Sejuk subuh yang seperti ini adalah nikmat yang diberikan
oleh sang Maha Indah. Maha suci Engkau bersama pagi dan petang serta segala
yang ada di antara keduanya. Tidaklah aku bisa merasakan semua itu jika bukan
Engkau yang mengizinkannya. Maka, tetapkanlah hati, telinga dan mataku pada
kemahiran bersyukur kepada-Mu. Tiadalah aku tanpa pertolongan-Mu. Siapalah aku
tanpa penyempurnaan-Mu.
“Rin, cobak udah berapa banyak postinganku di blog?”
“Emmmm… 600?”
“900 Riiiin… 900… Alhamdulillah. Ye yeee.. senengnya kayak
menang main game aja loh.”
“Wahh, berari besok anak El bakal banyak juga.”
“Loh?”
“Iyalah, soalnya El kan orangnya produktif.”
“Hhaha.. bisa jadi, bisa jadi.”
Selamat Rin. Karena
kamu berteman dengan penulis blog sepertiku. Silahkan hitung sudah berapa
banyak namamu terabadikan di sana! Silahkan! Selamat Rin, namamu abadi karena kamu
berteman dengan penulis. *sok bijak dot kom. Hehe. Aku rindu suatu masa, ketika saat itu ada yang bertanya
kepadaku, “Profesi Elysa apa?” lalu dengan bangga ku jawab, “Saya PENULIS.”
Benar sekali, aku benar-benar rindu untuk bisa mengatakan itu dengan bangga dan
percaya diri. Mungkin sekarang belum bisa senarsis itu, karena aku nyadar
tentang ukuran keseriusanku yang belum terstandarisasi ini *ngomong apa sih
ini? ahaha. Aamiin ya Allah, aku yakin masa itu kan tiba.
Sesuai rencana, aku dan Rini ingin berbuka puasa di luar
kali ini. Kami ingin mengulang momen-momen ramadhan yang syahdu itu. Tujuan
kami adalah RM mandiri, tempat langganan kami buka puasa. Terlebih
dahulu, kami mampir di ujung gang kosan yang tak bernama ini untuk beli
gorengan.
“Yah, El tutup tuh!”
“Gimana nih Rin? Ke tempat tadi aja?”
“Yuk lah.”
Aku dan Rini mundur lagi ke perempatan Bina Krida dan Balam
Sakti; Ayam Penyet Arek-arek Suroboyo. Aku dan Rini pesan Ayam Cabe Hijao dan
es teh.
“Rin, kenapa di sini nggak serame Ayam Gopek coba?”
“Nggak tahu.”
“Karena tempat ini belum punya ciri khas.”
“Oooo…”
Harusnya Rini itu nanya lagi, “Emang apa alasan El bilang
tempat ini belum berciri khas?” Ah, tapi Rini nggak akan melakukannya pemirsaa.
Dia memang bukan tukang gossip yang handal. *loh?
Menjelang azan, aku nyempetin diri untuk ngetik. Dapat
setengah halaman kan lumayan.
Cek, kakak seneng
bangeett. Postingan di blog udah mencapai angka 900 Cek sejak 10 Desember 2014.
Postingannya 900 cek??? Banyak kaliiiii ya cekkkk… luar biasa.
Benar saja, ketika azan berkumandang aku sudah menyelesaikan
setengah halaman. Rini langsung menyindirku untuk menyingkirkan laptop dari
meja makan.
“Rin, aku pengen tambah..”
“Ya udah, bilanglah sama abang itu!”
“Rinilah yang bilangin, aku kan malu.”
“Loh? Ngapain malu?”
Aku celingukan, menanti abang itu lewat atau melihat ke arah
kami.
“Udaahhh.. jangan nambah. Dieeet.. tahannn..”
Aku geleng-geleng kepala. Tapi, aku sambil mikir, Iya ya,
aku kan pengen diet. Biar baju-bajuku nggak jelek ku buat karena mencuat ke
sana ke mari akibat lemak. Ehhe. Ya udah,
aku nggak nambah nih!
"Rin, ketiga cowok itu kok nggak pergi-pergi ya? apa mereka nggak pada sholat? padahal makanannya udah habis dari tadi?"
"Iya ya."
"Berarti mereka belum masuk kategori imam sejati. Kita doakan mereka supaya dapat petunjuk.
"Amiin."
“Rin, bayarin ya. Gantiaan!” aku lebih dulu berultimatum
sebelum Rini memintaku. Hhehe.
Rini kembali duduk untuk menunggu si Abang nukar uang untuk
kembalian.
“Berapa semuanya?”
“Pokoknya, makan kita itu 22ribu tambah minumnya 4ribu. Jadi
totalnya 26ribu kata Abang itu.”
“Loh? Bukannya makan kita itu 8ribu ya? Kok jadi 11ribu?”
“Ntah. Mungkin udah naik harganya.”
Mana bisa kayak gini! Kalau naik ya harusnya ditulislah di
bannernya. Biar pembeli nggak salah faham. Dalam kondisi seperti ini, aku
sangat berbeda dengan Rini. Aku paling nggak bisa membiarkan sesuatu tanpa
kejelasan. Bukan bermaksud menuntut, hanya ingin segalanya menjadi jelas
sebelum aku memutuskan untuk marah dan sebagainya.
“Biar aku yang nanya.”
Aku berdiri sambil memfoto banner di depan warung ini. Ini untuk bukti!, fikirku.
“Berapa semuanya Bang?”
“Semuanya 26rib Mbak.”
“Makannya berapa Bang?”
“1 porsi 11ribu, Mbak.”
“Loh, bukannya makanna 8ribu ya Bang?”
“8ribu itu kalau ayamnya aja Mbak. Kalau pakai nasi putih
tambah 3ribu.”
“Ohhh, gituuuu..oke Mas. Makasih yaa.”
Heran deh, emang ada
orang yang makan cuma pakai ayamnya doank? Orang macam apa itu? emmmm…
tapi, nggak masalah sih, biar itungannya semakin jelas sebenarnya. Berarti, aku
donk yang salah faham ya? Hihii.
Aku dan Rini segera melangkahkan kaki ke mushola Arrafah.
“Rin, suasananya bener-bener kayak ramadhan ya Rin.”
“Iya El. mirip banget.”
Nuansa ini semakin diperkuat dengan kondisi mushola Arrafah
yang padat jamaah. Banyak banget motor yang terparkir di dalam. Aku dan Rini
sampai bingung mau lewat mana dan menyelip bagaimana.
“Ehhh, Bang Uunn?”
Aku dan bang Un belagak seperti orang mau Tooss tapi ku
elakkan tanganku akhirnya. Hehe.
“Kak Eliiiissss,” sapa Lutfi kecil di belakangnya.
“Upiiiii..”
“Elis, main-mainlah ke rumah Abanggg!” kata bang Un.
“Iyaaa Banggg,” kataku sambil tersenyum.
Ya Allah, maafkan aku
yang membuat orang terdekat sampai memohon seperti itu untuk ku kunjungii.
Ampuuun ya Allah. Maafin adekmu yang jahat ini ya bang. Hikss..
***
Tadi Rini sempat melarangku bawa laptop karena niatnya
setelah sholat magrib langsung pulang. Tapi, kemudian ku bilang, “Rin,
nanggung. Kita sholat Isya aja langsung di sana. Supaya bener-bener kayak
ramadhan kemarin. Nah, menjelang isya kan biasanya aku ngetik sambil ngecas
laptop tuh, heheh.” Akhirnya Rini setuju. Alhamdulillah, jamaah sholat isya
tetap banyak seperti waktu maghrib tadi. Di barisan makmum perempuan ada 9
orang termasuk kami berdua. Sesuatu banget pokoknya.
“Rin, temenin aku beli cucu jilbab (baca: Inner).”
“Anak jilbab untuk apa lagi?”
“Ya untuk ku pake lah. Macam mana bah!”
“Punya El kan udah banyak.”
“Mana pula. Yang satu ketinggalan di kos Titin, yang satu
lagi ketinggalan di rumah, yang satu lagi dicuri mami. Hehee. La jadi?”
Rini menemaniku ke kios jilbab di ujung Balam Sakti.
“5 jam kemudian…” kata Rini. Pasrah. Melihat gelagatku yang
lama amat milihnya.
“Yang ini Bang.” Dan, ternyata yang ku beli cuma 1
pemirsaaa..hak hak hak.. *ketawa raksasa.
“El, ingatkan aku nantik beli ini ya sebelum pulang,” Rini
menunjuk hanger jilbab yang bertingkat-tingkat.
“Untuk apanya Rini belik itu? kan jilbab Rini dikit pun.”
“Di rumahku banyak El. beserak-serak pun.”
“Ya kenapa nggak beli di Medan aja, repot kali pun.”
“Di Siantar nggak ada kayak gitu.”
“Masa iyaa?”
“Iyaa!”
“Ah, ketinggalan jaman kali sih Siantar itu. Nggak usah lagi
bangga-banggain Siantar sama aku kalau hanger jilbab aja nggak ada di sana! Macam
mana nyaa..” aku dan Rini berseteru dalam perjalanan menuju café Ceria untuk
beli lauk.
Dan, ujung-ujungnya aku nyadar, “Eh, orang Rini yang mau
beli, kok aku pula yang recok (baca: Ribut) ya? Haha, macam mana nya aku ini
bah!”
“Itulah El aneh.”
“Emang Rini ada duit mau beli sekarang?”
“Nggak sekarang loh, nantik…”
Pliss, jangan bilang waktu Rini mau pulang ke Siantar yaa..!
“Menjelang aku pulang ke Siantar.”
Kan, benar firasatku. Hal itu terjelaskan juga akhirnya.
“Emang kapan Rini mau pulang? Ku tanyaklah, Rini ada urusan
apa rupanya pulang? Waktu kita tinggal bentar lagi loh Rin. Kapan kita mau
melaksanakan Jelajah Riau kalau Rini pulang?”
“Nanti waktu Idul Adha aku pulangnya El. Aku tinggal ikut
aja nyaa kalau waktunya udah ditentuin kapan.”
“Jangan pulang napaa. Nanti kalau Rini pulang, lama pasti
baliknya lagi ke sini. Hikss. Oke Rini boleh pulang. Tapi sehari aja ya waktu
Idul Adha.””
“Udah gilak nyaa El iniii. Bang, lihatlah Bang dia gilak!”
kata Rini kepada abang di Café Ceria.
Dalam perjalanan pulang, aku masih juga mempertanyakan kepulangan Rini.
“…tapi iya juga sih, Rini udah 3 tahun kan lebaran Idul Adha
nggak pernah di rumah? Aciiaann..” kataku.
“Itulah makanya.”
“Nanti kalau Rini udah pulang, pasti Rini nggak mau lagi
smsan sama aku. Kalau ku sms nggak mau balas.”
“Ohh iyaaa donk.”
“Seriuslah Rin, hah!”
“Ya nggak lah. Kalau ada pulsa ku balas. Kecuali kalau aku
nggak ada pulsa.”
“Alah, Rini sengaja kan waktu smsku masuk pulsanya langsung
Rini habiskan? Biar Rini punya alasan nggak punya pulsa untuk balas smsku.”
“Udah gilaknya El ni. Eh, begot u boleh El, tapi nggak
gini-gini jugak. Hehe.”
Aku tahu. Cepat atau lambat, aku memang harus merelakannya
pergi. Ada 1 pilihan sebenarnya supaya aku nggak sedih. Aku dan Rini harus
sama-sama pergi dari sini. Caranya gimana? Ya aku harus wisuda Oktober ini.
*hemmm..kayaknya Elysa ini adalah tipe orang yang lebih terpacu untuk bergerak
karena ketakutan ya pemirsaa daripada diiming-imingi kebahagiaan? Mungkin. Boleh
jadi.
***
"Cek, Kakak pernah ingin bertanya 1 hal kepada kalian yang sekarang dekat sama Kakak. Gini, 'Ya Allah...seandainya aku'..."
"Katanya bertanya, tapi pakai Ya Allah pula?"
"Diamlah dulu kau ko!"
"Mengapo kau koo? kalau betanyo itu tak boleh pak Ya Allah do! Langsung ajolah pertanyaannyo."
"Ya Kakak kan bertanyanya kepada Allah dulu niii ceritanya."
"Oohh, bilanglah dari tadi. Lanjutt!"
"Gini pertanyaannya, 'Ya Allah, kalau seandainya aku tidak punya kelebihan apa-apa, akankah mereka yang saat ini dekat denganku tetap setia dekat denganku?' gitu Cek pertanyannya."
"Ulangi lagi!"
"..'Ya Allah, kalau seandainya aku tidak punya kelebihan apa-apa, akankah
mereka yang saat ini dekat denganku tetap setia dekat denganku?'.."
"Mengapo pula itu kau tanyooo? Udah berapo lamo awak bekawan dah, Cek?" tanyak Okta geram.
"Biarlah. Ngapain pula Adek atur-atur pertanyaan Kakak?"
"Ya ampun Kak, itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah Okta dengar."
*GLEKKK!
"Maksud Adek?" *Siap-siap mengepalkan tangan untuk meninju Okta. ehehe.
"Kakak kan tanya, 'Kalau Kakak nggak punya kelebihan apa-apa, apakah mereka mau berteman sama Kakak?' ya kan?"
"Iya."
"Tentulah jawabannya; Nggak, Kak."
"Jadi, Adek juga nggak mau berteman sama Kakak nih?" aku naik daun. Eh, naik darah maksudnya. Aku fikir, Okta akan menjawab seperti ini, 'Kakak kok gitu ngomongnya? Kami akan tetap setia bersama Kakak apapun yang akan terjadi kepada Kakak nantinya. Kakak adalah Kakak kami.' Eh, ternyata MELESET sejuta persen pemirsaa. hikss.
"Cobalah, kalau Kakak nggak punya apa-apa, mana mungkin ada orang tiba-tiba datang nanya KTI sama Kakak."
"Jadi, semua itu hanya untuk kepentingan aja?" naluri ke-feeling-anku kambuh.
"Ya, contohnya aja si anu itu. Setelah dia dapatkan ilmu Kakak, dicampakkannya Kakak."
"Jadi, Okta juga dekat sama Kakak karena ada maunya?" naluri ke-feeling-anku semakin menjadi.
"Iyalah. Kalau Kakak nggk terkenal, mana mungkin kita kenal."
Waduh, aku nggak tahu arah pemikiran bocah ini ke mana pemirsaa. Tapi, kayaknya alangkah baiknya kalau aku nggak mengikutinya. Karena dia pasti bakal nyasar. hihiii.
"Kak, selalulah berdoa dan bersyukur atas apapun yang telah Kakak alami. Ya Allah, terimakasih atas anugerah ukhwah yang indah ini. Engkau tunjukkan cinta yang tulus lewat ukhwah dan Engkau tunjukkan pula cinta yang dikhianati lewat ukhwah ini. Segalanya karena ukhwah. Aku bisa mengenal yang jahat setelah bertemu yang baik dan bisa mengenal yang baik setelah bertemu yang jahat. Terimakasih ya Allah atas nikmat ukhwah ini. Sesungguhnya kami tidak pernah BELAJAR kalau kami tidak pernah KECEWA. Okta sering berdoa seperti itu ketika maghrib Kak. Dan, tadi pun Okta kembali mendoakannya. Okta rindu dia, tapi Okta tak bisa menyapa. Hanya doalah yang setia menjadi jalan kedua."
***
Cek, kakak terharu. Perhatikanlah foto Koran kaka itu,
kayaknya disimpannya dengan rapi di dalam map kan?
Huhuu..iya cek. Kelihatan udah lamanyaa masih
utuh disimpan. Segitunya ya cekk…
utuh disimpan. Segitunya ya cekk…
He loves me as the best he can, cek. Huuaaahh..
I cant as perfect as him in loving.
I cant as perfect as him in loving.
But, perfect or notnya relative cek. Cara tiap orang
mencintai itu berbeda. Novi rasa ketika kakak mengambil
langkah untuk menjaga
jarak karena ‘ketidakhalalan’ dan untuk menjaga hati karena Allah itu adalah
cara
mencintai yang sempurna ^_^
Sihiiiyyyy… kakak senyum-senyum sendiri nih jadinya.
Berari kami sama-sama punya cara mencintai
yang sempurna ya cek? Baru nyadar.
Berari kami sama-sama punya cara mencintai
yang sempurna ya cek? Baru nyadar.
“Hayooo..ngapa senyum-senyumm?” tanya Rini. Membuyarkan fokusku.
“Menurut Rini aku sedang seneng atau sedih? Hayoo tebak?”
*tebak-tebakan macam apa itu? haha,
“Seneng.”
“Bener.” giliran aku bercuap-cuap kepada Rini menjelaskan
apa yang terjadi.
Sihiiiyy. Kalau dalam teori fisika, Albert Enstein
bilang
bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini
bersifat relative. Sama halnya dengan
memaknai
bagaimana kesempurnaan dalam mencintai. Tergantung sudut pandang yang
menilainya. Tidak ada yang benar-benar absolute. Semuanya relative. Maka,
sempurnalah dalam versi masing-masing, cek.
“Sumpahlah kalimatnya si Novii ini… kereeen kaliii Rin!” Aku
membacakannya untuk Rini.
Apapun dan seperti apapun kenyataannya, aku sudah meneguhkan
hati untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Hatiku. Hidupku. Matiku. Tulisanku.
Ucapanku. Semoga selalu untuk Allah. Aamiin. Aku pasrah tentang bagaimana Allah
mendekatkan dia kepadaku atau menjauhkannya dariku. Aku pasrah. Biarlah rahasia.
“Rin, mungkin kalau kami berjodoh, aku akan teramat
menyayanginya. Kalau dibahasakan itu gin Rin jadinya, ‘Aku tuh sayang banget
loh. Susah payah aku menjagamu’ Ya tujuannya tentu supaya aku nggak mengotori
jodohku sendiri kalau memang dia jodohku dan nggak mengotori hak orang lain
kalau ternyata dia bukan untukku.”
“Sihiiiyyyy.. ngeri dank! Udahlah! Nikahlah sanaa.”
“Loh? Bang Ewin gimana?”
“Iyuuuh.”
*Selalu aja abangnya Rini yang nggak bersalah dan nggak tahu
apa-apa itu terseret-seret. Hikss. Kasihan dia pemirsaa..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar