Aku kembali menikmati pagi bersamanya. Setelah seminggu lebih
kami tak saling sempat bersua. Kami menikmati sarapan di tempat yang
diperkenalkan Okta sebelumnya; di ujung jalan Bina Krida, di pangkal jalan
Manyar Sakti. Sejak aku menjemputnya tadi, sudah banyak sekali hal yang ku
ceritakan kepadanya. Dia pun demikian. Ternyata meskipun tidak bertemu, kami
saling menyimpan cerita untuk dibagikan.
Adakah kita bisa terus
bersama seperti ini, Rin?
Bisa. Jika dalam doamu selalu tersebut namaku dan dalam
setiap doaku selalu tersebut namamu. Insya Allah. ^_^ untuk saat ini, jangan
hiraukan perpisahan yang semakin dekat jaraknya dengan kita. Kita hanya perlu
berpura-pura tidak melihatnya dan bersama-sama menghadapinya. Nanti.
***
Aku berjalan mendekati panitia Pelatihan Karya Tulis Ilmiah
PKN. Mereka sedang berdiri di depan ruangan acara.
“Kak Elysa ya?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya.”
“Oh, Kak Elysaa.. mari
Kak ikut saya ke HIMA,” ajak yang lainnya.
Aku mengikutinya dari belakang dan bersama-sama masuk ke secretariat
HIMA PKN.
“Kakak ada CV dan powerpoinnya? Biar nanti diprint-kan Kak.”
“Ada nih. Tapi nggak usah diprint deh Dek, karena slidenya
cuma sedikit.”
Lumayan kan, menghemat
konsumsi kertas?
“Oke Kak. Oh ya Kak, Kakak jadinya pemateri ke-3 Kak dan itu
sesi setelah Zuhur Kak. Nanti Kakak sampaikan aja tentang motivasi nulis KTI dan
metode kualitatifnya ya Kak. Soalnya pemateri 1 ngisi tentang metode
Kuantitatif, pemateri kedua metode campuran dan penulisan proposal SKRIPSI dan
Kakak metode kualitatifnya.”
“Ohhh…gitu ya Dek. Sip, sip. Udah ada kok di slidenya.”
“Tapi, lebih difokuskan aja ke metovasi nulis KTInya ya Kak,
soalnya mereka pasti udah jenuh dan ngantuk tuh nanti. Lagian kan mereka belum
ngambil metopel juga, jadi agak berat juga kalau semuanya dikasih tahu
sekarang.”
“Ohh, jadi gini Dek, nulis KTI itu agak berbeda dengan
SKRIPSI. Untuk bisa nulis KTI, kita nggak harus belajar metopel dulu kok!
Buktinya aja Kakak. Kakak justru lebih kenal dengan KTI jauh hari sebelum
belajar Metopel malah.”
“Kakak yang kemarin pernah menang LKTI di BEM FKIP EXPO kan
Kak?” tanya yang lainnya.
“Iya. Kok Adek tahu?”
“Ohhhh… makasih Adek. Oh ya, berarti Kakak sekarang bisa
pergi dulu ya ke acara lain Dek?”
“Boleh Kak. Nanti setelah Zuhur baru ke sini lagi Kak.”
Well, tujuanku selanjutnya adalah melihat Teguh menjadi
moderator dalam talkshow dengan alumnus Laecester University, UK di Audit FMIPA
UR. Syukurlah ternyata acaranya masih dalam pembukaan. Jadi, aku bisa melihat
Teguh sejak pertama kali CVnya dibacakan sampai dia dipanggil ke atas panggung.
“Dek, misalnya ada orang yang berkata 2 hal; ‘Eh, si anu tuh
baru pulang dari Inggris loh, S2 di sana’ atau yang ini; ‘Eh, si anu tuh baru
pulang travelling dari Inggris loh, padahal kemarin baru aja pulang dari Jepang’
lebih keren yang mana menurut Adek?” tanyaku kepada perempuan di sebelahku yang
ku tahu angkatan 2014.
“Lebih keren yang pertama Kak. Karena kalau ditanya; ‘Kamu
lulusan mana?’ dan dia jawab; ‘Aku lulusan Manchester University,’ weeehhhh…
kan keren banget tuh Kak. Kalau travelling sih siapapun bisa dan itu kan pakai
uang sendiri. Nggak special Kak,” jelasnya.
“Ooooo….. gituuuuu yaa.” Jawabannya adalah referensi bagiku
yang sedang abu-abu tentang masa depanku.
“…yang penting IPK kita harus 3. Insya Allah kalau sudah 3
apalagi lebih, peluang beasiswa itu adalah milik anda. Tapi kalau sempat di
bawah 3 atau 2,99, itu pasti otomatis akan disingkirkan oleh tim penyeleksi. Padahal
hanya kurang 0,01 lagi, tapi tetap aja nggak bisa. Makanya, sejak sekarang
usahakanlah IPKnya tetap stabil dan diatas 3 yaa?” jelas bang Azmi –bintang tamu
dalam talkshow ini. “Sekarang Abang mau bertanya, siapa yang udah ada gambaran
mau kuliah di mana S2nya dan jurusannya apa?"
Beberapa orang terlihat mengangkat tangan dan terlihat agresif, berharap dirinya lah
yang ditunjuk dan dipersilahkan untuk mengemukakan pendapat. Salah satu dari
mereka, aku melihat Nika dari kejauhan. Dia memang luar biasa. Sejak pertama
aku mengenalnya, dia udah luar biasa hingga saat ini.
Yakin El mau lanjut
S2?
Tiba-tiba pertanyaan itu bergema di dalam hatiku sana. Munculnya
begitu saja dan tiba-tiba. Sejauh ini, aku belum ada gambaran akan kuliah di
mana dan mengambil jurusan apa. Tadi pagi, bahkan aku berkata ke Rini; “Rin,
kayaknya aku udahan dulu deh dari dunia akademis ini. Rasanya, dari kemalasan
dan keterlambatanku selesai bulan Oktober ini mengindikasi bahwa aku nggak
seharusnya maksain diri lanjut S2 deh! Aku cuma nggak mau Rin melakukan hal
baik tapi nggak cocok denganku. S2 itu memang baik, baik banget bahkan, tapi
kalau nggak cocok dan nggak make me happy, buat apa?” Dan, Rini pun punya
pemikiran yang sama ternyata; “Aku pun udahan lah El dengan dunia akademis ini.”
“Sangat disarankan untuk teman-teman mendapatkan LoA (Letter
of Acceptence) terlebih dahulu sebelum mencari beasiswa. Karena, saya punya
beberapa teman yang bekerja LPDP dan mereka sangat mengahargai hal itu.
kelihatan banget kalau dia memang berniat mau kuliah di luar negeri dengan LoA
tersebut. Teman kuliah saya yang dari
Malaysia pernah bilang gini; ‘Eh, kalian kok susah banget sih dapetin beasiswa?
Kalau di Malaysia, yang berprestasi tinggal milih aja mau lanjut kuliah di
mana, bahkan ada lembaga sosial yang ngasih loans (pinjaman lunak) dan hanya
dibayar 10% saja setelah lulus kuliah’. Enak banget kan mereka?”
“Ahhh… aku pindah kewarganegaraan lah kalau gituuu! Hehee,”
kata adek-adek di sebelah tempat dudukku.
“Sebenarnya kita hanya harus tahan-tahanan aja sih. Tahan berusaha,
tahan nyoba lagi kalau gagal, tahan ngulang pelajaran, tahan baca buku di
perpus berlama-lama. Kita bakal merasa hina banget kalau sempat pulang duluan
sementara teman-teman yang lainnya masih fokus baca buku di perpus loh. Wahhh,
hina banget sih gue? Akhirnya, saya sering maksain diri lama-lama di perpus. Kalau
capek, tinggal tidur aja soalnya disediakan kasur juga di sana. Kalau laper,
ada kafenya juga. Pokoknya supaya saya jangan sampai pulang lebih dulu dari
mereka deh! Hehehe. Iklim belajarnya sangat terasa deh di Inggri itu dan saya
yakin teman-teman yang sekarang malas belajar pun pasti akan termotivasi untuk
belajar karena lingkungannya memang sangat mendukung. Senin sampai Jumat,
mereka akan belajar belasan jam dan bekerja kerasa untuk itu, tapi jangan harap
sabtu dan minggu mereka mau belajar, those time is for have fun and relax bagi
mereka.”
“Eh, eh, tolong donk fotokan kami berdua! Ini penonton
setiaku nihh dan aku pembaca setianyaa. Ya kan Mak?” kata Teguh.
“Iya yaa Dekk, kok pas banget ya kita?” aku baru menyadari
kesetiaan yang satu ini. Alhamdulillah, bukankah setiap hal-hal baik sudah
semestinya disetiai? Supaya tetap berkelanjutan dan bermutualis. ^_^.
Sebelum meninggalkan audit FMIPA, aku sempat ngobrol dan
foto-foto dengan Lia. Udah lama banget kami nggak bersua. Dan sebentar lagi pun
dia harus kembali lagi ke asramanya untuk mensukseskan acara Muharram Fair di
sana.
“Aku nggak jadi daftar Indonesia Youth Dream kemarin Ciin.”
“Aku juga nggak. hehe.”
“Lah? Bukannya mu udah ya? Kemarin mu bilang form
pendaftarannya 7 halaman kan?”
“Ya kan aku cuma ngasih tahu aja, tapi aku belum daftar. Hehehe.
Sama lah kita yaa.”
Ternyata Lia udah penelitan dan sekarang sedang sibuk ngolah
data. Aku? Bahkan ujian Porposal pun belum juga. Ya, gimana mau ujian kalau
jadwalnya aja belum ada? Ahhh… andai aja kampusku kayak Brawijaya yang proses
SKRIPSInya hanya 1 kali sidang ketika SKRIPSInya sudah selesai ditulis dan
diteliti saja. Andaikan. Andaikan Andaikan.
“Cin, kayaknya kampus-kampus di UK itu nggak seribet ini ya
tugas akhirnya?”
“Emang bener Ciiiinn.. Bang Fahmi ajaaaa, Tesisnya cuma
ngupload essay aaja looooh Ciiiinn. Ya ampuuun, enak banget kan?”
“Subhanallah. Seharusnya kampus kita juga bisa begitu ya
Cin. Sebab, yang terpenting itu memang pada gagasan mahasiswa. nggak perlu lah
diperibet dengan sistem dan birokrasi yang rumit kayka gini. Kalau udah kayak
gini sih fokusnya tinggal gimana caranya supaya cepet selesai. Udah, gitu aja.
Menuangkan kreativitas dan memberikan penelitian terbaik udah menjadi nomor sekian
aja deh!”
“Cin, ayok kita menjadi generasi penerus yang akan merubah
bangsa ini! Tapi, pertama-tama kita harus punya power dulu sehingga kita bisa
menggerakkan banyak orang Cin. Itulah sebabnya Pak Ridwan Kamil bisa mengubah
Bandung seperti sekarang ini. Ayok Cin! Kitalah menjadi pembawa perubahan itu.”
Aku manggut-manggut, mantap. Tapi diujungnya, timbul lagi
pertanyaan baru di benakku; ‘Benarkah itu hanya mungkin terwujud kalau aku S2? Bagaimana
jika ternyata aku nggak mau?’ hiksss… ya Allaaaahhh… aku binguuuuuung.
***
“Hallo Kak? Kakak udah di mana? Acaranya sebentar lagi udah
mau dimulai Kak.”
“Oh ya, sebentar lagi Kakak ke sana ya. Sekarang Kakak di
mushola rektorat.”
Ku lihat jam di HP. Ternyata udah pukul 14.12wib. Aku udah
tertidur selama setengah jam lebih di sini. Fikiranku kacau banget tadi dan
meminta kepada Allah ketetapan hati dengan doa ini; “Ya Allah, hamba bingung. Mana
yang lebih baik menurut-Mu? Apakah hamba lanjut S2 saja atau sejak sekarang
mulai berkarir dengan passionku? Hamba binguuun ya Allah. Binguuunnnng. Hamba nggak
mau salah memilih. Sekalipun keduanya sama-sama baik, tapi salah satunya
mungkin tidak cocok dengan hamba.”
Seingatku, aku pun sempat menangis tadi.
“Dek, Kakak hanya nggak mau buang-buang waktu. Sekarang,
Kakak harus lebih rajin bertanya lagi kepada diri sendiri dan kepada Allah
tentang apa yang sebenarnya Kakak tuju dalam hidup ini. Kalau ternyata yang
Kakak mau itu adalah menulis, berarti Kakak hanya perlu menekuninya dengan
berguru kepada ahlinya. Menulis kan nggak butuh universitas Dek,” tutuku kepada
Yana pada suatu sore beberapa minggu yang lalu.
Allahuakbar!
Jangan sampai kebingunganku ini mempengaruhi semangatuk
untuk berbagi ilmu dengan adik-adik di PPKN. Semangat El! Semangaaat! Biarlah yang membingungkan itu tetap
menjadi hal yang membingungkan hingga datang seseorang yang akan membuat segala
sesuatunya menjadi lebih jelas.
***
“Dari mana Eliiss?” tanya kak Yil kepadaku.
“Ngisi Pelatihan KTI Kak di PPKN. Nih ada buah-buahan Kak,
silahkan dicoba. Wildaaannnn.. Lutfiii… Ante ada buah niii.”
2 buah apel langsung ludes oleh mereka berdua, demikian pun
jeruk. Tinggallah beberapa buah salak yang ku nikmati.
“Keren juga ya Lis parselnya.”
“Iya Kak. Niat banget mereka ngasihnya. Biasanya nggak dapat
piring kayak gini Kak, buahnya cuma dibungkus pakai plastik bening aja. Lumayan
dapat piring cantik berbentuk daun gini. Hehe.”
Aku makan siang dengan telur penyet di sini. Okta ku suruh
ke sini juga untuk mengerjakan slide power poinnya untuk presentasi hari Senin
esok. Setelah aku selesai makan, barulah dia datang dan langsung mesen mie
goreng yang ku bantu ngabisinnya. Hehe.
“Cek tahu berapa orang juri kita besok?” tanyaku.
“Nggak tahu. Berapa rupanya?”
“7 orang loh Cek. Bayangkanlahh! Ini adalah jumlah juri
terbanyak sepanjang perlombaan yang pernah Kakak ikuti selama ini.”
“Baguslah Cek. Semoga semakin objektif pula kan nantinya. Eh,
jangan-jangan Bapak yang dari dinas Pariwisata itu diundang pula Cek”
“Bapak yang mana ni?”
“Yang dulu jadi juri Cek waktu pemilihan Duta FKIP loh!”
“Ohhh… bapak itu. Ahhhh, sudahlah Cek! Kakak udah bilang ke
Kak Rini kemarin; ‘Rin, kalau ternyata pemilihan Duta Lingkungan ini nggak
ubahnya seperti pemilihan Duta-duta lainnya, aku IKHLAS untuk nggak terpilih!’
gitu kata Kakak kemarin Cek.”
“Hemmm… luar biasaaa.”
Setelah dari Halte Café, aku pulang ke kosan untuk
bersiap-siap ke rapat FLP sore ini. sebelum pergi, ku rendam semua bajuku yang
udah menggunung. Dan, ketika aku ready, ternyata ku lirik jam udah menunjukkan
pukul 17.00wib. huaahhhh, sempat ragu untuk pergi karena nanggung banget
rasanya. Tapi, kalau aku gagal pergi ke FLP hanya gara-gara segan karena
terlambat, berarti aku udah tega ngebohongi mami donk? Soalnya tadi waktu mami
nanyain kegiatanku hari ini, salah satunya ku sebutkan akan rapat FLP. Huft,
bismillah… aku harus pergi!
Telvonku berdering…
“Hallo El? Ini Kak Bondan.”
“Haaa…iya Kak? Udah sampai titipan Mam Elysa Kak?”
“Udah nih. Jemputlah ke sini.”
“Kakak kos di mana?”
“Sudirman, dekat RRI.”
“Weewww… jauh juga ya ternyata.”
Kebetulan banget kalau gitu. pucuk dicinta ulam pun tiba.
Sekali dayung, 1, 2 pulau terlampaui dah kalau gini ceritanya! Benar aja, rapat
FLPnya udah hampir selesai waktu aku tiba. Tapi,
bukankah lebih baik terlmabat daripada tidak datang sama sekali? Setelah
rapat selesai, aku sholat di masjid unik di dekat kediaman mbak Sugi dan bang
Alam. Aku lupa apa nama masjidnya, yang jelas mirip banget dengan LAM (Lembaga
Adat Melayu) Riau.
Ada kejadian yang miris di sini. Aku perhatikan, mereka
banyak yang membawa sajadah sendiri padahal sajadah di dalam masjid ini bagus
dan sudah meliputi seluruh lantai. Mending kalau sajadah itu dirapatkan, ini
tidak. Sehingga antara makmum yang satu dengan lainnya maish berjarak. Seorang
ibu baru saja datang di sebelah kananku, ku tarik tangannya agar merapat
kedekatku. Ia lalu memindahkan sajadahnya, tapi hanya sedikit saja sehingga aku
dengannya masih berjarak. Ketika tangannya ingin ku tarik lagi, eh si ibu udah
mulai sholat aja. Bingung deh aku jadinya.
Ya Allah… kami sangat
miskin ilmu. Tambahkan ilmu yang bermanfaat untuk kami ya allah. Sehingga kami
bisa beribadah kepada-Mu secara sempurna. Seperti seringnya kami berusaha
menyempurnakan urusan dunia kami. Aamiinn.
Bukan Elysa namanya kalau nggak salah jalan dan muter-muter
karena kelupaan. Kali ini cukup fatal. Aku fikir kantor RRI itu ada di seberang
kanan jalan Sudirman kalau ke arah Selatan. Ternyata setelah aku salah 2 kali
putaran, RRI itu berada di sebelah kiri jalan Sudirman dan sebenarnya udah
sejak tadi ku lewati tapi akunya aja yang nggak nyadar. Hiksss.
“Tunggu dulu ya Lis, Kakak otw ke sana nii!” kata kak Bondan
di seberang telvon.
Aku menunggunya sendirian di depan kantor BCA. Setidaknya di
sini lebih terang dan aku bisa was-was sambil sesekali melihat ke arah
belakang. Tak lama, kak Bondan datang dengan sekota kardus supermi yang nggak
terlalu besar itu. Syukurlah nggak terlalu berat yang harus ku bawa. Setelah berterimakasih,
aku berpamitan dengannya.
“Lewat Nangka aja ya El, jangan lewat Arifin Ahmad, bahaya
banget soalnya!”
“Iya Kak. Makasih Kak.”
***
Seorang teman perempuan bercerita kepadaku malam ini tentang
keinginannya untuk segera dihalalkan…
“El… nggak tahu kenapa belakangan ini aku merasa semakin
siap untuk dinikahi loh..”
“Seriusan? Tandanya apa emangnya?”
“Gini loh, eemmm… gimana yaaa? Aku tuh udah pengeeen banget
ketika aku tidur ada yang nemenin, ketika aku bangun ada orang yang berada di
sisiku dan masakanku itu berlabuh kepadanya dan kami nikmati berdua di meja
makan.”
“Segitunya? Emmm… terus, apa lagi Cin?”
“Aku tuuu suka El kalau tanganku dipegang atau kepalaku
dielus.. Ihhh… pokonya aku tuh merasa kalau aku udah sangat ingin ada seseorang
yang halal bagiku untuk menemaniku. Kemarin kan aku cerita sama temanku tentang
teman-teman kami yang udah nikah. Aku sering stalkingin Instagram dia, dia udah
pakai jilbab dalam, pakai gamis, udah sholeha banget pokoknya dia sekarang
Eeelllll. Kayaknya sekarang ni tujuanku untuk menyempurnakan agama aja El,
akhirat aja tujuanku Ell. Udah buru-buru banget pengen dihalalkan El.”
“Ciiinnn… itu sih namanya kamu sedang ngebeeeet. Ngebet itu
belum tentu menandakan kita siap loh. Emangnya udah ada cowok yang sekarang
udah siap menghalalkanmu?”
“Belum sih El. Sebenarnya aku nggak menuntut, yang penting
dia udah punya pekerjaan deh. Emm…tapi kebanyakan cowok itu malah belum siap
segera menikah ya Elll.”
“Iyaaaa… nah, itulah kita disuruh pandai-pandai menjaga hati
Ciiinn. Karena cewek loh yang paling nggak bisa dikasih harapan, disuruh
nunggu, yaaahhh emang sih kita akan sanggup tapi hati pasti merana. Sekarang sih
aku lebih realistis aja, kalau kamu suka sama aku ya silahkan lamar aku, tapi
kalau belum siap ya jangan coba-coba merayuku deh! Gitu Ciiin,” jelasku.
“Kita ini sebenarnya sedang digerus zaman El.
tontonan-tontonan di TV lihatlah, semuanya mengajarkan kita untuk merasakan
cinta lebih cepat sebelum masanya. Aku aja menyesaaaaal banget, seandainya aja
waktuku di SMP dan SMA itu nggak ku habiskan untuk menggalau karena cinta,
tentu sekarang aku udah terbiasa kayak El; nggak menggalau karena cinta atau
karena nggak ada cinta. Aku berharap semoga aku jatuh cinta pada waktunya saja,
ketika aku udah siap, ketemu dengan orang yang mencintaiku dan siap
menghalalkanku, lengkap deh,” jelasnya lagi. “Ditambah lagi lagu-lagu sekarang
ni, mendukung banget untuk para galauers untuk semakin menggalau. Pokoknya kita
tu benar-benar digerus zaman El. Aku pernah loh mengosongkan HPku ini dari
lagu-lagu dan medsos. Sekarang aja aku baru update lagi di Instagram, kemarin
berbulan-bulan sengaja ku non aktifkan. Sebenarnya
El, yang kita butuhkan itu hanya TERBIASA. Itu aja. Seberat apapun ngejomblo,
kalau kita udah terbiasa, pasti akan biasa aja, kan?”
“Beneerr Cin. Itulah jawabannya. Selagi nunggu jodoh, yuk
deh kita ngisi waktu dengan hal-hal positif. Contohnya Aku Cin, walaupun aku
update banget di Instagram, aku nggak menggalau kok! Walaupun aku mainan
Facebook, aku nggak menggalau dan chat yang nggak penting kok! Walaupun aku
dengerin lagu-lagu galau, tapi aku nggak menggalau kok! Yaaaa,, dengerin
sekedar untuk menghibur diri aja tapi nggak ku bawa ke perasaan. Lihatlah aku
sekarang, nggak ada masalah kok dengan semua itu. Benar katamu tadi, kita hanya
butuh untuk TERBIASA.”
“Aku sangat ingat banget kata-kata dari Dadyku El; ‘Carilah
kebahagiaan itu pada keluarga. Carilah cinta itu pada keluarga. Karena nggak
ada yang setulus keluargamu dalam menyayangimu’. Aku selalu ingat kata-kata itu
El. jadi, sebenarnya bohong banget orang yang bilang; ‘Aku tuh kurang perhatian
loh!’ itu karena dia nggak ‘kembali’ kepada keluarganya El.”
“Benerrrrrrrr banget tuh Cin. Sebenarnya anak-anak muda yang
menggalau nggak jelas itu ya karena mereka jauh dari keluarganya. Ntah itu
sengaja menjauh atau memang jauh. Selagi kita masih single, janganlah habiskan
masa muda kita hanya untuk mikirin cowok. Fikirkanlah keluarga kita, sayangi
mereka, karena ada masanya nanti kita akan meninggalkan mereka untuk hidup
dengan seorang cowok. Semuanya tergantung ke pengendalian diri sih Ciin
sebenarnya. Makanya, pilihlah teman-teman yang baik, lingkungan yang baik, kesibukan
yang baik supaya kita pun selalu aktif dan positif.”
“Hemmmm… luar biasa El. Bener banget tuh apa yang kamu
bilang. Oh yaa, kemarin aku beli eye liner baru, merknya Rani. Waterproof gitu.
Bagus. Enak banget dipakainya.”
“Kalau waterproof berarti nggak sah donk untuk sholat
Ciiinn.”
“Ha? Masa iyaaa? Tapi dia halal kok El.”
“Halal itu kan menunjukkan kalau bahan-bahannya boleh
dipakai. Tapi, tergantung lagi dengan si pemakainya. Kalau kamu makainya pas
sedang haid ya nggak masalah, tapi kalau sedang nggak haid berarti wudhunya
nggak sah donk karena nggak berhasil meresap ke kulit karena water proofnya
tadi.”
“Duuuhhh, iya yaaa. Kok otakku nggak sampai ke sana pula
mikirnya ya?”
“Banyak banget cewek-cewek yang nggak tahu itu loh. Nah,
setiap ada kasus gini aku tuh selalu gatal banget pengen nulis segera, karena
aku merasa wajib ngasih tahu orang lain Ciiin. Kalaupun bukan orang yang
bersangkutan yang membaca nasehatku itu, setidaknya orang lain membacanya.
Hikssss… banyak yang belum ngerti soalnya ku perhatikan.”
“Owalaahhh… kok aku nggak kefikiran pula ya. Untung aja udah
El kasih tahu, El.”
“Ingat-mangingatkan itu adalah tugas yang nggak pernah ada
selesainya, Ciiin.”
“Oh ya Ell… teman kerjaku itu nggak ada satu pun yang sholat
loh. Setiap kali ku ajak sholat, pasti jawabannya gini; ‘Macam mana lagi,
hatiku belum terpanggil,’ cobalah El bayangkan, jawaban macam apa ituu? Aku bilanglah
gini; ‘Sholat itu kewajiban semua muslim loh, nggak nunggu hati terpanggil atau
belum karena gimana pun keadaannya sholat itu wajib,’ aku berani ngomong gitu
karena orang tu di bawah aku umurnya El. Pokoknya mereka selalu jawab; ‘Hatiku
berlum terpanggil, macam mana lah? Nanti aja sholatnya kalau hatiku udah
terpanggil deh!’ Waktu itu geram kali aku dengarnya, langsunglah ku bilang
gini; ‘Semoga kamu bukan termasuk golongan orang-orang yang merugi ya. Karena
orang yang sholat setiap waktu pun belum tentu termasuk golongan orang-orang
yang beruntung.’ Gitu kataku.”
“Semoga mereka sadar ya.”
“Ada lagi temanku El, dia ngajakin aku make up wisuda sama
langganannya. Nggak mau lah aku karena yang make up-in itu cowok. Batallah wudhuku
nanti. Nggak bisa sholatlah aku nanti kan? Eh, kawanku itu malah bilang gini; ‘Sekali-kali
nggak sholat kan nggak apa-apa sih!’ jawaban macam apa itu Ell?”
“Ya Allahh.. andaikan aja mereka tahu betapa besar dosa
meninggalkan sholat itu, dia pasti nggak akan mengatakannya Ciin. Bahkan,
membayangkan untuk mengatakannya saja pun dia pasti akan takut. Memang dunia
ini miris banget Cin, kalau pas pulang kampung banyak banget tuh yang langsung
makan pas mobil berhenti dan mereka banyak yang nggak sholat. Disitu aku
nyadar; ‘Ya Allah, ternyata banyak banget ya orang yang nggak sholat’ Sediiih
Cin ngelihat fenomena sekarang ini. Kita jagalah diri kita dan keluarga kita
dari api neraka ya Ciin.”
Kami break sejenak dari obrolan. Dia membaca buku sambil
bergumam mengeluarkan suara sementara aku sibuk memposting gambar dan caption
di Instagram. Tapi, sepertinya dia tahu apa yang sedang ku lakukan itu…
“Ciyeeee… yang aktif banget di Instagraaaammm.”
“Heheheh, iya nih, aku sedang ngetik caption di Instagram.”
“Apa? Bingung mikirin caption untuk Instagramm?”
“Ngetik captiooonn loh Ciiinn. Alhamdulillah sih Cin, aku
nggak pernah kebingungan mau nulis apa di captionnya. Bahkan, terlalu banyak
ide yang ingin dituliskan di sana. Lancaarrr aja selama ini kalau bikin
caption.”
“Ooooo…gituuu ya El. Aku susah tu kayak gitu. Biasanya untuk
nulis 1 caption aja aku mikir agak lama.”
Aku terperanjat mendengarnya. Ku tegakkan tubuhku yang
tadinya sedang rebahan.
“Seriusss Cin? Kamu kebingungan kalau bikin caption? Oooo…. Berarti
inilah sebabnya kenapa Adek-adek kemarin tu nanya gini; ‘Kakak kok bisa sih
bikin caption sampai sedetil itu? Gimana caranya Kakak bisa mengingat semua itu
Kak?’ Oooohhh… jadi itulah ya kenapa mereka heran sama aku Ciin. Bahkan,
walaupun katamu aku dalam sekali posting itu langsung seabrek, kadang aku masih
berfikir ideku kurang penampungnya. Masih ada lagi yang ingin ditulis dan masih
ada lagi gambar-gambar yang ingin di post. Hihiii.”
“Kok bisa segitunya El?”
“Sebenarnya gini sih Ciin, itu tergantung gimana kita
membiasakan diri menyimak dengan baik. Contohnya, selama kita ngobrol tadi udah
berapa banyak kalimatmu yang ku rekam di memori. Menurutku ada banyak banget
kalimat-kalimat yang nggak sengaja kamu ucapkan itu inspiratif banget. Tapi,
bedanya, aku nyadar kalau itu adalah inspiratif sementara kamu nggak nyadar
kalau itu sebenarnya sebuah ide. Intinya, KESADARAN itu Cin yang perlu diasah.”
“Ohhh… gituuuuu.”
“Yuhuuuuuu.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar