Minggu, 14 Juni 2015

Tour De Aek Matuo


Astaghfirullah! Aku terkejut seperti biasa. Menduga kalau sekarang sudah subuh. Ku raih HP yang ku selipkan di antara kasur dan dipan dengan posisi speaker menghadap ke bawah, ke arahku. Pukul 01.50wib ternyata. Huft! Ini tanda bahwa aku tidur dengan was-was di bawah tekanan waktu.
***
Pukul 04.30wib.
Aku segera beranjak dari tempat tidur. Kalau ku hayati kantuk ini tentu aku akan tertidur lagi. Setelah Tahajud dan Witir, azan subuh langsung menyahut. Wah, pas banget. Aku segera mandi, sholat subuh dan mengaji, pas ngelihat jam, eh udah jam 05.25wib aja. Cepet amat ya waktu berlalu?
Mak, jam 5.30wib kita udah di sana loh ya.
Pesan dari Teguh semalam terngiang jelas. Aku bergegas memasukkan Jaket biru, mukena, al-quran, kamera dan HP ke dalam tas. Aku meminjam tas Rini. Aku bingung harus lewat mana, gerbang kampus pasti masih ditutup. Mendadak dapat ide dari saran abang kos semalam supaya lewat labor Biologi di sebelah kanan kosan ini. Sebenarnya tentang jalan yang satu ini aku udah lama tahu, soalnya setiap malam selalu aja motor yang ke luar dari dalam UNRI ya dari jalan itu. Tapi, setelah di blok dengan portal besar, aku nggak ngerti lagi gimana celah lewatnya, soalnya jalan untuk sampai ke halaman labor itu tinggi banget semennya. Mesin motor pasti bakal nyangkut. Hemmm…
Yang penting, aku harus ngeluarkan motor dulu dan segera dipanasin. Eh, eh, pas ku masukkan ke gigi 1, malah mati motornya. Ah, nggak salah lagi minyaknya pasti udah entong. Buru-buru ku masukkan lagi motorku ke dalam kosan. Hemmm…kurang kerjaan aja cinnn.
“Minyak motorku habis, jadi aku jalan kaki Cuyyyy!” pamitku lagi kepada Rini.

***
Pukul 07.00wib, sejam meleset dari target. Kami belum ju
ga berangkat karena mobilnya belum lengkap.
Dek, mu di mana? Mak udah di BEM
Aku meminjam HP Laili untuk mengSMS Teguh. Tak lama, Teguh datang perlahan memasuki halaman BEM. “Ah, umur panjang dia,” kataku.
Adek udah sejak tadi di sini Mak.
“Hhahha. Sok kali dia, Kak. Padahal baru aja datang tuh diaaa,” kata Laili.
“Iya nih. Dia pikir kita nggak lihat apa? Haha.”
Aku sempat makan lontong sedikit tadi bareng Laili. Lumayanlah untuk ganjel perut yang kosong ini. Pukul 07.35wib, kelompok per mobil ditentukan. Aku berada di mobil 3; ada bang Indra, Agus, Dira, Nayla, Aku, Dek Siti, kak Dita, dek Laili. Awalnya 9 orang di mobil ini dan aku sempat mengusulkan Laili untuk pindah mobil. Tapi, aku pula yang berhasil menggagalkan saranku itu ketika Laili berekspresi tidak ingin. Huft! Hampir saja pemirsa.
Setelah babak tunggu-tungguan di BEM, babak menunggu berikutnya terjadi di SPBU. Mungkin ada setengah jam kami berhenti di sini untuk nunggu kelengkapan mobil. Dan, sekarang mobil kami genap berjumlah 8 mobil; 7 Avanza dan 1 L300.  Jumlah peserta sekitar 65 orang dan didominasi oleh cowok.
Kami resmi berangkat pada pukul 08.46wib setelah ‘isi angin’ ban di Garuda Sakti lantaran di SPBU tadi pengisi anginnya rusak. Barusan, aku sudah izin dengan bang Alam untuk tidak bisa mengikuti forum klasikal FLP hari ini. Sedih sih karena pastinya banyak ilmu baru yang akan ku peroleh dari sana. Tapi, insya Allah perjalanan kali ini pun akan banyak mengajariku.
KLINIK DOKTER BASTIAN
Aku kembali melintasi gedung berwarna hijau ini lagi. Ada kenangan pahit yang tertinggal di sana. Ah, masa lalu, mengapa hadir begitu sering?

***
“Pelan-pelang Bang Indraaa,” pintaku ketika lelapku terganggu karena beberapa kali hentakan.
“Opss..iya-iya, sori yaa.”
Ku lirik jam. Sudah pukul 10.29wib ternyata. Masih ada 2 jam lagi yang harus kami tempuh. Sudah ku coba untuk bertahan terjaga supaya bisa menikmati perjalanan ini, tapi pilihan tak dikehendaki pasti hadir; Mual. Maka, kembali ku lelapkan mataku meski leher rasanya pegel banget. Aku mana bisa tidur dengan rapi, badan di mana, kepala di mana. Hahaha.
Kok bisa sih si supir mobil tuh nggak ngantuk dan nggak mual sih? Hebat amat. Atau jangan-jangan kalau aku nyupir mobil pun nggak akan mual kayak jadi penumpang?
Aku mulai menerka-nerka sambil terus menutup mata.
“Aku nggak suka sama bau mobil. Jadinya aku memang nggak punya mimpi untuk punya mobil. Enakan naik motor deh!” obrolanku dengan sahabat, pada suatu dulu kembali melagu. Ah, anggap aja sebagai pengantar tidur.

***
“Chaa? Udah sampai. Turun yuk?” ajak Dira yang duduk di tengah, di sebelah kiriku.
Aku mengucek mata dan ternyata…. Welcome in Islamic Center of Rokan Hulu, guysss! Kedatangan kami disambut oleh gema lantunan kalam. Aku menularkan virus narsisku ke dek Laili. Kami tidak buru-buru ke toilet, tapi kami sibuk hunting foto di halaman mesjid yang sangat indah dan luas ini. Jadi teringat dengan masjid agung An-Nurnya Rokan Hilir. Sebenarnya nggak jauh berbeda sih. Kubahnya berwarna hijau sedangkan masjid Agung Rokan Hilir berkubah emas. Nggak tahu deh beneran emas asli atau emas palsu yang jelas emas. Ehhee. Sedangkan warna gedungnya sama-sama putih dan sama-sama memiliki 4 pilar yang menjulang tinggi dari badan masjidnya. Di sebelah kiriku terlihat calon pilar tunggal yang sedang dibangun dan ukurannya lebih besar dari keempat pilar tadi.
Setelah azan berkumandang, aku dan Laili segera berwudhu. Sayangnya toiletnya hanya ada 3 ruang aja. Karena takut kelamaan ngantri, aku langsung wudhu aja. Kalau tentang tempat wudhunya sih masih lebih bagus yang di Rokan Hilir. Di sana, akan ada kejutan bagi para pewudhu,  yaitu air perlahan-lahan akan berubah semakin hangat hingga menjadi sangat panas. Karena sumber air di mejid Agung di Rokan Hilir itu berasal dari air tanah.

***
“Bang? Yakin ini jalannya?” tanyaku kepada bang Indra.
“Dira, cobalah telvon si Teguh,” pinta bang Indra.
Dira langsung mengaktifkan paket nelvonnya dan menyerahkan HPnya kepada bang Indra.
“Kampretlah! Teguh udah sampek katanya,” kata bang Indra setelah telvon ditutup olehnya. “Kita sejak tadi ngira dia ketinggalan dan lama banget nyusulnya. Ternyata cuma dia yang udah sampai ke tempat. Waahhhhhhhh..” penjelasan bang In itu langsung disambut oleh bahak dari seisi mobil. Apalagi kalau bukan karena kami geli terhadap diri sendiri lantaran sudah mengejek-ejek Teguh sejak tadi? Haha.
Kami memberi kode kepada 6 mobil lainnya untuk berputar arah. Eh, bang In mundurnya niat banget, akhirnya ban belakang kami terperosok ke lumpur. 5 orang cowok turun dari mobil lainnya untuk membantu mendorong mobil kami. Hiksss…
“Dira, coba tanya lagi sama si Teguh di mana tepatnya nih? Jangan-jangan pakai Google Map nih si Teguh, dia kan agak gaul gitu,” kata bang Indra.
Kami berputar arah dan melaju dengan kecepatan sedang karena gapura yang dimaksud Teguh takut terlewatkan. Daaannn…benarlah kiranya, dia sedang menyambut kami dengan melipat tangannya dan tesenyum penuh ejek kepada kami. Hiksss… Padahal dia awalnya yang paling nggak tahu jalan ke Rokan Hulu. Huhuuu..
“Silahkan ambil nasinya, sayur dan lauknya dan kita akan makan di sana.”
Kami berebut nasi bungkus plus lauk dan sayurnya yang bikin perut semakin menyesak. Selanjutnya, kami harus melewati jembatan gantung yang panjangnya kira-kira 200 meter. Aku sih suka banget goyang sana goyang sini, tapi berbeda dengan teman-teman di belakangku yang rupanya udah membentuk tautan tangan yang panjang dan aku yang paling depan jadi tumpuan.
“Eelll! Pelan-pelaaaaaan,” teriak orang dair belakangku. Ntah siapa.
“Iyaaaaaa,” pekikku, terkekeh. Segitu takutnya merekaaa… Aku malah sempat memfoto-foto dan merekam sebentar moment ini. hihii. Jadi teringat jembatan gantung di Palembang, tempat Mbah.
Aku kira kami udah diizinkan makan setelah melewati jembatang tadi, ternyata belum. Per orang dikenakan karcis Rp 5000 dan kembali dibayarkan oleh bendahara BEM yang baik hati; Novi. Nasi bungkus tersayang harus dipegang lagi karena kami harus berjalan kaki sampai ke bibir hutan, tempat Air Terjun Aek Matuo berada.

***
Aku memegangi tas bang Enda supaya berat kakiku sedikit terbagi. Tanjakan yang harus kami naiki ini sangat curam, nyaris saja seperti huruf A kemiringannya. Lutus panas dan ngilu banget rasanya. Sudah sejam lebih kami berjalan kaki, melewati kebun sawit, kebun karet kemudian kebun karet lagi dan kebun sawit lagi. Jadi teringat kata-katanya Romi semalam,
“Mbak, jalannya nanti tuh ada tanjakan yang curam banget loh. Kalau naik motor bisa sampai ke atas dan kita tinggal lanjut masuk ke hutan aja. Tapi, kalau naik mobil, berarti Mbak harus jalan kaki dari simpang parkiran mobil tuh sampai deket hutannya. Wah, itu jauh banget loh Mbak.”
Iya Dek, bener ternyata katamu. Ini Jauuuh bingiiittsss, gumamku.
“Dek, coba jalannya mundur. Gantian, jangan nanjak terus ke arah depan badannya.”
Aku mencoba saran bang Enda, tidak terlalu berpengaruh sih sebenarnya tapi bolehlah untuk menukar dan membagi lelah dengan posisi berbeda. Ada tukang ojek di bawah sana yang tadi menawari kami dengan harga Rp 5000 saja sampai ke puncak. Tapi, hanya beberapa orang saja yang mau menggunakan jasanya dan angkat tangan terhadap kedua kakinya. Termasuk sang Presma; bang Zulfa. Hihii.
Aku sih mau juga kalau nggak mengingat dan menimbang berat badan yang memang harus dikurangi.
“Kalau membakar kalori udah banyak nih Dek sejak tadi lagi. Yang sulit itu membakar lemak, biar kurang buncit perut Abang ni.”
“Hahah..iya ya Bang, soalnya kan lemak itu tersimpan di bawah kulit. Hihii”
Dari atas, kami bisa melepas pandangan ke bentangan hijau
kebun-kebun yang telah kami lewati tadi. Sungguh indah! Seluas mata memandang, hanya ada hijau kebun dan birunya langit yang terbentang.

***
“Mak, makan yuk!” ajak teguh ketika aku baru saja sampai di puncak.
“Emangnya yang lainnya udah pada makan Dek?” tanyaku ragu.
“Udah. Udah ada juga yang masuk hutan tuh. Yuklah buruan!”
Aku mah seneng banget. Emang udah sejak tadi perutku berteriak-teriak minta diisi. Sambil menyantap nasi berlauk sarden dan bersayurkan tumis buncis ini, aku melihat satu per satu teman yang baru muncul dari kecuraman tanjakan tadi. Huft! Untung aku udah sampai di atas sekarang. Sebenarnya ini masih belum seberapa dibandingkan pendakian gunung. Karena medan yang kami lalui tadi semuanya sudah bersemen. Kurang mulus apa lagi coba? Hihii.
“Mak, Adek kemarin berfikir, Adek emang nggak bisa kayak Emak yang selalu update tulisan harian setiap harinya. Karena Adek moodian orangnya. Terus di Pea bilang, kenapa status-status Adek tu nggak Adek kumpulin di blog aja biar rapi? Oh iya juga ya, fikir Adek waktu itu. Mak udah baca kan status Adek yang tentang; Tuhan tidak sebercanda itu, bung!”
“Udah Dek. Dan, Mak suka banget tuh!”
“Nah, itulah yang dibilang sama Pea dimasukin ke blog aja. Hehmm.. Soalnya Adek nggak rajin update setiap hari kayak Emak meskipun pengen juga punya me of the day-nya Emak tuh.”
Baru sebentar kami jeda, dia melanjutkan lagi, “Adek udah baca semuanya Mak, walau pun nggak ada nama Adek di sana. Ya, kalau enak Adek bilang ceritanya enak. Tapi seriuslah yang tentang presiden Novel Indonesia itu boring banget Adek bacanya.”
“Iya ya? Padahal banyak banget nasehatnya loh di sana..”
Teguh lebih dulu selesai makan dan lebih dulu masuk ke hutan. Sementara aku dan Siti baru aja selesai dan aku melihat gelagatnya Siti ingin menunggu yang lainnya dulu. 

“Dek, kita duluan aja yuk? Angsur-angsur.”
“Yuklah Kak.”
Sekitar 200 meter kami berjalan menapaki tanah lembab ini, tiba-tiba seorang cowok bermata sipit dan berkulit putih menyusul kami. Dialah yang ketika kami makan tadi sempat mewawancarai kami tentang perjalanan ini dengan batang kayu. *dasar wartawan nggak sopan. Hihiii.
“Dek, Adek suku mana sih?” tanyaku setelah aku tahu namanya Alfi.
“Suku Tajung, Kak,” jawabnya sambil terus melangkah di depanku bersama tongkatnya.
“Tanjung? Tanjung tuh apa?”
“Tapi, tadi Kakak nanya suku…”
“Oh, maksud Kakak, urang maaa?” aku sudah klik, dia pasti orang minang.
“Orang Payakumbuh Kak.”
“Dek, Adek tuh mengingatkan Kakak dengan seseorang loh.”
“Siapa Kak? Senior Kakak? Pacar Kakak? Mantan Kakak?” tanyanya, memborong.
“Ada dehhh…” hatiku langsung menyebut nama seseorang yang tak perlu dia tahu. “Yang jelas, kalian mirip. Emang semua orang Minang rata-rata matanya sipit ya Dek?”
“Nggak juga sih Kak.”
“Terus, Adek tuh kenapa sipit?”
“Yah, udah anugerah dari yang di atas sih Kak kalau yang ini. Mau gimana lagi?” jawabnya sok cool.
Kadang Siti yang berjalan paling depan, kadang Alfi yang terdepan dan emm…kalau aku sih udah pasti paling belakang pemirsaa. Sampai si Alfi bilang,
“Dari cara jalan Kakak, ketahuan kali Kakak di rumah nggak ada kerja.”
“Enak aja. Ada yaaa..”
“Apa emangnya?”
“Nyuci piring.”
“Aku nyuci piring juga.”
“Nyuci baju.”
“Aku nyuci baju juga Kak. Semua pekerjaan rumah, ku kerjakan Kak. Hahhh..hayooo.”
“Terus, mesti Kakak kerja berat setiap hari biar kuat?”
“Sering-seringlah nonton film-film survival Kak. Biar kita tahu gimana sulitnya bertahan.”
“Pernah kok. Film 5cm.”
“Wah, itu sih film romance Kak. Coba nonton film Zombie, Kak.”
“Hahaha. Kalau itu mah Kakak udah sering nonton Dek. Emang letak survivalnya di mana?”
“Ya coba aja Kakak bayangkan tiba-tiba orang di belakang Kakak mau makan Kakak. Pasti Kakak akan berusaha menyelamatkan diri. Dia udah nggak kenal lagi kita temannya. Aku yakin, loncat ke jurang pun Kakak berani demi menyelamatkan diri.”

Obrolan nano-nano mewarnai pendakian dan penurunan kami di medan berlika-liku ini. Sesekali kami meragu karena ada pohon penghalang jalan dan kehilangan jejak tapak.
“Emang Kakak jalannya kayak putri gitu Dek?”
“Duh Kak, bukan putri lagi. Tapi ini princess,” ledek Alfi. “Olahraga itu penting Kak. Setidaknya 2 jam dalam seminggu. Supaya fisik kita terlatih dan nafas kita panjang.”
“Kakak sering kok Aerobic di kamar.”
“Aerobic itu Cuma pemanasan aja Kak. Yang bisa memperpanjang nafas itu jogging contohnya.”
Ooooo…pantesan aja baru lari sebentar, nafasku udah tersengal-sengal. Emang jantungku belum terlatih dengan jogging nih.
“Ayoo Kak, cepetan jalannya. Siti aja udah jauh tu haaaa,” kata Alfi sambil melongok ke bawah. Ya, medan yang harus kami lewati kali ini nyaris seperti huruf H. Kami harus berhati-hati menuruni bukit ini dengan berpijak pada akar-akan pohon dan buku-buku tanah.
“Iyalah Siti cepat. Dia beda dengan Kakaaak,” elakku.
“Jangan suka membedakan diri kita dengan orang lain Kak. Cobalah kita berfikir, orang lain bisa kenapa aku nggak bisa? Gitu.”
“Wah wah, Adek ni emang bener-bener Motivator Perjalanan yaaa.”

***
Nyaris saja harapan pupus dan langkah terputus lantaran tujuan tak juga dirasa semakin mendekat. Tapi, Alfi dan Siti selalu berkata, “Sebentar lagi nih Kak. Sebentar lagi!”
Ada teriakan nggak jelas artikulasinya yang menggema. Kami kira itu adalah teriakan dari teman-teman yang sudah bertemu air terjunnya. Tapi, gemericik air pun tak terdengar sama sekali suaranya. Dan, tenyata suara itu adalah milik 4 orang anak kecil yang ntah bagaimana cara mereka berjalan, sekarang sudah berhasil menyusul langkah kami. Hebatnya lagi, 2 diantaranya bertelanjang kaki, tidak menggunakan apapun di kakinya. Huft! Anaknya si tarzan kali ya mereka?
Kami mengikuti langkah-langkah lincah mereka. Sempat melemah lagi ketika merka berkata perjalanan masih jauh. Huft!
Akhirnya pukul 16.24wib, kami sudah berhasil bertemu teman-teman lain yang sedang berusaha menyeberangi sungai. Wah, air terjunnya pasti sudah dekat. Aku berpegang kepada tongkat Alfi dan tongkatku yang dipegangi Alfi lalu berjalan dengan sangat berhati-hati melintasi balok besar, 3 meter di atas aliran sungat. Sereeeeeeeeem banget! Aku takut tergelincir karena balok itu licin dan sepatu pansus anti badaiku ini nggak lagi bergerigi. Hiksss.
Alhamdulillah! Akhirnya kami telah sampai di air terjun yang sangat dibanggakan oleh Rokan Hulu ini. Dan, inilah komentar pertamaku,
“Kayak gini aja nyo, Bang?” (kepada bang Enda). Lalu bang Enda mengangguk.
Mungkin, aku terlalu membayangkan air terjun ini akan mirip seperti air terjun yang pernah ku lihat si Thailand. Ya Allah, ridhoi perjalanan ini. Meskipun yang ku impikan tak sesuai kenyataan, tapi pelajaran yang ku dapatkan lebih besar dari yang ku fikirkan.

Sekitar setengah jam kami menikmati deru dan percikan air terjun bertingkat ini. Asyiknya adalah batu di bawah air terjun ini seperti hamparan lapangan; datar dan luas. Aku sampai bisa lompat-lompat di sana. Ketika teman-teman mulai merelakan seluruh tubuhnya di hujani air terjun itu, aku tetap tidak berniat. Cukup kakiku yang baru saja kram karena kedinginan dan jangan sampai badanku pula yang masuk angin di perjalanan. Akhirnya, aku hanya membasahi lutut ke bawah saja, sebagai syarat sah sudah merasakan sejuknya Aek Matuo ini.
“Kata Bang Zulfa, fotonya cewek sama cewek aja, cowok sama cowok aja,” tegur seorang wanita kepada Teguh yang hampir berselfie-an denganku dan yang lainnya. Seketika Teguh menutup kameranya dan kami langsung bertebaran pura-pura nggak dengar apa-apa.
“Kolot kali pun! Bukannya kita ngapa-ngapain di tempat terbuka gini. Ah!” gerutu Teguh. Aku melihatnya. Setelah itu Teguh menghilang, aku nggak tahu dia menghilang ke mana. Haha.
20 menit berikutnya, guyuran air terjun ini semakin deras dan kencang. Kami sudah dikode oleh para tetua BEM untuk bergegas entas dari sana. Padahal belum puas rasanya dan belum hilang penat dengan sempurna, tapi mau tidak mau kami memang harus enyah, karena hari semakin gelap. Hanya dikhawatirkan kami belum ke luar dari hutan ketika maghrib datang.
“Dek, kita akan mengulang perjalanan panjang tadi siang. Dan, yang kali ini pasti akan terasa lebih melelahkan,” kataku.
“Iya nih Kak, rasanya nggak pengen pulang aja. Atau kalau ada flying fox, maulah naik itu aja. hihii.”

***
Kami berjalan beriringan dan saling memperhatikan. Beberapa cowok berjalan di depan, di tengah dan di barisan paling belakang rombongan untuk berjaga-jaga. Alhamdulillah, ketika amghrib sempurna datang, kami sudah tiba di bibir hutan membebaskan kaki yang pegal.
“Berapa Mizone-nya nih, Bang?” tanyaku yang maha kehausan.
“Rp 10.000 Dek.”
Aku nggak bisa berpelit dengan uang, meskipun ini uang pinjaman. Hiksss. Ku berikan uang pas Rp 10.000 dan kemudian bisa ku teguk Mizone. Eits, nanti dulu, aku nggak bisa memuaskan nafsuku ketika ku lihat orang-orang disekitarku terlihat kehausan. Inilah hikmah perjalanan, kita diajarkan berbagi meskipun kita beralasan untuk memuaskan diri sendiri.
“Di sini nggak laku uang receh doh, Dek,” kata penjual tadi.
“Loh, kenapa gitu Pak?”
“Iyaaa, pokoknya gitulah. Uang Rp 500 pun tak laku di sini, Dek.”
“Oooooo…”
Setelah Mizone-ku habis, giliran aku malakin Aqua dinginnya Laili. Hehe. Sambil mengisi kejenuhan, aku mulai ngajak Laili ngobrol ala pengamat sosial,
“Dek, sadar nggak? Waktu kita sebagian besar banyak habis di tungu-menunggu.”
“Hemmm..bener Kak.”
“Seharusnya yang udah nyampek duluan ini disuruh pergi duluan aja. Karena ojeknya pun kan harus bolak-balik juga jemput kita sebanyak ini. Inilah bedanya Indonesia dengan Negara lainnya Dek. Di sini, tenggang rasa itu sangat tinggi. Apa-apa harus nunggu dan bareng...”
“Tapi Kak, kalau di hutan kayak gini kita emang harus bareng-bareng Kak. Soalnya bahaya kalau terpencar-pencar,” sela Laili.

“Kalau yang ini sih emang ada benernya juga tunggu-tungguan Dek. Tapi, yang Kakak maksud ini secara umum loh. Biasanya kalau kita janjian, anggap aja ke SKA, pasti kita akan saling tunggu-tungguan teman-teman lengkap barulah kita berangkat bareng. Padahal, pada akhirnya kita pun akan melaju sendiri-sendiri. Nah, waktu yang kita gunakan untuk nunggu itu lumayan loh. Kenapa nggak pakai cara yang lebih praktis aja? Misalnya, kita ketemua di SKA jam 7 di PH. Nah, yang datang duluan udah bisa menikmati hal lain di sana sambil nunggu yang lainnya datang. Jadinya, kita nggak merugikan waktu orang lain karena nungguin kita.”
“Bener juga sih Kak.”
Ah, lagi-lagi analisaku tajam banget kalau tentang waktu nih pemirsaaa. Untung aja kali ini aku nggak bawa notebook. Coba kalau bawa, pasti sekarang aku udah ngangsur-ngangsur nulis.hihii. Di tengah hutan begini dan dalam kondisi lelah sekalipun.
“Ayooo..ayoo, bagi yang mau naik ojek sediakan uang Rp 20.000 per orang dan diantarkan sampai ke parkiran mobil. Ayoo segera gerak!” instruksi bang Zulfa kepada kami.
“Kak, jangan bilang kita tarik tiga Kak,” Laili resah. Tapi, kenyataannya kami semua memang harus tarik tiga. Lalu, Laili kembali khawatir, “Ya ampuuun Kak, serem loh di jalan yang kayak gini Kak. Yakin bisa nih Kak? Lalu aku mengangguk meyakinkannya.
“Dek, kita bareng ya Dek!” bisikku kepada Laili.
“Kakak naik motor atau jalan kaki?” tanyaku kepada Kakak sholeha.
“Jalan kaki Dek,” jawabnya singkat. Hemmm..aku sudah membulatkan keputusan untuk tetap naik ojek saja. Bukankah ini adalah kondisi darurat dan kita boleh memilih? Lagian, membayangkan harus berjalan kaki selama 2 jam lagi, aku udah angkat kaki bah!
Laili di tengah dan aku di belakangnya.  Untung dressku lebar dan aku bisa melangkah. Dress cantik mami ini memang paling bisa diandalkan. Pernah memenangkanku dalam acara fashion show, bisa dibawa hang out, bisa juga masuk hutan kayak gini.

“Bang, Aek Matuo itu artinya apa Bang?” tanyaku kepada abang ojek yang ternyata orang Mandeiling.
“Air yang bertuah.”
“Ooooohhh..itu aritnya toh. Aman kan di sini Bang?”
“Amaan Dek.”
Pertanyaanku itu sebenarnya lebih kepada upaya pelegaan hatiku dan Laili yang aku yakin sangat tidak nyaman. Dalam trip pertama ini, ada sekitar 10 motor yang kami gunakan. Artinya ada sekita 30 orang yang dilangsir ke depan.
“Dek, Adek kesempitan nggak duduknya?” tanyaku.
“Bukan masalah sempitnya Kak. Adek merasa takut aja.”
“Baca zikir di dalam hati ya Dek,” bisikku pelan.
Aku pernah berkata kepada Lia seperti ini, “Cin, mu tahu nggak momen apa yang paling mengingatkan dan mendekatkanku kepada Allah? (Lia mengaku nggak tahu dan beberapa tebakannya salah) Jawabannya adalah PERJALANAN, Cin. Karena ketika kita sedang di jalan, harapan terbesar kita cuma 1, yaitu SELAMAT sampai tujuan. Nah, yang paling kita takutkan adalah KECELAKAAN. 2 hal itulah yang membuat bibirku tahan berkomat-kamit atau bibirku tahan menyebut-nyebut zikir.”
Aku tahu banget dek Laili sedang ketakutan tingkat tinggi ketika motor kami melintasi jembatan gantung yang membelah sungai ini. Melintasinya membuatku teringat dengan Desa Buluh Cina ketika aku mengikuti JELAJAH ALAM tahun lalu. Luas sungainya persis banget bahkan keruh airnya pun mirip. Setidaknya desa ini lebih beruntung karena dihubungkan dengan jembatan gantung ini, berbeda dengan desa Buluh Cina yang harus menggunakan sampan untuk menyeberang.

***
“Adek tadi pasti ketakutan banget ya waktu lewat jembatan gantung tadi?”
“Ya Allah Kak. Bangeeeeeeet.”
“Kakak malah suka banget loh Dek. Dan, takjubnya, si motor tetap fokus ngambil garis lurus di tengah-tengah jembatan ya. Sebenarnya tadi nggak terlalu terasa goyangannya disbanding waktu kita jalan kaki tadi siang,” jelasku dengan senyuman, pertanda aku tidak takut sama sekali. Justru keasyikan.
Kami duduk berlesehan di teras ruko yang sedang tutup. Bercerita ringan plus konyol mungkin bisa menjadi pengobat lelah. Ketika azan Isya berkumandang, kami berpencar mencari tempat berganti baju dan mencuci kaki. Aku dan beberapa orang  lagi numpang ke rumah warga dan sebagiannya ada yang ke mushola terdekat.
“Dek, gimana mereka? Mau naik ojek atau milih jalan kaki?” tanyaku kepada teman cowok yang baru aja nyampek.
“Tetap jalan kaki mereka. Tukang ojeknya sampai nurunkan harga dari Rp 20.000 ke Rp 10.000, turun lagi jadi Rp 5000 sampai dibilang gratis pun tetap aja mereka nggak mau. Ya inilah kami baru nyampe karena disuruh komandan ngiringin mereka.”
Aku terperanga. “Kalian ngiringinnya gimana?”
“Ya ada yang di depan, ada yang di belakang merekalah.”

Aku manggut-manggut. Benar dugaan Teguh tadi, “Mak, kita cuma menang hemat tenaga aja. Tapi pada akhirnya kita tetap nungguin mereka 2 jam juga.” Aku salut sekaligus kesal dengan mereka. Salut karena mereka tetap pada prinsip dan idealismenya. Kesal karena menurutku mereka egois, seharusnya sudah bisa berangkat sejak tadi, tapi akhirnya jadi terhambat untuk cepat pergi. Sebenarnya mirip-mirip sih, mereka juga kan jalan kaki dalam kegelapan bersama cowok-cowok selama 2 jam. Perihal takut ‘tersentuh’ sebenarnya bisa diakali dengan meletakkan tas di depan. Hemm…but that’s theirs choice and we aprriciate that also!
Setelah semua peserta sampai di tempat awal, kami langsung cusss ke Islamic Centre lagi. Di sanalah mereka yang belum sempat ‘berkemas’ diberi waktu untuk itu dan juga menunaikan sholat. Tadinya, aku niatnya mau sholat di rumah aja. Tapi, ketika ku lirik jam sudah menunjukkan pukul 21.35wib akhirnya aku sholat segera. Lagi-lagi ini dress bertuah, gampang keringnya makanya ku lap-lap aja bagian yang ku rasa kotor demi sahnya sholat.

***
Islamic Centre sedang ramai malam ini. Ternyata panggung yang ku lihat tadi siang itu digunakan untuk perlombaan rebana mala mini dalam momen menyambut ramadhan. Dimalam hari, mesjid ini terlihat sangat megah, cahaya lampu yang kekuningan memperjelas lampu Kristal yang cahaya warna-warni. Aku suka melihatnya.
Setelah sholat, tentu tak perlu diingatkan lagi, aku akan berfoto dan memfoto pemandangan menakjubkan ini. Hemmm…akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di Kabupaten ke 5 yang pernah ku kunjungi di Riau. Aku ingin mengunjungi  7 lainnya lagi ya Allah. Aamiin, someday soonly.
“…, emangnya Adek nggak ngerasa Kakak ini beda sejak tadi?” tanyaku kepada Laili.
“Ngerasa sih Kak. Hemmm… jarang ada ***wat yang mau berkawan dengan Joni dan Okta. Dari situ aja udah kelihatan Kak. Terus, mana ada ***wat yang rajin banget foto-foto kayak Kakak. Hihii.”
“Perihal Joni dan Okta, Kakak udah pernah ngomong ke seseorang Dek, gini, “Kalau semua orang yang kayak kita menjauhi mereka, lalu yang jaga dan ngarahin mereka siapa donk?” dan ia terdiam Dek setelah Kakak ngomong gitu. Kakak realis aja sih Dek, nggak terlalu kaku. Ada hal yang nggak bisa Kakak ikuti dan kadang Kakak juga punya keputusan sendiri.”
Aku dan Lali bergesa ke mobil, karena takut ditungguin karena kaminya kelamaan. Eh, ternyata eh ternyata mereka sedang duduk santai di pelataran luar mesjid. Aku jadi gusar. Bukan hanya aku ternyata, Dira, bang Indra juga demikian.
“Jam berapalah kita sampeknya nih ya Bang kalau belum gerak juga?”
“Itulah Dek. Udah jam sepuluh pula nih. Abang males protes, nanti jadi masalah pula.”
Baik aku dan mereka nggak ada yang dapet ide untuk membuat mereka bergegas berangkat, maka kami putuskan untuk menikmati jajanan di dalam mobil. Toh, lambat laun mereka pun akan menyadari hari semakin larut, bukan?

***
“Yuk..yukk..kita makan duluuu…” kata bang Indra. Aku yang sejak tadi sudah tertidur pulas jadi malas bergerak. Dan, setelah menuruni mobil, apa yang terjadi? Pahaku terasa bergumpal-gumpal. Mungkin ototnya kaku banget dan sakit banget dibawa berjalan. Tapi, mau nggak mau aku harus tertatih berjalan sedikit menuju warung nasi goreng demi mengisi perut yang tadi ku bawa tidur dalam kondisi melilit.
Pukul 12.00wib ternyata. GLEKKK!!! Ini masih di Ujung Batu, masih di Rokan Hulu gan! Jam berapa pula sampai di Pekanbaru yaaa? Huuaahhh… Mimpi apa ya aku semalam.
“Ini Mbak nasi gorengnya..” kata si mas penjual kepadaku.
Hemmm…yang namanya nasi goreng ya kurang lebihnya begini cuy. Karena kelaperan, kami makan dengan lahap. Oh ya, ada anggotanya di Teguh juga di sini. Cuma kami berdua yang setia beriringan ternyata. Ini ntah udah tempat ke berapa yang udah hampir kami singgahi. Setiap mau singgah, ada aja yang komentar nyari yang low budget ajalah, yang ampera ajalah, yang nggak mau makan nasi gorenglah. Eh, nggak tahunya makan nasi goreng juga akhirnya. Udah jam 12 pula tuh! Huaahh…
“Kak, sebenarnya Ospa nggak cerewet loh. Tapi, karena nggak ada kesempatan untuk diam, makanya Ospa cerewet, hahaaha.”
Ospa ini adalah teman semobilnya Teguh. Orangnya heboh banget dan pertama kali aku melihat dia ya waktu dia, Teguh dan Afif lomba debat di Fekon kemarin. Nggak tahu sebelumnya kalau ternyata dia anak BEM juga. Hihii, sama doank sih sama aku yang sering timbul-tenggelam.
“Gini Kak, Ospa itu sebenarnya nggak cerewet, tapi nggak ada yang percaya kalau Ospa nggak cerewet makanya mending sekaligus Ospa cerewet aja Kak. Toh, pendiam pun orang nggak ada yang percaya. Benar kan Kak?”
Nggak ada yang percaya kalau Ospa nggak cerewet makanya sekaligus Ospa cerewet aja Kak!
Kalimat Ospa itu ternyata berkesan bagiku. Tiba-tiba aku teringat seseorang. Dan, tiba-tiba pula aku bertanya, “Apakah dia berubah karena ia menganggap dirinya udah buruk dan sekaligus menjadi buruk aja?” Ah, tapi kalau pun memang benar, itu adalah pilihannya. Dulu, aku sudah penah berkata kepadanya, “Sejauh ini, apapun yang telah terjadi kepadanya, penilaianku kepadanya tidak pernah berubah. Dia tetap sahabatku, sama baiknya seperti aku mengenalnya pertama kali.” Tapi, mungkin kalimatku itu tidak diindahkannya. Atau kebencian terhadapku telah terlanjur lebih besar? Mungkin.
“Berapa nasi gorengnya Dek?”
“Rp 11.000 Kak.”
“Kakak pinjam uang Adek dulu yaa?”
“Oke Kak,” kata Laili.
Kami bergegas melanjutkan perjalanan. Kata bang Zulfa tadi, kami harus berkumpul di Islamic Centre Bangkinang minimal pukul 01.30wib. Angka yang mustahil sebenarnya untuk jarak sejauh ini. Tapi, kami serahkan semuanya kepada abang supir yang andalan. See u night!

Tidak ada komentar: