Aku sering berfikir tentang apa permasalahan sosial yang
bisa ku selesaikan bersama teman-teman dalam komunitas. Tapi, aku sering
terhenti oleh diriku sendiri. Saat ini, aku tidak ingin muluk-muluk dan cukup
realistis saja; MENULIS, adalah hobiku yang tanpanya aku merasa hampa. Aku
ingin memaksimalkan diri dulu di sini, supaya manfaat yang bisa ku bagikan
kelak pun bisa lebih besar. Karena, mana mungkin kita bisa bermanfaat tanpa
KEAHLIAN disuatu bidang. Aku hanya tidak ingin menyibukkan diri dalam kegiatan
yang baik, tapi menjauhkanku dengan hal baik yang merupakan jiwaku. Jadi,
berbuat baik dan berbagi manfaat pun harus punya STRATEGI, menurutku. ^_^
***
Pagi ini hati tak tenang. Bergegas ku langkahkan kaki ke
Prodi untuk mendafar ujian. Ada adik tingkat yang duduk sendirian di ruang
tunggu sementara di dalam ruang Prodi sedang ada pak Gani yang ngobrol dengan
pak Riadi.
“Dek, mau daftar ujian?” tanyaku.
“Nggak Kak. Mau ngajuin judul. Kakak mau daftar?”
“Iya Dek. Eh, ada lihat Kakak-kakak 2011 nggak tadi di
sini?”
“Ada Kak. Ada beberapa tadi yang duduk di sini, tapi orang
tu udah ke luar ntah ke manaa,” jelasnya. “Haa… itu orang tuuu Kak!” tunjuknya
ke luar jendela.
Aku berhamburan ke luar sambil setengah berteriak menyapa
Dini, Isti dan Nidia. Komentar mereka pertama kali selalu aja sama dengan yang
lainnya; “Ya ampuuunnn Elisss… pipi Elis kok makin tembem ajaa siihh?” dan aku
hanya menjawabnya sambil cengengesan nggak jelas, hehee.
“Eh, Dini kapan daftar ujiannya sih?”
“Udah lama juga Beb. Kira-kira 2 minggu yang lalu lah. Dikau
ni mengapee lah tak cepat-cepat mendaftarnya kemarinn? Sekarang dah tak bisa
lagi dahh. Dah cukup quota-nye,” tutur Dini dengan logat melayunya.
“HAH? Serius Din nggak bisa? Kemarin kata Dini SK-nya belum
ke luar, tapi?”
“Iyaa kemarin memang belum. Tapi, tadi Dini dah lihat dah.
Ada 18 orang Beb yang ujian besok tuu. Ya udah, cepatlah daftar, kalau pun tak
minggu ni semoga minggu depan ya Beb. Pokoknya daftarlah cepaat haa! Aku tahu
dikau ni udah lama selesai proposal tuu, tapi aku geramnya ngape tak dikauu
antar langsung..”
“Hiksss… aku tu nggak telaten Diiin. Kalau ku lihat Prodi
tutup atau Bapak nggak ada, aku pasti
langsung kabur. Mana mau aku nunggu lama-lama di sinii. Ya udah yaa..makasih
Ciiinn infonya.”
Aku kembali lagi ke dalam Prodi. Nidia pun ikut bersamaku,
katanya dia kangen, pengen cerita-cerita. Tapi, bukannya cerita, dia malah
membahas pipiku melulu.
“Kok bisa kayak gini sih Eliss sekaraang? Ya ampuunn, dulu
waktu pertama kali masuk masih imut-imut gituuu.”
“Oh, jadi sekaran nggak imut lagi nih masuknya?”
“Imut sih, nge-gemesin bahkan. Tapi, agak lainnn aja
kesannya jadinya muka Eliss sekaraaang. Tapi, nggak apa-apa deh, jadi tembem
dan imut pipinya.”
Ketika pak Gani ke luar ruangan, aku segera menyerobot masuk
ke dalam. Aku duduk tepat di depan pak Riadi yang ntah sedang menulis apa.
“Pak, saya mau dafta ujiaan Proposal.”
Tapi tangan pak Riadi tiba-tiba diangkat. Seolah memintaku
menunda bicara. Aku terdiam beberapa saat.
“Apa kau bilang tadii?”
“Saya mau daftar ujian Pak.”
“Ujian apa?”
“Proposal Pak.”
Pak Riadi beranjak dari tempat duduknya, mengeluarkan buku
daftar nama-nama mahasiswa yang ujian dan menyodorkannya kepadaku untuk ku isi.
Ya Allah, jangan sampai pak Riadi nanya atau ngelihat-lihat
lagi judulku. Plisss ya Allah.. plisss.. biarlah dosen-dosen pengujiku saja
yang nanti memberiku kritik dan saran terhadap proposal ini.
“Kau semester berapa?”
“Saya, 9 Pak.”
“Kenapa pula kau bisa 9? Ini untuk anak-anak semester
sepul…”
“Emmm..tunggu sebentar ya Pak,” aku mendadak izin ke luar
dari Prodi. Penaku nggak terbawa di dalam tas rupanya. Sekaligus, aku pun
bingung dengan maksud pertanyaan pak Riadi barusan. Daripada aku salah jawab,
lebih baik ku rusak saja ingatan pak Riadi dengan memutusnya dengan cara
seperti ini.
“Nid, kita ini sekarang semester 9 kan?” tanyaku kepada
Nadia sembari meminjam pena.
“Iya. Kenapa Lis?”
“Kok Pak Riadi barusan bilang sekarang semester 10 yaa?”
tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Udah Pak,” ku sodorkan kembali buku itu kepadanya.
“Nih, ikat mapnya,” pak Riadi menyerahkan tali raffia
berwarna hitam kepadaku.
Setelah mengikat dan menumpuk mapku di dekat lemari, aku
berterimakasih sambil berpamitan. huffftt.. leganyaaaa.
“Kak Umiiiiiii,” pekikku ketika melihat kak Umi di ruang
tunggu. “Kangeeeeen Kkaaaakkk,” pekikku lagi sambil menyalami dan memeluknya.
Aku nggak pernah terlalu dekat dengannya sebenarnya. Tapi, ntah kenapa sejak
pertama kali aku mengenalnya (waktu itu aku diajari nge-MC) aku udah merasa
sangat dekat dengannya. Mungkin karena ia pun adalah orang yang hangat dan
sangat bersahabat.
“Jadi, udah sampai di mana nih Kak prosesnya?”
“Baru judul Dekk. Ini mau bimbingan sama Pak RM, eh ternyata
Bapaknya nggak ada. Mau bimbingan sama Pak Gus, eh Pak Gusnya sedang di Batam.
Elis udah sampai di mana nih?”
“Baru daftar ujian Proposal Kak. Kakak selama ini ke mana
aja sih? Masih nyiar?”
“Udah lama nggak Dek. Kemarin itu Kakak ngajar di SMK di
kampung Kakak. Haaa… tulaaah Dek,
makanya selesaikan dulu ya kuliahnya, nanti aja kerjanya kalau udah kelar.
Jangan kayak Kakak gini, keteteran salah satunya dehhh.”
Aku dan kak Ummi mendadak saling curhat gini. Bukan hanya
curhat tentang urusan perkuliahan, curhatan kami pun melalang buana sampai
membahas keuangan Negara.
“…kak, sekarang ini kan bukan tentang Negara punya dana
besar untuk meng-S2-kan kita, tapi tentang apa sebenarnya VISI-MISI kita untuk
memilih S2 tersebut, ya kan Kak? S2 itu memang baik Kak, tapi Elis nggak mau
melakukan yang nggak cocok dengan Elis. Sayang kan Kak dengan umur kita. S2 itu
setidaknya 2 tahun lamanya dan artinya 2 tahun itu masih juga waktu untuk diri
kita sendiri kan Kak? Setelah selesai, barulah waktu untuk kedua orang tua
kita. Lamaaa amaat Kak. Elis sekarang lebih sering lagi bertanya kepada diri
Elis sendiri; ‘Sebenarnya apa yang kamu mau, El?’ karena kalau ternyata
kecondongan Elis memang di dunia menulis, menulis itu kan nggak butuh
unviersitas Kak. Tapi butuh latihan dan pengulangan.”
“Emmm…gitu ya Dek. Tapi gini loh, Elis nggak mau apa tetap
S2 aja dan seiring berjalannya waktu, tentu Elis akan banyak teman, banyak
pengalaman, banyak ilmu dan siapa tahu pandangan Elis berubah nantinya. Mungkin
akan dapat inspirasi baru, atau passion baru.”
“Bener juga ya Kak.”
“Eh, Kakak pernah baca blogmu loh. Kereeeen! Kakak suka.”
“Hah? Iya Kak? Yang judulnya apa tuu?”
“Yang tentang Elis tu nyemangati orang-orang untuk nulis
juga. Kurang ingat sih Lis, soalnya udah agak lama juga tuh. Yang baru-baru ini
Kakak pun ada lihat di beranda FB, tapi nggak bisa Kakak bukanya. Sukses terus
deh buat Adek.”
“Tunggu aja Kak, cerita kita hari ini pasti ntar Elis tulis
juga di sanaa.”
“Okeee dehhh.. Kakak tungguu.”
***
Cin Lia menelvon…
feelingku kurang enak nih!
“Hallo Cin? Sedang di mana?” tanyanya.
“Sedang di hatimuuuu.”
“Alhamdulillah masih di sana yaa.”
“Yuhuuu.”
“Aku mau nanyaa… mu jadi ikut FIM tuu?”
JLEBBBB! Jujur Cin, aku pun masih ragu. “Enngg… iya.
Kenampring?”
“Mu serius kan mau wisuda bulan Februari?”
“JLEEBBBB! “Ya iyalah.”
“Enggg.. cuma mau mastiin aja sih, sekaligus ngingatin juga.
Ya udah, kalau mu memang mau pergi. Jadwal ujianmu belum ke luar juga?”
JLEEBBBB! *terkoyak-koyak. “Kemungkinan pertengahan November
ini deh Cin.”
“Kemarin aku ketemu Kak Dita, dia udah ujian hasil kemarin.”
“Lah? Bukannya belum ada jadwal ujian ya sekarang Juli
kemarin.”
“Coba mu tanya deh sama Kak Dita, siapa tahu kan jadwalnya
diam-diam dan mu nggak tahu.”
“Okee deh. Maacih yaa.”
Ya Allah. Aku benar-benar harus mengisi kekosangan dan masa
tunggu --yang lagi-lagi tercipta karena kecerobohanku ini, dengan melakukan
banyak kegiatan positif. Aku nggak mau pasif karena menunggu!
“Dek Racheeell,” pekikku kepada dek Rachel yang baru saja ke
luar dari BEM FKIP, sengaja menghampiriku.
“Mbak Elisss apa kabar?”
“Kabar baikkk Dekkk.”
“Rachel tu ada gantungan kunci loh Mbak, tapi nggak Rachel
bawa pula hari ini. Besok lah ya Mbak.”
“Iyaa.. nggak apa-apa. Gimana LPJnya? Udah diantar?”
“Udah, tinggal nunggu aja nih Mbak. Kemarin juga Novi minta
contoh LPJ, langsung aja Rachel kasihin yang dari Mbak itu.”
“Ohh..gitu, ya nggak apa-apa selagi itu bermanfaat. Eh,
gimana nih cerita serunya di Yogya? Nggak mau nyeritain ke Mbak nih memangnya?”
pancingku.
Rachel memulai ceritanya dari keunikan yang berhasil mereka
tampilan ketika presentasi. Mereka mirip sepertiku rupanya; pakai 2 bahasa dan
berpantun ketika opening presentation. Aku tersenyum-senyum menyimak ceritanya.
Rasanya, aku kembali ke masa-masa tahun lalu lagi. Apalagi ketika Rachel
menceritakan bagaimana panitia memperlakukan mereka secara special dan agak
berbeda dengan peserta lainnya…
“…kami tuh jadi mikir Mbak; ‘Wahhh…berarti Mbak Elis kemarin
meninggalkan kesan yang luar biasa di mata mereka, sampai-sampai kami
diperlakukan istimewa kayak gini’ gitulah yang kami fikirkan Mbak. Mereka kenal
semua loh sama Mbak.”
Dan, dari banyak nama panitia yang Rachel sebutkan itu,
sayangnya ada beberapa nama yang tidak ku ingat siapa orangnya. Maafkan hamba
ya Allah.
“Dekk.. mbak terharu banget nih denger ceritamu. Mbak jadi
nyesel, kenapa kemarin nggak nitip oleh-oleh ya buat mereka? hiksss...”
“Kemarin juga orang itu sempat bilang mau nitip oleh-oleh
loh buat Mbak Elis, tapi karena waktu kami pulang nggak sempat ketemu lagi sama
mereka makanya nggak jadi.”
“Dekkkk… Mbak terharuuu. Kangen banget nih jadinya sama
mereka,” air mataku hampir tumpah. Ciinnnn..
aku rindu mereka. Mu pasti rindu mereka juga kan? , tanyaku di dalam hati,
kepada Lia.
***
“Sholat di mana kita Dek?”
“Di Balai Bahasa yuk Mbak?” ajak Rachel.
“Yakin Dek? Kemarin ada yang udah dilarang loh.”
“Masa iya sih Mbak? Kemarin Rachel aman-aman aja kok sholat
di situ.”
Sebenarnya aku ragu, tapi karena Rachel berani, akhirnya aku
pun berani. Sebenarnya sempat ragu lagi ketika mendapati pintu samping Balai Bahasa ini terututup, karena
biasanya terbuka lebar saja. Untung saja ketika didorong oleh Rachel, pintu itu
bisa terbuka, ternyata tidak dikunci. Ketika kami berwudhu, 2 orang pegawai
sini juga berwudu.
“Dek…. Firasat Mbak nggak enak nih!” bisikku kepada Rachel.
“Dari mana Dek?”
“Dari BEM Buukm” jawabku ramah. Meskipun hati masih
dag-dig-dug.
“Kemarin kami kan sempat beberapa kali kemalingan, jadi
sekarang orang luar udah nggak bisa sholat lagi di sini Dek. Makanya pintunya
kami tutup, biasanya kan kami buka aja.”
“Ohh gituuu ya Buk, maaf ya Buukk.”
“Ya nggaka apa-apa untuk hari ini. Kami pun sebenarnya
merasa nggak enak juga, masa orang mau sholat ke sini kami larang kann. Tapi,
mau gimana lagi Dek karena udah sampai kemalingan gitu kaminya. Karena biasanya
kan kami aman-aman aja. Kadang, ruangan pun kan sering kosong juga. Kalau udah
sampai ada yang maling kan nggak bisa dibiarin lagi. Maaf ya, bukan bermaksud menuduh, kami cuma
menjelaskan aja apa yang terjadi Dek.”
“Iya Bukk,,, nggak apa-apa kok. Apa yang hilang memangnya
Buk?”
“Helm Dek. Udah 2 yang hilang. Orang yang punya helm itu
tinggalnya jauh-jauh pula. Kan susah orang jadinya dibuatnya kalau gini.”
“Ohh iya lah Bu, kami faham.”
Setelah selesai berwudhu, mereka lebih dulu ke laur toilet
daripada kami.
“Kannn..udah Mbak bilang, feeling Mbak nggak enak Dek,”
aduku kepada Rachel.
“Iya Mbak, hikss. Mbak Elis gimana sih cara pake jilbabnya?
Kok bisa kayak gitu?”
“Sini, sini Mbak tunjukin caranya nih!”
Aku sangat senang mempraktekkan caraku menggunakan jilbab
jika ada yang ingin belajar. Seperti adik-adik MAWAPRES kemarin ketika kami
city tour bersama kak Jawad. Yang ku ajarkan juga insya Allah syar’I dan nggak
berlebihan.
***
“Mbak, Rachel masuk kelas lagi ya Mbak. Assalamualaikumm..”
Rachel berpamitan sambil menyalamiku.
Ketika aku sedang menikmati makan siang di kantin Ibu
langgananan di BEM FKIP ini, Novi datang dari arah belakangku. Tapi, dia
buru-buru masuk ke BEM dan barulah menemuiku lagi setelah aku selesai makan.
Dan… cerita baru pun dimulai…
“Ih, Novi pergi nggak ya ni Kak?”
“Ke mana?”
“Aksi ke depan Gubri siang ini. Tuh anak-anak BEM udah pada
siap-siap. Kemarin tu Novi diminta baca puisi, nah gara-gara itu sekarang
kayaknya diminta lagi.”
“Baguslah Cek. Baca puisinya pakai toa?”
“Nggak kok, pakai mic. Ada micnya di sana. Ah… Novi nggak
usah pergi ajalah kalau gitu, nggak ada tebengan dan kayaknya pulangnya lama
nih. Soalnya Novi harus ngajar les sore ini.”
“Ya udah, nggak usah berangkat. Cerita aja sama Kakak di
sini.”
“Iya deh. Eh, Cek nggak les lagi sama Mr. J?”
“Les. Kenapa?”
“Soalnya kita nggak pernah ketemu. Hehee.”
Berarti dek Novi rajin
banget nih lesnya, bathinku.
“Jadi, gimana cerita serunya selama di Semarang?”
“Ih, kesal kaliii Novi loh Cekkk, waktunya singkat kalii.
Novi aja nggak sempat jalan-jalan loh karena harus cepat-cepat ke Jakarta.”
“Dann… setelah sampai di Soetta ternyata Delay sehari ya. hihiii.. kalau tahu gitu kan
bisa ikutan jalan-jalan di Semarangnya dulu kan ya? hehe.”
“Ihhh, STOP Cekkk.. Novi makin kesel nanti kalau ingat ituu!
Huhuu..”
“Ya udah, ceritainlah sama Kakak apa aja ilmu yang didapat
dari sana.”
“Haaa…. Gini Kak, kemarin itu ternyata yang ikut maupun yang
jadi pembicara mayoritasnya adalah dari komunitas. Kakak tahu Hipwee?”
“Tahu donk. love it!”
“Nah, itu pun adalah komunitas Kak. Mereka dari Yogya dan
sekarang udah ada 5 cabang komunitas Hipwee itu di beberapa kota lainnya. Yang
Novi heran tu gimana cara mereka dapat uang dan bisa terus bertahan? Dan,
kayaknya bener yang Kakak bilang kemarin, setiap kali orang mengklik iklan yang
ada di halam itu, mereka dibayar. Terusss… emmm..apalagi yaa… eng….”
“Ada Adek catat kan kemarin ilmunya?”
“Huaahhhh.. nggak ada Kak.”
Mataku membulat dan keningku mengkerut seketika.
“Hhahaaa.. itulah Kak Novi Nii haaa. Ya ampuunnn.. rasanya
pengen kali Novi ulang lagi ke acara itu haa. Masing-masing pembicara itu cuma
15 menit loh Kak ngomongnya. Mana sempat lagi Novi mau nyatat, orang udah
terbengong-bengon ndengar kehebatan mereka. Ada lagi web namanya
Kreanovator.com, nah itu pun bermula dari komunitas. Mereka itu kerjanya
menghubungkan antara pemerintah dengan pihak kedua, misalnya nih pemerinta mau
ngadain acara, jadi tugasnya Kreanovator itu mencari panitianya, mencari
penanggungjawabnya. Gitulah kira-kira Kak. Daaannnn! MOZILAAAA Kaakkk…”
“Mozilla juga dari komunitas?????!” pekikku.
“Iyaaaa Kak Cekkkkk.. mereka itu komunitas jugaa ternyata.
Huaaahhhh… keren kan? Intinya gini Kak, kalau kita punya ide, kita nggak bisa
kerja sendirian. Kita harus punya tim yang fokus di bidangnya masing-masing. Misalnya,
kayak hipwee itu, ada yang fokus di desain webnya, ada yang fokus ngurusin
tulisan-tulisannya, ada yang fokus publikasinya gitu. Ya Allah Kak, Novi
bertekad kali; ‘Setelah pulang dari sini, aku harus buat perubahan di UNRI!’.
Kak, kira-kira apa masalah yang perlu kita pecahkan di sekitar kita ni ya?”
tanya Novi serius.
Aku berulang kali merinding mendengar penuturan Novi tadi.
Aku nggak terlalu kaget kalau mendengar betapa hebatnya kekuatan komunitas,
tapi yang membuatku benar-benar kaget itu setelah mengetahui bahwa situs-situs
raksasa itu ternyata bermula dari komunitas. WAWWWW! Sudah ada beberapa
rancangan ide di kepalaku. Mungkin belum bisa ku eksekusi sekarang, Insya Allah
nanti. Yang penting ku tuliskan terlebih dahulu.
***
Awalnya kami di Kantin BEM FKIP, tapi karena Yaumil teringat
laptopnya masih tertinggal di musholat FAPERIKA, akhirnya kami memutuskan untuk
hijrah.
“Alhamdulillah, aman laptop Umil..” leganya.
“Cin, kok jorkiii banget siihhh!” gumamku sambil melihat ke
arah tempat wudhu yang kramiknya agak hitam-hitam. Yang membuatku risih adalah
pintu masuk ke dalam mushola ini harus melewati tempat wudhu terlebih dulu.
Kaki kan jadi agak gimanaaa gitu ngeinjak lantai basah-basah agak berpasir.
“Kami sih karena udah terbiasa, jadi biasa aja Mamake.
Mungkin karena Mamake belum terbiasa, hehee. Soalnya pintu yang tengah itu
tempat masuknya Ikhwan.”
Aku sedang fokus main Instagram. Ku minta Yaumil mengetik di
laptopku dan aku membantunya berfikir dan mencari inspirasi kata-kata. Setelah
sholat Ashar, kami kembali melanjutkan ketikan tadi.
“Duh, Mil.. kok Mamake merasa ruangan ini goyang ya?
Berputar-putar gini pandangan Mamake.”
“Mamake pusing ya?”
“Duh, iya nih Mil. Kok mendadak gini yaa!” keluhku sambil
merebahkan tubuh di samping Yaumil. “Apa karena kena hujan tadi? ah, tapi kan
cuma sebentar aja dan nggak terlalu basah juga kok!” fikirku sambil menutup
mata dengan kedua tangan.
Ku coba kembali membuka mata untuk mengecheck Instagram
lagi. Dan, ternyata pusingku semakin menjadi-jadi. Huahhhh… aku meminta tolong
Yaumil untuk mengambilkan bawahan mukena untuk mengikat mataku, supaya tidak
melihat apapun. Yaumil merasa aneh dengan caraku itu. Mau bagaimana lagi? Lebih
baik ku paksa saja tidur daripada membuka mata tapi pusingnya bukan main.
“Tidurlah Mamake,” Umil terus memijat-mijat kepala dan
bahuku sampai aku tertidur.
Aku pun tertidur, kira-kira selama setengah jam juga.
“Mamake… Mamakee.. mau air minum?” tanya Yaumil, lembut.
Sambil menepuk bahuku.
“Boleh Mil..”
Yaumil bergegag pergi dan kembali lagi dengan membawa Aqua
Gelas beserta sebungkus kue untukku. Aku mengunyah kue itu tetap dalam keadaan
terbaring dengan mata yang masih terikat.
“Mamakee.. Kak Rika ini kayaknya nggak aktif di UNRI ya
trainingnya?”
“Umil sedang lihat apa memangnya? Kok tiba-tiba ngomongi Kak
Rika?” aku mulai menduga Yaumil sedang membuka Instagram.
“Sedang buka Instagramnya Kak Rika ini dari Instagram
Mamakee..”
“Ohhh.. bukalah. Iya sih Mil, Kakak tu sibuknya di luar.
Jadwal shownya pada di luar.”
“Emmm… memang benar ya Mamake kata Bang Dadhe kemarin.
Sebagus apapun acara, kalau publikasinya nggak bagus, maka dia nggak akan
terlihat besar. Tapi, sekecil apapun acara kita kalau kita pandai
mempublikasikannya, otomatis akan terlihat WOW.”
“Bener banget Mil.”
Awalnya aku mengira Yaumil akan mengomentarinya tentang sisi
lain dari show offnya kak Rika sebagai muslimah di Instagram. Ternyata,
berbeda. Alhamdulillah, she is open minded. Itulah alasannya aku ingin menjadi
bagian dari orang-orang yang PUBLISH and SHARE sehingga akun medsosku selalu
berisi kabar-kabar tekini.
“Mamake masih pusing?”
“Belum tahu nih, pusing apa nggak,” jawabku sambil berlahan
menegakkan badan. Duduk. Dan, perlahan ku coba membukan kain yang menutupi
mataku ini. Perlahan, ku lihat sekitar agak gelap, gelap, gelap dan perlahan
mulai jelas. Duh! Ternyata pusingnya masih terasa. Tapi, memang nggak sepusing
sebelum tidur tadi.
“Kok Mamake bisa tiba-tiba kayak gini ya Mil? Ada apa di
mushola ini?” tanyaku, ngawur.
“Loh? Gitu pulak pertanyaannya? Haha,” sahut Yaumil. “Kita
pulang sekarang yuk Mamake, udah mau maghrib soalnya.”
“Iya, iyaa,” aku terus memeras mata. Berharap rasa pusing
ini bisa berkurang. “Mil, tolong ambilin motor Mamake di parkiran ya dan tolong
dekatkan ke sini,” pintaku.
“Iya Mamake. Tunggu di sini dulu yaaa.”
Sembari Yaumil menuju parkiran, aku memasang kaus kaki dan
memakai sepatu lalu berjalan perlahan ke bangku di dekan mushola. Yaumil
mendekat ke arahku. Aku segera diboncengnya.
“Mamake sanggup nih pulang ke kosan bawa motor sendiri?”
tanya Yaumil ketika sudah sampai di kosannya.
“Insya Allah nggak apa-apa Mil,” padahal aku pun tak terlalu
yakin.
Bismillah… ku paksa melaju dengan terus memohon kekuatan
dari Allah. Alhamdulillah, akkhirnya sampai juga dan segera ku masukkan motorku
ke dalam kosan. Aku akan izin pada kak Era untuk tidak les malam ini.
Sesampainya di depan pintu, ternyata Nilam telah menunggu di depan pintu.
Rupanya dia sangat hafal dengan suara motorku. Dia sudah berwudhu. Aku pun
menyusulnya.
“Lam, Mbak sholatnya sambil duduk ya.”
“Ya udah nggak apa-apa.”
Setelah sholat Maghrib, aku pun sholat sunnah ba’diyahnya
sambil duduk juga. Ya Allah, kalau udah lemas seperti ini baru terasa bahwa
sehat itu sungguh nikmat. Aku minta dikerokin oleh Nilam. Kata Nilam sih nggak merah-merah
hasil kerokannya, dia jadi kurang yakin kalau aku benar-benar sakit. Hahaa. Aku
pun tidur lebih awal, mungkin pukul 21.00wib aku sudah tidur. Mau ngapain lagi?
Jangankan ngelihat laptop, ngelihat langit-langit kamar pun aku nggak sanggup
karena semuanya bergoyang-goyang. Hauhhhhh…hiksss


Tidak ada komentar:
Posting Komentar