Rabu, 04 November 2015

Menanam Tindakan, Membuang Penundaan



Pagi ini, aku melanjutkan garapan ARMALAA’s blog. Kudu nyelesaikan minimal 5 postingan dulu sebelum di launching nih! 4 postingan My Weekly dan 1 postingan Guest Monthly. Berari setidaknya aku akan posting 5 talent dalam sebulan nih. Emmm… kayaknya boleh juga kalau ditambah dengan tab Tutorials deh. Kalau yang ini sifatnya bebas, kapan aku pengen share model hijabku, aku akan share by foto aja, buka video. Bismillah, semoga menginspirasi. Semoga trend berfoto dengan konsep ARMALAA’S Pose (memuat unsur ETIKA dan ESTETIKA)  ini segera booming sehingga semakin berkurang pose-pose centil atau super optimal zoom (foto dengan jarak dekat buat nunjukin wajah doank). Have an ARMALA’s Day guys… ^_^


***
“Kak, kalau vocher internetan XL berapa sebulan?”
“Rp 20.000 Dek.”
“Emmm… itu berapa Giga?”
“1,5 tapi unlimited.”
1,5 tapi unlimited? Maksudnya apa ya? ohhh.. jangan-jangan sekalipun quotanya udah habis, tetap bisa BBMan atau whatsap kali yaa.
“Beli satu deh Kak.”
Si kakak segera membuka etalase dan mengambil kartu perdana AXIS.
“Loh? Kok AXIS sih Kak? kan saya tadi mintanya XL.”
“Sama aja dia Dek, AXIS atau XL.”
“Oh…gitu. Ya udah deh. Sekaligus potongin kartunya ya Kak.”
Dari counter pulsa aku segera menuju Puskom. Sudah ku catat beberapa hal yang harus aku selesaikan dengan wifi siang ini. bismillahh.. semoga terselesaikan semuanya.
“Oh iyaa… download videonya Tung Desem Waringin ah! Kan Mario Teguh udah banyak,” gumamku sendiri.

Akhirnya, sambil menyempurnakan ARMALA’s Blog, ku jalankan downloadan video motivasi dari TDW. Dan… setelah rampung, segera ku ganti websiteku di Instagram dengannya lalu ku posting screenshootnya di Instagram dengan caption yang yahuuttt. Novi langsung menyukai dan mengomentarinya…
Kak, gimana project kita? @elysarizka
Still confuse Dek. When I confuse, I prefer to do what I love only. @tengkunovenia
Mendadak jadi ingat sama Okta. Ke manalaaah tu bocah yaa! Kok nggak pernah nelvon, nggak ada kabar, nggak ada ngajakin main. Huaaahh. Ah, biarin ajalah paling-paling sedang sibuk PPL aja. Ntar juga pasti bakal nelvon duluan.

Menanam Tindakan, Membuang Penundaan.
Bagus banget nih judul. Dalam banget nasehatnya. Bener-bener cocok banget sebagai pengingatku yang suka menunda-nunda ini. Seketika teringat tentang pagiku belakangan ini; sering tertidur di depan laptop antara jam 9-11 pagi padahal seharusnya aku bisa nulis atau beraktifitas di luar. Hiksss..
“Udah ya Dek wifiannya. Sekarang jam 3 udah tutup. Sebentar lagi mau ditutup Puskomnya.” Seorang petugas memperingatkan kami yang sedang asyik berselancar di internet.
Ah, gimana sih perarturannya. Jam 3 udah tutup, sementara anak-anak kampus masih butuh internetan. Hemmmm… kayaknya akan lebih asyik kalau tempatnya kayak di perpus deh; terbuka, nyaman dan luas. Tapi, sayangnya wifi puskom nggak sekenceng di sini sinyalnya kalau diakses dari sana, padahal jaraknya deket banget, tinggal nyeberang jalan doank.

***

Biasanya selalu ke sini bareng Rincuy. Bahkan, kemarin terakhir kali ke sini ya bareng dia. Sholat Ashar kali ini aku sendiri; Mushola Arrafah tercinta.
“Alhamdulillah ya Allah.. ternyata berguna bangeet,” gumamku ketika melihat 2 pasang sandal yang malam itu sengaja ku letakkan di sini. “Semoga bermafaat teruss.”
Setelah sholat Ashar, aku ngidam kali dengan mie ayam. Dan, ku putuskan untuk langsung beli mie ayam langgananku di Bina Krida. Sebenarnya pengen pesen mie ayam-bakso, tapi karena sekarang udah Rp 13.000, nggak jadi deh. Lumayan kan ngirit 3 ribuuuu. Hehehe. Setelah selesai makan, aku berjalan ke warung jilbab di seberang jalan agak ke kanan.
“Bagus yang mana ya Bang?” tanyaku sambil memegang 2 jilbab bermotif pelangi tapi berbeda bakal kainnya.
“Kalau menurut Abang sih 2 2nya canti, Dek. Tergantung selera Adek lagiii tuu.”

Seperti biasa, aku GALAU. Serba salah jadinya, kalau nggak ada pilihan akunya bingung, eh kalau banyak pilihan aku jadi ragu pula. Berulang kali ku lihat 2 jilbab ini bergantian, mencobanya berulang, tapi hati belum juga bisa memutuskan.
“Bang, menurut Abang lebih cocok yang mana nih?” tanyaku pula kepada temannya abang penjual jilbab yang baru datang ini.
Mendengar pendapatnya membuatku justru semakin ragu. Akhirnya ku lihat-lihat pashmina yang berbahan kashmire (insya Allah) untuk Diah.
“Saya pilih ini 1 ya Bang pashminanya dan Kaus kakinya satu.”
“Lahhh? Yang dipusingkan yang manaaa… yang dibeli yang manaaa… Adekk, Adekk.”
“Hahhaa… daripada saya bingung nggak tahu milih yang mana, mending nggak usah saya pilih aja sekalian Bang. Jadi milih yang lain malah. Hahaa.”
Sambil menyambut azan maghrib, aku mulai mengetik di mushola Arrafah. Setelah sholat dan mengaji, barulah kemudian aku mengajar les.

***

“Nteeee… Tasya dapat nila 95 Nteee Matematika semalam.”
“Oh iyaa? Alhamdulillah. Di mana pula yang salah tu Tasya?”
Tasya menunjukkan padaku jawabannya yang salah. Ternyata aku pun ceroboh, bisa-bisanya nggak nyadar kalau yang ditulis Tasya itu keliru.
“Eh, tadi waktu Ante ke sini, banyak banget loh larooon di jalaaann. Ya Allahh.”
“Iyaa Nteee, memang banyak kali laronnya nih di luar.”
Mungkin karena sedang musim hujan juga makanya pasuka laronnya ke luar. La jadi?
“Eh, Ante punya cerita niih. Ante punya teman sekelas waktu SMA, cowok, dia tu nggak bandel orangnya tapi kayak nggak semangat. Setiap hari tasnya itu kayak nggak ada isinya. Nggak usah lah Ante sebutkan ya siapa namanya. Terus, Anter perhatikan tasnya kan, banyak banget loh hitam-hitamnyaa.”

“Hitam apa Nteee? Berjamur gitu yaa?” tebak Indah.
“Iyaaa. Ante mikir gini; ‘Dia nih nyadar nggak sih kalau tasnya jorki gituu?’. Terus, waktu trobosan, Ante ajakin dia sholat, dia malah nggak mau dan dia malah ngaku jarang banget sholat. Ante kasih tahulah bahwa cowok itu adalah imam keluarga, masa nggak sholat sih? Kalaupun kita nggak pintar dalam belajar, minimal kita rajin dalam beribadah. Cobalah kalian bayangkan, teman Ante itu akan jadi apa dia coba? Kadang Ante pengeeen kali tahu gimana keadaan dia sekarang.”
“Ciyeee.. Ante kangen ya?” tebak Tasya.
“Kangen? Ya cuma sekedar pengen tahu kabarnya aja loh Tasya. Apa dia udah berubah atau belum.”
Ntah gimana pula mulanya, dek Tasya ujung-ujungnya cerita tentang Azab Kubur yang pernah dia baca di buku dan dia lihat di Youtube. Aku pun jadi ikut merinding mendengarnya. Tapi, tetap ku arahkan mereka untuk mengambil hikmahnya. Indah dan Tasya sampai-sampai nggak berani berwudhu untuk sholat Isya ke belakang gara-gara cerita itu. Ku temenin deh, supaya tetap bisa sholat Isya berjamaah bareng mereka. Setiap harinya, selalu aja ada cerita yang mereka ungkapkan kepadaku. kadang tentang teman yang menyebalkan di sekolah, guru yang galak, PR yang sulit, guru yang terlalu cepat menjelaskan pelajaran dan masih banyak lagi lainnyaa.. happy to be your teacher, child’s...

Tidak ada komentar: