“Eh, tanganku nggak kram lagi Rin. Alhamdulillah,” ucapku
sambil mengibas-ngibaskan tangan. Beberapa malam kemarin, baru aja tersabar
dari tidur, langsung deh terasa kramnya. Makasih ya Allah. Jauhkan kami dari
penyakit besar. Aamiin.
“Syukurlah. Eh, cepatlah makan, udah hampir jam setengah 5
lewat loh.”
“Iya, iya.”
Aku menyapu wajahku dengan kedua tangan sebelum meninggalkan
tempat tidur. *Ini sunnah loh, udah tahu kan pemirsaa? ^_^ Aku segera mencuci
muka dan menyantap makan sahur dengan sambal tadi sore; Ikan laut bakar.
Nyummiii…
“El, nih! Nggak habis sama aku,” Rini menawari Bakwannya
kepadaku.
“Berarti ini emang rezekiku Rin.”
Selepas berbuka puasa, Rini sempat menghalangi rezeki
pemirsaa.. Waktu ku tanya, “Rini mau bakwannya 1 aja atau 2 2nya?” karena ku
tahu dia kurang suka bakwan. Eh, seolah nggak rela kalau aku bahagia, dia
jawab, “2 2nya lah.”
Lihat kan sekarang? Kalau rezeki, emang nggak bakal ke mana.
Huahhhh.
“Rin, Rin! Lihat ada kalang jengking di situuu!” pekikku.
Dengan santainya, om Kala hitam lewat di depan kami. Tanpa
permisi, tanpa menundukkan kepala *Huh, nggak sopan! Hehe.
Sambil menyuap nasi, aku terus memperhatikan om Kala yang
perlahan bergerak ke luar kamar. *Mau nyari selimut tetangga kali nih!
Haha. Tapi, aku jadi khawatir kalau om
Kala masuk ke kamar Reni dan Reni disengat gimana?
“Kalau di rumah, pasti udah langsung dibunuh tuh sama Papi.
Tapi, kalau sekarang ku bunuh sementara dia nggak ngganggu kita, kasihan. Tapi,
kalau kita nunggu dia ngganggu kita, kitanya yang kasihan. Duh! Gimana ini?”
Ku buka pintu kamar untuk memastikan keadaan.
“Loh, kemana Kala Jengkik tadi? Kok udah ngilang aja?”
Aku tetap makan sambil menghadap ke luar kamar.
“Rin, orang-orang tua dulu tu percaya kalau ada binatang
buas tiba-tiba muncul, itu tandanya kita sedang diingatkan dengan hutang-hutang
kita di masa lalu yang belum kita lunasi. Yah, percaya nggak percaya sih. Ini
adalah pelajaran Rin; Bagaimana pun kita
merasa nyaman, waspada itu tetap perlu!”
Ingatanku langsung bertambat kepada 4 nama; bu Dora, bang
Alfred, Mami, Papi. Ya, aku punya hutang kepada mereka. hiksss..
***
“Rini jelek loh pake yang itu! Pakelah yang warna krem
napaaa. Biar cerah dikit. Hitam ke hitam aja!”
“Biarlahh, aku emang suka kali sama warna hitam pulaknya.
Kalau aku pakai jilbab ini cock nggak?”
“Ungu? Sama hitam? Gelap. Kenapa nggak pink aja sekalian?”
“Pink udah bosann...”
“Terserah lah. Buatlah buaattt!”
“Iya ya, kan aku cuma minta pendapat aja. Keputusan ada di
tanganku. Kayak kemarin kan waktu El nanyan, ‘Rin, cantik nggak blazernya?’ ya
ku jawablah menurutku nggak cantik. Hehe. Sebenarnya sesimple itu aja kan?”
Rini tetap mewujudkan keinginannya. Rok hitam, baju hitam,
jilbab ungu. Ungunnya nanggung pulak tuh warnanya. Terserah deh, yang penting
ternakku nyaman.
"Rin, Abang yang dari Dompet Dhuafa kemarin udah di depan. Tolong ambiliin Rin, Rini kan udah siap-siap nii."
Rini ke luar dan segera kembali lagi. Ini sudah kali keduanya yang mengambil laporan itu bukan aku, tapi Rini.
"Apa sih ini El?"
"Laporan konsolidasi Dompet Dhuafa Rin. Aku juga nggak ngerti. Soalnya aku kan sedekahnya juga udah 2 bulan yang lalu. Tapi, tiap bulan dikasih laporannya terus nih."
Aku kembali fokus nonton Taken
3. Rini ikutan nimbrung, menjelang Ika njemput. Mereka mau menghadiri
syukurannya si Adis karena sekarang udah lanjut S2 di UGM cab. Depok. Aku salut
banget dengan film Taken 1, 2 dan 3 ini; Menceritakan bagaimana sosok ayah yang
sangat mencintai anak perempuannya. Nggak pernah marah sama anaknya, sampek manggilnya aja
‘Princess’. Udah sering banget anaknya nyaris celaka, tapi ujung-ujungnya semua
bandit itu dihabisi bapaknya. Keyeenn..! Yang lebih keyennya lagi si Liam
Nelson (tokoh bapak) itu baru saja masuk Islam loh. Luar biasa kan? Semoga ia
istiqomah dan semakin sempurna keislamannya. Meskipun, hanya Allah lah yang
paling tahu sejauh mana ukuran kesempurnaan itu. ^_^
***
Komenku di unggahan foto Zega, teman sekelasku selama di
tingkat 1.
Macam mana lagi Lis,
udah waktunya memang. Hehe.
Bukan hanya Zega, Miming juga. Terlintaslah dibenakku untuk
menuliskan ucapan selamat wisuda kepada mereka dalam bentuk puisi. Sengaja ku
posting di blog, supaya pemirsaaku semakin banyak. Hehe. *Modus. Alhamdulillah,
mereka suka. Semoga ketika kelak mereka rindu kepadaku, mereka udah tahu harus
bertamu ke mana ^_^
Hari ini Zega, Miming, Inur yang udai S.Pd, kamu kapan El?
(Mulai aja belum). Nggak bosen ditanyain terus dan diharapkan terus? (Capek
sih). Terus kenapa nggak bergerak juga? (Iya nih, hiksss) Ayo donk, move on! Kalau kita disibukkan dengan mengejar
target-target besar, yang kecil-kecil itu bakal menyesuaikan secara otomatis
tuh! *sedang mencoba menasehati diri sendiri.
Eh, kak, si abang
itu komen lagi loh di status Novi. Dilampirkannya foto kakak masuk Koran juga.
Sihiiiyyyy…
Hahah. Really? He loves me badly, cek.
Hhaha..pasti lagi
senyum-senyum sendiri ini kak El…
Kak langsung ke TKP
nih. Mau lihat komennya. Sihiiiyyy…
Kebetulan, kakak
emang sedang nyariin Koran itu sejak kemarin cek.
Dengan
sabar dan tawakal, ku tunggui putaran loading di jendela Firefox.
“Ah, yang
lamaan nyaaa!”
Dan,
setelah terbuka, langsung ku klik bagian perkomentarannya Novi.
“Loh? Kok
nggak ada apa-apa? Masih komenku yang semalam isinya.”
Nggak ada kok cek. Hiksss
Hah. Iyaaa kok nggak
ada lagi? Barusan Novi lihat padahal. Ahhh..cemmanaanya abang kak elcek niii..
seriusan loh tadi dia komen dengan melampirkan foto Koran kakak yang smart gen
pakai baju pink. Tulisannya kalau nggak salah ”Novelkan kisah hidup pribadi”
gitulah. Kok dihapusnya lagi ya?
Aku tahu,
Novi sedang berusaha mengingat dengan keras di sana. Tapi, mau gimana lagi,
memang udah nggak ada apa-apa di sana. Eh, nanti dulu! Jangan-jangan dia kabur
gara-gara Novi mention namaku? Hahah.. Bener nih, Novi pasti pengen aku tahu,
makanya aku dimention. Dan, dia nggak pengen aku tahu. Mungkin. Ah, biarlah
saja dia di sana. Dan, aku di sini. *Thx ya cekk, atas infonya. Hehe. You must
read this writing, right? Hehe.
Rini baru
saja pulang dan aku langsung menceritakan misteri hilangnya komentar pria
bermata sipit. Hehe. Aku pun bercerita tentang 1 kasus penipuan yang nyaris
membuatku dan Rini tertipu juga. Jadi, begini ceritanya. 2 kali terakhir
kemarin, setiap aku dan Rini ngambil motor di parkiran SKA, selalu aja kami
dapat brosur Lowongan Kerja dari PT. HDN Indonesia. Pekerjaan kita adalah
ngelem tali dan bungkus teh. Waktu pertama kali dapet brosur itu, aku sempat
curiga, “Rin, aneh juga ya kalau emang ini perusahaan besar, kenapa masih pakai
tenaga manusia? Kenapa nggak pake mesin aja supaya rapi, cepat dan biaya
produksinya lebih rendah.” Aku sempat berpositive thinking juga; mungkin mereka
ingin menyejahterakan masyarakat dengan mempekerjakan mereka.”
“Tapi, yang
aku baca di FB tadi tu kejadiannya di Yogya Rin. Berarti penipuan ini udah
nyebar ke mana-mana Rin. Ntah apalah untungnya mereka jahat gitu ya?”
“Howalaahhh…
hampir aja kemarin kita mau sok cari uang jajan dengan ngelamar ke sana.”
“Itulah
Rin. Aku jadi berfikir, kayaknya aku butuh punya teman seorang polisi. Biar
bisa ku tangkapi penipu cap kaleng kerupuk kayak gini! Huft! Ingat kan waktu
aku dapat brosur itu yang kedua kalinya? Ku bilang sama Rini, ‘Rin, kayaknya
rezeki kita memang di tempat ini deh’ Tapi, waktu di jalan brosurnya terbang
dan nggak mungkin kan aku muter balik hanya untuk itu? Ternyata Allah sedang
ngasih petunjuk.”
“Panteslaahh…
gajinya kok besar juga. Sampek El kepincut dibuatnya, haha.”
“Dari
pengakuan si korban itu Rin, upah yang dijanjikan itu dipotong Rp 50.000 untuk
biaya produk katanya. Lah, dia cuma dapat Rp 20.000 aja ujung-ujungnya. Dan,
dibatasi pulak hanya boleh 5 kali nerima upah sebelum dia berhasil dapetin
orang untuk kerja di situ juga. Pantesanlah kok tiap hari ada aja yang bagiin
brosur itu! huahhh.”
Dari cerita
serius seperti itu, tiba-tiba aku beralih ke cerita yang 180 derajat bedanya…
“Rin,
pernah perhatiin nggak rumah yang seminggu aja ditinggal pemiliknya, pasti ntar
waktu pulang, udah mulai muncul sawang-sawang (baca: Lapisan yang mirip dengan
sarang laba-laba) di plafonnya.”
“Nggak
pernah tuh.”
“Ah, yang
bener lah masa nggak pernah perhatiin sih? Sama aja dengan rumput. Kalau kita
ada di rumah, meskipun nggak kita injak-injak tuh rumput, pertumbuhannya normal
aja. Tapi coba kalau seminggu aja rumah jadi kosong, pasti udah tumbuh subur
aja tuh rumput-rumput. Iya kan?”
“Ada
aneh-anehnya El ni..”
“Iya loh
Rin. Itu misterius. Dari mana si rumput dan si sawang-sawang itu tahu kalau
tuan rumahnya sedang nggak di rumah. Berarti ini adalah kasus Misteri Tumbuhnya
Sawang-sawang di Dinding dan Misteri Tumbuhnya Rumput di Halaman. Hahaha,”
gayaku ala detektif.
“El, El mau
tahu nggak apa yang sedang ku fikirkan sekarang ngelihat El kayak gini?”
“Nggak.
emangnya apa yang Rini fikirin? Aku cantik?”
“Mending El
nggak usah tahu aja. Mending El nggak akan sanggup dengarnya,” jelas Rini, sok
miteri.
***
Berbuka
kali ini, kami langsung makan nasi karena Rini nggak beli gorengan tadi. Aku
sih yess aja pemirsaa. Hhee. Setelah maghrib, aku coba nonton film Grey dari
laptopnya Rincuy. Ternyata tentang 7 orang yang selamat dari kecelakaan pesawat
dan berusaha survive dari buasnya srigala. Ini lebih menegangkan daripada
nonton Woman in Black Cuyy… hihii.
“Rin,
kucing itu kan mirip sama serigala bentuknya. Don’t-don’t, kucing itu pun selama
ini cari kesempatan untuk memangsa kita Rin. Mulai besok, pokoknya kita larang
4 sekawan itu masuk ke kamar kita. Kita harus tutup jendelanya terus, biar dia
nggak bsia manjat.”
Rini nggak
punya jawaban sakti untuk mengimbangiku kali ini. Dia hanya bisa geleng-geleng
kepala.
Seseorang
menelvonku di tengah jalannya film. Okta.
“Kak, tadi
Mamanya nelvon Okta, sampek nangis-nangis Mamanya berterimakasih sama Okta Kak.
bener-bener tersentuh kali hati Okta tadi Kak sampai Okta pun ikutan nangis.
Okta bilang gini, ‘Buu.. ini semua bukan karena Okta. Ini karena kegigihan Ori
Bu, doa dan restu Ibu sehingga Ori kemarin bisa pergi ke Pekanbaru untuk ngurus
semuanya.’ Terus Kak, dibilangnya gini, ‘Nakk..Ibu nggak kenal siapa kamu Nak.
Siapa kamu sebenarnya, Nak? Terimakasih banyak ya Nak, main-mainlah ke gubuk
reot ini Nakk lihatlah Ibu di sini’ gituuu katanyaa Cekk.”
Aku
menyimak sambil sesekali menggumam…
“Okta
bilang gini ke Ori Cek, ‘Dek, Adeklah yang harus mengubah nasib Ibu dan Bapak.
Semangat terus ya Dek, ubahlah hidup keluarga Ori dengan kesungguhan Ori’.
Diulangnya lagi kalimat yang kemarin tu Kak, ‘Bang, jangan minta balasan apapun
ya Bang, Ori nggak punya apa-apa Bang untuk Abang.’ Wiihh, Okta terharu kali
loh Cek. Pokoknya apa-apa yang Cek ajarkan, Okta ajarkan juga ke Adek tuu. Cek,
teruskanlah untuk selalu menebar kebaikan ya Cekk.”
“Amiiin.
Kita saling mengingatkan ya dek.”
Barangsiapa meringankan 1 kesulitan
saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya di akhirat nanti (Sebuah
hadist)
“Okta jadi
berfikir gini Cek, coba aja kemarin Okta nggak berusaha menolong Adek tu,
sementara Okta bisa menolong, mungkin belum tentu Adek tu tertolong kan Cek?
Bisa sekolah gratis pula sampai selesai.”
“Hah?
Gratis Cek? Beneran gratis?”
“Iya Cekk..
langsung dibayarkan sama dosen FISIP. Ntah gimana pula kemarin Ori tu bisa
jumpat Bapak itu. Mungkin pas di rektorat itulah Cek. Jadi, sekarang dia
tinggal belajar yang tekun aja Cek. Okta ngelakuin semua ini karena Okta pun
dulu nyaris nggak bisa kuliah loh Cek, jadi Okta tahu gimana perasaan Adek tuu.
Terpenggil betul hati ini rasanya Cek.”
“Alhamdulillah…
Okta adalah orang yang suka meluarbiasakan orang-orang dan sekarang sudah
saatnya Okta yang akan diluarbiasakan oleh orang-orang.”
“Siihiiyyy..hehe.
Okta jadi teringat betul dengan Ibu Otka Cek, katanya, ‘Nak, tolonglah orang
lain sekuatmu Nak. Jangan pernah merasa berat dalam menolong orang lain ya Nak.
Camkan di dalam hati, Ini nggak berat.
Ini ringan. Ibu selalu mendoakanmu supaya imanmu selalu di atas. Aamiin’ gitulah
nasehat Ibu Okta Cek. Luar biasa.”
“Rin,
targetku sebelum anak-anak ni balik dari KKN, aku udah seminar hasil. Soalnya,
aku takut direcokin sama mereka, diajak main-main, eh ntar beneran lama
akunya.”
“Arassooh.”
Proposal
yang kemarin ku bawa ke hadapan pak Suarman sudah ku abaikan selam seminggu
ternyata. Aku baru sadar. Padahal, dalam waktu sehari aja, kalau mau fokus,
bisa kelar kok! Emang dasar akunya aja yang bandel. Malam ini,
Rini kembali tidur dengan suara murothal dan asmaul husna. Selamat tidur ya
Rinnn. Aku terharu banget. Ya Allah izinkan aku menunaikan
segala yang baik-baik bersama Rini menjelang waktu yang tidak lama lagi ini..
aamiin..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar