Masih ada beberapa spot yang harus ku rapikan di kamar ini.
Aku bener-bener ingin menjadikan kamar ini sebagai tempat yang nyaman untukku.
Sekaligus, mendukung untukku dan Titin mewujudkan mimpi kami. Perubahan BESAR
itu dimulai dari SINI, menggunakan apa yang biasanya dibuang, mengindahkan apa
yang dianggap orang tak layak pakai.
Pergi nggak ya ke
seminar kewirausahaan bidik misi itu?
Kemarin, Okta menyuruhku untuk datang ke acara pagi ini di
rektorat. Meskipun aku bukan penerima bidik misi, tapi ilmu dari seminarnya
dijamin Okta akan bermanfaat untukku. Ah, aku ajak Titin saja! Dia kan penerima
bidik misi. Eh, ternyata Titin nggak bisa. Aku semakin ragu saja.
Kak. Meet up yuk? Sebuah
BM dari dek Mel ku terima.
Mau dek. Tapi, kakak ada acara sampai tengah
hari dek Ciin.
Gimaneee?
Weeehhh… Duta, sibuk haaa. Tengah
hari jam berapa kak?
Hhhee, sok sibuk aja dek. Jam 2 dek.
Adek yang ke UR gimana?
Mel jam 2 mau ziarah kak, plan sama bunda. Hehee. Oke deh
kapan-kapan lagi ya kakka.
Aku baru tahu bahwa ternyata ayahnya dek Melati sudah tiada.
3 tahun silam kepergiannya. Karena kecelakaan, ditabrak motor yang melaju dalam
perjalanannya menuju masjid untuk sholat jumat. Hari baik, niat baik dan dalam
keadaan baik pula. Semoga ayah dek Mel tenang di sanaa…aamiin.
Adek nggak kos ya di sini?
Hahha. Nggak kak. Mel tinggal dah lama di Pekanbaru. Hehe.
merantau dari Palembang, tinggal sama ibu.
Kakak juga orang Palembang loh Dekkk. Waaahh..
Iya? Di Palembangnya di mana Kak?
Di OKI dek.
Kok sama kita? Nenek tinggal di OKI. Di Indralaya dekat
Unibersitas Sriwijaya. Kalau rumah yang baru dibeli di Talang Jambe, di
perumahan bandara di sana kak. bisalah kapan-kapan reuni bareng ya kak. Mel
pasca wisuda balek ke Palembang Kak. hiksss.
Huaaahhhh.. jangan cepat-cepat wisuda kalau gitu dekkk.
Kalau Kakak emang udah permanen tinggal di Riau dek.
Yang di Palembang itu
nenek.
Duh, Mel pengen banget ngobrol ama kak Elysa.
Nggak bisa
gitu kak jam 1 an? Mau ngobrol bisnis.
Akhirnya kami sepakati pukul 11.00 akan bertemu di science
park UR.
***
Aku beralih pada rendaman baju yang sejak kemarin pagi belum
juga di cuci.. huahhhh…berarti udah 24 jam. “Rinnnn… kemarin aku ngejek-ngejek
mu lama banget ngerendamnya, sekarang aku malah lebih parah nih!”. Jadi bau
apek gini bajunya. Segera ku kucek seadanya karena takut ada halangan lagi dan
nggak sempat nyelesaikan cucian. Untuk menghilangkan bau dan kumannya, aku
menggunkan Downy. Tumben banget nih aku mau ngebilas pakai softener, biasanya
sih softenernya ku semprotkan aja sewaktu nyetrika. Biar praktis. Hehee.
Setelah menjemur pakaian…
Kak, maaf agak telah dikit. Mel dari rumah soalnya. Di
Sudirman. Heheh.
Iya dek. Kan masih jam 11 niii.
Memel OTW ya kak.
Aku kembali asyik dengan diri sendiri. Sampai aku menyadari
sesuatu sambil menepok jidat!
“Alamakkk! Kan aku tadi bikin
janji jam 11. Baru nyadar kenapa dek Mel tadi bilang udah OTW padahal baru jam
11. Huaaahhh!”
Aku langsung bersiap-siap secepat kilat dan langsung ngacir.
Akhirnya, azan lebih dulu berkumandang daripada tertepatinya sebuah janji. Aku
meminta dek Mel langsung aja ke mesjid Arfaunnas. Setelah sholat Zuhur, barulah
kami mulai bercerita…
“Kakaklah yang cerita duluaannn… Mel kan mau dengar cerita
Kakka.”
“Adek maunya Kakak ngomongin tentang apa?”
“Tentang apa aja Kak. Oh ya, tentang Duta Lingkungan. Gimana
ceritanya Kak? Udah sejak kapan sih pemilihannya?”
“Loh? Adek belum Kakka kasih link blog Kakka yang nyeritain
tentang malam puncak itu ya Dek?”
“Belum Kak.”
Mulailah aku bercerita tentang awal pendaftaran dibuka,
proses seleksi, karantina, kunjungan, latihan sampai malam puncak kemarin.
Ternyata Michiko adalah anggota Kongkow Nulis, komunitas yang diinisiasinya. Ia
banyak bercerita tentang keunikan sifat Michiko yang benar-benar absurd.
“Mel akui sih Kak, Michi itu memang anaknya cerdasss banget.
Jago debat juga sejak SMA selalu menang lomba debat bahasa Inggris dan bahasa
Indonesia. Dia juga bentuk club di SMA untuk ngelatih debaters di SMA 1.
Kebetulan, Mel ni Kakak tingkatnya dulu.”
Ternyata Melati juga adalah alumus SMA 1 Pekanbaru. Ia juga
adalah seorang Duta Lingkungan, khusus Biosfer. Wah, luar biasa! Ternyata dia
udah banyak lebih tahun daripada aku. Hemmm… rasanya kalau aku harus
mempelajari semua tentang lingkungan, agak berat juga. Beruntung sekali, Duta
Bank Sampah ini menjadi spesialisasi kerjaku. Bukankah kita tidka ditakdirkan
untuk melakukan semua hal? Kita hanya melakukan satu hal dan membuatnya
AWESOME.
“Kakak nggak sedang puasa? Lunch yuk? Biar lanjut ceritanya
sambil lunch kita.”
“Okeee Dek. Mari kita makan bersama!”
Aku memilih Pondok Hijau sebagai tempat makan siang kami.
Ketika memarkirkan motor, hatiku berdetak saat melihat motor Vario berwarna
hitam di sebelah motorku. Seolah punya kemistri dengan motor ini. Dan… benar
saja, ternyata Lia ada di dalam. Huahhhh…jadi ajang meet up beneran nih. Melati
pun merasa surprise ketika mendapati Lia ada di sini. Cerita pun berlanjut…
“…itulah Mel baru tahu kalau si Rezky itu foundernya
PassionWriter setelah beberapa kali chat dan hanya satu kali ketemu Kak. Mel
juga baru nyadar kalau temannya itu adalah pencetus hastag #kayamulia, padahal
Mel selama ini udah sering chat sama dia dan kayak teman biasa ajaa.”
“Itulah hal unik dari Adek yang sejak dulu Kakak amati. Adek
itu banyak banget kenal dengan orang-orang hebat. Kakak sampai heran, gimana
caranya lingkaran keberuntungan Adek itu bisa terbentuk.”
“Itulah kak, Mel juga nggak ngerti. Mungkin karena Mel lasak
ya orangnya. Mel kan ikut TDA kampus, nah di sana itulah banyak ketemu dengan
orang-orang hebat. Kadang, kalau ikut acara-acara di luar juga ketemu dengan
orang-orang hebat. Dan, banyak juga yang nggak disengaja Kak,” jelasnya lagi.
Makan siang kali ini jadi ajang dengerin celotehannya dek
Melati. Aku perhatikan, dia orangnya sangat atraktif. Kelihatan dari bagaimana dia
berbicara; kalau udah terpancing untuk cerita, nggak bisa berhenti. Hehee.
Tapi, dia asyik orangnya! Sangat rendah hati dan nggak suka membanggakan diri.
“… Lah Kak? Kan niatnya tadi mel yang mau dengerin Kakak
cerita, kok malah Mel ya yang sejak tadi cerita?” sadarnya kemudian.
Lia tertawa mendengarnya.
“Kakak tu kalau dipancing untuk berbicara, Kakak akan
berbicara Dek. Tapi, kalau dipancing untuk menjadi pendengar, Kakak pun akan
jadi pendengar yang baik. Dan, Kakak menikmati 2 posisi itu. hehehee.”
“Huhuuu… Oh ya Kak, Kakak selalu nulis kisah harian Kakak kayak
cerpen gitu ya Kak?”
“Hemmmm..cerpen? Itu diary aja kok Dek. Hehee.”
Pertanyaan dek Mel ini mengingatkanku dengan bang Wira. Kemarin, setelah ku kirimi link tentang malam puncak Duta Lingkungan, bang Wira menyarankanku menyingkatkan tulisanku dan menjadikannya cerpen saja. Aku langsung membalasnya; 'Cerpen itu justru terbatas dan punya batas Bang. Nggak se-leluasa nulis diary yang benar-benar bebas dan membebaskan.'
“Kak, gimana sih caranya Kakak bisa punya banyak blog
gituuu?” tanyanya sambil memasang helm dan aku menghidupkan motor.
“Emmm…. Kalau pakai blogger kan enak Dek. Sekali log in aja
kita bisa bikin sebanyak munkin blog dengan alamat yang berbeda-beda. Makanya
bisa punya banyak. Karena gampang.”
Kami bertiga berpisah dalam arah tuju yang berbeda-beda.
Siang ini adalah siang yang inspiratif.
***
“Assalamualaikum Ciiiin?” ketuk seorang perempuan di depan
pintu kamar.
Aku menggeliat di atas tempat tidur empuk dan nyaman ini.
“Emmm…masukkkkk!”
Titin ternyata. Ia membuka pintu kamar dan langsung histeris
melihat deretan barang antikku di ruas-ruas dipan yang ku tegakkan.
“Ya ampuuuuunn…ciiiinnn…cantikknyaaa.. huuuuuu. Mamakeee
kapan bikin semua ini?”
“kemarin tu lah, setelah Mamake pulang dari kosan Titin
langsung dapat ilham untuk ngerubah kamar ini Cin. 2 harian juga Mamake menata
semua ini Cin. Kalau Cin ke sini pas kamar ini kayak lautan barang, pasti Cin
mau lewat pun susah. Huahhhh… Alhamdulillah selesai juga meskipun sulit kemarin
Cin.”
Titin masih duduk di depan pajangan antik itu dan
mengamatinya satu per satu.
“Mamake enaklah sendirian di kamar, Tin mana bisa berkreasi
kayak gini di kamar Tin.”
“Kan kita udah niat nih mau mulai bisnis kita Cin, makanya
kamar ini Mamake tata supaya nyaman untuk kita berkreasi nanti.”
Titin ingin mengambil kebaya putih yang dititipkan Vera
kepadaku dan juga meminta jilbab putih untuk ujian sarjanannya minggu depan.
“Mamake kira itu kado loh buat Mamakeee, karena Vera
menggantungkannya di pintu kamar Mamake. Soalnya kemarin malam, Mamake baru
dapat kado dari Umil dan Umil ngeletakinnya di depan pintu kamar. Eh, ternyata
baju titipan buat Titin. Heee.”
“Mamakeeee… maaf yaa, Tin belum bisa ngasih kadooo buat
Mamakeee,” Titin malah jadi nggak enak hati padaku.
“Nggak apa-apa loh Cinnn.. Puisi romantismu semalam itu udah
spesial bangeeetsss.”
“Itu Tin mikirnya lamaaa kali loh Mamakeee. Banyak yang Tin
hapus berkali-kali sebelum jadi kalimat itu.”
“Iya ya Cin? Ehmmm… Mamake menyimpulkan sesuatu nih!
Ternyata mampu MENULIS itu adalah suatu nikmat yang luar biasa ya Cin? Cin aja
mau nulis kalimat untuk Mamake itu segitunya perjuangannya. Alhamdulillah,
Mamake setiap kali nulis, di mana pun itu; mau di Instagram, di blog, di status
FB, selalu aja lancar tangan ini mengetikkan kalimat-kalimat yang ada di
kepala. Ternyata ini nikmat yang harus Mamake syukuri, karena banyak sekali
orang yang sulit melakukannya.”
“Iya Mamakee,, bener banget tuh! Ajarkanlah Tin bisa nulis
juga kayak Mamakeee haaa. Sebenarnya, kita tu tahu kita mau mengungkapkan apa,
tapi kita nggak tahu itu apa. Ngerti kan Mamake?”
“Ngerti, ngerti. Waaaahhhh… ternyata nikmat banget ya
rasanya ketika kita bisa membantu orang lain untuk memaknai perasaannya, Cin?
Karena, banyak orang yang merasakan sesuatu, tapi nggak bisa mengungkapkannya.
Teman Mamake sampai pernah bilang gini; ‘El, kalau ada alat yang bisa
menerjemahkan perasaan, aku beli! Biar aku nggak susah-susah lagi mikir, ini
apa?’. Gitu Cin.”
“Kalau nulis status di BBM itu Tin lancar aja
Mamakeee…soalnya itu kan berhubungan dengan apa yang kita rasakan saat itu.
Misalnya sedang kesal sama seseorang. Tapi kalau mengungkapkan sesuatu untuk
dinyatakan kepada orang lain itulah yang Tin sulit. Tadi aja waktu Tin jadi
juri di PLS untuk lomba solo song, Tin lamaaaaaaa kali mikir untuk ngungkapkan
apa yang Tin fikirkan. Padahal, Tin tu mau bilang bahwa semua suara pesertanya
itu bagus, tapi mereka seolah bernyanyi hanya untuk diri mereka sendiri; belum
bisa mengajak orang lain menikmati apa yang mereka nyanyikan itu. Eh, malah
terbilang sama Tin gini pula; ‘Yaaa… Emmmm… secara keseluruhan, semua peserta
ini sudah bersemangat nyanyinya,’ haaa..gitu pula Mamakee. Hahaha.. terus,
mikir lagi Tin apa yang mau disampaikan, lamaa jadinya jatah Tin untuk
mengomentari tu. Hahaa.”
Sepanjang mendengar penjelasan Titin ini, sebanyak itu pula
syukur yang terhatur di dalam hati. Terimakasih ya Allah atas nikmat ini. Bantu
hamba menjelmakan hobi ini menjadi passion business.
“Oh iya Mamake, semalam kan anjing di dekat kosan Tin tu
menggonggong lagi, di jam yang sama kayak waktu Mamake nginap di kos Tin
kemarin. Nah, jadi anak-anak kosan sebelah tu penasaran kenapa anjing tu
melolong gitu. Kalau benar ada maling, mereka ni niatnya mau memergoki. Nah,
nekatlah mereka ke luar. Pas pintu baru aja dibuka, mereka bertiga langsung
kesurupan loh Mamakee!”
“HAHHH? Astaghfirullah Ciin. Beneran tu? Bertiga pula?”
“Iya, yang penasaran ini kan 3 orang, Mamake.”
“Ya Allah, berarti benar kata dek Nani kemarin tu ya; ‘Kalau
melolong gitu, bukan orang yang dilihatnya Kak,’ kan gitu katanya kemarin, Tin
aja yang nggak percaya. Sekarang udah terbukti kan kalau Nani benar? Huaahhhh…
jadi atut Mamakee haa. Berarti di jam segitu, sedang banyak energi jahat di
sana Cin.”
“Tulah Mamakeee. 2 malam berturut-turut anjing tu selalu
melolong gitu.”
Sebelum pulang, Titin minta difotokan di depan kafeku.
Wahhh.. ternyata hasilnya memang kece banget. Apalagi setelah di edit dengan
efek vintage. Titin yang tadinya udah permisi untuk pulang, malah ketagihan
foto-foto dan numpang post di Instagram dari HPku. Sekalian aja ku ajak dia
sholat Ashar sebelum pulang. Tahun lalu, aku pernah tak sengaja melukai hati
Titin. Setelah dia dan teman-teman KKN lainnya memberiku surprise birthday, aku
menulis PM di BBM; Yang diharapkan
malah tak hadir, yang tak diharapkan malah memberi arti. Kira-kira
seperti itulah kalimatku. Padahal, bukan seperti itu maksudku. Intinya, aku
sedang mengharapkan seseorang, tapi ia justru terlihat tidak ingat hari ulang
tahunku. Dan kalimat selanjutnya itu sebagai pembanding saja, bukan berarti
surprise dari teman-teman KKN ini tidak ku harapkan, justru sangat sangat
sangat ku nantikan. Hemmm… demikianlah kisah deretan kata-kata, ia bisa menjadi
kebahagiaan bagi orang-orang yang membacanya, juga bisa menjadi kesedihan jika
salah menempatkannya. Pandai-pandai pembaca dalam membaca, pandai-pandai
penulis dalam menuliskannya intinya. ^_^.


1 komentar:
"Biasanya sih softenernya ku semprotkan aja sewaktu nyetrika. Biar praktis. Hehee."
Metode macam apa pula ini --"
Maak kenalin dengan Michiko, mau banyak belajar.
Posting Komentar