Rabu, 29 Juli 2015

Siapa Aku Bagimu

Aku terbangun karena deru kipas angin begitu kencang menerpaku. Ku raih HP di sebelah kananku dan ternyata sekarang udah pukul 03.40wib. Rasanya aku belum sholat Isya. Setelah berupaya mengembalikan ingatan, ternyata benar aku tidur sebelum sholat Isya dan minta dibangunin oleh Rini pukul 20.10wib. Pasti Rini nggak jadi bangunin aku nih!
Ketika aku ingin beranjak dari tempat tidur, ku lihat Rini pun tidur di bawah dengan posisi aneh. Hemm…dia pun pasti ketiduran. Huh, sama doank bah!
“Rini ketiduran juga ya?” tanyaku setelah cuci muka, sikat gigi dan berwudhu.
“Iyaa.”
“Nggak jadi bangunin aku?”
“Nggak.”
Aku sholat dan Rini kembali mengerjakan SKRIPSInya. Yang aku syukuri adalah kenyataan bahwa ini belum Subuh. Coba kalau udah, sholat Isyaku bagaimana pemirsaa? Hiksss. Kagak boleh lagi kayak tadi nih. Nggak boleh percaya dengan siapapun untuk bangunin kita kalau temanya adalah menunda sholat. Karena, boleh jadi kita nggak terbangun lagi selamanya dan menyesal karena melewatkan waktu sholat terakhir kalinya.
***
Rini baru aja pergi bersama Ika. Mereka mau ngurus pendaftaran dan persyaratan ujian SKRIPSI hari ini. Aku? Masih ntah. Sekarang, aku sedang melanjutkan menulis hari. Masih ada banyak hari yang belum ku tulisi. Yang ku tulis pun tak semuanya tentang hari. Hari-hari pasti rindu untuk lunas ku tulisi.
El, lia minta tolong isikan pulsanya yang 10rb
Lia adalah alasan pertamaku untuk ke luar rumah dan alasan keduanya adalah karena perutku lapar. Hemm… padahal tadi pagi udah sahur. Ya Allah, maaf, hamba belum bisa berpuasa hari ini. Maaf.
Aku menggunakan baju putih berlengan pendek dan ku balut dengan kemeja jeans berwarna hijau tua. Jilbab hijau tak bermotif melabuh di kepalaku. Ku nyalakan motor dan mulailah ku nikmati angin pagi yang tak biasa kali ini; mirip seperti jelang hujan, tapi langit tak terlalu mendung, hanya sedikit redup saja.
Duh! Kok malah belok ke kiri sih? Harusnya ke kanan tadi, beli pulsa dulu. Aku juga butuh bikin TM nih.
Tapi, aku tetap mampir ke Ampera Novi akhirnya, karena ku fikir langkahku ke sini adalah sebuah takdir; makan adalah yang pertama. Beli pulsa? Tunggu dulu yaa.
“Hai Dekk?” sapaku kepada adek-adek ekonomi yang duduk di depanku, agak ke kiri.
“Kakak nggak pulang kampung?” tanya salah satu dari mereka.
“Baru aja kemarin pulang lagi ke sini Dek.”
“Emangnya Kakak ada SP?” tanyanya lagi.
“Nggak Dek. Ngurusin SKRIPSI nih Dek.”
“Eh, Sofyan kapan berangkat Sail?” tanyaku kepada dek Sofyan.
“Insya Allah tanggal 22 Agustus ini Kak.”
“Ohhh.. Udah latihan apa aja sama teman-teman?”
“Ada beberapa Kak. Tari, silat, syair digabung semuanya di situ Kak.”
“Pasti Adek ya yang ngelatih?” tebakku.
“Ah, nggak lah Kak. Sama-sama kami latihannya. Siapalah Adek ni Kak. ehhe.”
Lalu kami saling menikmati hidangan kami kembali. Aku merasa ada yang kurang dan ketika ku lihat kerupuk yang bergelantungan, Ahaaa! Itu dia yang ku cari! Karena ngidam banget dengan telur dadar, menuku kali ini adalah sambal telur dadar pemirsaa. Emang sih nggak seenak telur dadar di Halte CafĂ©, tapi ya bolehlah… Lagian bang Un sekeluarga kayaknya masih di kampung deh. Soalnya warungnya masih  tutup.

Tanpa berlama-lama, setelah selesai makan aku langsung beranjak. Lebih dulu daripada adek-adek itu. Tujuan selanjutnya adalah beli pulsaku dan pulsanya Lia. untuk menelvon Dini atau Rona, aku ingin bertanya tentang KOPMA yang kata Fai Selanjutnya bikin TM diteliti oleh mereka.
Sekarang, aku butuh tempat duduk. Ya, aku ingin duduk di tempat yang berbeda. Dan, pilihanku jatuh kepada halte di depan Pendidikan Sejarah. Ku parkirkan motorku di tempat teduh, di mulut lapangan berpohon rindang ini lalu aku duduk di halte merah yang rupanya tidak lagi beratap.
*100*10#
TM sudah ku aktifkan dan sekarang saatnya menelvon Fai. Aku ngobrol dengan Fai sambil memandangi lalu lalang kendaraan di depanku. Istimewanya adalah tempat yang ku duduki ini menghadap ke perempatan jalan antara FISIP, FKIP, REKORAT dan PMIPA. Aku merasa dipandangi oleh setiap kendaraan yang melintas. Atau cuma akunya aja yang kepedean? Hhehe.
“…atau coba temuin Pak Gani aja Lis. Kemarin itu dia bilang ada satu lagi yang mau diteliti tapi belum ada mahasiswanya Lis yang neliti. Tentang Koperasi pula tuh Lis. Coba aja hubungi Bapak tuu.”
“Fai ada nomor Pak Gani?”
“Ada. Eh, tapi jangan bilang kalau aku yang ngasih tahu ya?”
“Kenapa gitu?”
“Soalnya setelah judulku di ACC kemarin, aku belum ada ngerjain apa-apa lagi Lis. Kemarin aku kan bilang, ‘Pak, Fai mau pulang kampung dulu untuk survey lokasi, apa aja nih Pak yang perlu Fai ketahui dari desa itu?’ nah, dikasih tahulah apa-apa aja sama Bapak tu dan Bapak tu pesan, ‘Kamu jangan nggak balik ke sini lagi Faiii’ gitulah Lis pokoknya. Makanya, aku takut Bapak tu mikir, ‘Fai ni, dia aja menghilang, tapi kok malah ngasih tau ide penelitian ke orang lain’ pokoknya jangan bilang ya Lis?”
“Oke, oke Fai. Makasih banyak ya Brooo.”
 Berikutnya, aku coba menghubungi Dini dan Rona, tapi nggak diangkat-angkat. Sejujurnya, aku bingung mau ke mana lagi.
Assalamualaikum Pak, Bapak di mana?
SMSku pun nggak dibalas-balas pak Sua. Hemmm… rencananya aku mau tanya-tanya tentang KOPMA dengan Dini atau Rona, siapa tahu aku melihat ‘peluang’ di sana, barulah bertemu pak Sua. Tapi, kalau sekarang aku ketemu bapak, ntah apa yang akan ku obrolkan. No new news, dear! Hiksss..

***
Aku memarkirkan motor di dekat kelas Pendidikan PKN. 10 meter di depanku, ada dek Sofyan yang sedang telvonan. Ah, udah 2 kali aku melihatnya pagi ini. Langkahku tertuntun kepada pak Sua. Ketika melintasi ruang C8, seperti sedang ada kuliah saja suasanannya. Aku mengintip dari pintu dan tiba-tiba ke luarlah Darmi dan Vita dari dalam.
“Ya Allah Liss!” pekik Darmi ketika melihatku. Dia pasti kaget karena kegendutanku sekarang. Rasanya aku memang udah lama juga nggak ketemu Darmi. Aku hanya tersenyum pede aja merespon kekagetannya itu.
“Eh, ujian apa sekarang Say di dalam?”
“KOMPRE Lis.”
“Itu Kakak angkatan berapa?”
“Angkatan kita juga.”
Aku tahu Darmi terus memperhatikanku, “Angkatan kita? Siapa? Di atas kita kali?”
“Hehhe, kayaknya gitu Lis. Aku kurang tahu juga.”
Aku melihat bu Tiko, pak Gimin, pak Gus di dalam. Mataku sedang mencari sosok bu ** di dalam, tapi aku keburu ingin pergi sebelum seisi ruangan terlihat. Ntah kenapa, aku tidak berminat sama sekali duduk di dalam menyaksikan ujian semacam ini. Apalagi di dalam ada teman-teman yang udah ujian Hasil dan pasti akan menanyaiku banyak hal (Hello, ini kepedean lagi atau gimana sih?). Saya pusing menjawab mereka pemirsaaa. Belum lagi kalau ternyata bu ** adalah salah satu pengujinya, beuhh makin jantunganlah aku kalau berlama-lama di dalam, meskipun hanya sebagai penonton. Ntah kenapa ya pemirsaaa, aku tuh merasa semua mata selalu tertuju kepadaku, aku jadi susah bersembunyi karena keberadaanku selalu terdeteksi.. *Huweeekkk..!
“Pak Suarmannya ada Bang?”
“Sedang nguji.”
Kan, bahkan wajah pak Sua pun nggak kelihatan olehku karena udah lebih dulu nggak karuan tadi. Ah, aku nggak mau lama-lama di sini, mending aku ngadem di perpus aja. Mungkin itu akan jauh lebih baik.

***
Aku duduk di sebelah wulan yang juga sedang wifian di sini. Dia duluan yang menegurku tadi. Kami bersalaman dan setelah itu kami tak saling bertanya banyak. Aku faham tentang bagaimana nggak enaknya pertanyaan seputar proses SKRIPSI, makanya aku nggak mempertanyakan itu sama sekali meskipun udah ada beberapa kalimat yang berada di ujung lidah. Mungkin, Wulan pun demikian segannya kepadaku.
“Eh, wifinya lancar Say?”
“Lancar El.”
Aku segera mengaktifkan icon wifi di laptopku.
“Apa nama wifinya Say?”
“Pustaka 8.”
Oke! KLIK. Loading… Browsing. Yeyeee…berhasill horee! Widirit
Kangen banget ngebuka halaman utama blogku nih! Hemm.. aku jadi pengen masang lencana FB di salah satu sidebarnya. Tanya mbah Google ah, gimana caranya. Toh selama ini pun aku selalau nanya ke dia kalau mau menghias dan menata blog ini.
Cara memunculkan kolom facebook di blog
KLIK.. ke luarlah banyak laman sebagai hasil pencarian. Ku pilih urutan yang paling atas dan mulailah aku mengotak-ngatiknya sesuai petunjuk. Dan hasilnyaaaa… taraaammmm.. This be more communicative I think.

Ida bahkan tidak bertanya sama sekali tentang apa yang sedang ku lakukan ini. Padahal, kayaknya dia sesekali ngelirik ke arahku deh pemirsaaa. Kalau dia sih udah bisa ku tebak sedang ngerjain SKRIPSI, mau itu proposalnya, jurnalnya atau angketnya, yang jelas itu masih anak-anaknya si SKRIPSI gitulah pokoknya.
“Hallo Cinn..? lagi di mana?”
“Di perpus nih.”
“Ngapain? Ngurusin apa?”
“Ngurusin.. emm.. diri sendiri.”
“Ya iyalah, masa ngurusin orang lain?” tanya Lia
Kalau udah nikah kan kita jadinya ngurusin orang lain..
“Mu tadi miscall mau mastiin pulsanya udah masuk atau belum ya?” tanya Lia lagi.
Hemm…padahal kan tadinya aku mau ngobrol, tapi.. ya udah deh, ku jawab aja seperti dugaannya. “Iyaa..”
“Udah masuk kok. Makasih ya Cin. Sampai ketemu nanti ya,” tutup Lia.
Ketika melihat-lihat beranda facebook, aku melihat Inur mengupload foto dengan caption Bismillah… Kompreee…. Ada Nova, Xhyntica, Widya dan Inur di foto itu. hemm..berarti hari ini mereka berempat akan bergelar S.Pd. wahh, selamat ya kawan-kawan ^_^. Tapi, 1 respon yang aneh dari dalam hatiku; Kok aku biasa aja ya ngelihat foto ini? Ya Allah, apa yang terjadi padaku? Kok aku nggak normal gini sih? Bukankah seharusnya aku iri dan merasa gimana gituuu ngelihat satu per satu teman udah selesai? Huftt, Elysaaa.
Pada akhirnya, yang kita fikirkan bukan lagi “Bagaimana caranya melakukan yang terbaik” tetapi “Bagaimana caranya agar cepat selesai” *Ketika harapan, tuntutan dan kenyataan tidak sejalan.
KLIK. Posting…..

***
Setelah sholat Zuhur di mushola rektorat, aku berdoa…
Ya Allah, mohon pertemukan hamba dengan seseorang yang bisa memberikan pencerahan kepada hamba tentang judul penelitian ini. Selesai dari pak Riadi, hamba kira semuanya akan seperti air yang mengalir, tapi nyatanya hamba harus berurusan dengan tantangan lainnya. Mohon bimbing hamba untuk bertemu dengan orang ‘pilihan’Mu itu ya Allah. Yang jelas, hamba maunya tetap tentang koperasi dan penelitiannya masih di kampus. Supaya hamba bisa cepat mengurus ini dan itunya ya Allah.
Bapak udah dihubungi Lis? Tanya Fai.
Belum Fai. Masih ragu.
Ketemu aja dulu Liss..
Anjuran dari Rifai ini meyakinkan aku untuk mengirim SMS yang ku arsipkan sejak beberapa jam lalu karena keraguan.
Assalamualaikum Pak. Saya Elysa mahasiswa Kope 11. Elysa ingin berkonsultasi dengan bapak hari ini. Jam berapa dan di mana Elysa bisa menemui bapak hari ini?
SMSku tidak langsung berbalas. Apa mungkin bapak juga sedang nguji ya? Aku kembali lagi ke Pendidikan Ekonomi. Siapa tahu aku akan bertemu sang pencerah di sana.
“Hallo Elysaa.. Telvonnya terputus tadi Elysa, mungkin jaringan. Jadi, gimana mau diobrolin lewat HP aja atau gimana?”
“Nggak apa-apa memangnya lewat HP aja Bu?” tanyaku. Sekarang, aku sudah memarkirkan motor di parkiran Pendidikan Ekonomi. Sengaja tetap ku tutup helmku, karena aku lihat teman-teman masih ramai di depan ruang ujian tadi. Aku benar-benar nggak sanggup kalau harus bergerak sekarang.
“Nggak apa-apa, soalnya Ibu pun nggak tahu kapan ke kampusnya. Selasa depan kan Ibu ada seminar ke IPB, nah tiket pesawat belum dipesa, bahannya belum selesai, power poinnya juga belum selesai, makanya Ibu sekarang sedang ngejar ini dulu Elysa. Gimana? Elysa mau diobrolin sekarang aja atau gimana?”
Duh, ibu ni baik banget sihh. Jadi nggak ngerasa kayak sedang ngobrol sama dosen akunya. 

“Sekarang aja deh Bu, singkat aja. Jadi begini Bu, kami kan dai URC pengen bikin program penelitian. Yah, yang sederhana aja sih, kayak misalnya melihat minat dan kebutuhan mahasiswa terhadap seminar motivasi. Tapi Bu, gimana caranya? Itu yang Elysa masih bingung.”
“Oh, gini Elysa, pakai kuesioner aja. Nanti kalau dia jawab YA, apa alasannya dan kalau TIDAK, apa alasannya juga. Jadi, dari situ kita bisa menyimpulkan. Tapi, pertanyaannya jangan to the point ya, karena nanti takutnya mereka nggak jujur karena jaim mungkin. Dan, jawabannya jangan hanya YA, TIDAK aja, minta juga alasannya. Karena kadang, orang kan sebenarnya IYA, tapi TIDAK karena ada alasan lain. Nah, itu bisa kita lihat dari alasannya yang dia tulis. Kalau penelitian kayak gini sih ilmunya lebih ke sosial ya Elysa, karena kalau kami yang IPA nggak pake kuesioner gini biasanya langsung diteliti dan diuji. Jangan banyak-banyak juga ngasih pertanyaannya Elysa, karena takutnya respondennya jenuh dan ngawur jawabnya. Asal keingintahuan Elysa sudah terwakili dengan beberapa pertanyaan saja sudah cukup.”
“Oh gituuuuu ya Buu. Hemm… menentukan populasi sampelnya gimana tuh Bu? Suka-suka kami aja atau ada ketentuannya?”
“Sesuai keinginan juga boleh. Misalnya, Elysa maunya mahasiswa baru aja, ya udah nggak apa-apa. Tapi, mungkin lebih baik kalau semua kalangan terwakili supaya nanti yang didapat pun beragam sebelum kita menyimpulkan. Sebenarnya, Ibu kurang faham sih kalau penelitian sosial begini Elysa, tapi karena kemarin sempat beberapa kali diminta ngisi kuesionernya, akhirnya tahu sedikit-sedikitlah. Coba tanya aja ke dosen sosial Elysa, mungkin nanti Elysa lebih faham lagi.”
“Duuh, makasih banyak ya Buu. Elysa sangat terbantu nih..”
Kok ada ya dosen sebaik Ibu? Terharu banget. Semoga Allah selalu membahagiakan dan mensejahterakan hidup ibu di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Icha baru aja lewat di belakangku. Tapi, aku tertunduk dan dia nggak melihat ke arahku. Hufft, kayaknya tempat ini belum aman dan nyaman buatku sekarang. Ah, daripada pusing, mending aku makan siang aja dulu. Well, ini memang masih dekat jaraknya dengan makan jam 10ku tadi pagi. Tapi, mau gimana lagi? Aku memang udah laper. Hikss..
Jam 1.30
Aku tersentak membaca balasan dari pak Gani ini. sekarang sudah pukul 13.22wib. Tersisa 8 menit lagi untuk aku bergegas dari sini. Sebegini on time kah pak Gani? Lagi-lagi aku nggak pandai mengenali.
“Eh, ada Bapak. Lihat Pak Gani nggak Pak?’
“Tadi udah pulang. Oh, mungkin sebentar lagi datang karena kan ada rapat dosen jam setengah 2 ini.”
“Oh gitu, rapat tentang apa Pak?” tanyaku. Loh? Kok bisa-bisanya sih pertanyaan itu yang ku ajukan? Duh! Ya itu urusan dosenlah El,,, mau tahu aja sih.
“Rapat pembagian tugas ngajar,” jawab bapak. Huft! Melegakan sekali pemirsaa.
“Ohhh gitu… kalau Pak Suarman Pak?”
“Ada tadi di ruangannya.”
“Oh, ya udah, Elysa ketemu Pak Suarman dulu ya Pak. Permisi Pakk.”
Jujur, agak ragu mau ketemu pak Sua karena belum ada bahan real yang mau diomongin.
“Ha, Elysa darimana?” tanya pak Suarman.
Emangnya penampilan aku keren banget ya hari ini pemirsaa? Kayak ngerasa habis show gitu jadinya. Ehhe.
“Nggak dari mana-mana Pak. Hehe, muter-muter aja. Kan Elysa kemarin udah ke KOPMA Pak, mereka bilang permasalahan utamanya ya modal dan keanggotaan Pak. Waktu mahasiswa baru masuk kan ada simpanan pokok sekiar Rp 15.000 untuk KOPMA Pak include di uang pendaftaran ulang, tapi itu nggak pernah mereka terima Pak. Udah sekitar 6 tahun ini katanya Pak. Jadi, mereka Cuma ngandalain simpanan wajib setiap bulannya dari anggota aktif yang cuma 35 orang Pak. 35 orang itu dari seluruh jumlah mahasiswa yang ada Pak.”
“Cuma 35 orang aja, tapi tetap disebut sebagai Koperasi Mahasiswa ya?”
“Kata mereka, anggota pasif itu ya seluruh mahasiswa UNRI Pak, tapi anggota aktifnya cuma 35 orang itu. pembukuan mereka juga lengkap Pak, karena tiap tahun pasti selalu ngadain RAT. Gimana Pak, nggak layak ya diteliti?” tanyaku, ketika melihat pak Sua tidak merespon.
“Layak sebenarnya. Apalagi pembukuannya juga lengkap kan. Sebenarnya bisa Elysa teliti, kenapa dari ribuan mahasiswa UNRI ini bisa hanya 35 orang saja yang menjadi aktif? Elysa bisa meneliti persepsi Mahasiswa UNRI terhadap KOPMA itu sendiri.”
“Wah, bener juga ya Pak. Dari itu saja udah terlihat banget permasalahannya.”
“Iyaaa..”

“Berarti Elysa harus meneliti seluruh fakultas ya Pak?”
“Iyaa. Tapi kan cuma perwakilannya aja yang kita jadikan sampel. Misalnya, 10 angket per fakultas, yang penting semuanya udah terwakili, bisa juga. Atau kalau Elysa mau yang lebih simple lagi ya udah teliti aja mahasiwa Koperasi kita ini.”
“Iyaa Pak, persepsi mahasiswa Kope ajalah Pak. Hehe,” Biar gampang Elysa kerjanya Pak, heehe. “Lagian Pak, dari semua anggota aktif itu, justru mahasiswa Kope ini nggak ada satu pun yang bergabung Pak. Kan itu kelihatan banget ya Pak permasalahannya.”
“Iya, ya udah itu aja Elysa teliti.”
“Tapi Pak, masa Elysa harus nunggu anak-anak ni aktif kuliah dulu Pak? Mereka kan masuknya September.”
“Alaaah, kayak udah mau ujian proposal besok aja Elysa ni.”
“Hehheheheh,” aku tertawa geli mendengar respon pak Sua itu. “Lama ya nggak tuh Pak?”
“Tergantung Elysa sekarang. Kalau Elysa sibuk juga, banyak kegiatan terus ya saya nggak jamin.”
“Hehe..iya ya Pak, bener-bener, sekarang tergantung Elysa.”
PERSEPSI MAHASISWA PENDIDIKAN EKONOMI-KOPERASI TERHADAP KOPERASI MAHASISWA UNIVERSITAS RIAU, ku simpan calon judul penelitianku ini di draft HP.
Tak sengaja, aku melihat nama bu ** sebagai salah satu penguji mahasiswa hari ini. Tiba-tiba aku berniat menceritakan apa yang telah terjadi. Hanya sebagai antisipasi, kalau nanti ada sesuatu yang tidak terduga di lapangan, setidaknya pak Suarman udah pernah tahu hal ini.
“Pak, Ibu tu ngajar S2 juga?”
“Hehhe, iya Sa.”
“Duh, Elysa berat kalau gini mau S2 di sini Pak,” kataku.
“S1 ini dulu selesaikan Sa. S2 pula difikirkan.”
“Hehhe. Iya, iya Pak.”
Aku dan pak Suarman ni udah kayak orang tua dan anaknya aja. Aku dan Lia udah berencana buat bikit buku tentang PA kami yang ternyata mereka sama-sama baik hati, luar biasa dan sahabatan pula. PAnya bersahabat, anaknya juga bersahabat. Cihuyyy.. amiin, semoga mereka suka dengan pemberian kami ini. Cerita yang kami tulis nanti ya apalagi kalau bukan tentang kebaikan mereka kepada kami selama ini.
Ya Allah, apakah pak Suarman inilah yang Engkau kirimkan sebagai pencerahku? Terimakasih ya Allah, aku nggak menyangka kalau dialah orangnya.
Assalamualaikum Pak. Maaf, Elysa baru selesai bimbingan dengan pak Suarman dan nggak bisa nemuin Bapak di jam 1.30 tadi. Sekali lagi maaf ya Pak.

***
Took took toookkkk…
“Masuuukkk…” teriakku dari dalam. Kayaknya ini bukan Rini deh!
“Assalamualaikum,” wajah Lia yang nongol ketika pintu dibuka. Untung aja aku udah di rumah. “Eh, ternyata ada Buk Profesor,” kata Lia.
Aku baru ingat kalau aku sedang pakai kaca mata. “Maaf lahir bathiin Ciiin,” aku menyalami Lia.
“Eh, penelitianmu gimana? Udah mulai belum?”
“Belum lagi Cin, kan yang kemarin diganti lagi,” jawab Lia.
“Mu kan penelitian literature aja kan Cin?”
“Nggak. Yang pertama kemarin emang iya, tapi kan waktu ujian disuruh tukar.”
“Jadi yang sekarang ini harus ke sekolah ya?”
“Iyaa.”
Wah, kalau gini ceritanya, Lia lebih repot ternyata daripada aku pemirsaa. Acian dia.
Setelah Lia sholat Ashar, aku bercerita kepadanya tentang **di. Dia mendengarkan dengan seksama.
“Mu jangan marah ya, kemarin aku dikasih oleh-oleh Bugis loh sama dia. Aku aja heran, dia ngasih aku pas dia udah balik ke sini kemarin.”
“Nggak ah, aku nggak marah Cin.”
“Sebagai temanmu, aku pengen ngasih tahu beberapa hal Cin. Yang pertama, mu harus belajar memahami respon orang. Pernah kemarin ada orang yang ngadu ke aku bahwa mu marah-marah sama dia padahal hari masih pagi.”
“Hah? Siapa? Cewek atau cowok?” tanyaku.
“Iya, bener Liii. Elysa itu sering salah respon. Orang marah, dikiranya biasa aja. Orang biasa aja, dikiranya marah,” celetuk Rini.
“Cowok. Misalnya nih, mu minta seseorang untuk baca blogmu dan setelah dia baca, mu tanya, ‘Gimana komentarnya?’ dan ternyata dia jawab, ‘Nggak ada komentar’ seharusnya mu nggak perlu marah sama dia. Ooh, ya udah, gitu aja Cin ngeresponnya. Intinya, kita nggak berhak marah kepada orang yang nggak punya tanggung jawab lebih kepada kita. Ya, meskipun kita merasa dekat sama dia atau gimana, tapi itu kan hak dia mau berkomentar atau nggak. Ingat kan kemarin waktu mu marah-marah sama kak **s gara-gara dia tumben nggak mau ngasih komentar ke tulisanmu? Mu pernah bilang bahwa setelah mu marah, mu bisa lupa sama sakit hatimu, tapi mungkin orang itu nggak bisa begitu aja lupa Cin. Hati orang siapa yang tahu Cin?”
“Dengerin tuh El?” semprot Rini lagi.
“Hemmmm…oke, teruss apa lagi nasehatnya nih putri keraton?”

“Yang kedua, fikir-fikir lagi sebelum meluapkan marah. Kira-kira dia ni bakal sakit hati nggak ya kalau aku kayak gini? Kira-kira dia ni orangnya pemaaf nggak ya? Jangan sampek kejadian sama kak **s atau **di terulang lagi Cin. Ya, ini nasehat buatmu dan buatku juga. Karena, aku kan nggak di posisimu, kalau aku berada di posisimu pun ntah juga Cin.”
“Aku bener-bener kecolongan banget dengan mereka berdua itu Cin. Mu bayanginlah, setiap kali aku cerita tentang hal-hal nggak enak ke **di, dia selalu meresponnya dengan enteng; ‘Udahlah, ngapain kayak gitu aja difikirin kali? Mending kita bahas projek kita aja’. See? Kadang, aku udah cerita dengan penuh emosi, supaya dia terpancing juga untuk marah, eh dianya malah tetap cool. Bukan hanya itu Cin Rini nih yang udah bertahun-tahun sekelas sama dia pun bilang gini, ‘Dia itu nggak pernah marah loh El, waktu teman kami ada yang nggak pernah datang latihan nari kan kami marah-marah, eh dia Cuma bilang gini, Ya udah, nanti kalau dia datang kita ajarin aj’ simpel banget kan Cin? Dan, lihatlah apa yang udah dia lakukan kepadaku sekarang? Bedaaaaa Ciiin. Bedaaaaaaa jauuuhh kenyataannya. Kak **a juga gitu, aku kenal dia sejak SMA dan dia adalah orang yang ceria, lucu, ramah, tapi lihat apa yang terjadi kepadaku? Cin, aku belajar satu hal dari 2 orang ini; Kita nggak akan pernah tahu bagaimana dia terhadap kita dan siapa kita bagi dirinya, sebelum kita bersalah kepadanya. Kita baru akan tahu sesudahnya. Dan, aku udah tahu sekarang Cin.”
“Hemmm..bener juga ya Cin. Tergantung hubungan dan kepentingan juga ya Cin?”
“Nah, bener banget tuh. Semarah-marahnya si anu kepadamu mungkin akan berbeda dengan semarah-marahnya si anu kepadaku. Karena antara si anu kepadamu dengan si anu kepadaku berbeda kepentingan Cin. Tapi Cin, kita nggak akan pernah kenal orang baik kalau kita nggak pernah ketemu dengan orang jahat.”
“Ya iyalah Cin. Bener itu.”
“Eh, jadi, nasehatmu untukku tadi apa aja?”
“Yang pertama, belajar memahami respon orang dan yang ke dua, fikir matang-matang dulu sebelum meluapkan marah.”
“Oke deh, terimakasih putri keraton. Aku memang butuh orang sepertimu sebagai penetralku. Eh, si Teguh itu putra keraton loh Cinnn.”
“Hhaha, akhirnya ada juga putra keratonnya ya?”
“Iya, tiap kali aku sama dia, sering kali aku diomelin. Yang ngomongku terlalu kenceng lah, yang responku nggak tahu tempatlah yang segan sama oranglah, banyaklah tata kramanya tuh anak.”
Lia terkekeh mendengar omelanku tentang Teguh. Persahabatan itu ya seharusnya memang begini; MEMBAHAGIAKAN. ^_^ May for ever. Aamiin.

Tidak ada komentar: