“Cin!” panggilku.
“Oikk?” jawab Lia tanpa mengalihkan pandangannya dari HP.
“Sebenarnya…. Ini menurut aku yaaa. Ujian terbesar bagi
orang-orang yang mengaku faham tentang arti UKHWAH adalah ketika saudaranya…
emmm….”
“Ke luar jalur?”
“Yap! Itu dia, Cin. Misalnya, nggak ngaji lagi kek, jarang
nongol di syuro kek, pacaran kek, atau apalah yang sejenisnya tu. Sebenarnya di
situlah hati ini diuji; sanggupkah kita tetap baik, ramah, hangat kepada
saudara kita itu seperti sebelum dia berubah dulu? Dannn… makasih ya, mu tetap
seperti ini kepadaku walau apapun yang terjadi, Cin. Karena, ada beberapa yang
sikapnya berubah sama aku sekarang Cin,” jelasku.
Lia mengangguk, tersenyum. “Kalau bicara soal perubahan
sikap orang kepada kita Ciinnnn… sebenarnya aku pun merasakannya.”
“Seriusan, Cin?”
“Ho’oh. Ntahlah ya kenapa bisa gitu, mungkin karena aku
jarang datang atau gimana. Yang jelas, kita kan bica ngerasain hal itu kan Cin?
Namanya aja berhubungan dengan hati, pasti hati kita bisa merasakannya.”
“Oooohhh..gitu. Nah, ujian terbesar bagi kita yang dianggap
‘berubah’ ini adalah; Sanggupkah kita tetap bersikap seperti biasanya kepada
teman-teman kita yang sikapnya berubah sama kita? Intinya, biarlah mereka yang
melihat kita berubah itu berubah sikapnya kepada kita, asalkan kita tetap baik
seperti biasa kepada mereka.”
“Setuju Cinnn!”
“Aku pernah memperhatikan kasus kayak gini pada orang lain
Cin. Dulunya dia berteman baik, tapi karena temannya itu pacaran dan akhirnya
nikah sama pacarnya itu, sikap dia jadi agak dingin dengan kawannya itu. Dan…
kemungkinan besar juga dia nggak datang di hari pernikahan kawannya itu. Kalau udah seperti ini kejadiannya, jauhlah
lebih baik teman kita yang nggak ngaji lagi Cin. Dalam konteks kasus ini yaa.
Karena, mereka nggak akan peduli dengan temannya yang pacaran kek, nggak
berjilbab lebar lagi kek, nggak ngaji lagi kek; Yang penting dia itu temanku! Nah, sesimpel itulah pemikiran mereka
kan Cin? Karena mereka bisa menerima temannya apa adanya, nggak peduli temannya
itu masih ngaji atau nggak, pacaran atau nggak, berjilbab lebar atau udah nggak
lagi.”
“Iyaaa… bener Cin. Benar seperti katamu kemarin Cin;
Mestikah setiap hubungan itu didasari rasa CINTA atau tidak CINTA? Memangnya
nggak bisa ya kita bersahabat seperti biasa saja tanpa memikirkan 2 hal itu?”
“Nah, tu udah jadi pula satu status baru! Hahhaa.”
“Yuhuuuuu. Dan, aku pernah bilang gini ke Yaumil; ‘Mil,
setelah Mamake fikir-fikir, ternyata perbuatan baik kita kepada orang lain dan
keputusan orang itu untuk berubah menjadi lebih baik adalah 2 hal yang BERBEDA.
Tugas kita selesai sampai menyampaikan kebaikan sedangkan tugas orang tersebut
adalah berdiskusi dengan dirinya sendiri untuk memutuskan berubah. Coba
bayangkan Cin, kalau Rosulullah itu berbuat baik hanya semata-mata untuk
mengubah orang lain menjadi lebih baik, niscaya dakwah ini nggak akan pernah
berkembang seperti ini. Coba tanya kenapa? Karena, Rosulullah itu dakwahnya
lewat kebaikannya. Ketika orang lain nggak berubah, itu nggak mengurangi
ketulusannya kepada orang tersebut. Bahkan ada kan yang sampai Rosulullah
meninggal dunia, barulah dia sadar dan berislam. Berapa lama coba rentang
waktunya Cin? Lama. Lamaaaa banget. Itu Rosulullah loh, apalagi kita? Makanya,
tugas kita itu ya BERBUAT BAIK setulus-tulusnya dan seluas-luasnya. Tentang
orang itu berubah atau tidak, serahkan saja pada Allah. Bukankah Allah lah yang
menggenggam hati manusia dan yang berkuasa membolak-balikkannya? Bahkan
Rosulullah pun nggak mampu membuat pamannya berislam sampai pamannya meninggal
dunia kan?”
“Iyaaaaa…yaa Cinnn… beneerrr banget! Aku setuju! Tugas kita adalah;
MENCINTAI, MENASEHATI, MENYAMPAIKAN.”
“Iyap! Sedangkan perubahan dan keputusan seseorang untuk
berubah…. Itu bukan lagi kuasa kita, Cin,” lanjutku dengan penuh senyum.
Aku bahagia karena selalu nyambung seperti ini dengannya.
Ini bahagia yang sangat luar biasa. Tak banyak ide-ide segar tentang
kehidupan mengudara seperti ini jika
bukan pada satu orang; satu orang yang ku anggap bisa memahamiku, bukan hanya
mendengarkan dengan telinganya, tetapi juga hatinya. Aku selalu seperti ini;
Merasa cukup bersama satu orang. Semoga kelak, seseorang yang ku sebut ‘teman
hidup’ itu pun membuatku merasa CUKUP dengan bersamanya. aaamiinn.
***
Lia memanggil…
“Cin, Prodiku tutup hari ini ternyata. Mu siap-siap ya
cepat! Aku bentar lagi balik ke kosan.”
“Ohhh…okeeehhhh..okeeeehhhhh.”
Aku langsung membereskan kamar yang luar biasa berantakannya
ini. tepat ketika aku membawa handuk dan sebelah kakiku sudah masuk ke kamar
mandi… Lia masuk ke kamar dan teriak…
“Eh, Eh! Nggak usah mandiiii, Ciiiin!” pekiknya.
“Loh? Kenapaaaa?”
“Ntar kan habis berenang mandi lagi Ciiiinn. Mubazir lah
kalau mandi sekarang juga.”
“Lah? Mu aja tadi mandi kan?”
“Iyaaa…itu karena aku mau ke kampusss. Masa aku nggak mandi
sih? Kita sarapan yuk? Aku udah belikan pecal dan soto nih!”
“Aku udah sarapan barusan Ciiin!”
“Heh, nggak ada alasan! Yuk makan lagi! Ntar mubazir loh
makanannya nih!”
“Hemmmm… ya udah deh kalau mu ngancam gitu. Aku terpaksa
mauuu. Hehehe.”
“Yuuuhuuuu… mariiii.”
Baik soto maupun pecal ini sangat menggoda. Belum lagi
suwiran bakwan goreng di atas pecalnya…huammmm… bikin ngiler ajaa. Aku
memakannya bergantian; makan pecal-lalu soto, makan pecal-soto. Dan…
berkomentarlah Lia…
“Heh Cin! Kita habisin dulu pecalnya, baru hijrah ke
sebelah.”
“Kenapa mesti gitu Cin? Perut kita kan nggak ngerti kalau
kita sedang ngalor-ngidul makannya.”
“Enak aja! Perut kita tu punya perasaan juga yaa! Dia pasti
tahu,” kata Lia. Berikutnya dia sendiri yang tertawa atas kalimatnya itu.
“Cepetan habisin ya Cin, udah hampir jam sebelas nih! Nanti nggak jadi kita 2
jam-an berenangnya.”
“Jadi juga nih kita berenangnya?” tanyaku, tak percaya.
“Ya iyaalaah!”
“Hahhaha… ini berenang macam apa Cin? Ini sih berenang
teraneh yang pernah ku lakukan seumur hidupku. Berenang kok udah jam sebelas
gini toh! Hahahaaa.”
“Hhahaa…kita kan emang aneh Ciiiin!”
"Eh, mu pernah ku ceritakan belum tentang pahala kebaikan orang-orang non muslim?" tanyaku, serius.
"Belum."
"Menurutmu, ketika mereka berbuat baik, mereka akan dapat pahala nggak atas kebaikan mereka itu?" tanyaku lagi.
"Emmmm.... Nggak," jawab Lia, tak terlalu yakin.
"Dapat Cin!" kataku. "Tapi..... pahala mereka itu seperti berada dalam kotak kaca; mereka hanya bisa melihat, tapi nggak bisa memilikinya karena mereka nggak pegang kuncinya. Mau tahu apa kuncinya?"
"Apa Cin?"
"Asyhadu'allah illaha illallahu. Kasihan ya! Berarti sia-sia banget kan pahala mereka itu? Ada, tapi nggak bisa menyelamatkan mereka. Pahala itu akan jadi hal mereka kalau mereka udah bersyahadat Cin. Sesuai janji Allah; semua perbuatan kita tetap akan dinilai dan dihitung, termasuk pahala mereka. Ilmu ini aku dapatkan dari kajian di FLP Cin."
"Wahhhh... keyeeeeen. Itu namanya berarti SIA-SIA yang paling SIA ya kan Cin? Beruntung sekali kita adalah muslim Ciiiin..." ujar Lia.
"Keyen kali kalimatmu tuuu Ciiinn; SIA-SIA yang paling SIA."
"Itu tema kita hari ini?" tanya Lia.
"Yuhuuuuuuuuuuuu."
"Eh, mu pernah ku ceritakan belum tentang pahala kebaikan orang-orang non muslim?" tanyaku, serius.
"Belum."
"Menurutmu, ketika mereka berbuat baik, mereka akan dapat pahala nggak atas kebaikan mereka itu?" tanyaku lagi.
"Emmmm.... Nggak," jawab Lia, tak terlalu yakin.
"Dapat Cin!" kataku. "Tapi..... pahala mereka itu seperti berada dalam kotak kaca; mereka hanya bisa melihat, tapi nggak bisa memilikinya karena mereka nggak pegang kuncinya. Mau tahu apa kuncinya?"
"Apa Cin?"
"Asyhadu'allah illaha illallahu. Kasihan ya! Berarti sia-sia banget kan pahala mereka itu? Ada, tapi nggak bisa menyelamatkan mereka. Pahala itu akan jadi hal mereka kalau mereka udah bersyahadat Cin. Sesuai janji Allah; semua perbuatan kita tetap akan dinilai dan dihitung, termasuk pahala mereka. Ilmu ini aku dapatkan dari kajian di FLP Cin."
"Wahhhh... keyeeeeen. Itu namanya berarti SIA-SIA yang paling SIA ya kan Cin? Beruntung sekali kita adalah muslim Ciiiin..." ujar Lia.
"Keyen kali kalimatmu tuuu Ciiinn; SIA-SIA yang paling SIA."
"Itu tema kita hari ini?" tanya Lia.
"Yuhuuuuuuuuuuuu."
***
“Kak Elisssssssssssss!”
Aku menoleh ke arah belakang. Ternyata Okta yang
memanggilku. Ku lambaikan tanganku padanya. Sepertinya dia sedang makan di
warung itu.
“Okta barusan neriakin aku, mu tahu?” tanyaku pada Lia.
“Hah? Mana Adek kita tuu?”
“Udah lewat. Di warung dekat jalan yang banjir tu tadi dia.”
Kami terus melaju, meninggalkan Balam Sakti menuju jalan HR
Subrantas. Hingga kami bertemu jalan Anggrek, tepat di samping Baterai P
sebelum lampu merah Pasar Pagi Arengka. Kami memasuki jalan ini dan setelah
bertemu mushola pertama di sebelah kanan, kami berbelok ke kiri. Dan…. Tibalah
kami di depan kolam renang berair biru ini.
“Dekkk… mau nanyaa… Kakak mau berenang nih, sama siapa ya
bayarnya?” tanya Lia kepada seorang anak kecil.
“Sama orang rumah itu Kak,” jawabnya sambil menunjuk rumah
berlantai 2 di depan kolam renang ini.
Lia lalu menuju ke sana dan hanya beberapa detik saja
kembali lagi kepadaku.
“Katanya pakai aja dulu kolam renangnya Cin, nanti
bayarnya,” jelas Lia.
“Lets goo!”
Baru kali ini aku benar-benar bebas berenang tanpa menggunakan
jilbab, karena memang nggak ada orang sama sekali di sini. Kadang, aku sering
merasa ada air yang masuk ketika menggunakan jilbab karena kedap. Lia pun tidak
menggunakan jilbab. We are free now! Ye yee yeee. Byurrrrrrr!
“Cin… kita harus punya kolam renang ntar di rumah kita ya!”
kataku di tengah hentian renang.
“Iya Cin, wajib!”
“Mindset kebanyakan orang kan kolam renang itu miliknya
orang-orang berumah mewah. Padahal, lihatlah kolam ini, lantainya hanya semen,
nggak pakai keramik, its okey, right? Kita cuma butuh setidaknya luas 3x5 meter
aja untuk kolamnya. Kita bisa bikin kedalaman 2 meter, jadi kalau mau berenang
bareng anak-anak, airnya yang 1 meter aja, kalau mau berenang sama suami, baru
deh yang 2 meter volume airnya. Jadi, serbaguna kan?”
“Iyap Cin, betul banget! Banyak caralah ya pokoknya kalau
memang udah niat.”
Lagi-lagi aku meminta Lia mengajariku bagaimana caranya bisa
berenang dengan gaya kodok seperti dirinya. Tapi, lagi-lagi aku selalu tak
menemukan cara untuk mengangkat kepala ke permukaan. Yang ada, hidungku malah
kemasukan air.
“Cin, mu bisa ngapung dengan badan telantang?” tanyaku.
“Nggak tahu bisa atau nggak, soalnya belum dicoba.”
“Kayaknya aku nggak berani nyoba deh kalau untuk yang satu
ini Cin. Emang harus dibantu suamiku kayaknya besok nih! Hehehehe. Biar dia
megangin pinggangku waktu belajar ngapung. Jadi, aku nggak takut tenggelam.”
“Hemmmm….berarti syaratnya calon suami kita nanti harus
pandai berenang ya Cin!” kata Lia.
“Hah, bener banget tuh Cin! Syarat utamanya harus bisa
berenang. Supaya bisa ngajarin kita dan anak-anak kita berenang juga.”
“Hushhh..bukan syarat utama, tapi syarat tambahan. Agama tuh
tetap nomor satu Ciin.”
“Oh iyaa, hehehee. Lumpring eke. (baca: aku lupa). Bang ***
bisa berenang nggak ya?”
“Bisalah. Anak Faperika kok nggak bisa berenang toh? Lagian,
dia kan kampungnya dekat pantai Cin. Masa anak laut nggak bisa berenang?”
“Hemmm… great! Kalau Bang **** bisa berenang nggak ya?”
tanyaku lagi.
“Kayaknya bisa deh Cin.”
“Ohhh, great! Kalau Bang ****, aku udah tahu kalau dia nggak
bisa. Soalnya dulu pernah ku ajak ikut seleksi KPN tapi dia ngaku nggak bisa
berenang. Hahaah.”
“Masa iya? Dia itu anak pulau loh.”
“Iyaaa Cin. Suwer dia nggak bisa berenang!”
“Hemmmm..berarti dia nggak lolos kualifikasi ya!”
“Hahhaha.. kita kok jadi ngerumpiin Abang-abang sih nih?
Hahaa.”
Berikutnya, aku mencoba mengikuti Lia menggunakan prosotan
dan njebur ke dalam air. Mungkin karena badanku berat atau bagaimana, badanku
terlempar dari prosotan dan tenggelam cukup dalam. Ada banyak air yang masuk ke
hidungku. Aku berusaha membersin-bersinkannya.
“Cin, kata orang, ditiup kepalanya biar ke luar airnya. Sini
biar ku tiupin kepalamuu!”
Aku mendekat ke arah Lia dan mulailah dia mengelus kepalaku
dan meniupnya.
“Emang apa hubungannya dan apa ngaruhnya Cin?” tanyaku
polos.
“Aku pun nggak tahu Ciiin. Ahahahhaha.” Kami tertawa
bersama. Udah persis banget kayak upin-ipin aja.
“Eh Cin, kita lomba lari dalam air yok?!” ajakku.
“Ayok! Siapa takuttt!. Siappp? 1… 2…… 3…”
Aku berusaha lari secepat mungkin, tapi sepertinya badan Lia
lebih mudah terbawa arus daripada badanku. Aku kalah jarak sejauh 1 meter
darinya. Lia menang. Sekarang, giliran lomba jalan di dalam air. Tapi,
ujung-ujungnya, aku kalah lagi darinya.
“Kita lomba apa lagi ya Cin? Lomba berenang udah, lari dalam
air udah, jalan dalam air udah. Ngapain lagi?” tanyaku.
“Ahaaa! Kita lomba lompat dalam air yuukkk?” ajaknya.
“Okeeehh! Tangannya di sedekapkan yaa! Nggak boleh
menyibak-nyibak air! Lompatnya harus kayak si kawan kita yang itu ya! (baca:
pocong).”
“Okeeee.”
Kami berpacu secepat mungkin, dengan iringan renyah tawa di
antaranya. Lia melarangku tertawa karena khawatir perut akan menjadi sakit.
Tapi, aku tak mampu diam atas semua kekonyolan hari ini. Dan… hasilnya?
Lagi-lagi aku kalah dari Lia. kayaknya aku harus mengakui bahwa badanku butuh
diet ketat nih! Hahaha.
Suara murothal dari mesjid sudah terdengar. Mungkin sekarang
sudah pukul 12.00wib. Sebelum mengakhiri perenangan ini, kami kembali lomba
renang 2 kali putaran. Baru deh udahan!
“Ciiiiinnnnn! Ada tragediiiiiiii!” Teriakku setelah berkemas
dan berwudhu.
“Apa yang terjadi Ciiin?” tanya Lia, panik.
“Aku lupa bawa jilbab ganti ternyata. Hiksss.. macam mana
nih?”
“Seriusan Cin? Kok bisa lupa sih?”
“Hiksss… aku kan ceroboh banget emang Ciin. Gimana donk?”
“Beli jilbab aja gimana? Atau kita pulang dulu?” tanya Lia.
“Emmm… masa sih kita harus pulang dulu? Jauh Cin. Emmmmmm…
aha! Mu tadi bawa mukena kan? Aku sulap aja roknya jadi jilbab sinih!” aku
khawatir Lia tidak membolehkan mukenanya ku pakai, sekalipun untuk jilbab.
Tapi, Alhamdulillah dia justru mendukung.
“Kreatif banget mu Cinnn!”
“Cantik nih?” tanyaku setelah tutorialan.
“Udah. Cantik banget! Jadi trendsetter 2016 ntar jilbabmu
ini Ciiinn. Ahahhaa.”
Kami segera meninggalkan area kolam renang dan Lia menemui
pemiliknya untuk membayar. Tak sengaja, pandanganku tertuju pada wanita yang
sedang mengupasi kulit pinang di teras rumahnya. Aku kenal banget dengan wajah
itu. Aku mendekatinya, ingin sekali menyapanya walau hanya sejenak.
“Kak Yul kan?” sapaku.
Yang disapa hanya terpatung.
“Ini El Kak. Anak kos Kakak dulu. Yang sekamar sama Tika.
Ingat kan Kak?” tanyaku. Khawatir banget kalau kak Yul sudah lupa padaku.
“Gemuk ya El sekarang!” katanya kemudian.
Tak apalah dikatakan gendut, yang penting kak Yul masih
ingat padaku. Ternyata beliau mengontrak rumahnya si pemilik kolam renang ini.
Wahhh.. bakal sering ketemu kak Yul deh nanti kalau aku berenang ke sini
lagiiii. Setelah berpamitan, kami segera menuju mushola untuk sholat Zuhur
berjamaah.
“Cin, mu tahu kita habis biaya berapa barusan?” tanya Lia.
“Kata Kak Rahma kemarin Rp 20.000 kan per orang Cin?”
tanyaku kembali.
“Iyaaa. Tapi, kita cuma bayar Rp 7000 per orang loh Cin tadi
tu!”
“Wahhhh…murah. Sama kayak yang di Bangau kalau gitu.
Alhamdulillah.”
Usai sholat Zhuhur, kami langsung menuju tempat ke dua dalam
agenda Holiday hari ini. ye yeee.. happy shopping for us! *dasar cewek.
***
Ini sudah pukul 17.02wib dan kami baru makan siang.
Huahhhhhh… telat kuadrat! Kami memilih salah satu warung Ampera di jalan
Sukajadi sebagai tempat melabuhkan penat atas perburuan hari ini. Aku memesan
lauk ikan patin salai sedangkan Lia memesan lauk Belut. Nyummmmiiii.
“Cin, Ti** tu kalau ngajak ketemuan pasti di café atau
tempat nongkrong gitu. Kadang, agak segan kalau pas diajak ketemuan tu akunya
sedang nggak ada duit atau sedang ngirit Cin. Karena, kalau ketemu dia pasti
selalu ada uang yang ke luar. Aku kan pengennya ketemuan tapi unexpected gitu.
Ntah di saung UNRI aja kek, atau main-main di tempat kita launching kemarin kan
bisa juga, biar nggak perlu biaya maksudku. Tapi, dia nggak pernah mau kalau ku
ajak gitu.”
“Ohhhh.. jadi dia anak gaulll.”
“Ntar deh kalau kita pas ketemuan bareng-bareng, mu bakal
tahu seberapa gaul dia. Ehhee. Kalau ngobrol sama dia tu aku nggak merasa 100%
free untuk cerita apapun, Cin. Lebih banyak aku yang dengerin dia sih. Tapi,
syukurlah kemarin waktu dia minta ajarin bikin blog tu bikin kami akhirnya
punya kesamaan. Dia lebih suka ngobrolin politik Cin.”
“Ohhhh… gitu ya. hhehee, beda banget ya Cin kayak kita; dari
A sampai Z, kembali lagi ke J, F, L sekalipun ya monggo. Kita nyambung terus.
Yahhh…itulah Cin, setiap orang punya ciri khasnya sendiri.”
“Dari ketidakcocokan ini aku jadi belajar sesuatu Cin…
kelak, aku ingin dicintai oleh seseorang yang COCOK denganku. Seseorang yang bisa ku ajak ngobrol
tentang apa aja. Seseorang yang membuatku nggak beralasan untuk nggak jatuh
cinta berkali-kali dengannya, Cin. Aamiin.”
“Aamiiin ya Allah. Seseorang yang faham tentang Riau,
Indonesia, Dunia ya Ciin,”sahut Lia.
“Ada satu lagi Cin! Seseorang yang faham tentang bagaimana
caranya menuju SyurgaNya. Aamiin.”
“Co cweeeettt.”
Kami sudah selesai dengan santap sore kami. Lia memilih
jalan pintas melalui jalan Durian. Aku merasa seolah sedang berada di jalan
Riau. Benar-benar mirip banget nuansanya. Kami mampir sebentar di SPBU untuk
menuhin tangki minyak. Aku mengajak Lia menuju suatu tempat, untuk menuntaskan
rasa inginnya terhadap jaket yang tadi belum bisa dimilikinya. Dari tempat ini
menuju rumah ternyata mengharuskan kami mampir di masjid dulu untuk sholat
Maghrib.
***
Kami sudah tiba di rumah, tepat ketika azan Isya
berkumandang. Tulang rasanya remuk redam, ingin segera dibaringkan. Tapi, tak
ada ceritanya tidur cepat selagi kami berdua seperti ini.
“Cin, biasanya setelah beli baju, mu suka nyoba-nyobain lagi
nggak setibanya di rumah?”
“Nggak.”
“Masa iya? Kalau aku, pasti masih ku coba-coba lagi loh di
rumah sebelum dicuci. Hihiiii. Rini udah hafal tuh, sampai bosan dia ngelihatku
kecentilan di depan kaca. Belum lagi kalau aku nanya; ‘Cantik kan aku Rin?’
berulang kali.
Setelah puas mencoba-coba baju, barulah ku letakkan di
tumpukan pakaian kotor. Siap dicuci besok.
“Sholat yuk!” ajak Lia.
Tepat setelah kami selesai sholat, Reni datang. Dia mau
meminta tolong kepadaku untuk menggabung-gabungkan lagu anak-anak untuk lomba
menari murid-muridnya di sekolah. Reni yang awal masuk ke kamar ini berkomentar
‘cantik’ untuk tata kamarku, malah sekarang mulai mengusulkan letak ini dan itu
menurut versinya. Huahhhhhh..
“Kalau lemarinya diletakkan di belakang pintu, ntar kalau
orang baru masuk bisa kaget loh El!” katanya.
“Lah? Ya baguslah. Ntar kalau ada maling yang masuk, berarti
dia bakal pingsan karena nengok lemariku. Ahahah.”
“Koe pun jadi nggak bisa buka pintu lebar-lebar kalau gitu,
El.”
“Ngapain pintu harus dibuka lebar-lebar Ren?”
Reni kehabisan akal sepertinya pemirsa. Heheeh. Aku sudah
mendownload Movie Maker dan MP3 Cutter, tapi ternyata aku nggak bisa instan
untuk bisa menggunakan keduanya. Maka, muncullah trik lihaiku untuk Reni, tanpa
harus menggabung-gabungkan lagunya menjadi 1 file.
“Ren, gini aja… ntar flasdismu ini diisi dengan 3 lagu yang
akan mu putar sebelum dicolokin ke speakernya. Ini udah ku nomori, jadi bisa
berurutan muternya. Walaupun nggak digabungin, tapi kalau udah berurutan, insya
allah dia pasti akan berurutan juga nyalanya.”
“Bisa ya gitu El?” tanyanya, ragu.
“Bisa. Nih coba kita buktikan ya!” aku membiarkan ketiga
lagu itu berputar bergantian dengan sendirinya. Baru deh Reni percaya.
“Oke dehhh, makasih ya El. Aku sekaligus pamit, besok udah
pulang lagi ke Lipat Kain.”
“Okeeehhh… see you Reeen!”
***
Apa yang dilakukan oleh Lia dan Elysa selarut ini? Hanya ada
2; kalau nggak ngobrolin masa depan, ya nonton film India.
“Cin, ada film yang belum ku tonton nggak? Eh iya, tadi
dapat film apa dari Reni?”
“Film Barat Cin, ada di local disk F tuh! Lihatlah!” kataku.
Lia hanya melihatnya sebentar dan berkomentar…
“Emmm… aku maunya film Indiaaaa Ciiiinnn. Film India tu
emang nggak tergantikan deh pokoknyaaa!”
“Macam mana lagi? Udah nggak ada film India daah! Stock habis,
Cin.”
Lalu Lia membuka-buka folder khusuh film-film Bollywood
milikku. Akhirnya ia menemukan filmnya Rani Mukerjee. Ceritanya tentang kelurga
yang serba kekurangan dan hanya mengharapkan Rani sebagai anak sulung bisa
mencukupi keluarga mereka dari perantauan. Tapi, menemukan pekerjaan di kota
tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rani justru mendapat pelecehan dan
ingin sekali kembali ke rumah. Tapi, ibunya malah berkata; “Jangan pernah
pulang sebelum membawa hasil! Keluarga kita sudah terlalu banyak masalahnya.
Pulang tidak akan mengubah apapun dari keluarga ini.” Atas ucapan itulah, Rani
akhirnya memutuskan menjadi pelacur dan keluarganya di kampung bisa hidup
berkecukupan atas penghasilan tersebut. Hanya Ibunya yang tahu darimana asal
uang itu.
“Cin, semoga nanti kita menjadi orang tua yang nggak banyak
menuntut anak-anak kita ya! Jangan sampai pula mereka jadi menyimpang karena
terpaksa dengan paksaan kita,” kata Lia.
Awalnya aku bingung, Lia sedang ngomong dengan tema apa.
Tapi kemudian aku sadar bahwa yang diceritakannya adalah film yang sedang ia
pantengi itu.
“Iya Cin. Kita harus jadi orang tua yang sholeh, supaya bisa
melahirkan generasi yang sholeh juga.”
Setelah komentar itu, aku tertidur. Ku tinggalkan Lia
berduaan bersama film itu ntah sampai pukul berapa. Malam ini malam terakhir
bagi kami. Tak terasa sudah seminggu Lia menemaniku di sini. Thank you Ciiin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar