
Apa yang kamu fikirkan ketika
kecewa dengan sebuah kualitas jasa?
Kalau aku? Biasanya aku refleks
membathin seperti ini; ‘Cukup ini yang pertama dan terakhir kalinya aku datang
ke tempat ini!’.
Bagiamana denganmu?
Pun biasanya, kalau aku
memutuskan datang kedua kalinya ke tempat tersebut, itu hanya semata-mata untuk
memastikan; “Udah nyadar atau belum ya nih orang?”. Hanya itu. Dan, ketika yang
ku dapati ternyata masih sama, hemmmm… sudah bisa ditebak kan keputusanku
selanjutnya?
Kamu juga begitu?
Walaubagaimana pun, pelayanan
terbaik harus menjadi moto bagi setiap ‘penjual’ jasa dan atau barang. Kejujuran
dalam pelayanan menjadi harga mutlak yang tidak akan tergantikan dengan apapun.
Kalau memang bisa, katakan bisa. Kalau meminta pembeli menunggu 1 jam, maka
tepatilah 1 jam. Kalau mengatakan pukul 5 akan sampai, maka tepat waktulah.
Sesederhana itu. Maka, kita akan
tercengang betapa banyak pembeli yang telah kita puaskan.
***
Aku sedang menunggu pak Suarman…
“Pak?” sapaku kepadanya ketika
tak sengaja aku menoleh ke belakang.
Segera ku ikuti pak Suarman masuk
ke dalam ruangannya.
“Jadi, gimana?” tanyanya.
“Semua data angketnya udah Elysa
input ke Ms. Excel Pak, hasilnya berimbang. Nyaris separuh yang totalnya di
atas seratus dan selebihnya di bawah seratus. Jadi, gimana Pak selanjutnya?”
“Sebentar ya! Saya kembali ke
ruang ujian dulu,” kata Pak Suarman sambil meraih sesuatu di atas meja.
“Baik Pak. Bapak sedang nguji
ya?”
“Iya. Elysa tunggu aja di sini
dulu,” pintanya.
Aku pun menunggunya. Mataku
melirik koran di atas meja. Ku raih dan ku baca sebuah berita yang memicu
insting photographyku. Tertulis di sana; Yang
Klasik Lebih Disukai, menceritakan lokasi pedestrian yang baru dibangun di
jalan Cempaka, Ahmad Yani. Wahhhh… aku benar-benar tak sabar untuk segera ke
sana. Akan seolah berada di mana ya
nanti fotoku?
“Dek? Udah di mana?” aku langsung
menelvon dek Yana yang mengajakku sarapan bareng.
“Yana masih siap-siap nih Kak.
Bentar ya Kak. Kakak di mana?”
“Di ruang dosen Dek. Eh, Kakak
nemu spot baru buat foto-foto, Dek. Di jalan Ahmad Yani ada jalan yang klasik
gituuu Dek. Jadi kita ke MP kan?” tuturku menggebu-gebu.
“Hah? Jauh kali Kak ke Ahmad
Yani?”
“Lah? Emangnya Adek nggak jadi
beli HP?”
“Tunggu kepastian teman Yana yang
di Batam dulu Kak. Kalau lebih murah sama dia, Yana pesan dari Batam aja Kak.”
“Oke deh! Lain kali aja ke Ahmad
Yani kalau gitu. Nanti Kakak kabari kalau Kakka udah selesai bimbingan.”
Tak lama kemudian, pak suarman
datang lagi. Ia menjelaskan padaku tentang sistem pengolahan data dengan menggunkaan
SPSS. Ternyata, analisis yang harus ku gunakan
di SPSS adalah Analisis Deskriptif. Aku harus menjelaskan hasil analisis
SPSS per indicator lalu memberikan pandangan tentang bagaimana seharusnya (untuk
KOPMA). Tak sampai 10 menit aku bimbingan dengannya, lalu aku mohon diri.
“…difoto kopi dulu ya Elysa.
Rangkap 32 ya. ini uangnya, kalau kurang, tambahin ya. hehee.”
Pak Suarman memintaku untuk
mengawas ujian di kelas Pendidikan Koperasi 2013 besok pagi. Aku senang bisa
menyanggupinya. Semoga esok segala sesuatunya berjalan dengan baik. Aamiin.
“Dek, jemput Kakka di depan
Bahasa Inggris yaa!” pintaku kepada Yana.
Tak lama, Yana datang
menjemputku. Kami sempat ngobrol sebentar dengan Novi yang kebetulan melintas.
“Lihatlah ni Kak, kasihan kali
sarapannya gituu!” kata Yana sambil menujuk plastik bening berisi bakwan dan 2
gelas air mineral.
“Helehhh, kayak kita udah sarapan
aja! Kita kan belum sarapan juga Dekkk! Hehe,” sahutku.
“Iya, biarlah makan gorengan,
dari pada Novi kelaperaaan,” kata Novi.
“Jangan lupa nanti sore ya
bububuyuuuu!”
Aku mengingatkan Novi lagi
tentang janji temu dengan MURC sore ini. Membahas progress MURC yang semakin
mepet dengan berakhirnya masa bakti.
***
“Adek pesan apa?” tanyaku pada
Yana.
“Lontong aja Kak.”
“Gantilahhh.. masak lontong
teruss? Coba yang baru yuk Deek!” ajakku. “Kakak pesan minas lah! Telurnya
diorek ya Buuuk!”
“Oke deh, kalau gitu, Yana pesan
mi rebus deh! Pakai nasi ya Buuk!”
Sambil menunggu pesanan, kami
makan gorengan dulu sambil bercerita ringan…
“Setelah tunangan, *** dan *****
kira-kira sedekat apa ya sekarang Dek?” tanyaku.
“Hemmmm…kayaknya biasa aja sih
Kak.”
“Mana mungkin Dek. Minimal
komunikasi, Dek! Itu pasti nggak tertahankan! Pasti mereka makin dekatlah!”
“Iya juga sih Kak. Menurut Kakak,
dulu yang mulai duluan ‘agresif’ siapa?”
“Si cewek,” jawabku.
“Menurut Yana sih si cowoknya
Kak,” kata Yana. “Karena, Kak seagresif-agresifnya cewek, dia masih punya rasa
malu untuk memulai duluan. Tapi, kalau cowoknya udah mulai, barulah dia terbawa
Kak.”
“Ah, nggak jugalah Dek! Kakak
fikir, mereka sama aja. Kan, Allah sudah berjanji bahwa jodoh itu adalah
cerminan diri. Jadi, kalau salah satunya nggak baik, yang satunya lagi pun
pasti sama. Makanya mereka bisa berjodoh. Masuk akal kan?”
“Iya juga ya Kak.”
Ternyata brunch kali ini rasanya
ekstra pedas. Yana yang nggak suka pedas itu menepikan irisan-irisan cade rawit
di tepi piring. Padahal Yana orang Minang dan aku orang Jawa, tapi kebalik
seleranya. Ehhe. Usai dari sini, kami menemui Okta yang sedang mencuci motornya
di Balam Sakti Ujung. Sebentar lagi dia akan pulang ke ROHUL. So, ini sekaligus
perpisahan gitu ceritanya. Akan cukup lama Okta di sana; sampai pertengahan
Februari.
dindinh
seng sebagai pembatas kebun.
“Astaghfirullah! Kerjaan si Elis
ni laaah ya! Tah hapa-hapaaa,” pekik Okta.
Eitsss, tapi, bukan Okta namanya
kalau nggak ikutan foto, meskipun spotnya awalnya dihina-hina. Hahaha. Yana
mengusulkanku untuk foto di jendela kayu di rumah makan ini. Karena lebih
vintage kesannya. Aku menurut aja dan berpose yang kira-kira cocok dengan spot
ini.
“Ihhhh! Si ganteeeeng Kak! si
ganteeeeng banyak kali tuu Nampak kepalaanyaaa!” Okta terpekik melihat
kucing-kucing melongokkan kepalanya dari kolong seng.
Aku tertawa saja melihat Okta
sambil menyapa-nyapa si ganteng.
“Kak, pengeeeen keraaaaang,” kata
Yana ketika kami duduk di rumah makan Ampera Balam di samping door smeer ini.
Okta langsung memesankan 1 porsi
tumis kerang tanpa nasi. Kami menyerbunya bersama. Sambil makan, mengalirlah
cerita-cerita ringan nan hangat dari bibir kami. Mungkin, perpisahan ini akan
terasa lama. Atau mungkin tidak terasa sama sekali?
***
“Duh! Jam berapa iniii?” sadarku
setelah tidur sejak setelah zuhur tadi.
Ku raih HP untuk melihat jamnya.
Pukul 14.00wib. Astaghfirullah! Untung saja mami atau papi nggak misscal
berulang kali. Hiksss. Ku buka 1 pesan baru…
Udah
sampai Kandis. Carikan bus yang AC dan lintas timur ya.
Itu SMS masuknya 15 menit yang
lalu. Duh! Harus buru-buru nih nyari bus buat papi. Sebelum papi nelvon dan
nanya; “Udah nemu busnya, El?”. Huahhhhhhhhhhh. Aku segera cuci muka sekaligus
berwudhu, kemudian melaju ke jalanan Arengka 2. Aku memilih mampir ke ALS; bus
ini juga yang digunakan Edo kemarin.
“Jurusan Palembang ada Mbak?”
tanyaku.
“Ada. Palembangnya di mana?”
“Di kabupaten OKI. Di Kota
Palembang sih biasanya berhentinya,” jelasku.
“Ada Mbak!” sahut laki-laki di
sebelahnya. “Pakai bus yang itu nanti!” ia menunjuk bus yang standby tepat di
depan Po. Ini.
“Lintas Timur kan, Pak?” aku
memastikan.
“Iya, Lintas Timur. AC.”
“Jam berapa berangkatnya Pak?”
“Mungkin sebentar lagi. Jam 4”
Aku segera menelvon Papi.
Ternyata papi baru sampai di simpang Palas. Ia mengaku belum sholat Zhuhur,
jadi kalau bisa aku memilihkannya bus yang berangkatnya masih sejam lagi.
Supaya sempat ‘bernafas’ sejenak.
“Emmm…gini Pak, Papa saya masih
di simpang Palas sekarang. Kira-kira bisa nggak ditunggu?”
“Bisa, bisa. Suruh cepat yaa.”
“Oke, makasih Pak.”
Sebenarnya aku ingin mencari bus
lainnya aja yang lebih mundur lagi waktu berangkatnya, kasihan papi. Tapi,
akunya nggak enak hati karena sudah terlanjur minta ditunggu. Tapi, apa yang
terjadi? Busnya ngacir (baca: pergi), sebelum papi tiba di sini. Hemmm… aku
nggak bisa berbuat apa-apa.
“Kalau nggak jam 11 nanti malam
aja Dek? Ada lagi nih yang berangkat malam.”
“Nggak Pak. Makasih.”
Aku langsung beranjak dari tempat
ini dan mencari bus selanjutnya. Langkahku terhenti pada Po. Putra Rafflessia.
Setahuku, bus ini hanya untuk jurusan Bengkulu, sama seperti bus Bengkulu Kito.
Tapi, siapa tahu itu hanya sepengetahuanku saja kan? Tak ada salahnya ku coba
bertanya dahulu. Aku harus segera mendapatkan bus baru untuk papi, sebelum papi
terlanjur tiba di loket ALS tadi.
“Bang, bus ini hanya ke Bengkulu
aja ya?” tanyaku kepada laki-laki yang sedang membungkuk di samping bagasi bus.
“Iya Dek. Kenapa?” jawabnya.
“Mau ke mana Dek? Lampung?” tanya
seorang bapak di sebelahnya.
“Palembang Pak.”
“Haa…mari siniii!”
Aku mengikutinya ke dalam. Ia
mempersilahkanku bertanya pada kasir. Ternyata ia mengatakan ada jurusan ke
Palembang, lintas timur dan AC. Ah, terimakasih ya Allah. Akhirnyaaa…
“Hallooo.. Papi dah di mana?”
“Saya sudah di Po. ALS ini,”
jawab papi.
nanyain nih! El jemput Papi ke situ yaa!”
“Okelah kalau begitu.”
Dalam sekejap, aku sudah sampai
lagi di ALS. Tidak jauh memang, hanya 100 meter dari sini.
“Saya naik di belakang ini?”
tanya papi ragu untuk ku bonceng.
“Yuhuuuuu,” jawabku, yakin.
“Tadi Bapak yang di ALS tu bilang
gini; ‘Yaaa… tadi kalau ada uang panjernya bisa diusahakan nunggu’, makanya
busnya pergi,” jelas papi.
“Halaaah! Alasan aja tuh!”
jawabku, singkat.
Kami sudah tiba di Po. Putra
Rafflessia. Papi segera sholat ke belakang sementara aku menjaga tasnya di
lobi. Sekembalinya papi dari sholat, ia langsung hendak membayar busnya…
“Berapa Bang?”
“Rp 270.000. Nanti aja Bang,
kalau mobilnya udah datang,” kata si bapak.
Lalu papi mengajakku ke warung
sebelah untuk bersantai.
“Mie rebus ada Buu? El mau apa?”
tanya papi.
“El maunya mie goreng, Pi.”
“Ini udah mau tutup Pak
sebenarnya,” jawab si ibu.
“HAAHHH? Mau tutup?” teriakku.
“Ah, tolonglah Bu… kan lumayan
juga udah sore tapi masih ada rezeki yang datang.”
“Okee. Mau pesan apa?” tanyanya.
“Mie Goreng 1 dan mie rebus 1,”
jawabku.
Tapi si ibu menunjukkan gelagat
‘tidak ingin repot’ memasakkan 2 jenis makanan itu. Papi faham dan akhirnya
mengalah untuk memesan 2 porsi mie goreng, meskipun dia mengaku sedang ingin
yang berkuah. Dann… akhirnya aku yang nggak enak hati sama papi…
“Eh, 2 porsi mi rebus aja deh
Buk!” kataku.
Aku jauh lebih senang ketika
mampu menuruti papi. Apalagi pertemuan ini hanya sebentar. Sambil menunggu
pesanan, aku mengajak papi selfie-selfie. Awalnya, ia nggak pede, tapi berkat
bujukan mautku… akhirnya 3 jepretan untuk 2 wajah yang kata banyak orang
‘mirip’ ini.
“Jadi kemarin tu anaknya Pak Irus
udah pulang dan katanya udah ACC, tinggal nunggu wisuda aja,” kata papi.
“Mantaplah tu Pi!”
“Kamu kira-kira terkejar nggak
wisuda bulan Februari ini El? Ujiannya aja baru 1 kali kan?” tanya papi.
Aku mengatur nafas sejenak.
Mencari cara untuk menjelaskan sesuatu kepada papi. “Piii… El kan sekarang
sedang mengolah data penelitian El, insya allah segera selesai. Tapi, ada 1 hal
yang nggak bisa ditentang dan ditantang Pi; PROSEDUR. El optimis akan selesai
di bulan Januari ini, tapi pendaftaran wisudanya belum tentu terkejar. Mungkin
momennya bisa berbarengan dengan saat El sidang skripsi nanti. Sementara
persyaratan untuk mendaftar wisuda itu buanyaaaknya minta ampuuun Pi.”
“Ya udah, kalau gitu daftarnya
sekarang aja!” usul papi.
“Andaikan aja bisa gitu Piii.
Hahaha. Tapi, kenyataannya nggak bisa. Karena ya itu tadi; PROSEDUR. Kita harus
menyelesaikan segala sesuatunya sesuai urutan. Tapi, yang jelas kalau El udah
sidang, berarti El nggak bayar SPP lagi Pi.”
“Hemmm… ya nggak masalah kalau
gitu. Kirain walaupun wisudanya bulan Oktober tapi masih harus bayar uang SPP
juga. Kalau udah selesai kan udah ringan berarti; nggak perlu bayar uang SPP
lagi.”
Ya Allah, terimakasih telah
menghadirkan seorang papi yang pengertian dan hangat seperti ini. Terimakasih
ya Allah. Karena, meskipun tidak pernah mengalami, tapi aku tahu bagaimana
rasanya ketika sulit memahamkan orang tua tentang pemahaman kita. Terimakasih
ya Allah. Jaga papi selalu.
“Doain semua urusan El lancar dan
dimudahkan oleh Allah ya Piiii.”
Aku menyadari satu hal detik ini; SEMAMPU
apapun orang tua kita, tidak ada satu pun dari mereka yang tidak menginginkan
anaknya segera selesai kuliah dan segera MANDIRI. SEMAMPU APAPUN orang tua
kita. Ku baca semua itu dari papi dalam obrolan ini.
Well, kami sudah selesai dengan
santap sore kami…
“Eh, ini mobilnya beneran
Raflessia, El? Nanti mobil lain pula?” tanya papi.
“Biar El tanya dulu ya Pi!”
Aku kembali ke ruang tunggu dan
bertanya kepada kasir tadi. Dia menjelaskan bahwa bus yang menuju Palembang
adalah Mandala. Aku memastikan lagi apakah benar Lintas Timur atau tidak. Dan,
ia berkata ‘IYA’. Oke, baiklah. Sekalipun bukan Rafflessia, asalkan bagus ya
tidak jadi soal. Aku kembali lagi kepada papi dan menjelaskan kepadanya. Kami
kembali berbincang tentang banyak hal sebelum akhirnya kami diberi kode untuk
standby di lobbi untuk menanti bus datang.
“Jam berapa Bang busnya datang?”
tanyaku. Ini adalah pertanyaan yang ketiga kalinya sepertinya. Sejak tadi, ia
hanya menjawab; ‘Jam 5 lah, Dek,’ sedangkan sekarang sudah pukul 5 sore.
“Bentar lagi Dek! Udah sampai di
terminal dia. Sedang dalam perjalanan ke mari tu,” jelasnya.
Papi sudah membayarkan uang sejumlah
Rp 270.000. Jumlah ini jauh lebih hemat dibanding ALS tadi; Rp 350.000. Kami
duduk berdua di lobi, karena penumpang yang lainnya sudah berangkat setengah
jam yang lalu bersama Rafflessia.
“Papi ada foto-foto kita nggak di
HP itu?” tanyaku saat papi sedang membuka HPnya.
“Nggak ada foto-foto di sini.”
“El kirim ya Pi pakai Bluetooth,
siapa tahu besok Mbak mau ngelihat kita sekeluarga. Kan lumayan, walaupun cuma
lewat foto.”
“Nggak boleh nyimpang foto,
HARAM!” tegas papi.
“Apaan haram? Ini kan memang
potret kita Pi. Kita nggak menyerupai ciptaan Allah lewat lukisan loh!”
“Nggak boleh, haram foto tu,”
tegas papi lagi.
Well, perbedaan pendapat ini
bukan yang pertama kalinya. Sudah sering. Dan, kalau sudah seperti ini, aku
memilih diam. Aku tidak ingin rasa sayang kepada papi berkurang lantaran
perbedaan. Aku lebih memilih menurutinya.
“Cobalah kirim ke sini. Kadang
bluetoothnya nggak bisa nerima kiriman nih. Cobalah!” kata papi akhirnya.
YESSS! Diamku meluluhkan hatimu
ternyata ya Pi? Hehehe. Akhirnya, ku kirim foto-foto alayku, foto kami
sekeluarga dan fotoku bersama adik-adik cantikku. Alhamdulillah. Karena aku
tahu rasanya rindu, makanya aku faham bagaimana cara mengobati rindu; sekalipun
hanya lewat foto. ^_^
***
Sudah hampir sempurna di pukul
18.00wib. Tapi, bus yang dijanjikan belum juga datang. Papi sudah bolak-balik
menemui kasir tadi. Hinggak si kasir itu lenyap ntah ke mana rimbanya. Aku
merasa sedih. Sedih karena bus ini adalah pilihanku tadi. Sedih karena papi
akan terlambat tiba di Palembang. Sedih karena takut niat papi untuk memberi
surprise kepada Mbah di Palembang nggak kesampaian.
Aku : “Papi udah
bilang ke Mbah kalau Papi mau ke sana?”
Papi : “Belum.
Biar Surprise aja nanti,” jawab papi dengan senyum
Lalu, ingatanku berbenturan
dengan SMS mami tadi pagi yang membuat hatiku teriris-iris sedih…
Akhirnya Abi pulang ke Palembang,
tadi jam 10.30wib. Mbahmu batuknya nggak reda-reda, kencingnya tak kendali
setelah pulang dari RS
Ya Allah… aku hanya takut jika
Mbah nggak cukup waktu lagi untuk bertemu papi. Ya Allah… jangaaannn… jangan
biarkan itu terjadi. Izinkan papi mewujudkan niat sucinya untuk bertemu orang
tuanya. Jika waktunya memang sudah dekat, hamba mohon izinkanlah papi
menyampaikan niatnya memberi ‘kejutan’ itu. Engkaulah Sang Penggenggam usia,
maka izinkanlah 2 sosok yang ku cintaiku itu saling bersua. Aamiin.
“Duh! Gimana nih! Sejak tadi saya
udah curiga juga. Tapi, kalau udah kayak gini, mana mungkin uangnya bisa
diambil lagi. Bus yang lainnya pun pasti udah berangkat juga jam segini.”
Nyessssssss… sedih sekali
rasanya. Apalagi ketika mendengar hitung-hitungannya papi; ‘Kalau berangkat jam
4, biasanya sampai di sana jam 11. 1 jam ke dermaga, jadi jam 1 udah bisa
nyebrang. Masalahnya, spead boat itu dalam sehari hanya sekali nyebrangnya.’
“Jadi gimana ni Pi?” tanyaku.
“Ya ditunggulah. Mau gimana
lagi?”
Aku mengirim pesan di grup
MAWAPRES 2015 tentang permohonan maaf bahwa aku tidak bisa hadir di pertemuan
sore ini. Papi berubah menjadi hal yang teramat penting saat ini.
“Mana Bapak tadi tu? Biar El
tanya!” kataku, sok gagah.
Aku berjalan ke samping ruko,
tapi tak ku temui sesiapa di sana.
“Mungkin orangnya udah nyebrang
ke warung kopi di depan El. Takut kalau ditanya lagi kayaknya.”
Aku duduk lagi di samping papi.
Papi sedang menyisir rambutnya yang tidak kusut itu. Hujan baru saja turun
dengan derasnya. Dan…tiba-tiba…
“Loh? HP El yang Nokia mana ya
Pi?” tanyaku. Cerobohku kambuh.
Ku obrak-abrik isi tas, tapi
nggak ketemu juga. Papi hanya melihat anaknya yang kalang kabut ini. aku menduga
jangan-jangan tertinggal di warung sebelah. Akhirnya, ku terobos hujan ini dan
ku tanyai ibuk kantin yang sedang berkemas itu.
“…kayaknya diambil sama orang
yang duduk di sini tadi Dek. Dia ada nanya; ‘Ini HP siapa?’ tadi.”
“Duuuuhhh! Di mana orangnya
sekarang ya Buuu?” aku panik 2 kali lipat.
Seorang laki-laki berkaos merah
berlarian ke warung ini dari dalam bengkel.
“Ini HP Mbak yaa?” tanyanya serta
merta sambil menyodorkan HPku.
“Iyaaaa Baaaannggg.
Huahhhh…makasih ya Bang.”
“Iya, sama-sama, Mbak. Tadi waktu
saya duduk di sini, saya ngelihat HP ini di atas meja, makanya saya selamatkan
aja.”
Aku kembali berterimkasih
kepadanya dan kembali kepada papi.
“Huft, hampir aja!” kata papi,
lega. “Tadi tu waktu kita ke sini, kayaknya nggak ada lihat HPmu itu loh di
atas meja. Kapan pula ketinggalannya ya?”
“Mungkin tadi ketutup sama
koran yang kita baca tu Piii,” ujarku.
Sebentar lagi maghrib. Bus
tercinta tak kunjung tiba. Aku meminta papi membangunkan laki-laki yang
tertidur pulas di sudut ruangan. Barangkali dia tahu sesuatu. Tapi, papi
menolak karena tidak mau mengganggu. Akhirnya, papi berjalan ke pinggir jalan
dan berteduh di sebuah pondok kecil. Aku bisa melihatnya dari sini, ia sedang
ngobrol dengan seseorang yang sedang menepi. Semoga papi mendapatkan informasi
berharga darinya. Aamiin.
“Meskipun agak menyesal, tapi hamba yakin
bus ini adalah Pilihan terbaikMu untuk papi. Sampai detik ini, aku masih
berbaik sangka padaMu ya Allah. Pasti ada kebaikan dibalik semua ini. Aku
bermohon keselamatan untuk papi dan semoga esok ia bisa tepat waktu tiba di Palembang
dan tepat waktu menyebrang. Serta terwujud niat baiknya. Aamiin. Sampai detik
ini aku masih berbaik sangka padaMu ya Allah. Karena, aku pun ingin menuai
kenyataan yang sebaik sangkaku padaMu. Aamiin.”
Satu butir air mata mentes dari
masing-masing sudut mata.
“Bang, Bang! Abaaaaangggg,”
pekikku, berusaha membangunkannya.
Laki-laki yang tidur di sudut
ruangan itu menggeliat dan menatap ke arahku.
“Bang, busnya belum datang juga
loh! Gimana ni?” tanyaku. “Emang biasanya jam berapa sih Bang berangkatnya? Kok
jadi nggak pasti dan mengecewakan gini sih?”
“Belum datang juga ya Dek?
Biasanya jam 4 atau jam 5 dia udah singgah tuh kemarin. Ya, paling lama jam 6
lah Dek. Nggak pernah malam berangkatnya.”
Oh, melegakan sekali rasanya. Aku
kembali ke tempat duduk dan papi pun kembali ke sini.
“Tadi kan saya ngobrol dengan
tukang ojek tuh, jadi dia bilang, Mandala ini memang nggak pasti datangnya
karena penumpangnya sepi. Tapi, dijamin baguslah busnya tu!”
“Heemmmm… itu yang diharapkan kan
Pi. Semoga ini yang terbaik dan semoga ada hikmahnya ya Pi.”
“Iyaaa… Tapi yang mengecewakan
itu kenapa nggak jujur aja dari tadi? Kalau udah terlanjur kayak gini kan kita
nggak punya pilihan lain. Kalau besok sampai di Palembang udah lewat dari jam
12, berarti akan nginap di tempat Pak Edi lah. Jam 1 besoknya baru bisa
nyebrang.”
“Om Edi apa kabar ya Pi? Baguslah
kalau gitu Pi, berarti Papi diminta nyambung silaturahmi dengan Om Ediii kan.”
Tiiiinnnnnnn… Tiiiiinnnnnnnn….
Suara klakson bus membuyarkan
masa tunggu kami. Papi segera berlari meninggalkanku. Aku dengan sigap
merapikan tasku dan lari mengikuti papi. Papi baru tersadar bahwa aku
ditinggalkannya di belakang. Ia lalu berhenti dan meraih tanganku untuk
menyalaminya. Aku menyalami dan menciumnya.
“Eh, tapi itu beneran mobilnya
atau nggak? Kok nggak ada tulisan Mandalanya Pi?” tanyaku.
“Iya yaaa. Ah, tapi orang itu
udah manggil kita kok! Pasti itu busnya. Daaaa!” kata papi.
Aku melambaikan tangannya dengan
tangan kiri sementara tangan kanannku sibuk merekam langkahnya dengan HP. Aku
tahu bagaimana sedihnya kehilangan, maka aku tahu bagaimana caranya berdamai
dengan kehilangan; dengan cara merekam kepergian. Ya Allah, jaga papiku.
Selamatkan ia. Di perjalanan sampai tujuan. Aamiin.
“Bang? Itu kok beda pula busnya?
Gimana nya?” tanyaku kepada 2 laki-laki yang baru ku lihat tapi sepertinya
pengurus loket ini juga.
“Mandalanya nggak pasti Dek.
Baguslah yang ini lagi, ini ada toiletnya di dalam dan ber AC. Sedangkan
Mandala tu cuma berAC aja.”
“Ohh…ya lah kalau gitu Bang.
Makasih Bang.”
“Yooopp Dek, hati-hati.”
Aku memang mudah luluh. Sering
kali marahku reda dalam se per sekian detik. Makanya, aku nggak cocok ikut
lomba debat, hehee. Di bawah rintik hujan, di atas tanah Universitas Riau, aku
melaju menuju pulang.
***
“Nissss… yuk masuk kita ke dalaaaam!” ajakku pada kucing
kesayangan.
Aku menggendongnya ke dalam kamar dan tidur di sampingnya.
Mataku lurus menatap langit-langit kamar yang bercat kuning gading itu.
Beberapa momen hari ini berpadu dan menghasilkan keresahan yang bukan main besarnya.
Tiba-tiba, aku ingin menangis. Sangat ingin menangis. Dan… sedetik kemudian, aku benar-benar menangis.
Menangis sejadi-jadinya, sampai terisak-isak. Persis seperti isaknya seseorang
yang hatinya disakiti. Tapi, kali ini aku tidak disakiti oleh siapapun. Tapi
oleh diri sendiri.
“Ya Allah… aku akan menjadi apaaa?” pertanyaan itu yang
terucap dari bibirku di sela tangis.
“Aku binguuuuung. Aku nggak sadar ntah sejak kapan aku berhenti BERMIMPI. Ntah sejak kapan aku
berhenti MENANTANG KETIDAKMUNGKINAN. Aku bingung ya Allah… aku binguuuuungggg.”
Pekikku, dengan suara tertahan.
Ku peluk kucing yang sudah terlelap di sampingku ini. Ia
memang pendengar paling setia. Meski aku tahu, ia tak pernah memamahami
ceritaku tapi didengarkan olehnya seolah membuatku difahami.
“El
kemarin ada nonton Kick Andi? Bintang tamunya pengusaha Bank Sampah loh! Dia
itu sakit-sakitan dan sekarang udah sembuh karena keinginannya udah terwujud.
Padahal dia itu pegawai bank swasta yang gajinya bukan main banyakanya. Tapi,
katanya dia merasa nggak puas di sana. Eh, dia malah lebih memilih ke Bantar
Gebang; tempat pembuangan sampah akhir. Wahhhh… sekarang udah sukses dia. Dia kreatif kali, bisa bikin bermacam-macam
kerajinan dari sampah.”
Cerita papi tadi kembali hadir di ingatan. Mimpi yang sama
pada diriku masih ada hingga saat ini. Tapi, tugas akhirku ini harus sesegera
mungkin ku akhiri, supaya sesuatu yang baru bisa ku awali.
“Ya Allaaah… beri aku petunjukMuuu.”
Kalimat barusan meredakan tangisku. Setelah menangis, aku
merasa lebih lega. Meskipun kebingungan itu masih ada di kepala. Tapi menangis
barusan telah membuatku berfikir untuk mencari CARA. Aku juga butuh cerita. Tapi
kepada siapa?
Pendafataran KELAS PERSIAPAN BEASISWA batch-2 sudah dibuka. Silahkan
isi formulirnya yaa. Segera daftarkan dirimu!
Aku terbaca PM Lia tentang KELAS PERSIAPAN BEASISWA. Ku simpulkan
sesuatu; ‘Aku tidak bisa bercerita padanya tentang kebingungan ini. Harus pada
orang lain.’ Siapakah orangnya? Aku harus bercerita pada seseorang yang netral,
jauh dari kepentinganku dan kepentingan orang seumuranku dan pemikirannya
setingkat lebih dewasa di atasku. Ntahlah, siapa dia. Yang jelas, aku ingin
bercerita.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar