Selasa, 03 November 2015

Pekerjaan Penulis itu ya Menulis



Ini adalah solusi teraneh yang pernah ku lakukan sepanjang mogok yang pernah terjadi. Sejak di parkiran Krema Café tadi, sebenarnya aku udah merasa mesin motorku agak tersendat-sendat lajunya. Feeling bahwa bensinnya hampir kandas. Tapi, terus saja ku tarik gas, berharap akan segera sampai Pertamina. Tapi, ternyata motorku berhenti total. Di perempatan jalan pula. syukurlah agak ke pinggir letaknya, bukan di tengah jalan. Sontak, ketika motor berhenti, yang terfikir olehku bukannya; ‘Eh, di mana nih beli bensinnya?’ melainkan; ‘Eh, pas pula ada rumah makan. Makan dulu ah! Laper!’ Aku pun langsung ngacir ke rumah makan di seberang jalan setelah mengunci stang. 

“Kok bisa selucu ini sih diri ini?” gumamku di dalam hati.
“Lauknya apa Dek?” tanya si abang dengan ramah.
“Emmmm… apa yaaa,” aku kebingungan sambil melihat deretan lauk di etalase. “Itu apa Bang?”
“Yang ini cincang daging, yang ini cincang ayam, yang ini ayam gulai.”
“Cincang ayam deh, Bang.”
“Oke. Minumnya apa Dek?”
“Air putih hangat aja Bang.”
Dengan santainya aku makan, sesuap demi sesuap. Sementara motorku masih berada di seberang jalan sana dan belum tahu ntah di mana akan mendapatkan bensin untuk menyalakannya kembali. Yang penting makan dulu deh! Bentar lagi juga mau maghrib. Aku agak panik ketika melihat bapak-bapak yang duduk di teras memandang ke seberang jalan, menduga kalau ia sedang melihat ke arah motorku yang nggak ‘tahu diri’ berhentinya. Tapi, ketika ku perhatikan lebih lanjut, ternyata pandangannya tidak nanar ke arah sana. Huft, lega!

“Berapa Kak? Makannya pakai Ayam Cincang.”
“Ada yang lainnya?” tanya kakak kasir.
Nah, ini nih yang aku salutnya dari Indonesia. Kalau aku bohong sama si kakak, sebenarnya dia pun nggak terlalu teliti. Tapi kok dia bisa percaya nanya gitu kepadaku? Haahhh, salut sama Indonesia! Love Indonesia. hanya ada di Indonesia.
“Nggak ada Kak.”
“Rp 20.000.”
Busyet! Lumayan juga ya harganya. Aku kira kayak di Panam.
“Bang, tempat jual bensin di sekitar sini di mana ya?” tanyaku kepada Abang penjual jus di sebelah rumah makan.
“Tuh, dekat masjid Dek.”
Aku mengikuti arah telunjuknya. Tidak terlalu jauh ternyata. Sekitar 30 meter saja ke seberang jalan.
“Bang, kayaknya kayaknya saya mau langsung sholat Maghrib dulu, jadi tolong agak dilihatin ya Bang motor saya itu. Tadi mogoknya di situ soalnya!” tunjukku ke arah motorku.
Aku jalan terus ke depan, berharap penjualnya percaya kepadaku untuk ku bawa sebotol bensinnya ke motorku di belakang sana.

“Lah? Ternyata ini Pertamina toh!” sadarku kemudian.
Setelah sholat Maghrib, ku tuntun motorku ke sini. Lumayan juga keringat yang mengucur, walaupun jaraknya dekat. Ah, aku memang sangat minim membakar lemak belakangan ini. bagaimana pula mau kurus kalau gini malasnya? hiksss.
“Rp 25.000 Bang,” pintaku kepada petugas pertamina.
Menurutku, selagi punya cukup uang, rasanya rugi banget kalau ngantri panjang-panjang di Pertamina tapi hanya ngisi bensin Rp 10.000. Kalau aku sih, biasanya langsung ngisi full (kalau memang uangnya cukup) dan biasanya kalau uangku nggak cukup, aku lebih memilih beli di pinggiran jalan aja.
Pukul 18.35wib.
Ku lirik jam di tangan. Akan sedikit terlambat nih ngajarin anak-anak. Ya Allah, lancarkanlah perjalananku, persingkatlah jaraknya dan jauhkan hamba dari segala marabahaya. Aamiin.

***
Salam amazing! Teman-teman fasil BAT 9 yang sudah mau berangkat, mohon balas SMS ini untuk confirm ya. Terimakasih.
Elis sedang OTW nih Bang.
Balasku dengan SMS college kepada bang Wira. Alhamdulillah, langsung dibiayai olehnya. Sebelum melaju, aku mampir ke ATM dulu untuk mengambil uang. Karena, feelingku agak kurang enak tentang si bensin. Tapi, setelah ku check, menurut prediksiku ini bakalan cukup sampai ke Rajawali Sukajadi. Ntar aja ngisi bensinnya di Pertamina deh!
Nggak pake nyasar kan Lis?  Rajawali ujung dekat kuburan, di daerah Sukajadi. Mobil sedan Soluna Abang di parkiran jalan. Abang dah di lantai 2 ya.

“Pak, numpang nanya, Pak. Jalan Rajawali Ujung dekat kuburan tu di mana ya Pak?”
“Oh, ke arah sana Dek. Terusss aja lurus ke depan. Nanti jumpa lampu merah pun terus aja lurus. Nah, nanti di sebelah kanan tu ada kuburan,” jawab sang bapak sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan arah datangku.
Nggak salah lagi, aku memang pake nyasar nih! Persis kayak dikhawatirkan bang Wira. Hehe. setelah merasa sudah di ujung jalan Rajawali, aku celingukan ke segala arah. Tiba-tiba di sebelah kanan, aku udah melihat kuburan. Dan, ketika aku melihat ke arah kiri, terlihatlah spanduk besar bertuliskan; KREMA Café. Ah, nggak salah lagi nih!
“Mbak, motornya jangan dikunci stang ya. Supaya gampang nanti saya ngaturnya,” kata bapak tukang parkir.
“Nggak dikunci kok Pak,” jawabku, lalu kembali merapikan jilbab sebelum masuk ke dalam. Aku langsung ke lantai 2 dan sudah ada bang Wira dan dek Yoga ternyata.
Ketika aku masih bingung akan memesan minuman apa, Espresso pesanan dek Yoga dihidangkan.
“Yoga pesan apa?” tanya bang Wira.
“Espresso Bang.”
“Beuh! Mabuk ntar loh!”
“Kenapa gitu Bang?”

“Memang hanya 30ml ukurannya, tapi pahitnya bukan main. Espresso itu kan biangnya kopi. Kalau nggak tahan, bisa mabuk ntar. Beuhh!” kata bagn Wira.
30 mili? Ku turunkan pandangan mataku, mengarah kepada gelas kecil berisi Espresso milik Yoga. Ya Ampuuuuunnn, apa enaknya sih minum se-sedikit dan se-pahit itu Dek? Fikirku. Tapi, sepertinya tak jauh berbeda denganku alasannya; Pengalaman. Aku memesan Hazelnut Moca Latte dingin. Alhamdulillah, rasanya cocok banget di lidahku dan porsinya juga lumayan memuaskan. Dan, yang nggak kalah memuaskan adalah karena minuman kami yang lumayan high ini dibayarin sama bang Wira. Makasih bang Wiraaa… semoga dedeknya lahirnya sehat dan mudah ya nantikkk.. aamiin.
“Ini kita cuma bertiga aja, Bang? Yang lainnya mana?”
“Aisyah ke Surabaya katanya. Ada acara Pemuda Indonesia… apa… gitu. Pokoknya ada Pemuda Indonesianya lah gitu. Yaaa.. mantap juga ya!”
“Yoga juga bulan ini mau berangkat ke….., Bang,” tutur Yoga yang sayangnya aku tak terlalu mau memperhatikan.

Karena hatiku sudah cukup terusik oleh Bogor yang telah ku batalkan. Apalagi waktu tadi pagi baca Whatsapnya Yudi ini; El, Alhamdulillah, tiket pesawatku dari Pekanbaru ke Yogya untuk TOT nanti dibayarkan sama Kemendiknas. Huh, ini masa-masa yang rawan memang. Allah kembali menguji keteguhan hatiku sebenarnya. Tiba-tiba aku tersadar; Di KKP aku jadi fasilitator, di BAT juga aku jadi fasilitator. Bahkan, ternyata bang Wira memang lebih membutuhkanku di sini karena hanya aku, Yoga dan Zafri saja yang bisa. Ya Allah, hamba yakin, Engkau punya hadiah lain untukku. ^_^ dan aku menunggunya.
“… jadi gini, Training itu ada 3 jenis berdasarkan tujuannya. 1. To Inform. Yaitu untuk menginformasikan atau memberikan ilmu baru. 2. To Persuade. Yaitu untuk mengajak orang lain berlatih, berbicara di publik, misalnya. 3. To entertain. Gunanya hanya untuk menghibur. Contohnya; Stand up Comedy. Wah, bakal keren banget nih kalau kita bisa kolaborasikan ketiga-tiganya. Belum pernah ada di Pekanbaru. Di Bandung dan Jakarta aja belum banyak yang bikin kayak gini nih,” tutur bang Wira.

“Wahhh… keren banget tuh Bang kalau kita bisa mengadakannya,” sahut Yoga.
“Sumber dayanya lagi nih yang jadi soal,” sahutku.
“Nah! Betul tuh Lis. Kita memang kurang yang satu itu. Apalagi kalau bikin acara besar seperti itu, kita butuh banyak support team.”
Bang Wira menyodorkan 6 lembar kertas kepada kami tentang intisari BAT. Berharga banget nih! Karena cuma kami yang mendapatkannya. Mulailah bang Wira menjelaskan tentang poin-poin penting di dalamnya. Setelah sholat Ashar, kami bertiga diminta mempraktekkan teknik CIRCLE EXCELENCE dan SWISH PATTERN untuk meningkatkan rasa percaya diri.
“…waktu metode NLP (ket: Neuro Linguistic Programming) ini ke luar, banyak banget psikolog yang protes loh!”
“Kenapa gitu, Bang?” tanyaku, penasaran.

“Mereka katakan seperti ini; ‘Kami belajar bertahun-tahun loh, meneliti bertahun-tahun, eh kalian kalahkan pula dengan teknik yang durasinya kurang dari 5 menit itu’ hahaa.. itulah hebatnya NLP. Kita nggak perlu tahu dengan siapa pasien kita bermasalah dan bagaimana masalahnya, karena kita hanya memintanya membayangkan dan hanya dia yang tahu bayangannya. Selain netralitas kita terjaga, aib orang yang bersalah tadi pun terjaga juga kan. Itulah keunggulan teknik ini.”
Aku dan Yoga manggut-manggut.
“Nah, tugas kalian nih! Carilah 4 orang pasien dan coba pakai 2 teknik tadi untuk menyelesaikan masalah mereka ya. Nanti laporin ke Abang, pasien kalian itu siapa namanya, apa masalahnya, bagaimana penyelesaiannya. Sip ya?!”
“Sip Bang.”
“Oke deh, hari ini kita cukupkan sampai di sini dulu. Luar biasa sekali, seluar biasa yang Abang bayangkan. Sekarang pun udah hampir jam 6, sebelum hari H kita akan ada breafing lagi ya untuk ngelihat kesiapan kalian.”

Seperti Mario Teguh, bang Wira juga mengatakan…
“Kita harus pandai-pandai menempatkan cara berbicara kita di depan orang. Kalau di depan pejabat tinggi, humor-humor kampungan itu nggak laku sama mereka karena mereka tipe orang elegan. Ukurannya gini Lis, lawakan-lawakan kampungan itu sangat disukai oleh kalangan bawah. Sedangkan semakin ke kalangan elit, tertawa mereka pun diatur, elegan dan nggak semua lawakan bisa digunakan.”
Selalu aja ada ilmu baru yang ku dapatkan dari bang Wira setiap kali ngobrol dengannya. Dan, yang lebih salutnya lagi, hampir setiap kali aku bercerita tentang soalku kepadanya, beliau selalu menjawabnya dengan BUKU; ‘Coba Elis baca buku yang judulnya ini deh!’ selalu seperti itu. Sejak pertama kali aku mengenal FLP, aku sudah mengenalnya ketika ia memberikan materi tentang Quantum Membaca. Dan saat itu aku mendengar seseorang berbisik kepadaku tentang betapa rakusnya bang Wira terhadap buku. Makanya, aku nggak pernah heran dengan keluasan ilmunya. *termotivasi!

Bang Wira pernah nanyain hal ini untuk memancing passionku; “Apa yang membuat Elis merasa hampa kalau nggak melakukannya dalam sehariiii aja?” aku jawab; MENULIS. Lalu, beliau bertanya lagi; “Pekerjaan apa yang ketika Elis melakukannya, Elis sampai lupa waktu, lupa makan bahkan nggak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitar?” aku jawab lagil MENULIS. Lalu, sekarang giliran aku mempertanyakan diriku sendiril “Kalau sudah faham bahwa MENULIS adalah passionmu, kok kamu masih juga sering abai dan lalai sih El? Bukannya kerjanya seorang PENULIS itu MENULIS?”

Aku tergugu. Malu. Sendu.

Tidak ada komentar: