Ini adalah solusi teraneh yang pernah ku lakukan sepanjang
mogok yang pernah terjadi. Sejak di parkiran Krema Café tadi, sebenarnya aku
udah merasa mesin motorku agak tersendat-sendat lajunya. Feeling bahwa
bensinnya hampir kandas. Tapi, terus saja ku tarik gas, berharap akan segera
sampai Pertamina. Tapi, ternyata motorku berhenti total. Di perempatan jalan
pula. syukurlah agak ke pinggir letaknya, bukan di tengah jalan. Sontak, ketika
motor berhenti, yang terfikir olehku bukannya; ‘Eh, di mana nih beli
bensinnya?’ melainkan; ‘Eh, pas pula ada rumah makan. Makan dulu ah! Laper!’
Aku pun langsung ngacir ke rumah makan di seberang jalan setelah mengunci
stang.
“Kok bisa selucu ini sih diri ini?” gumamku di dalam hati.
“Lauknya apa Dek?” tanya si abang dengan ramah.
“Emmmm… apa yaaa,” aku kebingungan sambil melihat deretan
lauk di etalase. “Itu apa Bang?”
“Yang ini cincang daging, yang ini cincang ayam, yang ini
ayam gulai.”
“Cincang ayam deh, Bang.”
“Oke. Minumnya apa Dek?”
“Air putih hangat aja Bang.”
Dengan santainya aku makan, sesuap demi sesuap. Sementara
motorku masih berada di seberang jalan sana dan belum tahu ntah di mana akan
mendapatkan bensin untuk menyalakannya kembali. Yang penting makan dulu deh! Bentar lagi juga mau maghrib. Aku agak
panik ketika melihat bapak-bapak yang duduk di teras memandang ke seberang
jalan, menduga kalau ia sedang melihat ke arah motorku yang nggak ‘tahu diri’
berhentinya. Tapi, ketika ku perhatikan lebih lanjut, ternyata pandangannya
tidak nanar ke arah sana. Huft, lega!
“Ada yang lainnya?” tanya kakak kasir.
Nah, ini nih yang aku salutnya dari Indonesia. Kalau aku
bohong sama si kakak, sebenarnya dia pun nggak terlalu teliti. Tapi kok dia
bisa percaya nanya gitu kepadaku? Haahhh, salut sama Indonesia! Love Indonesia.
hanya ada di Indonesia.
“Nggak ada Kak.”
“Rp 20.000.”
Busyet! Lumayan juga ya harganya. Aku kira kayak di Panam.
“Bang, tempat jual bensin di sekitar sini di mana ya?”
tanyaku kepada Abang penjual jus di sebelah rumah makan.
“Tuh, dekat masjid Dek.”
Aku mengikuti arah telunjuknya. Tidak terlalu jauh ternyata.
Sekitar 30 meter saja ke seberang jalan.
“Bang, kayaknya kayaknya saya mau langsung sholat Maghrib
dulu, jadi tolong agak dilihatin ya Bang motor saya itu. Tadi mogoknya di situ
soalnya!” tunjukku ke arah motorku.
Aku jalan terus ke depan, berharap penjualnya percaya
kepadaku untuk ku bawa sebotol bensinnya ke motorku di belakang sana.
“Lah? Ternyata ini Pertamina toh!” sadarku kemudian.
Setelah sholat Maghrib, ku tuntun motorku ke sini. Lumayan
juga keringat yang mengucur, walaupun jaraknya dekat. Ah, aku memang sangat
minim membakar lemak belakangan ini. bagaimana pula mau kurus kalau gini
malasnya? hiksss.
“Rp 25.000 Bang,” pintaku kepada petugas pertamina.
Menurutku, selagi punya cukup uang, rasanya rugi banget
kalau ngantri panjang-panjang di Pertamina tapi hanya ngisi bensin Rp 10.000.
Kalau aku sih, biasanya langsung ngisi full (kalau memang uangnya cukup) dan
biasanya kalau uangku nggak cukup, aku lebih memilih beli di pinggiran jalan
aja.
Pukul 18.35wib.
Ku lirik jam di tangan. Akan sedikit terlambat nih ngajarin
anak-anak. Ya Allah, lancarkanlah perjalananku, persingkatlah jaraknya dan
jauhkan hamba dari segala marabahaya. Aamiin.
***
Salam amazing!
Teman-teman fasil BAT 9 yang sudah mau berangkat, mohon balas SMS ini untuk
confirm ya. Terimakasih.
Elis sedang OTW nih Bang.
Balasku
dengan SMS college kepada bang Wira. Alhamdulillah, langsung dibiayai olehnya.
Sebelum melaju, aku mampir ke ATM dulu untuk mengambil uang. Karena, feelingku
agak kurang enak tentang si bensin. Tapi, setelah ku check, menurut prediksiku
ini bakalan cukup sampai ke Rajawali Sukajadi. Ntar aja ngisi bensinnya di
Pertamina deh!
Nggak pake nyasar
kan Lis? Rajawali ujung dekat kuburan,
di daerah Sukajadi. Mobil sedan Soluna Abang di parkiran jalan. Abang dah di
lantai 2 ya.
“Pak,
numpang nanya, Pak. Jalan Rajawali Ujung dekat kuburan tu di mana ya Pak?”
“Oh, ke
arah sana Dek. Terusss aja lurus ke depan. Nanti jumpa lampu merah pun terus
aja lurus. Nah, nanti di sebelah kanan tu ada kuburan,” jawab sang bapak sambil
menunjuk arah yang berlawanan dengan arah datangku.
Nggak salah
lagi, aku memang pake nyasar nih! Persis kayak dikhawatirkan bang Wira. Hehe.
setelah merasa sudah di ujung jalan Rajawali, aku celingukan ke segala arah.
Tiba-tiba di sebelah kanan, aku udah melihat kuburan. Dan, ketika aku melihat
ke arah kiri, terlihatlah spanduk besar bertuliskan; KREMA Café. Ah, nggak
salah lagi nih!
“Mbak,
motornya jangan dikunci stang ya. Supaya gampang nanti saya ngaturnya,” kata
bapak tukang parkir.
“Nggak
dikunci kok Pak,” jawabku, lalu kembali merapikan jilbab sebelum masuk ke
dalam. Aku langsung ke lantai 2 dan sudah ada bang Wira dan dek Yoga ternyata.
Ketika aku
masih bingung akan memesan minuman apa, Espresso pesanan dek Yoga dihidangkan.
“Yoga pesan
apa?” tanya bang Wira.
“Espresso
Bang.”
“Beuh!
Mabuk ntar loh!”
“Kenapa
gitu Bang?”
“Memang
hanya 30ml ukurannya, tapi pahitnya bukan main. Espresso itu kan biangnya kopi.
Kalau nggak tahan, bisa mabuk ntar. Beuhh!” kata bagn Wira.
30 mili? Ku
turunkan pandangan mataku, mengarah kepada gelas kecil berisi Espresso milik
Yoga. Ya Ampuuuuunnn, apa enaknya sih
minum se-sedikit dan se-pahit itu Dek? Fikirku. Tapi, sepertinya tak jauh
berbeda denganku alasannya; Pengalaman. Aku memesan Hazelnut Moca Latte dingin.
Alhamdulillah, rasanya cocok banget di lidahku dan porsinya juga lumayan
memuaskan. Dan, yang nggak kalah memuaskan adalah karena minuman kami yang
lumayan high ini dibayarin sama bang Wira. Makasih bang Wiraaa… semoga dedeknya
lahirnya sehat dan mudah ya nantikkk.. aamiin.
“Ini kita
cuma bertiga aja, Bang? Yang lainnya mana?”
“Aisyah ke
Surabaya katanya. Ada acara Pemuda Indonesia… apa… gitu. Pokoknya ada Pemuda
Indonesianya lah gitu. Yaaa.. mantap juga ya!”
“Yoga juga
bulan ini mau berangkat ke….., Bang,” tutur Yoga yang sayangnya aku tak terlalu
mau memperhatikan.
Karena
hatiku sudah cukup terusik oleh Bogor yang telah ku batalkan. Apalagi waktu
tadi pagi baca Whatsapnya Yudi ini; El,
Alhamdulillah, tiket pesawatku dari Pekanbaru ke Yogya untuk TOT nanti
dibayarkan sama Kemendiknas. Huh,
ini masa-masa yang rawan memang. Allah kembali menguji keteguhan hatiku
sebenarnya. Tiba-tiba aku tersadar; Di KKP aku jadi fasilitator, di BAT juga
aku jadi fasilitator. Bahkan, ternyata bang Wira memang lebih membutuhkanku di
sini karena hanya aku, Yoga dan Zafri saja yang bisa. Ya Allah, hamba yakin,
Engkau punya hadiah lain untukku. ^_^ dan aku menunggunya.
“… jadi
gini, Training itu ada 3 jenis berdasarkan tujuannya. 1. To Inform. Yaitu untuk
menginformasikan atau memberikan ilmu baru. 2. To Persuade. Yaitu untuk
mengajak orang lain berlatih, berbicara di publik, misalnya. 3. To entertain.
Gunanya hanya untuk menghibur. Contohnya; Stand up Comedy. Wah, bakal keren
banget nih kalau kita bisa kolaborasikan ketiga-tiganya. Belum pernah ada di
Pekanbaru. Di Bandung dan Jakarta aja belum banyak yang bikin kayak gini nih,”
tutur bang Wira.
“Wahhh…
keren banget tuh Bang kalau kita bisa mengadakannya,” sahut Yoga.
“Sumber
dayanya lagi nih yang jadi soal,” sahutku.
“Nah! Betul
tuh Lis. Kita memang kurang yang satu itu. Apalagi kalau bikin acara besar
seperti itu, kita butuh banyak support team.”
Bang Wira
menyodorkan 6 lembar kertas kepada kami tentang intisari BAT. Berharga banget
nih! Karena cuma kami yang mendapatkannya. Mulailah bang Wira menjelaskan
tentang poin-poin penting di dalamnya. Setelah sholat Ashar, kami bertiga
diminta mempraktekkan teknik CIRCLE
EXCELENCE dan SWISH PATTERN untuk meningkatkan rasa percaya diri.
“…waktu
metode NLP (ket: Neuro Linguistic Programming) ini ke luar, banyak banget
psikolog yang protes loh!”
“Kenapa
gitu, Bang?” tanyaku, penasaran.
“Mereka
katakan seperti ini; ‘Kami belajar bertahun-tahun loh, meneliti bertahun-tahun,
eh kalian kalahkan pula dengan teknik yang durasinya kurang dari 5 menit itu’
hahaa.. itulah hebatnya NLP. Kita nggak perlu tahu dengan siapa pasien kita
bermasalah dan bagaimana masalahnya, karena kita hanya memintanya membayangkan
dan hanya dia yang tahu bayangannya. Selain netralitas kita terjaga, aib orang
yang bersalah tadi pun terjaga juga kan. Itulah keunggulan teknik ini.”
Aku dan
Yoga manggut-manggut.
“Nah, tugas
kalian nih! Carilah 4 orang pasien dan coba pakai 2 teknik tadi untuk
menyelesaikan masalah mereka ya. Nanti laporin ke Abang, pasien kalian itu
siapa namanya, apa masalahnya, bagaimana penyelesaiannya. Sip ya?!”
“Sip Bang.”
“Oke deh,
hari ini kita cukupkan sampai di sini dulu. Luar biasa sekali, seluar biasa
yang Abang bayangkan. Sekarang pun udah hampir jam 6, sebelum hari H kita akan
ada breafing lagi ya untuk ngelihat kesiapan kalian.”
Seperti
Mario Teguh, bang Wira juga mengatakan…
“Kita harus
pandai-pandai menempatkan cara berbicara kita di depan orang. Kalau di depan
pejabat tinggi, humor-humor kampungan itu nggak laku sama mereka karena mereka
tipe orang elegan. Ukurannya gini Lis, lawakan-lawakan kampungan itu sangat
disukai oleh kalangan bawah. Sedangkan semakin ke kalangan elit, tertawa mereka
pun diatur, elegan dan nggak semua lawakan bisa digunakan.”
Selalu aja
ada ilmu baru yang ku dapatkan dari bang Wira setiap kali ngobrol dengannya.
Dan, yang lebih salutnya lagi, hampir setiap kali aku bercerita tentang soalku
kepadanya, beliau selalu menjawabnya dengan BUKU; ‘Coba Elis baca buku yang
judulnya ini deh!’ selalu seperti itu. Sejak pertama kali aku mengenal FLP, aku
sudah mengenalnya ketika ia memberikan materi tentang Quantum Membaca. Dan saat
itu aku mendengar seseorang berbisik kepadaku tentang betapa rakusnya bang Wira
terhadap buku. Makanya, aku nggak pernah heran dengan keluasan ilmunya.
*termotivasi!
Bang Wira
pernah nanyain hal ini untuk memancing passionku; “Apa yang membuat Elis merasa
hampa kalau nggak melakukannya dalam sehariiii aja?” aku jawab; MENULIS. Lalu,
beliau bertanya lagi; “Pekerjaan apa yang ketika Elis melakukannya, Elis sampai
lupa waktu, lupa makan bahkan nggak peduli lagi dengan apa yang terjadi di
sekitar?” aku jawab lagil MENULIS. Lalu, sekarang giliran aku mempertanyakan
diriku sendiril “Kalau sudah faham bahwa MENULIS adalah passionmu, kok kamu
masih juga sering abai dan lalai sih El? Bukannya kerjanya seorang PENULIS itu
MENULIS?”
Aku
tergugu. Malu. Sendu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar