Jumat, 28 Agustus 2015

"Tenang Rin. Percaya sama aku!"



Batman, udah siap urusanmu?
Belum. Setengah jam lagi baru kelar nii. El
daftarlah ujian ke kampus dulu..
Belum jadi. Kata Batman lainnya, prodi tutup.
Ooohh.. udah punya batman lain ya sekarang? Setengah jam
lagi yee. Mandi cantiklah dulu..
Eh, kok tahu kalau eke belum mandiii?
Setelah semua urusan selesai, Rini pulang lagi ke kosan untuk jemur pakaiannya. Dia mendapatiku sedang tekun menonton film 200 Pounds Beauty. Rini berkomentar gini; “Hemm… cocok tuh filmnya buat El. Itu kan tentang per-DIET-an.” Tahu aja dia apa alasanku nonton. Hihii. Tapi sayangnya difilm itu caranya adalah dengan operasi plastik. Aku kan ngarepnya dijelasin gimana caranya diet alami yang aman tapi cepet. Hehehe. Tapi, kalau kayak gitu sih nggak sesuai jalan cerita akhirnya ya. Kalau kata Rini; 'Kalau El jadi sutradara, langsung tamat ceritanya El buat."
"Udah selesai semua urusan?"
"Udah. Besok tinggal datang cantik aja. Huhhuu... bentar lagi kita berpisaaah. hikss."
"Rin, Pliss!" cegahku segera. "Sekalipun besok kita berpisah, tolong jangan ucapkan kata-kata perpisahan hari ini. Biarlah semua terjadi secara alami."
"Huhuu..iyaa."
*Alami nangisnya maksudku. hihii.

Rini menyantap lagi nasi goreng buatanku tadi pagi yang masih tersisa. Dia pinter banget gombal, katanya enak banget masakanku. Hemmm... mungkin karena Rini makananku sedang nggak punya pembanding sekarang, makanya dibilang enak atau Rini hanya sedang bermimpi? *Apa sih? hhe.
“Ciyeee..yang mau akad nikah (bacA: Yudisium) besoookk. Selamat ya batman.”
“Alhamdulillah. Lega kali karena udah selesai semuanya.”
“Eh, ternyata nggak semua fakultas ada Yudisiumnya loh Rin. Kemarin aku ketemu cewek di puskom, mahasiswi Faperika, katanya di sana nggak ada Yudisium. Anak-anak sosial aja kayaknya nih ya.”
“Iya sih El. FMIPA juga nggak ada kabarnya.”
“Hemmm..sebenarnya kalau nggak wajib kenapa sih diadakan? Kan butuh biaya lagi untuk itu semua. Lihatlah sekarang, yang seharusnya masih bisa daftar untuk wisuda sampai bulan September, gara-gara ada yudisium akhir bulan ini udah tutup pendaftarannya. Ta ha ha laaah.”
“Itulah. Memperibet aja. aku pun kalau bisa nggak datang, nggak datang aja aku nii. Males loh harus ber-make-up gitu. Kenapa sih nggak pakai pakaian formal aja? Blazer kek. Kata si Adis kemarin, pas Yudisium itu kerjaan kita cuma duduk, ngelihatin orang-orang yang pemuncak maju ke depan. Hihiiii.”
“Gitu ya Rin?”
“Iya. Dibacakan nanti siapa pemuncak di tiap jurusan. Majulah orang tu ke depan. IPK El berapa?”
“3,8.”
“Hemmm..bisa tuh nanti jadi pemuncak. Di FISIP itu pemuncaknya IPKnya 3,8 El.”
“Eh, tapi di FKIP ntah ada kayak gitu ntah nggak. Masa sih diumumkan setiap Prodi siapa pemuncaknya? Banyak juga prodi kami Riin. Tapi, ada hikmahnya juga aku telat nih Rin kalau gitu.”
“Iya. Saingan El jadi berkurang kan? hiiihii.”
Aku dan Rini berangkat setelah sholat Zuhur. Kak Dewi nitipin Fajri kepada kami untuk diantar ke rumah neneknya di jalan Bangun Karya. Ini kesempatan buatku untuk menasehatinya..
“Fajrii… kemarin malam kok kucing itu kenapa kok teriak-teriak?”
“Yang mana Kak?”
“Yaaahh..yang pas Kakak sedang jemurin baju itu loh. Kan ada kucing tu teriak-teriak sama Fajri. Fajri apain dia di depan pintu tuu?”
“Dia tuu kemarin guling-guling di dekat tali sepeda. Dah tu badannya terlilit, makanya aku bukakkan talinya Kak.”

Oh, aku salah faham kali ini. Aku mengira dia sengaja mau menyiksa si kucing. Hihii… ini lantaran Rini sering ngadu ke aku tentang penyiksaan yang sering dilihatnya. Tapi, aku memang belum pernah sekalipun melihat secara langsung Fajri atau Ami menyiksa binatang.
“Kemarin, Fajri pernah kan ngikat ekor capung dan menerbangkannya kayak kupu-kupu gitu?”
“Amii nyooo tuu, nggak aku doo.”
“Kalau Ami kayak gitu, harusnya Fajri kasih tahu dia. Kan Fajri Abangnyaaa. Binatang itu sama kayak manusia juga, bisa merasa sakit kalau kita sakiti dia. Kasihaaan merekaa. Yah, jangan gitu lagi ya sama binatang, Fajrii. Apa pun itu, mau kucing, capung, kupu-kupu atau yang lainnya. Dengar Fajriii?”
“Iya Kak."
“Bagus."
Rini memberikan jempolnya ke arahku. Aku manggut-manggut.

“Fajri kelas berapa sekarang?” tanya Rini.
“Kelas 4 Kak.”
“Nah, udah kelas 4, seharusnya udah bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang nggak boleh.”
Setelah sampai di depan rumah neneknya yang ternyata masih mudaaaa banget, kami langsung berpamitan.
“Tumben El tadi nasehatnya baiikkk?”
“Loh? Aku kan emang baik kalau menasehati Rin. Selama ini aku kan jahat gara-gara Rini aja.”
“Hemmm…iya kah?”
Waktu kami melintas di perempatan lampu merah SM. Amin/ Tabek Gadang, ada papan bunga yang di letakkan di taman pemisah jalan SM. Amin. Tulisannya; Turut berduka cita atas korban kecelakaan lalu lintas akibat menerobos lampu merah. Aku dan Rini mengakui bahwa Polantasnya kreatif banget menyindir warga supaya tetap tertib. Salut dah!
Aku dan Rini sempat sama-sama terdiam di atas motor yang terus melaju ini. Biasanya, nggak pernah ada jeda untuk aku gangguin Rini atau dia cerita ke aku.
“Batman lagi ngapain?” tanyaku ke Rini.
“Emmm…lagi bengong.”
Diam lagi..
“El lagi ngapain?”
“lagi bengong juga.”
“Oh, sama lah kita ya.”
*Obrolan macam apa ini? hihii.

***
Kurang lebih 2 jam muter-muter di  Ramayana untuk nemuin kebaya yang pas di badan dan penjualnya pas di hati. *Cihuuuyyy. Setelah beberapa kali bertemu dengan penjual yang nggak pas di hati, akhirnya Allah menuntun kami ke tujuan yang diidam-idamkan. Bukan hanya jatuh cinta dengan kebayanya, kami pun jatuh cinta kepada penjualnya yang ramah dan lembut banget. Awalnya, kami hanya membeli atasannya aja dan berkeliling mencari rok yang lebih bagus lagi, tapi ternyata langkah kami kembali ke sana. Memang, ini rezekinya orang baik, kataku dan Rini.

Setelah selesai di Ramayana, kami sholat Ashar di masjid Al-Furqon tak jauh ke arah belakang. Ada 3 hal yang aneh dari masjid ini; 1. Mukenanya diletakkan di dekat toilet dan ada kotak uang di sebelahnya. Kenapa nggak diletakkan di atas aja coba? 2. Dulu, masjid ini nggak sebesar ini. Dan, untuk apa dibuat sebesar ini coba? Yang dulu juga nggak ramai kok walaupun di dekat pasar. Mubazir aja menurutku. 3. Masjid ini dibangun dengan dana dari mana? Kalau hanya dari infak, kenapa kok nekat banget sih? Kenapa maksa banget untuk membangun  sebesar ini dan akhirnya terbengkalai? Kalau dari pemerintah, kenapa nggak juga selesai sampai sekarang. Soalnya, aku ngelihat ada spanduk besar di sini, bertuliskan; Mohon sedekahnya untuk keberlanjutan pembangunan masjid ini. Realistis donk, bung! Direncanain dulu sebelum dilaksanakan. Kalau memang dana nggak mencukupi, kenapa mesti memaksakan?
“Batman lagi ngapain?” tanyaku kepada Rini yang sama-sama sedang menuruni tangga denganku.
“Batman lagi kehausan, Bang.”

Aku mengajak Rini makan di tempat langgananku selama Bimbel SNMPTN. Tempat ini nggak berubah juga ternyata. Tapi, pegawainya udah rapiii banget; pakai batik semua. Aku pesan nasi+ikan pepes, Rini pesan nasi+Lele goreng. Terakhir kali makan ikan Pepes sih aku kecewa, karena rasanya jauuuuuuuuuh banget dari yang aku harapin. Kali ini, aku tergiur karena melihat daun pisang pembungkusnya menggodan. *Lah? Memangnya yang mau dimakan itu daun pisangnya, Jeng? Haha.
“Rin, ada 2 hal yang biasanya kita lakukan ketika nemui pilihan baru; 1. Tetap bertahan dengan pilihan lama karena udah yakin dengan cocok, 2. Mencoba hal baru dan menanggung resiko kalau ternyata nggak cocok.”
“Contohnya?”
“Ya, contohnya ikan pepes ini. Tadi awalnya aku pengen pesen ikan laut bakar Rin, tapi aku penasaran dengan ikan Pepes ini lagi. Berharap rasanya kayak buatan Mami. Tapi, ternyata buatan Minang ini memang selalu seperti ini Riin. Beda. Aku nggak suka ternyata. Aku pengen yang ala Jawa. Kalau buatan Jawa itu nggak kuning gini bumbunya, putih aja tapi gurih dan ada manisnya. Ini agak aneh, masa ada irisan serai sama daun kunyitnya sih? Sama aja anehnya kayak Sala Lauak. Itu gorengan tapi ada irisan daun kunyinya. Nggak lazim rasanya di lidah.”

“Hemmm… arassoohh.”
“Pernah waktu itu, kita pergi ntah ke mana, Rini pesa mie goreng dan aku coba menu baru. Ternyata lebih enakkan mie gorengnya Rini. Kadang, aku juga sukanya cari aman aja. Mie goreng, nasi goreng itu kan udah jelas rasanya kayak apa. Kalau memang meleset, ya kurang lebih masih kayak gitu lah. Tapi, kalau menu lain…bisa jadi bakal jauh dari harapan.”
“Betul tuh Batman.”
“Batman lagi ngapain?”
“Lagi makan.”
“Ohhh..”
Kami adalah 2 orang yang sama-sama aneh, pemirsaa. (Eh, aku aja sih yang awalnya aneh, tapi Rininya jadi ikut-ikutan karena bertahun-tahun ku tulari dan sedikit demi sedikit benteng pertahanannya roboh juga. Hihii). Udah jelas-jelas bisa ngelihat langsung orang di sebelah sedang ngapain, di tanyain juga lagi ngapain. Hihiii..

***
“El yakin mau ke Ciput?”
“Ya, apa salahnya? Kita kan sekaligus lewat juga.”
“Eh, eh, Ell.. jangan lewat sini. Ada rambu-rambunya tuuh!”
Aku melihat rambu itu. Tapi, karena terakhir kali lewat sini nggak ada kejadian apa-apa, aku terus aja menerobos. Supaya lebih cepat dan praktis.
“Nggak apa-apa Rin. Tenang. Percaya sama aku,” kataku sambil memegang tangan Rini dan tanganku dipukulnya..
Baru aja aku selesai ngomong gitu, eh i tiba-tiba udah muncul aja polis di depanku.
“Kaaan… Ellll… apa ku bilang tadiii?”
“Hikss..iya Rin, nasib kita nggak beruntung hari ini.”
“Berhenti dulu! Kalian kecelakaan nantii, bahaya. Udah dilarang lewat sini pun.”
“Loh, nggak boleh ya lewat sini Pak?” tanyaku pura-pura bego.
“Mana SIM dan STNKnya?”
“Nggak ada Pak.”
“KTIP?”
“Nggak ada Pak.”
“Eh, aku ada ini El,” kata Rini.

KTPnya RIni dipegang oleh pak Polisi dan kami dibawa ke ujung jalan untuk menunjukkan rambu lalu lintas kepadaku. Aku hanya ber ooooo panjang setelahnya. Padahal, emang kami udah tahu sejak awal. Rini terkekeh di belakangku.
“Ikut saya!” pinta polisi berbadan tinggi dan tegap itu. Kami menurutinnya.
Aku kira kam akan dibawa ke pos Gurindam di depan rumah Wako, ternyata nggak. Kami dibawa ke tempat berbeda *aseekkk..
“Sini, sinii!” pintanya kepada kami untuk masuk ke ruangannya.
Ia mendenda  kami sebesar Rp 100.000 sebagai denda dasar pada pelanggaran. Ia juga memberikan pilihan kepada kami untuk membayar denda atau motor kami ditahan di sini.
“Ya udahlah, ditahan aja motornya kalau gitu,” kata RIni.
“Enak aja. Emang kita mau pulang pake apa Cuuy!” semprotku ke Rini.
“Eh, iya yaa.. hehe.”
“Ada dana berapa kalian, biar saya bantu.”
“Yah, kagak ada lagi Pak,” jawabku.
“Soalnya kami baru beli baju untuk wisuda Pak, tadi.”
“Ada sih Pak 5 ribu ini,” kataku.

Tiba-tiba kami disuruh menunggu di luar karena baru saja ada 1 motor lagi yang ditangkap oleh polisi lainnya. 2 orang itu kemudian diwawancarai di dalam. Kunci motorku ditahan si bapak, mana mungkin aku bisa kabur pemirsaa. Tahu aja dia fikiran licikku. Hihii.
"El, El emang nggak bawa SIM atau belum buat SIM?" tanya Rini, pelan.
"Belum buat. heeheh."
"Hemmm..dah lah El, aku nggak tahu harus bilang apa. hemm.. aku hanya bisa diam."
"Hahhaha... malas loh Rin ngurusnya. Mahal juga."
"Jadi El selama ini ngeluyur ke mana-mana kok bisa nyantai kalii padahal nggak punya SIM?"
"Yah, inilah aku. hhihiii."
"Salut sama kamu Bung!" kata Rini sambil menepuk pundakk. Mungkin di tangannya yang satu lagi dia udah megang pisau untuk membunuhku pemirsaa karena geram..hikss.
“Masuk lagi sini!” pinta bapak tadi.

Rini berniat memberikan uang Rp 30.000, yang penting bisa dibebaskan. Aku mengambil uang Rp 20.000 Rini aja dan memasukkannya ke dalam tasku. Aku ada firasat baik; Nggak akan ngeluarkan uang.
“Kamu kok pake baju tentara?”
“Nggak apa-apa Pak. Punya Papa ini.”
“Oh, Papa kamu tentara?”
“Nggak Pak. Papa kerja di PT Diamond.”
“Di mana itu?”
“Di Rokan Hilir.”
“Oh, si Atuukk. Udah dijenguk Atuknya?”
Aku menggeleng.
“Pak, kalau KTP kami aja yang ditahan, gimana?”
“Kami nggak punya kewenangan untuk menahan KTP Dek, kecuali Satpol PP. Lihat di peraturan ini, yang ada itu SKCK, Ran Mor, SIM dan denda.”

Aku dan Rini membaca seksama peraturan itu. Kami sama-sama terdiam.
“Ya udahlah, pulanglah sana!”
“Loh, kami nggak jadi dii….”
“Ya, mau gimana lagi? Nanti susah pula kalian kalau nggak ada uang. Lain kali jangan diulangi ya.”
“Makasih banyak ya Pak.”
Di luar kantor, aku dan Rini tertawa lepas penuh kelegaan. Kami sama-sama nggak berfirasat sama sekali akan mengalami kesialan hari ini. Sesuai keyakinan yang ku katakana ke Rini tadi waktu dia nyerahin uang Rp 30.000nya kepadaku; “Rin, aku yakin, kita bisa bebas tanpa bayar! Aku yakin.” Meskipun setelah kalimat itu, aku sempat ngeri juga ketika melihat ada banyak motor yang dirantai di ruangan itu.
“Alhamdulillah ya Allah.”
“Itulah jangan bandell lagi ya Batmaaannn..”
“Iya, maafin aku ya Batmann. Hikss..”
Kami main di Ciput selama setengah jam. Hentian akhirnya di KFC, menikmati Sundae dan Tropical Float jadi pilihan kami. Aku selalu ngasih Rini kerjaan setiap kali dia nganggur, untuk memfoto-fotoku. Hehe.

"Rin, sekalipun Rini udah ke Medan nanti, masih mungkin nggak ya Rini bakal ke sini lagi?"
"Ya masihlah. Ijazahku kan nggak langsung siap tuu. Tenang aja, kan masih ada El di sini, Andin, kalau mau nginap di mana-mana masih banyak kawan aku. hehe."
"Aku pengen punya rumah segera Rin. Di sini. Aku nggak tahu sih apa hubungannya dengan keadaan ini. Tapi, setidaknya kalau aku punya rumah di sini, rumahku bisa menjadi alasan singgah buat orang-orang yang ku sayangi. Dan, ini adalah jalan untuk mudah bersilaturahmi Rin soalnya kalau aku tinggal di kampung, pasti bakal susah ketemu teman-teman kuliah karena jauh kali kan ke kampung. Kalau tinggal di Pekanbaru, apapun mudah diakses. Hemmm.."
"Sabar ya El. El harus move on. Mau sampek kapan El cengeng terus?"
Aku mengaduk-ngaduk float di atas minuman Rini. "Dalam kondisi seperti ini, aku merasa sangat butuh teman yang nggak akan pergi meninggalkanku Rin. Kecuali dipisahkan oleh kematian."
"Siapa? Suamii? Ciyeee."
"Iya. Dia akan terus menemaniku dalam menghadapi berbagai macam kesedihan perpisahan. Aku butuh dikuatkan dan dihibur."
"Eh, jangan-jangan Abang itu jodoh El?"
"Abang yang nelvon semalam?"
"Iya."
"Hahaha. Nggak tahu ah, dia nggak suka sama aku. Tapi, kayaknya aku memang cocoknya dengan orang kayak dia Rin. Dia itu realistis, nggak baperan, praktis dan easy going. Kebalikannya aku banget kan? Kayaknya sih cocok. hihii. Apaanlah kita nih."
"Yuklah cepat kita pulang, udah mau maghrib."
"Habisin minumanmu tuh!"

***
“Batman, lihat tuh!” pintaku kepada Rini untuk membaca papan bunga di sebelah kiri jalan.
“Emang kreatif kali lah Polantas kali ini.”
“Itu beneran ya Rin ada yang tewas?”
“Ya mungkin, bisa jadi. Mungkin kejadiannya baru-baru ini. Tapi, yang papan bunga ke 4 barusan penyebabnya karena Melawan Arus, El.”
“Hemmm… ucapan bela sungkawa yang kreatif dan inovatif. Berbela sungkawa sekaligus mendidik masyarakat.”
Rini melanrangku ketika aku mau menyalip kendaraan di depanku dan memilih jalan yang rusak di tepi sungai. Aku nyaris mau nekat lanjut, tapi Rini malah bilang bakal turun kalau aku tetap lanjut.
“Tenang Rin, percaya sama aku,” aku kembali sok menenangkannya.
“Alaaahhh..tadi El bilang gitu juga, tapi akhirnya kita ditangkap polisi juga nyaa! Nggak percaya lagi aku sama El. Sudah, sudah cukuupp. Kita sudahi saja semua ini.”
“Hahhaa…gicyuu ya Cuuy?” aku menuruti titah kanjeng mami aja deh, biar aman.
Sesampainya di Bina Krida, aku dan Rini akhirnya memutuskan untuk nggak beli lauk dan nggak makan malam kali ini. Soalnya masih terasa kenyang juga.

Tidak ada komentar: