Minggu, 23 Agustus 2015

Aku Takut Kalau Aku Takut


“Itu koe makan sedikit, apa nanti mau makan lagi?”
“Ya iyalah makan lagi, Mi. La jadi? Hehe.”
“Mending makan tu sekaligus banyak aja, daripada berulang kali dan terus-terusan,” kata mami.
“Mbak itu Parenya ntar bonyok naa Mbak kalau nggak langsung dimasak.”
“Bawalah ke sini Pare itu biar Ummi irisin.”
Aku menyerahkan 2 pare besar yang dibawa mami kemarin sore. Nilam ikut bantuin ngirisin bawang dan aku langsung ngacir ke kamar Reni untuk minjam kompor.
“Loh? Komporku ke mana ya?” aku baru nyadar kalau kompor kecilku udah nggak ada lagi. Di antara 5 kompor yang ada di belakang, ada salah satunya yang ku curigai. Ukurannya sama kayak punyaku tapi yang ini bersih banget. Atau jangan-jangan itu adalah punyaku yang dipakai dengan seseorang karena dilihatnya udah lama banget nggak berkutik dari tempatnya? Komporku itu masih bagus walaupun udah bertahun-tahun nggak pernah dipake lagi, soalanya tuas pemutarnya itu keras dan akunya emang males masak. Makanya, sekalinya pengen masak, pinjam kompornya Reni aja bias cepat masaknya karena gede kompornya. Hehe.
“Ah, nanti deh aku nyelidiki perkomporan itu.”
“Nggak di belakang aja masaknya?” tanya mami ketika dilihatnya aku ngangkutin kompor ke kamar.
“Nggak usah lah Mi. Jauh. Repot. Hehe.”
“Mbak, biar aku aja yang masak!” kata Nilam.
“Aiiihh? Yakin Lam? Sejak kapan Nilam pintar masak? Nggak salah nih?”
“Aman tuhh!”
Sebelum Nilam masa tumis Pare, aku goreng beberapa Ikan bawal yang juga dibawain mami kemarin sore. Hemmm.. semoga bisa ngirit untuk sebulan ini dengan sembako yang tersedia pemirsaa.. heehe.
Setelah semua terhidang, kami makan bersama. Kebetulan, Rini juga baru aja turun dari kamar Andin.
“Iya, di Balam Sakti ujung ya Bang. Belok kanan dikit, terus belok kiri nanti. Iyaa… yuuupp.”
“Telvon dari mobil Mi?”
“Iyaa. Kannn… untung kita udah selesai makan baru ditelvon, kalau baru mau mulai makan nih udah jelas nggak tertelan lagi karena deg-degan. Tapi, kalau kata Abi; ‘Wah, kalau aku makin semangatlah! Buat cadangan di perjalanan makanannya.’ Gitu pula katanya.”
“Hhaha..ada-ada aja Abi tuh.”
“Ummii..Umimi pasti sedih kan bentar lagi mau pulang?”
“Nggak ah, mana ada. Biasa aja. Ummi sedihnya nggak sekarang,” jawab mami.
“Jadi? Kapan?”
“Yah, sedihnya kira-kira 2 tahun mendatang lah. Heheh.”
“Ah, Mami niii bisa aja, haha.” timpalku.

Aku dan Nilam bantu ngangkatin barang-barang bawaan mami ke teras kosan.
“Tengoklah ini Rin, berangkat kemarin bawain barang orang, sekarang pulang bawain barang orang lagi. Ada buku ini, piala-piala juga. Padahal bawaan Ibuk aslinya cuma 1 tas kecil ini aja untuk baju.”
Rini senyum dan geleng-geleng. Aku masih terus menghargai niat mami untuk memberiku kejutan. Tentang piala-piala itu, aku sengaja tak ingin tahu akan diletakkan di mana. Walaupun prediksiku sudah tentu tidak meleset. Hihii.. @Rini Vidianty: Kayak aku donk Rin! Menghargai orang yang mau ngerjain aku. Kasihan mereka yang udah nyusun rencana dan kita rusak hanya gara-gara kita nggak bisa diajak kompromi. Yuhuuuu..
Sebelum mobil datang, aku, mami dan Nilam berfoto bersama di depan kosan.
“Mi, udah pamitan sama Ibuk ini?” aku mengode ke arah kakak kos.
“Mobil aja belum datang kok!” jawab mami.

Tak sampai 5 menit kemudian, mobil sudah tiba di depan. Mami masuk lagi ke dalam kamar, berpamitan kepada Rini barulah kemudian kepada kak Dewi.
“Iya, hati-hati ya Buk. Sedang pusing ini haa… ada Abang yang baru kecelakaan di Duri dan rumah sakit sana nggak sanggup. Inilah, katanya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit sini.”
Ya Allah, ampuni kami. Selamatkan mami di perjalanan. Aman. Aamiin.
“Lam, nih fotoin plat mobilnya!” pintaku kepada Nilam sementara aku mengangsurkan barang bawaan mami ke dalam mobil.
Setelah mami masuk ke dalam mobil, aku memfotonya dalam posisi duduk di samping kardus pialaku.
“Nah, nah, fotolah duluu Abang tungguin,” kata si abang supir, ramah. Kata mami, kemarin yang mengantarkan mami dari loket ke sini pun abang ini. Aku pun baru tahu ada supir penjemput yang sedamai ini wajahnya.
Titip mami ya Bang.. Titip mamiku ya Allah… kataku tanpa terucap bibir.
“Daaahhh.. Miii..hati-hati yaa. Assalamualaikum..” kataku dan Nilam.
***
“Loh? El mau ke mana?”
“Ke Balai Bahasa." Aku melirik jam di HP, sudah hampir pukul 14.00wib rupanya padahal diSMS pukul 13.00wib, hiks.
“Ngapain ke sana? Ada acara apa rupanya?”
“Rapat FLP. Lam, jam 3 nanti siap-siap ya biar bisa cepat diantar ke pondok.”
“Iya Mbak.”
Aku berjalan kaki menuju Balai Bahasa sambil mengSMS satu per satu calo peserta workshop, siapa tahu ada yang ingin membayar registrasi hari ini.
“Nahh…ini dia Elysa. Baru aja disebut-sebut, udah nongol aja dia,” kata bang Adit, bang Alam dan mbak Sugi.
Aku duduk di samping Ani dan menyimak rapat yang sedang berlangsung. Pembahasan detik ini adalah tentang struktur pengurus FLP Cabang. Selanjutnya, rancangan konsep Pelantikan dan tanggal pelaksanaannya.
“Izin bicara ya…” pinta mbak Sugi.
“Silahkan Mbak,” kata bang Rahmat, ketua FLP Cabang Pekanbaru.
“Demi menampung dan mengapresiasi seluruh karya anggota FLP, menurut saya digabungkan saja 3 konsep yang kita bicarakan tadi;  ada seminar budaya, parade karya dengan launchingnya dan pelantian pengurus. Target kita kan acara ini dihadiri oleh 200 orang, jadi sekaligus mengangkat nama FLP juga.”

Seluruh peserta rapat ternyata terpesona dan sepakat dengan ide bijaknya mbak Sugi.
“Untuk masalah dana, kita nggak udah terlau khawatir karena kita bisa nyusun-nyusun bata nanti, eheehee,” kata bang Rahmat dan diiyakan oleh bang Adit.
“Batu bata apa sih Bang? Beneran batu bata?” celetukku. Malah aku yang diketawain.
“Makanya, lihatlah di whatsup Elis tu, di grup BBM juga. Berarti Elis nggak update nih,” kata bang Adit.
Hikss… ya Allah, bantu aku untuk bisa memiliki HP baru yang lebih layak dan cocok dengan kebutuhanku. Supaya aku nggak terus-terusan ‘tertinggal’ seperti ini. aamiin. Jadi ingat deh sama Lia dan Rini yang sering banget nyuruh aku mengaktifkan android lagi.
Alhamdulillah udah sampek rumah.. kata mami.
Makasih ya Allah. Jaga terus keluarga kami ya Allah, jauhkan kami dari segala bentuk kecelakaan dalam pekerjaan dan perjalanan. Aamiin.
Pukul 15.45wib, aku tiba di kosan dan selanjutnya ngantarkan Nilam ke pesantren. Sebelumnya, aku membelikan Nilam Chocholate Canger. Ternyata Nilam mengaku suka banget. Sama donk kayak aku dan Rini. Semoga minuman ini berkah untuk kita ya.. amiin.
***
“Rin,” aku menepuk paha Rini, pelan, ketika dia hendak meraih Al-Quran. Rini gagal bergerak. “Rini mungkin udah pernah dengar atau membaca bahwa sesungguhnya kita nggak pernah tahu amal mana yang menyebabkan kita masuk syurga. Bisa jadi itu senyum tulus kita, sedekah kita atau Dhuha kita. Nah, makanya apa yang udah terpola dari ibadah harian kita, usahakan itu tetap kita laksanakan sampai akhir
hidup kita.”
“Hee..emmm,” Rini setuju. Ia sedang menggaruk-garuk tangannya.
“Karena, sebenarnya yang paling tinggi nilainya itu bukan semata-mata tentang banyaknya amal kita, tapi tentang kesungguhan dan keistiqomahan kita dalam beramal, walaupun sedikit. Misalnya, kita udah terbiasa baca Al-Quran 2 halaman diwaktu maghrib dan subuh, kalau seandainya suatu waktu kita nggak bisa ngaji di waktu itu artinya kita masih punya hutang. Berarti kita harus tetap melunasinya pada waktu yang lain ketika kita sempat. Jadi, target itu tetap tercapai Rin dalam sehari.”
“Hee..ehh,” angguk Rini lagi.
“Keep terus Rin!”
“El ngomong gitu kok badanku jadi gatal-gatal ya?”
“Tuu? Aku yang salah Rin?”
“Iya. El emang selalu salah di mataku.”

Eh, dipertengahan kami mengaji lampunya mati. Hemmm..mulai deh nyamuknya ruamee bangetss kayak orchestra. Untungnya nggak lama, hanya sekitar 15 menit saja.
“El, aku semalam ntah baca di BBM atau di mana gitu; Kalau temanmu tersinggung ketika dengan candaanmu, artinya dia kurang lama di luar dan kurang banyak jalan-jalannya.
“Loh? Kok aneh gitu? Tahaha  (baca: Tah Hapa Hapa) nyaa!”
“Itulah lucunya.”
“Rin, kalau aku bilang gini; Aku takut kalau aku takut, Rini tahu nggak apa maksudnya?”
“Ya, aku takut, kalau aku takut.”
“Hahha..salah pengertian nih kayaknya gara-gara salah intonasi. Coba, apa artinya menurut Rini?”
“El tuh takut kalau berada di suatu posisi yang membuat El takut. Gitu nggak? Salah ya?”
“Bener kok Rin! Tepat sekaleee.. ehhe. Aku kira Rini salah penafsiran tadi.”
“Ah, judul blogku hari ini, itu ajalah!”
“Buatlah buaaat. Eh, tengoklah si kawan ini, kayaknya emang kebelet kali lah nikah. Dia sering kali ke pesta pernikahan terus ganti DP BBM pake foto bareng pengantinnya.”
“Mana-mana lihat?!”
“Iya kan?”
“Yah, kan Rini udah tahu sejak kemarin tentang ini. Kadang, aku berfikir kayaknya hal ini sedikit banyaknya menyebabkan jarak di antara kami Rin.”

“Hemmm…arassoh."
“Rin, menurut Rini nih. Mempersilahkan orang lain mengenali kita dan memudahkan diri kita dikenal orang lain, apakah itu artinya kita murahan?”
“Enggg… dikenalnya lewat mana maksudnya El?”
“Yaaa…lewat mana aja kek, lewat medsos atau karya-karya kita.”
“Hemmm.. nggak lah kayakna. Murahan itu kan mau dan gampang diajak gini-gitu.. emm…nggak ngerti juga lah El. Bingung aku. Beda tipis nggak sih sebenarnya?”
“Apa nya Rini nii? Keterangan Rini dengan kesimpulan Rini itu nggak ada korelasinya loh. Kok tiba-tiba dibilang beda tipis aja? Macam mana nyaa? Haha.”
Tapi, nggak ada jawaban selanjutnya dari Rini. Dia terlalu fokus dengan revision SKRIPSInya. Aku mulai menerawang kepada beberapa pernyataan; 1. Semakin banyak orang yang mengenal kita, bukankah semakin baik? 2. Di zaman modern seperti ini, menciptakan sejarah diri itu sangat mudah. Kalau orang-orang dulu rela memahat karya dan tulisannya di batu atau kayu demi namanya dikenang orang lain. Maka, kenapa kita nggak memanfaatkan kemudahan saat ini untuk meciptakan sejarah kita? 3. Bukankah segalanya jadi lebih mudah ketika orang lain bisa mengenal kita tanpa kita perlu menjelaskan siapa dan bagaimana diri kita?
Ah, segala sesuatunya hanya Allah yang paling tahu.
***
“Eh, kalian kok beda ya sama kami? Emang beda ya panduan SKRIPSInya?”
“Beda-bedalah tiap fakultas Ren.”
“Kita nggak pake Abstrak kan El di dalam SKRIPSInya?”
“Maksudnya Ren?”
“Abstrak kita kan letaknya cuma di jurnal, kalau di SKRIPSInya nggak ada.”
“Hehhe, aku kurang tahu deh Ren. Prosesku belum sampek sana soalnya. Hihii.” Hal yang beberapa waktu ini khawatir dipertanyakan oleh Reni, malah saat ini sudah ku pertegas.
“Emang aneh El nih,” timpal Rini.
Reni kembali fokus kepada pilah-pilih film di laptop Rini yang ingin dikopinya.
“Ren, kawanmu itu apa kabarnya sekarang?” tanyaku.
“Dia mau nikah kan?” jawab Reni.
“Masa iya? Kapan?”
“Nggak tahu sih, kemarin status-status di FBnya ku lihat arahnya ke sana.”
“Siapa? Si **a ya?” tanya Rini. Dia ngerti banget dengan apa tujuanku. “Udah lah El, move on lah!”

Aku mengedip-ngedipkan mata kepada Rini supaya diam, jangan melanjutkan kalimat itu lagi di depan Reni.
“Kemarin waktu wisudanya, mu datang?”
“Datang.”
Lagi-lagi tentang kenangan itu. Lagi-lagi aku mengenangnya; Persahabatan yang tak terselamatkan.
Selintas, aku memandang ke arah Rini. Ntah dengan siapa saudara sekamarku setelah Rini. Sudah tak terbantahkan lagi tentang niat Rini untuk segera pulang setelah ini. Beberapa sosok bermunculan silih berganti di benakku; adakah salah satunya yang terlihat cocok denganku? Ternyata tidak ada. Aku tak yakin bisa. Akankah aku sendirian saja?
Fikiranku melambung, meretas kegelisahan tentang segala ketidakpastian di masa depan. Hingga bermuara pada kepulangan yang sudah tentu pasti; Kematian.
Ya Allah, jika Engkau bertanya terlebih dahulu setiap kali Engkau akan ‘menjemput’ kami, kami pasti akan selalu menjawab, ‘Ya Allah, tunda dulu, aku belum siap.’ Untuk itulah Engkau selalu memberi kejutan tentang kapan kami akan Engkau bawa pulang ke ‘kampung halaman.’ Tentang ini, Engkau ingin mengajari kami untuk selalu siap setiap saat. Karena kesiapan adalah hasil dari persiapan, bukan penundaan.

Tidak ada komentar: