
Kata orang… “Jangan menyebut nama
seseorang yang kamu sukai, ketika berdoa kepada Allah atau malah meminta Allah
menjodohkannya denganmu. Itu artinya, kamu sedang MENDIKTE Allah.”
Menurutku… “Allah tidak akan
pernah salah dalam memilihkan jodoh untuk kita. Bahkan, sejak ribuan tahun yang
lalu sebelum kita diciptakan, jodoh kita telah tertulis namanya di Lauhul Mahfuz. Jika nama yang kita sebut
itu ternyata benar jodoh kita, Allah pasti akan memberikannya untuk kita.
Namun, jika ternyata bukan, Allah akan menggantikannya dengan yang lain. Semudah
itu bagiNya.”
Menyebut atau tidak menyebut nama
seseorang dalam doa sah-sah saja. karena, sekalipun tidak disebut, Allah akan
tetap mengetahui bahwa hati kita menyebut-nyebut sebuah nama. Jangankan suara
hati, bahkan Allah pun tahu hal yang lebih ‘halus’ daripada itu.
*Menyebut nama dalam doa –
Metamor(Prosa)
***
Galauku masih berlanjut pagi ini. Setelah sholat Subuh, aku khusyuk mengotak-ngatik HP yang sinyalnya belum juga muncul sampai sekarang. Aneh! Padahal ketika ku cek, kuotaku ternyata masih ada. Penyesalan karena menginstal ulang mulai berdatangan. Selain karena pengaturannya berubah, peluncurnya juga jadi beda. Hemmm… sadarlah aku bahwa aku memang tidak selalu suka dan siap menerima PERUBAHAN. Sekalipun itu lebih baik (sebenarnya). Aku lebih suka dengan tampilan yang sebelumnya. Hiksss…
“Ya Allah……. Riwayat chatnya
manaaaaaaaaaa?” pekikku ketika aku kembali log in ke BBM.
Mendadak, moodku langsung
berubah. Benar-benar sedih plus suntuk. Seumur hidup, aku nggak pernah
menghapus riwayat chatku dengan orang lain. Sekalipun itu bukan orang terlalu
penting bagiku. Hal ini menyadarkanku bahwa aku terlalu SAYANG untuk MEMBUANG
sesuatu yang sudah hadir dalam hidupku. Aku uring-uringan di kamar.
“Agrhhhh…kayaknya semalam udah ku
cadangkan ke email deh! Tapi kok cuma kontak dan chat grup aja yang bertahaaaan
ya Allah?” aduh-ku lagi.
Terutama tentang beberapa orang.
Aku berharap bisa memelihara chatku dengannya se-lama yang aku bisa. Tapi,
ternyata Allah punya rencana lain. Hari ini semuanya menjadi BARU. Beberapa
saat kemudian, aku jadi sadar, Allah nggak mungkin nggak punya TUJUAN dibalik
kejadian ini. Mungkin Allah ingin memBARUkan aku; semangatku, harapanku,
perasaanku.
Kontak pun pada ludes. Chat
privatku otomatis pada ilang karena kontak di HP pada hilang. Yang tertinggal di whatsapp hanya grup-grup
yang ku ikuti saja. Masih bersyukur deh, karena nggak ludes semuanya. Aku
berusaha membuatku bisa senyaman mungkin dengan HP ‘baru’ ini. Ku transfer
ulang foto-foto dan lagu dari laptop ke HP dan ku ganti wallpaper dan beberapa
pengaturan yang bisa ku pulihkan seperti sebelumnya. Barulah, semuanya jadi
lebih baik sekarang. Aku kembali belajar; ternyata, antara HP dan pemiliknya
pun harus punya KEMISTRI. Seperti aku dan VIVO kesayangan. Ada yang berubah
dikit aja langsung panik. Haha… Welcome new handphone…semoga semakin jaya!
***
Aku sudah mandi, sudah sholat
Dhuha, niatnya mau langsung ke kampus untuk ngajuin surat permohonan ke Dekan
untuk membuatkan surat Yudisium. Baru aja ku selesaikan suratnya. Niatnya mau
ngeblog bentar, tapi pas ku cek modemku eh ternyata quotanya udah habis.
Huahhhhhhh! Jadi pengen banget beli paket lagi, tapi bakal mubazir ntar kalau
awal maret ini aku udah pengabdian. Moodku berubah lagi! Mendadak, aku malas ke
kampus. Ku pesan nasi bungkus dan menikmatinya sambil nonton comic story. Yep,
aku butuh tertawa kali ini! Keningku masih berkerut sejak insiden hilangnya
chat history tadi..
Banyak
kenangan tertulis yang hilang ya?
Sabar yaa.. kan udah tertulis di diarymu..
Lia baru membalas BBMku. Aku malah
membalasnya dengan sebuah puisi..
Ini
adalah JARAK ter-AMAN antara kamu dan aku.
Terlalu
dekat, justru akan saling MENYAKITI.
Aku
ingin memilikimu dalam JARAK dan DOA.
Tak
harus DEKAT dan SATU..
Tentu saja, Lia tidak akan serta
merta merasa heran padaku. Karena, dia adalah salah satu orang yang memahami
keanehanku. Aku mengirim kata-kata itu ke grup MAWAPRES. Dan, tebak apa yang
terjadi? Dek Nanda berkomentar seperti ini; Nggak faham Nanda Kak. Terlalu sulit memaknai. Tapi,
kata-katanya bagus. Dan ditimpali oleh Teguh; Selamat Nanda. Kamu tidak sendiri. Buka kamus
metafisika dulu. Aku
tertawa membaca komen-komen mereka di sana. Kemudian, aku beralih ke Instagram
untuk mengecheck beberapa pembaruan di sana. Untunglah , Instagram tidak
seperti BBM atau WA; postinganku masih rapi dan utuh pemirsaaa. Tapi, tunggu
dulu! Ada 1 pesan yang membuatku naik darah. Grrr! Nggak sopan! Dan tanpa fikir
panjang, langsung ku blokir pertemananku dengan dia. Kemarin, aku membalas
pesannya hanya bermaksud untuk mengharga dan sopan kepadanya. Tapi? Lihat
sendiri deh!
Boleh kenalan?
Namaku udah jelas kan? Aku jurusan pendidikan
Ekonomi.
Ohh. Aku Sosiologi UR. Kamu semester berapa?
Aku Alhamduilllah udah selesai 10 Februari
kemarin.
Boleh minta no. HP?
Buat apa?
Ya supaya lebih mudah kenalannya.
(Kemudian nggak ku balas lagi dan
inilah yang pagi ini dikirimnya kepadaku)
Hai cantiiikkk… Bangun gih udah siang. Mana
no.HPnya?
Emang dia fikir, eke cewek apakah
cinn? Huft! Indikasinya seperti ini; Kalau ada cowok yang bilang ‘Hai, boleh kenalan?’ kamu seharusnya
udah bisa mengukur kapasitas si cowok. Karena cowok yang ELEGAN nggak akan
mungkin berkata seperti itu. Dia pasti akan menemukan cara untuk mengenal kita
dengan caranya yang ELEGAN pula.
Kak… Yana mau jual HP..
Lain Lia, lain aku, lain pula Yana.
Yana adalah orang yang paling sering gonta-ganti HP. Kadang, aku bertanya di
dalam hati; ‘Kok bisa semudah itu melepaskan sih?’ Berbeda denganku; kalau
bisa, HP ini satu untuk selamanya dan bisa mengakomodir semua kebutuhanku
sehingga aku benar-benar tak beralasan untuk menggantinya dengan yang baru. Aku
benar-benar nggak habis fikir dengan makhluk bernama Yana ini pemirsaaa.
Padahal, HPnya yang sekarang ini sama dengan HPku sementara dia membelinya
hanya dengan separuh harga. Kurang apa lagi cobaaa?
***
Usai sholat Ashar, aku mendapat BBM
yang mengejutkan dari kak Suci; Kamu
kenapa nggak datang tadi?
Aku benar-benar nggak tahu ada pengumuman apa sehingga hari ini harus ke PSB
(Pusat Studi Bencana) UR. Perasaan, tadi pagi di grup BBM RDDSIBU hanya ada
bahasan tentang Jodoh, blog dan Cinlok deh. Karena penasaran, akhirnya ku
tanyakan kepada Riski, Riko dan Juna. Ah, ternyata semalam ada pengumuman bahwa
pagi ini harus ke PSB karena ada arahan dari bu Riri. Yang membuatku seram
adalah ketika mereka mengatakan bahwa bu Riri sangat kecewa karena kami nggak
komit. Huahhhhhhh Bukkk, Maaf, Elis benar-benar nggak tahu informasi loooh.
Aku kembali melanjutkan menulis.
Yap, beginilah pekerjaanku kalau sedang mengurung diri di kamar. Kalau nggak
nulis ya baca. Udah, itu doank! But, I am enjoying this too much. Di kalangan
keluargaku, PENULIS adalah profesi yang tak pernah menjadi pembahasan dan
tujuan. Besar harapanku untuk bisa menjadi PENULIS populer dan bisa menjadi
diriku sendiri. Tapi, agaknya perjalanan menuju ke sana bukanlah semulus dan
selancara jalan TOL. Bak kata pak Haris; Jadilah
orang-orang yang SUNYI (Menyendiri dan merenungi diri). Oh ya, hari ini pak
Haris dilantik sebagai Pejabat Eselon 1 Badan Restorasi Gambut. Selamat untuk
pak Harisss! PSBnya jangan ditinggalkan ya Paaak.
Oh ya, by the way, aku ngelihat bu
Riri dan teman-teman di grup cukup menunjukkan indikasi kecanduan dengan
blogku. Pagi ini aja, bu Riri udah berkali-kali minta link tulisanku yang baru.
Hemmm…semoga kesan bagus ini tidak rusak hanya gara-gara hari ini kekhilafanku
hari ini. Hikss.
Dek? Di mana? Mak mau bayar Utang.
Ku kirimkan pesan itu kepada Teguh
sebelum meluncur menuju ATM di Rektorat UR untuk menarik uang dan kemudian
melaju ke Bina Krida untuk mengisi pulsa Modem. Aku bisa memilih paket internet
seminggu setidaknya menjelang keberangkatan. Di konter pulsa ini, aku sempat
tergiur untuk membeli power bank Xiaomi yang sedang promo. Hanya Rp 65.000
sebesar 42.000mah. Tapi, aku agak curiga. Akhirnya ku tanya pada bang Wira dan
bang Wira tidak merekomendasikan aku untuk membelinya. Bang Wira punya merk
yang sama, harganya Rp 345.000 hanya 10.500mah. Iya juga sih, nggak mungkin
bisa semurah ini harganya sekalipun sedang diobral. Bang Wira menyarankanku ke
ASIAPHONE di Mall Pekanbaru kalau ingin mendapatkan yang asli dan berkualitas.
Selanjutnya, aku menuju Manyar Sakti
untuk bertemu Teguh. Ternyata dia sedang ngumpul bareng sahabat-sahabatnya;
Gompar, Pea dan Ospa. Setelah menyerahkan utangku padanya, ia bercerita tentang
pengalamannya menjadi pembicara dalam forum Mahasiswa Farmasi se-Indonesia
kemarin. Aku baru tahu ketika melihat Instagramnya. Super duper dah anakku yang
satu ini! Keceeeee banget! Mak bangga padamu Nak. Sesukses apapun kamu kelak,
jangan pernah lupakan mak yaa. Huhuuuu. Tujuan selanjutnya adalah Mie Goreng
Brebes.
“Mas? Baru buka lapak yaaa?” tanyaku
tanpa turun dari motor.
“Iya Mbaak. Wah, masih agak lama ini
Mbak siap-siapnya.”
Akhirnya ku putuskan untuk membeli
nasi bungkus Ampera 8000 di sebelahnya. Ini adalah nasi padang yang nikmat
banget menurutku, murah lagi hanya Rp 8000 loh. Oh ya, kadang aku bertanya
dalam hati; Mas-mas yang jualan mie goreng ini sholat apa nggak ya? Kalau
sholat, di mana? Kadang suka miris banget ketika pulang kampung, pasti
orang-orang yang semobil itu hanya beberapa aja yang sholat. Hiksss…. Ternyata
di dunia ini banyak MUSLIM yang nggak sholat, pemirsaaaaa.
***
Meskipun Zira udah rela menunda
pulangnya hari ini, ternyata Tian tetap aja nggak bisa reunian bareng kami. Ah,
dengan atau tanpa Tian, pertemuan ini harus tetap berlangsung. Yang penting,
ada Putri, Nandip, Zira dan aku. Fix! Tadi Tian sempat menyarankan untuk
ketemuan di Arifin Ahmad karena jam 20.30wib dia ada janji katanya. Aku
langsung menolaknya karena kami berempat kan dari Panam, kok ‘niat’ banget
ketemu dia yang sendirian sampai jauh-jauh ke Arifin Ahmad? Hehe.
“Hallo Mbak? Udah di TKP?” tanya
Zira.
“Belum Ra. Ini sedang siap-siap.
Langsung ke TKP aja ya Raa.”
Aku segera bersiap-siap dan tampil
sesantai mungkin. Meskipun gerimis cukup deras, aku tetap menebasnya demi
sebuah janji. Zira sudah di sampai duluan ternyata. Aku segera masuk ke dalam
Café Ice Cream Durian yang baru buka lapak tapi selalu ramai pengunjung ini.
Sambil menunggu Nandip dan Putri, kami memesan menu. Aku memilih Ice Cream
goreng dengan topik Cokelat. Oh ya, Zira membawa teman dekatnya juga. Namanya
Tuti. Awalnya aku mengira dia orang Jawa, ternyata Ocu.
“Ihh..Gustian kok gitu sih Mbakk?”
keluh Zira.
“Padahal udah Mbak bilang loh,
kasihan Zira karena udah rela nunda pulangnya demi malam ini. Mungkin dia waktu
tadi bikin janji sama temannya itu dia nggak nyadar kalau dia udah ada janji
sama kita, Raa,” jelasku.”
Nandip baru saja datang. Tapi
ternyata tanpa Putri. Putri baru selamat dari Penjambretan tadi sore katanya.
Ah, mungkin dia sedang trauma dan tidak ingin pergi ke mana-mana dulu malam
ini.
“Pesan langsung menunya Ndip, kami
udah pesan soalnya,” kataku.
“Di sini ada yang selain es nggak
ya? Soalnya magh-ku barusan kambuh nih,” kata Nandip sambil memegangi perutnya.
Akhirnya ia memesan jus mangga tanpa
es. Oh ya, dulu aku memanggil Nandip dengan ‘Nadin’. Karena, nama Nandip
menurutku agak aneh dan nggak lazim, hehee. Sekarang, setelah cukup lama tidak
bertemu akhirnya lidahku bisa normal memanggilnya ‘Nandip’. Padahal nama
aslinya Nadzifatunnikmah. Ntah gimana mulanya bisa jadi Nandip gitu.
“Selamat menikmatiiii..” kataku
ketika pesanan kami sudah tiba.
Hemmm… enak banget ternyata menu
yang ku pesan ni. Gurih banget, tapi sayangnya cuma sedikit, hehee. Esnya nggak
terlalu banyak, hanya sedikit dan tersembunyi di tengah roti goreng seperti
selain roti posisinya. Hemm..nyummiiii. Kami pun mulai bernostalgia, mengenang
masa-masa bimbel di QR yang sangat bersejarah itu.
“Eh, kalian masih ingat nggak sih dulu
kita sering makan ke kantin di seberang jalan itu?”
“Masih-masih. Tapi, sekarang udah
tutup warungnya. Kemarin Nandip sempat pengen mampir lagi ke situ, tapi udah
lama nggak ada ternyata.”
“Sampai sekarang, setiap Mbak ke
Ramayana, Qodim atau Ciputra, Mbak pasti selalu ingat sama kenangan kita waktu
di QR. Ya ampuuun, ke sinilah ya kita jalan-jalan dulu. Walaupun nggak ada yang
dibeli, hehee.”
“Iyaaa..nggak terasa, sekarang
sebagian besar dari kita udah pada wisuda. Udah pada kerja juga bahkan. Zira
udah, Mbak El udah. Aku nih yang belum,” tutur Nandip.
“Eh, gimana ya kira-kira kalau Mbak
El nikah sama Gustiaan? Kita datang yok besok Nddiipp,” celetuk Zira.
“Apaan sih Ra?” balasku.
“Dulu Mbak El kagum kan sama si
Gustian ituu?”
“Hahaa.. itu kan masa lalu Raaa. Eh,
tapi kemarin Mbak pernah nanya sama dia, tentang awal kami kenal. Ternyata dia
udah nggak ingat lagi. Yang dia ingat, kami pernah sekelas. Itu aja. Syukurlah!
Mbak pun malu kalau seandainya dia masih ingat. Kalian masih ingat kan Ndip,
Ra?” tanyaku.
Nandip dan Zira geleng-geleng
kepala. Tak ubahnya seperti Gustian. Ah, ternyata memang hanya aku yang masih
ingat. Ntah karena aku memang pengingat kenangan yang paling ulung atau karena
ada sesuatu yang masih tertinggal dan membekas di sana? Ntahlah! Yang jelas,
malam ini kami bisa tertawa lepas ketika menceritakan kekonyolan-kekonyolan
yang terjadi selama bimbel. Aku paling nggak bisa melupakan bagaimana mereka
menyambutku yang datangnya udah lewat tengah malam dan paling terlambat,
huahhhhh. Mereka memanggilku ‘Mbak El’ padahal aku yang paling muda loh di
kamar yang penghuninya 10 orang itu. hihiii. Aku rindu dan akan selalu rindu
kalian semua woooy. Semoga kita hingga ke Syurga. Aamiin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar