"Rin, kita boleh
berantakan, tapi kamar kita nggak boleh ikut-ikutan berantakan,” kataku.
Mulailah aku merapikan barang-barangku, kemudian merapikan kamar. Sementara
Rini mencuci piring. “Jangan ketahuan kali kalau kita ini pejuang SKRIPSI
Rinn.. hehe.”
“Ell..gimana nih kalau aku harus bayar uang SPP ternyata?”
rengek Rini.
“Seperti kata Lia kemarin sore, anggap aja itu sedekah Rini
untuk kampus. Emangnya yakin nggak terkejar lagi Rin?”
“Kabarnya semua urusan yang terjadi setelah tanggal 31 juli
itu berarti udah harus bayar SPP El. Bahkan ada peraturan baru, kalau masuk
masa perpanjangan perpanjangan SPP di minggu pertama denda 10% dari SPP+SPP
penuh. Kalau telat diminggu kedua, denda 15% jadinya. Ngeri kali kan?”
“Busyeeett dah! Ngeri juga ya Rin. Hemm..kalau gitu cepatlah
bayar, daripada bayar denda nanti.”
“Ini kan masih tanggal 30 El. Makanya mau dipastikan lagi
hari ini tentang nasib ujianku.”
Tak lama Ika datang menjemput Rini. Rini pergi dan
tinggallah aku sendiri. Rumah sepi lagi.
“Huhuu, uangku ketinggalan. Lupa bawa uang sepeserpun,” Rini
kembali lagi.
“Hapaanyaa, kok bisa lupa?”
“El, kunci rumah. Kak Dewi pergi, tinggal El sendiri di
sini!” teriak Rini sambil berlari.
Mendadak, aku jadi ngerasa serem gitu. Padahal, aku baru aja
muter film horor Thailand yang judulnya Long
Weekend. Berteman dengan kucing yang baru aja masuk dari jendela kamar, aku
memberanikan diri untuk tetap lanjut menonton.
Assalamualaikum
Bang, pak Danur ada di kampus Gobah nggak hari ini ya? *Elysa
Aku mengirim pesan itu ke bang Joni, asistennya bapak. Tapi
aku tunggu-tunggu, nggak juga dibalas. Ku ulangi lagi mengirim, tetap juga
nggak dibalasnya. Ah, langsung SMS ke bapak aja deh..
Assalamualaikum Pak.
Pak, apakah hari ini Bapak ada di kampus Gobah?
Alaikumsalam, mohon
maaf dari siapa ya?
Elysa Pak. Yang
kemarin bimbingan sama bapak..
Oh ya, saya ke
kampus hanya mengantar tesis mahasiswa dan saya ke Jakarta.
Wah, berarti pak Danur hari ini berangkatnya. Lebih cepat
sehari dari yang dikatakannya kemarin kepadaku ternyata.
Hati-hati di jalan
ya pak ^_^. Elysa udah dapat ide penelitiannya pak. Gini, anggota aktif KOPMA
sekarang kan hanya 35 orang dan nggak ada yang dari Pend. Ekonomi pula. Jadi,
Elysa mau meneliti PERSEPSI MAHASISWA PEKON terhadap KOPMA. Pak Suarman udah
setuju Pak. Menurut Bapak bagaimana?
Apa yang dipersepsi
KOPMA apa ada
WHAT? Ini apa maksudnya ya? Duh, rasanya nggak sopan pula
kalau ku tanya, Maaf Pak maksudnya apa?
Nggak pas aja rasanya
nanya gitu ke bapak. Akhirnya, pandai-pandai aku ajalah nge-les biar nggak
ketahuan kali aku nggak ngertinya.
Gini Pak, mahasiswa
UNRI kan ribuan, tapi yang aktif kok bisa-bisanya hanya 35 orang dan itupun
nggak ada mahasiswa KOPE yang gabung di sana.
Ya, KOPMAnya ada
nggak? kalau ada baru bisa dipersepsikan.
Ada Pak, KOPMA UNRI
yang sekrenya di Stadion Mini. Mereka pun udah ngadain RAT Maret kemarin Pak.
Berarti bapak setuju? Alhamdulillah..
Aku sengaja
pake shocking terapi gitu, biar ‘ngena’ aja. Meskipun jawaban dari pak Danurnya
masih ntah. Setidaknya kalimat itu jadi ‘paksaan halus’ supaya bapak setuju.
Ehhe.
Eh, tapi
kok SMS terakhirku itu nggak dibalas sama bapak ya? Apa mungkin bapak belum
landing? Atau bapak nggak setuju? Atau itu justru pertanda setuju? Ku putuskan
untuk mengulang mengirim pesan tersebut ke bapak. Tik tok tik tok tik tok,
ahh..nggak dibalas juga ternyata sama bapak. Atau aku ketemu pak Suarman aja
sekarang? Tapi, males ah, mataku yang sebelah kanan aja sedang bengkak. Tahunya
tadi waktu aku ngaca. Nggak tahu apa penyebabnya, tapi emang beberapa hari ini
mataku yang sebelah kanan sering berair dan agak berdenyut gitu.
***
“El fikir
El cantikkk?”
“Banget
Rinn. Banget!” jawabku dengan ekspresi terharu. “Gimana tadi? Jadi daftar
ujian?”
“Huhuuuhuu,
aku memang harus bayar SPP nih El. Bener-bener nggak terkejar ujiannya, pak
Faisal aja belum pulang hari ini. lagian, ada beberapa teori lagi yang mesti ku
cari untuk memperkuat tulisanku. Tadi aku sampai nangis waktu nelvon Abangku.”
“Abang yang
mana? Bang Ewin?” Tanyaku sumringah.
“Bang Andri
loh. Katanya, “Ya udah nggak apa-apa, biar Abang yang bayarin SPP Rini, Rini
nggak usah bilang sama Papa” nggak bisa lagi ku tahan air mataku El.”
“Ika lihat
Rini nangis?”
“Nggak. Aku
tadi bilang mau ke mushola dulu sementara Ika di hot spot. Di situlah aku baru
nangis.”
“Hemm..sabar
yaa. Kan ntar dapat BS PPA 2,1juta hadiah MTQ. Lumayan kan?”
“Alhamdulillah.”
Rini lalu menghapus air mata buayanya itu dan memasang handsfree di telinganya.
Everything be alright, immediately. Imeediately loh guys! Hahaha. Beberapa
menit, aku masih memperhatikan Rini, Kok
bisa lah ni bocah sedih sesingkat itu? Tapi, bagus deh karena aku nggak perlu
susah payah menenangkannya. Yah,
meskipun aku sendiri mungkin akan lebih parah kalau aku di posisinya. hehe.
Kebanyakan orang kan memang begitu pemirsaaa; Sangat ahli kalau sedang tidak mengalami.
“Eh, tadi
aku jumpa **di loh. Dia malah yang negur aku.”
“Ngomong
apa aja kalian?”
“Nggak ada.
Aku ditegurnya dari jauh. Nggak jelas juga ntah apa yang dibilangnya, mataku
ini makin rabun kayaknya, nggak jelas ntah dia ngomong ke aku atau nggak, jadi
aku lambaikan tangan aja, ngode kalau aku mau lanjut pergi.”
“Dia pasti
pake baju hitam kan?” tebakku.
“Iyaa.”
“Kemeja
hitam yang ada sakunya 2 di depan kan?”
“Iyaa..”
“Rambutnya
pendek?”
“Sekalian
aja bilang, dia hitam kan kulitnya? Yang anehan nya El nii,” ujar Rini geram.
“Dia udah
ujian?”
“Belum kayaknya.
Soalnya pembimbingnya kuliah S3 di Inggris sama istrinya.”
“WOW.. Kapan
Bapak itu berangkatnya?”
“Sekitar
sebulan yang lalulah.”
“Hemm..berarti
dia terlambat nemuin Bapak itu. Harusnya sebelum Bapak itu berangkat kan udah
kelar ya, biar nggak ribet urusannya. Berarti dia harus bayar SPP juga tuh Rin karena
nggak terkejar.”
“Iya, mungkin
bimbingannya lewat email. Duh, kayaknya nambah lagi lah rabunku ini.” Rini
berbicara sendiri sambil memandangi kaca matanya.
“Pake soft
lens aja Rin?” usulku.
“Nggak mau
ah.”
“Aku aja
pengen. Biar cantikk. Ehehe.”
“Yang
mentelan nya!”
“Jadi,
kapan Rini mau bayar SPP?”
“Besok sama
Ika.”
Mengingat-ingat
tentang wisuda membuatku teringat dengan moment pemasangan slempang di FMIPA di
pertengahan ramadhan kemarin. Awalnya aku berfikir, Idih, kok norak banget sih? Tapi, ujung-ujungnya aku berfikir, Ehemm..pengen juga donk dihadiahi selempang
nama yang diakhiri gelar kayak gitu. tapi, pertanyaan selanjutnya adalah, Siapa memangnya yang mau menghadiahiku itu?
perlahan, aku melirik ke Rini yang sedang nonton film di laptop.
“Ngapa
lihat-lihat aku?” tanyanya dengan galak. “Nggak suka aku lihat El.”
“Ah,
macakk? Nggak sukanya berapa persen? 1% aja kan? Berarti lebih banyak sukanya
khan? Hehe.”
“Iyuuuhhh.
Eh, El, ntar kita nge-mie ayam yuk?”
“HAH?
Ngemut ayammm?!”
“Nge strip
mie spasi ayam.”
“Ohhh…makan
mie ayam. Yuk-yuk?”
“Hoawalah
El ni imajinasinya tinggi tapi telinga pekak, ya gini jadinya. El tadi makan
sambal tempeku kan?”
“Iya,
kenapa emangnya? Nggak boleh ya?”
“Apanya El
ni? Ya bolehlah! Justru bagus. Takutnya ntar basi dia.”
***
Sore ini
kami kembali mendengar cek-cok antara abang dan kakak kos. Semoga yang kemarin
nggak terulang lagi. Berantem-berantem kecil biasalah yaa dalam rumah tangga.
*kata orang sih gitu.
“Maunya
kamarnya Kakak itu kedap suara ya El. Biar nggak kedengaran ke luar suaranya.”
“Bener tuh
bener.”
Aku
mengeluarkan motor dan memanaskannya sebentar lalu beranjak berburu mie ayam.
“Kayanya
belum ada yang buka deh Rin.” Motor ku belokkan ke arah kanan, ke tempat mie
ayam langganan. Dan ternyata benar firasatku, dia nggak buka lapak.
“Cari ke
tempat lain lah kita El. Aha… ke Manyar Sakti aja. Kemarin aku ada makan nasi
uduk sama Ika, enak nasi uduknya dan di sebelahnya itu ada yang jual mie ayam,
kayaknya sih enak.”
Aku menuju
Manyar lewat jalan pintas dari Balam Sakti. Dan ternyata letak warungnya itu di
samping Rumah Makan Ajo.
“Bang,
berapa mie ayamnya?”
“Biasa
Mbakk..Rp 8000, kalau pake bakso Rp 10.000.”
“Ya udah,
saya mie ayam plus bakso. Rini apa?”
“Aku mie
ayam aja Bang.”
“Dibungkus
ya Bang.”
Aku duduk
di bangku sambil melihat-lihat menu makan di sini. Ternyata nggak cuma bakso
dan mie ayam aja, ada juga menu sarapannya. Iseng-iseng berikutnya adalah
memfoto sekitar dan diri sendiri.
“Sepi ya
Rin. Jadi ngerasa kayak puasa kemarin. Eh, setelah puasa pun ternyata masih
seperti ini suasananya.”
“Iya. Jadi ingat
gimana kita waktu puasa kemarin. Apalagi waktu ada Okta di hari terakhir. Hemm…”
“Ih, aku
kuch-kuch banget ternyata Rin,” kataku sambil melihat hasil foto.
“Iya nih
aku juga. Kita nggak mandi dulu sih.”
“Emang Rini
tahu apa artinya kuch-kuch yang ku maksud?”
“Tau.”
“Apa?”
“Kucel
kan?”
“Hehe,
betuuul.”
“El udah
pernah makan lontong Medan?”
Biasanya kan soto Medan, emang ada
ya lontong Medan? “Mana,
mana?” tanyaku.
“Nih ada
jual juga. Tapi itu termasuk menu sarapan pagi. Besok pagilah kalau El mau.”
***
Rini udah
tidur sejak jam setengah delapan tadi. Mie ayamnya pun belum habis. Masih banyak
bahkan. Hemmm..should I eat that? Tapi, itu kan pasti udah diaduk-aduk sama
Rini. Hiii, ntar aku rabies pula pemirsaaa…heehe. Mumpung Rini tidur, modemnya
ku pakai ahh..
Menanamlah, maka
kamu akan kaya. Yaitu menanam tulisan (Elysa) Suka banget sama kalimat Kakak
ini
Aku terkesima
membaca komentar seseorang yang foto profilnya adalah bunga Lilly putih di
statusku tadi pagi.
Beneran kakak pernah
menulis kalimat itu dek? *udah lupaa, eheh.
Adek pernah mampir
ke blog Kakak dan nemuin kalimat itu. Iya Kak, itu memang kalimat Kakak.
Kalau gitu,
rajin-rajin mampir ke blog kakak ya adindaa
Termakasih kakak.
Hal-hal
kecil semacam ini adalah anuerah bagiku. Ntah siapa dia, aku pun tak tahu. Tapi,
dia begitu peduli dan take me apart of
her memorize. That great, alright?
Okta
menelvon…
“…Cek,
kemarin Kakak dapat 2 nasehat dari Kak Lia. Yang pertama, Kakak harus pandai
membaca respon orang dan yang kedua Kakak harus berfikir dulu sebelum
melampiaskan marah.”
“Kak, kita
adalah orang yang jahat di antara orang-orang
baik dan kita adalah orang baik di antara orang-orang jahat. Eh, Oktaa
pengeen kali looh cepat-cepat tes STIFIN itu Kak. Biar Okta tahu apa jenis
kecerdasan Okta ni sebenarnya. Kok kayaknya kita sama Kak, apa-apa yang Cek
rasakan dan alami mirip banget sama Okta.”
“Don’t-don’t…”
“Don’t-don’t
kita adalah anak yang tertukar. Hehee. Gantian Okta yang akan cerita ya Cek
tentang kemana kaki ini melangkah sepanjang hari tadi. Di depan posko kami ni kan
ada sungai besar Cek..”
“Tiyung ada
han-hannya?”
“Diam dulu
kau. Dengar Okta.”
“Heheh…lanjutt.”
“Jadi, Okta
pergilah tadi pakai pompong Cek. Nah, ternyata sungai besar ini punya anak sungai yang lebih kecil lagi Cek dan anak
sungai yang itu ada lagi anaknya. Di depan rumah-rumah penduduknya ini Cek masing-masing
punya sampan-sampan kecil atau pompong. Kami masuuuklah terus ke dalam kan,
pemandangannya makin cantiiiik Cek; pohon-pohon bakau di tepi sungainya itu
merunduk gitu, jadi kami kayak masuk ke dalam terowongan.”
Benarlah status FBnya kak Vivien
bahwa INHIL itu adalah Negeri 1000 parit.
“Hemmm…
cantiiik kali. Eke udah bisa membayangkannya.”
“Dalam hati
Okta, Ih ini kalau ada Kak Elis pasti
suka kali diaa. Sambil lewat, ada buah-buah yang bisa kami ambilin Cek dari
sampan. Buahnya enaaakkk kali. Kami dibawa ke kebun kelapa Cek, di situlah
pusat kebun kelapa terbesar di ASIA Cek.”
Hemmm..persis seperti yang pernah
diceritakan **di dulu ketika kami sedang menggarap KTI bersama.
“Jadi,
berkebun ajalah ya kerja kalian di sana Cek?”
“Iyaa. Kami
diajarkan caranya memanen kelapa, memanen pinang. Besok kalau Okta udah pulang,
Okta kasih tahu ya gimana cara orang sini makan kelapa muda. Wiihh Cek,
segaaarr kali kelapa mudanya loh Cek, apalagi kalau dimakan sama gula merah,
beuhh gurih bangett Cek.”
“Mauuuu….”
“Eh Cek,
jadi di sini ada alat pengupas pinang yang Okta yakin banyak orang yang belum
tahu. Tapi orang sini udah banyak menggunakan. Nah, rencana Okta itu kan bisa
jadi ide untuk KTI kan Cek?”
“Hemmm..bisa,
bisa. Apa nama alatnya Cek?”
“Udah Okta
tanya, nggak ada namanya kata ibu itu; pengupas pinang, gitu aja katanya Cek.”
“Susah
nggak bikin alatnya tu?”
“Nggak kok
Cek. Dia tu mirip kayak parutan kelapa duduk itu loh Cek. Eh, maunya Okta
videokan ya gimana cara orang sini pakai alat itu. Eh, bububuyu yaa..Okta mau
makan nenas ni dulu.”
Aku menunggu
Okta sambil mendengarnya cengengesan dengan teman-temannya.
“Cek, cek
kenapa sayang sama Okta?”
“Emm….karena
Okta gendut. Ehhe.”
“Hemmm..nggak
mauuu. Sekarang Okta udah makin gendut loh Cek, naik 10kg.”
“Ceekk,
Kakak teringat dengan **di lagi.”
“Tak usah
kau fikirkan hantu itu lagi. Cek, ingat hati kita udah merdeka. Cek yang
ngajarkan Okta. Udahlah, jangan lagi fikirkan orang yang belum tentu memikirkan
kita.”
“Kemarin
dia ada bilang gini ke Kak Lia Cek; Aku kalau udah sakit hati, susah untuk
bersama lagi. Dan, dia sakit hati sama Kakak cuma gara-gara hal kemarin itu loh
Cek. Kakak bilang ke Kak Lia kalau Kakak benar-benar kecolongan banget tentang
yang satu itu.”
“Cek, Okta
pun kalau orang jahat sama Okta, Okta nggak bisa pura-pura tetap baik sama dia.
Okta bisa lebih jahat lagi daripada dia. Tapi, kalau ada orang yang baik sama
Okta, silahkanlah ambil apa yang Okta punya, ambiiil apapun manfaat yang ada
pada diri Okta. Tapi, tolonglah kenang yang udah awak ambil tuuu!”
“Cek, Kakak
mau tanya tentang Abang itu lagi, boleh?”
“Tanyolah
selagi aku ondak menjawabnyoo.”
“Yyeye..
Menurut Cek, Abang tu suka sama si ganteng nggak?"
"Nggak. Abang tu nggak suka. Eh, bukan nggak suka, tapi kurang suka. Tanyalah kalau nggak caya."
"Bener kok Cek, nggak usah ditanya. Abang itu puitis nggak?”
“Puitis
banget. Dia suka menafsirkan sesuatu secara tersirat. Kelihatan dari wajahnya.”
“Heleeeh,
bilang aja Cek udah lihat-lihat wall FBnya kan? Makanya bisa tahu.”
“Sumpah
lillahitaala nggak ada Okta stalkingin wallnya doh Cek. Ya udahlah kalau kau
tak pecayo samo aku, telvonlah Teguh sana. Kan cuma dia Adek kebanggaan kau. Dah,
assalamualaikum.”
“Ciyeee…ngambekk.
Eh, nanti tambah gendut loh kalau ngambek. Cek, menurut Cek apa yang dia suka
dari diri Kakak?”
“Dia itu
suka sama Kakak secara keseluruhan. Dia itu kalau lihat cewek berhijab,
langsung klepek-klepek.”
“Kan banyak
nyoo cewek berhijab? Nggak cuma Kakak.”
“Iya, tapi
pilihannya udah terlanjur jatuh kepada Kakak.
Dia juga menyukai Kakak yang dibilang cewek bukan dilang cowok pun
nggak. hehe. Tapi Cek, hatinya ada 2.”
“HAH?
Maksudnya?”
“Dia
menyayangi Cek, dia ingin menikah dengan Cek, dia ingin bersama Cek, tapi ada
seseorang yang lebih dicintainya daripada Cek tapi dia nggak bisa memilikinya. Maka,
dia memutuskan untuk sekedar mencintainya saja tapi tetap memiliki Cek.”
“Ah, gilo
kau ko? Tak ado dio macam tu doo.”
“Cek, emang
Cek tahu semua tentang dia? Emang Cek bisa mengukur hatinya? Nggak kan? Cobalah
Cek lihat matanya itu. Ada 2 wajah di sana. Ada wajah Cek satu dan satunya lagi
wajah orang lain.”
“Betullah
sikit Dek?! Emangnya keistimewaan cewek yang satu lagi tu apa?”
“Emm…nggak
ada keistimewaannya. Dia itu emmm..cuma bububuyu.”
“Hhahhaa..
jadi cewek itu bububuyu?”
“Iya, dia
itu bububuyu.”
Kayaknya
Okta mulai nggak fokus deh, dia sedang cekikikan dengan teman-temannya di sana.
“Kakak ini
ibarat apa baginya Cek?”
“Mutiara
hitam. Kakak itu ibarat mutiara hitam yang terselubung pula di dalam lumpur. Banyak
orang yang mengejar-ngejar Kakak, tapi keberadaan Kakak nggak terlihat oleh
mereka dan cuma Abang itu yang bisa mendapatkannya. Kemudian, dia akan menjaga
mutiara hitam itu dan merawatnya. Heheh, keren ya perumpamaan Okta… sihiiyy.”
“Emang ada
mutiara hitam?” *krikkk krikkk krikkk
Assalamualaikum
Aku tersentak
membaca pesan itu. pengirimnya adalah seseorang yang belakang sering ku
sebut-sebut lagi. Aku akan membalasnya biasa saja; bukti bahwa aku tidak
apa-apa.
Waalaikumsalam
**di..
Aku tunggu
beberapa saat. Hatiku mulai menerka-nerka; Apa
aku ada melakukan kesalahan lagi sama dia? Ah, tapi rasanya aku nggak ada
ganggu dia lagi. Apa dia mau marahin aku? Atau dia udah nyadar? Atau dia cuma mau
menyambung tali silaturahmi lagi?
SMS tadi nggak salah
kirim kan? Ada apa gerangan.
Sent to **di

Tidak ada komentar:
Posting Komentar