Selasa, 06 Oktober 2015

Pilih Mana; Terkenal atau Dikenal?




Seorang Penulis memiliki harapan yang sama; Tulisannya dibaca banyak orang. Kita kesampingkan dulu tentang materi atau popularitas, aku pernah membaca status FB seseorang, bunyinya; Kalau tujuanmu menulis hanya untuk terkenal, lebih baik berhenti saja menulis! Aku setuju dengannya. Bermimpi untuk menjadi penulis terkenal memang tidak salah, tapi alangkah lebih baik kalau kita berniat dulu agar tulisan kita bermanfaat bagi orang lain. Selanjutnya, biarlah Allah yang mengambil alih siklusnya; Orang yang merasakan manfaat tulisanmu secara otomatis akan menceritakan kepada temannya, jika temannya tertarik ia pun akan menceritakannya kepada orang lain. Begitulah seterusnya. Lambat laun, kamu bukan hanya akan menjadi terkenal tapi dikenal. Bukankah dikenal itu adalah sesuatu yang lebih elegan lagi spesial?

Malam ini, aku diberitahu lagi oleh Allah tentang seseorang yang diam-diam menyukai blogku. Aku sangat bahagia mengetahuinya, apalagi orang yang bersangkutan yang mengakuinya langsung. Benar-benar nggak menyangka sebelumnya, karena di depanku ia terlihat seperti sosok yang cuek namun tetap hangat saat berinteraksi. Kadang, aku ingin bertanya kepada mereka; Apakah yang membuatmu tertarik membaca tulisanku? Kisahnya? Penuturannya? Atau tertarik kepadaku? *lempaaaarr tomaat busuuuukkkkk! hhihi.

***

“Rin, kadang aku terheran-heran loh dengan beberapa alasan menikah. Gini, ada temanku yang seangkatan sama kita, suaminya adalah teman sekelasnya. Sama-sama akan wisuda tahun ini tapi udah menikah beberapa bulan yang lalu. Suaminya itu kerja di tempat fotokopian sedangkan kawanku ini sekarang sedang berusaha cari kerja dan rata-rata dia ditolak karena statusnya udah menikah. Tinggalnya pun kadang di rumah orang tuanya kadang di rumah mertua. Pertanyaanya; ‘Kalau belum mandiri, kok nekat menikah?’ Ada kawanku yang satu lagi. Dia nggak tamat SMA, sebelum menikah suaminya memang kerja tapi waktu menikah malah sedang nganggur. Dia tamat SMA pun tidak, hidup serba kesulitan. Pas hamil lagi Rin, sering makan mie berdua. Kan melas banget kan? Lah kenapa kok ngebet kali untuk cepet nikah?”
“Iya, bener tuh El!”

“Menikah itu kan bukan hanya untuk hari itu aja, tapi selamanyaaa. Nggak harus nunggu kaya juga baru nikah sih, tapi setidaknya udah punya uang yang cukup dan punya tujuan setelah menikah mau gimana. Tunggulah dulu beli rumah baru, setidaknya bisa ngontrak. Kadang yang mengherankan, udah lama menikah tapi kok nyantai aja tinggal di ruma orang tua. Menikah itu seharusnya menghebatkan Rin, bukan memperlamban pertumbuhan. Harus ada perbedaan, sebelum menikah gimana dan setelah menikah gimana. Kalau sendiri bahagia, seharusnya berdua bisa lebih bahagia dan hebat lagi.”
“Arassooohh. Ngeri memang si kawan 1 ini.”
“Memang, menikah itu ibadah, tapi ingat, menikah juga adalah tanggung jawab. Kalau setelah menikah, kita justru jadi semakin sulit kan nggak bagus juga. Bukankah Allah nggak menyukai hambanya yang menyulitkan diri? Siap itu lahir bathin, bukan bathin aja loh. Kasihan juga lihat si kawan itu disindir-sindir sama keluarga dan mertuanya. Yah, namanya kalau kita udah menikah itu kan kita jadi keluarga lain kan Rin? Sekalipun kita masih tetap anak dari orang tua kita. Semuanya akan berbeda setelah menikah. Makanya, benar-benar siap dulu baru nyelonong ke sana!”
“Tulah, makanya jangan menggatal!”
“Loh?”
“Nanti tiba-tiba dilamar haaa..bingung!”
Rini sedang menyindir masa laluku rupanya. Huahuaha...

“Panas kali pun badan Rini niii!”
“Hidiihh, udah dia yang panas badannya,” balas Rini.
“Iya ya Rin? Kok bisa panas gini ya apa-apa yang ku pegang. Kalau HP Rini ku pegang, jadinya gimana Rin?”
“Jadi HP panggang lah HPku tuu.”
“Hahhaa.. lucu, lucu.”
Pagi ini kami berdua ngemil pisang goreng dan dilanjutkan dengan sarapan dengan sambal buatan mami. Karena sambalnya dibuat kering, makanya sampai hari ini masih awet.
“El nggak ada niat ke kampus hari ini?”
“Ngapin aku ke kampur?” tanyaku balik. *Mahasiswa macam apa yang nggak butuh sama kampus, Pemirsaaa?
“Ya, kan siapa tahu El mau ke Prodi gituuu.”
“Hemmm…kayakny nggak hari ini deh Cuy. Emangnya Rini mau ke mana?”
“Ke Puskom.”
“Oh, jadi Rini mau dianterin nih ceritanya?”
“Hee’eh.  Emangnya El nggak kasihan kalau aku jalan kaki?”
“Aciaannn siihhh. Emangnya Rini nggak nolak kalau ku anterin?” *abaikan saja obrolan yang sok romantis ini pemirsaaa.

Dan…ketika Rini udah siap-siap mau berangkat…
“El, anteriinn aku napaaa..?” rengek Rini.
Aku yang belum mandi dan masih asyik mengetik ini lalu memelas, “Rin, apa-apa nggak kalau aku nggak ngantarin Rini?”
“Nggak apa-apa sih. Ya udah deh, daaaa…”
“Marah?”
“Nggak kok. Aku tahu El akan autis.”
“Mumpung rajinku udah agak pulih nih Rin. Sebelum tiba masa linglungku lagi. Hihiii.”
“Arassooh.”
“Nanti siang makan di Warung Gopek yuk? Kan sejak kemarin belum jadi juga kita nyobain Telur Penyetnya.”
“Aku sih yes, ntar jemput aja aku di Puskom yaw.”
Tapi, setelah Zuhur nyatanya aku ngantuk parah dan tertidur sampai jam 15.00wib. Pas Rini pulang, ternyata dia pun belum makan siang. Langsung deh kami pesan lauk dan setelah Ashar barulah kami makan. Hihiii, ini makan siang atau makan subuh ya? haha.

***
Yana menelvon…
“Hallo Kak? Kakak sedang di mana?”
“Di kosan Dek. Ada apa?”
“Ke FEKON yuk Kak? lihat si Ospa ngelatih MC untuk acara KASEI besok. Ayuklah Kak, ya, ya ya? Yana jemput Kakak deh.”
“Emmm… Kakak sedang ada yang mau dikerjain nih Dek. Acaranya tanggal berapa rupanya?”
“Tanggal 13 Kak.”
“Sekarang kan baru tanggal 6, ntar deh inysa allah latihan berikutnya kita lihat yaa?”
“Ohhh..oke deh Kak. assalamualaikum…”
Hemmm… agak kurang sreg rasanya kalau datang sekedar datang tanpa diundang. Yana mungkin punya tujuan lain selain ini, tapi aku nggak. Mungkin akan lebih baik kalau aku menyelesaikan target harianku ini –nggak jauh-jauh dari tulis menulis. Aku pun ingat ada rapat MAWAPRES hari ini, daripada ke FEKON, akan lebih baik kalau aku ke san (kalau aku emang niat pergi).
“El, besok kamis puasa yuk?”
“Kan Rini udah pergi dari sini.”
“Ya nggak apa-apa. Aku kan perginya pagi, sahurnya kan masih bisa bareng kita.”
“Siapa yang akan sanggup Rin, puasa dalam kesendirian?” *well, ini lebay pemirsaaa.
“Selalapnyaa!”
Pukul 18.00wib, aku berangkat ke rumah kak Era. Ku dapati Indah dan Keysa sedang nonton TV padahal azan sudah selesai berkumandang.
“Indah... buruan wudhu! Tetaaa…Ante matiin ya TVnya, kita kan mau sholat.”
Awalnya Keysa nggak mau, tapi karena bujukan mautku akhirnya dia menurut juga.
“Nteee… Indah mandi dulu ya, bentar Ntee!”
Hemmm..ternyata dia pun belum mandi. Aku harus bersabar menunggunya, wajib banget membersamainya sholat berjamaah. Supaya dia terbiasa.
“Indah, tadi sholat Ashar nggak?”
“Nggak Nte.”
“Kenapaa?”
“Emmm…lupaaa..hee.”
“Umur Indah berapa sekarang?”
“11 tahun.”
“Ketika anakmu telah berusia 7 tahun, maka pukullah ia kalau tidak sholat. Gitu kata Rosulullah. Berarti Indah udah wajib sholat karena udah 11 tahun umurnya. Gini ya, Ante kasih perarturan, besok kita akan ngaji dulu sebelum maghrib, jadi Ante akan datang lebih cepat dan Ante mauu Indah udah mandi dan berwudhu yaaa? Sip?”
“Okee Nte..”
“Bagus.”
Setelah maghrib, seperti biasa, kak Era akan pulang sebentar sebelum kembali lagi ke stadion, berjualan jus.
“Ndaahhh…nggak dicuci piringnya Nakk?” tanya kak Era dari dapur.
“Nggak Buuunnn,” jawab Indah tanpa rasa bersalah.
“Kenapa Indah nggak nyuci piring?” tanyaku, pelan.
“Enggg..males Indah Nte.”
“Kemarin siapa yang nyuci piring memangnya?”
“Indah Nte.”
“Nah, harusnya sekarang juga donk. Kasihan loh Bunda, udah capek-capek cari uang, eh pas pulang rumah berantakan.”
Kak Era adalah sosok ibu yang tegas, tapi tidak pemarah kepada anak-anaknya. aku harus banyak belajar darinya bagaimana memisahkan antara ketegasahan dengan kemarahan. Hanya sebentar kak Era pulang, kemudian pergi lagi. Biasanya ia akan kembali setelah di SMS oleh Indah setelah selesai belajar.
“Bundaaa… nanti bawain Indah jus yaa?”
“Indah mau jus apa?”
“Ante mau jus apa, Nte?”
“Loh, kok Ante? Kan Indah tadi yang mau juss.”
“Iya, Nteee..Ante mau jus apa? Jeruk Kasturi mau?”
“Mau, mau, Kak,” anggukku cepat. Padahal tadi awalnya sok-sok nolak. Hehehe.
Benar saja, pukul 21.00wib, kak Era kembali dengan membawa 3 gelas Es Jeruk Kasturi. Brrr….rasanya agak asam, tapi nggak setajam jeruk nipis asamnya. Seger deh pokoknya! Apalagi kalau dicampurkan ke dalam teh, wah mirip banget kayak lemon tea jadinya.
“Elis rencananya setelah selesai mau kerja di mana?”
Ini adalah pertanyaan yang cukup berat. “Emmm…masih ragu Kak. pengen langsung berkarir, tapi pengen juga S2.”
“Istikharohlah Lis. Insya Allah, ada kemantapan nanti tu. Sholat Istikharoh kan bukan hanya untuk menentukan siapa jodoh yang kita pilih, tapi bisa juga untuk memantapkan hati untuk hal lainnya.”
“Iyaa Kak. Makasih ya Kak. Elis tuuu pengen banget Kak jadi penulis Novel yang nantinya diadaptasi jadi film. Kan banyak tuh Kak di bioskop-bioskop film yang asalnya dari novel. Dan, kalaupun S2, Elis nggak di sini ngambilnya Kak, pengen ke luar.”
“Amiin. Kan Kakak udah dengar cita-cita Elis ni..Kakak doakan semoga nantinya Elis mendapatkan jodoh yang mendukung Elis. Kalau yang satu ke kiri yang satu ke kanan, sulit nanti Lis kita berkembangnya. Semoga apapun keinginan Elis tu didukung olehnya selagi itu baik dan untuk kebaikan keluarga.”
“Aamiiinn ya Allah. Makasih ya Kak doanya.”

***
Kak Elis mau ke Siak ya? Kita ajak anak-anak I-YES gimana?
Kata dek Romi dari BBM. Hemmm...dia pasti baru baca blogku. Hehhe, inilah untungnya selalu menuliskan apa yang kita rasakan. Semoga waktu aku ultah nanti ada yang ngebaca blogku tentang keninginanku punya rumah dan ngasih aku rumah gratis. *loe fikir beli rumah tu kayak beli kacang goreng? huahaaa.

Undangan grup pantia Harmoni Sejuta Karya masuk ke BBMku. Segera ku terima dan ku baca chat di dalamnya. Ternyata, isinya….
Evaluasi panitia yang gak aktif. apapun jabatannya. Segera diganti!
Siap laksanakan!
Kita harus tegas, dilarang menumpang nama saja. Mulai sekarang, setiap Co menegaskan keanggotanya serta mengevaluasi. 
Bagi Co yang melihat panitia tidak pernah terlihat saat rapat harap dilaporkan agar ditindak tedas dan OUT.
Acara buat besarin nama BEM manusia. Yang berfikir dan bekerja nggak sampai setengahnya. Nanti pas acara, seabrek ada.
Yap, setuju!

aku merasa tak enak hati membaca berbagai kalimat frontal di sana. Apalagi sudah beberapa kali rapat, aku memang tak datang. Bukan disengaja, kadang waktu yang tak mampu dibagi.
Maaf baru nongol karena baru digabungkan di grup ini. Kebetulan beberapa kali rapat juga belum bisa hadir. Tapi, aku sebagai Pj KTI terus sounding dan follow up calon peserta KTI. Istilahnya, sibuk dibalik layar. maaf ya teman-teman semuaa... tulisku di sana.
LKTI dihapuskan tetapi?
Iya dihapuskan.
LKTI has been deleted
Aku jadi bingung. Kemarin aku memang pernah dengar rencana penghapusan, tapi akhirnya diklarifikasi lagi bahwa tetap diadakan. Terus, kok sekarang jadi kayak gini?
Arrgghhhhh...someone, plis clarified this one! pintaku.
Akhirnya dek Heldi menjelaskan digrup dan dichat privat denganku. Benar, KTInya dihapuskan dan udah disepakati dengan berbagai pertimbangan. Perlahan, aku bisa mengerti. Malah kasihan sama dek Heldi karena nyeritain betapa berat posisinya sebagai Co acara; banyak mendapat tekanan sana-sini, banyak yang nge-judge dan lain sebagainya.
Dekk...Adek harus kuat ya dari semua masalah-masalah ini. Kakak percaya Adek bisa!

"Rin, gimana kalau judul blog hari ini Pilih Mana; Dikenal atau Terkenal? Bagus nggak?"
"Kalau aku emm.... pilih dikenal deh!"
"Lah, aku kira tadi Rini mau ngasih judul baru. Hemmm..emang lebih keren kalau dikenal sih Rin sepertinya. Gini nih teorinya, kalau terkenal, semua orang memuji kita. Sedangkan kalau dikenal, orang lain diam-diam membicarakan kita. Sihiiyyy."

Tidak ada komentar: