,
kesimpulannya pipi tembemku adalah kunci kenyamananku berjilbab. Karena,
jilbabnya jadi kenceng karena nyangkut di pipi heheheh. *Suai pemirsaaa?
***
***
“Sekarang jam 17.15wib. Duh, berapa menit lagi ya azannya?”
tanya Lia.
“15 menit lagi lah Cin. Kenapa emangnya?”
“Aku mau mandi dulu. Sempat nggak ya?”
“Sempat aja sih kayaknya. Tapi ngebut ya! Aku sama Rini sih
udah niat nggak mandi Cin, hehe. Program penghematan air Cinnn. Hehe”
“Isss Jorkiii, gimana mau ngurusin…”
Suami? Tebakku.
“Suamiii..” kata Lia akhirnya.
“Ciyeeeeeeeee…” sahutku dan Rini spontan.
“Ya elaaahh, ketahuan kali yang pengen cepet-cepeet,”
ledekku.
“Heh, nggk sekarang ya tapi. Gue tahun depan loh,” sahut Lia
lagi.
Tahun depan? Tahun 2016
cin? Nggak kecepatan tuh cin? Aku gimana cin? Perjuangan kita gimana cin? Udahan
aja?
Lia bergegas ke kosan sementara aku dan Rini menunggu
maghrib di RM. Mandiri. 15 menit kemudian, azan benar-benar berkumandang. Kami langsung
menyantap Lapek Bugi yang dibawa Lia tadi dari kampungnya. Hemm..nyummiii.
“Niat kita buat ikutan buka bersama di Arfaunnas urung ya
Rin. Hehe.”
“Ya iyalah. Buka bersamanya di sana emang nggak diadain pun.
Hihiii. Malah kitanya yang ngarep.”
***
“…dan tausiyah malam ini akan disampaikan oleh ustad Muslim.
Kepada ustad, waktu dan tempat kami persilahkan.”
Jadi, yang dipersilahkan itu ustadnya? Waktunya? Atau tempatnya?
Aku selalu geli mendengar kalimat itu. Kesalahan serupa terjadi di mana-mana
ternyata pemirsaaa. Wah, kalau ada pak Syarfi di sini pasti beliau udah
mengkritisi hal ini.
“Malam ini, saya akan menyampaikan tausyiah yang berjudul
Ramadhan Adalah Sekolahnya Orang Bertakwa. Takwa adalah gelar, kita umpamakan
saja seperti gelar pendidikan. Apakah gelar itu bisa diraih begitu saja? Atau
hanya dengan menyebut-nyebutnya saja? Tentu tidak! Kita butuh uang, waktu dan
fikiran untuk meraihnya. Tapi, gelar dunia tidak punya jaminan bahwa ada Takwa
di dalamnya. Takwa ini adalah untuk semua kalangan dan profesi selagi dia
muslim. Karena, yang paling menentukan keselamatan kita adalah AGAMA. Setidaknya
ada 3 nikmat yang kita rasakan di dunia ini; 1. Nikmat dari luar diri kita. Contohnya
harta, tahta, wanita. Kalau kita dapatkan, kita akan bahagia karena itu
menyangkut dengan kebutuhan kita. 2. Nikmat dari dalam diri kita. Contohnya adalah
sehat, penglihatan, nafas, nyawa. Kalau nikmat yang ini sakit, maka kita rela
mengorbankan nikmat yang ke 1 tadi yang penting bisa sembuh. Tapi, ternyata ada
nikmat yang paling tinggi, yaitu Nikmat AGAMA. Kalau yang tadi, kita sudah faham
bagaimana cara menjaganya sedangkan kalau yang ke tiga, ramadhanlah cara
menjaganya.”
Aku hanya mengetik inti sari tausyiah dair ustad ini di HP. Mau
buka laptop, takutnya malah jadi pusat perhatian. Jarak shaf cowok dengan kami
yang terdepan ini pun deket bangeeet. *Cucok deh, ciin.
“Apabila hatimu bergembira karena kebaikan yang kamu lakukan
dan bersedih atas keburukan yang kamu lakukan, itu adalah tanda bahwa kamu
telah beriman. Tapi, iman kita juga akan lusuh seperti lusuhnya baju. Seseorang
akan terbentuk dirinya dari Iman dan kebiasaan hidupnya. Orang yang tega dan
biasa aja meninggalkan sholat adalah karena dia nggak merasakan nikmat atas
nikmat tertinggi tadi. Rasanya hambar dan dia nggak bisa merasakan manisnya iman.
Yah, penyebabnya ada 3 hal saja; 1. Kehilangan keyakinan hikmah disetiap
perintah Allah, 2. Cinta dunia.”
“Nah, dengerin tuh El!” celetuk Rini.
“Dan yang ke 3 adalah karena hatinya tertutup dosa. Ucapkanlah
laaillah ha illallah dan istighfar sebanyak-banyaknya untuk membersihkan hari
kita dari noda-noda tadi.”
Rasanya, aku pengen banget kentut, tapi udah ku paksakan
sejak tausyiah ini baru dimulai dan hasilnya tetap nggak bisa. Ya Allah,
ternyata bisa kentut itu pun adalah nikmat.
***
“Loh? Kok gelap kamar kita Rin?” tanyaku kepada Rini yang
sudah lebih dulu sampai di apartemen.
“Iya. Emang nggak bisa hidup lagi nampaknya tuh! Waktu aku
sampek tadi, udah mati aja dia.”
“Yah, macam mana lagi? Memang udah sampai di situ rezekinya,”
aku menirukan kalimat Lia.
Untung aja power bank-ku udah ku isi tadi, jadi bisa deh
dipakai untuk menerangiku menulis. Sebenarnya, lampu kamar mandi menyala. Tapi nggak
mungkin kan aku nulisnya menghadap ke sana? *huweeekkkk..
Lia dan Rini berpamitan untuk tidur lebih dulu dari pada
aku. Tapi, sebelumnya aku ngajak Lia diskusi tentang beberapa pemikiran
sekaligus kekhawatiranku. Seru rasanya! Udah lama banget kayaknya aku nggak
ngobrol kritis gini dengannya. Bersamanya, aku selalu punya ide-ide gila.
“Eh, by the way si kawan tadi kayaknya merasa tersindir ya
dengan pertanyaan-pertanyaan kita tu? Baguslah, memang itu sih yang aku mau. Sebenarnya
sekaligus menyadarkan dan meluruskan ustadnya juga biar sesuai dengan role of play-nya.”
“Iya, namanya aja pertanyaan kita ngarahnya ke sana terus,
Cin. Meskipun kita nggak nyebutin secara gamblang, ya dia merasa lah. Makanya dia
gusar.”
Kasihan ya Adeknya,
diserang dengan anak 2012 dan 2011, perkataan dek Intan tadi sore terngiang
olehku. Semoga dia terus semangat berkarya dan terus nulis KTI setelah ini.
aamiin.
Kini, giliran Okta yang nelvon dan dipertengahan obrolan aku
menceritakan tentang dilemma KTI itu kepada Okta. Dan, tahu nggak saran luar
biasanya Okta?
“Kak, seharusnya jurinya itu harus ada yang ahli agama, satu
lagi ahli penulisan supaya lengkap dan penilaiannya objektif Kak.”
Okta pun mengaku punya penilaian yang sama terhadap ke tiga
juri kemarin. Tentang pola fikir dan selera mereka. Apalagi salah satu dari mereka
ternyata adalah guru Okta waktu di pesantren.
“Adek kapan pulang kampung?”
“Setelah pelepasan KKN Cek.”
“Kapan tuh?”
“Tanggal 27 ini. Barulah Okta pulang kampung sampai sebelum
tanggal 2 karena tanggal 2 kami udah berangkat.”
Aku jadi teringat, setahun yang lalu pada menit ini, aku dan
teman-teman baru selesai membereskan rumah kosong yang menjadi posko KKN kami. Dan,
saat itu aku sedang dicekam ketakutan, lantaran abang pemegang kuncinya bilang
bahwa pemilik rumah itu pindah ke Malaysia setelah istrinya meninggal ketika
melahirkan. Hiiiii, sereemm..
*Eke atuttt Cin. Bobok dulu yaaa… hihii

Tidak ada komentar:
Posting Komentar