Kau adalah seseorang yang
berjalan menunduk. Ntah apa yang sedang kau lihat di bumi. Sementara aku adalah
LANGIT. Berada di atasmu dan jarang sekali kau jenguk. Padahal, sebisa dan
sesering mungkin, aku selalu membentuk awan-awan yang indah untuk kau lihat.
Tapi, tetap saja wajahmu tertunduk. Hingga matahari berpamitan lagi kepada hari
dan aku kembali menjadi langit GELAP. Malam..
*Aku adalah langit –
Metamor(Prosa)
***
PAGI ini adalah PAGI yang dulu. Kembali ku awali pagi bersama Rini. Aku rindu sholat Subuh berjamaah seperti ini. Rini menjadi makmumnya dan aku menjadi imamnya. Rindu ini terobati sudah. Rasanya ingin ku kekalkan saja momen ini. Tapi, tak ada yang MUNGKIN untuk khayalanku yang satu ini kecuali dengan cara MENULISKAN tentangnya.
“Eh, berarti hari Jumat aku udah harus pulang nih!” celetuk
Rini tiba-tiba.
“Kenapa gitu? Ada apa rupanya?”
“Soalnya tanggal 27 tu sepupuku nikah. Hari Sabtu akadnya,
hari minggu resepsinya. Kalau aku pulangnya hari Sabtu ya pasti nggak
terkejarlah kan ngelihat akadnya?”
“Mesti kali Rini buru-buru gitu? Memangnya kalau Rini nggak
datang, bakal bubar acaranya?”
“Hehhee..iya jugak yaa? Mana ngaruh aku di sana ada atau
nggak.”
“Nah, yang penting hari minggu bisa datang. Jadi, dari sini
hari Sabtu ajalaaah,” usulku. Rini setuju.
Jika aku mampu, ingin sekali ku tahan Rini di sini hingga
berhari-hari lagi setelah Sabtu.
“Rin, aku kangen banget loh dengan pagi yang kayak
gini. Aku Rindu ketika membuka mata ada
Rini. Aku rindu dengan keajaiban kamar ini; ketika aku pergi masih berantakan
dan ketika aku pulang udah Rini rapikan. Aku juga rindu ngetawain lagu-lagu
koreamu yang ku aransemen semua.”
Rini ikut tertawa bersamaku.
“Eh Riiiinn! **an menandaiku di Instagraaaammm! Lihat niih!”
Ku tunjukkan screenshoot video pendek Tom yang menertawakan
rumus-rumus rumit yang seharusnya dipusingkan. Ku baca caption di postingan
itu; Yap… terkadang soal-soal yang
susah tak perlu dibawa serius.. buat melawak sekali-kali..
“Rin, ini udah 7 jam yang lalu. Berarti dia nge-tag ini jam
12 semalam, Riin. Kok dia belum tidur ya? don’t-don’t, dia sedang lembur. Acian
yah?”
Aku langsung mengomentari postingan itu tepat setelah
komentarnya yang mentag namaku; Ngakaak
aku pagi-pagi, ahahaa.. thx Mr.****. Mungkin balasanku itu terlihat
biasa saja, tapi sebenarnya ada hal yang luar biasa yang terselip di sana.
Berikutnya, hal yang lebih membahagiakanku adalah ketika beberapa saat kemudian
komentarku dibalas olehnya; hahhaha..
biar sang penulis @elysarizka ini nggak terlalu serius yaa.. ^_^.
“Rin, cuma namaku loh yang ditag sama dia. Dan komentarnya
selalu jadi komentar terakhir di postingan yang dia komentari. Ini udah 2 kali
Rin dan aku selalu menjadi satu-satunya orang yang ditag-nya.”
“Gantian lah El nge-tag namanya sanaa! Hahaa.”
“Nggak sekarang lah Rin. Kapan-kapan aja. hehe. Hemmm… nggak
apa-apa Rin dia muncul sesekali seperti ini, asalkan setiap kali ia muncul, aku
selalu menjadi orang yang satu-satunya spesial baginya. Sihiiiyyyy.”
Aku segera mengabarkan kabar baik ini kepada seorang adik..
Hahaa.. Kakak
dinasehatin untuk refreshing tu kak.
Nonton yang
lucu-lucuu.
Iyaa Dek.
Bahagia kali kakak meskipun hanya sepintas gituuu.
Bahagianya kakak
cukup sederhana yaa.
Haha,, iya adindaaa. Kata orang, semakin kecil ukuran
Kebahagiaan kita, maka semakin mudah bersyukurlah kitaaa.
Sepakaaatttt
kak. biar semakin menghargai hal-hal
kecil ya kak.
***
Aku mengantarkan dek Ami ke sekolah di jalan Swakarya.
Setelah itu, aku mampir sebentar ke warung langganan untuk membeli sarapan. Aku
seperti biasa memesan bakwan pecal sedangkan untuk Rini lontong sayur. Kami
menikmatinya bersama sambil menonton videonya skinnyindonesian24. Kebiasaan
lama yang sudah lama tak kami lakukan bersama.
“Berarti Rini bareng nih ke kampusnya sama aku?”
“Iyalah. Tapi aku mau jemur baju dulu ya.”
Awalnya Rini merasa segan karena cuciannya cukup banyak.
Segan kalau dilihat oleh kak Dewi. Tapi aku berusaha menenangkan Rini dan
membuatnya nyaman di sini. Aku yang akan menjamin keamanannya! Setelah menjemur
baju, kami bergerak meninggalkan kosan. Rini ku antarkan ke puskom sedangkan
aku langsung menuju FKIP.
Ku tanyakan kepada beberapa junior tentang jadwal bu
Maghdalena, bu Feni dan pak Sumarno. Yang bisa ku temui hari ini hanya bu Lena
karena bu Feni sedang sakit sedangkan pak Sumarno tidak ada jadwal mengajar
hari ini. Sambil menunggu bu Lena mengajar, aku mencoba menghubungi beberapa
orang untuk memastikan apakah gelar pak Dekan FKIP sudah Profesor atau belum?
Ah, tapi memang nasibku yang kurang beruntung hari ini, ternyata tak ada satu
pun dari mereka yang mengangkat telvonku. Arghhhh! Plis, aku sedang butuh
informasiii!
“Kak, coba hubungi nomor ini!” kata dek Afrizal sambil
menyodorkan HPnya.
Alhamdulillah diangkat. Segera ku tuliskan gelar Prof. di
ujung nama pak Dekan dan bergegas lembar pengesahan itu ku prin ulang.
Flasdisknya dek Rizal ku Sandra dulu. Karena di tempat Ocu masih sangat padat
antrian, aku berlarian ke tempat Ajo. Syukurlah aku hanya menunggu 1 orang
saja.
“Pas uangnya ya Jooo.. makasiiihhh!”
Aku berlarian menuju dek Afrizal dan menyerahkan kembali
flasdisknya. Langsung saja aku standby di luar kelas bu Lena untuk menunggunya
hingga kelas usai.
“Kakak nunggu Bu Lena juga ya?”
Namanya dek Tari. Ternyata dia lebih parah; sudah sejak tadi
pagi ia di sini menunggu. Ahaaa! Sambil mengisi waktu, aku meminta tolong
kepadanya untuk memfotokanku di dekat tangga yang tersandar di dinding. Ah, memang
kurang kerjaan banget aku ya? hehee. Tapi yang jelas, I am happy…
“Makasih ya Deekk,” kataku setelah cukup banyak jepretan.
Bu Lena ke luar dari kelas dan kami segera menyapanya.
Beliau mengajak kami bimbingan di ruang Prodi supaya lebih nyaman. Tapi ternyata
setelah kami menunggu lama di Prodi, beliau malah meminta kami turun ke ruang
dosen saja. Ah, ternyata ruangan bu Lena masih baru dan harus dibersihkan
terlebih dahulu debu-debu ruangannya. Aku dan 3 orang junior menunggu di luar
karena ada mahasiswa S2 yang bimbingan dengannya.
“Duh, kayanya obrolan mereka akan cukup lama juga nih!
Soalnya kedengaran mereka nggak hanya membahas tentang tesis, tapi juga tentang
keluarga , hehee,” kataku kepada yang lainnya.
Ternyata berdiri itu cukup melelahkan sekalipun nggak
melakukan gerakan apapun. Akhirnya aku jongkok juga di depan ruangan. Dan tak
lama kemudian, bimbingan pertama selesai dan aku segera masuk. Ku sodorkan
lembar tanda-tangan penguji SKRIPSI kepada bu Lena.
“Ini gelar saya ada yang kurang… Tambahkan CA yang
dibelakangnya. Kamu print ulang dulu yaa.”
“Oh, mari saya perbaiki dulu Buu. Permisi.”
Huhuuu… gara-gara 2 huruf, waktuku harus dihabiskan 2 menit
setidaknya untuk mengeprint ulang. Ah, lagi-lagi aku harus tegesa-gesa menuju
Ajo. Kali ini antrian cukup padat dan setelah giliranku tiba, mendadak ada
perempuan yang menyerobot giliranku..
“Kak, permisiiii saya dulu ya Kak? Plissss, saya cuma mau
ngeprint 3 lembar kok Kakk. Pliss Kak?”
Aku mengangguk. Padahal yang akan ku print jauh lebih
sedikit daripadanya; 1 lembar. Tapi ku izinkan ia mendahuluiku. Di dalam hati,
aku berdoa; ‘Ya Allah, atas kemurahan
hatiku ini, mohon mudahkanlah urusan dunia dan akhiratku.. aamiin.’
“Kak, boleh minjem flasdisknya?” tanyaku kepada wanita
penyerobot antrian tadi.
“Boleh. Nanti kalau udah, titipin ke Ajo aja yaa,” jawabnya,
ramah.
Ah, mungkin inilah hikmahnya. Terimakasih telah
menyelamatkan fakir flashdisk seperti aku ini ya Allah. Setelah print selesai,
aku bergegas lagi menuju ruang dosen.
Kali ini aku harus bisa lebih bersabar karena ada 1 junior yang sedang
bimbingan di dalam. Setelah ia selesai, barulah aku bergegas masuk ke dalam.
“Kalau di kampus, gelar ini memang wajib. Kalau di rumah sih
saya biasanya dipanggil ‘Lena’ saja dan saya tidak masalah dengan itu. Kalau di
lingkungan akademis seperti ini kan bisa berpengaruh pada ‘harga jual’ dan
personal branding. Makanya, harus lengkaaap,” jelas bu Lena padaku.
“CA itu apa kepanjangannya Bu?”
“Certified Accounting. Lulusan akuntansi yang sudah
tersirtifikasi begitulaaah.”
Oh, aku faham. Seperti sarjana FKIP, kan ada juga
sertifikasinya untuk profesi keguruan. Nah, kurang lebih seperti itulah.
Setelah bu Lena menandatangani, aku segera permisi. Lega rasanya. Besok aku
harus kembali bertemu du Feni karena tanda tangannya kemarin di atas kertas
yang gelar Dekannya masih kurang. Huhuuuu… inilah akiibatnya kurang teliti dan
nggak mau bertanya, akhirnya harus bekerja 2 kali.
“Cuy! Siap-siap yaa ke luar dari puskom. Aku jemput nih!”
Aku segera menuju puskom dan kami bergerak menuju tempat
makan siang pilihan Rini; Sambal Lesung. Soalnya kalau nambah nasi gratis
cuyyy, hehe. Kami memesan menu yang sama; Sayap ayam+nasi. Aku memesan teh es
jumbo sedangkan Rini hanya minum air putih karena flunya belum sembuh juga.
“Rini udah lamaa juga ya nggak pernah sholat di mushola
Arrafah? Yuk mari kita sholat di sanaaa!” ajakku setelah makan siang selesai.
“Iyaa. Udah lama juga.”
Rini memperhatikan bagaimana tukang parkir membantuku
mengeluarkan motor dari pekarangan warung yang cukup padat ini.
“Gitu baru tukang parkir teladan. Bukannya ngebiarin orang
yang susah payah ngeluarin motor,” kata Rini.
“Iyaaa Rin. Rini tahu MAGABU?”
“Apa tu?”
“MAkan GAji BUta. Itulah istilah untuk orang-orang yang
hanya berharap diberi upah, tap kerjanya ogah-ogahan.”
***
Aku masih merapikan jilbabku. Tak menghiraukan teriakan
Rini.
“Rin, siang ini Rini harus melayani aku! Rini tahu kan apa
yang harus Rini lakukan?” lirikku dengan tajam padanya. Misi dimulai!
Aku membawa Rini ke suatu tempat. Tapi akhirnya batal karena
kondisi tempatnya sedang sadang ramai. Tak sengaja, mataku melirik café kosong
di pertengahan Balam Sakti. Setahuku, café ini pernah ramai sebelumnya. Tapi
setelah ku perhatikan dengan seksama, ternyata café ini lebih mirip café yang
ditinggal pemiliknya tiba-tiba. Masih banyak kapur warna-warni, bangku-bangku
antic, angklung dan juga stand mic beserta speakernya. Ah, aku suka banget
konsep ini! Langsung deh kami beraksi.
“Rin, coba ngambilnya dari angel yang berbeda! Sini-sini ku
arahkan!”
Kata orang, selain berbakat menjadi model, aku juga berbakat
menjadi fotografer. Aku memang suka difoto, tapi aku juga pandai menentukan
angel bidikan. Kombinasi yang menarik! Beruntung aku dekat dengan orang-orang
seperti Rini dan Yana yang tidak suka berfoto tapi suka memfotokan.
Alhamdulillah ya pemirsaaa. *Kedip satu mata.
“Rini mau ku fotoin gantian?”
“Nggak usah ah..”
“Oh ya udah, baguslah kalau gitu, hehee.”
Dan setelah puluhan foto ditangkap dari berbagai sudut, ku
lihat-lihat ternyata memuaskan banget hasilnya. Nggak salah milih fotografer
nih berarti! Tujuan kami selanjutnya
adalah PUSKOM. Kami mau wifian sambil download video-video skinnyindonesia24
yang terbaru.
“Pasti mau langsung El post kan foto-foto tadi?”
“Nggak ah. Buru-buru amat? Hehe. aku pilih dulu lah beberapa
aja.”
Sementara Rini mendownload video, ku serahkan juga laptopku
padanya supaya bisa mendownload dari 2 PC sekaligus. Hemat waktu donk beb!
Sudah lamaaaa banget kami nggak duduk berdua di sini ternyata. Aku rindu. Dan
hari ini, terbayarkan semua.
***
“Udah tutup ya Dek. Udah jam 3 sekarang,” kata petugas
puskom kepada kami.
Aku dan Rini duduk di teras PUSKOM karena ada 1 video yang
masih 3 menit lagi selesai terdownload.
“Rin, aku ingin jatuh cinta berkali-kali kepada suamiku
nanti. Berkali-kali dan setiap hari. Kayak Kak Dila kepada Bang Yaman. Kakak tu
pernah cerita sama aku, katanya dia selalu menemukan hal-hal yang nggak
disangka dari suaminya. Dari sanalah dia berusaha memelihara cintanya kepada
bang Yaman.”
“Aseeeekkk. Jatuh cinta berkali-kali kepada orang yang sama
ya berarti.”
“Yupsss.. Pengen nggak Rini kayak gitu?”
“Ya tentu pengenlah El! Emang ngeri ya omongan orang yang
udah berumur kayak kita nii. Ehehe.”
Cerita kami segera berpindah dari tema percintaan ke
pengabdian.
“Rin, aku agak miris loh ketika kemarin aku cerita tentang
pengabdianku nanti ke *** dan dia langsung nanya gini; ‘Itu nanti digaji nggak
kalian?’. Bener-bener nyesek loh Rin. Untunglah orangtuaku nggak kayak gitu.
Mereka memang nggak terlalu faham dengan hal-hal kayak gini, tapi mereka mau
MEMAHAMI penjelasanku. Ini adalah salah satu alasanku nggak mau sembarang
bercerita sama orang. Untunglah Rini berbeda. Untunglah ketika kemarin aku
cerita ke Rini, Rini ngggak nanya kayak tadi.”
“Aku pun miris El waktu dulu aku ikut kepanitiaan PPRU dan
temanku langsung nanya gini; ‘Dibayar berapa kau Rin? Pakai nasi bungkus?’ Ih,
picik kali kan pikirannya? Nasi Bungkus itu murah banget loh kalau dibandingin
dengan pengabdian kita. Terlalu kecil dan sepele kalau hanya nasi bungkus
ukurannya.”
“Nanti kalau kita jadi orang tua, kita harus jadi orang tua yang visioner ya
Rin. Kita harus mendukung hal-hal positif yang ingin dilakukan oleh anak kita.
Karena, nanti di masa depan pastinya kegiatan-kegiatan positif itu akan semakin
banyak jenisnya. Aku kasihan dengan anak-anak orang tuanya punya pemikiran
sempit Rin; takut kalau anaknya bagai katak yang hidup di dalam tempurung.
Padahal sebenarnya dunia di luar sana sangat luas. Hemmmm..”
Setelah download-anku selesai, kami segera pulang. Azan shar
sudah berkumandang, aku dan Rini segera menunaikan sholat Ashar berjamaah. Aku
Rindu memegang tangan Rini sebelum ku mulai takbir pertama. Ah, sampai kapanpun
kenangan kita akan selalu ku rindukan, Rin. Kamu ketahui atau tidak.
***
“Rin, tadi dapat berapa banyak hasil palakanmu?” tanyaku.
“Ada 5 kayaknya. Yuklah kita tonton!”
Kami menonton beberapa judul video terbaru dari
skinnyindonesia24 dan tertawa bersama. Yang paling kami sukai adalah video yang
berjudul MOGER dan MAGER. Di sana dikisahkan secara ringan tentang keharusan
mengubah budaya MAGER (Malas Gerak) menjadi MOGER (Mo Gerak). Keyen kan?
Kadang, kita sering kali menciptakan, mengikuti dan akhirnya terbawa-bawa
dengan budaya baru yang dicetuskan. Mending kalau itu positif. Ini malah yang
paling cepat merebak justru budaya hidup yang nggak membangun. Hiksss.! Anak
muda, kita punya tugas serius yang begitu banyak loh!
“Rin, ini film The Terminal tentang apa?”
“Tontonlah! Bagus tuh El. Ada lucunya, ada sedihnya ada
cintanya jugak. Intinya gara-gara masalah sepele akhirnya dia tinggal di
Bandara.”
Segera ku tonton film rekomendasi Rini sementara Rini
langsung naik ke atas kasur karena mulai kedinginan duduk di lantai.
“Eeelll, bagilah lemak El untuk akuuuuu. Biar aku nggak
mudah kedinginan karena nggak punya lapisan lemak. Huhuu.”
“Ternyata inilah hikmahnya orang gemuk ya Rin? Hhahaa. Nggak
mudah kedinginan.”
Awalnya aku geram menonton film ini. Apalagi ketika tahu
bahwa pemeran utamanya tidak bisa bahasa Inggris. Terus, kenapa sih mesti
jauh-jauh terbang ke USA sendirian? Nekat amaaat! Grrr…
“Nanti setelah El tahu apa alasannya, El pasti bakal sedih
tuh!” jelas Rini. Mencoba meyakinkanku untuk terus menontonnya sampai selesai.
Azan maghrib sudah berkumandang. Kami segera sholat Maghrib
berjamaah dan setelah itu ku lanjutkan lagi nonton sambil menikmati makan
malam. kali ini kami delievery karena motor udah terlanjut dimasukkan dan aku
malas ke luar. Dingin.
“Ohhhh…jadi ternyata dia melakukan semua itu untuk ayahnya
toooh! So sweetttt!” gumamku diujung film.
Ku cek HPku dan BBM dari Teguh langsung menyita perhatianku.
Supaya emak nggak
merajuk lagi karena nggak dikasih kabar,
adek mau ngasih kabar. Kaki adek malam ini keseleo pas habis liqo’ dan diurut
sampai dibopong sama beberapa kamar sampai kamar. Udah, itu aja.
Aku langsung menanyakan kronologi kejadiannya kepada Teguh.
Yah, intinya ini cobaan (kalau istilah musibah, rasanya terlalu berat). Semoga
allah mengampuni dosa-dosanya atas rasa sakitnya itu.
“Cuy, Cuuuuy! Aku rencananya pengen nulis ini di Instagram; Kalau kamu tidak suka padaku, tak masalah.
Karena, aku tidak melakukan semua ini untuk membuatmu terkesan. Nah,
kalau dibahasa Inggriskan itu jadinya kayak apa ya?” aku bertanya kepada Rini
padahal matanya udah setengah watt. Yap, aku memang sering banget gangguin
tidur Rini kayak gini. Tak jarang aku membangunkannya kalau aku memang sedang
butuh jawaban segera darinya. Hehee. *Sori bububuyuuu.
Selanjutnya, aku fokus mempost foto-fotoku hari ini ke
Instagram, berikut dengan caption-captionnya. Instagram sudah menjadi Mini
Blogku. Aku berupaya untuk selalu meninggalkan jejak dalam setiap 1 hari yang
terlewati. Meninggalkan jejak yang menjadi saksi dan inspirasi atas hidupku di
hari itu. Ini bukan hanya tentang narsis atau apalah itu namanya, ini tentang
sesuatu yang tak bisa dibeli oleh uang. Aku sedang berusaha membiasakannya;
Menulis diary, ketulusan, keluasan persahabatan, pengabdian. Itu semua adalah
beberapa hal yang tidak bisa dibeli oleh uang. Perbanyaklah!
Assalamualaikum ^_^. Kak Elis ya panggilannya?
Waalaikumsalam . iyaaa adindaaa…
HIii panggil aku titi ya kaka, biar lebih deket. Salam kenal
yaa kak. mau ngungkapi kagum sama kata-kata kakak.
Aku tersenyum membaca pengakuan tersebut. Bagiku, pujian itu
adalah PENGHARGAAN. Dan aku sangat menghargai orang-orang yang memujiku. Aku
jadi terinspirasi untuk memposting 1 foto lagi dan berikut ini captionnya…
Bahagia itu
SEDERHANA. Ketika ada chat masuk dan ternyata isinya adalah ucapan terimakasih
seseorang atas tulisan-tulisan kita yang inspiratif. ^_^. Ini baru beberapa
saja. Mungkin masih banyak orang di luar sana yang diam-diam MENGAGUMI dan
MENANTI tulisan kita. Maka untukmu dan untukku… tetaplah menulis. Kabarkanlah
segala kebahagiaan, air mata dan cada-tawa kepada dunia. Maka, DUNIA akan
menghadiahkan SEMESTANYA untuk kita. ^_^.
Kata Rini, followers itu nggak perlu banyak-banyak, yang
terpenting adalah BERKUALITAS. Aku sepakat dengan itu! Hampir disetiap post,
penyukaku tidak pernah mencapai angka 30 dari 600an total follower. Tapi,
berkat jumlah yang sedikit ini aku bisa lebih bersahabat dan dekat dengan
mereka yang sangat loyal itu. Biasanya, aku selalu mengucapkan terimakasih
lewat chat pribadi dan balas menyukai foto-foto mereka. Bukankah yang kita
butuhkan sebagai makhluk sosial adalah kedekatan bathin? Bukan hanya kedekatan
fisik. Malam ini, aku ingin mengucapkan terimakasih kepada salah satu
followersku yang sangat loyal padaku. Namanya Nihlah Ayu.
Hayyy Nihlaaa..
Makasih ya udah selalu suka fotoku. Salam kenaaal
dan selamat berteman
baik ya kitaa. ^_^
Hai kak Elysaaa… aku tahu kakak dari walking-walking
di facebooknya Teguh.Dan aku suka tulisan-tulisan kakak.
Jadi aku folloe juga di ig. Terimakasih karena tulisan
kakak selalu menginspirasfi aku J salam kenal kak. aku Nihlah,
kawannya Teguh dan Yana. Hihiii..
Ohhww.. Adek teman
KKN-nya Yana dan Teguh yaa?
Salam kenal ya dekk.
Kakak juga suka dengan foto-foto
landscape adek di
ig. N kakak juga udah pernah buka blog
adek. Salam kenal
yaaa dek. Selamat menebar inspirasi.
Salam kenal juga kak. tetap menulis dan menebar inspirasi.
Ada tulisan kakak yang pernah aku baca dan langsung JLEB
di hati; ‘MENULISLAH walaupun tidak ada satu pun orang
yang membaca tulisanmu,” kurang lebih gitu hehehe.
Suka banget
kata-kata itu kakk.
Huahhh… iya kah Dek? Kakak juga suka dengan kalimat itu.
Tak terduga sama sekali, niat menyapa ini justru
menghadiahiku banyak kejutan yang tak terkira dan membahagiakan. Terimakasih ya
Allah atas nikmat persaudaraan ini. Semoga kelak aku bisa dikenal oleh lebih
banyak orang dan ketika aku menghadapMu, mereka mendoakan kebaikan untukku.
Amiin.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar