Hari ini, kemalasan tidak boleh mendahului semangatku!
Meskipun sebenarnya, aku masih ingin lebih lama lagi duduk diam, sendirian di kamar ini. Memang, menyendiri bersama
tulisan adalah hobiku. Aku betah seharian suntuk nggak ke mana-mana asalkan
berdua bersama tulisan. Pukul 08.00wib, aku sudah bersiap untuk mandi tapi
lagi-lagi kekhawatiranku tentang Whatsap yang selalu gagal ku download malah
semakn menjadi-jadi. Akhirnya, beberapa menit masih berlalu bersama pencarian
sebab dan solusi. Barulah setelah itu aku beranjak dari dudukku…
“Assalamualikum… Mamakeee…?”
“Mamakeee…”
Aku hafal betul dengan suara itu. Pasti itu adalah Umil.
Huft, untuk aja aku udah ready dan tinggal pakai jibab aja. Ku buka pintu dan
ku persilahkan Yaumil untuk masuk.
“Mamake mau ke manaa?”
“Ke stand URC kita donk.”
“Alhamdulillah.. awak kita Mamake ntah mau pergi ke manaa.
Awak malu kali sejak kemarin sendirian terus. Macam nggak punya kawan aja awak
jadinya. Segan kali sama Ar-Royan, mereka ramai terus loh Mamakeee.”
Duh, Milll… maafin
Mamake yang nggak becus ini yaaa.
“Berarti ini Umil pun baru mau berangkat ke sana ya?”
“Iya. Sejak tadi Bang Dadhe udah nelvon-nelvon awak loh,
malu kali awakkk.”
“Ohhh…Mamake kira Umiil udah dari sana dan sengaja jemput
Mamake. Bentar yaa, agak ribet nih makai jilbabnyaaa.”
Aku agak bereksperimen dengan model hijabku kali ini. Tapi,
setelah selesai, aku malah merasa nggak nyaman karena mudah bergeser posisinya
dan nggak kuat, akhirnya ku ubah lagi ke model dasar seperti biasanya saja.
lagian, Bajuku juga sudah agak ramai nih, meskipun warnya senada; hitam semua.
“Umil akhir-akhir init u agak malas loh Mamake. Kadang, awak
pun bingung dengan diri awak sendiri. Habis sholat subuh tu nggak ada
ngapa-ngapain lagi, tidru-tiduran, guling-guling nggak jelas. Hati kecil Umil
sampai berbisik; ‘Mil, kamu tahu loh kalau malas-malasan kayak gini ni nggak
boleh, tapi kok kamu tetap aja malas?’ Alhamdulillah sih Mamake, walaupun Umil
sering malas-malasan, Umil bisa mengendalikannya untuk rajin lagi.”
“Alhamdulillah… tapi alangkah jauh lebih baik lagi kalau
kita nggak perlu memperbaiki yang salah itu ya kan, Mil?”
“Iya Mamakeee,. Betul tuh!”
Cerita Yaumil itu sebenarnya menuntunku untuk membaca diri
sendiri. Apa yang dialami Yaumil adalah nasehat bagiku juga. Ya Allah, bantu
kami untuk selalu pandai menjaga dan membaca diri. Aamiin.
“Kadang awak sedih loh Mamake kalau larut dalam kemalasan
gituu…”
Mil, Mamakee juga
gituuu… pekikku dalam hati.
“Benar-benar nggak bertambah bahagia Umil karena kemalasan
itu. Kadang, awak juga berfikir; sebenarnya apa sih ukuran kebahagiaan itu?
Menurut Mamake, apa ukurannya?”
Aku terdiam. Berfikir. Lalu bingung. Ntah bagaimana caraku menjawabnya.
“Kata orang, kebahagiaan itu adalah ketika kita bisa
SEIMBANG,” lanjut Yaumil lagi.
“Ahaaa! Benerrrr banget tuh Millll. Kuncinya memang
KESEIMBANGAN.”
‘Itulah kan Mamakee… memang keseimbangan itu kuncinya. Tapi,
itu yang paling berat untuk kita lakukan. Awak pun kadang berusaha menyemangati
diri; ‘Mil, malas-malasan aja Umil udah bisa kayak sekarang ini, gimana kalau
Umil nggak malas-malasa? Makanya, Umil harus bangkit! Semangat!!!’ Inilah yang
diajarkan di Tarbiyah kan Mamake… ketika ukuran amalan yang udah diajarkan di
Tarbiyah itu kita kurangi sedikiiiiit aja dari yang seharusnya, memang terasa
kali efeknya kan Mamake? Karena kita udah terbiasa dengan ukuran dan kebiasaan
itu. makanya, awak berusahaaa kali untuk terus menjaganya Mamakee..”
“Aamiiinnn, semangat buat kitaaaaaa!” teriakku, penuh
semangat.
Mil, penyesalan Mamake
sebenarnya jauh lebih besar daripadamu (kalau kamu tahu kekurangan Mamake).
Jangan terlalu mengagumi Mamake, miiill.. nanti kamu kecewa.
“Kita pakai satu pesawat atau 2 pesawat nih Mil?”
Umil agak berfikir dengan ‘pesawat’ yang ku maksud.
“Ooohhh. Emmm… satu pesawat ajalah yuk kita, tapi Mamake ke
kos awak dulu biar awak pulangin aja motor Adek ini. nanti jam 1 dia butuh
motornya katanya.”
Aku mengikuti gerak motor Yaumil dan setelah ia memberikan
kunci motornya kepada adik kosnya, kami melaju menuju stand UR Cendikia di venue
panjat tebing. Sekarang sudah menunjukkan pukul 09.20wib. perutku semakin jelas
keroncongannya karena tadi cuma makan biscuit gandum aja.
“Mil, lapeerrr...”
“Tuh, kelihatannya udah dikasih deh kuenya sama panitia!”
tunjuk Umil ke atas meja di dalam stand.
“Emangnya ada jatah ya Mil?”
“Ada Mamake. Biasanya dapat snack 2 kotak dan makan siang 2
kotak juga. Alhamdulillah, awak sejak kemarin dapat terus karena memang awak
standby di sini. Hiihiii.”
Sebelum beres-beres stand, aku dan Yaumil melahap kue yang
terhidang ini karena kalau logistic nggak lancar, logika nggak jalan. Kata
orang sih gicuuu.. hehee.
“Mamake, awak semalam kan buka blog Mamake… Waahhh… luar
biasa ya, ternyata banyak juga nama awak tertulis di sanaa.”
Aku agak kaget, tapi bahagia. “Gimana Umil bisa tahu kalau
banyak nama Umil di sanaa?” selidikku.
“Ada dehhhh.. hihiii. Mulai dari waktu BAT kemarin, waktu
Umil pakai baju kuning tu, terus waktu MAWAPRES. Agak bersyukur juga awak,
meskipun awak malas nulis, tapi ternyata kisah awak banyak dituliskan oleh
orang lain.”
“Sihiiiiiyyyyy.”
“Mela juga banyak nyebut nama awak. Di Instagramnya, di
BBMnya. Hihiii. Mamake jugaa.”
“Alhamdulillah! Yuk, mari kita lebih rajin menulissss!”
Setelah selesai sarapan, aku dan Yaumil mulai merapikan
stand. Piala dan plakat-plakat di jejerkan dengan rapi di atas meja besar yang
terletak di tengah, memenuhi ruang ini, lalu memajang selempang MAWAPRES
milikku dan milik Yaumil di atas kardus supermi yang dipakaikan baju URC dan di
atasnya diberi kepala boneka yang dijilbabi. Beberapa orang mulai berdatangan
dan mengisi buku tamu kami. Kebanyakan dari mereka memang hanya bertamu sekedar
untuk mengisi kolom tanda tangan kelembagaan di belakang sertifikat acara, tapi
aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berpromosi ini.
“Kak, boleh pinam selempangnya untuk foto-foto?” tanya
sekawanan mahasiswa.
“Boleh donk… tapi isi buku tamunya ya setelah ituuu,”
pintaku.
“Oke kak.”
Sengaja. Selempang itu tidak kami pakai, tujuannya supaya
pengunjuk bisa bebas berfoto dengan selempang itu sementara kau dan Yaumil bisa
lelluasa bergerak tanpa jaim. Hehehe.
“Adek udah tahu belum MAWAPRES itu apa?” pancingku kepada
mereka sementara mereka sedang mengisi buku tamu.
“Belum Kak. kepanjangannya tahu. MAHASISWA BERPRETASI.”
“Nah, sini Kakak kasih tahu.”
Aku mulai menjelaskan. Ternyata, kekhawtiran mereka tetap
sama sepertiku dulu; Bahasa Inggris. Aku langsung memberrikan slow down kepada
mereka untuk tidka perlu khawatir sekaligus memberikan tips-tips jitu kepada
mereka.
“Mamake… Kita minta sertifikat kayak orang ini juga yuk?”
bisik Yaumil.
Aku mengangguk cepat. Iya juga yang dikatakan Yaumil, nggak
lengkap rasanya kalau dalam acara expo seperti ini nggak ngambil sertifkita
acara, meskipun belum tentu semua tanda tangan dan cap kelembagaannya terkumpul
semua.
“Mamake, nggak apa-apa ni kita lewat di depan orang ramai
gini?”
“Nggak apa-apa ah! Lanjut aja! nggak udah dihiraukan. Belum
tentu juga mereka memperhatikan kita Ciinn.”
“Awak pede aja kalau Mamake pun pede. Yuklah!”
Sesampainya di stand BEM UR, ternyata sertifikatnya udah
habis dan kemungkinan baru ada lagi pukul 14.00wib nanti. Akhirnya, kami main ke stand KEMENKES BEM UR
untuk nimbang berat badan, cek tensi dan cek gula darah.
“Astaghfirullah! Ini timbangannya nggak bener ya Dek?” teriakku
kepada petugasnya.
“Ha? Masa iya sih Kak?” akhirnya si adek menimbang beratnya
dan hasilnya sesuai. “Nggak rusak kok Kak timbangannya.”
“Hhahaa.. emang berapa berat Mamake?” tanya Yaumil.
“65kg Miiiiill. Huhuuu… makin naik ajaaa.”
“Waduuuhh! Awak cuma 46kg loh, jauh kali jarak kita
Mamakeee.. hahaha. Ciyeee… tambah embeem ajaaa,” ejek Yaumil lagi.
Alhamdulillah, tensi dan gula darahku normal. 110/70 dan 152
masing-masingnya. Kami melanjutkan penelusuran ke stand-stand lainnya yang
berseberangan kompleks dengan kami ini. ketika bertemu dengan pohon berwarna
putih di depan BEM FKIP, aku minta difotokan oleh Yaumil dan di beberapa tempat
yang ku anggap menarik. Kami bergantian memfotokan.
“Kita kesempatan kali nih Mil, mumpung ada Ainun yang jagain
stand URC. Hihii.”
“Iya, kapan lagi kan Mamake? Hehe.”
Kami kembali ke Stand dan kerumuman pengunjung langsung
tertangkap oleh mata kami. Senang sekali rasanya ketika melihat mereka berebut
memakai selempang itu bergantian dengan teman-teman lainnya.
“Mil, berarti misi kita untuk mensyiarkan MAWAPRES ke
mahasiswa tersampaikan ya Mil berkat selempang yang dipajang itu?”
“Iyaa Mamake, udah tersampaikan. Alhamdulillah ya Mamakee.
Hari ini awak bahagiaaa kalii.”
“Mamake juga bahagia Mil, karena bisa di sini seharian.”
“Woyyyy! Bububuyuuuuu!”
“Eh, Yuhuuuuuu,” katanya sambil mampir.
Ia bercerita tentang pengalaman amazingnya selama mengikuti
Debate Competition di Barawijaya. Aku menyimaknya dengan seksama. Di sela
ceritanya, sebenarnya aku ingin menanyakan sesosok rindu padanya. Tapi, ntah
karena ia terlalu antusias atau aku yang tak berkesempatan untuk menyela,
akhirnya pertanyaan itu terlupa.
“Anak-anak yang dari Udayana itu keren banget loh Mak.
Mereka tu di kampusnya punya UKM yang khusus pada perlombaan-perlombaan.
Istilahnya gini; ‘Udah, kamu nggak usah mikirin dana, kamu nggak usah ngurusih
LPJ. Fokus aja pada perlombaan yang kamu ikuti!’ gitulah Mak saking kampusnya
itu mendukung prestasi mahasiswanya. Dan, bisa dipastikan setiap bulannya
mereka punya PIALA baru.”
WAWWW! Aku sampai meinding karena takjub dengan cerita Teguh
ini. Tiba-tiba harapanku membesar kepada URC untuk bisa mewujudkan hal yang
serupa atau paling tidak mirip seperti itu.
“Ternyata Mak, mereka yang ikut debat kemarin tu adalah
utusan-utusan kampus yang udah biasa jadi juara 1 di berbaga lomba debat.
Huhuuuuu… emang kalah telak kali kami kemarin Maaak!”
Aku hanya bisa menyemangatinya semampuku. Karena, memang aku
menyadari tidak terlalu banyak dan terlalu layak pula aku untuk menggurui.
“Mak, besok pengumuman esay yang di Undhiksa. Doain ya Mak.
Kalau Teguh lulus, wahhh…. Bener-bener November ceria deh ini buat Teguh.”
“Amiiin ya Allah. Dan kalau Adek lulus, Mak sedikit
banyaknya agak nyesal karena Mak nggak nyoba kemarin padahal Mak nolongin Adek
nulisnya.”
“Ya nggak apa-apalah Mak. Kalaupun Adek lulus, kan tulisan
Mak turu menyertai juga.”
“Sihiyyyyyyyy.”
Dari ceritanya tentang Brawijaya, Undhiksa dan Udayana, ia
beralih cerita ke kisah TOT di Bogor kemarin. Lalu, Umil mempertanyakan
alasanku untuk batal mengikutinya.
“Alasannya sih Kak karena mau ujian SKRIPSIIII…”
“Ya iyalah kalau gitu, jangan sampai pula tertunda gara-gara
acara itu kaann,” kata Yaumil.
“Iya Mil, karena jadwal ujian ini serba nggak pasti. Mamake
kalau berangkat ke sana, rencananya selama seminggu menjelang hari H ini nggak
pulang lagi ke sini. Karena ongkosnya kan lumayan juga.”
“Ngapain juga cepat-cepat ujian Mak? Nanti aja ngapa ujiannya?
Janganlah cepat-cepat tamaaat,” rengek Teguh pula.
“Adek macam apa kan ini Miiilll? Hahaa,” aku tergelak, tak
percaya dengan statemen mengejutkan dari Teguh barusan. “Adek udah timbang
berat badan belum? Timbang sono! Siapa tahu naik.”
“Ah, kayaknya emang naik nih berat badan Teguh Mak.”
“Mak juga loooooh Deeekk.. Huhuuu.. naik 3 kilo! Hiksss..
65kg sekaraaaang,” keluhku.
“Nggak apa-apa yang penting tetap semangat nulisnya dan
jangan berhenti MENULIS.”
DEG! Surprise banget dek kalimatmu barusaaan. “Gitu pula ya
Dek? Hahaaa. Ya, semangat teruss!”
***
Di tengah santap siang dalam suasana yang hening karena
terpa terik mentari yang meninggi…
“Mil, tadi pagi kan Mamake status orang tentang mantan
istrinya Jalaludin Rakhmat gini; ‘Kami sudah biasa melukai diri sendiri.
Apalagi untuk melukai orang lain? Kan ngeri banget Mil, miris. Terus, Mamake
langsung ganti DP dengan foto itu dan
Mamake tulis PM yang isinya supaya kita berhati-hati dengan Syiah. Eh,
tiba-tiba ada yang ngomen dengan emot bingung. Dia itu salah satu finalis
MAWAPRES 2014 juga loh Mil, tapi yang sangat Mamake sayangkan itu karena dia
sama sekali nggak tahu Syiah itu apa.”
“Ya ampuuunn.. itukan udah jadi isu hangat sekarang ya
Mamake. Awak walaupun malas baca buku, tapi tahu jugalah informasi tentang itu.
Siapa dia Mamake? Anak faperika?”
“Ada deh, nanti kalau Mamake kasih tahu, Umil kenal pula
sama dia. Sengaja nih nggak disebutin inisialnya supaya Umil nggak tahu.”
“Oh, iyalah. Terus, Mamake?”
“Ya gituuu.. Dia malah minta diajarkan sama Mamake. Ya
mamake nggak maulah, nanti ‘dekat’ pula jadinya sama dia. Mamake kasih aja link
www.syiahindonesia.com ke dia, biar
dipelajarinya. Alhamdulillah Mil, orangtua Mamake udah faham banget dengan
persoalan ini. Semoga keluarga kita selalu dijaga dan terjaga ya Milll..”
“Amiinnn. Mamak awak pun gitu Mamake.. Udah jauh lebih faham
daripada awak, karena Mamak awak tu rajin baca, rajin lihat berita, rajin ikut
pengajian. Kayak anak kuliahan gitu Mamake kalau ikut pengajian, dicatatnya
semua yang disampaikan sama ustadnya.”
“Waaawww..”
Aku dan Yaumil kembali menyuap nasi dan beberapa detik
hening sejenak sebelum akhirnya Yaumil kembali memulai bicara…
“Jadi Rini udah balik ke Medan ya Mamake?”
“Udah Mil. Mungkin udah 2 minggu yang lalu lah tu.”
“Jadi, mamake sendirian? Nggak ada yang nemenin?”
“Nggak ada Mil. Hiksss.”
“Kalau gitu awak nanti malam mabit tempat Mamake ajalah.
Boleh? Sekalian awak mau sharing-sharing juga.”
“Boleh banget Mil. Eh, tadi kan Reza nelvon Mamake. Ada
seminar tentang kepenulisan gitu di FH dan mereka butuh pembicara 1 lagi.
Akhirnya Reza merekomendasikan Mamake. Besok pagi acaranya Mil.”
“Loh? Jadi Mamake nggak ikut nengok REKOR MURI untuk Mie
Sagu besok?”
“Insya Allah setelah ngisi besok Mamake langsung balik lagi
ke sini. Dulu, Mamake pernah nulis di blog tentang The Power of Recommendation.”
“Apa itu maksudnya Mamake?”
“Maksudnya gini…. Kadang, ketika ada orang yang meminta kita
menjadi pembicara, itu belum tentu karena kita ahli Mil, tapi karena ada yang
MEREKOMENDASIKAN. Contohnya Mamake barusan, kenapa Mamake diminta? Ya karena
Mamake dekat sama Reza. Kalau nggak, mungkin bukan Mamake yang dimintanya.
Karena kalau bicara siapa yang ahli, mungkin ada yang lebih ahli daripada
Mamake. Ngerti kan poinnya Mil?”
“Iya yaaa Mamakeee. Ngerti. Umil pun gitu Mamake, waktu Umil
dipercaya jadi pemateri dulu Umil paksaian juga supaya mau, karena kalau nggak
gitu kapan lagi awak belajar kan?”
“Betul tu Milll.. Adek-adek di FKIP kemarin ni kan ada yang
jadi penerus Mamake; LKTI di Yogya dapat juara 3 tahun ini. Nah, salah satu
dari mereka diminta untuk jadi pembicara di Prodi Sejarah. Tapi, dia ngadu gini
ke Mamake; ‘Kak, Adek nggak seberapa nih ilmunya, Kakak ajalah ya yang jadi
pembicaranya?’. Terus Mamake bilang gini; ‘Adeeeekk, nggak boleh gitu. Kalau
kita diminta, berarti kita dipercaya. Kan Adek masih bisa nanya ke Kakak apa
aja yang mesti disampaikan’. Kesempatan yang kayak gini ni mahal loh Mil,
makanya nggak boleh kita sia-siakan. Tugas kita ya selalu memperluas
silaturahmi supaya REKOMENDASI yang datang ke kita juga semakin banyak.”
“Iya ya Mamake. Awak ni lah yang susahnya Mamake.. pergaulan
awak masih di Fakultas aja. Belum ke mana-mana kayak Mamake.”
“Lah Mill.. Nggak perlu terlalu memaksa diri untu bergaul di
luar kebiasaan. Biarkan semua itu berjalana secara natural dan alamai aja. Yang
penting, kita harus ramah dan welcome kepada semua orang yang datang kepada
kita. Itu aja kalau diterapin terus menerus hasilnya bakal luar biasa.”
“Iya yaa Mamake… kalau kita paksain ntar hasilnya malah
nggak baik pula karena niatnya salah.”
Aku lebih dulu selesai makan daripada Yaumil dan, ketika
Yaumil butuh cuci tangan, air minumnya sudah terlanjur dihabiskannya karena
kehausan, maka aku berinisiatif untuk berburu air minum hingga ke Stand Kopma.
“Makasih ya Mamakee.. Mamake luar biasaaa.”
“Eh, Umil percaya nggak, dulu Bang Zulfa pernah minta Mamake
jadi pembicara di FISIP loh! Dan, itu nggak ada hubungannya dengan tulis
menulis, tapi tentang organisasi. Kan nggak nyambung sebebarnya, tapi poin
pentingnya adalah luar biasa banget seorang Bang Zulfa loh yang meminta
Mamake.”
“Iya yaaa… padahal dia udah ‘tinggi’. Bang Zulfa itu pun
ringan banget memuji Umiiill. Umil berfikir, sebenarnya ketika kita ringan
memuji orang lain, maka orang itu pun akan respek sama kita. Tapi, itulah yang
belum terbiasa untuk Umil lakukan. Umil malas loh bikin orang ke-ge-e-ran.
Kalau muji Mamake, udah biasalah kan Umil, tapi kalau muji orang lain apalagi
yang belum akrab, Umil belum terbiasa.”
“Iyaaa, Bang Zulfa itu tinggi tapi rendah hati.”
“Mamake.. beda paper dengan essay itu apa?”
“Emmmm…. Emm…. Terkadang sulit dibedainnya Mil. Kadang, Esay
itu mirip paper juga. Tergantung pihak yang menyelenggaran aja sih, mintanya
yang seperti apa.”
“Ohhh…gitu. Kalau tulisan motivasi itu gimana Mamake? Ada
aturan-aturan khususnya nggak?”
“Emmm… tergantung juga. Kalau kita mau nulis sesuai
keinginan sendiri sih bebas Mil, tergantung pembawaan diri aja. Semua Tulsan
berpotensi memotivasi kok! Tergantung gaya si penulisnya lagi. Eh, by the way,
Mamake mau nulis sejenak ya Milll.”
“Ah, awak mau juga lah! Hehehe.. biar ketularan Mamake,”
Umil langsung mengeluarkan laptop dan ikut mengetik di sampingku.
Seorang wanita berkerudung labuh buru-buru masuk ke dalam
stand. Umil segera menyalaminya, tapi aku belum mengenalinya.
“Kak Umil sedang ngapain? Nulis apa?” tanyanya kepada Yaumil
yang sedang membuka laptop.
“Sedang belajar nulis nih sama Kak Elisss. Hehe.”
“Wiihhhh…luar biasa. Ajarin juga donk Kak?” pintanya padaku.
“Kak Umil apa alamat blognya?” tanyanya.
“Blog Kak Umil kosong, nggak ada tulisannya. Kalau Kak Elis
ini penuh banget blognya.”
“Alamatnya apa Kak?” tanyanya kepadaku.
“Elysarizka.blogspot.com.”
“Ejaannya sesuati nama asli Kakak di plakat-plakat Kakak ini
ya?”
“Iya Dek.”
“Haa.. tunggu aja nanti Adek bakal diceritain tuh sama Kak
Elis di blognya.”
“Hah? Seriusss? Mauuu bacaaaa aahhhhh.. yeeee!” ujarnya
kegirangan sambil merapikan jilbab orange agak kecokelatannya itu.
“Hihii..tunggu aja ya Dek. Oh ya, Adek siapa namanya nih?”
“Ucha Kak.”
“Oke Dek Uchaa.. tunggu aja nama Adek ntar Kakak sebut di
blog Kakak yaa.”
“Nggak sabaaar Kak.”
“Kakak kok tekun banget gitu sih nulisnya?” tanya dek Nurisa
yang baru saja datang.
“Emang kayak gitu Dek, kalau Kak Elis sedang fokusss.. nggak
bisa diganggu.,” jawab Umil.
“Iya Kak? Nggak bisa diganggu ya?” tanya temannya.
“Ah, ganggu kak Elisss ah kalau gituuu. Beneran Kak ya nggak
bisa diganggu?” tanya dek Nurisa lagi, memastikan.
“Bisaaaa… hahaa. Ini buktinya Kakka sedang kalian ganggu
kan? Bisa-bisa aja nih! Hahaaa.”
“Oh iyaaa yaa.”
Nggak nyangka, dari sekian banyak pengunjung, ada Rendi
Arbian salah satunya. Dia adalah teman SMAku.
“Haaayyyy!” lambaiku padanya. “Ingat nggak sama dia Miill?”
tanyaku pada Yaumil.
“Ingaaaatlaahh Mamakeee.”
“Ah, kan Rendi juga gitu toh? Naik berapa kilo Ren? Hahaa.”
Rendi tak menjawab pertanyaanku. Ia malah gantian bertanya,
“Elis masih gini gini?” ia memperagakan jemari yang sedang mengetik di atas
keyboard.
“Masih Reeenn.”
“Sejak dulu yaaa,” katanya lagi.
“Emangnya Mamake udah nulis sejak SMA?” tanya Umil, tak
percaya.
“Nggak ah! Mana bisa Mamake nulisss duluu,” jelask.
“Eliss udah sejak duluuuu ah! Sampai sekarang. Makin sukses
aja yaaa,” sahut Rendi lagi. “Elis udah wisuda?”
“Belum Renn..hikss.”
“Tak usah wisuda lagi. Kalau udah wisuda ndak sukses lagi
nantikk! Haha.”
Lah? Udah 2 orang hari ini yang mendoakanku untuk nggak
cepat-cepat tamat; Rendi, Teguh.
Setelah Rendi dan semuanya meninggalkan stand, tinggalkan
aku dan Yaumil berdua.
“Mamakee…coba cekkan punya awak ni! Mamake udah berapa
lembar tulisannya?”
“4 Lembar Mil.”
“Ih, malu kali awakkkk.. awak baru 1 paragraf, ini pun tah
hapa-hapaa. Haha. Tolong baca Mamakee!”
Aku membacanya dengan seksama. Luar biasa! Bathinku.
“Kereeen Miiiill! Rapi. Padat. Lanjutkan!”
“Makasih Mamakee..”
Kami kembali kepada kekhusukan masing-masing. Kekhusyukan
yang paling mengasyikkan.
***
Setelah sholat sunnah qobliyah ashar, dalam tunggu iqomah…
“Mil, menurut Umil gimana BAT 9 kemarin?”
Umil mengacungkan jempolnya.
“Bagus Mil?”
“Luar biasaaa Mamakee. Dan awak maluuu kali di sanaa. Sama
rasanya seperti waktu Umil ikut FMRB, ikut seleksi KPN, begitulah yang Umil
rasakan waktu ikut BAT kemarin. Emmmm… ahh, maluuu Mamakeee.. Umil pengen
nuliskan perasaan Umil iniii.”
“TulislahMilll. Biar Mamake bacaaa.”
“Itulah kan Mamakeee… memang perlu kali kita nii menulisss.
Huhuuu, pengen bisa rajin nulis kayak Mamakeee. Pokoknya Umil belajar bahwa
ketika kita berangkat dengan rasa PEDE yang terlalu tinggi, maka kita akan
pulang dengan KECEWA di hati. Huhuuu.”
Aku belum ngerti ke mana arah pembicaraan Umil ini. Tapi,
aku tetap menyimaknya.
“Mungkn Umil ini terlalu banyak fikiran kotornya ya Mamake.”
“Fikiran kotor?”
“Iya, fikiran negatif. Kadang, Umil mikir, kalau Umil nulis
di blog, ntar awak dikira orang narsis pulak! Gituu haa Mamake yang sering awak
fikirkan.”
“Padahal orang lain belum tentu berfikir kayak gitu kan?”
“Iyaaa. Jadi, awak kadang nggak jadi melakukan sesuatu ya
karena berfikir kayak gitu terus.”
“Nih Mil, Mamake pernah dikasih tahu oleh seseorang; ‘Ketika
kita batal melakukan sesuatu karena takut oleh omongan orang, itu adalah
RIA/KESOMBONGAN yang sesungguhnya’. Pertanyaannya sekarang; ‘Ngapain kita takut
dikatain orang? Rosulullah yang maha sempurna aja pernah dihina bahkan
diludahin kok! Lalu, kita sebagai manusia biasa, kenapa kita takut dengan
penghinaan?’ iya kan?”
“Waahhh…makasih ya Mamakee udah ngingatkaaann. Luar biasa
Mamakeee..”
“Mill… menulis itu adalah INVESTASI ABADI loh. Kita hanya
perlu satu kali menulis, lalu jutaan orang bisa membaca dan mengambil
manfaatnya tanpa merugikan kita sama sekali. Luar biasa kan?”
“Umil baru sadar loh Mamakee… memang semua yang kita alami
ini harus dituliskan yaa! Termasuk ungkapan sayang kita pun sebaiknya kita
tulis supaya rapi dan abadi.”
“Nah, tuh udah pinterr!”
Kami segera merapatkan shaf karena iqomah sudah
berkumandang. Di tengah rakaat, tiba-tiba aku teringat dengan tasku yang ku
letakkan di dekat lemari mukenah.
Duh, seharusnya ku pindahkan
di depan tempat sujudku tadi!
Beberap kali ku coba mengenyahkan kekhawatiran itu, tapi
lagi-lagi ia hadir lagi.
Nanti kalau hilang
gimana? Berharga semua tuh isinyaaa..ya Allah, hamba pasrahkan segalanya
pada-Mu, Engkaulah penjaga yang terbaik!
Alhamdulillah setelah itu, aku jauh lebih tenang. Dan,
ketika aku hendak meletakkan kembali mukena ke dalam lemari… ternyata ada cin
Lia juga di sini. Aku langsung menyapa dan menyalaminya. Kemudian kami
sama-sama bergerak menuju stand…
“Ciyeee…yang tulisannya udah banyak di blogggg…” pujiku
kepada Lia.
“Ehhh…mu baca yaaa?” tanyanya.
“Iyaa donk. sihiiyy! Udah
rame aja nih blog, kataku semalam. Aku memang sedang ngecheck beberapa blog
yang pernah ku bimbing. Alhamdulillah, nemu yang udah ada peningkatan. Hehee.”
“Ya iyalah. Emaknya udah ribuan, masak anakanya seratus aja
belum ada.”
“Yang tentang review film tu kata-katamu sendiri?”
“Iya. Aku yang nulis.”
“Sumpah itu rapi banget Ciiin. Bener-bener rapi. Aku aja
bacanya senyum-senyum.”
“Iya yaa? Alhmdulillah kalau gituuuu. Sungguh, luar biasa
banget loh Cin rasanya setelah menuliskan semua itu! Kalau diniatin, emang apa
yang ada di dalam kepala itu mengalirrrr aja. Benar-benar lega setelah semuanya
tertulis. Kan itu udah ku tulis di FB sebelum ku post di blog. Mu belum baca
ya?”
“Rasanya nggak ada terbaca yang itu di FB deh! Oh ya, aku
kan kemarin pernah malas-malasan, nggak ada nulis selama 2 hari Ciin. Jadi,
kepalaku ini sakiiit banget rasanya. Kalau dipijat tu nggak tersentuh bagian
sakitnya ntah di mana, pokoknya rasanya itu berdenyut-denyut banget di bagian
kanan dalam. Dan, hari itu aku paksain lah nulis dari pagi sampai sore, aku
nggak ada ke mana-mana selain nulis di kamar Cin. Eh, sorenya sakitnya ilang
dengan sendirinya. Aku baru tahu Ciinn, ternyata salah satu penyebab kerusakan
otak itu adalah ketika otak nggak digunakan.”
“Iya yaaa… masya Allaah… karena menulis itu kan menuangkan
fikiran ya Ciinnn. Ada proses berfikir di sanaa.” Bukan hanya Lia yang
terkejut, Yaumil, Nurisa, Novi dan Ratih juga terkejut dengan pernyataanku
barusan.
“Becuulll binggo.”
“Oh ya Cin, I have two recommended film to you. Indian
movie.”
“But, unfortunately you don’t bring it to me.”
“I have put in the flasdisk but I leave it at dorm. So sorry.”
“Ohhh… later aja deh! Tentang
apa ceritanya?”
“Keren banget dah Cin pokoknya! Meleleh orang dibuatnya.
Amir Khan kan keren banget film-filmnya, nah kalau yang ini ni Salman Khan dan
nggak kalah keren Ciiinnn. Besoklah ku bawakan yaa.”
Sesampainya di arena UR Expo, kami berfoto bersama di booth
Harmony Sejuta Karya. Lumayan juga sih antriannya, tapi kami tetap bersabar
karena setelah ini Lia berbeda arah dengan kami sementara kami harus segera
kembali ke stand URC.
“Kak, mau foto di situuuu!” teriak dek Novi.
Aku melihat backdrop yang ditunjuknya itu. Seorang laki-laki
sedang memegang sebuket mawar merah. Kekosongan pasangan di depannya itulah
yang kami jadikan ajang berekspresi layaknya seorang wanita yang dihadiahi
bunga. *hueksss.. lebay!
“Kakak ini cocok jadi artis model nih!” kata dek Nurisa
setelah memfotokanku.
“Artis atau model? Yang mana yang bener nih Dek?”
“Model, maksud Adek Kak. hehe.”
Asal jangan sampai
merusak aqidah dan bertentangan dengan idealisme Kakak aja deh Dek! Aamiiinn.
Setelah puas berfoto, kami kembali lagi ke stand URC. Ternyata
pengunjung semakin sore semakin ramai berdatangan. Acara pun semakin heboh di
tengah arena panjat tebing. Aku hanya melirik sesekali saja. tak berminat sama
sekali untuk duduk di dekat hiruk pikuk kepadatan itu. Lebih baik aku duduk di
sini sambil melanjutkan tulisan. Lebih tenang dan lebih membuatku senang. Dari
sini, aku bisa melihat Okta dan Vera. Okta menggunakan baju pantai berwarna
ungu dengan corak putih seperti gelombang sementara Vera menggunakan simpel
pants berwarna hitam dan jaket semi
jeans berwarna biru. Aku tidak ingin mendekat kepada mereka untuk hari ini
dulu. Biarlah rindu bertempat.
“Kak, boleh pinjam selempangnya untuk berfoto?” sapa seorang
pengunjung perempuan.
“Boleh. Silahkan Dekk. Setelah itu isi buku tamunya yaa!”
jawabku.
Ku lemparkan pandanganku ke langit luas. Mendung mulai
merajai langit rupanya. Angin pun bertiup semakin kencang. Beberapa saat
kemudian, hujan pun turun. Universitas Riau basah seketika.
***
Umil di mana? Jadi nggak
mabit di kos mamake? Mamake udah di Binkrid nih! Kalau jadi, mamake jemput.
Ku pinjam HP bang Un untuk mengSMS Umil. Ku tunggu beberap
menit tapi urung berbalas. Ah, mungkin Umil sudah tidur atau kecapean. Lebih baik
aku segera pulang saja kalau begitu. Tapi, ketika aku ingin beranjak, HP bang
Un berdentang berkali-kali. Ternyata 3 balasan dari Umil masuk bersamaan.
Mamake di mana?
Nanti ketuk aja pintu kos awak ya mamake. Kalau diklakson nggak
kedengaran nanti.
Waalaikumsalam. Jadi Mamakeee. Malu kali awak. Awak yang janji
tadi padahal.
“
Aku langsung bergegas menuju kos Umil untuk menjemputnya.
“Mamake dari mana emangnya ni? Belum pulang ya dari tadi?”
“Belum. Baru aja makan malam Mamake nih.”
Aku belum sholat Isya. Maka, setelah sampai di kosan, aku
segera sholat sementara Umil segera melanjutkan ketikannya.
“Mil, Mamake baru ingat kenapa kemarin waktu Mamake malas
nulis itu sakit kepala yang Mamake rasakan itu di sebelah kanan.”
“Ha? Kenapa memangnya Mamake?”
“Karena otak kanan itu kan otak kreatif. Dan tentu aja dia
jadi sakit, namanya aja nggak Mamake gunakan selama 2 hari padahal biasanya
digunakan terus untuk nulis. Owalaahh…baru nyadar nih Mamake.”
“Ohh gituuu. Mamake, tolong priksakan lagi nih tulisan awak,
alhamdlulillah udah 3 paragraf!”
Aku membacanya kembali dan tersenyum kembali.
“Gimana lagi tuh Mamake? Umil kan baru cerita tentang
masalah aja. Belum ada solusinya.”
“Ya udah, tinggal Umil tuliskan aja gimana caranya bahagia itu!”
“Emmm..tapi malu kali awak. Awak aja masih ntah hapa-hapa,
mau sok-sok pula nuliskan tentang cara-cara itu. Gimana ya Mamake?”
“Iya juga sih, terkadang itu adalah konflik bathin penulis
Mil, mau menuliskan sesuatu yang ideal sementara dirinya sendiri belum ideal. Eh,
tapi sebenarnya Umil tu nggak perlu loh membahasakan solusinya secara terpisah.
Karena, apa yang Umil tuliskan ini kan adalah pengalaman pribadi Umil,
keluh-kesah Umil, ya udah silahkan aja pembaca yang mengambil hikmahnya. Nasehat
itu kan nggak harus dibahasakan secara khusus Mil, karena sebenarnya semua
cerita itu adalah nasehat yang tersirat.”
“Oh ya, novel Mamake udah berapa yang siap?”
“Novel?”
“Iya kan kemarin Mamake pernah cerita sedang nggarap novel.”
“Oh, udah lama mandeg Mil.”
“Kenapa?”
“Keasyikan nulis diary sih!
“Mamake pernah ikut acaranya Ahmad Fuadi kemarin?”
“Nggak Mil. Di rekorat kan acaranya?”
“Iya Mamake. Nah, dia itu motivasi menulisnya luar biasa loh Mamake.”
“Apa yang disampaikannya Mil?”
“Apa yaaa.. ada sih di catatan Umil tu Mamake..hehee. Dia
itu kan dulu sering banget nulis surat untuk Mamaknya di kampung, karena dulu
kan belum ada teknologi kayak sekarang ini. Jadi, surat-surat itulah yang
dikumpulinnya untuk bahan nulis novelnya tu Mamakeee. Ternyata benar ya apa
yang Mamake bilang, nulis diary itu memang bermanfaat kali. Diary itu bisa jadi
berkas kita, jadi kapanpun kita butuh inspirasi, kita tinggal ngumpulkan
berkas-berkas itu ajaa. Umil udah membiasakan diri sekarang nulis-nulis catatan
Mamake.. Meskipun masih berserak, tapi awak bikin tanggalnya terus. Supaya nanti
kalau awak butuh, awak langsung tahu kapan itu umil tulis.”
“Bener bangetttttt.”
“Waku ikut workshopnya Ahamd Fuadi itu Umil berfikir,
ternyata setiap orang itu berpeluang ya jadi seorang penulis.”
“Iya! Bener banget tuh Milll! Nah, salah satu penyebab
Mamake sangat mencintai nulis diary ini ya itu. Mamake yakin, kebaikan yang
dilakukan terus menerus itu pasti akan ada puncaknya, hasilnya. Meskipun sekarang
kita masih belum tahu akan menjadi apa tulisan-tulisan ini. Tapi, Mamake percaya tulisan-tulisan Mamake
ini akan menemukan takdirnya sendiri nanti. Sama halnya seperti kejahatan yang
nggak pernah dibiarkan oleh Allah tanpa ada akibatnya, begitu juga kebaikan
Mil.”
“Benerrrr..”
“Dalam sehari aja Mil, Mamake bisa menulis tentang banyak
ide loh di diary ini. Ide-ide itu ya kadang datangnya juga dari orang-orang
terdekat, nggak melulu dari Mamake. Dan, Mamake sangat semangat untuk
menuliskannya dengan rapi. Hari ini aja udah banyaaaaak banget loh pelajaran
yang bisa Mamake ambil Mill. Coba kalikan selama setahun, udah ribuan ide yang
kita tuliskan. Masa Allah membiarkannya begitu saja? nggak mungkin kan? Pasti ada
kesenangan di ujung sana.”
“Wahh…Mamake luar biasaa. Itu aja yang barusan Mamake
omongkan motivasi semua isinya. Hahaa. Ah, coba aja Umil di rumah, ntah hapa-hapa
yang Umil lakukan sekarang tuh. Makin melamun awak jadinya.”
“Untung aja ya Umil di sini sekarang.”
“Ih, bagus kali kata-katanya nih Mamake… Tuntutlah ilmu. Saat kita miskin, ia akan
menjadi harta kita. Dan, saat kita kaya, ia akan menjadi perhiasan kita.”
“Dari mana Umil lihatnya? FB?”
“Instagram.”
Ah, ingat Instagram jadi teringat komentar cetarnya dek
Teguh tadi disalah satu fotoku…
Semangat itu diciptakan!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar