Kamis, 02 Juli 2015

Ramadhan ke-15; KKN-mu adalah KKN-ku Dulu

Waktu aku bangun, Rini udah sholat Tahajjud dan sedang mengaji.
“Rin, kita makan mie aja yuk? Biar nggak rempong ke luar.”
“Ya udah kalau El mau makan mie. Aku sendirian aja ke luar.”
“Ciyeee… yang beraniii.”
“Udah beberapa hari kemarin aku makan mie terus soalnya. Takut sakit ntar.”
Pukul 04.11wib, kami ke luar. Cukup berbeda dengan malam kemarin yaitu ketika kami ke luar udah pukul 04.20wib. Widiwww! Café Ceria nggak buka lagi, mungkin sepi pengunjung. Atau justru terlalu rame waktu buka dan udah habis untuk dijual ketika sahur. Kami lanjut ke RM 3 Putri. Aku memesan nasi+ayam pop, sedangkan Rini nasi+ayam rendang.
“Yah, nggak ada kerupuk,” kataku sambil celingukan melihat ke dinding di sampingku.
Rini mana peduli, yang penting ada nasi dan lauk aja dia nggak bakal ribut nyari yang lain tuh.
“Rin, aku mau nambah ah!
“Ya udah nambahlah!,” kata Rini.
Karena dipersilahkan oleh Rini sebagai juru dietku *Gubrakkk!, akhirnya aku mengulang porsi dengan lauk yang tinggal separoh. Hihii.

Teh panas yang dihidangkan lagi-lagi tidak panas. Aku menumpahkannya ke atas piring dan menggantinya dengan air putih.
“Kenapa manusia itu disebut dengan makhluk yang pelupa dan penuh salah? Supaya kita tidak menjadi sombong. Sesungguhnya sombong itu ada 2; sombong karena ilmu dan sombong karena harta. Yang paling berbahaya adalah sombong karena ilmu. Padahal ilmu yang kita peroleh itu adalah dari Allah. Kita nggak mungkin bisa tiba-tiba seperti ini kalau tidak Allah yang mengajarkannya kepada kita,” papar ustad Maulana dalam acara TV; Sahur itu Indah.
“Denger tuh El!” kata Rini.
“Eh, emangnya aku sombong?”
“Aku sih sebenarnya. Kadang bilang; ‘Eh, si anu itu tengoklah ketat kali bajunya,’ atau bilang; ‘Eh, Elysa itu lihatlah, gendut kali pun!’.”
Aku melotot mendengar contoh yang kedua. Sementara Rini wajahnya datar, pura-pura nggak merasa menyindir orang lain. Huh!
“Mari kita ingat kembali bagaimana muasal kita, yaitu dari air mani yang sangat hina dan Allahlah yang telah mengubah kita menjadi bentuk yang seperti saat ini. Artinya, tanpa Allah kita tidak akan menjadi apa-apa dan hal itu bertujuan agar kita tidak pernah sombong,” sambung Oki Setiana Dewi.
“Lia,” kataku. Maksudnya, si OSD mirip Lia, seperti kata orang kebanyakan.
“Dara,” kata Rini.
“Aku,” kataku dan wajah Rini langsung berubah.
“Ingatlah firman Allah bahwa tidak akan masuk syurga jika ada setitik saja kesombongan di dalam hati kita. Mari kita introspeksi diri dan benahi lagi puasa kita. Karena, hanya puasalah ibadah yang tidak pernah sombong dan disombongkan. Ibadah lainnya mungkin bisa, tapi puasa kita Allahlah langsung yang akan menghisabnya,” imbuh ustad Maulana lagi.
“Iya juga ya Rin, kalau kita sedekah masih bisa dipamerkan, sholat juga bisa, ngaji juga bisa, soalnya itu kan terlihat. Kalau orang yang sedang puasa, ya paling-paling lemes seperti umumnya orang berpuasalah. Mana mungkin kita mau memamerkan, ‘Eh, sahurku tadi malam pakai pizza loh’ kan nggak nyambuuung tuh nyombongnya,hahha.”

***
“Brrrr..dingin kaliiii,” kata Rini. Dia mah kena kipas angin aja udah menggigil, hihii.
Ya Allah, subuh adalah suasana yang paling aku sukai. Tapi, paling tak pandai aku hargai. Aku baru pandai menikmatinya dalam beberapa menit ibadah dan sisanya untuk menyambung mimpi. Hiksss..maaf. andai saja aku bisa menikmati subuh berlalu tanpa tidur. *lawan El kantuk yang kau buat-buat itu!
Aku dan Rini sholat di mushola Arrafah sebelum kembali ke kosan. Waktu berdoa, aku sampai terkantuk-kantuk. Cuaca memang sangat dingin pagi ini. Sejuknya melebihi biasanya.
Aku teringat dengan suatu pagi yang kala itu Lia masih di sisi, “Cin, kalau seandainya mu dikasih 1 kesempatan untuk berdoa dan doa itu pasti dikabulkan, mu akan berdoa apa?” tanyaku.
“Emmmm… aku mau minta diberikan oleh Allah kemudahan dalam SKRIPSI, kelancaran rezeki dan kesehatan untuk kedua orang tuaku.”
“1 aja woy permintaannya!”
“Enngg… apa ya…”
“Ya udah deh, nggak apa-apa 3 aja. hehe,” ralatku kemudian.
Tapi, sayangnya Lia nggak bertanya balik kepadaku tentang doa itu. Andaikan aku ditanya tentang 1 doa yang ingin sekali dikabulkan, aku hanya akan berdoa, “Allahummaghriflii Dzunubiii wa li waa lidayya warkhamhumaa kamaa robbayanii shoghiroo.”
“Rin, setelah ini apakah Rini akan tidur?” tanyaku setelah kami selesai sholat Subuh.
“Nggak.”
“Terus, mau ngapain?”
“Mau download video.”
“Setelah download video?”
“Tidur. Hehehe.”
“Heheh,” tawaku, sinis kepada Rini.

***
Untuk menghindari langsung tidur setelah sholat Subuh, aku beresin pakaian yang bergelantungan di sana-sini. *mungkin si han-han udah jadiin itu rumahnya kali ya, hiii. Dan, setelah ngerendam baju, memang benar ternyata aku tidur lagi.
Hiksss. Terbangun jam 8.00wib,
“Rini, kok nggak bangunin aku sih?”
“Nggak apa-apa doh. Udahlah dia tidurnya jam 1.”
“Aku mimpi buruk loh Rin. Lihatlah badanku basah semuanya gini karena keringat. Capek kali aku karena mimpi itu.”
“Mimpi apa?”
“Mimpi ada bencana air di bumi ini memanas Rin. Semua air jadi panas dan kita nggak bisa minum atau ngapain pun dengan air. Seremlah pokoknya. Untung cuma mimpi. Huft!”
Aku segera mencuci baju dan setelah itu teringat dengan pak Danur. Aku harus bertemu bapak hari ini!
Assalamualaikum Pak bagaimana kalau hari ini? bisakah Elysa bimbingan dengan bapak?
Tidak ada jawaban. 15 menit kemudian ku ulang kembali mengirim pesan itu.
Saya masih di rumah sakit. Saya ngajar sore di MP
“Kayaknya Bapak ini belum mau juga deh hari ini ngebimbing aku. Hemm… aku memang harus ganti pembimbing 2 nih. Ke Prodi ah, bentar lagi. Eh, kalau pembimbing Rini ada berapa orang?”
“1 orang aja.”
“Enak kaliii laah kalian. Anak FEKON juga ujiannya ternyata Cuma 2 kali juga. FMIPA yang 4 kali. Aciaannn..”
Assalamualaikum Pak, 2 hari ini pak Danur ngga bisa ditemui. Gimana Pak? Langsung ngadu ke pak Riadi aja? Tapi ntar Elysa bilang apa ke pak danur? Kan beliau udah tahu kalau beliau pembimbing 2 Elysa.
Dah saya duga. Tuh, sekarang perbanyak doa dan tawakal
Minta ganti aja pak? Tanyaku, mempertegas.
Saya khawatir big boss ndak mau.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di Prodi. Ada beberapa orang di sini yang juga menunggu. Tapi, gelisahku tak sebesar kemarin, sebab persoalan judul sudah terlewati.
“Siapa itu yang di dalam Kak?”
“Kak Suci Dek.”
Artinya, aku masih punya waktu untuk menunggu dan memantapkan hati.
Pak, Elysa udah di Prodi. Kira-kira pak Danur kesinggung nggak ya Pak kalau diganti?
Tapi, pak Suarman nggak juga membalas sampai kak Suci ke luar dari ruangannya pak Riadi.
“Elysa ada apa?” tanya pak RM.
“Emmm…” aku sedikit ragu mengadukan hal ini kepada bapak. “Gini, pembimbing 2 Elysa kan Pak Danur Pak, jadi bapak tu udah 2 hari ini nggak bsia ditemui dan Elysa mau ganti.”
Pak RM kemudian kembali masuk ke dalam Prodi. Aku gelisah. Jangan-jangan pak RM ngadu ke pak Riadi. Waduuhh! Berabe nih.
“Elis apa kabar?” kak Suci menyalamiku.
“Baik Kak. Kakak gimana?”
“Kak baik juga. Ya ampuuuunn, makin gemuk aja niiihhh. Apalagi nih pipinya.”
Lagi. Dan terjadi lagi. Kisah lama yang terulang kembali. Aku dikatai gendut lagi, dari tadi, dari kemarin, dan hari ini. hoowoooo… *hahah, maaf ya NOAH. Kemarin si Icha yang waktu ku cium bilang, “Ya Ampuuun, empuknya pipi Eliiisss.” Sekarang, kak Suci ngatain aku gendut sambil mencet-mencet pipiku. Kalau udah gitu, aku cuma jawab sambil tersenyum, “Iya nih, emang gendutan akunya. Hehe.”
Lalu, aku menceritakan halku kepada kak Suci dan beberapa orang lainnya. Dan, ketika aku menginisiasi pak **des untuk menjadi pengganti pak Danur, malah mereka berkomentar, “Yakin Lis sama Bapak itu? hemm..Kakak ini buktinya.” Resti menunjuk kepada kakak di sampingku. Aku nggak tahu pula siapa namanya, yang jelas dia angatan 2010.
“Iya Kak? Lama sama Bapak tu?”
“Lambat Dek. Susah juga nemuinnya,” jelasnya.
“Coba sama pak RM Dek. Tanya dulu ke Bapak tu, mau nggak dia?”
Aku segera berlari ke luar Prodi menemui pak RM yang sedang berdiri di depan ruang kajur IPS.
“Pak, kalau seandainya pak Riadi setuju pembimbing 2 Elis diganti, Bapak mau nggaj jadi pembimbing Elis?” tanyaku dengan wajah memelas.
“Boleh juga. Nggak masalah,” jawab pak RM ringan.
YESSS, kataku dalam hati. “Makasih ya Pak. Elisa pastikan dulu ke Pak Riadinya,” wajahku berbinar.
Aku kembali lagi ke Prodi dan menceritakan kepada teman-teman di Prodi, “Alhamdulillah, pak RM bersedia.”
“Enak sama Bapak tuh Dek, standby terus di kampus.”
“Eh, waktu tadi pak RM bilang ke Pak Riadi, ‘Elisa mau ganti pembimbing tu Pak’ Pak Riadi itu bilang, ‘Aku Sopuuukk’ (ket: Sopuk itu kasar artinya) gitu loh Dek. Tapi, coba aja masuk ke dalam siapa tahu Bapak tu cuma bercanda tadi.”
“Oh, jadi pak RM tadi bilang ke Pak Riadi langsung ya Kak?”
“Iya. Kan Kakak sedang di dalam tadi.”
Firasatku mulai nggak enak nih. Mau memperbanyak istighfar, waktunya udah mepet pula. Kalau aku nggak segera masuk, takutnya bapak malah pergi, karena setelah kak Suci ke luar, belum ada yang masuk lagi ke dalam. Huft! Bismillah…
“Assalamualaikum Pak..” kataku ketika masuk ke ruang KaProdi. Tidak ada jawaban (memang biasanya seperti ini). Aku duduk tanpa dipersilahkan (karena kalau nunggu dipersilahkan, nggak bakal duduk aku ntar, ehee). “Pak, kemarin kan Elysa udah pernah bicara ke Bapak tentang Pak Danur. Jadi gini Pak, udah 2 hari ini Bapak tu belum juga bisa ditemui, maka Elysa mau…”
“Ndak ada alasan susah nemuin dosen tu! Dia sekarang udah nggak sibuk, karena dia udah nggak ketua jurusan lagi. Istrinya sedang sakit di EKA HOSPITAL tu haaa. Kamu datanglah ke sana nemuin dia, pasti dia ada. Atau tungguin dia di rumahnya. Nggak mungkin seharian dia nggak pulang. Jangan banyak alasan kamu. Saya nggak bisa diatur-atur ya. Kalau sama dosen lain silahkan kamu atur-atur. Kalau sama saya jangan coba-coba,” jelasnya dengan nada tinggi dan mata nanar.
“Pak, saya tidak mengatur Bapak. Saya hanya memohon,” sanggahku pula. Tak terima.
“Ya itu namanya kamu ngatur-ngatur saya. Saya nggak mau dengar asalan dosen susah ditemui karena saya gampang menemui mereka. nggak terima saya alasan-alasan lapuk kayak gitu,” gertaknya lagi.
Mataku nyaris berkaca, muasalanya dari hati yang pedih di dalam sana. “Makasih Pak.” Aku ke luar dari ruangan ini. Menceritakan dengan geram kepada teman-teman di ruang tunggu.
“Sabar ya Lis, Sabar. Coba dijalanin aja.”
Aku menenangkan diri sejenak dengan hanya diam sambil mengotak-ngatik HP tak tentu tujuan. Aku tidak ingin menangis hanya karena seorang pak Riadi. Tidak! Tidak boleh cengeng. Menangislah untuk hal yang lebih berharga dan bernilai dari pada ini, El.

***
Aku menuruni tangga dan berjalan dengan langkah lebar-lebar. Tujuanku saat ini adalah ruangan pak Suarman.
Pintu ku buka perlahan, ku longokkan kepalaku ke meja stafnya pak Sua di samping pintu masuk, tapi tidak ada si abang di sana. Ibu yang kemarin menyindirku ganti melongokkan wajah kepadaku yang baru saja menutup pintu. Lalu wajahnya ia tarik kembali ke balik kaca hitam itu. Aku tak menggubrisnya.
“Pak…?” sapaku kepada bapak bertutur lembut yang sedang menatap monitor. Ia menatapku sejuk. Aku segera duduk dan menceritakan segalanya kepadanya.
“Saya pun nggak yakin juga sebenarnya,” kata pak Sua.
“Emmm… menurut Bapak, judul penelitian Elysa ini sebaiknya diarahkan ke mana Pak?”
“Belum ada gambaran juga sih saya. Baiknya ke Pak Danu raja dulu, nanti minta sarannya. Saya ngikut aja.”
Hemm…padahal, biasanya pembimbing 2 yang ngikutin pembimbing 1. Syukurlah pak Sua berhati sejuk sesejuk embun pagi hari.
“Sebenarnya kalau Elysa kemarin ngangkat tentang Analisis Kepuasan Mahasiswa dalam Proses Pembimbingan SKRIPSI itu cocok kali dengan jurnal Bapak. Berani Bapak ambilkan beberapa referensi dari jurnal internasional. Tapi ya mau gimana lag...”
“Iya, Pak. Kita kan nurutin selera bapak itu ni ceritanya. Dia ternyata lebih suka dengan judul yang aneh itu,” sambungku cepat, sambil tertawa ringan.
“Nah, itu diaa.”
“Eh, Pak memangnya itu cuma untuk penelitian mahasiswa S1? Kalau S2 nggak boleh lagi neliti itu?”
“Wah, boleh banget Sa. Nantilah kita penelitian bareng yaa. Itulah saya sangat menganjurkan Elysa S2 langsung di sini aja. Optimis saya 3,5 semester Elysa udah tesis, tapi dari awal udah dirancang. Apalagi saya ketua Prodinya. S3 ke luarlah kalau mau lanjut di luar. Kawan Elysa si Siti Khadijah itu udah daftar S2 di sini.”
“Emangnya kapan pendaftarannya dibuka Pak?”
“Wah, udah mau pengumuman pula dah. Nanti ada lagi pendaftaran bulan…emmm.. November.”
“Kuliahnya Sabtu-Minggu aja ya Pak?”
“Iyaaa.”
Hemmm..berarti aku bisa sambil kerja kalau tuh! Tapi, masa aku di UNRI lagi sih? Pengen lihat dunia luar juga. Emmm... wah, jadi ada juga sih keinginan lanjut di sini nih akhirnya gara-gara pak Sua.
“Sa, tolong bantu saya mentotal absensi anak-anak ini. Tolong bacakan dari si Bintang ya..”
“Oke Pak. Bintang…emm.. 1… 2. 2 kali totalnya dia nggak masuk Pak.”

***
Aku sudah di kosan. Barusan, azan Zhuhur selesai berkumandang. Okta bilang, dia mau nitipkan barang-barang KKN-nya di sini. Aku menunggunya sambil ngangsur tulisan hari ini.
“Hallo? Ini Elysa” sapa suara dari nomor tak dikenal.
“Iya, ini siapa?” tanyaku.
“Bang Toni ini Lis.”
“Oh iya Bang, ada apa?”
“Elis bisa ke rektorat sekarang untuk ngambil uang MAWAPRES ini? Bisa sekarang Lis?”
“Oh, bisa, bisa Bang. Elysa siap-siap ke sana ni yaa.”
Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya, setelah menunggu nyari 2 bulang, uangnya cair juga. Ngerasa zolim banget  dengan finalis dan pemenang nih dan juga panitia pelaksana.
“Ceekkkk?” teriak Okta dari luar.
“Iyaaaaa. Bububuyuuuu.”
“Mau KKN ini Bang. Nanti malam berangkatnya.” Aku mendengar Okta berbicara seperti itu. Mungkin kepada Abang kos di teras.
“Titip ini ya Cek,” katanya sambil menjinjing tas besar panjangnya. “Tas ini taruk di sini aja Cek,” Okta menunjuk ruang tamu. “Nah, tas yang kecil ini baru taruk di kamar Cek soalnya ada laptopnya.”
Aku membawa barang bawaan Okta ke dalam.
“Cek, uang MAWAPRES udah cair. Ke rektorat yuk?”
“Yuk, tapi Okta jemput Joni dulu ya Cek. Cek langsung aja ke rektorat, nanti Okta nyusul ke sana.”
“Ukeeehh.”

***
“Loh? Kok Kakak di luar? Mana Bang Toninya?” tanya Okta ketika melihatku duduk di luar ruang kemahasiswaan.
“Barusan dia bilang tunggu dulu Dek, sebentar lagi ke sini lagi. Eh, Joni mana”? Udah berangkat ya?”
“Udah Cek, barusan aja.”
“Ya ampuuun, padahal Kakak pengen kali ketemu dia loh.”
“Tadi pagi Okta ngantari Vera, siang ini ngantarin Joni, nanti malam Okta pergi sendiri Cek.”
“Nggak apa-apa, Kakak punya sesuatu untuk nemenin Adek selama KKN nanti.”
“Yihaaaaa… apa itu Cek?”
“Rahasia donk… Pokoknya, nanti kalau Adek rindu sama Kakak, Adek lihatin aja itu.”
“Berapa harganya Cek?”
“Tak terharga do Dek. Tak terhargaa…”
“Tak terharga? Tak ternilai loh Cek yang bener. Emm…pasti tulisan kan?”
“Ada deehhh. Dipake ya ntar Ceeekk. Jangan dibuang. Terus, Kakak maunya Adek buka kadonya setelah sampai di posko dan setelah sholat Dhuha. Ok?”
“Apanya kadonya nii Cek?”
“Ada deeehhh. Nanti setelah sholat Dhuha dan dibuka kadonya langsung dihabisin ya Cek.”
“Ha? Macam mana nya? Tadi katanya bukanya habis sholat Dhuha, terus disuruh ngabisin pula. macam mana caranya Okta ngabisinnya Cek? Orang puasa loh!”
“Hahhaha..iya ya. Hehe. Ya udah, pokoknya ntar bukanya pas Dhuha ya! Setelah itu, kabarin Kakak kalau udah dilihat apa isinya.”
“Ihhhh, Okta jadi penasaran kali nih Cek. Okta ada kefikiran juga kemarin untuk ngasih Cek sesuatu. Tapi, emmm… Cek maunya apa?”
“Mana mungkin Kakak bilang Kakak mau apa. Masa mau ngasih kado nanya langsung ke orangnya sih? Macam mana nyaa!”
“Emm..ya udah deh, nggak usah ngasih sekarang aja. Karena, Okta yakin kita masih ketemu setelah KKN. Kalau nggak ketemu lagi, ntar Okta tanya aja alamat Kakak dan Okta kirimkan hadiahnya. Yeyeee.”
“Haaa? Ngapain duduk di bawah?” tanya pegawai di sini ketika mendapati Okta duduk di lantai.
“Nggak apa-apa Pak. Di sini dingin soalnya. Ehee.”
Aku cekikikan melihat Okta yang pede banget duduk berlesehan gitu. Padahal ini koridor dan orang-orang berlalu lalang.
“Haah! Ngapain pula Cek ikut-ikutan duduk di bawah?” tanya Okta ketika aku ikut-ikutan.
“Nggak apa-apa, kayaknya asyik.”
Kadang, kita harus melakukan hal-hal sepele untuk mendapatkan kebahagiaan yang tak biasa. Kecil, tapi bermakna.

***
“Tanda tangan di sini ya Lisss,” pinta bag Toni kepadaku. Aku menurutinya.
“Elis orang mana Lis?” tanya bang Toni pula.
“Rokan Hilir Bang. Hehe. Abang orang mana?”
“Abang orang pesisir jauh sana Lis.”
“Abang ni dari Kepri Cek,” imbuh Okta.
Aku menerima secara resmi uang berpuluh juta itu dengan basmallah. Okta yang jadi saksinya dan berulang dia bilang, “Hiiii sereeemmm Cekkkk. Banyak kali uangnya,” lagaknya kayak orang geli melihat sesuatu. Dia terlalu mendramatisir padahal akunya biasa aja. Lagian, ini kan di lingkungan kampus juga. Insya Allah aman.
Aku menuruti Okta untuk beringsut ke BEM untuk mendiskusikan, mempertimbangkan dan membagi uang itu. Okta naik motorku dan aku mengalah jalan kaki. Aku bilang aku mau diet. Ehhee.
“Cek, ayoklah Okta bonceng. Kasihan loh Cek jalan jauh lagi nii.”
“Nggak apa-apa Cek. Banyak yang ngelihatin kita loh.”
“Nggak ada loh Cek. Orang sepi kok.”
“Ada. Duluan ajalah Cek.”
“Ya udah, Okta duluan ya biar AC di BEM dinyalain dulu. Biar sejuk BEMnya. Bububuyuuuuu ya.”
Aku melanjutkan jalanku. Asyik kok kayak gini. Itung-itung sekalian bakar kalori juga.

***
Ku lirik jam di dinding, sudah pukul 16.35wib ternyata. Aku sedang mengetik dan sedang sendirian di BEM. Okta sedang menemui Key katanya untuk menyerahkan honor MC kemarin.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Sebuah kado yang telah ku janjikan untuk Okta tadi. Dan, itu belum ku jemput apalagi ku kado-i. Ah, tap bagaimana caraku menyelinap ke sana apalagi aku akan berbukan bersamanya?
Rin, aku mau ngerepotin nih. Tolong ambilkan hadiahku untuk Okta ya. Soalnya aku nggak bisa bergerak nih karena dia ada di sini. Tapi, nggak apa-apa Rini jalan agak jauh tu? Ntar kita langsung ketemu di RM Mandiri aja setelah itu.
Tapi, aku tak yakin mengirimkannya. Kasihan Rini harus jalan sejauh itu. Aku harus bisa ngeles sama Okta nih. Biar aku aja yang ke sana pake motor. Aku menghapus lagi pesan itu dan menuliskan yang baru,
Rin, kita buka bareng yuk di Mandiri sama Okta juga? Bawa gunting, Koran dan isolasi yaw.
“Cekkk? Aman kan sendirian di sini?” Okta baru saja tiba.
“Aman Cek. Eh, Kakak mau pake motornya bentar boleh?”
“Mau ngapain Cek?”
“Ngambil print-an Cek. Bentar aja kok.”
“Ya udah, pergilah.”
YESSS. Akhirnyaa…

***
“Okta ke mana sih tadi? Bentar lagi azan El,” tanya Rini.
“Iya. Mana Bang Okta Kak?” tanya Ewa. Tadinya dia hanya duduk sendirian tepat di depan meja kami lalu ku ajak dia bergabung.
“Ke Bangau Sakti, tempat Bang Hendra Dek. Bentar lagi juga datang tuh.”
“Haaa, udah azan El,” kata Rini sambil memelototi tayangan azan maghrib di TV.
“Yuk mariii kita buka. Allahumma lakasumtu…” ajakku.
Ku mulai dengan beberapa teguk air putih dan tanpa basa-basi setelahnya menyantap hidangan yang ada. Es teh, nasi+lauk ayam pop, mie gorengnya Ewa, mie Bihun gorengku, gorengan, tinggal pecal yang belum dibuka. Takut nggak sanggup ngabisinnya.
“Nah, itu dia baru nyampek!” kata Ewa. Aku dan Rini memandang Okta yang baru mematikan mesin motorku.
“Langsung pesan Dek!” kataku supaya Okta bisa langsung makan juga.
“Ini kenapa nggak dibuka Kak? Okta buka ya?”
Akhirnya tamat juga riwayat pecel itu di tangan Okta pemirsaaaa.hehe.
“El, udah diambil bukunya?” bisik Rini.
“Belum Rin. Habis ini temani aku ke sana ya. Perlengkapan udah dibawa semua kan?”
“Udah donk. Siip.”

***
“Cek, Okta pulang dulu, mandi, terus langsung ke rumah Cek ya nanti. Assalamualaikum…”
Okta berlalu. Kami berpisah di halaman mushola Arrafah. Tadinya, setelah makan dia mau langsung cabut aja ke kosan. Tapi, aku memohonnya untuk mau sholat maghrib bareng di Arrafah meskipun nggak berjamaah.
“Rin, temenin aku ke sana ya!”
“Yuhuuu. “
Aku khawatir banget kalau kado ini gagal selesai untuk Okta. Sejak tadi ku sms si abang percetakan, tapi nggak juga ada jawaban. Mana mami bentar lagi nyampek lagi. Duh, masa aku nggak ada di rumah sih?
Sedang ngantarin penumpang nih di Arifin ahmad. Di Balam Sakti kan kosmu?
Oh syukurlah masih di Arifin Ahmad. Aku masih bisa bernafas sejenak

Tidak ada komentar: