Selasa, 11 Agustus 2015

Sibuk dengan yang Besar, yang Kecil Akan Ikut


“Eh, tanganku nggak kram lagi Rin. Alhamdulillah,” ucapku sambil mengibas-ngibaskan tangan. Beberapa malam kemarin, baru aja tersabar dari tidur, langsung deh terasa kramnya. Makasih ya Allah. Jauhkan kami dari penyakit besar. Aamiin.
“Syukurlah. Eh, cepatlah makan, udah hampir jam setengah 5 lewat loh.”
“Iya, iya.”
Aku menyapu wajahku dengan kedua tangan sebelum meninggalkan tempat tidur. *Ini sunnah loh, udah tahu kan pemirsaa? ^_^ Aku segera mencuci muka dan menyantap makan sahur dengan sambal tadi sore; Ikan laut bakar. Nyummiii…
“El, nih! Nggak habis sama aku,” Rini menawari Bakwannya kepadaku.
“Berarti ini emang rezekiku Rin.”
Selepas berbuka puasa, Rini sempat menghalangi rezeki pemirsaa.. Waktu ku tanya, “Rini mau bakwannya 1 aja atau 2 2nya?” karena ku tahu dia kurang suka bakwan. Eh, seolah nggak rela kalau aku bahagia, dia jawab, “2 2nya lah.”
Lihat kan sekarang? Kalau rezeki, emang nggak bakal ke mana. Huahhhh.
“Rin, Rin! Lihat ada kalang jengking di situuu!” pekikku.
Dengan santainya, om Kala hitam lewat di depan kami. Tanpa permisi, tanpa menundukkan kepala *Huh, nggak sopan! Hehe.
“Untung aja kita udah bangun Rin. Untung aja Rini nggak tidur di bawah malam ini. Wahh…Allah melindungi kita Rin. Itu berbisa bukan main loh racunnya kalau nggigit.”
Sambil menyuap nasi, aku terus memperhatikan om Kala yang perlahan bergerak ke luar kamar. *Mau nyari selimut tetangga kali nih! Haha.  Tapi, aku jadi khawatir kalau om Kala masuk ke kamar Reni dan Reni disengat gimana?
“Kalau di rumah, pasti udah langsung dibunuh tuh sama Papi. Tapi, kalau sekarang ku bunuh sementara dia nggak ngganggu kita, kasihan. Tapi, kalau kita nunggu dia ngganggu kita, kitanya yang kasihan. Duh! Gimana ini?”
Ku buka pintu kamar untuk memastikan keadaan.
“Loh, kemana Kala Jengkik tadi? Kok udah ngilang aja?”
Aku tetap makan sambil menghadap ke luar kamar.
“Rin, orang-orang tua dulu tu percaya kalau ada binatang buas tiba-tiba muncul, itu tandanya kita sedang diingatkan dengan hutang-hutang kita di masa lalu yang belum kita lunasi. Yah, percaya nggak percaya sih. Ini adalah pelajaran Rin; Bagaimana pun kita merasa nyaman, waspada itu tetap perlu!”
Ingatanku langsung bertambat kepada 4 nama; bu Dora, bang Alfred, Mami, Papi. Ya, aku punya hutang kepada mereka. hiksss..

***
“Rini jelek loh pake yang itu! Pakelah yang warna krem napaaa. Biar cerah dikit. Hitam ke hitam aja!”
“Biarlahh, aku emang suka kali sama warna hitam pulaknya. Kalau aku pakai jilbab ini cock nggak?”
“Ungu? Sama hitam? Gelap. Kenapa nggak pink aja sekalian?”
“Pink udah bosann...”
“Terserah lah. Buatlah buaattt!”
“Iya ya, kan aku cuma minta pendapat aja. Keputusan ada di tanganku. Kayak kemarin kan waktu El nanyan, ‘Rin, cantik nggak blazernya?’ ya ku jawablah menurutku nggak cantik. Hehe. Sebenarnya sesimple itu aja kan?”
Rini tetap mewujudkan keinginannya. Rok hitam, baju hitam, jilbab ungu. Ungunnya nanggung pulak tuh warnanya. Terserah deh, yang penting ternakku nyaman.
"Rin, Abang yang dari Dompet Dhuafa kemarin udah di depan. Tolong ambiliin Rin, Rini kan udah siap-siap nii."
Rini ke luar dan segera kembali lagi. Ini sudah kali keduanya yang mengambil laporan itu bukan aku, tapi Rini.
"Apa sih ini El?"
"Laporan konsolidasi Dompet Dhuafa Rin. Aku juga nggak ngerti. Soalnya aku kan sedekahnya juga udah 2 bulan yang lalu. Tapi, tiap bulan dikasih laporannya terus nih."

Aku kembali fokus nonton Taken 3. Rini ikutan nimbrung, menjelang Ika njemput. Mereka mau menghadiri syukurannya si Adis karena sekarang udah lanjut S2 di UGM cab. Depok. Aku salut banget dengan film Taken 1, 2 dan 3 ini; Menceritakan bagaimana sosok ayah yang sangat mencintai anak perempuannya. Nggak pernah marah  sama anaknya, sampek manggilnya aja ‘Princess’. Udah sering banget anaknya nyaris celaka, tapi ujung-ujungnya semua bandit itu dihabisi bapaknya. Keyeenn..! Yang lebih keyennya lagi si Liam Nelson (tokoh bapak) itu baru saja masuk Islam loh. Luar biasa kan? Semoga ia istiqomah dan semakin sempurna keislamannya. Meskipun, hanya Allah lah yang paling tahu sejauh mana ukuran kesempurnaan itu. ^_^

***
Om kok curang sih ninggalin Elis?
Komenku di unggahan foto Zega, teman sekelasku selama di tingkat 1.
Macam mana lagi Lis, udah waktunya memang. Hehe.
Bukan hanya Zega, Miming juga. Terlintaslah dibenakku untuk menuliskan ucapan selamat wisuda kepada mereka dalam bentuk puisi. Sengaja ku posting di blog, supaya pemirsaaku semakin banyak. Hehe. *Modus. Alhamdulillah, mereka suka. Semoga ketika kelak mereka rindu kepadaku, mereka udah tahu harus bertamu ke mana ^_^
Hari ini Zega, Miming, Inur yang udai S.Pd, kamu kapan El? (Mulai aja belum). Nggak bosen ditanyain terus dan diharapkan terus? (Capek sih). Terus kenapa nggak bergerak juga? (Iya nih, hiksss) Ayo donk, move on! Kalau kita disibukkan dengan mengejar target-target besar, yang kecil-kecil itu bakal menyesuaikan secara otomatis tuh! *sedang mencoba menasehati diri sendiri.

Eh, kak, si abang itu komen lagi loh di status Novi. Dilampirkannya foto kakak masuk Koran juga. Sihiiiyyyy…
Hahah. Really? He loves me badly, cek.
Hhaha..pasti lagi senyum-senyum sendiri ini kak El…
Kak langsung ke TKP nih. Mau lihat komennya. Sihiiiyyy…
Kebetulan, kakak emang sedang nyariin Koran itu sejak kemarin cek.

Dengan sabar dan tawakal, ku tunggui putaran loading di jendela Firefox.
“Ah, yang lamaan nyaaa!”
Dan, setelah terbuka, langsung ku klik bagian perkomentarannya Novi.
“Loh? Kok nggak ada apa-apa? Masih komenku yang semalam isinya.”
Nggak ada kok cek. Hiksss
Hah. Iyaaa kok nggak ada lagi? Barusan Novi lihat padahal. Ahhh..cemmanaanya abang kak elcek niii.. seriusan loh tadi dia komen dengan melampirkan foto Koran kakak yang smart gen pakai baju pink. Tulisannya kalau nggak salah ”Novelkan kisah hidup pribadi” gitulah. Kok dihapusnya lagi ya?
Aku tahu, Novi sedang berusaha mengingat dengan keras di sana. Tapi, mau gimana lagi, memang udah nggak ada apa-apa di sana. Eh, nanti dulu! Jangan-jangan dia kabur gara-gara Novi mention namaku? Hahah.. Bener nih, Novi pasti pengen aku tahu, makanya aku dimention. Dan, dia nggak pengen aku tahu. Mungkin. Ah, biarlah saja dia di sana. Dan, aku di sini. *Thx ya cekk, atas infonya. Hehe. You must read this writing, right? Hehe.

Rini baru saja pulang dan aku langsung menceritakan misteri hilangnya komentar pria bermata sipit. Hehe. Aku pun bercerita tentang 1 kasus penipuan yang nyaris membuatku dan Rini tertipu juga. Jadi, begini ceritanya. 2 kali terakhir kemarin, setiap aku dan Rini ngambil motor di parkiran SKA, selalu aja kami dapat brosur Lowongan Kerja dari PT. HDN Indonesia. Pekerjaan kita adalah ngelem tali dan bungkus teh. Waktu pertama kali dapet brosur itu, aku sempat curiga, “Rin, aneh juga ya kalau emang ini perusahaan besar, kenapa masih pakai tenaga manusia? Kenapa nggak pake mesin aja supaya rapi, cepat dan biaya produksinya lebih rendah.” Aku sempat berpositive thinking juga; mungkin mereka ingin menyejahterakan masyarakat dengan mempekerjakan mereka.”
“Tapi, yang aku baca di FB tadi tu kejadiannya di Yogya Rin. Berarti penipuan ini udah nyebar ke mana-mana Rin. Ntah apalah untungnya mereka jahat gitu ya?”
“Howalaahhh… hampir aja kemarin kita mau sok cari uang jajan dengan ngelamar ke sana.”
“Itulah Rin. Aku jadi berfikir, kayaknya aku butuh punya teman seorang polisi. Biar bisa ku tangkapi penipu cap kaleng kerupuk kayak gini! Huft! Ingat kan waktu aku dapat brosur itu yang kedua kalinya? Ku bilang sama Rini, ‘Rin, kayaknya rezeki kita memang di tempat ini deh’ Tapi, waktu di jalan brosurnya terbang dan nggak mungkin kan aku muter balik hanya untuk itu? Ternyata Allah sedang ngasih petunjuk.”

“Panteslaahh… gajinya kok besar juga. Sampek El kepincut dibuatnya, haha.”
“Dari pengakuan si korban itu Rin, upah yang dijanjikan itu dipotong Rp 50.000 untuk biaya produk katanya. Lah, dia cuma dapat Rp 20.000 aja ujung-ujungnya. Dan, dibatasi pulak hanya boleh 5 kali nerima upah sebelum dia berhasil dapetin orang untuk kerja di situ juga. Pantesanlah kok tiap hari ada aja yang bagiin brosur itu! huahhh.”
Dari cerita serius seperti itu, tiba-tiba aku beralih ke cerita yang 180 derajat bedanya…
“Rin, pernah perhatiin nggak rumah yang seminggu aja ditinggal pemiliknya, pasti ntar waktu pulang, udah mulai muncul sawang-sawang (baca: Lapisan yang mirip dengan sarang laba-laba) di plafonnya.”
“Nggak pernah tuh.”
“Ah, yang bener lah masa nggak pernah perhatiin sih? Sama aja dengan rumput. Kalau kita ada di rumah, meskipun nggak kita injak-injak tuh rumput, pertumbuhannya normal aja. Tapi coba kalau seminggu aja rumah jadi kosong, pasti udah tumbuh subur aja tuh rumput-rumput. Iya kan?”
“Ada aneh-anehnya El ni..”
“Iya loh Rin. Itu misterius. Dari mana si rumput dan si sawang-sawang itu tahu kalau tuan rumahnya sedang nggak di rumah. Berarti ini adalah kasus Misteri Tumbuhnya Sawang-sawang di Dinding dan Misteri Tumbuhnya Rumput di Halaman. Hahaha,” gayaku ala detektif.
“El, El mau tahu nggak apa yang sedang ku fikirkan sekarang ngelihat El kayak gini?”
“Nggak. emangnya apa yang Rini fikirin? Aku cantik?”
“Mending El nggak usah tahu aja. Mending El nggak akan sanggup dengarnya,” jelas Rini, sok miteri.

***
Berbuka kali ini, kami langsung makan nasi karena Rini nggak beli gorengan tadi. Aku sih yess aja pemirsaa. Hhee. Setelah maghrib, aku coba nonton film Grey dari laptopnya Rincuy. Ternyata tentang 7 orang yang selamat dari kecelakaan pesawat dan berusaha survive dari buasnya srigala. Ini lebih menegangkan daripada nonton Woman in Black Cuyy… hihii.
“Rin, kucing itu kan mirip sama serigala bentuknya. Don’t-don’t, kucing itu pun selama ini cari kesempatan untuk memangsa kita Rin. Mulai besok, pokoknya kita larang 4 sekawan itu masuk ke kamar kita. Kita harus tutup jendelanya terus, biar dia nggak bsia manjat.”
Rini nggak punya jawaban sakti untuk mengimbangiku kali ini. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala.
Seseorang menelvonku di tengah jalannya film. Okta.
“Kak, tadi Mamanya nelvon Okta, sampek nangis-nangis Mamanya berterimakasih sama Okta Kak. bener-bener tersentuh kali hati Okta tadi Kak sampai Okta pun ikutan nangis. Okta bilang gini, ‘Buu.. ini semua bukan karena Okta. Ini karena kegigihan Ori Bu, doa dan restu Ibu sehingga Ori kemarin bisa pergi ke Pekanbaru untuk ngurus semuanya.’ Terus Kak, dibilangnya gini, ‘Nakk..Ibu nggak kenal siapa kamu Nak. Siapa kamu sebenarnya, Nak? Terimakasih banyak ya Nak, main-mainlah ke gubuk reot ini Nakk lihatlah Ibu di sini’ gituuu katanyaa Cekk.”
Aku menyimak sambil sesekali menggumam…

“Okta bilang gini ke Ori Cek, ‘Dek, Adeklah yang harus mengubah nasib Ibu dan Bapak. Semangat terus ya Dek, ubahlah hidup keluarga Ori dengan kesungguhan Ori’. Diulangnya lagi kalimat yang kemarin tu Kak, ‘Bang, jangan minta balasan apapun ya Bang, Ori nggak punya apa-apa Bang untuk Abang.’ Wiihh, Okta terharu kali loh Cek. Pokoknya apa-apa yang Cek ajarkan, Okta ajarkan juga ke Adek tuu. Cek, teruskanlah untuk selalu menebar kebaikan ya Cekk.”
“Amiiin. Kita saling mengingatkan ya dek.”
Barangsiapa meringankan 1 kesulitan saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya di akhirat nanti (Sebuah hadist)
“Okta jadi berfikir gini Cek, coba aja kemarin Okta nggak berusaha menolong Adek tu, sementara Okta bisa menolong, mungkin belum tentu Adek tu tertolong kan Cek? Bisa sekolah gratis pula sampai selesai.”
“Hah? Gratis Cek? Beneran gratis?”
“Iya Cekk.. langsung dibayarkan sama dosen FISIP. Ntah gimana pula kemarin Ori tu bisa jumpat Bapak itu. Mungkin pas di rektorat itulah Cek. Jadi, sekarang dia tinggal belajar yang tekun aja Cek. Okta ngelakuin semua ini karena Okta pun dulu nyaris nggak bisa kuliah loh Cek, jadi Okta tahu gimana perasaan Adek tuu. Terpenggil betul hati ini rasanya Cek.”
“Alhamdulillah… Okta adalah orang yang suka meluarbiasakan orang-orang dan sekarang sudah saatnya Okta yang akan diluarbiasakan oleh orang-orang.”
“Siihiiyyy..hehe. Okta jadi teringat betul dengan Ibu Otka Cek, katanya, ‘Nak, tolonglah orang lain sekuatmu Nak. Jangan pernah merasa berat dalam menolong orang lain ya Nak. Camkan di dalam hati, Ini nggak berat. Ini ringan. Ibu selalu mendoakanmu supaya imanmu selalu di atas. Aamiin’ gitulah nasehat Ibu Okta Cek. Luar biasa.
“Rin, targetku sebelum anak-anak ni balik dari KKN, aku udah seminar hasil. Soalnya, aku takut direcokin sama mereka, diajak main-main, eh ntar beneran lama akunya.”
“Arassooh.”

Proposal yang kemarin ku bawa ke hadapan pak Suarman sudah ku abaikan selam seminggu ternyata. Aku baru sadar. Padahal, dalam waktu sehari aja, kalau mau fokus, bisa kelar kok! Emang dasar akunya aja yang bandel. Malam ini, Rini kembali tidur dengan suara murothal dan asmaul husna. Selamat tidur ya Rinnn. Aku terharu banget. Ya Allah izinkan aku menunaikan segala yang baik-baik bersama Rini menjelang waktu yang tidak lama lagi ini.. aamiin..

Tidak ada komentar: