“El! Bangun
loh! Udah jam 4.”
Oh iya, aku
kan harus sahur ke Bina Krida karena udah nggak ada lagi nasi di sini. Hiksss..
aku terbangun dengan hati berdebar. “Udah jam berapa Rin?”
“4 lewat 5.
Dah dari tadi pun ku bangunin.”
Aku segera
berwudhu untuk Tajahud. “Rin, tolong belikan mie donk sama Kak Dewi ya…”
Rini
mendehem. Tapi, sampai aku selesai sholat, dia malah udah tidur menganga aja.
Aku nggak bilang alasanku kenapa harus minta tolong sama dia. Padahal
sebenarnya aku bisa beli sendiri. Yah, karena aku belum punya penggenap apa
yang pasti akan ditagih kak Dewi kalau aku bertemu dengannya.
Setelah ku
cek air gallon yang udah mendidih, eh ternyata airnya udah kering. Huft! “Rin,
kita harus ke depan nih, soalnya air galonnya habis. Nggak ada pilihan lain.
Huh, udah jam 04.15wib pula.”
Rini dengan
sigap bersiap-siap dan bersedia menemaniku sahur meskipun dia nggak sedang
berpuasa. Ada abang di teras, ah dia pasti akan menanyakan keterlambatan kami
untuk sahur.
“Hah? Ke
mana El? Baru mau sahur?”
“Iya Bang.”
“Udah jam
berapa ini? Dari tadi lagi udah dibangunkan. Sejak sebelum jam 4 lagi.”
Aku hanya
tersenyum cengegesan dan bergegas pergi. Langkahku lebar-lebar dan cepat. Rini
ketinggalan di belakang dan ku teriaki untu cepat juga.
“Duh, Café
cerita tutup pula Rin.”
“Ke RM. 3
Putri aja lah langsung yuk?”
Kami
meneruskan langkah 50 meter ke depan. Aku jadi malu sendiri ketika dilihatin
orang, mereka pasti mikir gini, ‘Hi? Kok
baru mau sahur sih? Udah mau Imsak loh!’ hiksss. Tapi, biarlah ku tepis saja
gelisah itu demi perut dan berkah sahur.
Aku baru
nyadar kalau beberapa hari setelah Lia pulang dari kosan ini, makanku dan Rini
berantakan banget. Sampek sekarang aja, walaupun Rini sedang nggak puasa, dia
nggak ada niat buat beli beras. Huahhhh. Aku pun nggak jauh beda. Hihii. Kalau
ada Lia, pasti dia akan mikirin ntar buka makan apa, sahur makan apa? Lah kalau
kami? Hehhe, kami selalu nge-gembel, di situ mau makan di situ baru mikir.
Kadang, kami berburu berbuka gratis. Heheh. Beda jauh deh dengan putri keraton
yang hidupnya teratur dan terawat.
“Itu imsak
untuk Jakarta tuh,” kata Rini sambil menatap pemberitahuan azan di TV.
“Iya. Eh,
ternyata kita sempat juga ya sahurnya. Masih cukup waktunya. Aku kita kita
bakalan telat tadi Rin.”
“Udah dia
yang lama kali bangunnya. El, El udah jam 4 kurang. (Ehmmmm, tidur lagi) El, El
udah jam 4 lewat (HAH? Masa iya?) Barulah El bangun. Yang susahan di
banguninnya,” Rini memperagakannya membangunkanku tadi.
“Hhehe. Aku
mah gitu atuh. Eh, temenin aku ke mushola yuk?”
“El
sendirian ajalah. Aku langsung pulang. Ngapain aku di sana orang aku nggak
solah?”
“Ya nggak
apa-apalah, tunggu aja di dalam.”
“Makin
dilihatin orang lah aku. Nggak ada kerjaan aja.”
“Hemm..ya
udah deh, yuk kita capcusss.”
Setelah
Rini membayar semuanya. Aku mengikutinya untuk sama-sama langsung pulang ke
kosan.
“Loh? El
nggak ke mushola?”
“Nggak ah,
nanggung. Lagian belum azan juga pun.”
“Halaahh.
Bilang aja takut kan?”
“Nggak kok,
weeekk. Buruanlah jalannya! Yang leletan.”
“Duluaanlah!”
Aku
berjalan lebih cepat daripada Rini yang terus terpaku dengan Androidnya. Eh,
emangnya aku nggak jahat ya? Dia tadi nemenin aku, sekarang aku pula yang nggak
mau sedikit sabar untuknya? Ah, kayaknya nggak ngaruh deh dengan si Rincuy, ku
tinggal pun dia, dia nggak akan nganggap aku nggak sopan. Kayaknya sih gitu.
hehehe.
“Rin,
kecium bau parfum nggak di dekat kosan kita tadi?”
“Nggak
kok!” Rini mengernyitkan wajah.
“Masa iya?
Aku kecium loh. Aneh kan? Ngapain pula wangi parfum tertinggal di situ? Nggak
ada orang dan gelap pula tuh.”
“Nantik
beneraaaannn.” Itu kalimat andalannya Rini untuk mengingatkan sekaligus
menakutiku. Hiiii.
***
Baru saja membuka
mata dan ntah kenapa dirimu yang pertama kali terfikiri. Lalu, sedih tiba-tiba
hadir. Hiksss.
Sent to Okta (Checked)
Menyadari pesanku belum dibalas oleh pak Danur, aku
mengirimnya ulang. Aku menduga mungkin HPku yang hank makanya nggak ada pesan
yang bisa masuk. Lalu, ku matikan HPku dan ku hidupkan kembali. Eh, smsnya pak
Danur langsung masuk.
Mohon maaf, saya gak
bisa bimbing pagi ini.
Lalu, ku balas segera, Kalau
siang atau sore bisa pak? *mohon maaf pak, elysa ngejar ujian tanggal 8 juli,
kalau bisa.
Belum ada
balasan. Aku berharap semoga Allah menunjukkan sesuatu kepadaku; Jika menurut-Mu pak Danur bukanlah
pembimbing yang terbaik untukku, maka gantilah ia segera dengan pilihan-Mu.
Aamiin.
Mohon maaf,
saya tidak bisa bimbingan hari ini. semalam saya bimbingan seharian di Gobah.
Hemmm..seharian?
Semoga ini adalah indikasi bahwa bapak mudah ditemui. If he is my best ya Allah.
***
Sahur di rumah mak.
Bareng emak bapak..
Sejenak aku
bingung. Kapan pula aku sms Teguh ya? Setelah mikir, oh ternyata tadi aku
mengSMSnya waktu aku sedang buru-buru sahur. Eheee.
Hah? Udah di Dumai
pula? Cepat kali? Kemarin masih di sini.
Ia mak. Tapi
bentaran kok. Sabtu balik. Soalnya ni orang tua udah nelpon-nelpon dari
kemarin, nanyain kapan pulang makanya sempet-sempetin pulang mak. Btw, pagi
adek hari ini diisi dengan baca blog emak loh. Sihiiyyyy..
Oh begitu toh. Eh,
diisi apa maksdnya dek?
Diisi maksudnya
kegiatan pagi ini baca blog emak. Pye toh mak..
Owalah. Mak kan
emang nggak nyambung. Hehe
Huh! Dasar emang
lola. Week.
Adek bermimpi pengen
punya buku sendiri nggak?
Buku dan
perpustakaan sendiri mak. Itu salah satu mimpi yang belum teguh coret mak
karena belum terwujud.
Allah mendengar doamu dek. Insya
Allah segera terwujud. Mak bangga padamu!, gumamku di hati.
Aku kembali
menarikan jemari di atas tuts-tuts keyboard. Meracik apa yang harus dijadikan
menarik dan meramu apa yang harus menjadi temu. Untukmu, wahai 2 orang yang
dekat di hatiku.
***
“Assalamualaikum,”
Rini baru pulang dari nganterin junior PPRUnya nyari tiket pulang kampung.
“Waalaikumsalam.”
“Ini
minuman buat El!” kata Rini sambil meletakkan sebotol bensin di sudut kamar.
“Yuklah cepetan kita perginya! Nyari percetakan, terus beli barang-barang
kebutuhan El tuh.”
“Emang aku
butuh sama barang apa?”
“Sampo!
Odol gigi! Sabun! Jangan minta-minta lagi sama aku.”
“Loh, aku
nggak merasa kekurangan kok. Enakan minta sama Rini aja deh.”
“Emang udah
gilaknya El niii,” semprot Rini dengan logat bataknya.
“Rin, ntar
kalau udah selesai urusan itu, kita mau ke mana lagi?”
“Pulang
lah.”
“Hemm..kalau
gitu nanggung Rin, setelah Ashar aja perginya. Jadi, sekaligus buka puasa di
luar juga kan. Jangan banyak buang waktu di jalan Rin.”
“Udahlah!
Enceng main. Aku marah sama El. mending tadi nggak usah ku belikan aja
bensinnya. Sinilah ku pulangkan lagi aja.”
“Ciyeee..marah
ya Adek ipar? Hihii.”
Benar saja,
aku baru selesai sholat dan mengaji, si Rincuy udah tewas aja di depan
laptopnya.
***
“El, singgahi aja aku di depan counter pulsa ini,” pinta
Rini.
“Yakin?”
“Iya. Udah jam berapa ini? Biar aku jalan kaki aja, El
pergilah lagi.”
“Nanti kalau kaki Rini keseleo gimana?”
“Halaaahh, lebay!”
Setelah menyinggahi Rini di depan counter pulsa, di perempatan Bika Krida-Balam Sakti. Selanjutnya,
aku berbalik arah menuju jalan Subrantas, berbelok arah ke RAZZAKKU, tempat bubar
Kemen PP (Kementrian Pemberdayaan Perempuan) BEM UR. Tadi, sempat berfikir
untuk tidak datang, tapi karena mengingat dan menimbang ntah kapan lagi ‘menyatu’
dalam momen ini, akhirnya ku putuskan untuk datang.
Rin, tolong BBMkan Kak Wulan, jadinya di mana bubarnya?
Aku celingukan di tempat parkir. Jadi bingung sendiri. Sebenarnya
jadi nggak ya bubar di sini? Atau aku pulang aja nih? Hiksss..
Ada 1 panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Aku miscall
balik dengan mengandalkan panggilan darurat.
Kak Elis, kami udah
di RAZZAKKU kak.
Alhamdulillah, akhirnya aku dapat petunjuk. Makasih ya
Allah. Ini pasti Deldiya yang sms nih! Dia memang staf kemenPP andalan.
Aku segera memasuki rumah makan berarsitek tradisional ini
sambil melempar pandangan ke sana ke mari. Meja bundar dengan 4 buah kursi di
sepanjang beranda RAZZAKKU telah terisi penanti beduk buka. Tapi, aku yakin,
teman-teman kemenPP ada di dalam, di meja panjang dengan duduk berlesehan itu.
“Haiii?” sapaku ketika melihat Winda.
Ada kak Wulan, Deldiya, aku dan Oke. Aku melepas sepatu dan
duduk di antara Oke dan Winda.
“Udah Lis. Pesanlah dulu. Itu menunya sedang diambilkan Mbak
itu.”
Setelah buku menu sampai di tanganku, “Mbak, saya pesan
Paket Gurami Manis-Asam dan teh es manisnya 1 ya.”
Si mbak mencatat pesananku pada kertas putih polosnya. 10
menit kemudian, pesananku datang. Hemm… dari tampilannya aja kayaknya enak nih!
“Nanti kita makan dulu, atau langsung sholat?”
“Nanti kita makan dulu, atau langsung sholat?”
“Minum dulu kita, baru kita sholat Maghrib Kak,” kata
Deldiya.
Memang itu yang terbaik, Dek. Hemm.
“Elis belum dapat giliran masuk Koran kan? Mau nggak ngisi
rising star?” tanya kak Wulan.
“Hemm..apa yang mau ditampilkan di halaman itu Kak?”
“Ya tunjukkan tentang diri kita. Kan, Rising Star itu
biasanya gitu kan; menceritakan tentang diri kita. Yang terakhir kemarin tu si
Handoko, dia cerita tentang kegiatan sukarelawannya di Rumah Zakat gitu dan
judulnya kalau Kakak nggak salah; Menebar
Manfaat Hingga ke Raja Ampat.”
“Waaahhh..kereeenn,” kataku. Makasih ya Allah atas
kesempatan ini. “Boleh deh Kak, Elis ngisi tuh. Kita diwawancarai atau kita
yang ngirim tulisan Kak?”
“Kita diwawancarai sama orang itu Dek. Cobalah cari apa
kira-kira yang bakal Elis ekspos. Boleh tentang buku Elis, atau tentang
prestasi.”
Aku tiba-tiba teringat dan memikirkan sesuatu. Kayanya itu
cocok dan menarik deh untuk dibahas.
***
19.38wib
Aku baru pulang dari Razzaku. Di kosan, Rini belum juga
makan. Padahal tadi udah ku suruh makan duluan karena rencana berubah ke plan
B; dari yang niatnya makan bakso Mie alami jadinya makan es krim durian. Aku
udah wanti-wanti ke Joni, takutnya masuk angin, tapi katanya nggak apa-apa. Ya
udah deh, mala mini adalah milik kalian Dek! Kakak Elcek dan kak Rincuy nurut
aja.
Ada bau-bau niat
yang tersembunyi nih. Tumben-tumben pengen jalan berdua.
Lah? Kan sebelumnya
kita sering mi pergi berdua. Ke pasar, ke warung, ke trans. Ya kan? La jadi?
Mami kemudian ber-oooo panjang disertai emot cium. Ya Allah,
bantu hamba mewujudkan mimpi mulia ini. Sebuah waktu lebih lama dan pemandangan
tak biasa untuk aku dan mama. Aamiin. Soon!
“Rin, kan aku diminta Kak Wulan untuk jadi ngisi rubrik
Rising Star. Nah, kalau aku ceritain tentang One People One Blog, kira-kira apa-apa nggak Rin?”
“Nggak kok! Nggak apa-apa.”
“Kan biasanya yang lain tuh nggak jauh-jauh tentang prestasi
lah. Tapi, kali ini aku judulnya adalah gagasan bahwa setiap orang harus punya
web sendiri untuk tulisan-tulisannya. Tapi sialnya Rin, si kawan sekamarku itu
loh nggak juga nulis-nulis dia. Cuma 2 aja tulisannya nggak nambah-nambah tuh!”
“Hiksss…huhuuuu, El nyindir aku ya..” Rini belagak nangis.
Malam ini, aku dan Rini telah menyanggupi ajakan Joni dan
Okta untuk makan Es Krim Durian di jalan Delima. Persyaratanku pun sudah mereka
sanggupi; Sebelum berangkat, harus udah
sholat Isya dulu.
***
“Rin, kita
nunggu di simpang depan aja, daripada nanti orang tu datang merempong, teriak-teriak di depan kosan,
dicurigai pula kita ntah mau ke mana, hehe.”
“Arrassooh.”
Joni
menelvon ketika kami baru sampai di ujung gang ini,
“Di mana
Cek?”
“Udah di
simpang sebelum Bina Krida nih.”
“Kita lewat
kampus ya, jadi kita jumpa di gerbang Bina krida aja. Kami udah mau masuk Balam
Sakti nih.”
“Okeeehhh.”
Aku segera
membelah Bina Krida yang cukup ramai dengan langkah penuh gesa para jamaah
sholat tarawih. Hiii, aku segan dilihatin.
“Mana lah
orang 2 itu ya? Lama kali pun!” gerutuku. Suara ustad Tajuddin dari mesjid
Arfaunnas sudah beberapa menit menemani kami. Di sebelah kanan kami ada 2 orang
satpam yang menjaga barrier gate.
“Kadang,
aku pengen loh ngasih satpam itu makanan, El. Kasihan kan orang itu nungguin
palang terus di situ.”
“Boleh juga
tuh. Iya, kasihan. Kalau aku, pengennya ngasih buku Rin.”
“Itu nggak
kalah kece.”
Cepetanlah, kami
udah di dekat satpam ni haa…
Aku
meninjau motor-motor yang mendekat dari spion motorku yang retak. Belum juga
nongol wajah Okta dan Joni. Mulai geram pula aku jadinya.
“Haiii
Cekkk..” teriak Okta dari belakang.
“Hhh! Yang
lamaan puuun.”
Kami
mengikuti rute mereka. Sesekali kami berkendara beriringan. Hemmm…besok aku
nggak bisa ketemu mereka lagi pemisaa..
“Rin, orang
tu kalau udah naik motor berdua, pasti si Okta yang nyupir, Joni selalu yang
dibonceng.”
“Iya yaa,
haha. Hobi kalii.”
***
RUMAH DURIAN RADIT, ternyata ini nama tempatnya. Belum
lagi melepas helm, aku memfoto-foto tampak depan, Rini, Okta dan Joni jadi
latar momennya. Mereka udah ngeloyor masuk aja, padahal aku masih di parkiran.
*saya dilupakan pmirsaaa… lobay! Hhehe.
“Cek pesan
apa Cek? Yang ini recommended semua Cek.”
“Ini sup,
yang itu es krim. Kok beda?”
“Iya,
emangnya sup itu panas nanti ya jadinya?” tanya Rini pula.
“Nggak doh,
mana mungkin es krim panas. Dia tetap dingin kok Cek, yang ini pakai kuah
duriannya. Kalau yang es krim itu cuma toppingnya aja yang durian. Lebih enak
yang sup ini pokoknya Cek.”
“Ya udah,
yang ini deh!”
Aku
menunjuk menu Sup Durian Cocho Oreo. Kok
si Joni pede banget sih mesen yang es krim ya? Tanyaku dalam hati. Tapi, nggak mungkin si Okta
menjerumuskanku deh! Dia kan unyu-unyu. Huekkk.
Pesananku
yang duluan terhidang. Aku segera mencicipinya. Tapi, kata Okta harus diaduk
dulu sampai tercampur semua, supaya sempurna rasanya. Ada 2 Oreo di pinggir
gelas mangkuk ini, es serut, keju dan kuah duriannya. Hemm..emang enak banget
nih! Tapi, ntar aku gendut. Gimana donk?
Kamu itu kalau kurus nggak cantik
lagi loh jilbabmu nanti Cek! Okta
pernah bilang seperti itu.
“Bu, pesan
mie rawitnya 1 ya Bu. Tapi, rawitnya dikit aja jangan banyak kali kayak kemarin
ya Bu?” Okta memesankan Rini. Hemm… nggak ada pilihan lain selain mie, daripada
Rincuy nggak makan.
“Ini ya mie
rawitnyaaa,” kata ibu cantik saat menghidangkannya di hadapanku.
Lah? Kok
Cuma beginian aja? Bener-bener kayak mie goreng buatan sendiri aja. Kalau pakai
irisan cabe rawit pasti cantik karena ada hijau-hijaunya. Kalau ini? Hampa
banget.
“Maunya ada
daun sopnya gitu kek,” kata Rini sambil memulai pencicipan.
“Iya Rin.
Berapa pula nih harganya?”
“Rp
10.000.”
“Hemmm…
lumayan juga ya. Enakan brebes, hehe. Tapi, itulah karena ini bukan menu
pilihan di sini Rin. Cuma satu-satunya makanan ya mie ini.”
Aku, Joni
dan Okta langsung menyerbu mienya Rini. Hemm..kebiasaan kami di kantin BEM FKIP
kambuh lagi malam ini. aku nggak nanggun-nanggung pemirsa, saking nggak
sabarnya langsung aja pakai sendok es durian tadi.
“El, nanti
bauk durian loh mienya!” teriak Rini. Tapi, akunya lanjut terussss…
Tak cukup
dengan mie rawit pertama, Okta memesan mie rawit kedua. Dan, ternyata itu pun
tak cukup. Joni dan Okta membeli nasi ampera dengan lauk ayam Kalkun (kata Okta
sih, aku sebenarnya nggak yakin soalnya dia tukang tipu). Kami menyantapnya
sampai ludes. Eh, aku ding. Hehe
“Kak,
lihatlah si Elis ini! Dia pula yang lahap kali,” Okta menunjukku yang
menghabisi suapan terakhir.
“Iya,
memang kayak gitu si kawan ini Dek. Nanti kalau di rumah ada makanan, makan
lagi tuh dia.”
Setelah
semua makanan ludes, kami baru mulai ngobrol ‘agak’ serius,
“Kami mau
minta wejangan dari Kakak nih sebelum besok kami berangkat KKN.”
“Pokoknya,
Kakak pengen kalian harus jadi inisiator di kelompok kalian Dek. Karena nanti
ada tiba masanya teman-teman itu mandeg dan yang lainnya ngikut. Terus, cobalah
untuk netral, walaupun ada yang nggak kalian suka jangan sampai kalian bikin
kelompok-kelompok. Akan banyak waktu terkuras untuk beradaptasi Dek nantinya.
Kira-kira 80% lah dari total waktu KKN. Karena, kalau yang itu nggak beres,
dipastikan program kerja pun nggak jalan.”
“Eh Lis,
aku dipanggil Emak loh sama teman-teman aku nii. Katanya aku tuh merangkul
orangnya. Jadi, dikit-dikit mereka nanya, ‘Mak, apalagi ni yang kurang? Mak,
apalagi yang mau dibeli?’ Gitulah orang tu Liss,” kata Joni dengan cerianya.
Aku pun
ikut tertawa mendengarnya. Teringat dengan masa-masa dipanggil Mamake oleh
teman-teman seposko. Nah, kalau yang itu aku masih aneh sebenarnya. Padahal,
aku termasuk malas dibandingin teman-teman yang lain. Ke dapur aja jarang,
lebih rajin nulis hehe. Kalau waktunya
piket, aku lebih milik nyuci piring dan ngepel daripada masak. Nah, tapi kok
bisa dipanggil mamake dan bunda ya? Hihii, anugerah. Alhamdulillah.
“Kak, ada
sesuatu yang harus diubah dari cara bicara Kakak,” kata Okta tiba-tiba.
“Nah, kalau
Okta udah ngomong kayak gini biasanya serem nih Rin yang akan dibicarakannya,”
kataku ke Rini sebelum menghadap ke wajah Okta.
“Ha, apa
itu Dek?”
“Kak, Kakak
sering kali lupa konsep. Ketika awalnya Kakak manggil diri Kakak dengan
‘Kakak’, tiba-tiba Kakak berubah manggil ‘Aku’ ke diri Kakak. Takutnya orang
salah faham, kok jadi gitu ngomongnya si Elis ini? Ha, takutnya orang berfikir
seperti itu Kak.”
“Masa iya
Dek?”
“Okta
sering perhatikan itu Kak. Awalnya Okta sadar itu waktu acara ORASI. Awalnya,
Kakak cerita pakai ‘Saya’ dan tiba-tiba dipertengahan, Kakak berubah pakai
‘Aku’.”
“Masa iya
sih? Kakak kadang itu menyatu Dek dengan situasi.”
“Halaaahh,
banyak cito!”
“Serius
loh. Misalnya, awalnya Kakak bicara sama Teguh pakai ‘Mak’ tiba-tiba ditelvon
sama Kak Umil pakai ‘Mamake’ nah, itu nanti waktu ngobrol bisa bercampur tuh 2
panggilan itu. Kadang nih, waktu ngisi acara, awalnya Kakak pakai ‘Saya’ tapi
tiba-tiba jadi ‘Kakak’. Sampai ada yang pernah ngasih tahu Kakak, ‘El, kalau
audiensenya kira-kira seumuran dengan kita, pakai ‘saya’ aja, kecuali kalau
ternyata mereka lebih muda dari kita barulah pakai ‘Kakka’. Ha..gitulah Kakak
Dek.”
“Berarti
itu PR besar buat Kakak!”
“Iya, iya.
Sip makasih Kak.
“Tapi,
Kakak adalah orang yang pandai beretorika lewat tulisan. Tapi lewat lisan,
Kakak masih buruk. Cobalah dalam 2 bulan ini Kakak latihan berpublic speaking
dengan baik, beuuhh pasti Kakak akan jadi PAKET COMPLIT; bagus nulisnya, bagus
ngomongnya. Kereen tuh Kak! Orang akan mencari Kakak dan bilang, 'Eh, undang aja Elis. Dia tuh bagus banget public speakingnya dan pinter nulis pula' Apa nggak kece tuh Kak? Siapa tahu kan ada acara muslimah di SKA dan Kakak diminta jadi MC, haaa siapa tahu Kak?”
"Gitu ya Dek?"
"Iya loh Cek. Cek, sesungguhnya ilmu public speaking itu bukan hanya ilmu berbicara di atas panggung aja, tidak. Public speaking itu adalah bagaimana cara kita menempatkan diri kita sesuai dengan waktu dan kondisi. Ada saatnya kita harus menjadi diri kita sendiri, ada saatnya juga kita harus menjadi sesuai permintaan orang lain Cek."



Tidak ada komentar:
Posting Komentar