Kamis, 30 Juli 2015

Aku Dinamai Mutiara Hitam

"Rin, kita boleh berantakan, tapi kamar kita nggak boleh ikut-ikutan berantakan,” kataku. Mulailah aku merapikan barang-barangku, kemudian merapikan kamar. Sementara Rini mencuci piring. “Jangan ketahuan kali kalau kita ini pejuang SKRIPSI Rinn.. hehe.”
“Ell..gimana nih kalau aku harus bayar uang SPP ternyata?” rengek Rini.
“Seperti kata Lia kemarin sore, anggap aja itu sedekah Rini untuk kampus. Emangnya yakin nggak terkejar lagi Rin?”
“Kabarnya semua urusan yang terjadi setelah tanggal 31 juli itu berarti udah harus bayar SPP El. Bahkan ada peraturan baru, kalau masuk masa perpanjangan perpanjangan SPP di minggu pertama denda 10% dari SPP+SPP penuh. Kalau telat diminggu kedua, denda 15% jadinya. Ngeri kali kan?”
“Busyeeett dah! Ngeri juga ya Rin. Hemm..kalau gitu cepatlah bayar, daripada bayar denda nanti.”
“Ini kan masih tanggal 30 El. Makanya mau dipastikan lagi hari ini tentang nasib ujianku.”
Tak lama Ika datang menjemput Rini. Rini pergi dan tinggallah aku sendiri. Rumah sepi lagi.
“Huhuu, uangku ketinggalan. Lupa bawa uang sepeserpun,” Rini kembali lagi.
“Hapaanyaa, kok bisa lupa?”
“El, kunci rumah. Kak Dewi pergi, tinggal El sendiri di sini!” teriak Rini sambil berlari.
Mendadak, aku jadi ngerasa serem gitu. Padahal, aku baru aja muter film horor Thailand yang judulnya Long Weekend. Berteman dengan kucing yang baru aja masuk dari jendela kamar, aku memberanikan diri untuk tetap lanjut menonton.

Assalamualaikum Bang, pak Danur ada di kampus Gobah nggak hari ini ya? *Elysa
Aku mengirim pesan itu ke bang Joni, asistennya bapak. Tapi aku tunggu-tunggu, nggak juga dibalas. Ku ulangi lagi mengirim, tetap juga nggak dibalasnya. Ah, langsung SMS ke bapak aja deh..
Assalamualaikum Pak. Pak, apakah hari ini Bapak ada di kampus Gobah?
Alaikumsalam, mohon maaf dari siapa ya?
Elysa Pak. Yang kemarin bimbingan sama bapak..
Oh ya, saya ke kampus hanya mengantar tesis mahasiswa dan saya ke Jakarta.
Wah, berarti pak Danur hari ini berangkatnya. Lebih cepat sehari dari yang dikatakannya kemarin kepadaku ternyata.
Hati-hati di jalan ya pak ^_^. Elysa udah dapat ide penelitiannya pak. Gini, anggota aktif KOPMA sekarang kan hanya 35 orang dan nggak ada yang dari Pend. Ekonomi pula. Jadi, Elysa mau meneliti PERSEPSI MAHASISWA PEKON terhadap KOPMA. Pak Suarman udah setuju Pak. Menurut Bapak bagaimana?
Apa yang dipersepsi KOPMA apa ada
WHAT? Ini apa maksudnya ya? Duh, rasanya nggak sopan pula kalau ku tanya, Maaf Pak maksudnya apa? Nggak pas aja rasanya nanya gitu ke bapak. Akhirnya, pandai-pandai aku ajalah nge-les biar nggak ketahuan kali aku nggak ngertinya.
Gini Pak, mahasiswa UNRI kan ribuan, tapi yang aktif kok bisa-bisanya hanya 35 orang dan itupun nggak ada mahasiswa KOPE yang gabung di sana.

Ya, KOPMAnya ada nggak? kalau ada baru bisa dipersepsikan.
Ada Pak, KOPMA UNRI yang sekrenya di Stadion Mini. Mereka pun udah ngadain RAT Maret kemarin Pak. Berarti bapak setuju? Alhamdulillah..
Aku sengaja pake shocking terapi gitu, biar ‘ngena’ aja. Meskipun jawaban dari pak Danurnya masih ntah. Setidaknya kalimat itu jadi ‘paksaan halus’ supaya bapak setuju. Ehhe.
Eh, tapi kok SMS terakhirku itu nggak dibalas sama bapak ya? Apa mungkin bapak belum landing? Atau bapak nggak setuju? Atau itu justru pertanda setuju? Ku putuskan untuk mengulang mengirim pesan tersebut ke bapak. Tik tok tik tok tik tok, ahh..nggak dibalas juga ternyata sama bapak. Atau aku ketemu pak Suarman aja sekarang? Tapi, males ah, mataku yang sebelah kanan aja sedang bengkak. Tahunya tadi waktu aku ngaca. Nggak tahu apa penyebabnya, tapi emang beberapa hari ini mataku yang sebelah kanan sering berair dan agak berdenyut gitu.

***
“El fikir El cantikkk?”
“Banget Rinn. Banget!” jawabku dengan ekspresi terharu. “Gimana tadi? Jadi daftar ujian?”
“Huhuuuhuu, aku memang harus bayar SPP nih El. Bener-bener nggak terkejar ujiannya, pak Faisal aja belum pulang hari ini. lagian, ada beberapa teori lagi yang mesti ku cari untuk memperkuat tulisanku. Tadi aku sampai nangis waktu nelvon Abangku.”
“Abang yang mana? Bang Ewin?” Tanyaku sumringah.
“Bang Andri loh. Katanya, “Ya udah nggak apa-apa, biar Abang yang bayarin SPP Rini, Rini nggak usah bilang sama Papa” nggak bisa lagi ku tahan air mataku El.”
“Ika lihat Rini nangis?”
“Nggak. Aku tadi bilang mau ke mushola dulu sementara Ika di hot spot. Di situlah aku baru nangis.”
“Hemm..sabar yaa. Kan ntar dapat BS PPA 2,1juta hadiah MTQ. Lumayan kan?”
“Alhamdulillah.” Rini lalu menghapus air mata buayanya itu dan memasang handsfree di telinganya. Everything be alright, immediately. Imeediately loh guys! Hahaha. Beberapa menit, aku masih memperhatikan Rini, Kok bisa lah ni bocah sedih sesingkat itu? Tapi, bagus deh karena aku nggak perlu susah payah menenangkannya.  Yah, meskipun aku sendiri mungkin akan lebih parah kalau aku di posisinya. hehe. Kebanyakan orang kan memang begitu pemirsaaa; Sangat ahli kalau sedang tidak mengalami.

“Eh, tadi aku jumpa **di loh. Dia malah yang negur aku.”
“Ngomong apa aja kalian?”
“Nggak ada. Aku ditegurnya dari jauh. Nggak jelas juga ntah apa yang dibilangnya, mataku ini makin rabun kayaknya, nggak jelas ntah dia ngomong ke aku atau nggak, jadi aku lambaikan tangan aja, ngode kalau aku mau lanjut pergi.”
“Dia pasti pake baju hitam kan?” tebakku.
“Iyaa.”
“Kemeja hitam yang ada sakunya 2 di depan kan?”
“Iyaa..”
“Rambutnya pendek?”
“Sekalian aja bilang, dia hitam kan kulitnya? Yang anehan nya El nii,” ujar Rini geram.
“Dia udah ujian?”
“Belum kayaknya. Soalnya pembimbingnya kuliah S3 di Inggris sama istrinya.”
“WOW.. Kapan Bapak itu berangkatnya?”
“Sekitar sebulan yang lalulah.”
“Hemm..berarti dia terlambat nemuin Bapak itu. Harusnya sebelum Bapak itu berangkat kan udah kelar ya, biar nggak ribet urusannya. Berarti dia harus bayar SPP juga tuh Rin karena nggak terkejar.”
“Iya, mungkin bimbingannya lewat email. Duh, kayaknya nambah lagi lah rabunku ini.” Rini berbicara sendiri sambil memandangi kaca matanya.
“Pake soft lens aja Rin?” usulku.
“Nggak mau ah.”
“Aku aja pengen. Biar cantikk. Ehehe.”
“Yang mentelan nya!”
“Jadi, kapan Rini mau bayar SPP?”
“Besok sama Ika.”

Mengingat-ingat tentang wisuda membuatku teringat dengan moment pemasangan slempang di FMIPA di pertengahan ramadhan kemarin. Awalnya aku berfikir, Idih, kok norak banget sih? Tapi, ujung-ujungnya aku berfikir, Ehemm..pengen juga donk dihadiahi selempang nama yang diakhiri gelar kayak gitu. tapi, pertanyaan selanjutnya adalah, Siapa memangnya yang mau menghadiahiku itu? perlahan, aku melirik ke Rini yang sedang nonton film di laptop.
“Ngapa lihat-lihat aku?” tanyanya dengan galak. “Nggak suka aku lihat El.”
“Ah, macakk? Nggak sukanya berapa persen? 1% aja kan? Berarti lebih banyak sukanya khan? Hehe.”
“Iyuuuhhh. Eh, El, ntar kita nge-mie ayam yuk?”
“HAH? Ngemut ayammm?!”
“Nge strip mie spasi ayam.”
“Ohhh…makan mie ayam. Yuk-yuk?”
“Hoawalah El ni imajinasinya tinggi tapi telinga pekak, ya gini jadinya. El tadi makan sambal tempeku kan?”
“Iya, kenapa emangnya? Nggak boleh ya?”
“Apanya El ni? Ya bolehlah! Justru bagus. Takutnya ntar basi dia.”

***
Sore ini kami kembali mendengar cek-cok antara abang dan kakak kos. Semoga yang kemarin nggak terulang lagi. Berantem-berantem kecil biasalah yaa dalam rumah tangga. *kata orang sih gitu.
“Maunya kamarnya Kakak itu kedap suara ya El. Biar nggak kedengaran ke luar suaranya.”
“Bener tuh bener.”
Aku mengeluarkan motor dan memanaskannya sebentar lalu beranjak berburu mie ayam.
“Kayanya belum ada yang buka deh Rin.” Motor ku belokkan ke arah kanan, ke tempat mie ayam langganan. Dan ternyata benar firasatku, dia nggak buka lapak.
“Cari ke tempat lain lah kita El. Aha… ke Manyar Sakti aja. Kemarin aku ada makan nasi uduk sama Ika, enak nasi uduknya dan di sebelahnya itu ada yang jual mie ayam, kayaknya sih enak.”
Aku menuju Manyar lewat jalan pintas dari Balam Sakti. Dan ternyata letak warungnya itu di samping Rumah Makan Ajo.
“Bang, berapa mie ayamnya?”
“Biasa Mbakk..Rp 8000, kalau pake bakso Rp 10.000.”
“Ya udah, saya mie ayam plus bakso. Rini apa?”
“Aku mie ayam aja Bang.”
“Dibungkus ya Bang.”
Aku duduk di bangku sambil melihat-lihat menu makan di sini. Ternyata nggak cuma bakso dan mie ayam aja, ada juga menu sarapannya. Iseng-iseng berikutnya adalah memfoto sekitar dan diri sendiri.
“Sepi ya Rin. Jadi ngerasa kayak puasa kemarin. Eh, setelah puasa pun ternyata masih seperti ini suasananya.”
“Iya. Jadi ingat gimana kita waktu puasa kemarin. Apalagi waktu ada Okta di hari terakhir. Hemm…”
“Ih, aku kuch-kuch banget ternyata Rin,” kataku sambil melihat hasil foto.
“Iya nih aku juga. Kita nggak mandi dulu sih.”
“Emang Rini tahu apa artinya kuch-kuch yang ku maksud?”
“Tau.”
“Apa?”
“Kucel kan?”
“Hehe, betuuul.”
“El udah pernah makan lontong Medan?”
Biasanya kan soto Medan, emang ada ya lontong Medan? “Mana, mana?” tanyaku.
“Nih ada jual juga. Tapi itu termasuk menu sarapan pagi. Besok pagilah kalau El mau.”

***
Rini udah tidur sejak jam setengah delapan tadi. Mie ayamnya pun belum habis. Masih banyak bahkan. Hemmm..should I eat that? Tapi, itu kan pasti udah diaduk-aduk sama Rini. Hiii, ntar aku rabies pula pemirsaaa…heehe. Mumpung Rini tidur, modemnya ku pakai ahh..
Menanamlah, maka kamu akan kaya. Yaitu menanam tulisan (Elysa) Suka banget sama kalimat Kakak ini
Aku terkesima membaca komentar seseorang yang foto profilnya adalah bunga Lilly putih di statusku tadi pagi.
Beneran kakak pernah menulis kalimat itu dek? *udah lupaa, eheh.
Adek pernah mampir ke blog Kakak dan nemuin kalimat itu. Iya Kak, itu memang kalimat Kakak.
Kalau gitu, rajin-rajin mampir ke blog kakak ya adindaa
Termakasih kakak.
Hal-hal kecil semacam ini adalah anuerah bagiku. Ntah siapa dia, aku pun tak tahu. Tapi, dia begitu peduli dan take me apart of her memorize. That great, alright?

Okta menelvon…
“…Cek, kemarin Kakak dapat 2 nasehat dari Kak Lia. Yang pertama, Kakak harus pandai membaca respon orang dan yang kedua Kakak harus berfikir dulu sebelum melampiaskan marah.”
“Kak, kita adalah orang yang jahat di antara orang-orang  baik dan kita adalah orang baik di antara orang-orang jahat. Eh, Oktaa pengeen kali looh cepat-cepat tes STIFIN itu Kak. Biar Okta tahu apa jenis kecerdasan Okta ni sebenarnya. Kok kayaknya kita sama Kak, apa-apa yang Cek rasakan dan alami mirip banget sama Okta.”
“Don’t-don’t…”
“Don’t-don’t kita adalah anak yang tertukar. Hehee. Gantian Okta yang akan cerita ya Cek tentang kemana kaki ini melangkah sepanjang hari tadi. Di depan posko kami ni kan ada sungai besar Cek..”
“Tiyung ada han-hannya?”
“Diam dulu kau. Dengar Okta.”
“Heheh…lanjutt.”
“Jadi, Okta pergilah tadi pakai pompong Cek. Nah, ternyata sungai besar ini punya  anak sungai yang lebih kecil lagi Cek dan anak sungai yang itu ada lagi anaknya. Di depan rumah-rumah penduduknya ini Cek masing-masing punya sampan-sampan kecil atau pompong. Kami masuuuklah terus ke dalam kan, pemandangannya makin cantiiiik Cek; pohon-pohon bakau di tepi sungainya itu merunduk gitu, jadi kami kayak masuk ke dalam terowongan.”
Benarlah status FBnya kak Vivien bahwa INHIL itu adalah Negeri 1000 parit.

“Hemmm… cantiiik kali. Eke udah bisa membayangkannya.”
“Dalam hati Okta, Ih ini kalau ada Kak Elis pasti suka kali diaa. Sambil lewat, ada buah-buah yang bisa kami ambilin Cek dari sampan. Buahnya enaaakkk kali. Kami dibawa ke kebun kelapa Cek, di situlah pusat kebun kelapa terbesar di ASIA Cek.”
Hemmm..persis seperti yang pernah diceritakan **di dulu ketika kami sedang menggarap KTI bersama.
“Jadi, berkebun ajalah ya kerja kalian di sana Cek?”
“Iyaa. Kami diajarkan caranya memanen kelapa, memanen pinang. Besok kalau Okta udah pulang, Okta kasih tahu ya gimana cara orang sini makan kelapa muda. Wiihh Cek, segaaarr kali kelapa mudanya loh Cek, apalagi kalau dimakan sama gula merah, beuhh gurih bangett Cek.”
“Mauuuu….”
“Eh Cek, jadi di sini ada alat pengupas pinang yang Okta yakin banyak orang yang belum tahu. Tapi orang sini udah banyak menggunakan. Nah, rencana Okta itu kan bisa jadi ide untuk KTI kan Cek?”
“Hemmm..bisa, bisa. Apa nama alatnya Cek?”
“Udah Okta tanya, nggak ada namanya kata ibu itu; pengupas pinang, gitu aja katanya Cek.”
“Susah nggak bikin alatnya tu?”
“Nggak kok Cek. Dia tu mirip kayak parutan kelapa duduk itu loh Cek. Eh, maunya Okta videokan ya gimana cara orang sini pakai alat itu. Eh, bububuyu yaa..Okta mau makan nenas ni dulu.”
Aku menunggu Okta sambil mendengarnya cengengesan dengan teman-temannya.
“Cek, cek kenapa sayang sama Okta?”
“Emm….karena Okta gendut. Ehhe.”
“Hemmm..nggak mauuu. Sekarang Okta udah makin gendut loh Cek, naik 10kg.”

“Ceekk, Kakak teringat dengan **di lagi.”
“Tak usah kau fikirkan hantu itu lagi. Cek, ingat hati kita udah merdeka. Cek yang ngajarkan Okta. Udahlah, jangan lagi fikirkan orang yang belum tentu memikirkan kita.”
“Kemarin dia ada bilang gini ke Kak Lia Cek; Aku kalau udah sakit hati, susah untuk bersama lagi. Dan, dia sakit hati sama Kakak cuma gara-gara hal kemarin itu loh Cek. Kakak bilang ke Kak Lia kalau Kakak benar-benar kecolongan banget tentang yang satu itu.”
“Cek, Okta pun kalau orang jahat sama Okta, Okta nggak bisa pura-pura tetap baik sama dia. Okta bisa lebih jahat lagi daripada dia. Tapi, kalau ada orang yang baik sama Okta, silahkanlah ambil apa yang Okta punya, ambiiil apapun manfaat yang ada pada diri Okta. Tapi, tolonglah kenang yang udah awak ambil tuuu!”
“Cek, Kakak mau tanya tentang Abang itu lagi, boleh?”
“Tanyolah selagi aku ondak menjawabnyoo.”
“Yyeye.. Menurut Cek, Abang tu suka sama si ganteng nggak?"
"Nggak. Abang tu nggak suka. Eh, bukan nggak suka, tapi kurang suka. Tanyalah kalau nggak caya."
"Bener kok Cek, nggak usah ditanya. Abang itu puitis nggak?”
“Puitis banget. Dia suka menafsirkan sesuatu secara tersirat. Kelihatan dari wajahnya.”
“Heleeeh, bilang aja Cek udah lihat-lihat wall FBnya kan? Makanya bisa tahu.”
“Sumpah lillahitaala nggak ada Okta stalkingin wallnya doh Cek. Ya udahlah kalau kau tak pecayo samo aku, telvonlah Teguh sana. Kan cuma dia Adek kebanggaan kau. Dah, assalamualaikum.”
“Ciyeee…ngambekk. Eh, nanti tambah gendut loh kalau ngambek. Cek, menurut Cek apa yang dia suka dari diri Kakak?”

“Dia itu suka sama Kakak secara keseluruhan. Dia itu kalau lihat cewek berhijab, langsung klepek-klepek.”
“Kan banyak nyoo cewek berhijab? Nggak cuma Kakak.”
“Iya, tapi pilihannya udah terlanjur jatuh kepada Kakak.  Dia juga menyukai Kakak yang dibilang cewek bukan dilang cowok pun nggak. hehe. Tapi Cek, hatinya ada 2.”
“HAH? Maksudnya?”
“Dia menyayangi Cek, dia ingin menikah dengan Cek, dia ingin bersama Cek, tapi ada seseorang yang lebih dicintainya daripada Cek tapi dia nggak bisa memilikinya. Maka, dia memutuskan untuk sekedar mencintainya saja tapi tetap memiliki Cek.”
“Ah, gilo kau ko? Tak ado dio macam tu doo.”
“Cek, emang Cek tahu semua tentang dia? Emang Cek bisa mengukur hatinya? Nggak kan? Cobalah Cek lihat matanya itu. Ada 2 wajah di sana. Ada wajah Cek satu dan satunya lagi wajah orang lain.”
“Betullah sikit Dek?! Emangnya keistimewaan cewek yang satu lagi tu apa?”
“Emm…nggak ada keistimewaannya. Dia itu emmm..cuma bububuyu.”
“Hhahhaa.. jadi cewek itu bububuyu?”
“Iya, dia itu bububuyu.”
Kayaknya Okta mulai nggak fokus deh, dia sedang cekikikan dengan teman-temannya di sana.
“Kakak ini ibarat apa baginya Cek?”
“Mutiara hitam. Kakak itu ibarat mutiara hitam yang terselubung pula di dalam lumpur. Banyak orang yang mengejar-ngejar Kakak, tapi keberadaan Kakak nggak terlihat oleh mereka dan cuma Abang itu yang bisa mendapatkannya. Kemudian, dia akan menjaga mutiara hitam itu dan merawatnya. Heheh, keren ya perumpamaan Okta… sihiiyy.”
“Emang ada mutiara hitam?” *krikkk krikkk krikkk
Assalamualaikum
Aku tersentak membaca pesan itu. pengirimnya adalah seseorang yang belakang sering ku sebut-sebut lagi. Aku akan membalasnya biasa saja; bukti bahwa aku tidak apa-apa.
Waalaikumsalam **di..
Aku tunggu beberapa saat. Hatiku mulai menerka-nerka; Apa aku ada melakukan kesalahan lagi sama dia? Ah, tapi rasanya aku nggak ada ganggu dia lagi. Apa dia mau marahin aku? Atau dia udah nyadar? Atau dia cuma mau menyambung tali silaturahmi lagi?
SMS tadi nggak salah kirim kan? Ada apa gerangan.
Sent to **di

Tidak ada komentar: