Senin, 07 Desember 2015

Bertanyalah dengan Tepat!



Hari ini aku melahap bukunya Dedy Dahlan yang judulnya LAKUKAN DENGAN HATI. Ternyata, cara otak kita bekerja adalah dengan MEMBATASI informasi yang masuk sekaligus ke dalam kepala agar tidak kewalahan karena banyaknya informasi yang kita terima. Otak mengatur jumlah informasi hanya pada beberapa hal yang kita BUTUHKAN pada saat itu. Makanya, kita butuh FOKUS.
“Sebuah pertanyaan yang tepat akan mengarahkan pikiran kita pada hal yang TEPAT agar dapat menemukan jawaban yang TEPAT!”
Contoh pertanyaan yang mengubah dunia :
1.       Apa yang membuat Apel itu selalu jatuh ke bawah?
Issac Newton – Penemu Gaya Gravitasi
2.       Apa yang harus saya lakukan supaya benda ini bisa terbang?
Wilbur Wriphi – Penemu Pesawat
3.       Bagaimana kita bisa membuat sistem mesin pencari?
Larry Page dan Serpei Binn – Penemu Google.
4.       Apa yang bisa dilakukan agar hubungan telepon bisa dilakukan gratis di seluruh dunia?
SKYPE

Dan… pertanyaan terbesarku saat ini adalah…
“Bagaimana menulis buku dalam konsep BLOG sehingga hemat kertas dan tidak perlu dipusingkan dengan PENERBITAN? Selain praktis, juga go green. Dan, bagaimana caranya penulisnya terus dibayar oleh MESIN PENCARI setiap kali ada pembaca yang membacanya sementara pembaca tersebut bisa membaca sepuasnya secara gratis? Bagaimana pula caranya supaya blog tersebut aman, terlindungi dan nggak dijiplak orang?”

***

Seharian ini ku habiskan untuk melunasi kewajiban MENULIS di blog. Ada 3 diary yang ku tuntaskan dan beberapa puisi juga. Sebenarnya ada kabar anging bahwa siang ini kami para Duta Lingkungan harus datang ke BLH, tapi karena kepastiannya masih simpang siur, akhirnya ku putuskan untuk lanjut menulis saja. Lagipula, di luar sedang turun hujan hingga Ashar tiba.
Tin nggak bisa berkata-kata Cint. Untuk saat ini, air mata Tin yang ke luar. Ntah air mata yang ke luar karena dosa ini, ntah karena masalah yang ku hadapi atau mungkin karena tulisanmu cint mengingatkanku pada semuanya. Terimakasih cin. Tidak ada kata pujian untukmu cint, pujiannya ku tujukan untuk Allah yang ridho mengenalkanmu padaku cinnn…
Aku terharu, bahkan air mataku ternyata sudah mengembun. Padahal yang ku hadiahinya adalah puisi sederhana yang berisi nasehat. Dan itu sudah membuatnya tersentuh dan tersadar atas semuanya. Bukan aku yang hebat, tentu saja keajaiban kata-kata inilah yang maha dahsyat. Ternyata bahagia itu sederhana, ketika aku menyempatkan diri untuk menulis dan membagikannya untuk orang lain lalu mereka terinspirasi karenanya. Sesederhana itu.
“PENYESALAN terbesar bagi seorang penulis adalah ketika ia TIDAK MENULIS”
Tulisku di PM BBM. Link tentang hari ulang tahunku kemarin pun ku bagikan kepada teman-teman seperti cin Lia, Santi, Hani, Tian, bang Yopi, Rini, Titin, Teguh dan lainnya. Bahagia sekali rasanya ketika mampu menyelesaikan janji ini. Tapi, PRku masih banyak. November kemarin ternyata banyak banget bolongnya diaryku. Ada yang belum sempurna ceritanya, ada yang terkendala untuk mengedit foto-fotonya dan ada juga yang memang belum sempat ditulis sama sekali. Hiksss.
-Tulisan adalah KEHIDUPAN-
Tidak ada KASTA dalam tulisan
Tidak ada PEMENANG dalam tulisan
Tidak ada TUAN dalam tulisan
Tidak ada PUNCAk dalam tulisan
Sebab tulisan adalah KEHIDUPAN
Hujungnya hanyalah KETIADAAN
Selagi ada KEHIDUPAN selama itu pula tulisan adalah PERJALANAN.
Itu adalah salah satu puisi yang ku tulis hari ini. janji terhadap tab ONE DAY ONE ART Alhamdulillah sudah sempurna ku lengkapi. Ternyata isinya belakangan ini adalah untuk ucapan ulang tahun teman-teman.
-Penulis adalah Pelukis tak Berkuas-
PENULIS
Adalah pelukis yang tak butuh kuas dan cat warna-warni
Ia ahnya butuh PENA
Untuk menggambar dan menciptakan segala WARNA.
Yang aneh dariku adalah… setelah selesai menulis, biasanya aku akan tergila-gila pada tulisanku sendiri dan membacanya berulang-ulang seperti sedang mengagumi tulisan orang lain saja. haahha. Contohnya pada dua puisi ini. Aku telah berulang kali membacanya. Aku juga nggak ngerti kenapa aku bisa seaneh ini. Tapi, insya allah ini adalah hal baik dan tidak ada yang salah dengan semua ini. Membaca hal-hal INDAH akan memberi efek positif terhadap hati dan fikiran serta dapat menajamkan JIWA.

***
Sejak tadi aku asyik berchat ria dengan beberapa teman lama di BBM. Aku baru saja menerima kabar baik bahwa dia sudah wisuda dan cumlaude sementara yang satunya lagi mengaku bahwa ia sangat tersentil dengan kalimatku ini...
“PENYESALAN terbesar bagi seorang penulis adalah ketika ia TIDAK MENULIS”
Hanni namanya. Dia adalah teman dekatnya Santi dan sudah membuat pengakuan bahwa dia suka banget baca blogku. hemmm...jadi makin banyak penggemar nih nampaknya! hehe. Di mata mereka, posisiku seolah selalu benar dan selalu menginspirasi. Padahal, apa yang ku sampaikan kepada mereka adalah hal yang memang sudah ada. Aku hanya meramu dan meraciknya saja. Ternyata hasilnya sebegini memukaunya. ^_^

Hanni pengen ke New Delhi ya? tanyaku setelah memperhatikan status BBMnya Hani.

Pengen Mbak. Pengen ke Taj Mahal. Pengen tahu peradabannya. New Delhi adalah kota ketiga yang ingin sekali Hani kunjungi setelah Mekah dan Jepang. Mbak Elisa bagaimana?

Iyaaa....Mbak juga Haann. Jarang nih ada orang yang bercita-cita pengen ke India. Kalau ke Jepang sih udah sering banget dengar.

Pengen menjadi sesuatu yang berbeda mbak El. Bisa jadi menyimpan sejarah yang luar biasa. Mbak El kapan ke Jawa lagi?

Doakan segera ya Han..mauuuu banget ke Jawaaa.

Aamin insya Allah. Hani pun pengen ke Riau, ke Padang. Mbak El ini benar-benar jadi salah satu semangan buat saya. Setiap kali Santi cerita tentang Mbak, saya senang mendengarnya. Semoga Malaikat mencatat percakapan ini dan Allah kabulkan untuk bisa di pulau Sumatera. Silaturahmi ke sana.

aamiin ya Allah.. ^_^
 
***
 
Setelah pulang dari rumah Indah, aku mampir di GIANT untuk nyari pensil khot pesanan Nilam. Beberapa minggu yang lalu aku pernah mencarinya juga, tapi nggak ada. Ternyata malam ini pun masih kosong. Nggak nyetok pensil khot lagi kayaknya nih Giant? Hemmm… setelah sadar bahwa yang ku cari ini nggak
ada, aku nggak langsung pulang begitu aja. Aku menikmati kesendirian ini untuk selfie dengan berbagai cara, ehee. Baru nyadar betapa nikmatnya punya Rini di sisi.
“Beli mukena ah! Menghadap Allah kan harus pakai yang baru-baru juga. Nggak hanya baju aja yang harus dibaruin.”
Aku langsung bergerak menuju pasar senggol di belakang GIANT dan membeli mukena parasut yang mirip banget dengan punya Lia. Harga awalnya Rp 75.000 dan turun jadi Rp 65.000. Eh, ternyata uangku hanya ada Rp 60.000 akhirnya turun lagi harganya jadi Rp 60.000. ikhlas sekali penjualnya. Semoga berkah dan semakin laris manis dagangannya. Aamiin.
“Selamat ulang tahun wahai diriku. Ini adalah hadiah untukmu dalam beribadah pada-Nya. Mukena ini adalah pilihan terbaik malam ini. Semoga awet dan tahan lama. Aamiin.”


Sepulangnya dari GIANT, aku mencari kucing untuk ku bawa bobok bersamaku. Alhamdulillah, dia ada di teras. Biasanya, dia nggak tahu tidur di mana kalau malam sampai aku susah nyarinya.

***
Sewaktu di GIANT tadi, aku sempat mematung 10 menit di samping rak-rak Pampers karena keasyikan membaca respon teman-teman atas tulisanku. Bahagiaaaaa banget rasanya. Dan, aku baru sadar bahwa… kebahagiaan seorang penulis sesungguhnya adalah ketika TULISANNYA DIBACA. Karena, aku udah banyak belajar dari Tentang Januari kemarin. Ada sedikit ruang bernama HAMPA di hati ketika bukuku sulit sold outnya. Dan, detik ini aku kembali tersadar bahwa rasa HAMPA itu disebabkan karena PEMBACAKU TERBATAS pada mereka yang membeli bukuku saja. Mulailah aku merangkai mimpi tentang bagaimana caranya seorang Penulis digaji tanpa menerbitkan buku, tapi tetap menerbitkan buku dalam bentuk aplikasi yang asyik dibaca. How?

Tidak ada komentar: