Kamis, 29 Oktober 2015

Mozilla pun Bermula dari Komunitas



Aku sering berfikir tentang apa permasalahan sosial yang bisa ku selesaikan bersama teman-teman dalam komunitas. Tapi, aku sering terhenti oleh diriku sendiri. Saat ini, aku tidak ingin muluk-muluk dan cukup realistis saja; MENULIS, adalah hobiku yang tanpanya aku merasa hampa. Aku ingin memaksimalkan diri dulu di sini, supaya manfaat yang bisa ku bagikan kelak pun bisa lebih besar. Karena, mana mungkin kita bisa bermanfaat tanpa KEAHLIAN disuatu bidang. Aku hanya tidak ingin menyibukkan diri dalam kegiatan yang baik, tapi menjauhkanku dengan hal baik yang merupakan jiwaku. Jadi, berbuat baik dan berbagi manfaat pun harus punya STRATEGI, menurutku. ^_^


***
Pagi ini hati tak tenang. Bergegas ku langkahkan kaki ke Prodi untuk mendafar ujian. Ada adik tingkat yang duduk sendirian di ruang tunggu sementara di dalam ruang Prodi sedang ada pak Gani yang ngobrol dengan pak Riadi.
“Dek, mau daftar ujian?” tanyaku.
“Nggak Kak. Mau ngajuin judul. Kakak mau daftar?”
“Iya Dek. Eh, ada lihat Kakak-kakak 2011 nggak tadi di sini?”
“Ada Kak. Ada beberapa tadi yang duduk di sini, tapi orang tu udah ke luar ntah ke manaa,” jelasnya. “Haa… itu orang tuuu Kak!” tunjuknya ke luar jendela.
Aku berhamburan ke luar sambil setengah berteriak menyapa Dini, Isti dan Nidia. Komentar mereka pertama kali selalu aja sama dengan yang lainnya; “Ya ampuuunnn Elisss… pipi Elis kok makin tembem ajaa siihh?” dan aku hanya menjawabnya sambil cengengesan nggak jelas, hehee.
“Eh, Dini kapan daftar ujiannya sih?”
“Udah lama juga Beb. Kira-kira 2 minggu yang lalu lah. Dikau ni mengapee lah tak cepat-cepat mendaftarnya kemarinn? Sekarang dah tak bisa lagi dahh. Dah cukup quota-nye,” tutur Dini dengan logat melayunya.
“HAH? Serius Din nggak bisa? Kemarin kata Dini SK-nya belum ke luar, tapi?”
“Iyaa kemarin memang belum. Tapi, tadi Dini dah lihat dah. Ada 18 orang Beb yang ujian besok tuu. Ya udah, cepatlah daftar, kalau pun tak minggu ni semoga minggu depan ya Beb. Pokoknya daftarlah cepaat haa! Aku tahu dikau ni udah lama selesai proposal tuu, tapi aku geramnya ngape tak dikauu antar langsung..”

“Hiksss… aku tu nggak telaten Diiin. Kalau ku lihat Prodi tutup atau Bapak nggak ada,  aku pasti langsung kabur. Mana mau aku nunggu lama-lama di sinii. Ya udah yaa..makasih Ciiinn infonya.”
Aku kembali lagi ke dalam Prodi. Nidia pun ikut bersamaku, katanya dia kangen, pengen cerita-cerita. Tapi, bukannya cerita, dia malah membahas pipiku melulu.
“Kok bisa kayak gini sih Eliss sekaraang? Ya ampuunn, dulu waktu pertama kali masuk masih imut-imut gituuu.”
“Oh, jadi sekaran nggak imut lagi nih masuknya?”
“Imut sih, nge-gemesin bahkan. Tapi, agak lainnn aja kesannya jadinya muka Eliss sekaraaang. Tapi, nggak apa-apa deh, jadi tembem dan imut pipinya.”
Ketika pak Gani ke luar ruangan, aku segera menyerobot masuk ke dalam. Aku duduk tepat di depan pak Riadi yang ntah sedang menulis apa.
“Pak, saya mau dafta ujiaan Proposal.”
Tapi tangan pak Riadi tiba-tiba diangkat. Seolah memintaku menunda bicara. Aku terdiam beberapa saat.

“Apa kau bilang tadii?”
“Saya mau daftar ujian Pak.”
“Ujian apa?”
“Proposal Pak.”
Pak Riadi beranjak dari tempat duduknya, mengeluarkan buku daftar nama-nama mahasiswa yang ujian dan menyodorkannya kepadaku untuk ku isi.
Ya Allah, jangan sampai pak Riadi nanya atau ngelihat-lihat lagi judulku. Plisss ya Allah.. plisss.. biarlah dosen-dosen pengujiku saja yang nanti memberiku kritik dan saran terhadap proposal ini.
“Kau semester berapa?”
“Saya, 9 Pak.”
“Kenapa pula kau bisa 9? Ini untuk anak-anak semester sepul…”
“Emmm..tunggu sebentar ya Pak,” aku mendadak izin ke luar dari Prodi. Penaku nggak terbawa di dalam tas rupanya. Sekaligus, aku pun bingung dengan maksud pertanyaan pak Riadi barusan. Daripada aku salah jawab, lebih baik ku rusak saja ingatan pak Riadi dengan memutusnya dengan cara seperti ini.
“Nid, kita ini sekarang semester 9 kan?” tanyaku kepada Nadia sembari meminjam pena.
“Iya. Kenapa Lis?”
“Kok Pak Riadi barusan bilang sekarang semester 10 yaa?” tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Aku masuk lagi ke dalam dan Alhamdulillah nggak ada lagi pertanyaan dari pak Riadi.
“Udah Pak,” ku sodorkan kembali buku itu kepadanya.
“Nih, ikat mapnya,” pak Riadi menyerahkan tali raffia berwarna hitam kepadaku.
Setelah mengikat dan menumpuk mapku di dekat lemari, aku berterimakasih sambil berpamitan. huffftt.. leganyaaaa.
“Kak Umiiiiiii,” pekikku ketika melihat kak Umi di ruang tunggu. “Kangeeeeen Kkaaaakkk,” pekikku lagi sambil menyalami dan memeluknya. Aku nggak pernah terlalu dekat dengannya sebenarnya. Tapi, ntah kenapa sejak pertama kali aku mengenalnya (waktu itu aku diajari nge-MC) aku udah merasa sangat dekat dengannya. Mungkin karena ia pun adalah orang yang hangat dan sangat bersahabat.
“Jadi, udah sampai di mana nih Kak prosesnya?”
“Baru judul Dekk. Ini mau bimbingan sama Pak RM, eh ternyata Bapaknya nggak ada. Mau bimbingan sama Pak Gus, eh Pak Gusnya sedang di Batam. Elis udah sampai di mana nih?”
“Baru daftar ujian Proposal Kak. Kakak selama ini ke mana aja sih? Masih nyiar?”
“Udah lama nggak Dek. Kemarin itu Kakak ngajar di SMK di kampung Kakak. Haaa… tulaaah  Dek, makanya selesaikan dulu ya kuliahnya, nanti aja kerjanya kalau udah kelar. Jangan kayak Kakak gini, keteteran salah satunya dehhh.”

Aku dan kak Ummi mendadak saling curhat gini. Bukan hanya curhat tentang urusan perkuliahan, curhatan kami pun melalang buana sampai membahas keuangan Negara.
“…kak, sekarang ini kan bukan tentang Negara punya dana besar untuk meng-S2-kan kita, tapi tentang apa sebenarnya VISI-MISI kita untuk memilih S2 tersebut, ya kan Kak? S2 itu memang baik Kak, tapi Elis nggak mau melakukan yang nggak cocok dengan Elis. Sayang kan Kak dengan umur kita. S2 itu setidaknya 2 tahun lamanya dan artinya 2 tahun itu masih juga waktu untuk diri kita sendiri kan Kak? Setelah selesai, barulah waktu untuk kedua orang tua kita. Lamaaa amaat Kak. Elis sekarang lebih sering lagi bertanya kepada diri Elis sendiri; ‘Sebenarnya apa yang kamu mau, El?’ karena kalau ternyata kecondongan Elis memang di dunia menulis, menulis itu kan nggak butuh unviersitas Kak. Tapi butuh latihan dan pengulangan.”
“Emmm…gitu ya Dek. Tapi gini loh, Elis nggak mau apa tetap S2 aja dan seiring berjalannya waktu, tentu Elis akan banyak teman, banyak pengalaman, banyak ilmu dan siapa tahu pandangan Elis berubah nantinya. Mungkin akan dapat inspirasi baru, atau passion baru.”
“Bener juga ya Kak.”

“Eh, Kakak pernah baca blogmu loh. Kereeeen! Kakak suka.”
“Hah? Iya Kak? Yang judulnya apa tuu?”
“Yang tentang Elis tu nyemangati orang-orang untuk nulis juga. Kurang ingat sih Lis, soalnya udah agak lama juga tuh. Yang baru-baru ini Kakak pun ada lihat di beranda FB, tapi nggak bisa Kakak bukanya. Sukses terus deh buat Adek.”
“Tunggu aja Kak, cerita kita hari ini pasti ntar Elis tulis juga di sanaa.”
“Okeee dehhh.. Kakak tungguu.”


***
Cin Lia menelvon… feelingku kurang enak nih!
“Hallo Cin? Sedang di mana?” tanyanya.
“Sedang di hatimuuuu.”
“Alhamdulillah masih di sana yaa.”
“Yuhuuu.”
“Aku mau nanyaa… mu jadi ikut FIM tuu?”
JLEBBBB! Jujur Cin, aku pun masih ragu. “Enngg… iya. Kenampring?”
“Mu serius kan mau wisuda bulan Februari?”
“JLEEBBBB! “Ya iyalah.”
“Enggg.. cuma mau mastiin aja sih, sekaligus ngingatin juga. Ya udah, kalau mu memang mau pergi. Jadwal ujianmu belum ke luar juga?”
JLEEBBBB! *terkoyak-koyak. “Kemungkinan pertengahan November ini deh Cin.”
“Kemarin aku ketemu Kak Dita, dia udah ujian hasil kemarin.”
“Lah? Bukannya belum ada jadwal ujian ya sekarang Juli kemarin.”
“Coba mu tanya deh sama Kak Dita, siapa tahu kan jadwalnya diam-diam dan mu nggak tahu.”
“Okee deh. Maacih yaa.”

Ya Allah. Aku benar-benar harus mengisi kekosangan dan masa tunggu --yang lagi-lagi tercipta karena kecerobohanku ini, dengan melakukan banyak kegiatan positif. Aku nggak mau pasif karena menunggu!
“Dek Racheeell,” pekikku kepada dek Rachel yang baru saja ke luar dari BEM FKIP, sengaja menghampiriku.
“Mbak Elisss apa kabar?”
“Kabar baikkk Dekkk.”
“Rachel tu ada gantungan kunci loh Mbak, tapi nggak Rachel bawa pula hari ini. Besok lah ya Mbak.”
“Iyaa.. nggak apa-apa. Gimana LPJnya? Udah diantar?”
“Udah, tinggal nunggu aja nih Mbak. Kemarin juga Novi minta contoh LPJ, langsung aja Rachel kasihin yang dari Mbak itu.”
“Ohh..gitu, ya nggak apa-apa selagi itu bermanfaat. Eh, gimana nih cerita serunya di Yogya? Nggak mau nyeritain ke Mbak nih memangnya?” pancingku.

Rachel memulai ceritanya dari keunikan yang berhasil mereka tampilan ketika presentasi. Mereka mirip sepertiku rupanya; pakai 2 bahasa dan berpantun ketika opening presentation. Aku tersenyum-senyum menyimak ceritanya. Rasanya, aku kembali ke masa-masa tahun lalu lagi. Apalagi ketika Rachel menceritakan bagaimana panitia memperlakukan mereka secara special dan agak berbeda dengan peserta lainnya…
“…kami tuh jadi mikir Mbak; ‘Wahhh…berarti Mbak Elis kemarin meninggalkan kesan yang luar biasa di mata mereka, sampai-sampai kami diperlakukan istimewa kayak gini’ gitulah yang kami fikirkan Mbak. Mereka kenal semua loh sama Mbak.”
Dan, dari banyak nama panitia yang Rachel sebutkan itu, sayangnya ada beberapa nama yang tidak ku ingat siapa orangnya. Maafkan hamba ya Allah.
“Dekk.. mbak terharu banget nih denger ceritamu. Mbak jadi nyesel, kenapa kemarin nggak nitip oleh-oleh ya buat mereka? hiksss...”
“Kemarin juga orang itu sempat bilang mau nitip oleh-oleh loh buat Mbak Elis, tapi karena waktu kami pulang nggak sempat ketemu lagi sama mereka makanya nggak jadi.”
“Dekkkk… Mbak terharuuu. Kangen banget nih jadinya sama mereka,” air mataku hampir tumpah. Ciinnnn.. aku rindu mereka. Mu pasti rindu mereka juga kan? , tanyaku di dalam hati, kepada Lia.

***
“Sholat di mana kita Dek?”
“Di Balai Bahasa yuk Mbak?” ajak Rachel.
“Yakin Dek? Kemarin ada yang udah dilarang loh.”
“Masa iya sih Mbak? Kemarin Rachel aman-aman aja kok sholat di situ.”
Sebenarnya aku ragu, tapi karena Rachel berani, akhirnya aku pun berani. Sebenarnya sempat ragu lagi ketika mendapati pintu  samping Balai Bahasa ini terututup, karena biasanya terbuka lebar saja. Untung saja ketika didorong oleh Rachel, pintu itu bisa terbuka, ternyata tidak dikunci. Ketika kami berwudhu, 2 orang pegawai sini juga berwudu.
“Dek…. Firasat Mbak nggak enak nih!” bisikku kepada Rachel.
“Dari mana Dek?”
“Dari BEM Buukm” jawabku ramah. Meskipun hati masih dag-dig-dug.
“Kemarin kami kan sempat beberapa kali kemalingan, jadi sekarang orang luar udah nggak bisa sholat lagi di sini Dek. Makanya pintunya kami tutup, biasanya kan kami buka aja.”
“Ohh gituuu ya Buk, maaf ya Buukk.”

“Ya nggaka apa-apa untuk hari ini. Kami pun sebenarnya merasa nggak enak juga, masa orang mau sholat ke sini kami larang kann. Tapi, mau gimana lagi Dek karena udah sampai kemalingan gitu kaminya. Karena biasanya kan kami aman-aman aja. Kadang, ruangan pun kan sering kosong juga. Kalau udah sampai ada yang maling kan nggak bisa dibiarin lagi. Maaf  ya, bukan bermaksud menuduh, kami cuma menjelaskan aja apa yang terjadi Dek.”
“Iya Bukk,,, nggak apa-apa kok. Apa yang hilang memangnya Buk?”
“Helm Dek. Udah 2 yang hilang. Orang yang punya helm itu tinggalnya jauh-jauh pula. Kan susah orang jadinya dibuatnya kalau gini.”
“Ohh iya lah Bu, kami faham.”
Setelah selesai berwudhu, mereka lebih dulu ke laur toilet daripada kami.
“Kannn..udah Mbak bilang, feeling Mbak nggak enak Dek,” aduku kepada Rachel.
“Iya Mbak, hikss. Mbak Elis gimana sih cara pake jilbabnya? Kok bisa kayak gitu?”
“Sini, sini Mbak tunjukin caranya nih!”
Aku sangat senang mempraktekkan caraku menggunakan jilbab jika ada yang ingin belajar. Seperti adik-adik MAWAPRES kemarin ketika kami city tour bersama kak Jawad. Yang ku ajarkan juga insya Allah syar’I dan nggak berlebihan.

***
“Mbak, Rachel masuk kelas lagi ya Mbak. Assalamualaikumm..” Rachel berpamitan sambil menyalamiku.
Ketika aku sedang menikmati makan siang di kantin Ibu langgananan di BEM FKIP ini, Novi datang dari arah belakangku. Tapi, dia buru-buru masuk ke BEM dan barulah menemuiku lagi setelah aku selesai makan. Dan… cerita baru pun dimulai…
“Ih, Novi pergi nggak ya ni Kak?”
“Ke mana?”
“Aksi ke depan Gubri siang ini. Tuh anak-anak BEM udah pada siap-siap. Kemarin tu Novi diminta baca puisi, nah gara-gara itu sekarang kayaknya diminta lagi.”
“Baguslah Cek. Baca puisinya pakai toa?”
“Nggak kok, pakai mic. Ada micnya di sana. Ah… Novi nggak usah pergi ajalah kalau gitu, nggak ada tebengan dan kayaknya pulangnya lama nih. Soalnya Novi harus ngajar les sore ini.”
“Ya udah, nggak usah berangkat. Cerita aja sama Kakak di sini.”
“Iya deh. Eh, Cek nggak les lagi sama Mr. J?”
“Les. Kenapa?”
“Soalnya kita nggak pernah ketemu. Hehee.”
Berarti dek Novi rajin banget nih lesnya, bathinku.
“Jadi, gimana cerita serunya selama di Semarang?”

“Ih, kesal kaliii Novi loh Cekkk, waktunya singkat kalii. Novi aja nggak sempat jalan-jalan loh karena harus cepat-cepat ke Jakarta.”
“Dann… setelah sampai di Soetta ternyata  Delay sehari ya. hihiii.. kalau tahu gitu kan bisa ikutan jalan-jalan di Semarangnya dulu kan ya? hehe.”
“Ihhh, STOP Cekkk.. Novi makin kesel nanti kalau ingat ituu! Huhuu..”
“Ya udah, ceritainlah sama Kakak apa aja ilmu yang didapat dari sana.”
“Haaa…. Gini Kak, kemarin itu ternyata yang ikut maupun yang jadi pembicara mayoritasnya adalah dari komunitas. Kakak tahu Hipwee?”
“Tahu donk. love it!”
“Nah, itu pun adalah komunitas Kak. Mereka dari Yogya dan sekarang udah ada 5 cabang komunitas Hipwee itu di beberapa kota lainnya. Yang Novi heran tu gimana cara mereka dapat uang dan bisa terus bertahan? Dan, kayaknya bener yang Kakak bilang kemarin, setiap kali orang mengklik iklan yang ada di halam itu, mereka dibayar. Terusss… emmm..apalagi yaa… eng….”
“Ada Adek catat kan kemarin ilmunya?”
“Huaahhhh.. nggak ada Kak.”
Mataku membulat dan keningku mengkerut seketika. 

“Hhahaaa.. itulah Kak Novi Nii haaa. Ya ampuunnn.. rasanya pengen kali Novi ulang lagi ke acara itu haa. Masing-masing pembicara itu cuma 15 menit loh Kak ngomongnya. Mana sempat lagi Novi mau nyatat, orang udah terbengong-bengon ndengar kehebatan mereka. Ada lagi web namanya Kreanovator.com, nah itu pun bermula dari komunitas. Mereka itu kerjanya menghubungkan antara pemerintah dengan pihak kedua, misalnya nih pemerinta mau ngadain acara, jadi tugasnya Kreanovator itu mencari panitianya, mencari penanggungjawabnya. Gitulah kira-kira Kak. Daaannnn! MOZILAAAA Kaakkk…”
“Mozilla juga dari komunitas?????!” pekikku.
“Iyaaaa Kak Cekkkkk.. mereka itu komunitas jugaa ternyata. Huaaahhhh… keren kan? Intinya gini Kak, kalau kita punya ide, kita nggak bisa kerja sendirian. Kita harus punya tim yang fokus di bidangnya masing-masing. Misalnya, kayak hipwee itu, ada yang fokus di desain webnya, ada yang fokus ngurusin tulisan-tulisannya, ada yang fokus publikasinya gitu. Ya Allah Kak, Novi bertekad kali; ‘Setelah pulang dari sini, aku harus buat perubahan di UNRI!’. Kak, kira-kira apa masalah yang perlu kita pecahkan di sekitar kita ni ya?” tanya Novi serius.

Aku berulang kali merinding mendengar penuturan Novi tadi. Aku nggak terlalu kaget kalau mendengar betapa hebatnya kekuatan komunitas, tapi yang membuatku benar-benar kaget itu setelah mengetahui bahwa situs-situs raksasa itu ternyata bermula dari komunitas. WAWWWW! Sudah ada beberapa rancangan ide di kepalaku. Mungkin belum bisa ku eksekusi sekarang, Insya Allah nanti. Yang penting ku tuliskan terlebih dahulu.

***
Awalnya kami di Kantin BEM FKIP, tapi karena Yaumil teringat laptopnya masih tertinggal di musholat FAPERIKA, akhirnya kami memutuskan untuk hijrah.
“Alhamdulillah, aman laptop Umil..” leganya.
“Cin, kok jorkiii banget siihhh!” gumamku sambil melihat ke arah tempat wudhu yang kramiknya agak hitam-hitam. Yang membuatku risih adalah pintu masuk ke dalam mushola ini harus melewati tempat wudhu terlebih dulu. Kaki kan jadi agak gimanaaa gitu ngeinjak lantai basah-basah agak berpasir.
“Kami sih karena udah terbiasa, jadi biasa aja Mamake. Mungkin karena Mamake belum terbiasa, hehee. Soalnya pintu yang tengah itu tempat masuknya Ikhwan.”
Aku sedang fokus main Instagram. Ku minta Yaumil mengetik di laptopku dan aku membantunya berfikir dan mencari inspirasi kata-kata. Setelah sholat Ashar, kami kembali melanjutkan ketikan tadi.
“Duh, Mil.. kok Mamake merasa ruangan ini goyang ya? Berputar-putar gini pandangan Mamake.”
“Mamake pusing ya?”
“Duh, iya nih Mil. Kok mendadak gini yaa!” keluhku sambil merebahkan tubuh di samping Yaumil. “Apa karena kena hujan tadi? ah, tapi kan cuma sebentar aja dan nggak terlalu basah juga kok!” fikirku sambil menutup mata dengan kedua tangan.

Ku coba kembali membuka mata untuk mengecheck Instagram lagi. Dan, ternyata pusingku semakin menjadi-jadi. Huahhhh… aku meminta tolong Yaumil untuk mengambilkan bawahan mukena untuk mengikat mataku, supaya tidak melihat apapun. Yaumil merasa aneh dengan caraku itu. Mau bagaimana lagi? Lebih baik ku paksa saja tidur daripada membuka mata tapi pusingnya bukan main.
“Tidurlah Mamake,” Umil terus memijat-mijat kepala dan bahuku sampai aku tertidur.
Aku pun tertidur, kira-kira selama setengah jam juga.
“Mamake… Mamakee.. mau air minum?” tanya Yaumil, lembut. Sambil menepuk bahuku.
“Boleh Mil..”
Yaumil bergegag pergi dan kembali lagi dengan membawa Aqua Gelas beserta sebungkus kue untukku. Aku mengunyah kue itu tetap dalam keadaan terbaring dengan mata yang masih terikat.
“Mamakee.. Kak Rika ini kayaknya nggak aktif di UNRI ya trainingnya?”
“Umil sedang lihat apa memangnya? Kok tiba-tiba ngomongi Kak Rika?” aku mulai menduga Yaumil sedang membuka Instagram.
“Sedang buka Instagramnya Kak Rika ini dari Instagram Mamakee..”
“Ohhh.. bukalah. Iya sih Mil, Kakak tu sibuknya di luar. Jadwal shownya pada di luar.”
“Emmm… memang benar ya Mamake kata Bang Dadhe kemarin. Sebagus apapun acara, kalau publikasinya nggak bagus, maka dia nggak akan terlihat besar. Tapi, sekecil apapun acara kita kalau kita pandai mempublikasikannya, otomatis akan terlihat WOW.”
“Bener banget Mil.”

Awalnya aku mengira Yaumil akan mengomentarinya tentang sisi lain dari show offnya kak Rika sebagai muslimah di Instagram. Ternyata, berbeda. Alhamdulillah, she is open minded. Itulah alasannya aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang PUBLISH and SHARE sehingga akun medsosku selalu berisi kabar-kabar tekini.
“Mamake masih pusing?”
“Belum tahu nih, pusing apa nggak,” jawabku sambil berlahan menegakkan badan. Duduk. Dan, perlahan ku coba membukan kain yang menutupi mataku ini. Perlahan, ku lihat sekitar agak gelap, gelap, gelap dan perlahan mulai jelas. Duh! Ternyata pusingnya masih terasa. Tapi, memang nggak sepusing sebelum tidur tadi.
“Kok Mamake bisa tiba-tiba kayak gini ya Mil? Ada apa di mushola ini?” tanyaku, ngawur.
“Loh? Gitu pulak pertanyaannya? Haha,” sahut Yaumil. “Kita pulang sekarang yuk Mamake, udah mau maghrib soalnya.”
“Iya, iyaa,” aku terus memeras mata. Berharap rasa pusing ini bisa berkurang. “Mil, tolong ambilin motor Mamake di parkiran ya dan tolong dekatkan ke sini,” pintaku.
“Iya Mamake. Tunggu di sini dulu yaaa.”
Sembari Yaumil menuju parkiran, aku memasang kaus kaki dan memakai sepatu lalu berjalan perlahan ke bangku di dekan mushola. Yaumil mendekat ke arahku. Aku segera diboncengnya.
“Mamake sanggup nih pulang ke kosan bawa motor sendiri?” tanya Yaumil ketika sudah sampai di kosannya.

“Insya Allah nggak apa-apa Mil,” padahal aku pun tak terlalu yakin.
Bismillah… ku paksa melaju dengan terus memohon kekuatan dari Allah. Alhamdulillah, akkhirnya sampai juga dan segera ku masukkan motorku ke dalam kosan. Aku akan izin pada kak Era untuk tidak les malam ini. Sesampainya di depan pintu, ternyata Nilam telah menunggu di depan pintu. Rupanya dia sangat hafal dengan suara motorku. Dia sudah berwudhu. Aku pun menyusulnya.
“Lam, Mbak sholatnya sambil duduk ya.”
“Ya udah nggak apa-apa.”
Setelah sholat Maghrib, aku pun sholat sunnah ba’diyahnya sambil duduk juga. Ya Allah, kalau udah lemas seperti ini baru terasa bahwa sehat itu sungguh nikmat. Aku minta dikerokin oleh Nilam. Kata Nilam sih nggak merah-merah hasil kerokannya, dia jadi kurang yakin kalau aku benar-benar sakit. Hahaa. Aku pun tidur lebih awal, mungkin pukul 21.00wib aku sudah tidur. Mau ngapain lagi? Jangankan ngelihat laptop, ngelihat langit-langit kamar pun aku nggak sanggup karena semuanya bergoyang-goyang. Hauhhhhh…hiksss

Tidak ada komentar: