Kau tahu bagaimana rasanya sebuah RAGU?
Mungkin kau tahu, tapi tak sering merasakannya. Atau mungkin sering, tapi tak sesering aku. Kau tahu bagaimana sulitnya aku mengelola sebuah RAGU? Mungkin kau tidak bisa membantuku menjawabnya, sebab RAGU seolah sudah menjadi teman setiaku. Nyaris hingga titik ini, RAGU masih selalu mengganggu. Kadang, RAGU datang tak tahu waktu dan tak tepat waktu.
.
Kadang aku iri padamu. Iri pada semua kepolosanmu ketika berkata; "Aku ingin *something* tahun ini!" dan berbagai pernyataanmu lainnya yang serba berisi tentang INGIN. Kadang, aku bertanya di dalam hati; "Ajarkan aku memiliki hati yang seyakin itu!"
.
Ada beberapa hal yang mungkin kau menduga bahwa kita SAMA. Tapi, sebenarnya aku sedang menyimpan sebuah BEDA yang ku kemas menjadi KESAMAAN. Dan hingga sejauh ini pun, aku mengira bahwa kau masih mengiraku SAMA denganmu. Mungkin beberapa waktu lagi baru akan ku ceritakan padamu tentang RAGUku ini. Ketika RAGU telah berubah menjadi sesuatu yang BARU atau menjadi sesuatu yang lain.
.
Yang membuatku takut untuk mengakui RAGUku ini adalah rasa khawatir bahwa kita akan kehabisan cara untuk DEKAT. Eh, bukan kita, tapi aku! Aku terlalu khawatir kita tidak akan sedekat dulu. Karena dulu, kita pun didekatkan karena KESAMAAN, bukan? Lalu, apa jadinya kita jika SAMA tidak lagi ada? Maka ku putuskan, biarlah rahasia. Aku masih ingin (berpura) SAMA denganmu. Siapa tahu waktu akan menjadikanku benar-benar menjadi SAMA denganmu dan perlahan RAGUpun menghilang di antaranya. Lagipula, menjadi SAMA denganmu, ku yakini adalah hal BAIK dan tempat TERNYAMAN. Aku tidak akan menyesali ini. Insya Allah…
#celotehbertemaRAGU
Setelah terjaga pukul 04.00wib dini hari, aku langsung tahajud; mendoakan segala kemudahan urusan untuk hari ini, lalu aku buka FB. Eh, terbacalah tulisan seseorang tentang impiannya. Setelah membaca tulisannya, aku pun membaca komentar-komentar positif yang mengapresiasinya. Tapi, dipenghujung baca, fikiranku ternyata tersimpul pada sebuah tema; RAGU dan mengantarkanku untuk menuliskan status di atas. Yap! Aku adalah si peragu ulung yang dalam sekejap bisa berubah di yakin. Aku memang ntahlah!.
***
Kedatanganku ke perpus FKIP
disambut dengan omelan pegawainya kepada seorang mahasiswa yang sama sepertiku; Ingin menyetor jurnal. Aku langsung mengisi buku tamu. Setidaknya kalau kakak itu melihatku, dia akan senang karena aku sedang mengisi buku tamu (tamu yang sedang sok patuh, ehe). Selanjutnya, aku hanya duduk diam di kursi yang dipunggunginya. Aku belum berani membuka bicara untuk menyampaikan maksud kedatanganku ke mari. Mahasiswa tadi masih mematung di hadapannya; menunjukkan dirinya pasrah sekaligus bersikeras.
“Kamu baru mau ngantar sekarang
pula? Biasanya orang nunggu 3 hari bahkan ada yang sampai seminggu. Masa kamu
baru datang malah minta cepat pula! Banyak yang mau saya ketik nih! Saya sendirian
pula, nggak ada yang bantu saya,” gerutu kakak itu lagi.
Aku hanya memandangnnya sebentar,
lalu ku alihkan pandangannku ke luar jendela. Ada matahari yang hangat ke
arahku, ada tumbuhan hijau yang pucuknya memerah di depan perpus ini. Ahh…
setidaknya memandang yang indah-indah seperti ini cukup membuatku sejuk.
“Kaakkkk…” sapaku pelan. “Kak,
saya mau nyerahin jurnal. Kemarin sudah Kakak periksa punya saya dan ini
tinggal ngantar Kak,” jelasku sambil tersenyum.
“Udah sesuai punya kamu tu dengan
panduan?”
“Sudah Kak. Saya sudah mengikuti
semua saran Kakak kemarin,” jelasku lagi, dengan rendah hati.
Ia kembali fokus kepada
ketikannya. Aku duduk mematung di hadapannya. Akan ku ikuti ‘permainan’nya. Ku
kode mahasiswa itu untuk duduk di sampingku. Kasihan, dia terlihat begitu polos
dan untuk duduk pun sungkan. Setelah ku tanyai, ternyata di angkatan 2012. Wowww!
Cepet amat nih bocah skripsinyaaa.
“Kalian yang salah… kenapa baru
sekarang ngantarkannya? Itu CDnya harus saya cek duluuu. Mana bisa main
serahkan ajaaa. Minta cepat pula selesainya? Mana bisa gituuu.”
Aku dan si adek hanya diam saja.
aku mengodenya untuk tetap tenang dan diam. intinya; dengarkan saja omelan ini.
“Mana jurnal kamu tadi?” tanya si
kakak akhirnya.
Aku mempersilahkan adek ini untuk
duluan karena dia memang lebih dulu menunggu. Ada banyak kesalahan pengetikan
yang ia dapati di jurnal itu ternyata. Bahkan email dosen pembimbingnya si adek
pun nggak ada. Jadilah dia diomeli lagi. Sesekali, si adek berusaha membela
diri juga.
“Ini kok di sampulnya tertulis;
WISUDA OKTOBER 2016?”
Tak sengaja, terbaca olehnya
tulisan di sampul CD si adek. Adek itu kelabakan karena ia pun tak sadar bahwa
tukang printnya yang membuatkannya seperti itu. wahhh… aku makin nggak karuan
nih!
“Saya hanya mau mengurus yang
wisuda bulan Februari ini! Kamu ngapain pula ngurusnya cepat-cepat sekarang ni
kalau mau wisuda Oktober nanti? Nanti ajalah yaa… bulan Maret baru bisa ngurus
jurnal tu lagi. Pake ndesak saya pula lagi.”
“Nggak Kak, saya mau wisudanya
bulan februari ini kok!” bela si adek.
“Kapan kamu sidangnya rupanya? Sekarang
udah tanggal 27. Belum lagi revisi-revisinya. Belum lagi jilid dan nyerahin
skripsinyaa. Ndak terkejar tuuu dooh!”
Jantungku makin dag-dig-dug,
menyadari kalau cover CDku pun tertulis; WISUDA OKTOBER 2016. Ini tukan
printernya kompakan atau gimana ya ceritanya? Kok main nulis OKTOBER aja sih?
“Ya Allah… Engkau tetaplah sebaik-baik
penolong. Tolonglah aku melewati satu kesulitan ini ya Allah. Sekalipun nggak
terkejar lagi wisuda di bulan Februari nanti, aku harus tetap S.Pd di bulan
Januari ini. Kalau ngurus jurnal aja harus nunggu Maret, lalu kapan pula aku
sidangnya? Engkaulah penolongku ya Allah, mohon lembutkan hati kakak ini. Laa
khaula walaa quwwata illah billahh…”
Ku ulang-ulang terus doa-doa pemudah
itu. Rasanya, bibirku sampai mengering karena terlalu deg-degan dan panik. Aku tetap
berusaha tenang, sambil sesekali menarik nafas panjang dan menghembuskannya
perlahan. Sesak.
“Kak, gimana kalau saya bantu
Kakak ngetik?” saranku, tiba-tiba.
Kakak itu belum merespon. Ia masih
mengetik. “Kamu baru mau ngantar hari ini masa’ mau minta cepat pula? Jangan
desak-desak sayaa!”
“Loh? Nggak Kak. Saya cuma mau
nawarkan bantuan untuk bantu Kakak ngetik.”
Ia tidak langsung merespon. Mulutnya
masih berkomat-kamit membaca judul skripsi dan mengetikkannya ke dalam computer untuk diprin-kan suratnya. Akhirnya,
ia pun geleng-geleng; pertanda menolak tawaranku. Aku kembali diam. Hemmm… mungkin
akan ada ketidakbaikan andai saja aku menolongnya, makanya Allah tidak
mengabulkan niat baikku ini. Aku harus melebihkan kesabaran lagi.
“Kamu bisa tolong bantu saya
meng-konek-kan modem ini ke computer?” pintanya kepada adek tadi yang masih
mematung di belakangnya.
“Inysa Allah bisa Kak.”
Akhirnya, perhatiannya teralihkan
juga. CDnya si adek akhirnya diperiksa sampai selesai dan memintanya untuk
memprint ulang jurnalnya karena banyak kesalahan. Berikutnya adalah aku. Sengaja,
kotak CDnya sudah ku bukakan supaya sampulnya tidak terlihat olehnya. Alhamdulillah…
ia hanya mengoreksi daftar pustakaku saja dan memintaku untuk memfoto kopi
lembar pengesahanku sebelum diserahkan kepadanya. Aku menuruti semua
instruksinya dengan penuh kerendahan hati.
“Saya perbaiki dulu yaa Kak. Permisi…”
Aku menuju Bina Krida dengan
perasaan 70% lega. 30%nya akan menyusul setelah jurnal ini resmi diserahkan
nanti. Sengaja, aku akan bekerja secara mandiri sekarang; sengaja, tidak
kembali ke tempat pem-burning CDku ini karena di sana sangat padat antrian. Aku
ke tempat ngeprint langgananku saja.
“Loh? Ini kok file yang di dalam
CD nggak bisa diedit ya Bang?”
“Emang sekali burning aja tuh
Dek. Cuma bisa sekali pakai aja.”
“Lah? Label CDnya gimana nih?”
aku berfikir keras gimana caranya meniru label CD sebelumnya. “Bisa tolong lepaskan label CD ini dan
dipindahin ke CD yang baru nggak Bang?”
“Nggak bisa tu Dek! Lekat kali
dengan CDnya dah. Rusak nanti kalau dibuka.”
Akhirnya aku ada ide! Ku minta
abang itu mengopi label CD berbentuk lingkaran itu, kemudian aku mengguntingnya
melingkar persis seperti aslinya. Kalau
pakai double tip, takutnya lemnya jadi tebal dan CDnya malah nggak bisa terbaca
pula di CPU. Akhirnya aku mengelemnya
dengan menggunakan lem cap kambing. Wkwkwk. *agak ekstrem ya pemirsa? Hahaha. Dan………taraammm…
Alhamdulillah 90% mirip dengan aslinya.
“Makasih Bang!” kataku sebelum
pergi.
Abang ini udah jadi saksi sebulan
ini bagaimana runyamnya urusanku dan selalu bolak-balik ke sini.
***
Aku sudah menyerahkan print out jurnalku dan CDnya ke perpus
FKIP. Besar harapanku semoga besok bisa selesai juga karena aku meletakkannya
di atas tumpukan jurnal lainnya yang sudah terjanji esok akan selesai. *wish me
luck! Selanjutnya, aku ke bank BTN untuk membayar uang Sidang sebesar Rp 450.000. Alhamdulillah, aku hanya menunggu 7 nomor antrian lagi karena mahasiswa yang bayar SPP dilayani khusus oleh teller 3. Setelah selesai, aku segera menuju kosan Yana,
untuk menjemput HPku yang semalam ketinggalan di sana.
“Loh? Katanya masih nggak enak badan, ini mau ke mana?”
tanyaku ketika melihat Yana memanaskan motor.
“Mau beli nasi Kak.”
Yana mengambilkan HPku dan ketika ku cek…. Eh, ternyata
nggak ada BBM baru yang masuk. Hiksss..
“Kok nggak ada yang BBM Kakak sih?” keluhku.
“Emang biasanya banyak Kak yang BBM?” tanya Yana gantian.
“Nggak juga sih. Hehee.”
Mumpung sedang jumpa dengan fotografer pribadiku, aku
memintanya memfotokanku. *kambuh!.
“Kakak mau ke mana lagi setelah ini?”
“Rencananya mau ke BEM UR Dek. Okta minta Kakak ke sana
soalnya dia nggak ada kawan katanya.”
“Terus? Cuma duduk-duduk bengong
aja? Mending kita ke dalam aja Kak biar Yana beli makanan dulu yaa!”
“Iya deh! Kakak di sini aja.
Nanti sejam lagi baru ke Prodi ngurus SK Pembimbing.”
“Kakak belum ngurus SK Pembimbing
ya? Kalau kami, sebelum penelitian harus udah dibikin Kak.”
Yana pergi dan aku langsung masuk
ke kamarnya. Sekembalinya Yana, aku langsung ngerecokin makanannya sambil
bercerita tentang apa yang ku alami hari ini.
“Dekkk… tadi Kakak sempat
membathin kayak gini loh; ‘Kak, kasihan
loh anak Kakak nanti. Gimana tumbuh besarnya nanti kalau punya Ibu yang suka
ngeluh dan marah-marah gini?’ gitu loh Dek yang Kakak fikirkan. Kakak
bersyukurrrr banget dilahirkan oleh orang tua yang cerdas dan sangat bijak Dek
sehingga Kakak bisa seperti ini sekarang. Makanya, kita harus cerdas karena
anak kita nanti berhak terlahir dari ibu yang cerdas ya kan Dek? Terus, Kakak
juga tadi sempat berfikir; ‘Ada orang JAHAT
yang nggak nyadar kalau dia JAHAT’. Kakak itu bukan orang jahat Dek, tapi
dia nggak sadar kalau dia sedang JAHAT.”
Yana mendengarkan ceritaku sambil
manggut-manggut.
“Eh, Adek udah baca status FB
Kakak belum?”
“Belum. Kakak nulis apa
memangnya?”
Aku segera membuka FB dan
menunjukkan status prematurku tadi pagi.
“Nantilah Na baca Kak. soalnya
mulut sedang ngunyah, otak harus mikir pula. Apalagi status Kakak tu panjang
kali. Heheeh.”
“Kakak nulisnya jam 4 subuh loh
Dek! Ntah kenapa tiba-tiba pengen nulisin status itu setelah baca status
seseorang tentang mimpi S2nya. Dengan lancarnya Kakak mengetik seolah Kakak
sedang ngobrol dengan seseorang; mengalir aja dengan natural. Dan….langsung
post!”
“Ciyeee…Semalam Kakak pasti
tahajud dan berdoa untuk hari sabtu besok kan?”
“Hehhee.. iyaaaaa… hehehee,”
jawabku, malu-malu.
“Pasti Kakak deg-degan kan nunggu
hari sabtu?”
“Iyaaaa…hehehee,” jawabku,
malu-malu lagi. “Hari Sabtu ini akan menjadi penjelasan atas sesuatu Dek. Gimana
Kakak nggak deg-degan? Kakak akan segera tahu tentang dia. Bukan tentang dia
terhadap Kakak, tapi tentang dia terhadap dirinya sendiri. Ahaa! Judul blog
hari ini adalah; Mendoakan Sabtu, Dek! Sihiyyyy keyeeen kali ah!.”
“Sihiyyyyyy… Kakaaaakkk.”
Tiba-tiba… Yana membacakan status
seseorang di BBM; Di depanmu, aku
selalu menundukkan mata. Tapi di hadapanNya, terang-terangan aku memintamu
menjadi jodohku.
“Dek, sebenarnya boleh nggak sih
kita tu menyebut nama seseorang dalam doa kita? Dalam artian, kita meminta
supaya berjodoh dengan seseorang. Boleh nggak?” tanyaku.
“Emmm…itu kan doa ya Kak? Emm…boleh
Kak. Duluu…di zaman Nabi Ibrahim kalau nggak salah… ada seseorang yang berdoa
kayak gitu… terus, nabi Ibrahim menegurnya karena salah. Allah pun langsung
menegur nabi Ibrahim, Kak; ‘Kenapa kamu memarahinya? Dia kan hambaKu, maka
wajar saja jika dia berdoa seperti itu kepadaKu.’ Gitulah Kak kira-kira.”
“Berarti boleh ya?”
“Tapi Kak, hati kita kan mudah
berubah-ubah nih. Terus, kalau seandainya saat ini kita minta untuk berjodoh
dengan seseorang, eh tahun depan ternyata hati kita udah condong kepada orang
yang berbeda, gimana tu ya Kak? Apa Allah nggak bingung; ‘Anak ini minta apa
sih sebenarnya?’ hehe. Gimana tu ya Kak?”
Aku berfikir sejenak… “Hemmm…
Dari kebingungan Adek itu, Kakak jadi menemukan jawaban yang tepat nih untuk
pertanyaan Kakak tadi. Kita boleh meminta dijodohkan dengan seseorang, karena
Allah sendiri kan yang bilang; ‘Berdoalah kepadaku, niscaya akan ku kabulkan
permohonanmu’, yaaa meskipun apa yang kita minta selalu itu yang diberi. Nah,
bagaimana kalau hati kita berubah? Ya nggak masalah. Allah nggak akan bingung
karena sebenarnya Allah kan udah menggenggam sebuah nama di lauhul mahfuz untuk
kita. Yaa… kalau memang itu jodoh kita, pasti Allah mudahkan, kalau bukan ya
pasti Allah batalkan. Simpel kan analoginya Dek?”
“Hemmm…iya ya Kak Ciin.”
***
Bu Tiko menegurku ketika ia baru saja
ke luar dari Prodi. Aku segera masuk ke dalam.
“Paaakk… mau ngurus SK
Pembimbing..”
“Nggak ada urusan yang kayak gitu
kalau udah siang yaa. Urusan itu pagi. Kalau udah siang gini tinggal urusan
pribadi lagii,” jawab pak Riadi sambil tertawa kecil.
“Oooo… ya deh Pak. Emm…mau nanya
Pak, kapan ada jadwal ujian lagi Pak?”
“Insya Allah tanggal 3 ya. Tapi
SK kalian dibuatnya sekarang, supaya kalian nggak bayar SPP lagi.”
“Jadi, kami nggak terkejar lagi
ya Pak daftar Yudisiumnya?” tanyaku, to the point.
“Wahh…jelas ndak terkejar lah!
Belum minta tanda tangan dekannya, belum mencetak skripsinya, belum nyerahin ke
perpus lagi. Nggak bisa terkejar lagi. Jadwal ujian yang minggu depan tu cuma
untuk nyelamatkan kalian biar nggak bayar SPP.”
“Ohhh…yalah Pak. Permisi ya Pak.”
Langkah pertama ke luar dari
Prodi langsung membuatku berfikir keras tentang 2 kemungkinan. Terkejar daftar
Yudisium dan bisa wisuda bulan Februari ini atau wisuda bulan Oktober dan
jalankan plan B; Bisnis dan punya rumah idaman sebelum wisuda. Aku malah jadi
senyum-senyum sendiri ketika mempertimbangkan 2 hal tersebut. Dannn… tiba-tiba
aku tersadar bahwa diantara 5 sahabat Januari, memang aku yang paling cepat
mengerjakan SKRIPSI, tapi aku yang paling terlambat memulainya.
“Elissssssssss!” sapa Riris dari
parkiran motor.
“Ririiiiiiiiissssss!” balasku.
Kami berpelukan dan aku
menyindirnya; “Ciyee…masih kurus aja nih!” dan dia pun membalasnya; “Ciyeee..makin
gendut aja nihhh!”. Because friendship is never end.
***
Setelah sholat maghrib dan
mengaji, aku memfoto doa Khatam Quran, di halaman paling belakang Alquran
tersayang. Ada 3 doa luar biasa yang ku foto dan berniat ku sebarkan. Hal yang
paling nyesek di antara ucapan terimakasih dan haru penerimanya, ada 1 komentar
yang ‘tajam’ banget rasanya…
Udah adek baca. Tapi nggak ngerti
apa maksud mak ngirim itu?
Ya Allaaahhh.. ngirim doa sebaik
itu pun
harus nunggu sebuah ‘maksud’?
Bukan gituuuu… aku lebih menunggu
kabar dan
cerita yang tertuang di blogmu. Karena jika doa,
tanpa mak beri pun
kita sudah saling mendoakan..
Halahhh… preett..sok-sok gombal! Itu
doa untuk diri sendiri loh sifatnya yang mak kirim barusan.
Mak, adek mual-mual nih habis
jadi supir ke rengat.
Hah? Istirahatlah lagi.
Nggak ada
obatnya tuh selain istirahat.
Iya mak….makanya ini sampai
muntah-muntah. Sekalin sambil minum teh hangat juga.
Rasa tersinggungku malah
tiba-tiba enyah dan berubah jadi kekhawatiran. Huh, dasar bocah bububuuyuu!
Okta memanggil… “Hallo?”
“Haloo bububuyuuu? Ada apa?”
jawabku.
“Okta sayang Kakak. Daaaa…
Assalamualaikum!”
“Apanyaaa? Waalaikumsalam.” Sepertinya
dia sedang dapat gratisan nelvon per 5 detik. Haha.
Okta memanggil…. Lagi.
“Apa lagiii?” jawabku.
“Jangan lupa makan yaaa..
Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Beberapa menit kemudian… dia
menelvon lagi.. hanya untuk mengatakan; “Jangan lupa kerjakan skripsinya yaaa.”
Dasar kurang kerjaan nih bocah! Bububuyuuuuu……..
Grrr!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar