Waktu aku bangun, Rini udah sholat Tahajjud dan sedang
mengaji.
“Rin, kita makan mie aja yuk? Biar nggak rempong ke luar.”
“Ya udah kalau El mau makan mie. Aku sendirian aja ke luar.”
“Ciyeee… yang beraniii.”
“Udah beberapa hari kemarin aku makan mie terus soalnya.
Takut sakit ntar.”
Pukul 04.11wib, kami ke luar. Cukup berbeda dengan malam
kemarin yaitu ketika kami ke luar udah pukul 04.20wib. Widiwww! Café Ceria
nggak buka lagi, mungkin sepi pengunjung. Atau justru terlalu rame waktu buka
dan udah habis untuk dijual ketika sahur. Kami lanjut ke RM 3 Putri. Aku
memesan nasi+ayam pop, sedangkan Rini nasi+ayam rendang.
“Yah, nggak ada kerupuk,” kataku sambil celingukan melihat
ke dinding di sampingku.
Rini mana peduli, yang penting ada nasi dan lauk aja dia
nggak bakal ribut nyari yang lain tuh.
“Rin, aku mau nambah ah!
“Ya udah nambahlah!,” kata Rini.
“Ya udah nambahlah!,” kata Rini.
Karena dipersilahkan oleh Rini sebagai juru dietku
*Gubrakkk!, akhirnya aku mengulang porsi dengan lauk yang tinggal separoh.
Hihii.
Teh panas yang dihidangkan lagi-lagi tidak panas. Aku
menumpahkannya ke atas piring dan menggantinya dengan air putih.
“Kenapa manusia itu disebut dengan makhluk yang pelupa dan
penuh salah? Supaya kita tidak menjadi sombong. Sesungguhnya sombong itu ada 2;
sombong karena ilmu dan sombong karena harta. Yang paling berbahaya adalah
sombong karena ilmu. Padahal ilmu yang kita peroleh itu adalah dari Allah. Kita
nggak mungkin bisa tiba-tiba seperti ini kalau tidak Allah yang mengajarkannya
kepada kita,” papar ustad Maulana dalam acara TV; Sahur itu Indah.
“Denger tuh El!” kata Rini.
“Eh, emangnya aku sombong?”
“Aku sih sebenarnya. Kadang bilang; ‘Eh, si anu itu
tengoklah ketat kali bajunya,’ atau bilang; ‘Eh, Elysa itu lihatlah, gendut
kali pun!’.”
Aku melotot mendengar contoh yang kedua. Sementara Rini wajahnya
datar, pura-pura nggak merasa menyindir orang lain. Huh!
“Mari kita ingat kembali bagaimana muasal kita, yaitu dari
air mani yang sangat hina dan Allahlah yang telah mengubah kita menjadi bentuk
yang seperti saat ini. Artinya, tanpa Allah kita tidak akan menjadi apa-apa dan
hal itu bertujuan agar kita tidak pernah sombong,” sambung Oki Setiana Dewi.
“Lia,” kataku. Maksudnya, si OSD mirip Lia, seperti kata
orang kebanyakan.
“Dara,” kata Rini.
“Aku,” kataku dan wajah Rini langsung berubah.
“Ingatlah firman Allah bahwa tidak akan masuk syurga jika
ada setitik saja kesombongan di dalam hati kita. Mari kita introspeksi diri dan
benahi lagi puasa kita. Karena, hanya puasalah ibadah yang tidak pernah sombong
dan disombongkan. Ibadah lainnya mungkin bisa, tapi puasa kita Allahlah
langsung yang akan menghisabnya,” imbuh ustad Maulana lagi.
“Iya juga ya Rin, kalau kita sedekah masih bisa dipamerkan,
sholat juga bisa, ngaji juga bisa, soalnya itu kan terlihat. Kalau orang yang
sedang puasa, ya paling-paling lemes seperti umumnya orang berpuasalah. Mana
mungkin kita mau memamerkan, ‘Eh, sahurku tadi malam pakai pizza loh’ kan nggak
nyambuuung tuh nyombongnya,hahha.”
***
“Brrrr..dingin kaliiii,” kata Rini. Dia mah kena kipas angin
aja udah menggigil, hihii.
Ya Allah, subuh adalah suasana yang paling aku sukai. Tapi,
paling tak pandai aku hargai. Aku baru pandai menikmatinya dalam beberapa menit
ibadah dan sisanya untuk menyambung mimpi. Hiksss..maaf. andai saja aku bisa
menikmati subuh berlalu tanpa tidur. *lawan El kantuk yang kau buat-buat itu!
Aku dan Rini sholat di mushola Arrafah sebelum kembali ke
kosan. Waktu berdoa, aku sampai terkantuk-kantuk. Cuaca memang sangat dingin
pagi ini. Sejuknya melebihi biasanya.
Aku teringat dengan suatu pagi yang kala itu Lia masih di
sisi, “Cin, kalau seandainya mu dikasih 1 kesempatan untuk berdoa dan doa itu
pasti dikabulkan, mu akan berdoa apa?” tanyaku.
“Emmmm… aku mau minta diberikan oleh Allah kemudahan dalam
SKRIPSI, kelancaran rezeki dan kesehatan untuk kedua orang tuaku.”
“1 aja woy permintaannya!”
“Enngg… apa ya…”
“Ya udah deh, nggak apa-apa 3 aja. hehe,” ralatku kemudian.
Tapi, sayangnya Lia nggak bertanya balik kepadaku tentang
doa itu. Andaikan aku ditanya tentang 1 doa yang ingin sekali dikabulkan, aku
hanya akan berdoa, “Allahummaghriflii Dzunubiii wa li waa lidayya warkhamhumaa
kamaa robbayanii shoghiroo.”
“Rin, setelah ini apakah Rini akan tidur?” tanyaku setelah
kami selesai sholat Subuh.
“Nggak.”
“Terus, mau ngapain?”
“Mau download video.”
“Setelah download video?”
“Tidur. Hehehe.”
“Heheh,” tawaku, sinis kepada Rini.
***
Untuk menghindari langsung tidur setelah sholat Subuh, aku
beresin pakaian yang bergelantungan di sana-sini. *mungkin si han-han udah
jadiin itu rumahnya kali ya, hiii. Dan, setelah ngerendam baju, memang benar
ternyata aku tidur lagi.
“Rini, kok nggak bangunin aku sih?”
“Nggak apa-apa doh. Udahlah dia tidurnya jam 1.”
“Aku mimpi buruk loh Rin. Lihatlah badanku basah semuanya
gini karena keringat. Capek kali aku karena mimpi itu.”
“Mimpi apa?”
“Mimpi ada bencana air di bumi ini memanas Rin. Semua air
jadi panas dan kita nggak bisa minum atau ngapain pun dengan air. Seremlah
pokoknya. Untung cuma mimpi. Huft!”
Aku segera mencuci baju dan setelah itu teringat dengan pak
Danur. Aku harus bertemu bapak hari ini!
Assalamualaikum Pak
bagaimana kalau hari ini? bisakah Elysa bimbingan dengan bapak?
Tidak ada jawaban. 15 menit kemudian ku ulang kembali mengirim
pesan itu.
Saya masih di rumah
sakit. Saya ngajar sore di MP
“Kayaknya
Bapak ini belum mau juga deh hari ini ngebimbing aku. Hemm… aku memang harus
ganti pembimbing 2 nih. Ke Prodi ah, bentar lagi. Eh, kalau pembimbing Rini ada
berapa orang?”
“1 orang
aja.”
“Enak
kaliii laah kalian. Anak FEKON juga ujiannya ternyata Cuma 2 kali juga. FMIPA
yang 4 kali. Aciaannn..”
Assalamualaikum
Pak, 2 hari ini pak Danur ngga bisa ditemui. Gimana Pak? Langsung ngadu ke pak
Riadi aja? Tapi ntar Elysa bilang apa ke pak danur? Kan beliau udah tahu kalau
beliau pembimbing 2 Elysa.
Dah saya
duga. Tuh, sekarang perbanyak doa dan tawakal
Minta ganti
aja pak? Tanyaku, mempertegas.
Saya
khawatir big boss ndak mau.
Beberapa
saat kemudian, aku sudah berada di Prodi. Ada beberapa orang di sini yang juga
menunggu. Tapi, gelisahku tak sebesar kemarin, sebab persoalan judul sudah
terlewati.
“Siapa itu
yang di dalam Kak?”
“Kak Suci
Dek.”
Artinya,
aku masih punya waktu untuk menunggu dan memantapkan hati.
Pak, Elysa udah di
Prodi. Kira-kira pak Danur kesinggung nggak ya Pak kalau diganti?
Tapi, pak
Suarman nggak juga membalas sampai kak Suci ke luar dari ruangannya pak Riadi.
“Elysa ada
apa?” tanya pak RM.
“Emmm…” aku
sedikit ragu mengadukan hal ini kepada bapak. “Gini, pembimbing 2 Elysa kan Pak
Danur Pak, jadi bapak tu udah 2 hari ini nggak bsia ditemui dan Elysa mau
ganti.”
Pak RM
kemudian kembali masuk ke dalam Prodi. Aku gelisah. Jangan-jangan pak RM ngadu
ke pak Riadi. Waduuhh! Berabe nih.
“Elis apa
kabar?” kak Suci menyalamiku.
“Baik Kak.
Kakak gimana?”
“Kak baik
juga. Ya ampuuuunn, makin gemuk aja niiihhh. Apalagi nih pipinya.”
Lagi. Dan
terjadi lagi. Kisah lama yang terulang kembali. Aku dikatai gendut lagi, dari
tadi, dari kemarin, dan hari ini. hoowoooo… *hahah, maaf ya NOAH. Kemarin si
Icha yang waktu ku cium bilang, “Ya Ampuuun, empuknya pipi Eliiisss.” Sekarang,
kak Suci ngatain aku gendut sambil mencet-mencet pipiku. Kalau udah gitu, aku
cuma jawab sambil tersenyum, “Iya nih, emang gendutan akunya. Hehe.”
Lalu, aku menceritakan
halku kepada kak Suci dan beberapa orang lainnya. Dan, ketika aku menginisiasi
pak **des untuk menjadi pengganti pak Danur, malah mereka berkomentar, “Yakin
Lis sama Bapak itu? hemm..Kakak ini buktinya.” Resti menunjuk kepada kakak di
sampingku. Aku nggak tahu pula siapa namanya, yang jelas dia angatan 2010.
“Iya Kak?
Lama sama Bapak tu?”
“Lambat
Dek. Susah juga nemuinnya,” jelasnya.
“Coba sama
pak RM Dek. Tanya dulu ke Bapak tu, mau nggak dia?”
Aku segera
berlari ke luar Prodi menemui pak RM yang sedang berdiri di depan ruang kajur
IPS.
“Pak, kalau
seandainya pak Riadi setuju pembimbing 2 Elis diganti, Bapak mau nggaj jadi
pembimbing Elis?” tanyaku dengan wajah memelas.
“Boleh
juga. Nggak masalah,” jawab pak RM ringan.
YESSS,
kataku dalam hati. “Makasih ya Pak. Elisa pastikan dulu ke Pak Riadinya,”
wajahku berbinar.
Aku kembali
lagi ke Prodi dan menceritakan kepada teman-teman di Prodi, “Alhamdulillah, pak
RM bersedia.”
“Enak sama
Bapak tuh Dek, standby terus di kampus.”
“Eh, waktu
tadi pak RM bilang ke Pak Riadi, ‘Elisa mau ganti pembimbing tu Pak’ Pak Riadi
itu bilang, ‘Aku Sopuuukk’ (ket: Sopuk itu kasar artinya) gitu loh Dek. Tapi,
coba aja masuk ke dalam siapa tahu Bapak tu cuma bercanda tadi.”
“Oh, jadi
pak RM tadi bilang ke Pak Riadi langsung ya Kak?”
“Iya. Kan
Kakak sedang di dalam tadi.”
Firasatku
mulai nggak enak nih. Mau memperbanyak istighfar, waktunya udah mepet pula.
Kalau aku nggak segera masuk, takutnya bapak malah pergi, karena setelah kak
Suci ke luar, belum ada yang masuk lagi ke dalam. Huft! Bismillah…
“Assalamualaikum
Pak..” kataku ketika masuk ke ruang KaProdi. Tidak ada jawaban (memang biasanya
seperti ini). Aku duduk tanpa dipersilahkan (karena kalau nunggu dipersilahkan,
nggak bakal duduk aku ntar, ehee). “Pak, kemarin kan Elysa udah pernah bicara
ke Bapak tentang Pak Danur. Jadi gini Pak, udah 2 hari ini Bapak tu belum juga
bisa ditemui, maka Elysa mau…”
“Ndak ada
alasan susah nemuin dosen tu! Dia sekarang udah nggak sibuk, karena dia udah
nggak ketua jurusan lagi. Istrinya sedang sakit di EKA HOSPITAL tu haaa. Kamu
datanglah ke sana nemuin dia, pasti dia ada. Atau tungguin dia di rumahnya.
Nggak mungkin seharian dia nggak pulang. Jangan banyak alasan kamu. Saya nggak
bisa diatur-atur ya. Kalau sama dosen lain silahkan kamu atur-atur. Kalau sama
saya jangan coba-coba,” jelasnya dengan nada tinggi dan mata nanar.
“Pak, saya
tidak mengatur Bapak. Saya hanya memohon,” sanggahku pula. Tak terima.
“Ya itu
namanya kamu ngatur-ngatur saya. Saya nggak mau dengar asalan dosen susah ditemui
karena saya gampang menemui mereka. nggak terima saya alasan-alasan lapuk kayak
gitu,” gertaknya lagi.
Mataku
nyaris berkaca, muasalanya dari hati yang pedih di dalam sana. “Makasih Pak.”
Aku ke luar dari ruangan ini. Menceritakan dengan geram kepada teman-teman di
ruang tunggu.
“Sabar ya
Lis, Sabar. Coba dijalanin aja.”
Aku
menenangkan diri sejenak dengan hanya diam sambil mengotak-ngatik HP tak tentu
tujuan. Aku tidak ingin menangis hanya karena seorang pak Riadi. Tidak! Tidak
boleh cengeng. Menangislah untuk hal yang
lebih berharga dan bernilai dari pada ini, El.
***
Aku
menuruni tangga dan berjalan dengan langkah lebar-lebar. Tujuanku saat ini
adalah ruangan pak Suarman.
Pintu ku
buka perlahan, ku longokkan kepalaku ke meja stafnya pak Sua di samping pintu
masuk, tapi tidak ada si abang di sana. Ibu yang kemarin menyindirku ganti
melongokkan wajah kepadaku yang baru saja menutup pintu. Lalu wajahnya ia tarik
kembali ke balik kaca hitam itu. Aku tak menggubrisnya.
“Pak…?”
sapaku kepada bapak bertutur lembut yang sedang menatap monitor. Ia menatapku
sejuk. Aku segera duduk dan menceritakan segalanya kepadanya.
“Saya pun
nggak yakin juga sebenarnya,” kata pak Sua.
“Emmm…
menurut Bapak, judul penelitian Elysa ini sebaiknya diarahkan ke mana Pak?”
“Belum ada
gambaran juga sih saya. Baiknya ke Pak Danu raja dulu, nanti minta sarannya.
Saya ngikut aja.”
Hemm…padahal,
biasanya pembimbing 2 yang ngikutin pembimbing 1. Syukurlah pak Sua berhati
sejuk sesejuk embun pagi hari.
“Sebenarnya
kalau Elysa kemarin ngangkat tentang Analisis
Kepuasan Mahasiswa dalam Proses Pembimbingan SKRIPSI itu cocok kali dengan
jurnal Bapak. Berani Bapak ambilkan beberapa referensi dari jurnal
internasional. Tapi ya mau gimana lag...”
“Iya, Pak.
Kita kan nurutin selera bapak itu ni ceritanya. Dia ternyata lebih suka dengan
judul yang aneh itu,” sambungku cepat, sambil tertawa ringan.
“Nah, itu
diaa.”
“Eh, Pak
memangnya itu cuma untuk penelitian mahasiswa S1? Kalau S2 nggak boleh lagi
neliti itu?”
“Wah, boleh
banget Sa. Nantilah kita penelitian bareng yaa. Itulah saya sangat menganjurkan
Elysa S2 langsung di sini aja. Optimis saya 3,5 semester Elysa udah tesis, tapi
dari awal udah dirancang. Apalagi saya ketua Prodinya. S3 ke luarlah kalau mau
lanjut di luar. Kawan Elysa si Siti Khadijah itu udah daftar S2 di sini.”
“Emangnya
kapan pendaftarannya dibuka Pak?”
“Wah, udah
mau pengumuman pula dah. Nanti ada lagi pendaftaran bulan…emmm.. November.”
“Kuliahnya
Sabtu-Minggu aja ya Pak?”
“Iyaaa.”
Hemmm..berarti aku bisa sambil kerja
kalau tuh! Tapi, masa aku di UNRI lagi sih? Pengen lihat dunia luar juga.
Emmm... wah, jadi ada juga sih keinginan lanjut di sini nih akhirnya gara-gara
pak Sua.
“Sa, tolong
bantu saya mentotal absensi anak-anak ini. Tolong bacakan dari si Bintang ya..”
“Oke Pak.
Bintang…emm.. 1… 2. 2 kali totalnya dia nggak masuk Pak.”
***
Aku sudah
di kosan. Barusan, azan Zhuhur selesai berkumandang. Okta bilang, dia mau
nitipkan barang-barang KKN-nya di sini. Aku menunggunya sambil ngangsur tulisan
hari ini.
“Hallo? Ini
Elysa” sapa suara dari nomor tak dikenal.
“Iya, ini
siapa?” tanyaku.
“Bang Toni
ini Lis.”
“Oh iya
Bang, ada apa?”
“Elis bisa
ke rektorat sekarang untuk ngambil uang MAWAPRES ini? Bisa sekarang Lis?”
“Oh, bisa,
bisa Bang. Elysa siap-siap ke sana ni yaa.”
Alhamdulillah
ya Allah. Akhirnya, setelah menunggu nyari 2 bulang, uangnya cair juga. Ngerasa
zolim banget dengan finalis dan pemenang
nih dan juga panitia pelaksana.
“Ceekkkk?”
teriak Okta dari luar.
“Iyaaaaa.
Bububuyuuuu.”
“Mau KKN
ini Bang. Nanti malam berangkatnya.” Aku mendengar Okta berbicara seperti itu.
Mungkin kepada Abang kos di teras.
“Titip ini
ya Cek,” katanya sambil menjinjing tas besar panjangnya. “Tas ini taruk di sini
aja Cek,” Okta menunjuk ruang tamu. “Nah, tas yang kecil ini baru taruk di
kamar Cek soalnya ada laptopnya.”
Aku membawa
barang bawaan Okta ke dalam.
“Cek, uang
MAWAPRES udah cair. Ke rektorat yuk?”
“Yuk, tapi
Okta jemput Joni dulu ya Cek. Cek langsung aja ke rektorat, nanti Okta nyusul
ke sana.”
“Ukeeehh.”
***
“Loh? Kok
Kakak di luar? Mana Bang Toninya?” tanya Okta ketika melihatku duduk di luar
ruang kemahasiswaan.
“Barusan
dia bilang tunggu dulu Dek, sebentar lagi ke sini lagi. Eh, Joni mana”? Udah
berangkat ya?”
“Udah Cek,
barusan aja.”
“Ya
ampuuun, padahal Kakak pengen kali ketemu dia loh.”
“Tadi pagi
Okta ngantari Vera, siang ini ngantarin Joni, nanti malam Okta pergi sendiri
Cek.”
“Nggak
apa-apa, Kakak punya sesuatu untuk nemenin Adek selama KKN nanti.”
“Yihaaaaa…
apa itu Cek?”
“Rahasia
donk… Pokoknya, nanti kalau Adek rindu sama Kakak, Adek lihatin aja itu.”
“Berapa
harganya Cek?”
“Tak
terharga do Dek. Tak terhargaa…”
“Tak
terharga? Tak ternilai loh Cek yang bener. Emm…pasti tulisan kan?”
“Ada
deehhh. Dipake ya ntar Ceeekk. Jangan dibuang. Terus, Kakak maunya Adek buka
kadonya setelah sampai di posko dan setelah sholat Dhuha. Ok?”
“Apanya
kadonya nii Cek?”
“Ada
deeehhh. Nanti setelah sholat Dhuha dan dibuka kadonya langsung dihabisin ya
Cek.”
“Ha? Macam
mana nya? Tadi katanya bukanya habis sholat Dhuha, terus disuruh ngabisin pula.
macam mana caranya Okta ngabisinnya Cek? Orang puasa loh!”
“Hahhaha..iya
ya. Hehe. Ya udah, pokoknya ntar bukanya pas Dhuha ya! Setelah itu, kabarin
Kakak kalau udah dilihat apa isinya.”
“Ihhhh,
Okta jadi penasaran kali nih Cek. Okta ada kefikiran juga kemarin untuk ngasih
Cek sesuatu. Tapi, emmm… Cek maunya apa?”
“Mana
mungkin Kakak bilang Kakak mau apa. Masa mau ngasih kado nanya langsung ke
orangnya sih? Macam mana nyaa!”
“Emm..ya
udah deh, nggak usah ngasih sekarang aja. Karena, Okta yakin kita masih ketemu
setelah KKN. Kalau nggak ketemu lagi, ntar Okta tanya aja alamat Kakak dan Okta
kirimkan hadiahnya. Yeyeee.”
“Haaa?
Ngapain duduk di bawah?” tanya pegawai di sini ketika mendapati Okta duduk di
lantai.
“Nggak
apa-apa Pak. Di sini dingin soalnya. Ehee.”
Aku
cekikikan melihat Okta yang pede banget duduk berlesehan gitu. Padahal ini
koridor dan orang-orang berlalu lalang.
“Haah!
Ngapain pula Cek ikut-ikutan duduk di bawah?” tanya Okta ketika aku
ikut-ikutan.
“Nggak
apa-apa, kayaknya asyik.”
Kadang, kita
harus melakukan hal-hal sepele untuk mendapatkan kebahagiaan yang tak biasa.
Kecil, tapi bermakna.
***
“Tanda
tangan di sini ya Lisss,” pinta bag Toni kepadaku. Aku menurutinya.
“Elis orang
mana Lis?” tanya bang Toni pula.
“Rokan
Hilir Bang. Hehe. Abang orang mana?”
“Abang
orang pesisir jauh sana Lis.”
“Abang ni
dari Kepri Cek,” imbuh Okta.
Aku
menerima secara resmi uang berpuluh juta itu dengan basmallah. Okta yang jadi
saksinya dan berulang dia bilang, “Hiiii sereeemmm Cekkkk. Banyak kali
uangnya,” lagaknya kayak orang geli melihat sesuatu. Dia terlalu mendramatisir
padahal akunya biasa aja. Lagian, ini kan di lingkungan kampus juga. Insya
Allah aman.
Aku
menuruti Okta untuk beringsut ke BEM untuk mendiskusikan, mempertimbangkan dan
membagi uang itu. Okta naik motorku dan aku mengalah jalan kaki. Aku bilang aku
mau diet. Ehhee.
“Cek,
ayoklah Okta bonceng. Kasihan loh Cek jalan jauh lagi nii.”
“Nggak
apa-apa Cek. Banyak yang ngelihatin kita loh.”
“Nggak ada
loh Cek. Orang sepi kok.”
“Ada.
Duluan ajalah Cek.”
“Ya udah,
Okta duluan ya biar AC di BEM dinyalain dulu. Biar sejuk BEMnya. Bububuyuuuuu
ya.”
Aku
melanjutkan jalanku. Asyik kok kayak gini. Itung-itung sekalian bakar kalori
juga.
***
Ku lirik
jam di dinding, sudah pukul 16.35wib ternyata. Aku sedang mengetik dan sedang
sendirian di BEM. Okta sedang menemui Key katanya untuk menyerahkan honor MC
kemarin.
Tiba-tiba
aku teringat sesuatu. Sebuah kado yang telah ku janjikan untuk Okta tadi. Dan,
itu belum ku jemput apalagi ku kado-i. Ah, tap bagaimana caraku menyelinap ke
sana apalagi aku akan berbukan bersamanya?
Rin, aku mau
ngerepotin nih. Tolong ambilkan hadiahku untuk Okta ya. Soalnya aku nggak bisa
bergerak nih karena dia ada di sini. Tapi, nggak apa-apa Rini jalan agak jauh
tu? Ntar kita langsung ketemu di RM Mandiri aja setelah itu.
Tapi, aku
tak yakin mengirimkannya. Kasihan Rini harus jalan sejauh itu. Aku harus bisa
ngeles sama Okta nih. Biar aku aja yang ke sana pake motor. Aku menghapus lagi
pesan itu dan menuliskan yang baru,
Rin, kita buka bareng
yuk di Mandiri sama Okta juga? Bawa gunting, Koran dan isolasi yaw.
“Cekkk?
Aman kan sendirian di sini?” Okta baru saja tiba.
“Aman Cek.
Eh, Kakak mau pake motornya bentar boleh?”
“Mau
ngapain Cek?”
“Ngambil
print-an Cek. Bentar aja kok.”
“Ya udah,
pergilah.”
YESSS.
Akhirnyaa…
***
“Okta ke
mana sih tadi? Bentar lagi azan El,” tanya Rini.
“Iya. Mana
Bang Okta Kak?” tanya Ewa. Tadinya dia hanya duduk sendirian tepat di depan
meja kami lalu ku ajak dia bergabung.
“Ke Bangau
Sakti, tempat Bang Hendra Dek. Bentar lagi juga datang tuh.”
“Haaa, udah
azan El,” kata Rini sambil memelototi tayangan azan maghrib di TV.
“Yuk mariii
kita buka. Allahumma lakasumtu…” ajakku.
Ku mulai
dengan beberapa teguk air putih dan tanpa basa-basi setelahnya menyantap
hidangan yang ada. Es teh, nasi+lauk ayam pop, mie gorengnya Ewa, mie Bihun
gorengku, gorengan, tinggal pecal yang belum dibuka. Takut nggak sanggup
ngabisinnya.
“Nah, itu
dia baru nyampek!” kata Ewa. Aku dan Rini memandang Okta yang baru mematikan
mesin motorku.
“Langsung
pesan Dek!” kataku supaya Okta bisa langsung makan juga.
“Ini kenapa
nggak dibuka Kak? Okta buka ya?”
Akhirnya
tamat juga riwayat pecel itu di tangan Okta pemirsaaaa.hehe.
“El, udah
diambil bukunya?” bisik Rini.
“Belum Rin.
Habis ini temani aku ke sana ya. Perlengkapan udah dibawa semua kan?”
“Udah donk.
Siip.”
***
“Cek, Okta
pulang dulu, mandi, terus langsung ke rumah Cek ya nanti. Assalamualaikum…”
Okta
berlalu. Kami berpisah di halaman mushola Arrafah. Tadinya, setelah makan dia
mau langsung cabut aja ke kosan. Tapi, aku memohonnya untuk mau sholat maghrib
bareng di Arrafah meskipun nggak berjamaah.
“Rin,
temenin aku ke sana ya!”
“Yuhuuu. “
Aku
khawatir banget kalau kado ini gagal selesai untuk Okta. Sejak tadi ku sms si
abang percetakan, tapi nggak juga ada jawaban. Mana mami bentar lagi nyampek
lagi. Duh, masa aku nggak ada di rumah sih?
Sedang
ngantarin penumpang nih di Arifin ahmad. Di Balam Sakti kan kosmu?
Oh
syukurlah masih di Arifin Ahmad. Aku masih bisa bernafas sejenak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar