Rabu, 01 Juli 2015

Ramadhan ke-14; Razakku dan Radittu

“El! Bangun loh! Udah jam 4.”
Oh iya, aku kan harus sahur ke Bina Krida karena udah nggak ada lagi nasi di sini. Hiksss.. aku terbangun dengan hati berdebar. “Udah jam berapa Rin?”
“4 lewat 5. Dah dari tadi pun ku bangunin.”
Aku segera berwudhu untuk Tajahud. “Rin, tolong belikan mie donk sama Kak Dewi ya…”
Rini mendehem. Tapi, sampai aku selesai sholat, dia malah udah tidur menganga aja. Aku nggak bilang alasanku kenapa harus minta tolong sama dia. Padahal sebenarnya aku bisa beli sendiri. Yah, karena aku belum punya penggenap apa yang pasti akan ditagih kak Dewi kalau aku bertemu dengannya.
Setelah ku cek air gallon yang udah mendidih, eh ternyata airnya udah kering. Huft! “Rin, kita harus ke depan nih, soalnya air galonnya habis. Nggak ada pilihan lain. Huh, udah jam 04.15wib pula.”
Rini dengan sigap bersiap-siap dan bersedia menemaniku sahur meskipun dia nggak sedang berpuasa. Ada abang di teras, ah dia pasti akan menanyakan keterlambatan kami untuk sahur.
“Hah? Ke mana El? Baru mau sahur?”
“Iya Bang.”
“Udah jam berapa ini? Dari tadi lagi udah dibangunkan. Sejak sebelum jam 4 lagi.”
Aku hanya tersenyum cengegesan dan bergegas pergi. Langkahku lebar-lebar dan cepat. Rini ketinggalan di belakang dan ku teriaki untu cepat juga.

“Duh, Café cerita tutup pula Rin.”
“Ke RM. 3 Putri aja lah langsung yuk?”
Kami meneruskan langkah 50 meter ke depan. Aku jadi malu sendiri ketika dilihatin orang, mereka pasti mikir gini,  ‘Hi? Kok baru mau sahur sih? Udah mau Imsak loh!’ hiksss. Tapi, biarlah ku tepis saja gelisah itu demi perut dan berkah sahur.
Baru saja nasi terhidang, SMS Lia ku terima, Ala Jago woy? Jangan lupo makan nasi. Ehhe. 
Aku baru nyadar kalau beberapa hari setelah Lia pulang dari kosan ini, makanku dan Rini berantakan banget. Sampek sekarang aja, walaupun Rini sedang nggak puasa, dia nggak ada niat buat beli beras. Huahhhh. Aku pun nggak jauh beda. Hihii. Kalau ada Lia, pasti dia akan mikirin ntar buka makan apa, sahur makan apa? Lah kalau kami? Hehhe, kami selalu nge-gembel, di situ mau makan di situ baru mikir. Kadang, kami berburu berbuka gratis. Heheh. Beda jauh deh dengan putri keraton yang hidupnya teratur dan terawat.
“Itu imsak untuk Jakarta tuh,” kata Rini sambil menatap pemberitahuan azan di TV.
“Iya. Eh, ternyata kita sempat juga ya sahurnya. Masih cukup waktunya. Aku kita kita bakalan telat tadi Rin.”
“Udah dia yang lama kali bangunnya. El, El udah jam 4 kurang. (Ehmmmm, tidur lagi) El, El udah jam 4 lewat (HAH? Masa iya?) Barulah El bangun. Yang susahan di banguninnya,” Rini memperagakannya membangunkanku tadi.
“Hhehe. Aku mah gitu atuh. Eh, temenin aku ke mushola yuk?”
“El sendirian ajalah. Aku langsung pulang. Ngapain aku di sana orang aku nggak solah?”
“Ya nggak apa-apalah, tunggu aja di dalam.”
“Makin dilihatin orang lah aku. Nggak ada kerjaan aja.”
“Hemm..ya udah deh, yuk kita capcusss.”
Setelah Rini membayar semuanya. Aku mengikutinya untuk sama-sama langsung pulang ke kosan.
“Loh? El nggak ke mushola?”
“Nggak ah, nanggung. Lagian belum azan juga pun.”
“Halaahh. Bilang aja takut kan?”
“Nggak kok, weeekk. Buruanlah jalannya! Yang leletan.”
“Duluaanlah!”
Aku berjalan lebih cepat daripada Rini yang terus terpaku dengan Androidnya. Eh, emangnya aku nggak jahat ya? Dia tadi nemenin aku, sekarang aku pula yang nggak mau sedikit sabar untuknya? Ah, kayaknya nggak ngaruh deh dengan si Rincuy, ku tinggal pun dia, dia nggak akan nganggap aku nggak sopan. Kayaknya sih gitu. hehehe.
“Rin, kecium bau parfum nggak di dekat kosan kita tadi?”
“Nggak kok!” Rini mengernyitkan wajah.
“Masa iya? Aku kecium loh. Aneh kan? Ngapain pula wangi parfum tertinggal di situ? Nggak ada orang dan gelap pula tuh.”
“Nantik beneraaaannn.” Itu kalimat andalannya Rini untuk mengingatkan sekaligus menakutiku. Hiiii.

***
Baru saja membuka mata dan ntah kenapa dirimu yang pertama kali terfikiri. Lalu, sedih tiba-tiba hadir. Hiksss.
Sent to Okta (Checked)
Menyadari pesanku belum dibalas oleh pak Danur, aku mengirimnya ulang. Aku menduga mungkin HPku yang hank makanya nggak ada pesan yang bisa masuk. Lalu, ku matikan HPku dan ku hidupkan kembali. Eh, smsnya pak Danur langsung masuk.
Mohon maaf, saya gak bisa bimbing pagi ini.
Lalu, ku balas segera, Kalau siang atau sore bisa pak? *mohon maaf pak, elysa ngejar ujian tanggal 8 juli, kalau bisa.
Belum ada balasan. Aku berharap semoga Allah menunjukkan sesuatu kepadaku; Jika menurut-Mu pak Danur bukanlah pembimbing yang terbaik untukku, maka gantilah ia segera dengan pilihan-Mu. Aamiin.
Mohon maaf, saya tidak bisa bimbingan hari ini. semalam saya bimbingan seharian di Gobah.
Hemmm..seharian? Semoga ini adalah indikasi bahwa bapak mudah ditemui. If he is my best ya Allah.

***
Sahur di rumah mak. Bareng emak bapak..
Sejenak aku bingung. Kapan pula aku sms Teguh ya? Setelah mikir, oh ternyata tadi aku mengSMSnya waktu aku sedang buru-buru sahur. Eheee.
Hah? Udah di Dumai pula? Cepat kali? Kemarin masih di sini.
Ia mak. Tapi bentaran kok. Sabtu balik. Soalnya ni orang tua udah nelpon-nelpon dari kemarin, nanyain kapan pulang makanya sempet-sempetin pulang mak. Btw, pagi adek hari ini diisi dengan baca blog emak loh. Sihiiyyyy..
Oh begitu toh. Eh, diisi apa maksdnya dek?
Diisi maksudnya kegiatan pagi ini baca blog emak. Pye toh mak..
Owalah. Mak kan emang nggak nyambung. Hehe
Huh! Dasar emang lola. Week.
Adek bermimpi pengen punya buku sendiri nggak?
Buku dan perpustakaan sendiri mak. Itu salah satu mimpi yang belum teguh coret mak karena belum terwujud.
Allah mendengar doamu dek. Insya Allah segera terwujud. Mak bangga padamu!, gumamku di hati.
Aku kembali menarikan jemari di atas tuts-tuts keyboard. Meracik apa yang harus dijadikan menarik dan meramu apa yang harus menjadi temu. Untukmu, wahai 2 orang yang dekat di hatiku.

***

“Assalamualaikum,” Rini baru pulang dari nganterin junior PPRUnya nyari tiket pulang kampung.
“Waalaikumsalam.”
“Ini minuman buat El!” kata Rini sambil meletakkan sebotol bensin di sudut kamar. “Yuklah cepetan kita perginya! Nyari percetakan, terus beli barang-barang kebutuhan El tuh.”
“Emang aku butuh sama barang apa?”
“Sampo! Odol gigi! Sabun! Jangan minta-minta lagi sama aku.”
“Loh, aku nggak merasa kekurangan kok. Enakan minta sama Rini aja deh.”
“Emang udah gilaknya El niii,” semprot Rini dengan logat bataknya.
“Rin, ntar kalau udah selesai urusan itu, kita mau ke mana lagi?”
“Pulang lah.”
“Hemm..kalau gitu nanggung Rin, setelah Ashar aja perginya. Jadi, sekaligus buka puasa di luar juga kan. Jangan banyak buang waktu di jalan Rin.”
“Udahlah! Enceng main. Aku marah sama El. mending tadi nggak usah ku belikan aja bensinnya. Sinilah ku pulangkan lagi aja.”
“Ciyeee..marah ya Adek ipar? Hihii.”
Benar saja, aku baru selesai sholat dan mengaji, si Rincuy udah tewas aja di depan laptopnya.

***
“El, singgahi aja aku di depan counter pulsa ini,” pinta Rini.
“Yakin?”
“Iya. Udah jam berapa ini? Biar aku jalan kaki aja, El pergilah lagi.”
“Nanti kalau kaki Rini keseleo gimana?”
“Halaaahh, lebay!”
Setelah menyinggahi Rini di depan counter pulsa, di perempatan Bika Krida-Balam Sakti. Selanjutnya, aku berbalik arah menuju jalan Subrantas, berbelok arah ke RAZZAKKU, tempat bubar Kemen PP (Kementrian Pemberdayaan Perempuan) BEM UR. Tadi, sempat berfikir untuk tidak datang, tapi karena mengingat dan menimbang ntah kapan lagi ‘menyatu’ dalam momen ini, akhirnya ku putuskan untuk datang.
Rin, tolong BBMkan Kak Wulan, jadinya di mana bubarnya?
Aku celingukan di tempat parkir. Jadi bingung sendiri. Sebenarnya jadi nggak ya bubar di sini? Atau aku pulang aja nih? Hiksss..
Ada 1 panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Aku miscall balik dengan mengandalkan panggilan darurat.
Kak Elis, kami udah di RAZZAKKU kak.
Alhamdulillah, akhirnya aku dapat petunjuk. Makasih ya Allah. Ini pasti Deldiya yang sms nih! Dia memang staf kemenPP andalan.
Aku segera memasuki rumah makan berarsitek tradisional ini sambil melempar pandangan ke sana ke mari. Meja bundar dengan 4 buah kursi di sepanjang beranda RAZZAKKU telah terisi penanti beduk buka. Tapi, aku yakin, teman-teman kemenPP ada di dalam, di meja panjang dengan duduk berlesehan itu.
“Haiii?” sapaku ketika melihat Winda.
Ada kak Wulan, Deldiya, aku dan Oke. Aku melepas sepatu dan duduk di antara Oke dan Winda.
“Udah pada mesen ya?”
“Udah Lis. Pesanlah dulu. Itu menunya sedang diambilkan Mbak itu.”
Setelah buku menu sampai di tanganku, “Mbak, saya pesan Paket Gurami Manis-Asam dan teh es manisnya 1 ya.”
Si mbak mencatat pesananku pada kertas putih polosnya. 10 menit kemudian, pesananku datang. Hemm… dari tampilannya aja kayaknya enak nih!
“Nanti kita makan dulu, atau langsung sholat?”
“Minum dulu kita, baru kita sholat Maghrib Kak,” kata Deldiya.
Memang itu yang terbaik, Dek. Hemm.
“Elis belum dapat giliran masuk Koran kan? Mau nggak ngisi rising star?” tanya kak Wulan.
“Hemm..apa yang mau ditampilkan di halaman itu Kak?”
“Ya tunjukkan tentang diri kita. Kan, Rising Star itu biasanya gitu kan; menceritakan tentang diri kita. Yang terakhir kemarin tu si Handoko, dia cerita tentang kegiatan sukarelawannya di Rumah Zakat gitu dan judulnya kalau Kakak nggak salah; Menebar Manfaat Hingga ke Raja Ampat.
“Waaahhh..kereeenn,” kataku. Makasih ya Allah atas kesempatan ini. “Boleh deh Kak, Elis ngisi tuh. Kita diwawancarai atau kita yang ngirim tulisan Kak?”
“Kita diwawancarai sama orang itu Dek. Cobalah cari apa kira-kira yang bakal Elis ekspos. Boleh tentang buku Elis, atau tentang prestasi.”
Aku tiba-tiba teringat dan memikirkan sesuatu. Kayanya itu cocok dan menarik deh untuk dibahas.

***

19.38wib
Aku baru pulang dari Razzaku. Di kosan, Rini belum juga makan. Padahal tadi udah ku suruh makan duluan karena rencana berubah ke plan B; dari yang niatnya makan bakso Mie alami jadinya makan es krim durian. Aku udah wanti-wanti ke Joni, takutnya masuk angin, tapi katanya nggak apa-apa. Ya udah deh, mala mini adalah milik kalian Dek! Kakak Elcek dan kak Rincuy nurut aja.
Ada bau-bau niat yang tersembunyi nih. Tumben-tumben pengen jalan berdua.
Lah? Kan sebelumnya kita sering mi pergi berdua. Ke pasar, ke warung, ke trans. Ya kan? La jadi?
Mami kemudian ber-oooo panjang disertai emot cium. Ya Allah, bantu hamba mewujudkan mimpi mulia ini. Sebuah waktu lebih lama dan pemandangan tak biasa untuk aku dan mama. Aamiin. Soon!
“Rin, kan aku diminta Kak Wulan untuk jadi ngisi rubrik Rising Star. Nah, kalau aku ceritain tentang One People One Blog, kira-kira apa-apa nggak Rin?”
“Nggak kok! Nggak apa-apa.”
“Kan biasanya yang lain tuh nggak jauh-jauh tentang prestasi lah. Tapi, kali ini aku judulnya adalah gagasan bahwa setiap orang harus punya web sendiri untuk tulisan-tulisannya. Tapi sialnya Rin, si kawan sekamarku itu loh nggak juga nulis-nulis dia. Cuma 2 aja tulisannya nggak nambah-nambah tuh!”
“Hiksss…huhuuuu, El nyindir aku ya..” Rini belagak nangis.
Malam ini, aku dan Rini telah menyanggupi ajakan Joni dan Okta untuk makan Es Krim Durian di jalan Delima. Persyaratanku pun sudah mereka sanggupi; Sebelum berangkat, harus udah sholat Isya dulu.

***
“Rin, kita nunggu di simpang depan aja, daripada nanti orang tu datang merempong, teriak-teriak di depan kosan, dicurigai pula kita ntah mau ke mana, hehe.”
“Arrassooh.”
Joni menelvon ketika kami baru sampai di ujung gang ini,
“Di mana Cek?”
“Udah di simpang sebelum Bina Krida nih.”
“Kita lewat kampus ya, jadi kita jumpa di gerbang Bina krida aja. Kami udah mau masuk Balam Sakti nih.”
“Okeeehhh.”
Aku segera membelah Bina Krida yang cukup ramai dengan langkah penuh gesa para jamaah sholat tarawih. Hiii, aku segan dilihatin.
“Mana lah orang 2 itu ya? Lama kali pun!” gerutuku. Suara ustad Tajuddin dari mesjid Arfaunnas sudah beberapa menit menemani kami. Di sebelah kanan kami ada 2 orang satpam yang menjaga barrier gate.
“Kadang, aku pengen loh ngasih satpam itu makanan, El. Kasihan kan orang itu nungguin palang terus di situ.”
“Boleh juga tuh. Iya, kasihan. Kalau aku, pengennya ngasih buku Rin.”
“Itu nggak kalah kece.”
Cepetanlah, kami udah di dekat satpam ni haa…
Aku meninjau motor-motor yang mendekat dari spion motorku yang retak. Belum juga nongol wajah Okta dan Joni. Mulai geram pula aku jadinya.
“Haiii Cekkk..” teriak Okta dari belakang.
“Hhh! Yang lamaan puuun.”
Kami mengikuti rute mereka. Sesekali kami berkendara beriringan. Hemmm…besok aku nggak bisa ketemu mereka lagi pemisaa..
“Rin, orang tu kalau udah naik motor berdua, pasti si Okta yang nyupir, Joni selalu yang dibonceng.”
“Iya yaa, haha. Hobi kalii.”

***

RUMAH DURIAN RADIT, ternyata ini nama tempatnya. Belum lagi melepas helm, aku memfoto-foto tampak depan, Rini, Okta dan Joni jadi latar momennya. Mereka udah ngeloyor masuk aja, padahal aku masih di parkiran. *saya dilupakan pmirsaaa… lobay! Hhehe.

“Cek pesan apa Cek? Yang ini recommended semua Cek.”
“Ini sup, yang itu es krim. Kok beda?”
“Iya, emangnya sup itu panas nanti ya jadinya?” tanya Rini pula.
“Nggak doh, mana mungkin es krim panas. Dia tetap dingin kok Cek, yang ini pakai kuah duriannya. Kalau yang es krim itu cuma toppingnya aja yang durian. Lebih enak yang sup ini pokoknya Cek.”
“Ya udah, yang ini deh!”
Aku menunjuk menu Sup Durian Cocho Oreo. Kok si Joni pede banget sih mesen yang es krim ya? Tanyaku dalam hati. Tapi, nggak mungkin si Okta menjerumuskanku deh! Dia kan unyu-unyu. Huekkk.
Pesananku yang duluan terhidang. Aku segera mencicipinya. Tapi, kata Okta harus diaduk dulu sampai tercampur semua, supaya sempurna rasanya. Ada 2 Oreo di pinggir gelas mangkuk ini, es serut, keju dan kuah duriannya. Hemm..emang enak banget nih! Tapi, ntar aku gendut. Gimana donk?
Kamu itu kalau kurus nggak cantik lagi loh jilbabmu nanti Cek! Okta pernah bilang seperti itu.
“Bu, pesan mie rawitnya 1 ya Bu. Tapi, rawitnya dikit aja jangan banyak kali kayak kemarin ya Bu?” Okta memesankan Rini. Hemm… nggak ada pilihan lain selain mie, daripada Rincuy nggak makan.
“Ini ya mie rawitnyaaa,” kata ibu cantik saat menghidangkannya di hadapanku.
Lah? Kok Cuma beginian aja? Bener-bener kayak mie goreng buatan sendiri aja. Kalau pakai irisan cabe rawit pasti cantik karena ada hijau-hijaunya. Kalau ini? Hampa banget.
“Maunya ada daun sopnya gitu kek,” kata Rini sambil memulai pencicipan.
“Iya Rin. Berapa pula nih harganya?”
“Rp 10.000.”
“Hemmm… lumayan juga ya. Enakan brebes, hehe. Tapi, itulah karena ini bukan menu pilihan di sini Rin. Cuma satu-satunya makanan ya mie ini.”

Aku, Joni dan Okta langsung menyerbu mienya Rini. Hemm..kebiasaan kami di kantin BEM FKIP kambuh lagi malam ini. aku nggak nanggun-nanggung pemirsa, saking nggak sabarnya langsung aja pakai sendok es durian tadi.
“El, nanti bauk durian loh mienya!” teriak Rini. Tapi, akunya lanjut terussss…
Tak cukup dengan mie rawit pertama, Okta memesan mie rawit kedua. Dan, ternyata itu pun tak cukup. Joni dan Okta membeli nasi ampera dengan lauk ayam Kalkun (kata Okta sih, aku sebenarnya nggak yakin soalnya dia tukang tipu). Kami menyantapnya sampai ludes. Eh, aku ding. Hehe
“Kak, lihatlah si Elis ini! Dia pula yang lahap kali,” Okta menunjukku yang menghabisi suapan terakhir.
“Iya, memang kayak gitu si kawan ini Dek. Nanti kalau di rumah ada makanan, makan lagi tuh dia.”
Setelah semua makanan ludes, kami baru mulai ngobrol ‘agak’ serius,
“Kami mau minta wejangan dari Kakak nih sebelum besok kami berangkat KKN.”
“Pokoknya, Kakak pengen kalian harus jadi inisiator di kelompok kalian Dek. Karena nanti ada tiba masanya teman-teman itu mandeg dan yang lainnya ngikut. Terus, cobalah untuk netral, walaupun ada yang nggak kalian suka jangan sampai kalian bikin kelompok-kelompok. Akan banyak waktu terkuras untuk beradaptasi Dek nantinya. Kira-kira 80% lah dari total waktu KKN. Karena, kalau yang itu nggak beres, dipastikan program kerja pun nggak jalan.”
“Eh Lis, aku dipanggil Emak loh sama teman-teman aku nii. Katanya aku tuh merangkul orangnya. Jadi, dikit-dikit mereka nanya, ‘Mak, apalagi ni yang kurang? Mak, apalagi yang mau dibeli?’ Gitulah orang tu Liss,” kata Joni dengan cerianya.
Aku pun ikut tertawa mendengarnya. Teringat dengan masa-masa dipanggil Mamake oleh teman-teman seposko. Nah, kalau yang itu aku masih aneh sebenarnya. Padahal, aku termasuk malas dibandingin teman-teman yang lain. Ke dapur aja jarang, lebih rajin nulis  hehe. Kalau waktunya piket, aku lebih milik nyuci piring dan ngepel daripada masak. Nah, tapi kok bisa dipanggil mamake dan bunda ya? Hihii, anugerah. Alhamdulillah.
“Kak, ada sesuatu yang harus diubah dari cara bicara Kakak,” kata Okta tiba-tiba.
“Nah, kalau Okta udah ngomong kayak gini biasanya serem nih Rin yang akan dibicarakannya,” kataku ke Rini sebelum menghadap ke wajah Okta.
“Ha, apa itu Dek?”
“Kak, Kakak sering kali lupa konsep. Ketika awalnya Kakak manggil diri Kakak dengan ‘Kakak’, tiba-tiba Kakak berubah manggil ‘Aku’ ke diri Kakak. Takutnya orang salah faham, kok jadi gitu ngomongnya si Elis ini? Ha, takutnya orang berfikir seperti itu Kak.”
“Masa iya Dek?”
“Okta sering perhatikan itu Kak. Awalnya Okta sadar itu waktu acara ORASI. Awalnya, Kakak cerita pakai ‘Saya’ dan tiba-tiba dipertengahan, Kakak berubah pakai ‘Aku’.”
“Masa iya sih? Kakak kadang itu menyatu Dek dengan situasi.”
“Halaaahh, banyak cito!”
“Serius loh. Misalnya, awalnya Kakak bicara sama Teguh pakai ‘Mak’ tiba-tiba ditelvon sama Kak Umil pakai ‘Mamake’ nah, itu nanti waktu ngobrol bisa bercampur tuh 2 panggilan itu. Kadang nih, waktu ngisi acara, awalnya Kakak pakai ‘Saya’ tapi tiba-tiba jadi ‘Kakak’. Sampai ada yang pernah ngasih tahu Kakak, ‘El, kalau audiensenya kira-kira seumuran dengan kita, pakai ‘saya’ aja, kecuali kalau ternyata mereka lebih muda dari kita barulah pakai ‘Kakka’. Ha..gitulah Kakak Dek.”
“Berarti itu PR besar buat Kakak!”
“Iya, iya. Sip makasih Kak.
“Tapi, Kakak adalah orang yang pandai beretorika lewat tulisan. Tapi lewat lisan, Kakak masih buruk. Cobalah dalam 2 bulan ini Kakak latihan berpublic speaking dengan baik, beuuhh pasti Kakak akan jadi PAKET COMPLIT; bagus nulisnya, bagus ngomongnya. Kereen tuh Kak! Orang akan mencari Kakak dan bilang, 'Eh, undang aja Elis. Dia tuh bagus banget public speakingnya dan pinter nulis pula' Apa nggak kece tuh Kak? Siapa tahu kan ada acara muslimah di SKA dan Kakak diminta jadi MC, haaa siapa tahu Kak?”
"Gitu ya Dek?"
"Iya loh Cek. Cek, sesungguhnya ilmu public speaking itu bukan hanya ilmu berbicara di atas panggung aja, tidak. Public speaking itu adalah bagaimana cara kita menempatkan diri kita sesuai dengan waktu dan kondisi. Ada saatnya kita harus menjadi diri kita sendiri, ada saatnya juga kita harus menjadi sesuai permintaan orang lain Cek." 

Tidak ada komentar: