
Hari ini aku melahap bukunya Dedy Dahlan yang judulnya
LAKUKAN DENGAN HATI. Ternyata, cara otak kita bekerja adalah dengan MEMBATASI
informasi yang masuk sekaligus ke dalam kepala agar tidak kewalahan karena
banyaknya informasi yang kita terima. Otak mengatur jumlah informasi hanya pada
beberapa hal yang kita BUTUHKAN pada saat itu. Makanya, kita butuh FOKUS.
“Sebuah pertanyaan yang tepat akan mengarahkan pikiran kita pada hal
yang TEPAT agar dapat menemukan jawaban yang TEPAT!”
Contoh pertanyaan yang mengubah dunia :
1.
Apa yang membuat Apel itu selalu jatuh ke bawah?
Issac Newton – Penemu Gaya Gravitasi
2.
Apa yang harus saya lakukan supaya benda ini
bisa terbang?
Wilbur Wriphi – Penemu Pesawat
3.
Bagaimana kita bisa membuat sistem mesin
pencari?
Larry Page dan Serpei Binn – Penemu Google.
4.
Apa yang bisa dilakukan agar hubungan telepon
bisa dilakukan gratis di seluruh dunia?
SKYPE
Dan… pertanyaan terbesarku saat ini adalah…
“Bagaimana menulis buku dalam konsep BLOG sehingga hemat kertas dan
tidak perlu dipusingkan dengan PENERBITAN? Selain praktis, juga go green. Dan,
bagaimana caranya penulisnya terus dibayar oleh MESIN PENCARI setiap kali ada
pembaca yang membacanya sementara pembaca tersebut bisa membaca sepuasnya
secara gratis? Bagaimana pula caranya supaya blog tersebut aman, terlindungi
dan nggak dijiplak orang?”
***
Seharian ini ku habiskan untuk melunasi kewajiban MENULIS di
blog. Ada 3 diary yang ku tuntaskan dan beberapa puisi juga. Sebenarnya ada
kabar anging bahwa siang ini kami para Duta Lingkungan harus datang ke BLH,
tapi karena kepastiannya masih simpang siur, akhirnya ku putuskan untuk lanjut
menulis saja. Lagipula, di luar sedang turun hujan hingga Ashar tiba.
Tin
nggak bisa berkata-kata Cint. Untuk saat ini, air mata Tin yang ke luar. Ntah
air mata yang ke luar karena dosa ini, ntah karena masalah yang ku hadapi atau
mungkin karena tulisanmu cint mengingatkanku pada semuanya. Terimakasih cin.
Tidak ada kata pujian untukmu cint, pujiannya ku tujukan untuk Allah yang ridho
mengenalkanmu padaku cinnn…
Aku
terharu, bahkan air mataku ternyata sudah mengembun. Padahal yang ku hadiahinya
adalah puisi sederhana yang berisi nasehat. Dan itu sudah membuatnya tersentuh
dan tersadar atas semuanya. Bukan aku yang hebat, tentu saja keajaiban
kata-kata inilah yang maha dahsyat. Ternyata bahagia itu sederhana, ketika aku
menyempatkan diri untuk menulis dan membagikannya untuk orang lain lalu mereka
terinspirasi karenanya. Sesederhana itu.
“PENYESALAN terbesar
bagi seorang penulis adalah ketika ia TIDAK MENULIS”
Tulisku di
PM BBM. Link tentang hari ulang tahunku kemarin pun ku bagikan kepada
teman-teman seperti cin Lia, Santi, Hani, Tian, bang Yopi, Rini, Titin, Teguh
dan lainnya. Bahagia sekali rasanya ketika mampu menyelesaikan janji ini. Tapi,
PRku masih banyak. November kemarin ternyata banyak banget bolongnya diaryku.
Ada yang belum sempurna ceritanya, ada yang terkendala untuk mengedit
foto-fotonya dan ada juga yang memang belum sempat ditulis sama sekali. Hiksss.
-Tulisan adalah KEHIDUPAN-
Tidak
ada KASTA dalam tulisan
Tidak
ada PEMENANG dalam tulisan
Tidak
ada TUAN dalam tulisan
Tidak
ada PUNCAk dalam tulisan
Sebab
tulisan adalah KEHIDUPAN
Hujungnya
hanyalah KETIADAAN
Selagi
ada KEHIDUPAN selama itu pula tulisan adalah PERJALANAN.
Itu adalah
salah satu puisi yang ku tulis hari ini. janji terhadap tab ONE DAY ONE ART
Alhamdulillah sudah sempurna ku lengkapi. Ternyata isinya belakangan ini adalah
untuk ucapan ulang tahun teman-teman.
-Penulis adalah Pelukis tak
Berkuas-
PENULIS
Adalah
pelukis yang tak butuh kuas dan cat warna-warni
Ia
ahnya butuh PENA
Untuk
menggambar dan menciptakan segala WARNA.
Yang aneh
dariku adalah… setelah selesai menulis, biasanya aku akan tergila-gila pada
tulisanku sendiri dan membacanya berulang-ulang seperti sedang mengagumi
tulisan orang lain saja. haahha. Contohnya pada dua puisi ini. Aku telah
berulang kali membacanya. Aku juga nggak ngerti kenapa aku bisa seaneh ini.
Tapi, insya allah ini adalah hal baik dan tidak ada yang salah dengan semua
ini. Membaca hal-hal INDAH akan memberi efek positif terhadap hati dan fikiran
serta dapat menajamkan JIWA.
***
Sejak tadi aku asyik berchat ria dengan beberapa teman lama di BBM. Aku baru saja menerima kabar baik bahwa dia sudah wisuda dan cumlaude sementara yang satunya lagi mengaku bahwa ia sangat tersentil dengan kalimatku ini...
“PENYESALAN terbesar
bagi seorang penulis adalah ketika ia TIDAK MENULIS”
Hanni namanya. Dia adalah teman dekatnya Santi dan sudah membuat pengakuan bahwa dia suka banget baca blogku. hemmm...jadi makin banyak penggemar nih nampaknya! hehe. Di mata mereka, posisiku seolah selalu benar dan selalu menginspirasi. Padahal, apa yang ku sampaikan kepada mereka adalah hal yang memang sudah ada. Aku hanya meramu dan meraciknya saja. Ternyata hasilnya sebegini memukaunya. ^_^
Hanni pengen ke New Delhi ya? tanyaku setelah memperhatikan status BBMnya Hani.
Iyaaa....Mbak juga Haann. Jarang nih ada orang yang bercita-cita pengen ke India. Kalau ke Jepang sih udah sering banget dengar.
Doakan segera ya Han..mauuuu banget ke Jawaaa.
aamiin ya Allah.. ^_^
***
Setelah pulang dari rumah Indah, aku mampir di GIANT untuk nyari pensil khot pesanan Nilam. Beberapa minggu yang lalu aku pernah mencarinya juga, tapi nggak ada. Ternyata malam ini pun masih kosong. Nggak nyetok pensil khot lagi kayaknya nih Giant? Hemmm… setelah sadar bahwa yang ku cari ini nggak
ada, aku nggak
langsung pulang begitu aja. Aku menikmati kesendirian ini untuk selfie dengan
berbagai cara, ehee. Baru nyadar betapa nikmatnya punya Rini di sisi.
“PENYESALAN terbesar
bagi seorang penulis adalah ketika ia TIDAK MENULIS” Hanni namanya. Dia adalah teman dekatnya Santi dan sudah membuat pengakuan bahwa dia suka banget baca blogku. hemmm...jadi makin banyak penggemar nih nampaknya! hehe. Di mata mereka, posisiku seolah selalu benar dan selalu menginspirasi. Padahal, apa yang ku sampaikan kepada mereka adalah hal yang memang sudah ada. Aku hanya meramu dan meraciknya saja. Ternyata hasilnya sebegini memukaunya. ^_^
Hanni pengen ke New Delhi ya? tanyaku setelah memperhatikan status BBMnya Hani.
Pengen Mbak. Pengen ke Taj Mahal. Pengen tahu peradabannya. New Delhi adalah kota ketiga yang ingin sekali Hani kunjungi setelah Mekah dan Jepang. Mbak Elisa bagaimana?
Pengen menjadi sesuatu yang berbeda mbak El. Bisa jadi menyimpan sejarah yang luar biasa. Mbak El kapan ke Jawa lagi?
Aamin insya Allah. Hani pun pengen ke Riau, ke Padang. Mbak El ini benar-benar jadi salah satu semangan buat saya. Setiap kali Santi cerita tentang Mbak, saya senang mendengarnya. Semoga Malaikat mencatat percakapan ini dan Allah kabulkan untuk bisa di pulau Sumatera. Silaturahmi ke sana.
***
Setelah pulang dari rumah Indah, aku mampir di GIANT untuk nyari pensil khot pesanan Nilam. Beberapa minggu yang lalu aku pernah mencarinya juga, tapi nggak ada. Ternyata malam ini pun masih kosong. Nggak nyetok pensil khot lagi kayaknya nih Giant? Hemmm… setelah sadar bahwa yang ku cari ini nggak
“Beli mukena ah!
Menghadap Allah kan harus pakai yang baru-baru juga. Nggak hanya baju aja yang
harus dibaruin.”
Aku
langsung bergerak menuju pasar senggol di belakang GIANT dan membeli mukena
parasut yang mirip banget dengan punya Lia. Harga awalnya Rp 75.000 dan turun
jadi Rp 65.000. Eh, ternyata uangku hanya ada Rp 60.000 akhirnya turun lagi
harganya jadi Rp 60.000. ikhlas sekali penjualnya. Semoga berkah dan semakin
laris manis dagangannya. Aamiin.
“Selamat ulang tahun
wahai diriku. Ini adalah hadiah untukmu dalam beribadah pada-Nya. Mukena ini
adalah pilihan terbaik malam ini. Semoga awet dan tahan lama. Aamiin.”
Sepulangnya
dari GIANT, aku mencari kucing untuk ku bawa bobok bersamaku. Alhamdulillah,
dia ada di teras. Biasanya, dia nggak tahu tidur di mana kalau malam sampai aku
susah nyarinya.
***
Sewaktu di
GIANT tadi, aku sempat mematung 10 menit di samping rak-rak Pampers karena
keasyikan membaca respon teman-teman atas tulisanku. Bahagiaaaaa banget
rasanya. Dan, aku baru sadar bahwa… kebahagiaan seorang penulis sesungguhnya
adalah ketika TULISANNYA DIBACA. Karena, aku udah banyak belajar dari Tentang
Januari kemarin. Ada sedikit ruang bernama HAMPA di hati ketika bukuku sulit
sold outnya. Dan, detik ini aku kembali tersadar bahwa rasa HAMPA itu
disebabkan karena PEMBACAKU TERBATAS pada mereka yang membeli bukuku saja. Mulailah
aku merangkai mimpi tentang bagaimana caranya seorang Penulis digaji tanpa
menerbitkan buku, tapi tetap menerbitkan buku dalam bentuk aplikasi yang asyik
dibaca. How?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar