Kamis, 07 Januari 2016

Hal yang Tidak Mungkin Ditentang dan Ditantang



Apa yang kamu fikirkan ketika kecewa dengan sebuah kualitas jasa?
Kalau aku? Biasanya aku refleks membathin seperti ini; ‘Cukup ini yang pertama dan terakhir kalinya aku datang ke tempat ini!’.
Bagiamana denganmu?
Pun biasanya, kalau aku memutuskan datang kedua kalinya ke tempat tersebut, itu hanya semata-mata untuk memastikan; “Udah nyadar atau belum ya nih orang?”. Hanya itu. Dan, ketika yang ku dapati ternyata masih sama, hemmmm… sudah bisa ditebak kan keputusanku selanjutnya?
Kamu juga begitu?
Walaubagaimana pun, pelayanan terbaik harus menjadi moto bagi setiap ‘penjual’ jasa dan atau barang. Kejujuran dalam pelayanan menjadi harga mutlak yang tidak akan tergantikan dengan apapun. Kalau memang bisa, katakan bisa. Kalau meminta pembeli menunggu 1 jam, maka tepatilah 1 jam. Kalau mengatakan pukul 5 akan sampai, maka tepat waktulah. Sesederhana  itu. Maka, kita akan tercengang betapa banyak pembeli yang telah kita puaskan.

***

Aku sedang menunggu pak Suarman…
“Pak?” sapaku kepadanya ketika tak sengaja aku menoleh ke belakang.
Segera ku ikuti pak Suarman masuk ke dalam ruangannya.
“Jadi, gimana?” tanyanya.
“Semua data angketnya udah Elysa input ke Ms. Excel Pak, hasilnya berimbang. Nyaris separuh yang totalnya di atas seratus dan selebihnya di bawah seratus. Jadi, gimana Pak selanjutnya?”
“Sebentar ya! Saya kembali ke ruang ujian dulu,” kata Pak Suarman sambil meraih sesuatu di atas meja.
“Baik Pak. Bapak sedang nguji ya?”
“Iya. Elysa tunggu aja di sini dulu,” pintanya.
Aku pun menunggunya. Mataku melirik koran di atas meja. Ku raih dan ku baca sebuah berita yang memicu insting photographyku. Tertulis di sana; Yang Klasik Lebih Disukai, menceritakan lokasi pedestrian yang baru dibangun di jalan Cempaka, Ahmad Yani. Wahhhh… aku benar-benar tak sabar untuk segera ke sana.  Akan seolah berada di mana ya nanti fotoku?

“Dek? Udah di mana?” aku langsung menelvon dek Yana yang mengajakku sarapan bareng.
“Yana masih siap-siap nih Kak. Bentar ya Kak. Kakak di mana?”
“Di ruang dosen Dek. Eh, Kakak nemu spot baru buat foto-foto, Dek. Di jalan Ahmad Yani ada jalan yang klasik gituuu Dek. Jadi kita ke MP kan?” tuturku menggebu-gebu.
“Hah? Jauh kali Kak ke Ahmad Yani?”
“Lah? Emangnya Adek nggak jadi beli HP?”
“Tunggu kepastian teman Yana yang di Batam dulu Kak. Kalau lebih murah sama dia, Yana pesan dari Batam aja Kak.”
“Oke deh! Lain kali aja ke Ahmad Yani kalau gitu. Nanti Kakak kabari kalau Kakka udah selesai bimbingan.”
Tak lama kemudian, pak suarman datang lagi. Ia menjelaskan padaku tentang sistem pengolahan data dengan menggunkaan SPSS. Ternyata, analisis yang harus ku gunakan  di SPSS adalah Analisis Deskriptif. Aku harus menjelaskan hasil analisis SPSS per indicator lalu memberikan pandangan tentang bagaimana seharusnya (untuk KOPMA). Tak sampai 10 menit aku bimbingan dengannya, lalu aku mohon diri.

“…difoto kopi dulu ya Elysa. Rangkap 32 ya. ini uangnya, kalau kurang, tambahin ya. hehee.”
Pak Suarman memintaku untuk mengawas ujian di kelas Pendidikan Koperasi 2013 besok pagi. Aku senang bisa menyanggupinya. Semoga esok segala sesuatunya berjalan dengan baik. Aamiin.
“Dek, jemput Kakka di depan Bahasa Inggris yaa!” pintaku kepada Yana.
Tak lama, Yana datang menjemputku. Kami sempat ngobrol sebentar dengan Novi yang kebetulan melintas.
“Lihatlah ni Kak, kasihan kali sarapannya gituu!” kata Yana sambil menujuk plastik bening berisi bakwan dan 2 gelas air mineral.
“Helehhh, kayak kita udah sarapan aja! Kita kan belum sarapan juga Dekkk! Hehe,” sahutku.
“Iya, biarlah makan gorengan, dari pada Novi kelaperaaan,” kata Novi.
“Jangan lupa nanti sore ya bububuyuuuu!”
Aku mengingatkan Novi lagi tentang janji temu dengan MURC sore ini. Membahas progress MURC yang semakin mepet dengan berakhirnya masa bakti.

***

“Adek pesan apa?” tanyaku pada Yana.
“Lontong aja Kak.”
“Gantilahhh.. masak lontong teruss? Coba yang baru yuk Deek!” ajakku. “Kakak pesan minas lah! Telurnya diorek ya Buuuk!”
“Oke deh, kalau gitu, Yana pesan mi rebus deh! Pakai nasi ya Buuk!”
Sambil menunggu pesanan, kami makan gorengan dulu sambil bercerita ringan…
“Setelah tunangan, *** dan ***** kira-kira sedekat apa ya sekarang Dek?” tanyaku.
“Hemmmm…kayaknya biasa aja sih Kak.”
“Mana mungkin Dek. Minimal komunikasi, Dek! Itu pasti nggak tertahankan! Pasti mereka makin dekatlah!”
“Iya juga sih Kak. Menurut Kakak, dulu yang mulai duluan ‘agresif’ siapa?”
“Si cewek,” jawabku.
“Menurut Yana sih si cowoknya Kak,” kata Yana. “Karena, Kak seagresif-agresifnya cewek, dia masih punya rasa malu untuk memulai duluan. Tapi, kalau cowoknya udah mulai, barulah dia terbawa Kak.”
“Ah, nggak jugalah Dek! Kakak fikir, mereka sama aja. Kan, Allah sudah berjanji bahwa jodoh itu adalah cerminan diri. Jadi, kalau salah satunya nggak baik, yang satunya lagi pun pasti sama. Makanya mereka bisa berjodoh. Masuk akal kan?”
“Iya juga ya Kak.”

Ternyata brunch kali ini rasanya ekstra pedas. Yana yang nggak suka pedas itu menepikan irisan-irisan cade rawit di tepi piring. Padahal Yana orang Minang dan aku orang Jawa, tapi kebalik seleranya. Ehhe. Usai dari sini, kami menemui Okta yang sedang mencuci motornya di Balam Sakti Ujung. Sebentar lagi dia akan pulang ke ROHUL. So, ini sekaligus perpisahan gitu ceritanya. Akan cukup lama Okta di sana; sampai pertengahan Februari.
“Dek, fotokan Kakka di  situuu!” ajakku pada Yana mendekati
dindinh seng sebagai pembatas kebun.
“Astaghfirullah! Kerjaan si Elis ni laaah ya! Tah hapa-hapaaa,” pekik Okta.
Eitsss, tapi, bukan Okta namanya kalau nggak ikutan foto, meskipun spotnya awalnya dihina-hina. Hahaha. Yana mengusulkanku untuk foto di jendela kayu di rumah makan ini. Karena lebih vintage kesannya. Aku menurut aja dan berpose yang kira-kira cocok dengan spot ini.
“Ihhhh! Si ganteeeeng Kak! si ganteeeeng banyak kali tuu Nampak kepalaanyaaa!” Okta terpekik melihat kucing-kucing melongokkan kepalanya dari kolong seng.

Aku tertawa saja melihat Okta sambil menyapa-nyapa si ganteng.
“Kak, pengeeeen keraaaaang,” kata Yana ketika kami duduk di rumah makan Ampera Balam di samping door smeer ini.
Okta langsung memesankan 1 porsi tumis kerang tanpa nasi. Kami menyerbunya bersama. Sambil makan, mengalirlah cerita-cerita ringan nan hangat dari bibir kami. Mungkin, perpisahan ini akan terasa lama. Atau mungkin tidak terasa sama sekali?

***

“Duh! Jam berapa iniii?” sadarku setelah tidur sejak setelah zuhur tadi.
Ku raih HP untuk melihat jamnya. Pukul 14.00wib. Astaghfirullah! Untung saja mami atau papi nggak misscal berulang kali. Hiksss. Ku buka 1 pesan baru…
Udah sampai Kandis. Carikan bus yang AC dan lintas timur ya.
Itu SMS masuknya 15 menit yang lalu. Duh! Harus buru-buru nih nyari bus buat papi. Sebelum papi nelvon dan nanya; “Udah nemu busnya, El?”. Huahhhhhhhhhhh. Aku segera cuci muka sekaligus berwudhu, kemudian melaju ke jalanan Arengka 2. Aku memilih mampir ke ALS; bus ini juga yang digunakan Edo kemarin.
“Jurusan Palembang ada Mbak?” tanyaku.
“Ada. Palembangnya di mana?”
“Di kabupaten OKI. Di Kota Palembang sih biasanya berhentinya,” jelasku.
“Ada Mbak!” sahut laki-laki di sebelahnya. “Pakai bus yang itu nanti!” ia menunjuk bus yang standby tepat di depan Po. Ini.
“Lintas Timur kan, Pak?” aku memastikan.
“Iya, Lintas Timur. AC.”
“Jam berapa berangkatnya Pak?”
“Mungkin sebentar lagi. Jam 4”

Aku segera menelvon Papi. Ternyata papi baru sampai di simpang Palas. Ia mengaku belum sholat Zhuhur, jadi kalau bisa aku memilihkannya bus yang berangkatnya masih sejam lagi. Supaya sempat ‘bernafas’ sejenak.
“Emmm…gini Pak, Papa saya masih di simpang Palas sekarang. Kira-kira bisa nggak ditunggu?”
“Bisa, bisa. Suruh cepat yaa.”
“Oke, makasih Pak.”
Sebenarnya aku ingin mencari bus lainnya aja yang lebih mundur lagi waktu berangkatnya, kasihan papi. Tapi, akunya nggak enak hati karena sudah terlanjur minta ditunggu. Tapi, apa yang terjadi? Busnya ngacir (baca: pergi), sebelum papi tiba di sini. Hemmm… aku nggak bisa berbuat apa-apa.
“Kalau nggak jam 11 nanti malam aja Dek? Ada lagi nih yang berangkat malam.”
“Nggak Pak. Makasih.”

Aku langsung beranjak dari tempat ini dan mencari bus selanjutnya. Langkahku terhenti pada Po. Putra Rafflessia. Setahuku, bus ini hanya untuk jurusan Bengkulu, sama seperti bus Bengkulu Kito. Tapi, siapa tahu itu hanya sepengetahuanku saja kan? Tak ada salahnya ku coba bertanya dahulu. Aku harus segera mendapatkan bus baru untuk papi, sebelum papi terlanjur tiba di loket ALS tadi.
“Bang, bus ini hanya ke Bengkulu aja ya?” tanyaku kepada laki-laki yang sedang membungkuk di samping bagasi bus.
“Iya Dek. Kenapa?” jawabnya.
“Mau ke mana Dek? Lampung?” tanya seorang bapak di sebelahnya.
“Palembang Pak.”
“Haa…mari siniii!”
Aku mengikutinya ke dalam. Ia mempersilahkanku bertanya pada kasir. Ternyata ia mengatakan ada jurusan ke Palembang, lintas timur dan AC. Ah, terimakasih ya Allah. Akhirnyaaa…
“Hallooo.. Papi dah di mana?”
“Saya sudah di Po. ALS ini,” jawab papi.
“ALSnya udah pergiii Pi. Kita ke Putra Rafflessia aja. El udah
nanyain nih! El jemput Papi ke situ yaa!”

“Okelah kalau begitu.”
Dalam sekejap, aku sudah sampai lagi di ALS. Tidak jauh memang, hanya 100 meter dari sini.
“Saya naik di belakang ini?” tanya papi ragu untuk ku bonceng.
“Yuhuuuuu,” jawabku, yakin.
“Tadi Bapak yang di ALS tu bilang gini; ‘Yaaa… tadi kalau ada uang panjernya bisa diusahakan nunggu’, makanya busnya pergi,” jelas papi.
“Halaaah! Alasan aja tuh!” jawabku, singkat.
Kami sudah tiba di Po. Putra Rafflessia. Papi segera sholat ke belakang sementara aku menjaga tasnya di lobi. Sekembalinya papi dari sholat, ia langsung hendak membayar busnya…
“Berapa Bang?”
“Rp 270.000. Nanti aja Bang, kalau mobilnya udah datang,” kata si bapak.
Lalu papi mengajakku ke warung sebelah untuk bersantai.
“Mie rebus ada Buu? El mau apa?” tanya papi.
“El maunya mie goreng, Pi.”
“Ini udah mau tutup Pak sebenarnya,” jawab si ibu.
“HAAHHH? Mau tutup?” teriakku.

“Ah, tolonglah Bu… kan lumayan juga udah sore tapi masih ada rezeki yang datang.”
“Okee. Mau pesan apa?” tanyanya.
“Mie Goreng 1 dan mie rebus 1,” jawabku.
Tapi si ibu menunjukkan gelagat ‘tidak ingin repot’ memasakkan 2 jenis makanan itu. Papi faham dan akhirnya mengalah untuk memesan 2 porsi mie goreng, meskipun dia mengaku sedang ingin yang berkuah. Dann… akhirnya aku yang nggak enak hati sama papi…
“Eh, 2 porsi mi rebus aja deh Buk!” kataku.
Aku jauh lebih senang ketika mampu menuruti papi. Apalagi pertemuan ini hanya sebentar. Sambil menunggu pesanan, aku mengajak papi selfie-selfie. Awalnya, ia nggak pede, tapi berkat bujukan mautku… akhirnya 3 jepretan untuk 2 wajah yang kata banyak orang ‘mirip’ ini.
“Jadi kemarin tu anaknya Pak Irus udah pulang dan katanya udah ACC, tinggal nunggu wisuda aja,” kata papi.
“Mantaplah tu Pi!”
“Kamu kira-kira terkejar nggak wisuda bulan Februari ini El? Ujiannya aja baru 1 kali kan?” tanya papi.

Aku mengatur nafas sejenak. Mencari cara untuk menjelaskan sesuatu kepada papi. “Piii… El kan sekarang sedang mengolah data penelitian El, insya allah segera selesai. Tapi, ada 1 hal yang nggak bisa ditentang dan ditantang Pi; PROSEDUR. El optimis akan selesai di bulan Januari ini, tapi pendaftaran wisudanya belum tentu terkejar. Mungkin momennya bisa berbarengan dengan saat El sidang skripsi nanti. Sementara persyaratan untuk mendaftar wisuda itu buanyaaaknya minta ampuuun Pi.”
“Ya udah, kalau gitu daftarnya sekarang aja!” usul papi.
“Andaikan aja bisa gitu Piii. Hahaha. Tapi, kenyataannya nggak bisa. Karena ya itu tadi; PROSEDUR. Kita harus menyelesaikan segala sesuatunya sesuai urutan. Tapi, yang jelas kalau El udah sidang, berarti El nggak bayar SPP lagi Pi.”
“Hemmm… ya nggak masalah kalau gitu. Kirain walaupun wisudanya bulan Oktober tapi masih harus bayar uang SPP juga. Kalau udah selesai kan udah ringan berarti; nggak perlu bayar uang SPP lagi.”

Ya Allah, terimakasih telah menghadirkan seorang papi yang pengertian dan hangat seperti ini. Terimakasih ya Allah. Karena, meskipun tidak pernah mengalami, tapi aku tahu bagaimana rasanya ketika sulit memahamkan orang tua tentang pemahaman kita. Terimakasih ya Allah. Jaga papi selalu.
“Doain semua urusan El lancar dan dimudahkan oleh Allah ya Piiii.”
Aku menyadari satu hal detik ini; SEMAMPU apapun orang tua kita, tidak ada satu pun dari mereka yang tidak menginginkan anaknya segera selesai kuliah dan segera MANDIRI. SEMAMPU APAPUN orang tua kita. Ku baca semua itu dari papi dalam obrolan ini.
Well, kami sudah selesai dengan santap sore kami…
“Eh, ini mobilnya beneran Raflessia, El? Nanti mobil lain pula?” tanya papi.
“Biar El tanya dulu ya Pi!”
Aku kembali ke ruang tunggu dan bertanya kepada kasir tadi. Dia menjelaskan bahwa bus yang menuju Palembang adalah Mandala. Aku memastikan lagi apakah benar Lintas Timur atau tidak. Dan, ia berkata ‘IYA’. Oke, baiklah. Sekalipun bukan Rafflessia, asalkan bagus ya tidak jadi soal. Aku kembali lagi kepada papi dan menjelaskan kepadanya. Kami kembali berbincang tentang banyak hal sebelum akhirnya kami diberi kode untuk standby di lobbi untuk menanti bus datang.

“Jam berapa Bang busnya datang?” tanyaku. Ini adalah pertanyaan yang ketiga kalinya sepertinya. Sejak tadi, ia hanya menjawab; ‘Jam 5 lah, Dek,’ sedangkan sekarang sudah pukul 5 sore.
“Bentar lagi Dek! Udah sampai di terminal dia. Sedang dalam perjalanan ke mari tu,” jelasnya.
Papi sudah membayarkan uang sejumlah Rp 270.000. Jumlah ini jauh lebih hemat dibanding ALS tadi; Rp 350.000. Kami duduk berdua di lobi, karena penumpang yang lainnya sudah berangkat setengah jam yang lalu bersama Rafflessia.
“Papi ada foto-foto kita nggak di HP itu?” tanyaku saat papi sedang membuka HPnya.
“Nggak ada foto-foto di sini.”
“El kirim ya Pi pakai Bluetooth, siapa tahu besok Mbak mau ngelihat kita sekeluarga. Kan lumayan, walaupun cuma lewat foto.”
“Nggak boleh nyimpang foto, HARAM!” tegas papi.
“Apaan haram? Ini kan memang potret kita Pi. Kita nggak menyerupai ciptaan Allah lewat lukisan loh!”

“Nggak boleh, haram foto tu,” tegas papi lagi.
Well, perbedaan pendapat ini bukan yang pertama kalinya. Sudah sering. Dan, kalau sudah seperti ini, aku memilih diam. Aku tidak ingin rasa sayang kepada papi berkurang lantaran perbedaan. Aku lebih memilih menurutinya.
“Cobalah kirim ke sini. Kadang bluetoothnya nggak bisa nerima kiriman nih. Cobalah!” kata papi akhirnya.
YESSS! Diamku meluluhkan hatimu ternyata ya Pi? Hehehe. Akhirnya, ku kirim foto-foto alayku, foto kami sekeluarga dan fotoku bersama adik-adik cantikku. Alhamdulillah. Karena aku tahu rasanya rindu, makanya aku faham bagaimana cara mengobati rindu; sekalipun hanya lewat foto. ^_^

***

Sudah hampir sempurna di pukul 18.00wib. Tapi, bus yang dijanjikan belum juga datang. Papi sudah bolak-balik menemui kasir tadi. Hinggak si kasir itu lenyap ntah ke mana rimbanya. Aku merasa sedih. Sedih karena bus ini adalah pilihanku tadi. Sedih karena papi akan terlambat tiba di Palembang. Sedih karena takut niat papi untuk memberi surprise kepada Mbah di Palembang nggak kesampaian.
                Aku : “Papi udah bilang ke Mbah kalau Papi mau ke sana?”
                Papi : “Belum. Biar Surprise aja nanti,” jawab papi dengan senyum
Lalu, ingatanku berbenturan dengan SMS mami tadi pagi yang membuat hatiku teriris-iris sedih…
Akhirnya Abi pulang ke Palembang, tadi jam 10.30wib. Mbahmu batuknya nggak reda-reda, kencingnya tak kendali setelah pulang dari RS
Ya Allah… aku hanya takut jika Mbah nggak cukup waktu lagi untuk bertemu papi. Ya Allah… jangaaannn… jangan biarkan itu terjadi. Izinkan papi mewujudkan niat sucinya untuk bertemu orang tuanya. Jika waktunya memang sudah dekat, hamba mohon izinkanlah papi menyampaikan niatnya memberi ‘kejutan’ itu. Engkaulah Sang Penggenggam usia, maka izinkanlah 2 sosok yang ku cintaiku itu saling bersua. Aamiin.

“Duh! Gimana nih! Sejak tadi saya udah curiga juga. Tapi, kalau udah kayak gini, mana mungkin uangnya bisa diambil lagi. Bus yang lainnya pun pasti udah berangkat juga jam segini.”
Nyessssssss… sedih sekali rasanya. Apalagi ketika mendengar hitung-hitungannya papi; ‘Kalau berangkat jam 4, biasanya sampai di sana jam 11. 1 jam ke dermaga, jadi jam 1 udah bisa nyebrang. Masalahnya, spead boat itu dalam sehari hanya sekali nyebrangnya.’
“Jadi gimana ni Pi?” tanyaku.
“Ya ditunggulah. Mau gimana lagi?”
Aku mengirim pesan di grup MAWAPRES 2015 tentang permohonan maaf bahwa aku tidak bisa hadir di pertemuan sore ini. Papi berubah menjadi hal yang teramat penting saat ini.
“Mana Bapak tadi tu? Biar El tanya!” kataku, sok gagah.
Aku berjalan ke samping ruko, tapi tak ku temui sesiapa di sana.
“Mungkin orangnya udah nyebrang ke warung kopi di depan El. Takut kalau ditanya lagi kayaknya.”
Aku duduk lagi di samping papi. Papi sedang menyisir rambutnya yang tidak kusut itu. Hujan baru saja turun dengan derasnya. Dan…tiba-tiba…

“Loh? HP El yang Nokia mana ya Pi?” tanyaku. Cerobohku kambuh.
Ku obrak-abrik isi tas, tapi nggak ketemu juga. Papi hanya melihat anaknya yang kalang kabut ini. aku menduga jangan-jangan tertinggal di warung sebelah. Akhirnya, ku terobos hujan ini dan ku tanyai ibuk kantin yang sedang berkemas itu.
“…kayaknya diambil sama orang yang duduk di sini tadi Dek. Dia ada nanya; ‘Ini HP siapa?’ tadi.”
“Duuuuhhh! Di mana orangnya sekarang ya Buuu?” aku panik 2 kali lipat.
Seorang laki-laki berkaos merah berlarian ke warung ini dari dalam bengkel.
“Ini HP Mbak yaa?” tanyanya serta merta sambil menyodorkan HPku.
“Iyaaaa Baaaannggg. Huahhhh…makasih ya Bang.”
“Iya, sama-sama, Mbak. Tadi waktu saya duduk di sini, saya ngelihat HP ini di atas meja, makanya saya selamatkan aja.”

Aku kembali berterimkasih kepadanya dan kembali kepada papi.
“Huft, hampir aja!” kata papi, lega. “Tadi tu waktu kita ke sini, kayaknya nggak ada lihat HPmu itu loh di atas meja. Kapan pula ketinggalannya ya?”
“Mungkin tadi ketutup sama koran  yang kita baca tu Piii,” ujarku.
Sebentar lagi maghrib. Bus tercinta tak kunjung tiba. Aku meminta papi membangunkan laki-laki yang tertidur pulas di sudut ruangan. Barangkali dia tahu sesuatu. Tapi, papi menolak karena tidak mau mengganggu. Akhirnya, papi berjalan ke pinggir jalan dan berteduh di sebuah pondok kecil. Aku bisa melihatnya dari sini, ia sedang ngobrol dengan seseorang yang sedang menepi. Semoga papi mendapatkan informasi berharga darinya. Aamiin.
“Meskipun agak menyesal, tapi hamba yakin bus ini adalah Pilihan terbaikMu untuk papi. Sampai detik ini, aku masih berbaik sangka padaMu ya Allah. Pasti ada kebaikan dibalik semua ini. Aku bermohon keselamatan untuk papi dan semoga esok ia bisa tepat waktu tiba di Palembang dan tepat waktu menyebrang. Serta terwujud niat baiknya. Aamiin. Sampai detik ini aku masih berbaik sangka padaMu ya Allah. Karena, aku pun ingin menuai kenyataan yang sebaik sangkaku padaMu. Aamiin.”

Satu butir air mata mentes dari masing-masing sudut mata.
“Bang, Bang! Abaaaaangggg,” pekikku, berusaha membangunkannya.
Laki-laki yang tidur di sudut ruangan itu menggeliat dan menatap ke arahku.
“Bang, busnya belum datang juga loh! Gimana ni?” tanyaku. “Emang biasanya jam berapa sih Bang berangkatnya? Kok jadi nggak pasti dan mengecewakan gini sih?”
“Belum datang juga ya Dek? Biasanya jam 4 atau jam 5 dia udah singgah tuh kemarin. Ya, paling lama jam 6 lah Dek. Nggak pernah malam berangkatnya.”
Oh, melegakan sekali rasanya. Aku kembali ke tempat duduk dan papi pun kembali ke sini.
“Tadi kan saya ngobrol dengan tukang ojek tuh, jadi dia bilang, Mandala ini memang nggak pasti datangnya karena penumpangnya sepi. Tapi, dijamin baguslah busnya tu!”
“Heemmmm… itu yang diharapkan kan Pi. Semoga ini yang terbaik dan semoga ada hikmahnya ya Pi.”

“Iyaaa… Tapi yang mengecewakan itu kenapa nggak jujur aja dari tadi? Kalau udah terlanjur kayak gini kan kita nggak punya pilihan lain. Kalau besok sampai di Palembang udah lewat dari jam 12, berarti akan nginap di tempat Pak Edi lah. Jam 1 besoknya baru bisa nyebrang.”
“Om Edi apa kabar ya Pi? Baguslah kalau gitu Pi, berarti Papi diminta nyambung silaturahmi dengan Om Ediii kan.”
Tiiiinnnnnnn… Tiiiiinnnnnnnn….
Suara klakson bus membuyarkan masa tunggu kami. Papi segera berlari meninggalkanku. Aku dengan sigap merapikan tasku dan lari mengikuti papi. Papi baru tersadar bahwa aku ditinggalkannya di belakang. Ia lalu berhenti dan meraih tanganku untuk menyalaminya. Aku menyalami dan menciumnya.
“Eh, tapi itu beneran mobilnya atau nggak? Kok nggak ada tulisan Mandalanya Pi?” tanyaku.
“Iya yaaa. Ah, tapi orang itu udah manggil kita kok! Pasti itu busnya. Daaaa!” kata papi.
Aku melambaikan tangannya dengan tangan kiri sementara tangan kanannku sibuk merekam langkahnya dengan HP. Aku tahu bagaimana sedihnya kehilangan, maka aku tahu bagaimana caranya berdamai dengan kehilangan; dengan cara merekam kepergian. Ya Allah, jaga papiku. Selamatkan ia. Di perjalanan sampai tujuan. Aamiin.

“Bang? Itu kok beda pula busnya? Gimana nya?” tanyaku kepada 2 laki-laki yang baru ku lihat tapi sepertinya pengurus loket ini juga.
“Mandalanya nggak pasti Dek. Baguslah yang ini lagi, ini ada toiletnya di dalam dan ber AC. Sedangkan Mandala tu cuma berAC aja.”
“Ohh…ya lah kalau gitu Bang. Makasih Bang.”
“Yooopp Dek, hati-hati.”
Aku memang mudah luluh. Sering kali marahku reda dalam se per sekian detik. Makanya, aku nggak cocok ikut lomba debat, hehee. Di bawah rintik hujan, di atas tanah Universitas Riau, aku melaju menuju pulang.

***

“Nissss… yuk masuk kita ke dalaaaam!” ajakku pada kucing kesayangan.
Aku menggendongnya ke dalam kamar dan tidur di sampingnya. Mataku lurus menatap langit-langit kamar yang bercat kuning gading itu. Beberapa momen hari ini berpadu dan menghasilkan keresahan yang bukan main besarnya. Tiba-tiba, aku ingin menangis. Sangat ingin menangis. Dan…  sedetik kemudian, aku benar-benar menangis. Menangis sejadi-jadinya, sampai terisak-isak. Persis seperti isaknya seseorang yang hatinya disakiti. Tapi, kali ini aku tidak disakiti oleh siapapun. Tapi oleh diri sendiri.
“Ya Allah… aku akan menjadi apaaa?” pertanyaan itu yang terucap dari bibirku di sela tangis.
“Aku binguuuuung. Aku nggak sadar ntah sejak kapan aku  berhenti BERMIMPI. Ntah sejak kapan aku berhenti MENANTANG KETIDAKMUNGKINAN. Aku bingung ya Allah… aku binguuuuungggg.” Pekikku, dengan suara tertahan. 

Ku peluk kucing yang sudah terlelap di sampingku ini. Ia memang pendengar paling setia. Meski aku tahu, ia tak pernah memamahami ceritaku tapi didengarkan olehnya seolah membuatku difahami.
“El kemarin ada nonton Kick Andi? Bintang tamunya pengusaha Bank Sampah loh! Dia itu sakit-sakitan dan sekarang udah sembuh karena keinginannya udah terwujud. Padahal dia itu pegawai bank swasta yang gajinya bukan main banyakanya. Tapi, katanya dia merasa nggak puas di sana. Eh, dia malah lebih memilih ke Bantar Gebang; tempat pembuangan sampah akhir. Wahhhh… sekarang udah sukses dia.  Dia kreatif kali, bisa bikin bermacam-macam kerajinan dari sampah.”
Cerita papi tadi kembali hadir di ingatan. Mimpi yang sama pada diriku masih ada hingga saat ini. Tapi, tugas akhirku ini harus sesegera mungkin ku akhiri, supaya sesuatu yang baru bisa ku awali.
“Ya Allaaah… beri aku petunjukMuuu.”
Kalimat barusan meredakan tangisku. Setelah menangis, aku merasa lebih lega. Meskipun kebingungan itu masih ada di kepala. Tapi menangis barusan telah membuatku berfikir untuk mencari CARA. Aku juga butuh cerita. Tapi kepada siapa?
Pendafataran KELAS PERSIAPAN BEASISWA batch-2 sudah dibuka. Silahkan isi formulirnya yaa. Segera daftarkan dirimu!
Aku terbaca PM Lia tentang KELAS PERSIAPAN BEASISWA. Ku simpulkan sesuatu; ‘Aku tidak bisa bercerita padanya tentang kebingungan ini. Harus pada orang lain.’ Siapakah orangnya? Aku harus bercerita pada seseorang yang netral, jauh dari kepentinganku dan kepentingan orang seumuranku dan pemikirannya setingkat lebih dewasa di atasku. Ntahlah, siapa dia. Yang jelas, aku ingin bercerita.

Tidak ada komentar: