“Itu koe makan sedikit, apa nanti mau makan lagi?”
“Ya iyalah makan lagi, Mi. La jadi? Hehe.”
“Ya iyalah makan lagi, Mi. La jadi? Hehe.”
“Mending makan tu sekaligus banyak aja, daripada berulang
kali dan terus-terusan,” kata mami.
“Mbak itu Parenya ntar bonyok naa Mbak kalau nggak langsung
dimasak.”
“Bawalah ke sini Pare itu biar Ummi irisin.”
Aku menyerahkan 2 pare besar yang dibawa mami kemarin sore.
Nilam ikut bantuin ngirisin bawang dan aku langsung ngacir ke kamar Reni untuk
minjam kompor.
“Loh? Komporku ke mana ya?” aku baru nyadar kalau kompor
kecilku udah nggak ada lagi. Di antara 5 kompor yang ada di belakang, ada salah
satunya yang ku curigai. Ukurannya sama kayak punyaku tapi yang ini bersih
banget. Atau jangan-jangan itu adalah punyaku yang dipakai dengan seseorang
karena dilihatnya udah lama banget nggak berkutik dari tempatnya? Komporku itu
masih bagus walaupun udah bertahun-tahun nggak pernah dipake lagi, soalanya
tuas pemutarnya itu keras dan akunya emang males masak. Makanya, sekalinya
pengen masak, pinjam kompornya Reni aja bias cepat masaknya karena gede
kompornya. Hehe.
“Ah, nanti deh aku nyelidiki perkomporan itu.”
“Nggak di belakang aja masaknya?” tanya mami ketika
dilihatnya aku ngangkutin kompor ke kamar.
“Nggak usah lah Mi. Jauh. Repot. Hehe.”
“Mbak, biar aku aja yang masak!” kata Nilam.
“Aiiihh? Yakin Lam? Sejak kapan Nilam pintar masak? Nggak
salah nih?”
“Aman tuhh!”
Sebelum Nilam masa tumis Pare, aku goreng beberapa Ikan
bawal yang juga dibawain mami kemarin sore. Hemmm.. semoga bisa ngirit untuk
sebulan ini dengan sembako yang tersedia pemirsaa.. heehe.
Setelah semua terhidang, kami makan bersama. Kebetulan, Rini
juga baru aja turun dari kamar Andin.
“Iya, di Balam Sakti ujung ya Bang. Belok kanan dikit, terus
belok kiri nanti. Iyaa… yuuupp.”
“Telvon dari mobil Mi?”
“Iyaa. Kannn… untung kita udah selesai makan baru ditelvon,
kalau baru mau mulai makan nih udah jelas nggak tertelan lagi karena deg-degan.
Tapi, kalau kata Abi; ‘Wah, kalau aku makin semangatlah! Buat cadangan di
perjalanan makanannya.’ Gitu pula katanya.”
“Hhaha..ada-ada aja Abi tuh.”
“Ummii..Umimi pasti sedih kan bentar lagi mau pulang?”
“Nggak ah, mana ada. Biasa aja. Ummi sedihnya nggak
sekarang,” jawab mami.
“Jadi? Kapan?”
“Yah, sedihnya kira-kira 2 tahun mendatang lah. Heheh.”
“Ah, Mami niii bisa aja, haha.” timpalku.
Aku dan Nilam bantu ngangkatin barang-barang bawaan mami ke
teras kosan.
“Tengoklah ini Rin, berangkat kemarin bawain barang orang,
sekarang pulang bawain barang orang lagi. Ada buku ini, piala-piala juga.
Padahal bawaan Ibuk aslinya cuma 1 tas kecil ini aja untuk baju.”
Rini senyum dan geleng-geleng. Aku masih terus menghargai
niat mami untuk memberiku kejutan. Tentang piala-piala itu, aku sengaja tak
ingin tahu akan diletakkan di mana. Walaupun prediksiku sudah tentu tidak
meleset. Hihii.. @Rini Vidianty: Kayak aku donk Rin! Menghargai orang yang mau
ngerjain aku. Kasihan mereka yang udah nyusun rencana dan kita rusak hanya
gara-gara kita nggak bisa diajak kompromi. Yuhuuuu..
Sebelum mobil datang, aku, mami dan Nilam berfoto bersama di
depan kosan.
“Mi, udah pamitan sama Ibuk ini?” aku mengode ke arah kakak
kos.
“Mobil aja belum datang kok!” jawab mami.
Tak sampai 5 menit kemudian, mobil sudah tiba di depan. Mami
masuk lagi ke dalam kamar, berpamitan kepada Rini barulah kemudian kepada kak
Dewi.
“Iya, hati-hati ya Buk. Sedang pusing ini haa… ada Abang
yang baru kecelakaan di Duri dan rumah sakit sana nggak sanggup. Inilah,
katanya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit sini.”
Ya Allah, ampuni kami.
Selamatkan mami di perjalanan. Aman. Aamiin.
“Lam, nih fotoin plat mobilnya!” pintaku kepada Nilam
sementara aku mengangsurkan barang bawaan mami ke dalam mobil.
Setelah mami masuk ke dalam mobil, aku memfotonya dalam
posisi duduk di samping kardus pialaku.
“Nah, nah, fotolah duluu Abang tungguin,” kata si abang
supir, ramah. Kata mami, kemarin yang mengantarkan mami dari loket ke sini pun
abang ini. Aku pun baru tahu ada supir penjemput yang sedamai ini wajahnya.
Titip mami ya Bang..
Titip mamiku ya Allah… kataku tanpa terucap bibir.
“Daaahhh.. Miii..hati-hati yaa. Assalamualaikum..” kataku
dan Nilam.
***
“Loh? El mau ke mana?”
“Ke Balai Bahasa." Aku melirik jam di HP, sudah hampir pukul 14.00wib rupanya padahal diSMS pukul 13.00wib, hiks.
“Ngapain ke sana? Ada acara apa rupanya?”
“Rapat FLP. Lam, jam 3 nanti siap-siap ya biar bisa cepat
diantar ke pondok.”
“Iya Mbak.”
Aku berjalan kaki menuju Balai Bahasa sambil mengSMS satu
per satu calo peserta workshop, siapa tahu ada yang ingin membayar registrasi
hari ini.
“Nahh…ini dia Elysa. Baru aja disebut-sebut, udah nongol aja
dia,” kata bang Adit, bang Alam dan mbak Sugi.
Aku duduk di samping Ani dan menyimak rapat yang sedang
berlangsung. Pembahasan detik ini adalah tentang struktur pengurus FLP Cabang.
Selanjutnya, rancangan konsep Pelantikan dan tanggal pelaksanaannya.
“Izin bicara ya…” pinta mbak Sugi.
“Silahkan Mbak,” kata bang Rahmat, ketua FLP Cabang
Pekanbaru.
“Demi menampung dan mengapresiasi seluruh karya anggota FLP,
menurut saya digabungkan saja 3 konsep yang kita bicarakan tadi; ada seminar budaya, parade karya dengan
launchingnya dan pelantian pengurus. Target kita kan acara ini dihadiri oleh
200 orang, jadi sekaligus mengangkat nama FLP juga.”
Seluruh peserta rapat ternyata terpesona dan sepakat dengan
ide bijaknya mbak Sugi.
“Untuk masalah dana, kita nggak udah terlau khawatir karena
kita bisa nyusun-nyusun bata nanti, eheehee,” kata bang Rahmat dan diiyakan
oleh bang Adit.
“Batu bata apa sih Bang? Beneran batu bata?” celetukku.
Malah aku yang diketawain.
“Makanya, lihatlah di whatsup Elis tu, di grup BBM juga.
Berarti Elis nggak update nih,” kata bang Adit.
Hikss… ya Allah, bantu aku untuk bisa memiliki HP baru yang
lebih layak dan cocok dengan kebutuhanku. Supaya aku nggak terus-terusan
‘tertinggal’ seperti ini. aamiin. Jadi ingat deh sama Lia dan Rini yang sering
banget nyuruh aku mengaktifkan android lagi.
Alhamdulillah udah sampek
rumah.. kata mami.
Makasih ya Allah. Jaga
terus keluarga kami ya Allah, jauhkan kami dari segala bentuk kecelakaan dalam
pekerjaan dan perjalanan. Aamiin.
Pukul 15.45wib, aku tiba di kosan dan selanjutnya ngantarkan
Nilam ke pesantren. Sebelumnya, aku membelikan Nilam Chocholate Canger.
Ternyata Nilam mengaku suka banget. Sama donk kayak aku dan Rini. Semoga
minuman ini berkah untuk kita ya.. amiin.
***
“Rin,” aku menepuk paha Rini, pelan, ketika dia hendak
meraih Al-Quran. Rini gagal bergerak. “Rini mungkin udah pernah dengar atau
membaca bahwa sesungguhnya kita nggak pernah tahu amal mana yang menyebabkan
kita masuk syurga. Bisa jadi itu senyum tulus kita, sedekah kita atau Dhuha
kita. Nah, makanya apa yang udah terpola dari ibadah harian kita, usahakan itu
tetap kita laksanakan sampai akhir
hidup kita.”
“Hee..emmm,” Rini setuju. Ia sedang menggaruk-garuk
tangannya.
“Karena, sebenarnya yang paling tinggi nilainya itu bukan
semata-mata tentang banyaknya amal kita, tapi tentang kesungguhan dan
keistiqomahan kita dalam beramal, walaupun sedikit. Misalnya, kita udah
terbiasa baca Al-Quran 2 halaman diwaktu maghrib dan subuh, kalau seandainya
suatu waktu kita nggak bisa ngaji di waktu itu artinya kita masih punya hutang.
Berarti kita harus tetap melunasinya pada waktu yang lain ketika kita sempat.
Jadi, target itu tetap tercapai Rin dalam sehari.”
“Hee..ehh,” angguk Rini lagi.
“Keep terus Rin!”
“El ngomong gitu kok badanku jadi gatal-gatal ya?”
“Tuu? Aku yang salah Rin?”
“Iya. El emang selalu salah di mataku.”
Eh, dipertengahan kami mengaji lampunya mati. Hemmm..mulai
deh nyamuknya ruamee bangetss kayak orchestra. Untungnya nggak lama, hanya
sekitar 15 menit saja.
“El, aku semalam ntah baca di BBM atau di mana gitu; Kalau temanmu tersinggung ketika dengan
candaanmu, artinya dia kurang lama di luar dan kurang banyak jalan-jalannya.”
“Loh? Kok aneh gitu? Tahaha
(baca: Tah Hapa Hapa) nyaa!”
“Itulah lucunya.”
“Rin, kalau aku bilang gini; Aku takut kalau aku takut, Rini tahu nggak apa maksudnya?”
“Ya, aku takut, kalau aku takut.”
“Hahha..salah pengertian nih kayaknya gara-gara salah
intonasi. Coba, apa artinya menurut Rini?”
“El tuh takut kalau berada di suatu posisi yang membuat El
takut. Gitu nggak? Salah ya?”
“Bener kok Rin! Tepat sekaleee.. ehhe. Aku kira Rini salah
penafsiran tadi.”
“Ah, judul blogku hari ini, itu ajalah!”
“Buatlah buaaat. Eh, tengoklah si kawan ini, kayaknya emang
kebelet kali lah nikah. Dia sering kali ke pesta pernikahan terus ganti DP BBM
pake foto bareng pengantinnya.”
“Mana-mana lihat?!”
“Iya kan?”
“Yah, kan Rini udah tahu sejak kemarin tentang ini. Kadang,
aku berfikir kayaknya hal ini sedikit banyaknya menyebabkan jarak di antara
kami Rin.”
“Hemmm…arassoh."
“Rin, menurut Rini nih. Mempersilahkan
orang lain mengenali kita dan memudahkan diri kita dikenal orang lain,
apakah itu artinya kita murahan?”
“Enggg… dikenalnya lewat mana maksudnya El?”
“Yaaa…lewat mana aja kek, lewat medsos atau karya-karya
kita.”
“Hemmm.. nggak lah kayakna. Murahan itu kan mau dan gampang
diajak gini-gitu.. emm…nggak ngerti juga lah El. Bingung aku. Beda tipis nggak
sih sebenarnya?”
“Apa nya Rini nii? Keterangan Rini dengan kesimpulan Rini
itu nggak ada korelasinya loh. Kok tiba-tiba dibilang beda tipis aja? Macam
mana nyaa? Haha.”
Tapi, nggak ada jawaban selanjutnya dari Rini. Dia terlalu
fokus dengan revision SKRIPSInya. Aku mulai menerawang kepada beberapa
pernyataan; 1. Semakin banyak orang yang mengenal kita, bukankah semakin baik?
2. Di zaman modern seperti ini, menciptakan sejarah diri itu sangat mudah. Kalau
orang-orang dulu rela memahat karya dan tulisannya di batu atau kayu demi
namanya dikenang orang lain. Maka, kenapa kita nggak memanfaatkan kemudahan
saat ini untuk meciptakan sejarah kita? 3. Bukankah segalanya jadi lebih mudah
ketika orang lain bisa mengenal kita tanpa kita perlu menjelaskan siapa dan
bagaimana diri kita?
Ah, segala sesuatunya hanya Allah yang paling tahu.
***
“Eh, kalian kok beda ya sama kami? Emang beda ya panduan
SKRIPSInya?”
“Beda-bedalah tiap fakultas Ren.”
“Kita nggak pake Abstrak kan El di dalam SKRIPSInya?”
“Maksudnya Ren?”
“Abstrak kita kan letaknya cuma di jurnal, kalau di
SKRIPSInya nggak ada.”
“Hehhe, aku kurang tahu deh Ren. Prosesku belum sampek sana
soalnya. Hihii.” Hal yang beberapa waktu ini khawatir dipertanyakan oleh Reni,
malah saat ini sudah ku pertegas.
“Emang aneh El nih,” timpal Rini.
Reni kembali fokus kepada pilah-pilih film di laptop Rini
yang ingin dikopinya.
“Ren, kawanmu itu apa kabarnya sekarang?” tanyaku.
“Dia mau nikah kan?” jawab Reni.
“Masa iya? Kapan?”
“Nggak tahu sih, kemarin status-status di FBnya ku lihat
arahnya ke sana.”
“Siapa? Si **a ya?” tanya Rini. Dia ngerti banget dengan apa
tujuanku. “Udah lah El, move on lah!”
Aku mengedip-ngedipkan mata kepada Rini supaya diam, jangan
melanjutkan kalimat itu lagi di depan Reni.
“Kemarin waktu wisudanya, mu datang?”
“Datang.”
Lagi-lagi tentang kenangan itu. Lagi-lagi aku mengenangnya; Persahabatan yang tak terselamatkan.
Selintas, aku memandang ke arah Rini. Ntah dengan siapa
saudara sekamarku setelah Rini. Sudah tak terbantahkan lagi tentang niat Rini
untuk segera pulang setelah ini. Beberapa sosok bermunculan silih berganti di
benakku; adakah salah satunya yang terlihat cocok denganku? Ternyata tidak ada.
Aku tak yakin bisa. Akankah aku sendirian saja?
Fikiranku melambung, meretas kegelisahan tentang segala
ketidakpastian di masa depan. Hingga bermuara pada kepulangan yang sudah tentu pasti;
Kematian.
Ya Allah, jika Engkau
bertanya terlebih dahulu setiap kali Engkau akan ‘menjemput’ kami, kami pasti
akan selalu menjawab, ‘Ya Allah, tunda dulu, aku belum siap.’ Untuk itulah
Engkau selalu memberi kejutan tentang kapan kami akan Engkau bawa pulang ke
‘kampung halaman.’ Tentang ini, Engkau ingin mengajari kami untuk selalu siap setiap saat. Karena
kesiapan adalah hasil dari persiapan, bukan penundaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar