Hal yang 'sesuatu' banget itu adalah ketika aku berniat untuk
ber-MOTOR FREE DAY ke kampus dan ternyata pas sampai di kampus aku baru sadar
bahwa HPku tertinggal. Astaghfirullah.. Sebenarnya tentang kasus tertinggal ini dan itu bukanlah hal baru dalam hidup seorang Elysa. hihii. Tugas selama sekolah dan kuliah pun sering banget tertinggal bahkan belum dikerjakan. hikss.
Aku beranjak dari ruang tunggu, mendekati stafnya pak
Suarman. “Bang, boleh saya pinjam HPnya untuk SMS Pak Suarman?”
“Boleh, silahkan.”
Assalamualaikum Pak. Bapak sedang di mana? Elysa mau bimbingan sama bapak kalau bapak ada waktu. Elysa udah di ruangan bapak ni..
Bentar yaa…
Demikianlah balasan pak Suarman atas SMSku. Ademmmm banget
bacanya. Makasih ya Allah udah menganugerahiku PA sebaik pak Suarman. Huhuuu.
Sambil menunggu pak Suarman, aku baca-baca Koran dan selfian, hehe. Emang ya,
kalau mau baca Koran yang up to date
itu harus rajin-rajin nongkrong di Fakultas, BEM, Balai Bahasa atau Rektorat.
Hemmm…
“Duduklah di sini, silahkan… Elysa di dalam ya duduknya,”
pinta pak Suarman. Ada 3 mahasiswa (Sepertinya sedang S2) yang berbincang
(mungkin sedang konsultasi tesis) dengan pak Suarman. Aku duduk di dalam
ruangan pak Suarman sambil mengetik tulisan ini. hehe.
“Gimana proposal Elysa?” tanya pak Suarman ketika ia masuk
ke dalam untuk mengambil sesuatu.
“Udah diACC sama Pak Danur kemarin Pak.”
“Emmm…berarti saya juga tinggal tanda tangan kan?” tanya pak
Suarman, enteng.
“Hemmm…masalahnya Pak, ada masalah.”
“Masalah apa?”
“Pak, Danurnya nggak setuju dengan tulisan Elysa ini.”
“Ohh…gituuu,” ujarnya sambil ke luar kemudia berbincang lagi
dengan 3 mahasiswanya.
Melihat pak Suarman, aku jadi teringat dengan mimpiku untuk
bisa SELALU ADA untuk orang lain yang membutuhkanku. Tapi, aku harus
menyelesaikan diriku dulu; Merapikan yang berserak dan menyelesaikan yang belum
selesai. Terutama ya yang satu ini; Aku harus nyelesaikan SKRIPSI ini segera
pemirsaaa.. doain yak ^_^
Rini mah enak, udah selesai. Udah nggak se-stress kemarin.
Udah bebas, meskipun masih bersyarat. Hemmm… gimana sih rasanya udah ujian SKRIPSI itu? Bakal sesenang menang LKTI kah? *Ngaco banget nih aku.
***
Cekkk… kakak mau makan
di Ayam Penyet Balai Bahasa nih.. sayang Cek nggak ada di sini..
“Kak, Ayam Penyetnya ada Kak?”
“Ada Kak. Mau yang bagian mana?”
“Sayap ya Kak.”
“Okehh. Oktanya mana Dek?”
“Nah itu dia masalahnya, dia sedang KKN Kak. Makanya nggak
ada teman main saya Kak. hehe.”
“Itulah ya, biasanya dia yang heboh kali. Teriak-teriak.
Sampek kapan dia KKNnya Dek?”
“Sampek akhir Agustus inilah Kak.”
“Setelah itu, dia langsung masuk ke kampus?”
“Iya Kak. Ya langsung ke sini dia ntar.”
Cekkk, Kakak belajar
sesuatu darimu; Ternyata untuk dicintai oleh orang banyak orang, menjadi orang
yang baik aja belum cukup Cek, kita mesti jadi kebahagiaan buat orang lain.
Contohnya adalah kamu kepada Kakak ini
dan Kakak ini kepadamu Cek.
Aku menikmati makan siang ditemani dengan mini series
berjudul Bicara Cinta yang ku download dari Youtube. Gile, kece
banget pokoknya. Wajib ditonton sama anak muda yang deket banget dengan rasa
GALAU *kayak yang sedang nulis ini, ehehe. Meskipun sederhana, tapi bener-bener
mencerahkan. Supaya yang keliru dalam mencintai, bisa segera menemukan jalan
kembali; Putusin dengan indah atau menikah dengan berkah. Ada kalimat yang
indah banget dari film ini; Bertemu
dengan orang yang membuatmu jatuh cinta adalah anugerah dari Allah, tapi
bagaimana caramu mencintaimu adalah murni pilihanmu sendiri yang akan diminta
pertanggungjawabannya di hadapan Allah nanti. *Keceeee binggo.
“Berapa Kak?”
“Rp 12.000 Dek.”
Loh? Bukannya terakhir
ke sini sama Okta masih Rp 10.000 ya? Atau udah naik?
“Makasih ya Kak..”
***
Dari Balai Bahasa, aku menuju jalan setapak yang terletak di
belakang Mapala Suluh. Biar deket ke kosan.
“Eh, Kakak ada di belakang rupanya,” sapa Icun, adek di
kosan.
Aku mempercepat langkah untuk menyamai Icun dan Lisa. “Adek
darimana ini?”
“Ngurusin acara PKA Kak.”
Kalau dengar PKA, aku jadi ingat dengan Anggi—teman
sekelasnya Lia yang waktu PKA berani maju ke depan untuk memamerkan suara
emasnya. Anak-anak yang lain pada minta tambah lagu pula waktu itu.
Wahhh..jadilah Anggi cowok yang hari itu
diteriakin “Afgaaan” sama cewek-cewek lantaran dia pakai kaca mata dan punya
lesung pipit. Waktu itu aku mikir konyol, Wah,
kehidupan Anggi di kampus pasti bakal kayak di film-film yaa. Terkenal dan
disukai banyak orang..ckckck. Waktu itu, aku masih alay makanya
pemikirannya pun alay. Hihi. Terbukti bahwa ternyata Anggi normal kok
kesehariannya di kampus. Nggak ada yang ngejar-ngejar dia bagai seorang artis
kayak yang aku bayangin. Hehe.
“Eh, dah banyak aja jualannya Kak,” kata Lisa kepada kak
Dewi.
“Apanyaa yang banyak niii?”
Ah, ekspresi itu lagi!
Nggak bisa lebih ramah apa? Atau biasa aja jawabnya, Kak? Bisa-bisa orang
yang niatnya mau ramah, jadi nyesel memutuskan untuk ramah.
“Bawa sini uang Kakak kalau nanya-nanya gituu!” sahut si
*ajri. Cuek.
Mataku nanar menatapnya. Meskipun bukan kepadaku dia berkata
begitu, tapi tetap aja itu kelewatan. Bagaimana mungkin anak kelas 5 SD lancang
sekali bicaranya seperti itu?
“*ajri kok gitu ngomongnya?!” sengatku seketika, di depan
orang tuanya. Sejak dulu kala, aku nggak bisa nahan diri kalau ada anak-anak
yang nggak santun gitu. Aku berani negur atau bahkan mukul anak orang di depan
orang tuanya kalau memang itu kelewatan banget. GRRRRRRR! Menyebalkan!, gerutuku dalam hati.
HUHHH! Ku hempas tubuhku di atas tempat tidur. Lisa dan Icun
tadi faham sepertinya kalau aku benar-benar marah. Tapi, bedanya mereka
denganku adalah karena mereka jauh lebih legowo (baca: Sabar).
***
Usai sholat Zuhur, aku bergegas mengisi form Pendaftaran
Yudisium yang tadi ku ambil difotokopiannya bang Indra. Ada 5 halaman yang
harus ku isi di sini dan ada buanyak banget persyaratan yang harus ku lengkapi.
Apa-apa aja yang belum lengkap itu langsung ku rekap di buku pocketku supaya
besok bisa langsung ku eksekusi. Aku nggak mau hal-hal teknis dan
administrative begini menghalangi proses. Semangaaaaaaaaat!!!
Aku ketemu Xhyntica tadi di fotokopian. Dia ramah banget
sama aku. Aku tanya-tanyain, dijawabnya dengan ramah.
“Eliss kapan lagi?”
“Ni sedang proses Kaa.”
“Semangat ya Elisss. Elis pasti cepat tuh ngerjainnya. Elis
pasti bisa!”
Ah, lagi-lagi semboyan itu lagi. Elysa kan udah biasa nulis. Semalam aja langsung selesai tuh! How
amazing they are about me ^_^ aku amiinin aja di dalam hati. Semoga ya Allah.
“Bang, foto kopi syarat Yudisiumnya ya Bang rangkap 1.”
“Weehhhhh… mantap Liiisss!” kata Xhyntica (dia dipanggilnya
Tika kok, jadi nggak seribet tulisannya itu).
“Biar bisa ku angsur Kaaa. Ya kan?”
“Bener banget itu Lis. Sekaligus memacu kita untuk semangat
ngerjainnya. Semangaat ya Eliiisss.”
"Makasih Tikaa..Tika jugaakk. Selamat yaaa..."
"Iya Lis, tapi sekarang aku jadi pengangguran kann...hahahha." Tika terkekeh karena pernyataannya sendiri. Pun aku. Lucu tapi memang benar yang dikatakannya.
Seingatku, aku nggak punya riwayat konflik dengan Tika
selama ini. Meskipun kami nggak sekelas sejak awal, tapi dia sangat ramah
kepadaku. Ramahnya itu nggak terkesan dibuat-buat. Benar-benar ramah yang
ramah. ^_^ semoga urusanmu selalu lancar ya Kaa.. aaamiin ya Allah.
“Mau ke mana lagi Rin?” tanyaku kepada Rini yang baru aja
pulang dan mau pergi lagi.
“Ada lagi yang mau diurus nih El. Eh, kayaknya Yudi terancam
nggak bisa selesai Oktober ini El. aku tadi kan ketemu dia dan katanya kartu
kehadiran Ujian Proposal atau SKRIPSInya itu hilang. Padahal, itu wajib
dikumpulin kan minimal kami harus hadir 5 kali. Yah, dia harus bikin yang baru
lagi dan ngikutin seminar dulu untuk ngisi kartu itu.”
Ya Allah, Yud…. kasihan
kamu, Nakk... Ya Allah, tolong bantu lancarkan segala urusannya dan semoga dia
terkejar wisuda bulan Oktober nanti. Berilah keajaiban-Mu kepada kami yang tak
henti berharap dan berusaha ini. amiin.
***
Cuy, nggak jadi
nitip power rangernya(baca: Choco canger) soalnya aku udah nitip sama Rencuy
(baca: Reni).
Ini efek
kecanduan sama Chocolate changet nih! Nggak sabaran banget pengen menikmati
lezatnya lumeran cokelat dalam minuman yang satu ini. Kebetulan Reni nawarkan
diri untuk dititipin, ya udah deh, sikaaaatt..
Pas Reni
kembali dan menyerahkan pesananku itu, langsung aja ku teguk dengan hikmat nih
minuman. Ya Allah, mungkin vampire sesenang ini ya kalau minum darah manusia.
Haha *kebanyakan nonton film horor ya begini.
Sore ini, aku dan Rini berniat untuk beli mie goreng brebes
di ujung jalan Bina Krida. Demi diet dan demi menghemat bensin, aku mengajak
Rini jalan kaki. Syukurlah punya temen kayak Rini yang manut-manut (baca: Nurut) aja.
“El, pinjam duittt.. Nggak ada lagi uangku,” pinta Rini
dengan logat Batak.
“Ada nya uangku Nangboruuu, yang tak ada nya waktuku
mengantaaar,” jawabku dengan gaya yang di dubsmash. Hehe.
Aku ngajak Rini lewat jalan pintas di pertengahan gang ini,
belok ke kiri, ntar tembusnya langsung ke Manyar.
“Eh, Rin! Tengoklah Adek itu, lucu kali kan dia. Belum bisa
jalan dia tuh.”
Rini menoleh ke tempat Laundry sebelum kami berbelok ke
kiri. “Tumben El suka sama anak kecil?”
“Ya, karena aku tahu namanya pasti bukan MELISA.”
“Oh, jadi El sayangnya milih-milih ya?”
“Iya. Asal nama anak itu jangan mirip sama namaku.”
Kami baru tahu bahwa ada yang jual lauk pauk juga di sekitar
sini. Aku dan Rini jadi punya ide kalau malas jauh-jauh ke luar beli lauk, kami
bisa ke sini aja.
“Apartemen yang ini ngeri kali loh El. Kalau malam nggak ada
sama sekali lampu di terasnya. Hancur betul!”
“Apartemen yang mana Rin?”
“Kosan cowok yang itu loh! Kan tulisannya ‘Apartemen’ dibuat
orang itu.”
“Ohh hooo..iya ya. Namanya nggak tanggung kerennya, tapi
parah banget tempatnya. Nggak cocok namanya tuh.”
Beberapa meter lagi kami sampai di ujung jalan. Eh,
perhatian kami tercuri oleh ayam gendut yang sedang mencari makanan di halaman
rumah. Aku menduganya adalah ayam Bangkok.
“Dia dari Thailand berarti El?”
“Emmm..tapi kayaknya dia lebih cocok dikasih nama Ayam
Bungkuk deh, bukan Ayam Bangkok. Soalnya bahunya bungkuk dan gendut gitu. Hehe.”
“Ah, syudahlah. Stop
talking bulsyit, El.”
“Loh? Ini kita nembusnya ke mana ya Rin? Kok kayaknya asing
gini jalannya? Wah, atau aku amnesia?”
“Plis deh El, tapi El tadi yang ngajak mintas lewat sini? Ini
kan menuju Manyar loh. Kita langsung sampek ke tempat Mie Brebes.”
Aku mengikuti langkah Rini sambil terus menebak jalan ini.
“Yaahhh…kaannn..tutup Brebesnya Elll.”
“Iya ya, gimana nih jadinya?” aku mengedarkan pandangan ke
sekitar. “Atau kita beli sate aja Rin?”
“Emmm..boleh juga. Beli gorengan juga yuk?”
Rini memesan sate dan aku membeli gorengan. Tapi, tunggu
dulu! Uangnya manaaaaaaaaaaa?
“Rin, uangku tadi sama Rini? Yang Rp 50.000 tadi ku keluarkan dari tas loh.”
“Nggak ada sama aku. Kan El tadi yang megang.”
Aku bener-bener merasa uang itu ada di dalam kantong
kardigenku, tapi kok beneran nggak ada ya? Duh! Aku pasti ada berbuat dosa
tadi, makanya Allah negur aku kayak gini. Hikss.
“Bawa aja dulu gorenganya Lis. Nggak apa-apa kok.”
Untung aja aku kenal dengan kakak penjual gorengan ini
soalnya dulu pernah berdampingan jualan waktu aku masih jualan Jamur Crispy.
“Aku pulang dulu ya, pasti uangnya ketinggalan nih,” kataku
kepada Rini.
“El nanti salah jalan pula? Nanti nyasar. Aku ikut pulang
ajalah.”
“Tapi satenya udah dipesan, macam mana bah!”
“Ya tinggal batalin aja.”
“Nggak usah. Tunggu di situ! Aku nanti bawa motor.”
“Yakin tahu jalan, El?” Rini segitunya meragukanku
pemirsaaa..hikss.
“Yakin dah!”
Baru beberapa meter aku berjalan, aku teringat bahwa aku
melupakan sesuatu yang sangat penting.
“Woy! Kuncinya mana woy! Percuma aku jauh-jauh pulang kalau
kuncinya nggak ada.”
Rini memberikan kunci kamar sambil tertawa cekikikan. Huft!
***
“Duh, mana ya? Kok nggak ada?”
Aku mencari di atas tempat tidur, nggak ada. Di dalam tas,
nggak ada. Di dalam rok tadi, nggak ada. Terus ke mana uangnya? Ya Allah, Engkau menegurku karena apa? Karena
aku nggak suka sama Meme anak tetangga depan ya? Atau karena seharian ini aku
gangguin hidup Rini? Maaf ya Allah. Tapi uang Rp 50.000 itu berarti banget buat
hamba ya Allah. Tolong kembalikan kepadaku.hikss.
Akhirnya ku ambil selembar lagi uang Rp 50.000 dari tempat
persembunyiannya. Hehe. Hemmm..kayaknya aku harus balik ke sana dengan berjalan
kaki lagi. Aku nggak mungkin naik motor sementara aku yakin bahwa uangku itu
pasti tercecer. Meskipun ada kemungkinan udah diambil orang yang lewat, tapi ku
izinkan diriku puas dengan menyempurnakan sekali lagi penelurusan ini. Bismillah.
Aku ingat bahwa pertama kali ngeluarkan HP itu di dekat tempat
Laundry ini. Yap, pasti uangnya di sekitar sini jatuhnya. Mataku sangat awas
melihat jalan setapak berumput di kiri kanannya ini. Kalau nggak ketemu di
sini, pasti di dekat ayam Bungkuk tadi karena di sana aku ngeluarin kamera
untuk memfotonya.
“Alhamdulillah ya Allah! Terimakasih ya Allah…” ujarku penuh
kelegaan ketika aku melihat kertas biru-biru yang masih tergulung itu. hiksss. Ternyata
firasatku benar, uang ini masih menjadi rezekiku. ^_^
Rini pasti mikirnya aku kesasar nih gara-gara aku lama
bangetsss. Nggak apa-apa deh, yang penting malam ini jadi makan sate dan
uangnya udah ketemu. Ye yee yeee. Ah, kamera ku tinggal pula, kan aku mau
memfoto TKPnya nih. Hihiii *Syudahlah narsisnya, El..!
***
El kemarin pulang bawa buku-buku? Tanya mami.
Bawa Mi, tapi ada 1
yang ketinggalan di rumah. Judulnya Menghidupkan Karakter Tokoh.
Ohh… ntar dicari. Maksudnya
tu bawa buku-buku cetak banyak nggak
untuk ditinggal di rumah? Kalau ada kapan-kapan mau beli lemari.
Ada mi, kan 2 kardus
kemarin isinya pakaian sama buku-buku. Yaaa… tapi kok dibilang sekarang sih mi?
kan nggak surprise jadinya…
Kan kapan-kapan belinya. Tahun depan bisa jadi atau tetap
menjadi kapan-kapan. Hehe.
“Rin, itu
film apa yang Rini tonton? Film 3 anak kembar yang nggak jelas kerjaannya itu?”
“Nggak kok.
Ini lain lagi. Ini reality show gitu, 2 artis yang dijodoh-jodohkan. Tapi nggak
beneran kok.”
“Reality show
tapi bohongan? Macam mana nyaa?! Kurang kerjaan kali ya ternyata orang Korea
itu. banyak banget acara reality show nggak penting gitu. Nggak ada kerjaan
orang tu yang lain rupanya?”
“Nggak
adaa..hehe.”
Aku kembali
menyibukkan diri dengan merapikan lemari dan mix and match untuk baju yang ku
pakai besok. Rini melirik ke arahku.
“Owalahhh
tutoriaaalll..tutoriaaallll..” kata Rini ketika melihatku berkreasi dengan
baju.
“Hihiii..eh,
aku baru nyadar ternyata Rini tu gilak reality show sedangkan aku gilak
tutorial.”
“Iyaa yaa. Bener-bener-bener.”
Seperti biasanya,
jam 9 pasti Rini udah bersiap-siap tidur. Emng dasar Koala tuh bocah. Koala kan
binatang yang paling banyak tidurnya, kalah kucing dibuatnya ternyata. Hihii.
“El kalau
mau minjam HPku taruk lagi di dekatku. Jangan taruk di dekat El. Biar nggak
kecarian aku.”
“Emang apa
masalahnya? Pelit kali punnn dipinjam.”
“Masalahnya
alamrnya nanti nggak kedengaran kalau sama El HPnya.”
“Ya kan
tadi malam ku taruk di antara kita berdua. Jadi, biar aku juga kedengaran
alarmnya.”
“Halaaahhh!
El tuh nggak perlu dengar alarmnya! Mau alarm kayak bom pun El nggak akan
terbangun juga.”
… itulah Cek, beda
pemikiran banget. Kak jelasin kayak gitu karena kakak nggak pengen dia salah
faham kalau ternyata kakak nanti menikah sebelum tahun 2018 dengan orang lain. Karena
alasan Kakak menolaknya bukan karena tahum tapi karena caranya yang nggak
tepat.
Aku sedang
SMSan dengan Novi tentang problema hati pemirsaaa…
Ihh… padahal dia udah
besar, tapi kok nggak ngerti
juga sih Cek? atau dia emang lugu?
Ntahlah Cek. Malas pula
kakak jelasinnya. Dia pun nggak berusaha cari tahu. Kakak kan nanya, apa yang
mau dicapainya rupanya di tahun 2018 itu? Dijawabnya, nggak ada. Bahkan,
katanya dia semakin ragu antara 2019 atau 2020 aja menikahnya. Makin nggak
jelas aja visi hidupnya kan Cekkk? Huh! Ntahlah..
Iya ya kak Cekkk..
semangat kak El Cekkk. Kalau jodoh pasti menyatu. Wkwkwkkw. Fokus aja sama SKRIPSInya
Kak Cek. (Emot cium)
Makasih dek Cekkk...
Ku lirik
Rini. Ternyata dia belum tidur, masih ngotak-ngatik HPnya.
“Rin, masih
ingat kan kisah tentang pentingnya menyatakan perasaan dengan seseorang? Intinya,
jangan sampai kita kehilangan jodoh atau rezeki kita hanya karena kita nggak mau melebihkan usaha untuk menjelaskan.”
Rini
manggut-manggut.
“Nah,
itulah alasanku untuk menjelaskan ke Kakak itu kemarin bahwa target menikahku
tahun 2017. Kan dia tahunya aku nolak dia karena aku belum siap menikah tahun
2018. Padahal bukan itu. Setidaknya, setelah aku menjelaskan semuanya, nanti
aku nggak disalahkan oleh diriku sendiri Rin. Aku nggak mau nanti terucap, ‘Itulah
El, dulu kamu nggak ngomong dengan jelas sih yang sebenarnya!’ Aku nggak mau
Rin. Aku menghargai niat baiknya, meskipun salah. Dan, aku juga udah jelasin
semuanya. Kalau memang kami nggak berjodoh, setidaknya nggak disebabkan karena
ketidaksempurnaan kejelasan. See?”
“Hemmm..arassooh.”
Padahal Rini
kemarin marah-marah waktu aku jelasin hal itu ke dia. Syukurlah sekarang dia
berpihak kepadaku.
“Kalau
tentang menyatakan cinta sih, aku tetap nggak setuju Rin. Tapi, aku setuju dengan
pentingnya menyatakan kejelasan. Karena,
menyatakan cinta itu resikonya besar Rin. Misalnya nih, Rini udah lama naksir
sama si Anu, terus Rini menyatakan cinta sama dia, maka Rini harus siap kalau
dia mau langsung melamar Rini. Ya, apa lagi? Justru bakal dosa kalau dia udah
terlanjur tahu perasaan Rini tapi kalian nggak langsung menikah. That’s why I said,
menyatakan perasaan itu resikonya besar.”
“Hemmm…huhuu..bener-bener-bener,
El.”
“Makanya,
aku suka banget dengan semboyanku; Mencinta
diam-diam, melupakan diam-diam. Karena, cinta itu relative Rin. Semakin dewasa,
kita akan semakin realistis kalau cinta
itu nggak cukup untuk membangun rumah tangga. Bisa jadi Rini suka sama si Anu,
tapi ternyata yang serius menikahi Rini si Ini, yah kemungkinan besar Rini
pasti akan memilih si Ini, meskipun awalnya nggak cinta. Cinta itu bisa
nyusuull Rin.”
“Keren
banget kamu, Bung!”
Sebenarnya,
apa yang ku jelaskan di atas itu berasal dari Mami. Yap, mami itu guru cinta bagiku. Mami banyak tahu dan
banyak nasehatnya kalau tentang yang satu itu. love yuuh mamiihhh..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar