Astaghfirullah! Aku
terkejut seperti biasa. Menduga kalau sekarang sudah subuh. Ku raih HP yang ku
selipkan di antara kasur dan dipan dengan posisi speaker menghadap ke bawah, ke
arahku. Pukul 01.50wib ternyata. Huft! Ini tanda bahwa aku tidur dengan was-was
di bawah tekanan waktu.
***
Pukul 04.30wib.
Aku segera beranjak dari tempat tidur. Kalau ku hayati
kantuk ini tentu aku akan tertidur lagi. Setelah Tahajud dan Witir, azan subuh
langsung menyahut. Wah, pas banget. Aku segera mandi, sholat subuh dan mengaji,
pas ngelihat jam, eh udah jam 05.25wib aja. Cepet amat ya waktu berlalu?
Mak, jam 5.30wib kita
udah di sana loh ya.
Pesan dari Teguh semalam terngiang jelas. Aku bergegas
memasukkan Jaket biru, mukena, al-quran, kamera dan HP ke dalam tas. Aku
meminjam tas Rini. Aku bingung harus lewat mana, gerbang kampus pasti masih
ditutup. Mendadak dapat ide dari saran abang kos semalam supaya lewat labor
Biologi di sebelah kanan kosan ini. Sebenarnya tentang jalan yang satu ini aku
udah lama tahu, soalnya setiap malam selalu aja motor yang ke luar dari dalam
UNRI ya dari jalan itu. Tapi, setelah di blok dengan portal besar, aku nggak
ngerti lagi gimana celah lewatnya, soalnya jalan untuk sampai ke halaman labor
itu tinggi banget semennya. Mesin motor pasti bakal nyangkut. Hemmm…
Yang penting, aku harus ngeluarkan motor dulu dan segera
dipanasin. Eh, eh, pas ku masukkan ke gigi 1, malah mati motornya. Ah, nggak
salah lagi minyaknya pasti udah entong. Buru-buru ku masukkan lagi motorku ke
dalam kosan. Hemmm…kurang kerjaan aja cinnn.
“Minyak motorku habis, jadi aku jalan kaki Cuyyyy!” pamitku
lagi kepada Rini.
Pukul 07.00wib, sejam meleset dari target. Kami belum ju
ga
berangkat karena mobilnya belum lengkap.
Dek, mu di mana? Mak
udah di BEM
Aku meminjam HP Laili untuk mengSMS Teguh. Tak lama, Teguh
datang perlahan memasuki halaman BEM. “Ah, umur panjang dia,” kataku.
Adek udah sejak tadi
di sini Mak.
“Hhahha.
Sok kali dia, Kak. Padahal baru aja datang tuh diaaa,” kata Laili.
“Iya nih.
Dia pikir kita nggak lihat apa? Haha.”
Aku sempat
makan lontong sedikit tadi bareng Laili. Lumayanlah untuk ganjel perut yang
kosong ini. Pukul 07.35wib, kelompok per mobil ditentukan. Aku berada di mobil
3; ada bang Indra, Agus, Dira, Nayla, Aku, Dek Siti, kak Dita, dek Laili.
Awalnya 9 orang di mobil ini dan aku sempat mengusulkan Laili untuk pindah
mobil. Tapi, aku pula yang berhasil menggagalkan saranku itu ketika Laili
berekspresi tidak ingin. Huft! Hampir saja pemirsa.
Setelah
babak tunggu-tungguan di BEM, babak menunggu berikutnya terjadi di SPBU.
Mungkin ada setengah jam kami berhenti di sini untuk nunggu kelengkapan mobil.
Dan, sekarang mobil kami genap berjumlah 8 mobil; 7 Avanza dan 1 L300. Jumlah peserta sekitar 65 orang dan didominasi
oleh cowok.
Kami resmi
berangkat pada pukul 08.46wib setelah ‘isi angin’ ban di Garuda Sakti lantaran
di SPBU tadi pengisi anginnya rusak. Barusan, aku sudah izin dengan bang Alam
untuk tidak bisa mengikuti forum klasikal FLP hari ini. Sedih sih karena
pastinya banyak ilmu baru yang akan ku peroleh dari sana. Tapi, insya Allah
perjalanan kali ini pun akan banyak mengajariku.
KLINIK DOKTER BASTIAN
Aku kembali
melintasi gedung berwarna hijau ini lagi. Ada kenangan pahit yang tertinggal di
sana. Ah, masa lalu, mengapa hadir begitu sering?
***
“Pelan-pelang
Bang Indraaa,” pintaku ketika lelapku terganggu karena beberapa kali hentakan.
“Opss..iya-iya,
sori yaa.”
Ku lirik
jam. Sudah pukul 10.29wib ternyata. Masih ada 2 jam lagi yang harus kami
tempuh. Sudah ku coba untuk bertahan terjaga supaya bisa menikmati perjalanan
ini, tapi pilihan tak dikehendaki pasti hadir; Mual. Maka, kembali ku lelapkan
mataku meski leher rasanya pegel banget. Aku mana bisa tidur dengan rapi, badan
di mana, kepala di mana. Hahaha.
Kok bisa sih si supir mobil tuh
nggak ngantuk dan nggak mual sih? Hebat amat. Atau jangan-jangan kalau aku
nyupir mobil pun nggak akan mual kayak jadi penumpang?
Aku mulai
menerka-nerka sambil terus menutup mata.
“Aku nggak
suka sama bau mobil. Jadinya aku memang nggak punya mimpi untuk punya mobil.
Enakan naik motor deh!” obrolanku dengan sahabat, pada suatu dulu kembali
melagu. Ah, anggap aja sebagai pengantar tidur.
***
“Chaa? Udah
sampai. Turun yuk?” ajak Dira yang duduk di tengah, di sebelah kiriku.
Aku
mengucek mata dan ternyata…. Welcome in
Islamic Center of Rokan Hulu, guysss! Kedatangan kami disambut oleh gema
lantunan kalam. Aku menularkan virus narsisku ke dek Laili. Kami tidak
buru-buru ke toilet, tapi kami sibuk hunting foto di halaman mesjid yang sangat
indah dan luas ini. Jadi teringat dengan masjid agung An-Nurnya Rokan Hilir.
Sebenarnya nggak jauh berbeda sih. Kubahnya berwarna hijau sedangkan masjid
Agung Rokan Hilir berkubah emas. Nggak tahu deh beneran emas asli atau emas
palsu yang jelas emas. Ehhee. Sedangkan warna gedungnya sama-sama putih dan
sama-sama memiliki 4 pilar yang menjulang tinggi dari badan masjidnya. Di
sebelah kiriku terlihat calon pilar tunggal yang sedang dibangun dan ukurannya
lebih besar dari keempat pilar tadi.
Setelah
azan berkumandang, aku dan Laili segera berwudhu. Sayangnya toiletnya hanya ada
3 ruang aja. Karena takut kelamaan ngantri, aku langsung wudhu aja. Kalau
tentang tempat wudhunya sih masih lebih bagus yang di Rokan Hilir. Di sana,
akan ada kejutan bagi para pewudhu,
yaitu air perlahan-lahan akan berubah semakin hangat hingga menjadi
sangat panas. Karena sumber air di mejid Agung di Rokan Hilir itu berasal dari
air tanah.
***
“Bang?
Yakin ini jalannya?” tanyaku kepada bang Indra.
“Dira,
cobalah telvon si Teguh,” pinta bang Indra.
Dira
langsung mengaktifkan paket nelvonnya dan menyerahkan HPnya kepada bang Indra.
“Kampretlah!
Teguh udah sampek katanya,” kata bang Indra setelah telvon ditutup olehnya.
“Kita sejak tadi ngira dia ketinggalan dan lama banget nyusulnya. Ternyata cuma
dia yang udah sampai ke tempat. Waahhhhhhhh..” penjelasan bang In itu langsung
disambut oleh bahak dari seisi mobil. Apalagi kalau bukan karena kami geli
terhadap diri sendiri lantaran sudah mengejek-ejek Teguh sejak tadi? Haha.
Kami
memberi kode kepada 6 mobil lainnya untuk berputar arah. Eh, bang In mundurnya
niat banget, akhirnya ban belakang kami terperosok ke lumpur. 5 orang cowok
turun dari mobil lainnya untuk membantu mendorong mobil kami. Hiksss…
“Dira, coba
tanya lagi sama si Teguh di mana tepatnya nih? Jangan-jangan pakai Google Map
nih si Teguh, dia kan agak gaul gitu,” kata bang Indra.
Kami
berputar arah dan melaju dengan kecepatan sedang karena gapura yang dimaksud
Teguh takut terlewatkan. Daaannn…benarlah kiranya, dia sedang menyambut kami
dengan melipat tangannya dan tesenyum penuh ejek kepada kami. Hiksss… Padahal
dia awalnya yang paling nggak tahu jalan ke Rokan Hulu. Huhuuu..
“Silahkan
ambil nasinya, sayur dan lauknya dan kita akan makan di sana.”
Kami
berebut nasi bungkus plus lauk dan sayurnya yang bikin perut semakin menyesak.
Selanjutnya, kami harus melewati jembatan gantung yang panjangnya kira-kira 200
meter. Aku sih suka banget goyang sana goyang sini, tapi berbeda dengan
teman-teman di belakangku yang rupanya udah membentuk tautan tangan yang
panjang dan aku yang paling depan jadi tumpuan.
“Eelll!
Pelan-pelaaaaaan,” teriak orang dair belakangku. Ntah siapa.
“Iyaaaaaa,”
pekikku, terkekeh. Segitu takutnya merekaaa… Aku malah sempat memfoto-foto dan
merekam sebentar moment ini. hihii. Jadi teringat jembatan gantung di
Palembang, tempat Mbah.
Aku kira
kami udah diizinkan makan setelah melewati jembatang tadi, ternyata belum. Per
orang dikenakan karcis Rp 5000 dan kembali dibayarkan oleh bendahara BEM yang
baik hati; Novi. Nasi bungkus tersayang harus dipegang lagi karena kami harus
berjalan kaki sampai ke bibir hutan, tempat Air Terjun Aek Matuo berada.
***
Aku
memegangi tas bang Enda supaya berat kakiku sedikit terbagi. Tanjakan yang
harus kami naiki ini sangat curam, nyaris saja seperti huruf A kemiringannya.
Lutus panas dan ngilu banget rasanya. Sudah sejam lebih kami berjalan kaki,
melewati kebun sawit, kebun karet kemudian kebun karet lagi dan kebun sawit
lagi. Jadi teringat kata-katanya Romi semalam,
“Mbak, jalannya
nanti tuh ada tanjakan yang curam banget loh. Kalau naik motor bisa sampai ke
atas dan kita tinggal lanjut masuk ke hutan aja. Tapi, kalau naik mobil,
berarti Mbak harus jalan kaki dari simpang parkiran mobil tuh sampai deket
hutannya. Wah, itu jauh banget loh Mbak.”
Iya Dek, bener ternyata katamu. Ini
Jauuuh bingiiittsss,
gumamku.
“Dek, coba
jalannya mundur. Gantian, jangan nanjak terus ke arah depan badannya.”
Aku mencoba
saran bang Enda, tidak terlalu berpengaruh sih sebenarnya tapi bolehlah untuk
menukar dan membagi lelah dengan posisi berbeda. Ada tukang ojek di bawah sana
yang tadi menawari kami dengan harga Rp 5000 saja sampai ke puncak. Tapi, hanya
beberapa orang saja yang mau menggunakan jasanya dan angkat tangan terhadap
kedua kakinya. Termasuk sang Presma; bang Zulfa. Hihii.
Aku sih mau
juga kalau nggak mengingat dan menimbang berat badan yang memang harus
dikurangi.
“Kalau
membakar kalori udah banyak nih Dek sejak tadi lagi. Yang sulit itu membakar
lemak, biar kurang buncit perut Abang ni.”
“Hahah..iya
ya Bang, soalnya kan lemak itu tersimpan di bawah kulit. Hihii”
Dari atas,
kami bisa melepas pandangan ke bentangan hijau
kebun-kebun yang telah kami
lewati tadi. Sungguh indah! Seluas mata memandang, hanya ada hijau kebun dan
birunya langit yang terbentang.
***
“Mak, makan
yuk!” ajak teguh ketika aku baru saja sampai di puncak.
“Emangnya
yang lainnya udah pada makan Dek?” tanyaku ragu.
“Udah. Udah
ada juga yang masuk hutan tuh. Yuklah buruan!”
Aku mah
seneng banget. Emang udah sejak tadi perutku berteriak-teriak minta diisi.
Sambil menyantap nasi berlauk sarden dan bersayurkan tumis buncis ini, aku
melihat satu per satu teman yang baru muncul dari kecuraman tanjakan tadi.
Huft! Untung aku udah sampai di atas sekarang. Sebenarnya ini masih belum
seberapa dibandingkan pendakian gunung. Karena medan yang kami lalui tadi
semuanya sudah bersemen. Kurang mulus apa lagi coba? Hihii.
“Mak, Adek
kemarin berfikir, Adek emang nggak bisa kayak Emak yang selalu update tulisan
harian setiap harinya. Karena Adek moodian orangnya. Terus di Pea bilang,
kenapa status-status Adek tu nggak Adek kumpulin di blog aja biar rapi? Oh iya
juga ya, fikir Adek waktu itu. Mak udah baca kan status Adek yang tentang;
Tuhan tidak sebercanda itu, bung!”
“Udah Dek.
Dan, Mak suka banget tuh!”
“Nah,
itulah yang dibilang sama Pea dimasukin ke blog aja. Hehmm.. Soalnya Adek nggak
rajin update setiap hari kayak Emak meskipun pengen juga punya me of the day-nya Emak tuh.”
Baru
sebentar kami jeda, dia melanjutkan lagi, “Adek udah baca semuanya Mak, walau
pun nggak ada nama Adek di sana. Ya, kalau enak Adek bilang ceritanya enak.
Tapi seriuslah yang tentang presiden Novel Indonesia itu boring banget Adek
bacanya.”
“Iya ya?
Padahal banyak banget nasehatnya loh di sana..”
Teguh lebih
dulu selesai makan dan lebih dulu masuk ke hutan. Sementara aku dan Siti baru
aja selesai dan aku melihat gelagatnya Siti ingin menunggu yang lainnya dulu.
“Dek, kita
duluan aja yuk? Angsur-angsur.”
“Yuklah
Kak.”
Sekitar 200
meter kami berjalan menapaki tanah lembab ini, tiba-tiba seorang cowok bermata
sipit dan berkulit putih menyusul kami. Dialah yang ketika kami makan tadi
sempat mewawancarai kami tentang perjalanan ini dengan batang kayu. *dasar
wartawan nggak sopan. Hihiii.
“Dek, Adek suku
mana sih?” tanyaku setelah aku tahu namanya Alfi.
“Suku
Tajung, Kak,” jawabnya sambil terus melangkah di depanku bersama tongkatnya.
“Tanjung?
Tanjung tuh apa?”
“Tapi, tadi
Kakak nanya suku…”
“Oh, maksud
Kakak, urang maaa?” aku sudah klik, dia pasti orang minang.
“Orang
Payakumbuh Kak.”
“Dek, Adek
tuh mengingatkan Kakak dengan seseorang loh.”
“Siapa Kak?
Senior Kakak? Pacar Kakak? Mantan Kakak?” tanyanya, memborong.
“Ada
dehhh…” hatiku langsung menyebut nama seseorang yang tak perlu dia tahu. “Yang
jelas, kalian mirip. Emang semua orang Minang rata-rata matanya sipit ya Dek?”
“Nggak juga
sih Kak.”
“Terus,
Adek tuh kenapa sipit?”
“Yah, udah
anugerah dari yang di atas sih Kak kalau yang ini. Mau gimana lagi?” jawabnya
sok cool.
Kadang Siti
yang berjalan paling depan, kadang Alfi yang terdepan dan emm…kalau aku sih
udah pasti paling belakang pemirsaa. Sampai si Alfi bilang,
“Dari cara
jalan Kakak, ketahuan kali Kakak di rumah nggak ada kerja.”
“Enak aja.
Ada yaaa..”
“Apa
emangnya?”
“Nyuci
piring.”
“Aku nyuci
piring juga.”
“Nyuci
baju.”
“Aku nyuci
baju juga Kak. Semua pekerjaan rumah, ku kerjakan Kak. Hahhh..hayooo.”
“Sering-seringlah
nonton film-film survival Kak. Biar kita tahu gimana sulitnya bertahan.”
“Pernah
kok. Film 5cm.”
“Wah, itu
sih film romance Kak. Coba nonton film Zombie, Kak.”
“Hahaha.
Kalau itu mah Kakak udah sering nonton Dek. Emang letak survivalnya di mana?”
“Ya coba
aja Kakak bayangkan tiba-tiba orang di belakang Kakak mau makan Kakak. Pasti
Kakak akan berusaha menyelamatkan diri. Dia udah nggak kenal lagi kita
temannya. Aku yakin, loncat ke jurang pun Kakak berani demi menyelamatkan
diri.”
Obrolan
nano-nano mewarnai pendakian dan penurunan kami di medan berlika-liku ini.
Sesekali kami meragu karena ada pohon penghalang jalan dan kehilangan jejak
tapak.
“Emang
Kakak jalannya kayak putri gitu Dek?”
“Duh Kak,
bukan putri lagi. Tapi ini princess,” ledek Alfi. “Olahraga itu penting Kak.
Setidaknya 2 jam dalam seminggu. Supaya fisik kita terlatih dan nafas kita
panjang.”
“Kakak
sering kok Aerobic di kamar.”
“Aerobic
itu Cuma pemanasan aja Kak. Yang bisa memperpanjang nafas itu jogging
contohnya.”
Ooooo…pantesan
aja baru lari sebentar, nafasku udah tersengal-sengal. Emang jantungku belum
terlatih dengan jogging nih.
“Ayoo Kak,
cepetan jalannya. Siti aja udah jauh tu haaaa,” kata Alfi sambil melongok ke
bawah. Ya, medan yang harus kami lewati kali ini nyaris seperti huruf H. Kami
harus berhati-hati menuruni bukit ini dengan berpijak pada akar-akan pohon dan
buku-buku tanah.
“Iyalah
Siti cepat. Dia beda dengan Kakaaak,” elakku.
“Jangan
suka membedakan diri kita dengan orang lain Kak. Cobalah kita berfikir, orang
lain bisa kenapa aku nggak bisa? Gitu.”
“Wah wah,
Adek ni emang bener-bener Motivator Perjalanan yaaa.”
***
Nyaris saja
harapan pupus dan langkah terputus lantaran tujuan tak juga dirasa semakin
mendekat. Tapi, Alfi dan Siti selalu berkata, “Sebentar lagi nih Kak. Sebentar
lagi!”
Ada
teriakan nggak jelas artikulasinya yang menggema. Kami kira itu adalah teriakan
dari teman-teman yang sudah bertemu air terjunnya. Tapi, gemericik air pun tak
terdengar sama sekali suaranya. Dan, tenyata suara itu adalah milik 4 orang
anak kecil yang ntah bagaimana cara mereka berjalan, sekarang sudah berhasil
menyusul langkah kami. Hebatnya lagi, 2 diantaranya bertelanjang kaki, tidak
menggunakan apapun di kakinya. Huft! Anaknya si tarzan kali ya mereka?
Kami
mengikuti langkah-langkah lincah mereka. Sempat melemah lagi ketika merka
berkata perjalanan masih jauh. Huft!
Akhirnya
pukul 16.24wib, kami sudah berhasil bertemu teman-teman lain yang sedang
berusaha menyeberangi sungai. Wah, air terjunnya pasti sudah dekat. Aku
berpegang kepada tongkat Alfi dan tongkatku yang dipegangi Alfi lalu berjalan
dengan sangat berhati-hati melintasi balok besar, 3 meter di atas aliran
sungat. Sereeeeeeeeem banget! Aku takut tergelincir karena balok itu licin dan
sepatu pansus anti badaiku ini nggak lagi bergerigi. Hiksss.
Alhamdulillah! Akhirnya kami telah sampai di air
terjun yang sangat dibanggakan oleh Rokan Hulu ini. Dan, inilah komentar
pertamaku,
“Kayak gini
aja nyo, Bang?” (kepada bang Enda). Lalu bang Enda mengangguk.
Mungkin,
aku terlalu membayangkan air terjun ini akan mirip seperti air terjun yang
pernah ku lihat si Thailand. Ya Allah,
ridhoi perjalanan ini. Meskipun yang ku impikan tak sesuai kenyataan, tapi
pelajaran yang ku dapatkan lebih besar dari yang ku fikirkan.
Sekitar
setengah jam kami menikmati deru dan percikan air terjun bertingkat ini.
Asyiknya adalah batu di bawah air terjun ini seperti hamparan lapangan; datar
dan luas. Aku sampai bisa lompat-lompat di sana. Ketika teman-teman mulai
merelakan seluruh tubuhnya di hujani air terjun itu, aku tetap tidak berniat.
Cukup kakiku yang baru saja kram karena kedinginan dan jangan sampai badanku
pula yang masuk angin di perjalanan. Akhirnya, aku hanya membasahi lutut ke
bawah saja, sebagai syarat sah sudah merasakan sejuknya Aek Matuo ini.
“Kata Bang
Zulfa, fotonya cewek sama cewek aja, cowok sama cowok aja,” tegur seorang
wanita kepada Teguh yang hampir berselfie-an denganku dan yang lainnya.
Seketika Teguh menutup kameranya dan kami langsung bertebaran pura-pura nggak
dengar apa-apa.
“Kolot kali
pun! Bukannya kita ngapa-ngapain di tempat terbuka gini. Ah!” gerutu Teguh. Aku
melihatnya. Setelah itu Teguh menghilang, aku nggak tahu dia menghilang ke
mana. Haha.
20 menit
berikutnya, guyuran air terjun ini semakin deras dan kencang. Kami sudah dikode
oleh para tetua BEM untuk bergegas entas dari sana. Padahal belum puas rasanya
dan belum hilang penat dengan sempurna, tapi mau tidak mau kami memang harus
enyah, karena hari semakin gelap. Hanya dikhawatirkan kami belum ke luar dari
hutan ketika maghrib datang.
“Dek, kita
akan mengulang perjalanan panjang tadi siang. Dan, yang kali ini pasti akan
terasa lebih melelahkan,” kataku.
“Iya nih
Kak, rasanya nggak pengen pulang aja. Atau kalau ada flying fox, maulah naik
itu aja. hihii.”
***
Kami
berjalan beriringan dan saling memperhatikan. Beberapa cowok berjalan di depan,
di tengah dan di barisan paling belakang rombongan untuk berjaga-jaga.
Alhamdulillah, ketika amghrib sempurna datang, kami sudah tiba di bibir hutan
membebaskan kaki yang pegal.
“Berapa
Mizone-nya nih, Bang?” tanyaku yang maha kehausan.
“Rp 10.000
Dek.”
Aku nggak
bisa berpelit dengan uang, meskipun ini uang pinjaman. Hiksss. Ku berikan uang
pas Rp 10.000 dan kemudian bisa ku teguk Mizone. Eits, nanti dulu, aku nggak
bisa memuaskan nafsuku ketika ku lihat orang-orang disekitarku terlihat
kehausan. Inilah hikmah perjalanan, kita diajarkan berbagi meskipun kita
beralasan untuk memuaskan diri sendiri.
“Di sini
nggak laku uang receh doh, Dek,” kata penjual tadi.
“Loh,
kenapa gitu Pak?”
“Iyaaa,
pokoknya gitulah. Uang Rp 500 pun tak laku di sini, Dek.”
“Oooooo…”
Setelah
Mizone-ku habis, giliran aku malakin Aqua dinginnya Laili. Hehe. Sambil mengisi
kejenuhan, aku mulai ngajak Laili ngobrol ala pengamat sosial,
“Dek, sadar
nggak? Waktu kita sebagian besar banyak
habis di tungu-menunggu.”
“Hemmm..bener
Kak.”
“Seharusnya
yang udah nyampek duluan ini disuruh pergi duluan aja. Karena ojeknya pun kan
harus bolak-balik juga jemput kita sebanyak ini. Inilah bedanya Indonesia
dengan Negara lainnya Dek. Di sini, tenggang rasa itu sangat tinggi. Apa-apa
harus nunggu dan bareng...”
“Tapi Kak,
kalau di hutan kayak gini kita emang harus bareng-bareng Kak. Soalnya bahaya
kalau terpencar-pencar,” sela Laili.
“Kalau yang
ini sih emang ada benernya juga tunggu-tungguan Dek. Tapi, yang Kakak maksud
ini secara umum loh. Biasanya kalau kita janjian, anggap aja ke SKA, pasti kita
akan saling tunggu-tungguan teman-teman lengkap barulah kita berangkat bareng.
Padahal, pada akhirnya kita pun akan melaju sendiri-sendiri. Nah, waktu yang
kita gunakan untuk nunggu itu lumayan loh. Kenapa nggak pakai cara yang lebih
praktis aja? Misalnya, kita ketemua di SKA jam 7 di PH. Nah, yang datang duluan
udah bisa menikmati hal lain di sana sambil nunggu yang lainnya datang.
Jadinya, kita nggak merugikan waktu orang lain karena nungguin kita.”
“Bener juga
sih Kak.”
Ah,
lagi-lagi analisaku tajam banget kalau tentang waktu nih pemirsaaa. Untung aja
kali ini aku nggak bawa notebook. Coba kalau bawa, pasti sekarang aku udah
ngangsur-ngangsur nulis.hihii. Di tengah hutan begini dan dalam kondisi lelah
sekalipun.
“Ayooo..ayoo,
bagi yang mau naik ojek sediakan uang Rp 20.000 per orang dan diantarkan sampai
ke parkiran mobil. Ayoo segera gerak!” instruksi bang Zulfa kepada kami.
“Kak,
jangan bilang kita tarik tiga Kak,” Laili resah. Tapi, kenyataannya kami semua
memang harus tarik tiga. Lalu, Laili kembali khawatir, “Ya ampuuun Kak, serem
loh di jalan yang kayak gini Kak. Yakin bisa nih Kak? Lalu aku mengangguk
meyakinkannya.
“Dek, kita
bareng ya Dek!” bisikku kepada Laili.
“Jalan kaki
Dek,” jawabnya singkat. Hemmm..aku sudah membulatkan keputusan untuk tetap naik
ojek saja. Bukankah ini adalah kondisi darurat dan kita boleh memilih? Lagian,
membayangkan harus berjalan kaki selama 2 jam lagi, aku udah angkat kaki bah!
Laili di
tengah dan aku di belakangnya. Untung
dressku lebar dan aku bisa melangkah. Dress cantik mami ini memang paling bisa
diandalkan. Pernah memenangkanku dalam acara fashion show, bisa dibawa hang
out, bisa juga masuk hutan kayak gini.
“Bang, Aek
Matuo itu artinya apa Bang?” tanyaku kepada abang ojek yang ternyata orang
Mandeiling.
“Air yang
bertuah.”
“Ooooohhh..itu
aritnya toh. Aman kan di sini Bang?”
“Amaan
Dek.”
Pertanyaanku
itu sebenarnya lebih kepada upaya pelegaan hatiku dan Laili yang aku yakin
sangat tidak nyaman. Dalam trip pertama ini, ada sekitar 10 motor yang kami
gunakan. Artinya ada sekita 30 orang yang dilangsir ke depan.
“Dek, Adek
kesempitan nggak duduknya?” tanyaku.
“Bukan
masalah sempitnya Kak. Adek merasa takut aja.”
“Baca zikir
di dalam hati ya Dek,” bisikku pelan.
Aku pernah
berkata kepada Lia seperti ini, “Cin, mu tahu nggak momen apa yang paling
mengingatkan dan mendekatkanku kepada Allah? (Lia mengaku nggak tahu dan
beberapa tebakannya salah) Jawabannya adalah PERJALANAN, Cin. Karena ketika
kita sedang di jalan, harapan terbesar kita cuma 1, yaitu SELAMAT sampai
tujuan. Nah, yang paling kita takutkan adalah KECELAKAAN. 2 hal itulah yang
membuat bibirku tahan berkomat-kamit atau bibirku tahan menyebut-nyebut zikir.”
Aku tahu
banget dek Laili sedang ketakutan tingkat tinggi ketika motor kami melintasi
jembatan gantung yang membelah sungai ini. Melintasinya membuatku teringat
dengan Desa Buluh Cina ketika aku mengikuti JELAJAH ALAM tahun lalu. Luas
sungainya persis banget bahkan keruh airnya pun mirip. Setidaknya desa ini
lebih beruntung karena dihubungkan dengan jembatan gantung ini, berbeda dengan
desa Buluh Cina yang harus menggunakan sampan untuk menyeberang.
***
“Adek tadi
pasti ketakutan banget ya waktu lewat jembatan gantung tadi?”
“Ya Allah
Kak. Bangeeeeeeet.”
“Kakak
malah suka banget loh Dek. Dan, takjubnya, si motor tetap fokus ngambil garis
lurus di tengah-tengah jembatan ya. Sebenarnya tadi nggak terlalu terasa
goyangannya disbanding waktu kita jalan kaki tadi siang,” jelasku dengan
senyuman, pertanda aku tidak takut sama sekali. Justru keasyikan.
Kami duduk
berlesehan di teras ruko yang sedang tutup. Bercerita ringan plus konyol
mungkin bisa menjadi pengobat lelah. Ketika azan Isya berkumandang, kami
berpencar mencari tempat berganti baju dan mencuci kaki. Aku dan beberapa
orang lagi numpang ke rumah warga dan
sebagiannya ada yang ke mushola terdekat.
“Dek,
gimana mereka? Mau naik ojek atau milih jalan kaki?” tanyaku kepada teman cowok
yang baru aja nyampek.
“Tetap
jalan kaki mereka. Tukang ojeknya sampai nurunkan harga dari Rp 20.000 ke Rp
10.000, turun lagi jadi Rp 5000 sampai dibilang gratis pun tetap aja mereka
nggak mau. Ya inilah kami baru nyampe karena disuruh komandan ngiringin
mereka.”
Aku
terperanga. “Kalian ngiringinnya gimana?”
“Ya ada
yang di depan, ada yang di belakang merekalah.”
Aku
manggut-manggut. Benar dugaan Teguh tadi, “Mak, kita cuma menang hemat tenaga
aja. Tapi pada akhirnya kita tetap nungguin mereka 2 jam juga.” Aku salut
sekaligus kesal dengan mereka. Salut karena mereka tetap pada prinsip dan
idealismenya. Kesal karena menurutku mereka egois, seharusnya sudah bisa
berangkat sejak tadi, tapi akhirnya jadi terhambat untuk cepat pergi.
Sebenarnya mirip-mirip sih, mereka juga kan jalan kaki dalam kegelapan bersama
cowok-cowok selama 2 jam. Perihal takut ‘tersentuh’ sebenarnya bisa diakali
dengan meletakkan tas di depan. Hemm…but that’s theirs choice and we aprriciate
that also!
Setelah semua
peserta sampai di tempat awal, kami langsung cusss ke Islamic Centre lagi. Di
sanalah mereka yang belum sempat ‘berkemas’ diberi waktu untuk itu dan juga
menunaikan sholat. Tadinya, aku niatnya mau sholat di rumah aja. Tapi, ketika
ku lirik jam sudah menunjukkan pukul 21.35wib akhirnya aku sholat segera.
Lagi-lagi ini dress bertuah, gampang keringnya makanya ku lap-lap aja bagian
yang ku rasa kotor demi sahnya sholat.
***
Islamic
Centre sedang ramai malam ini. Ternyata panggung yang ku lihat tadi siang itu
digunakan untuk perlombaan rebana mala mini dalam momen menyambut ramadhan.
Dimalam hari, mesjid ini terlihat sangat megah, cahaya lampu yang kekuningan
memperjelas lampu Kristal yang cahaya warna-warni. Aku suka melihatnya.
Setelah
sholat, tentu tak perlu diingatkan lagi, aku akan berfoto dan memfoto
pemandangan menakjubkan ini. Hemmm…akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di
Kabupaten ke 5 yang pernah ku kunjungi di Riau. Aku ingin mengunjungi 7 lainnya lagi ya Allah. Aamiin, someday
soonly.
“…,
emangnya Adek nggak ngerasa Kakak ini beda sejak tadi?” tanyaku kepada Laili.
“Ngerasa
sih Kak. Hemmm… jarang ada ***wat yang mau berkawan dengan Joni dan Okta. Dari
situ aja udah kelihatan Kak. Terus, mana ada ***wat yang rajin banget foto-foto
kayak Kakak. Hihii.”
“Perihal
Joni dan Okta, Kakak udah pernah ngomong ke seseorang Dek, gini, “Kalau semua
orang yang kayak kita menjauhi mereka, lalu yang jaga dan ngarahin mereka siapa
donk?” dan ia terdiam Dek setelah Kakak ngomong gitu. Kakak realis aja sih Dek,
nggak terlalu kaku. Ada hal yang nggak bisa Kakak ikuti dan kadang Kakak juga
punya keputusan sendiri.”
Aku dan
Lali bergesa ke mobil, karena takut ditungguin karena kaminya kelamaan. Eh,
ternyata eh ternyata mereka sedang duduk santai di pelataran luar mesjid. Aku
jadi gusar. Bukan hanya aku ternyata, Dira, bang Indra juga demikian.
“Jam
berapalah kita sampeknya nih ya Bang kalau belum gerak juga?”
“Itulah
Dek. Udah jam sepuluh pula nih. Abang males protes, nanti jadi masalah pula.”
Baik aku
dan mereka nggak ada yang dapet ide untuk membuat mereka bergegas berangkat,
maka kami putuskan untuk menikmati jajanan di dalam mobil. Toh, lambat laun
mereka pun akan menyadari hari semakin larut, bukan?
***
“Yuk..yukk..kita
makan duluuu…” kata bang Indra. Aku yang sejak tadi sudah tertidur pulas jadi
malas bergerak. Dan, setelah menuruni mobil, apa yang terjadi? Pahaku terasa
bergumpal-gumpal. Mungkin ototnya kaku banget dan sakit banget dibawa berjalan.
Tapi, mau nggak mau aku harus tertatih berjalan sedikit menuju warung nasi
goreng demi mengisi perut yang tadi ku bawa tidur dalam kondisi melilit.
Pukul
12.00wib ternyata. GLEKKK!!! Ini masih di Ujung Batu, masih di Rokan Hulu gan!
Jam berapa pula sampai di Pekanbaru yaaa? Huuaahhh… Mimpi apa ya aku semalam.
“Ini Mbak
nasi gorengnya..” kata si mas penjual kepadaku.
Hemmm…yang
namanya nasi goreng ya kurang lebihnya begini cuy. Karena kelaperan, kami makan
dengan lahap. Oh ya, ada anggotanya di Teguh juga di sini. Cuma kami berdua
yang setia beriringan ternyata. Ini ntah udah tempat ke berapa yang udah hampir
kami singgahi. Setiap mau singgah, ada aja yang komentar nyari yang low budget
ajalah, yang ampera ajalah, yang nggak mau makan nasi gorenglah. Eh, nggak
tahunya makan nasi goreng juga akhirnya. Udah jam 12 pula tuh! Huaahh…
“Kak,
sebenarnya Ospa nggak cerewet loh. Tapi, karena nggak ada kesempatan untuk
diam, makanya Ospa cerewet, hahaaha.”
Ospa ini
adalah teman semobilnya Teguh. Orangnya heboh banget dan pertama kali aku
melihat dia ya waktu dia, Teguh dan Afif lomba debat di Fekon kemarin. Nggak
tahu sebelumnya kalau ternyata dia anak BEM juga. Hihii, sama doank sih sama
aku yang sering timbul-tenggelam.
“Gini Kak,
Ospa itu sebenarnya nggak cerewet, tapi nggak ada yang percaya kalau Ospa nggak
cerewet makanya mending sekaligus Ospa cerewet aja Kak. Toh, pendiam pun orang
nggak ada yang percaya. Benar kan Kak?”
Nggak ada yang percaya kalau Ospa
nggak cerewet makanya sekaligus Ospa cerewet aja Kak!
Kalimat
Ospa itu ternyata berkesan bagiku. Tiba-tiba aku teringat seseorang. Dan,
tiba-tiba pula aku bertanya, “Apakah dia berubah karena ia menganggap dirinya
udah buruk dan sekaligus menjadi buruk aja?” Ah, tapi kalau pun memang benar,
itu adalah pilihannya. Dulu, aku sudah penah berkata kepadanya, “Sejauh ini,
apapun yang telah terjadi kepadanya, penilaianku kepadanya tidak pernah
berubah. Dia tetap sahabatku, sama baiknya seperti aku mengenalnya pertama
kali.” Tapi, mungkin kalimatku itu tidak diindahkannya. Atau kebencian
terhadapku telah terlanjur lebih besar? Mungkin.
“Berapa
nasi gorengnya Dek?”
“Rp 11.000
Kak.”
“Kakak
pinjam uang Adek dulu yaa?”
“Oke Kak,”
kata Laili.
Kami
bergegas melanjutkan perjalanan. Kata bang Zulfa tadi, kami harus berkumpul di
Islamic Centre Bangkinang minimal pukul 01.30wib. Angka yang mustahil
sebenarnya untuk jarak sejauh ini. Tapi, kami serahkan semuanya kepada abang
supir yang andalan. See u night!






Tidak ada komentar:
Posting Komentar