Sabtu, 05 Desember 2015

Through DIARY, I will Life TWICE



Masih ada beberapa spot yang harus ku rapikan di kamar ini. Aku bener-bener ingin menjadikan kamar ini sebagai tempat yang nyaman untukku. Sekaligus, mendukung untukku dan Titin mewujudkan mimpi kami. Perubahan BESAR itu dimulai dari SINI, menggunakan apa yang biasanya dibuang, mengindahkan apa yang dianggap orang tak layak pakai.
Pergi nggak ya ke seminar kewirausahaan bidik misi itu?

Kemarin, Okta menyuruhku untuk datang ke acara pagi ini di rektorat. Meskipun aku bukan penerima bidik misi, tapi ilmu dari seminarnya dijamin Okta akan bermanfaat untukku. Ah, aku ajak Titin saja! Dia kan penerima bidik misi. Eh, ternyata Titin nggak bisa. Aku semakin ragu saja.
Kak. Meet up yuk? Sebuah BM dari dek Mel ku terima.
Mau dek. Tapi, kakak ada acara sampai tengah
hari dek Ciin. Gimaneee?

Weeehhh… Duta, sibuk haaa. Tengah
hari jam berapa kak?

Hhhee, sok sibuk aja dek. Jam 2 dek.
Adek yang ke UR gimana?
Mel jam 2 mau ziarah kak, plan sama bunda. Hehee. Oke deh kapan-kapan lagi ya kakka.

Aku baru tahu bahwa ternyata ayahnya dek Melati sudah tiada. 3 tahun silam kepergiannya. Karena kecelakaan, ditabrak motor yang melaju dalam perjalanannya menuju masjid untuk sholat jumat. Hari baik, niat baik dan dalam keadaan baik pula. Semoga ayah dek Mel tenang di sanaa…aamiin.
Adek nggak kos ya di sini?


Hahha. Nggak kak. Mel tinggal dah lama di Pekanbaru. Hehe. merantau dari Palembang, tinggal sama ibu.

Kakak juga orang Palembang loh Dekkk. Waaahh..

Iya? Di Palembangnya di mana Kak?

Di OKI dek.

Kok sama kita? Nenek tinggal di OKI. Di Indralaya dekat Unibersitas Sriwijaya. Kalau rumah yang baru dibeli di Talang Jambe, di perumahan bandara di sana kak. bisalah kapan-kapan reuni bareng ya kak. Mel pasca wisuda balek ke Palembang Kak. hiksss.
Huaaahhhh.. jangan cepat-cepat wisuda kalau gitu dekkk.
Kalau Kakak emang udah permanen tinggal di Riau dek.
Yang di Palembang itu nenek.
Duh, Mel pengen banget ngobrol ama kak Elysa.
Nggak bisa gitu kak jam 1 an? Mau ngobrol bisnis.

Akhirnya kami sepakati pukul 11.00 akan bertemu di science park UR.

***

Aku beralih pada rendaman baju yang sejak kemarin pagi belum juga di cuci.. huahhhh…berarti udah 24 jam. “Rinnnn… kemarin aku ngejek-ngejek mu lama banget ngerendamnya, sekarang aku malah lebih parah nih!”. Jadi bau apek gini bajunya. Segera ku kucek seadanya karena takut ada halangan lagi dan nggak sempat nyelesaikan cucian. Untuk menghilangkan bau dan kumannya, aku menggunkan Downy. Tumben banget nih aku mau ngebilas pakai softener, biasanya sih softenernya ku semprotkan aja sewaktu nyetrika. Biar praktis. Hehee.
Setelah menjemur pakaian…
Kak, maaf agak telah dikit. Mel dari rumah soalnya. Di Sudirman. Heheh.
Iya dek. Kan masih jam 11 niii.
Memel OTW ya kak.
Aku kembali asyik dengan diri sendiri. Sampai aku menyadari sesuatu sambil menepok jidat!
“Alamakkk! Kan aku tadi bikin janji jam 11. Baru nyadar kenapa dek Mel tadi bilang udah OTW padahal baru jam 11. Huaaahhh!”

Aku langsung bersiap-siap secepat kilat dan langsung ngacir. Akhirnya, azan lebih dulu berkumandang daripada tertepatinya sebuah janji. Aku meminta dek Mel langsung aja ke mesjid Arfaunnas. Setelah sholat Zuhur, barulah kami mulai bercerita…
“Kakaklah yang cerita duluaannn… Mel kan mau dengar cerita Kakka.”
“Adek maunya Kakak ngomongin tentang apa?”
“Tentang apa aja Kak. Oh ya, tentang Duta Lingkungan. Gimana ceritanya Kak? Udah sejak kapan sih pemilihannya?”
“Loh? Adek belum Kakka kasih link blog Kakka yang nyeritain tentang malam puncak itu ya Dek?”
“Belum Kak.”
Mulailah aku bercerita tentang awal pendaftaran dibuka, proses seleksi, karantina, kunjungan, latihan sampai malam puncak kemarin. Ternyata Michiko adalah anggota Kongkow Nulis, komunitas yang diinisiasinya. Ia banyak bercerita tentang keunikan sifat Michiko yang benar-benar absurd.
“Mel akui sih Kak, Michi itu memang anaknya cerdasss banget. Jago debat juga sejak SMA selalu menang lomba debat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Dia juga bentuk club di SMA untuk ngelatih debaters di SMA 1. Kebetulan, Mel ni Kakak tingkatnya dulu.”

Ternyata Melati juga adalah alumus SMA 1 Pekanbaru. Ia juga adalah seorang Duta Lingkungan, khusus Biosfer. Wah, luar biasa! Ternyata dia udah banyak lebih tahun daripada aku. Hemmm… rasanya kalau aku harus mempelajari semua tentang lingkungan, agak berat juga. Beruntung sekali, Duta Bank Sampah ini menjadi spesialisasi kerjaku. Bukankah kita tidka ditakdirkan untuk melakukan semua hal? Kita hanya melakukan satu hal dan membuatnya AWESOME.
“Kakak nggak sedang puasa? Lunch yuk? Biar lanjut ceritanya sambil lunch kita.”
“Okeee Dek. Mari kita makan bersama!”
Aku memilih Pondok Hijau sebagai tempat makan siang kami. Ketika memarkirkan motor, hatiku berdetak saat melihat motor Vario berwarna hitam di sebelah motorku. Seolah punya kemistri dengan motor ini. Dan… benar saja, ternyata Lia ada di dalam. Huahhhh…jadi ajang meet up beneran nih. Melati pun merasa surprise ketika mendapati Lia ada di sini. Cerita pun berlanjut…

“…itulah Mel baru tahu kalau si Rezky itu foundernya PassionWriter setelah beberapa kali chat dan hanya satu kali ketemu Kak. Mel juga baru nyadar kalau temannya itu adalah pencetus hastag #kayamulia, padahal Mel selama ini udah sering chat sama dia dan kayak teman biasa ajaa.”
“Itulah hal unik dari Adek yang sejak dulu Kakak amati. Adek itu banyak banget kenal dengan orang-orang hebat. Kakak sampai heran, gimana caranya lingkaran keberuntungan Adek itu bisa terbentuk.”
“Itulah kak, Mel juga nggak ngerti. Mungkin karena Mel lasak ya orangnya. Mel kan ikut TDA kampus, nah di sana itulah banyak ketemu dengan orang-orang hebat. Kadang, kalau ikut acara-acara di luar juga ketemu dengan orang-orang hebat. Dan, banyak juga yang nggak disengaja Kak,” jelasnya lagi.
Makan siang kali ini jadi ajang dengerin celotehannya dek Melati. Aku perhatikan, dia orangnya sangat atraktif. Kelihatan dari bagaimana dia berbicara; kalau udah terpancing untuk cerita, nggak bisa berhenti. Hehee. Tapi, dia asyik orangnya! Sangat rendah hati dan nggak suka membanggakan diri.

“… Lah Kak? Kan niatnya tadi mel yang mau dengerin Kakak cerita, kok malah Mel ya yang sejak tadi cerita?” sadarnya kemudian.
Lia tertawa mendengarnya.
“Kakak tu kalau dipancing untuk berbicara, Kakak akan berbicara Dek. Tapi, kalau dipancing untuk menjadi pendengar, Kakak pun akan jadi pendengar yang baik. Dan, Kakak menikmati 2 posisi itu. hehehee.”
“Huhuuu… Oh ya Kak, Kakak selalu nulis kisah harian Kakak kayak cerpen gitu ya Kak?”
“Hemmmm..cerpen? Itu diary aja kok Dek. Hehee.”
Pertanyaan dek Mel ini mengingatkanku dengan bang Wira. Kemarin, setelah ku kirimi link tentang malam puncak Duta Lingkungan, bang Wira menyarankanku menyingkatkan tulisanku dan menjadikannya cerpen saja. Aku langsung membalasnya; 'Cerpen itu justru terbatas dan punya batas Bang. Nggak se-leluasa nulis diary yang benar-benar bebas dan membebaskan.'
“Kak, gimana sih caranya Kakak bisa punya banyak blog gituuu?” tanyanya sambil memasang helm dan aku menghidupkan motor.
“Emmm…. Kalau pakai blogger kan enak Dek. Sekali log in aja kita bisa bikin sebanyak munkin blog dengan alamat yang berbeda-beda. Makanya bisa punya banyak. Karena gampang.”
Kami bertiga berpisah dalam arah tuju yang berbeda-beda. Siang ini adalah siang yang inspiratif.

***

“Assalamualaikum Ciiiin?” ketuk seorang perempuan di depan pintu kamar.
Aku menggeliat di atas tempat tidur empuk dan nyaman ini. “Emmm…masukkkkk!”
Titin ternyata. Ia membuka pintu kamar dan langsung histeris melihat deretan barang antikku di ruas-ruas dipan yang ku tegakkan.
“Ya ampuuuuunn…ciiiinnn…cantikknyaaa.. huuuuuu. Mamakeee kapan bikin semua ini?”
“kemarin tu lah, setelah Mamake pulang dari kosan Titin langsung dapat ilham untuk ngerubah kamar ini Cin. 2 harian juga Mamake menata semua ini Cin. Kalau Cin ke sini pas kamar ini kayak lautan barang, pasti Cin mau lewat pun susah. Huahhhh… Alhamdulillah selesai juga meskipun sulit kemarin Cin.”
Titin masih duduk di depan pajangan antik itu dan mengamatinya satu per satu.
“Mamake enaklah sendirian di kamar, Tin mana bisa berkreasi kayak gini di kamar Tin.”
“Kan kita udah niat nih mau mulai bisnis kita Cin, makanya kamar ini Mamake tata supaya nyaman untuk kita berkreasi nanti.”

Titin ingin mengambil kebaya putih yang dititipkan Vera kepadaku dan juga meminta jilbab putih untuk ujian sarjanannya minggu depan.
“Mamake kira itu kado loh buat Mamakeee, karena Vera menggantungkannya di pintu kamar Mamake. Soalnya kemarin malam, Mamake baru dapat kado dari Umil dan Umil ngeletakinnya di depan pintu kamar. Eh, ternyata baju titipan buat Titin. Heee.”
“Mamakeeee… maaf yaa, Tin belum bisa ngasih kadooo buat Mamakeee,” Titin malah jadi nggak enak hati padaku.
“Nggak apa-apa loh Cinnn.. Puisi romantismu semalam itu udah spesial bangeeetsss.”
“Itu Tin mikirnya lamaaa kali loh Mamakeee. Banyak yang Tin hapus berkali-kali sebelum jadi kalimat itu.”
“Iya ya Cin? Ehmmm… Mamake menyimpulkan sesuatu nih! Ternyata mampu MENULIS itu adalah suatu nikmat yang luar biasa ya Cin? Cin aja mau nulis kalimat untuk Mamake itu segitunya perjuangannya. Alhamdulillah, Mamake setiap kali nulis, di mana pun itu; mau di Instagram, di blog, di status FB, selalu aja lancar tangan ini mengetikkan kalimat-kalimat yang ada di kepala. Ternyata ini nikmat yang harus Mamake syukuri, karena banyak sekali orang yang sulit melakukannya.”

“Iya Mamakee,, bener banget tuh! Ajarkanlah Tin bisa nulis juga kayak Mamakeee haaa. Sebenarnya, kita tu tahu kita mau mengungkapkan apa, tapi kita nggak tahu itu apa. Ngerti kan Mamake?”
“Ngerti, ngerti. Waaaahhhh… ternyata nikmat banget ya rasanya ketika kita bisa membantu orang lain untuk memaknai perasaannya, Cin? Karena, banyak orang yang merasakan sesuatu, tapi nggak bisa mengungkapkannya. Teman Mamake sampai pernah bilang gini; ‘El, kalau ada alat yang bisa menerjemahkan perasaan, aku beli! Biar aku nggak susah-susah lagi mikir, ini apa?’. Gitu Cin.”
“Kalau nulis status di BBM itu Tin lancar aja Mamakeee…soalnya itu kan berhubungan dengan apa yang kita rasakan saat itu. Misalnya sedang kesal sama seseorang. Tapi kalau mengungkapkan sesuatu untuk dinyatakan kepada orang lain itulah yang Tin sulit. Tadi aja waktu Tin jadi juri di PLS untuk lomba solo song, Tin lamaaaaaaa kali mikir untuk ngungkapkan apa yang Tin fikirkan. Padahal, Tin tu mau bilang bahwa semua suara pesertanya itu bagus, tapi mereka seolah bernyanyi hanya untuk diri mereka sendiri; belum bisa mengajak orang lain menikmati apa yang mereka nyanyikan itu. Eh, malah terbilang sama Tin gini pula; ‘Yaaa… Emmmm… secara keseluruhan, semua peserta ini sudah bersemangat nyanyinya,’ haaa..gitu pula Mamakee. Hahaha.. terus, mikir lagi Tin apa yang mau disampaikan, lamaa jadinya jatah Tin untuk mengomentari tu. Hahaa.”

Sepanjang mendengar penjelasan Titin ini, sebanyak itu pula syukur yang terhatur di dalam hati. Terimakasih ya Allah atas nikmat ini. Bantu hamba menjelmakan hobi ini menjadi passion business.
“Oh iya Mamake, semalam kan anjing di dekat kosan Tin tu menggonggong lagi, di jam yang sama kayak waktu Mamake nginap di kos Tin kemarin. Nah, jadi anak-anak kosan sebelah tu penasaran kenapa anjing tu melolong gitu. Kalau benar ada maling, mereka ni niatnya mau memergoki. Nah, nekatlah mereka ke luar. Pas pintu baru aja dibuka, mereka bertiga langsung kesurupan loh Mamakee!”
“HAHHH? Astaghfirullah Ciin. Beneran tu? Bertiga pula?”
“Iya, yang penasaran ini kan 3 orang, Mamake.”
“Ya Allah, berarti benar kata dek Nani kemarin tu ya; ‘Kalau melolong gitu, bukan orang yang dilihatnya Kak,’ kan gitu katanya kemarin, Tin aja yang nggak percaya. Sekarang udah terbukti kan kalau Nani benar? Huaahhhh… jadi atut Mamakee haa. Berarti di jam segitu, sedang banyak energi jahat di sana Cin.”
“Tulah Mamakeee. 2 malam berturut-turut anjing tu selalu melolong gitu.”

Sebelum pulang, Titin minta difotokan di depan kafeku. Wahhh.. ternyata hasilnya memang kece banget. Apalagi setelah di edit dengan efek vintage. Titin yang tadinya udah permisi untuk pulang, malah ketagihan foto-foto dan numpang post di Instagram dari HPku. Sekalian aja ku ajak dia sholat Ashar sebelum pulang. Tahun lalu, aku pernah tak sengaja melukai hati Titin. Setelah dia dan teman-teman KKN lainnya memberiku surprise birthday, aku menulis PM di BBM; Yang diharapkan malah tak hadir, yang tak diharapkan malah memberi arti. Kira-kira seperti itulah kalimatku. Padahal, bukan seperti itu maksudku. Intinya, aku sedang mengharapkan seseorang, tapi ia justru terlihat tidak ingat hari ulang tahunku. Dan kalimat selanjutnya itu sebagai pembanding saja, bukan berarti surprise dari teman-teman KKN ini tidak ku harapkan, justru sangat sangat sangat ku nantikan. Hemmm… demikianlah kisah deretan kata-kata, ia bisa menjadi kebahagiaan bagi orang-orang yang membacanya, juga bisa menjadi kesedihan jika salah menempatkannya. Pandai-pandai pembaca dalam membaca, pandai-pandai penulis dalam menuliskannya intinya. ^_^.

1 komentar:

Teguh Pambudi mengatakan...

"Biasanya sih softenernya ku semprotkan aja sewaktu nyetrika. Biar praktis. Hehee."
Metode macam apa pula ini --"

Maak kenalin dengan Michiko, mau banyak belajar.