Minggu, 25 Oktober 2015

Open Recruitment pada Kesukaan



“Haiii Elisssss?” suara Okta berganti dengan suara seorang wanita di seberang sana. Sepertinya aku mengenal suara ini.
“Kak Viviiiinnn? Apakabar Kakkk? Sedang ketemuan sama Okta ya Kak?”
“Kabar Kakak baik Lisss.. Iya nih, Kakak kan sedang ngeMC di SKA, kebetulan Okta main-main ke sini makanya ketemu. Ada Joni juga ni di siniii. Heemmm.. Elis sedang ngapain niii?”
“Sedang nulis Kaakkk.. ehhe.”
“Emang ya, salut banget dengan kegigihan menulisnya Elisss nihh! Ajarkanlah Kakak juga Dek, biar ketularan rajin nulisnya.”
“Elis rajin nulis dan Kakak rajin ngomong. Ya kan Kak? hehee. Kakak tuh,gigih banget ngomognya, ke mana-mana ngeMC terussss.”
“Hahhaah..iya ya, Kakak rajin ngomong sedangkan Elis rajin nulis. Gituu yaaa. Eh, tapi kayaknya jarang Elis share-share lagi ya tulisannya di FB? Kalau kemarin kan sering banget tuh linknya di share ke FB.”
“Hhehe, iya Kak, sekarang memang jarang, tapi nulis dan postingnya tetap kok Kak. Soalnya Elis udah punya pelanggan tetap Kak, alias pembaca rahasiaa. Jadinya nggak perlu dishare lagi karena mereka udah otomatis membaca. Hihiii.”
“Weewww, ngeriii dannkkk. Salut lah pokoknya dengan Eliss. Eh, nih-nih si Ariii,” kak Vivin langsung menyerahkan HPnya kepada Okta, mungkin waktu breaknya usai dan dia akan kembali manggung.

Ya Allah… aku semakin yakin bahwa KESUKAANku ini sangat berharga. Setiap kali berhenti memposting, selalu saja ada yang menagihnya. Dan, bahkan lebih dari itu, ternyata beberapa orang sudah ku ketahui rajin membaca tulisanku. Aku yakin, masih ada banyak lagi yang diam-diam MEMBACAku tapi belum ku ketahui siapa orangnya. Ya Allah, bantu hamba untuk terus menerus MENYUKAI KESUKAAN ini. Karena aku yakin, akan ada OPEN RECRUITMENT-Mu pada kesukaanku ini. aamiiin..amiin.. aamiiin.

***
Karena air baru saja mengalir dari kran, Nilam baru saja memulai mencuci baju. Seperti kepulangannya yang sebelumnya, aku dan Nilam berbagi tugas; Nilam mencuci baju dan aku yang menjemur+menyetrikanya.
“Lam? Kita nggak usah ke luar rumah ya hari ini. Kita delivery aja ya lauknya.”
“Y udaa… nggak apa-apa.”
“Nilam mau lauk apa?”
“Yang besar apa ya Mbak?”
“Ikan laut. Sip!”
Pesanan datang tepat setelah Nilam selesai mencuci baju. Aku mengajaknya makan terlebih dahulu sebelum sholat Zuhur. Aku pun belum bisa menjemur pakaian karena airnya lagi-lagi habis dan baju belum dibilas.
“Mbak, kemarin ada teman Kakak di pondok yang kesurupan loh terus dirukyah sama ustad kami.”
“Loh? Bukannya merukyah itu nggak boleh ya?” tanyaku.
“Kata siapa Mbak?”
“Pernah dengar kayak gitu sihh. Tapi kurang tahu juga kenapa.”
“Ya mau gimana lagi Mbak, jinnya banyak kali di badannya dah! Kalau nggak diruqyah gimana bisa ke laur tuh jinnya?”
“Iya juga sihhh.”

Naudzubillah ya Allah, ampuni hamba dan keluarga hamba. Jauhkanlah kami dari gangguan jin dan segala makhluk-Mu yang membahayakan kami. Aamiin.
Bismillah.. assalamualaikum Mbak. Gimana kabarnya?
1 inbox FB ku terima dari Oki Ramadiani. Dia cowok ya. Walaupun namanya kayak cewek. Hee.
Waalaikumsalam Dek. Kabar baik. Kamu gimana?
Kabarku juga baik Mbak. Btw, blognya mbak kereeen.
Waahhh… makasih ya dek. Udah dibaca memangnya? Btw,
kamu siapa ya dek? Kakak mungkin lupa.
Aku ini Oki loh Mbak, peserta LKTI BEM FKIP Celebration kemarin.
Owalaaaaaaaaaaahhh Mbak kehilanganmu loh Dek. Kemarin kan Adek udah minta nomor HP Mbak, tapi Adek nggak pernah menghubungi Mbak dan Mbak nggak tahu loh ternyata kita udah berteman di FB.
Tenang aja Mbak, aku nggak menghilang ke mana-mana. Aku sering mantauin kronologi FB Mbak. Karena lewat FB, aku selalu bisa
bertemu dengan Mbak.
So sweeetttt. Eh, di Makassar asapnya tebal nggak Dek?
Di Riau parah nih.
Alhamdulillah nggak parah kok di sini Mbak. Aku lihat di berita juga begitu Mbak, Riau sedang diuji oleh Allah Mbak. Semoga saudara-saudara semuanya di sana sehat dan kuat ya Mbak.
Makasih ya dekkk.. hiksss.

***
“Lam, udah selesai baca buku Ibuku Sayang tuu?”
“Belum. Nggak nyambung pun antara judul sama isinya.”
“Emangnya udah dibaca sampai habis? Kok udah bisa mennyimpulkan gituu?”
“Udah sih beberapa halaman Kakak baca, aneh. Judulnya Ibu Sayang, tapi certainya tentang dia sama kawan-kawannya. Si Jessica itu.”
“Baca dulu sampai habis, baru Nilam akan tahu apa maksudnya. Mbak bentar lagi mau ngajar les, pulangnya jam 9.”
“Aiihhh? Lamoo kooo. Tak usah pergi ngapooo?”
“Nilam tu yang apoo kooo? Orang ngajar les kok malah nggak dibolehin. Kan ada laptop, bisa nonton. Ada Android juga, bisa main game tu haaa. Nilam suka Mie Ayam nggak?”
“Ya sukaklah!”
“Ohhh.. kirain nggak suka. La jadi?”
Aku berkemas-kemas, memasukkan uang ke dalam dompet dan membawa android juga.
“Kok nggak bawa buku Mbak?”
“Buat apa?”
“Tapi katanya ngajar les? Kok nggak bawa apa-apa?”
“Ohhh, tapi mau beli Mie Ayam duyuuu? Nggak mau memangnya?”
“Ohhooo.. maulah! La jadi?”

Kasihan Nilam, dia akan sendirian di kamar 3 jam lamanya. Memang, Mie Ayam ini tidak akan membuatnya tidak kesepian, tapi setidaknya bisa memberinya kebahagiaan sebelum aku pergi.
“Mbak, Mie Ayamnya 2 ya. Dibungkus.”
Sambil menunggu Mie Ayamnya selesai, aku mengecheck BBM. Ada balasan pesan dari dek Dila rupanya…
Kak, sebelumnya Adek nggak pernah menceritakan rahasia ini sama siapapun. Adek berusaha ceria dan tersenyum di depan semua orang sepahit dan sesakit apapun yang adek rasakan. Semoga Allah juga selalu menjaga kakak sepertinya baiknya doa kakak buat Dila. Makasih ya kak atas kepeduliannya.
Aku jadi terharu membaca pesan sebelumnya yang panjang lebar darinya. Berkali-kali aku bersyukur atas harmonisnya hidupku ini dan segala kebahagiaan di dalamnya. Mendengarkan keluh-kesah orang lain akan membuat kita sadar bahwa ada orang lain yang lebih sedih daripada kita, ada orang lain yang ujiannya lebih berat daripada kita, ada orang yang permasalahannya lebih akut daripada kita. Dan, setelah berkaca pada lingkungan sekitar, akhirnya kita akan kembali kepada diri kita sendiri dengan berjuta syukur bahwa ternyata kita masih jauh lebih beruntung.

“Berapa semuanya ini Mbak?”
“Tadi pesannya apa aja?”
“Mie Ayam 2.”
“Nggak pakai bakso?”
“Nggak.”
“Rp 20.000.”
Aku menyodorkan uang pas kepada si mbak dan bergegas kembali ke kosan. Dalam perjalanan, aku sedang men-SALUT-I 1 hal dari bangsaku ini. Cara membayarku tadi tentu sering dialami oleh semua orang setelah membeli sesuatu atau makan di suatu tempat. Lalu, kasirnya akan bertanya; ‘Tadi apa aja yang dimakan/dibeli?’ dan kita akan menjelaskan ini dan itu. Pertanyaannya adalah; ‘Kok si kasir percaya kalau kita nggak membohonginya dan curang?’ ya kan? Bisa aja kan kita sengaja tidak menyebutkan apa yang udah kita makan, ya namanya aja yang dimakan udah masuk perut, mana kelihatan lagi. Tapi Alhamdulillah, rasa SALING-PERCAYA dalam transaksi seperti ini memang lazim dan bukan hal asing di negeri ini. Subhanallah!
“Kakak udah yakin itu pasti suara motor Mbak Ela. Karena khas kali suaranya,” kata Nilam ketika aku membuka pintu kamar.
“La jadi?”
Ku tuangkan 2 bungkus Mie Ayam itu ke dalam mankok almunium.
“Hoiiii cepatlah makan haaa!” tegasku kepada Nilam yang masih asyik membaca buku. “Hooooyyyy! Makan duluuu!” teriakku lagi.
“Iya, iyaaa,” Nilam mulai mengaduk Mie Ayamnya dengan tetap memegang bukunya.
“Tuh kaaannn… ketagihaaann! Tadi sok-sok nggak mau baca.”
“Hhehee.”
Aku sholat Maghrib dulu berjamaah bersama Nilam sebelum berangkat ke tempat les. Nanggung, soalnya azan sudah berkumandang.

***
“Anteeeeeeeeee!” sapa Keysa kepadaku. “Anteee Ciiinnn,” sapanya pula kepaad kak Silva, adeknya kak Era,  yang datang bersamaku.
“Ini Tasya yaa?” tanyaku kepada anak perempuan yang sedang makan bersama Indah. Soalnya tadi kak Era berkata bahwa akan ada Tasya yang mulai les hari ini.
“Bukan Nteee… ini namanya Mila, sepupu Indah.”
“Ohhhh. Ante ngaji dulu ya kalau gitu.”
Bertepatan ketika Tasya datang, target ngajiku udah selesai dan kak Era berpamitan.
“Dek,,, Kakak ke Stadion dulu yaaa. Tolong lihatlah belajarnya Indah ya Lisss, gurunya kemarin bilang jangan sampai prestasinya turun waktu ujian semester nanti soalnya saingannya berat-berat di kelasnya tuu.”
“Ohh gituuu.. Insya Allah Kak,” jawabku dengan optimis. “Ndah, Zikri mana? Nggak les dia?” tanyaku pada Indah.
“Nggak les lagi katanya Ntee.”
“HAHHH? Iya Kak?” tanyaku kepada kak Era, memastikan.
“Iya Dek.”
“Loh? Kenapa Kak? Alasannya apa? Elis khawatir pula dia ada tersinggung dengan kata-kata Elis.”
“Besoklah ya Kakak tanyakan sama Mamanya.”

Yang aku ingat, terakhir kali dia les --hari Selasa kemarin, nggak ada masalah. Sebelum belajar, aku mengajarinya mengaji dan karena bacaannya masih tersendat-sendat di Iqro’ 6, aku memintanya untuk mengulang dair Iqro’ 5 lagi. Kemarin, aku sudah menanyakan kesediaannya dan dia mengangguk antusias. Rasanya tidak ada masalah. Hemmmm… tapi, aku jadi teringat beberapa kasus yang pernah ku alami dalam persahabatan sebelumnya; konflik itu kadang nggak menunggu alasan yang rasional untuk terjadi. Hiksss..
Ya Allah… semoga nggak terjadi apa-apa dan nggak ada yang terluka karenaku.

Kebetulan, PRnya Indah dan PRnya Tasya sama hari ini, padahal mereka nggak sekelas walaupun sama-sama kelas V. Aku jadi lebih mudah menjelaskan pelajaran dan kesulitan mereka dalam memahami soal. Seperti biasa, aku mengajak Indah untk sholat Isya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pelajaran. Kali ini ada Tasya juga yang turut. Oh ya, kemarin pun aku sempat mengajak dek Zikri, tapi dia menolak dengan berbagai cara. Padahal udah ku bujuk juga dengan berbagai cara. Apa mungkin dia tersinggung karena ajakanku itu? Ah, semoga tidak.
“Ya udah, nggak apa-apa nggak sholat sekarang, tapi nanti janji ya akan sholat Isya di rumah?”
“Janji Nteee,” jawab Zikri saat itu.
Ternyata dek Mila pun punya PR dan mengerjakannya bersamaan dengan Indah dan Tasya, aku membantunya. Aku berfikir, PR sebanyak itu kalau nggak ku tolongin, siapa yang akan ngajarin dia di rumah? Sampai jam segini pun orang tuanya belum menjemputnya. Dan, tepat pukul 20.35 wib anak-anak sudah selesai belajar, orang tuanya dek Mila pun baru datang.
“Dek, ada nggak teman yang tinggal di Rumbai yang mau ngajar les? Kalau ada, biarlah kami leskan Mila ni. Selama ini kami cari-cari nggak ada, jaranglah di daerah sana tuu.”

“Nanti coba tanya sama teman Elis ya, kalau ada, hubungi Kak Eraaa aja,” kata kak Silva.
“Insya Allah Kak, nanti coba Elis tanyain ke teman-teman yang tinggal di Rumbai,” jawabku.
Aku memperhatikan kedua orang tuanya Mila yang aku yakin usia pernikahannya kurang lebih seusia dek Mila. Mereka masih sangat muda. Tiba-tiba aku berfikir; ‘Dulu waktu pacaran, pasti keduanya tampil sangat rapi dan menawan. Dan, aku yakin penampilan mereka yang sekarang ini jauh banget perbedaannya dengan semasa pacaran dulu. Hemmm… apa memang susah ya mempertahankan keromantisan dan kerapian seperti sebelum menikah dulu?’
Ya Allah, jodohkanlah aku dengan laki-laki pilihan-Mu yang romantis. Izinkan pula aku mempertahankan kecantikanku di hadapannya sesibuk apapun kelak. Izinkan rumah tangga kami tetap harmonis seperti saat pertama menikah. Bantu kami menghidupkan dan membarakan cinta kami dari waktu ke waktu. Aamiin…

“Eh, mati lampu lagi ya?” tanya kak Silva di tengah jalan menuju pulang.
“Iya nih Kak, kayaknya mati lampu lagi Kak.”
Padahal tadi siang udah mati lampu, sekarang mati lagi. Ya Allah, siang berasap, malam gelap-gelap. Tapi syukurlah, ketika aku sampai di kosan, lampunya langsung nyala. Niatnya sih setelah pulang ke kosan mau langsung ngetik sampai larut malam. Tapi, ternyata niatku beralih. Malam ini aku ngintipin beberapa akun Instagram orang yang berharap bisa menginspirasiku. Dan, pecarian pun berlanjut. Salah satu akun yang ku buka malah menghubungkan ingatanku ke masa-masa SMA. Tiba-tiba, aku jadi merindukan teman-teman dan senior semasa SMA yang ku kagumi dan dekat denganku.
Pukul 00.35wib…

Nggak terasa aku udah menghabiskan 3 jam di depan Instagram dalam pencarian ini. Alhamdulillah, sudah puluhan akun teman/senior/junior SMA yang ku ikuti. Rindu ini sudah cukup terobati setelah melihat keadaan mereka saat ini. Ada yang sudah wisuda, sudah menikah, belum tamat, sudah bekerja, ada yang masih pacaran sampai sekarang dengan pacar SMAnya dan ada juga yang masih begitu-begitu aja. Mereka tidak perlu tahu aku mencari tahu. Cukuplah Allah saja yang tahu bahwa aku sedang rindu dan berusaha mencari tahu. How amazing this sosmed function!

Tidak ada komentar: