Batman, udah siap
urusanmu?
Belum. Setengah jam
lagi baru kelar nii. El
daftarlah ujian ke kampus dulu..
Belum jadi. Kata
Batman lainnya, prodi tutup.
Ooohh.. udah punya
batman lain ya sekarang? Setengah jam
lagi yee. Mandi cantiklah dulu..
Eh, kok tahu kalau
eke belum mandiii?
Setelah semua urusan selesai,
Rini pulang lagi ke kosan untuk jemur pakaiannya. Dia mendapatiku sedang tekun
menonton film 200 Pounds Beauty. Rini
berkomentar gini; “Hemm… cocok tuh filmnya buat El. Itu kan tentang
per-DIET-an.” Tahu aja dia apa alasanku nonton. Hihii. Tapi sayangnya difilm
itu caranya adalah dengan operasi plastik. Aku kan ngarepnya dijelasin gimana
caranya diet alami yang aman tapi cepet. Hehehe. Tapi, kalau kayak gitu sih
nggak sesuai jalan cerita akhirnya ya. Kalau kata Rini; 'Kalau El jadi sutradara, langsung tamat ceritanya El buat."
"Udah selesai semua urusan?"
"Udah. Besok tinggal datang cantik aja. Huhhuu... bentar lagi kita berpisaaah. hikss."
"Rin, Pliss!" cegahku segera. "Sekalipun besok kita berpisah, tolong jangan ucapkan kata-kata perpisahan hari ini. Biarlah semua terjadi secara alami."
"Huhuu..iyaa."
*Alami nangisnya maksudku. hihii.
"Udah selesai semua urusan?"
"Udah. Besok tinggal datang cantik aja. Huhhuu... bentar lagi kita berpisaaah. hikss."
"Rin, Pliss!" cegahku segera. "Sekalipun besok kita berpisah, tolong jangan ucapkan kata-kata perpisahan hari ini. Biarlah semua terjadi secara alami."
"Huhuu..iyaa."
*Alami nangisnya maksudku. hihii.
Rini menyantap lagi nasi goreng buatanku tadi pagi yang masih tersisa. Dia pinter banget gombal, katanya enak banget masakanku. Hemmm... mungkin karena Rini makananku sedang nggak punya pembanding sekarang, makanya dibilang enak atau Rini hanya sedang bermimpi? *Apa sih? hhe.
“Ciyeee..yang mau akad nikah (bacA: Yudisium) besoookk. Selamat ya batman.”
“Ciyeee..yang mau akad nikah (bacA: Yudisium) besoookk. Selamat ya batman.”
“Alhamdulillah.
Lega kali karena udah selesai semuanya.”
“Eh,
ternyata nggak semua fakultas ada Yudisiumnya loh Rin. Kemarin aku ketemu cewek
di puskom, mahasiswi Faperika, katanya di sana nggak ada Yudisium. Anak-anak
sosial aja kayaknya nih ya.”
“Iya sih
El. FMIPA juga nggak ada kabarnya.”
“Hemmm..sebenarnya
kalau nggak wajib kenapa sih diadakan? Kan butuh biaya lagi untuk itu semua.
Lihatlah sekarang, yang seharusnya masih bisa daftar untuk wisuda sampai bulan
September, gara-gara ada yudisium akhir bulan ini udah tutup pendaftarannya. Ta
ha ha laaah.”
“Itulah.
Memperibet aja. aku pun kalau bisa nggak datang, nggak datang aja aku nii.
Males loh harus ber-make-up gitu. Kenapa sih nggak pakai pakaian formal aja?
Blazer kek. Kata si Adis kemarin, pas Yudisium itu kerjaan kita cuma duduk,
ngelihatin orang-orang yang pemuncak maju ke depan. Hihiiii.”
“Gitu ya
Rin?”
“Iya.
Dibacakan nanti siapa pemuncak di tiap jurusan. Majulah orang tu ke depan. IPK
El berapa?”
“3,8.”
“Hemmm..bisa
tuh nanti jadi pemuncak. Di FISIP itu pemuncaknya IPKnya 3,8 El.”
“Eh, tapi
di FKIP ntah ada kayak gitu ntah nggak. Masa sih diumumkan setiap Prodi siapa
pemuncaknya? Banyak juga prodi kami Riin. Tapi, ada hikmahnya juga aku telat
nih Rin kalau gitu.”
“Iya.
Saingan El jadi berkurang kan? hiiihii.”
Aku dan
Rini berangkat setelah sholat Zuhur. Kak Dewi nitipin Fajri kepada kami untuk
diantar ke rumah neneknya di jalan Bangun Karya. Ini kesempatan buatku untuk
menasehatinya..
“Fajrii…
kemarin malam kok kucing itu kenapa kok teriak-teriak?”
“Yang mana
Kak?”
“Yaaahh..yang
pas Kakak sedang jemurin baju itu loh. Kan ada kucing tu teriak-teriak sama
Fajri. Fajri apain dia di depan pintu tuu?”
“Dia tuu
kemarin guling-guling di dekat tali sepeda. Dah tu badannya terlilit, makanya
aku bukakkan talinya Kak.”
Oh, aku
salah faham kali ini. Aku mengira dia sengaja mau menyiksa si kucing. Hihii…
ini lantaran Rini sering ngadu ke aku tentang penyiksaan yang sering
dilihatnya. Tapi, aku memang belum pernah sekalipun melihat secara langsung
Fajri atau Ami menyiksa binatang.
“Kemarin,
Fajri pernah kan ngikat ekor capung dan menerbangkannya kayak kupu-kupu gitu?”
“Amii nyooo
tuu, nggak aku doo.”
“Kalau Ami
kayak gitu, harusnya Fajri kasih tahu dia. Kan Fajri Abangnyaaa. Binatang itu
sama kayak manusia juga, bisa merasa sakit kalau kita sakiti dia. Kasihaaan
merekaa. Yah, jangan gitu lagi ya sama binatang, Fajrii. Apa pun itu, mau
kucing, capung, kupu-kupu atau yang lainnya. Dengar Fajriii?”
“Iya Kak."
“Bagus."
Rini
memberikan jempolnya ke arahku. Aku manggut-manggut.
“Fajri
kelas berapa sekarang?” tanya Rini.
“Kelas 4
Kak.”
“Nah, udah
kelas 4, seharusnya udah bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang nggak
boleh.”
Setelah
sampai di depan rumah neneknya yang ternyata masih mudaaaa banget, kami
langsung berpamitan.
“Tumben El
tadi nasehatnya baiikkk?”
“Loh? Aku
kan emang baik kalau menasehati Rin. Selama ini aku kan jahat gara-gara Rini
aja.”
“Hemmm…iya
kah?”
Waktu kami
melintas di perempatan lampu merah SM. Amin/ Tabek Gadang, ada papan bunga yang
di letakkan di taman pemisah jalan SM. Amin. Tulisannya; Turut berduka cita atas korban kecelakaan lalu lintas akibat menerobos
lampu merah. Aku dan Rini mengakui bahwa Polantasnya kreatif banget
menyindir warga supaya tetap tertib. Salut dah!
Aku dan
Rini sempat sama-sama terdiam di atas motor yang terus melaju ini. Biasanya,
nggak pernah ada jeda untuk aku gangguin Rini atau dia cerita ke aku.
“Batman lagi
ngapain?” tanyaku ke Rini.
“Emmm…lagi
bengong.”
Diam lagi..
“El lagi
ngapain?”
“lagi
bengong juga.”
“Oh, sama
lah kita ya.”
*Obrolan
macam apa ini? hihii.
***
Kurang
lebih 2 jam muter-muter di Ramayana
untuk nemuin kebaya yang pas di badan dan penjualnya pas di hati. *Cihuuuyyy.
Setelah beberapa kali bertemu dengan penjual yang nggak pas di hati, akhirnya
Allah menuntun kami ke tujuan yang diidam-idamkan. Bukan hanya jatuh cinta
dengan kebayanya, kami pun jatuh cinta kepada penjualnya yang ramah dan lembut
banget. Awalnya, kami hanya membeli atasannya aja dan berkeliling mencari rok
yang lebih bagus lagi, tapi ternyata langkah kami kembali ke sana. Memang, ini rezekinya orang baik,
kataku dan Rini.
Setelah
selesai di Ramayana, kami sholat Ashar di masjid Al-Furqon tak jauh ke arah
belakang. Ada 3 hal yang aneh dari masjid ini; 1. Mukenanya diletakkan di dekat
toilet dan ada kotak uang di sebelahnya. Kenapa nggak diletakkan di atas aja
coba? 2. Dulu, masjid ini nggak sebesar ini. Dan, untuk apa dibuat sebesar ini
coba? Yang dulu juga nggak ramai kok walaupun di dekat pasar. Mubazir aja
menurutku. 3. Masjid ini dibangun dengan dana dari mana? Kalau hanya dari
infak, kenapa kok nekat banget sih? Kenapa maksa banget untuk membangun sebesar ini dan akhirnya terbengkalai? Kalau
dari pemerintah, kenapa nggak juga selesai sampai sekarang. Soalnya, aku
ngelihat ada spanduk besar di sini, bertuliskan; Mohon sedekahnya untuk keberlanjutan pembangunan masjid ini. Realistis
donk, bung! Direncanain dulu sebelum
dilaksanakan. Kalau memang dana nggak mencukupi, kenapa mesti memaksakan?
“Batman
lagi ngapain?” tanyaku kepada Rini yang sama-sama sedang menuruni tangga
denganku.
“Batman
lagi kehausan, Bang.”
Aku
mengajak Rini makan di tempat langgananku selama Bimbel SNMPTN. Tempat ini
nggak berubah juga ternyata. Tapi, pegawainya udah rapiii banget; pakai batik
semua. Aku pesan nasi+ikan pepes, Rini pesan nasi+Lele goreng. Terakhir kali
makan ikan Pepes sih aku kecewa, karena rasanya jauuuuuuuuuh banget dari yang
aku harapin. Kali ini, aku tergiur karena melihat daun pisang pembungkusnya
menggodan. *Lah? Memangnya yang mau dimakan itu daun pisangnya, Jeng? Haha.
“Rin, ada 2
hal yang biasanya kita lakukan ketika nemui pilihan baru; 1. Tetap bertahan
dengan pilihan lama karena udah yakin dengan cocok, 2. Mencoba hal baru dan
menanggung resiko kalau ternyata nggak cocok.”
“Contohnya?”
“Ya,
contohnya ikan pepes ini. Tadi awalnya aku pengen pesen ikan laut bakar Rin,
tapi aku penasaran dengan ikan Pepes ini lagi. Berharap rasanya kayak buatan
Mami. Tapi, ternyata buatan Minang ini memang selalu seperti ini Riin. Beda.
Aku nggak suka ternyata. Aku pengen yang ala Jawa. Kalau buatan Jawa itu nggak
kuning gini bumbunya, putih aja tapi gurih dan ada manisnya. Ini agak aneh,
masa ada irisan serai sama daun kunyitnya sih? Sama aja anehnya kayak Sala
Lauak. Itu gorengan tapi ada irisan daun kunyinya. Nggak lazim rasanya di
lidah.”
“Hemmm…
arassoohh.”
“Pernah
waktu itu, kita pergi ntah ke mana, Rini pesa mie goreng dan aku coba menu
baru. Ternyata lebih enakkan mie gorengnya Rini. Kadang, aku juga sukanya cari
aman aja. Mie goreng, nasi goreng itu kan udah jelas rasanya kayak apa. Kalau
memang meleset, ya kurang lebih masih kayak gitu lah. Tapi, kalau menu
lain…bisa jadi bakal jauh dari harapan.”
“Betul tuh
Batman.”
“Batman
lagi ngapain?”
“Lagi
makan.”
Kami adalah
2 orang yang sama-sama aneh, pemirsaa. (Eh, aku aja sih yang awalnya aneh, tapi
Rininya jadi ikut-ikutan karena bertahun-tahun ku tulari dan sedikit demi sedikit
benteng pertahanannya roboh juga. Hihii). Udah jelas-jelas bisa ngelihat
langsung orang di sebelah sedang ngapain, di tanyain juga lagi ngapain.
Hihiii..
***
“El yakin mau ke Ciput?”
“Ya, apa salahnya? Kita kan sekaligus lewat juga.”
“Eh, eh, Ell.. jangan lewat sini. Ada rambu-rambunya tuuh!”
Aku melihat rambu itu. Tapi, karena terakhir kali lewat sini
nggak ada kejadian apa-apa, aku terus aja menerobos. Supaya lebih cepat dan
praktis.
“Nggak apa-apa Rin. Tenang. Percaya sama aku,” kataku sambil
memegang tangan Rini dan tanganku dipukulnya..
Baru aja aku selesai ngomong gitu, eh i tiba-tiba udah
muncul aja polis di depanku.
“Kaaan… Ellll… apa ku bilang tadiii?”
“Hikss..iya Rin, nasib kita nggak beruntung hari ini.”
“Berhenti dulu! Kalian kecelakaan nantii, bahaya. Udah
dilarang lewat sini pun.”
“Loh, nggak boleh ya lewat sini Pak?” tanyaku pura-pura
bego.
“Mana SIM dan STNKnya?”
“Nggak ada Pak.”
“KTIP?”
“Nggak ada Pak.”
“Eh, aku ada ini El,” kata Rini.
KTPnya RIni dipegang oleh pak Polisi dan kami dibawa ke
ujung jalan untuk menunjukkan rambu lalu lintas kepadaku. Aku hanya ber ooooo
panjang setelahnya. Padahal, emang kami udah tahu sejak awal. Rini terkekeh di
belakangku.
“Ikut saya!” pinta polisi berbadan tinggi dan tegap itu.
Kami menurutinnya.
Aku kira kam akan dibawa ke pos Gurindam di depan rumah
Wako, ternyata nggak. Kami dibawa ke tempat berbeda *aseekkk..
“Sini, sinii!” pintanya kepada kami untuk masuk ke
ruangannya.
Ia mendenda kami
sebesar Rp 100.000 sebagai denda dasar pada pelanggaran. Ia juga memberikan
pilihan kepada kami untuk membayar denda atau motor kami ditahan di sini.
“Ya udahlah, ditahan aja motornya kalau gitu,” kata RIni.
“Enak aja. Emang kita mau pulang pake apa Cuuy!” semprotku
ke Rini.
“Eh, iya yaa.. hehe.”
“Ada dana berapa kalian, biar saya bantu.”
“Yah, kagak ada lagi Pak,” jawabku.
“Soalnya kami baru beli baju untuk wisuda Pak, tadi.”
“Ada sih Pak 5 ribu ini,” kataku.
Tiba-tiba kami disuruh menunggu di luar karena baru saja ada
1 motor lagi yang ditangkap oleh polisi lainnya. 2 orang itu kemudian
diwawancarai di dalam. Kunci motorku ditahan si bapak, mana mungkin aku bisa
kabur pemirsaa. Tahu aja dia fikiran licikku. Hihii.
"El, El emang nggak bawa SIM atau belum buat SIM?" tanya Rini, pelan.
"Belum buat. heeheh."
"Hemmm..dah lah El, aku nggak tahu harus bilang apa. hemm.. aku hanya bisa diam."
"Hahhaha... malas loh Rin ngurusnya. Mahal juga."
"Jadi El selama ini ngeluyur ke mana-mana kok bisa nyantai kalii padahal nggak punya SIM?"
"Yah, inilah aku. hhihiii."
"Salut sama kamu Bung!" kata Rini sambil menepuk pundakk. Mungkin di tangannya yang satu lagi dia udah megang pisau untuk membunuhku pemirsaa karena geram..hikss.
“Masuk lagi sini!” pinta bapak tadi.
Rini berniat memberikan uang Rp 30.000, yang penting bisa
dibebaskan. Aku mengambil uang Rp 20.000 Rini aja dan memasukkannya ke dalam
tasku. Aku ada firasat baik; Nggak akan ngeluarkan uang.
“Kamu kok pake baju tentara?”
“Nggak apa-apa Pak. Punya Papa ini.”
“Oh, Papa kamu tentara?”
“Nggak Pak. Papa kerja di PT Diamond.”
“Di mana itu?”
“Di Rokan Hilir.”
“Oh, si Atuukk. Udah dijenguk Atuknya?”
Aku menggeleng.
“Pak, kalau KTP kami aja yang ditahan, gimana?”
“Kami nggak punya kewenangan untuk menahan KTP Dek, kecuali
Satpol PP. Lihat di peraturan ini, yang ada itu SKCK, Ran Mor, SIM dan denda.”
Aku dan Rini membaca seksama peraturan itu. Kami sama-sama
terdiam.
“Ya udahlah, pulanglah sana!”
“Loh, kami nggak jadi dii….”
“Ya, mau gimana lagi? Nanti susah pula kalian kalau nggak
ada uang. Lain kali jangan diulangi ya.”
“Makasih banyak ya Pak.”
Di luar kantor, aku dan Rini tertawa lepas penuh kelegaan.
Kami sama-sama nggak berfirasat sama sekali akan mengalami kesialan hari ini.
Sesuai keyakinan yang ku katakana ke Rini tadi waktu dia nyerahin uang Rp
30.000nya kepadaku; “Rin, aku yakin, kita bisa bebas tanpa bayar! Aku yakin.”
Meskipun setelah kalimat itu, aku sempat ngeri juga ketika melihat ada banyak
motor yang dirantai di ruangan itu.
“Alhamdulillah ya Allah.”
“Itulah jangan bandell lagi ya Batmaaannn..”
“Iya, maafin aku ya Batmann. Hikss..”
Kami main di Ciput selama setengah jam. Hentian akhirnya di
KFC, menikmati Sundae dan Tropical Float jadi pilihan kami. Aku selalu ngasih
Rini kerjaan setiap kali dia nganggur, untuk memfoto-fotoku. Hehe.
"Rin, sekalipun Rini udah ke Medan nanti, masih mungkin nggak ya Rini bakal ke sini lagi?"
"Ya masihlah. Ijazahku kan nggak langsung siap tuu. Tenang aja, kan masih ada El di sini, Andin, kalau mau nginap di mana-mana masih banyak kawan aku. hehe."
"Aku pengen punya rumah segera Rin. Di sini. Aku nggak tahu sih apa hubungannya dengan keadaan ini. Tapi, setidaknya kalau aku punya rumah di sini, rumahku bisa menjadi alasan singgah buat orang-orang yang ku sayangi. Dan, ini adalah jalan untuk mudah bersilaturahmi Rin soalnya kalau aku tinggal di kampung, pasti bakal susah ketemu teman-teman kuliah karena jauh kali kan ke kampung. Kalau tinggal di Pekanbaru, apapun mudah diakses. Hemmm.."
"Sabar ya El. El harus move on. Mau sampek kapan El cengeng terus?"
Aku mengaduk-ngaduk float di atas minuman Rini. "Dalam kondisi seperti ini, aku merasa sangat butuh teman yang nggak akan pergi meninggalkanku Rin. Kecuali dipisahkan oleh kematian."
"Siapa? Suamii? Ciyeee."
"Iya. Dia akan terus menemaniku dalam menghadapi berbagai macam kesedihan perpisahan. Aku butuh dikuatkan dan dihibur."
"Eh, jangan-jangan Abang itu jodoh El?"
"Abang yang nelvon semalam?"
"Iya."
"Hahaha. Nggak tahu ah, dia nggak suka sama aku. Tapi, kayaknya aku memang cocoknya dengan orang kayak dia Rin. Dia itu realistis, nggak baperan, praktis dan easy going. Kebalikannya aku banget kan? Kayaknya sih cocok. hihii. Apaanlah kita nih."
"Yuklah cepat kita pulang, udah mau maghrib."
"Habisin minumanmu tuh!"
"Rin, sekalipun Rini udah ke Medan nanti, masih mungkin nggak ya Rini bakal ke sini lagi?"
"Ya masihlah. Ijazahku kan nggak langsung siap tuu. Tenang aja, kan masih ada El di sini, Andin, kalau mau nginap di mana-mana masih banyak kawan aku. hehe."
"Aku pengen punya rumah segera Rin. Di sini. Aku nggak tahu sih apa hubungannya dengan keadaan ini. Tapi, setidaknya kalau aku punya rumah di sini, rumahku bisa menjadi alasan singgah buat orang-orang yang ku sayangi. Dan, ini adalah jalan untuk mudah bersilaturahmi Rin soalnya kalau aku tinggal di kampung, pasti bakal susah ketemu teman-teman kuliah karena jauh kali kan ke kampung. Kalau tinggal di Pekanbaru, apapun mudah diakses. Hemmm.."
"Sabar ya El. El harus move on. Mau sampek kapan El cengeng terus?"
Aku mengaduk-ngaduk float di atas minuman Rini. "Dalam kondisi seperti ini, aku merasa sangat butuh teman yang nggak akan pergi meninggalkanku Rin. Kecuali dipisahkan oleh kematian."
"Siapa? Suamii? Ciyeee."
"Iya. Dia akan terus menemaniku dalam menghadapi berbagai macam kesedihan perpisahan. Aku butuh dikuatkan dan dihibur."
"Eh, jangan-jangan Abang itu jodoh El?"
"Abang yang nelvon semalam?"
"Iya."
"Hahaha. Nggak tahu ah, dia nggak suka sama aku. Tapi, kayaknya aku memang cocoknya dengan orang kayak dia Rin. Dia itu realistis, nggak baperan, praktis dan easy going. Kebalikannya aku banget kan? Kayaknya sih cocok. hihii. Apaanlah kita nih."
"Yuklah cepat kita pulang, udah mau maghrib."
"Habisin minumanmu tuh!"
***
“Batman, lihat tuh!” pintaku kepada Rini untuk membaca papan
bunga di sebelah kiri jalan.
“Emang kreatif kali lah Polantas kali ini.”
“Itu beneran ya Rin ada yang tewas?”
“Ya mungkin, bisa jadi. Mungkin kejadiannya baru-baru ini.
Tapi, yang papan bunga ke 4 barusan penyebabnya karena Melawan Arus, El.”
“Hemmm… ucapan bela sungkawa yang kreatif dan inovatif.
Berbela sungkawa sekaligus mendidik masyarakat.”
Rini melanrangku ketika aku mau menyalip kendaraan di
depanku dan memilih jalan yang rusak di tepi sungai. Aku nyaris mau nekat lanjut,
tapi Rini malah bilang bakal turun kalau aku tetap lanjut.
“Tenang Rin, percaya sama aku,” aku kembali sok
menenangkannya.
“Alaaahhh..tadi El bilang gitu juga, tapi akhirnya kita
ditangkap polisi juga nyaa! Nggak percaya lagi aku sama El. Sudah, sudah
cukuupp. Kita sudahi saja semua ini.”
“Hahhaa…gicyuu ya Cuuy?” aku menuruti titah kanjeng mami aja
deh, biar aman.
Sesampainya di Bina Krida, aku dan Rini akhirnya memutuskan
untuk nggak beli lauk dan nggak makan malam kali ini. Soalnya masih terasa kenyang
juga.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar