Minggu, 21 Februari 2016

Jangan Biarkan rumput Mati Berdiri



Dalam pembicaraan, kadang kita mendapatkan KETIDAKSETUJUAN padahal menurut kita yang diperlukan hanya PENERIMAAN. Dari sana, aku belajar sesuatu, bahwa ternyata ORANG YANG KITA AJAK BICARA itu lebih penting daripada APA YANG INGIN KITA BICARAKAN. Karena bersama orang yang bijaksana, cerita biasa pun bisa disulapnya jadi pelajaran berharga. Karena bersama orang yang pesimis, cerita luar biasa pun akan terkesan kerdil setelahnya.
*Tentang Ketidaksetujuan – Metamor(Prosa)

***
Teman-teman udah pada di mana?
Pesan BBM di Grup RDDSIBU itu semakin memacuku untuk bergegas bersiap-siap. Segera ku pakai jilbab peach yang ku padukan dengan long shirt denimku. Pukul 09.00wib aku baru tiba di Rumah Sakit UR padahal seharusnya sudah standby di sini sejak setengah jam yang lalu. Aku memasuki lobi dan ternyata teman-teman relawan sudah sangat ramai mengantri. Aku segera bergerak menuju meja receptionist dan mengisi data untuk cek kesehatan. Lalu duduk di depan loket pembayaran pengobatan, memunggungi apotek rumah sakit.

“Eh, foto yuuukk?” ajakku kepada 3 orang lainnya yang sebangku denganku. 2 jepretan cukup.
Uci tiba-tiba minta ditemanin ke toilet. Tapi, ketika petugas mengatakan bahwa toilet berada di teras RS UR, Diah malah nggak pede melewati ramainya teman-teman yang duduk di kiri-kanan koridor. Aku langsung menariknya dengan semangat karena aku pun punya tujuan.
“Ciiinnn.. sekalian fotoin aku yaaak?” pintaku dengan polos setelah Diah ke luar dari toilet.
“Ah, ternyata ada maksudnyaa toh! Hahaha.”
Aku meminta difotokannya di samping RS UR, termasuk di dekat seng biru yang digunakan sebagai pembatas bangunan yang belum selesai. Diah sudah melabeliku dengan banyak gelar selama memfotoku; Narsis, over pede, jenik de el el. Lalu kami masuk lagi ke dalam. Sudah bisa ku pastikan bahwa Uci mengadukan apa yang barusan ku lakukan kepada yang lainnya.
“Bagus kan fotonya? Hehee,” kataku sambil menunjukkan hasil jepretan tadi.
“Asal nanti waktu di desa, temanmu nggak kapok ya Ell, hhaa. Sama siapa besok El?” 

“Sama Misnaa.”
“Misnaaa.. mu latihanlah motoin si Elis ni sebelum nanti kalian pengabdian. Yang sabar ya Misnaaa,” kata mereka kepada Misna. Aku hanya tertawa geli melihat mereka.
“Ilaaa beratnya berapa tadi waktu timbang?”
“Yang jelas udah turun 3kg Lis. Alhamdulillah.”
“Aku naik 3kg loh Laaa. Hiksss. Emang kelihatan gemuk ya akunya?” tanyaku. Sebenarnya berharap dijawab oleh Ila; ‘Nggak gemuk kok Lis! Udah pas kok!’ hehe, tapi apa yang terjadi coba?
“Iyaa sih Lisss, agak gemuk. Lagipula Elis kan bajunya longgar-longgar, makanya semakin kelihatan berisi badannya.”
“Terus? Bagusnya aku pakai baju yang pas-pas aja nih?”
“Ya nggak gitu juga. Baju Elis tu udah cocok banget dengan pembawaan Elis koK!”
“Emangnya aku kayak apa ciiin?”
“Jujur yaaa… waktu pertama kali aku lihat Eliss… kelihatan kali sosok keibuannya. Kayaknya cocok gitu dipanggil ‘Bunda’.”
“Ah, maca cihhh ciin? Eke kan Alaaayyyy. Suka narsiss. Hehe.”
“Yaaa… tapi tetap aja aura keibuannya melekat Liisss.”

Aku paling suka mendengarkan penilaian orang lain terhadapku seperti ini. Sangat-sangat sukaaa.
“Nanti pasti ditulis Elis tu di blognyaaa,” sahut Uci.
Setelah semuanya selesai diperiksa kesehatannya, kami berfoto bersama di depan RS UR dengan pak Dokter dan staf PSB, termasuk bu Riri. Cissss! Selanjutnya kami diarahkan untuk segera menuju LPPM UR untuk pengarahan dari pak Ahmad Muhammad. Ketika ke luar dari pekarangan RS UR, aku menawari seorang cewek untuk bareng denganku, tapi dia nggak mau karena pengen jalan kaki aja.
“Siapa tuh Lisss?” tanya Diah padaku.
“Aku nggak kenal sama dia. Cuma mau nawarin bareng aja tadi Ciiin! Tapi dianya nggak mau. Mungkin dia takut ku culik! Hehhee.”
“Hhaaa.. ada-ada aja Elis niii!”

***


Aku dan dek Rahmat menaiki tangga beriringan menuju lantai 2 LPPM UR.
“Dek, tadi waktu timbang, berat badangmu naik atau turun?” tanyaku.
“Turun Kak. 3kg. Sekarang tinggal 51kg Kak.”
“Aihhh? Biasanya cowok walaupun kurus, tetap berat loh badannya. Berarti Adek kurus kali nih! Tapi baguslah Dek, daripada kegendutan kayak Kakak. Tadi Kakak naik 3kg loh Dek. Huhuuuuu. Padahal udah nggak pernah sarapan seminggu lebih, udah nggak pernah minum es, tapi tetap aja naik. Huh!”
“Eh, tapi jangan Kakak ceritain di blog ya tentang berat Rahmat cuma 51kg ini! Awasss!”
“Upssss.. nggak janji dehh! Hehee.”
Kami duduk berbaur bersama Yudi, Gompar, dek Rahmat, Pea dan Ospa. Teguh baru aja nongol. Dia kebut-kebutan dari acara Kelas Persiapan Beasiswa dan langsung kami suruh cek kesehatan ke RS UR.

“Eh, tadi kalian ngelihat spanduk besar di dekat FISIP bertuliskan; Nasionalisasikan Aset Migas, gitu?” tanyaku. Beberapa dari mereka mengaku melihatnya. “Nah, gini… Aku pernah dikasih tahu dengan teman yang kerja di Chevron… sebenarnya salah besar kalau kita bilang Chevron menindas kita. Karena mereka cuma mengambil keuntungan 10 sampai 20%. Aku ragu angka pastinya berapa, yang jelas nggak lebih dari 20%. Nah, kenapa kita percayakan kepada Chevron untuk mengolahnya? Ya karena kita belum punya teknologinya dan untuk proses pengeboran awalnya itu benar-benar ditanggung oleh Chevron. Kalau gagal, kerugian dan resiko sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan. Indonesia kan belum berani mengambil resiko sebesar itu. Karena proses penemuan dan pengeboran minyak di awal itu biayanya benar-benar luar biasa dan logikanya gini, lebih baik Indonesia menggunakan dana itu untuk keperluan sosial di negaranya kan? Itu sih yang aku tahuuu.. Makanya aku nggak terlalu mendukung aksi itu dan nggak terlalu menolak, karena mungkin mereka punya data yang lebih valid daripada aku,” jelasku.
“Kalau tentang ini, aku nggak bisa ikut-ikutan ya Kak,” kata dek Ospa.
“Lah? Kenapa Dek? Kakak kan cuma mau ngasih pandangan. Nggak perlu ada perdebatan kok di sini!”

“Soalnya yang menggagas aksi itu teman Ospa dari SOSPOL BEM Kak. Lagian mereka udah punya dasar yang cukup kuat sampai mereka memutuskan untuk melakukan aksi gini.”
“Ya ituuuu lah yang udah Kakak bilang tadi. Mungkin mereka lebih banyak tahunya daripada Kakak dan Kakak cuma mau berpendapat aja Dek..”
Kami beralih kepada obrolan lainnya…
“Anak-anak RDDSIBU harus beli buku Abang! Minimal 1 orang 1 buku.” Yudi sejak tadi selalu menyelipkan promo buku Kau yang Selalu Menangis di Tiang Merah Putih kepada kami.
Aku berbisik kepada Yudi…
“Yud, aku nggak nyangka ternyata tadi mendapat KETIDAKSETUJUAN, padahal aku hanya ingin bercerita tentang apa yang aku tahu. Hemmm… aku belajar sesuatu, bahwa ternyata ORANG YANG KITA AJAK BICARA itu lebih penting daripada APA YANG INGIN KITA BICARAKAN.
Karena bersama orang yang bijaksana, cerita biasa pun bisa disulapnya jadi pelajaran berharga. Karena bersama orang yang pesimis, cerita luar biasa pun akan terkesan kerdil setelahnya. Ku lanjutkan sendiri kalimatku di dalam hati.

“2 2nya sama-sama penting. Cuma skala prioritasnya aja yang beda,” sahut Yudi.
“Kak, sejak kapan Kakak nulis di blog tu?” tanya Gompar.
“Emmmm…setahun umurnya tuh Dek.”
“Baru setahun tapi udah seramai itu Kak?”
Aku mengangguk..
“Berarti emang nulis ajalah ya kerja Kakak. Hehee.”
“Adek udah baca semuanya memangnya yang 4 hari pembekalan kemarin?”
“Udah Kak. Tapi yang materi, Gompar lewatkan aja Kak. Yang ceritanya baru Gompar baca.”
“Kenapa materinya nggak dibaca lagi? Biar makin faham loh Dek!”
“Ngapain dibaca lagi? Bikin pusing aja Kak. haha.”
Aku sedang memperhatikan seseorang yang lain dalam obrolan ini. Seseorang yang belum juga memenuhi permintaanku untuk mengomentari tulisanku. Ah, terkadang lebih mengasyikkan ketika kita bercerita dengan orang yang benar-benar belum tahu apa yang kita bicarakan. Karena, mereka masih polos dan lugu ketika meresponnya. Tapi, jika bercerita kepada orang yang sama-sama tahu atau sama-sama bisa melakukan sesuatu? Kadang, aku dan dia seolah sedang bersaing saja. Aku tidak suka ini!

“Aku pernah nulis ini di WA. Nggak sengaja, dapat inspirasi…” Yudi menyodorkan HPnya kepadaku…
Bahkan sesuatu yang kita fikir SEDERHANA, nyatanya tak SESEDERHANA yang  kita fikirkan. Kita sering kali memikirkan sesuatu yang sederhana..
“Aku kan suka membolak-balikkan kata-kata gitu. hehee.”
“Kak, Bang, Rahmat sukaaa loh membaca puisi atau novel gitu. Tapi kok Rahmat nggak ada niat untuk MENULIS yaaa?” tanya Rahmat.
“Emmmm…Mungkin passion Adek adalah sebagai pengamat,” kata Yudi.
“Nah! Bener tuh! Kita kan nggak harus menyamakan diri dengan orang lain Deek,” lanjutku.
“Ah,, luar biasa kali lah duduk di dekat Bang Yudi dan Kak Elis ni haaa.”
Sebelum pak Ahmad Muhammad tiba, pak Adhy memberikan petuah kepada kami semua. Ia menjelaskan tentang etika pergaulan dan kesantunan terhadap penduduk desa. Aku sangat suka mendengar nasehat seperti ini. Ah, ternyata sudah 2 minggu berlalu ya Pak? Sejak kita melakukan perjalanan ke Kampung Jawa kemarin.
“Ada yang ingin bertanya?” tanyanya.

Kami semua hening. Aku belum punya ide untuk bertanya.
“Bedanya kita dengan Negara barat adalah.. kita tidak dididik untuk  berani BERTANYA. Dulu, sewaktu saya kuliah di Mancester, ketika kelas baru dimulai… semua mahasiswanya tunjuk tangan, berebut ingin bertanya. Saya agak heran saat itu, karena mereka seantusias itu bertanya. Nah, sedangkan di Indonesia, kita dibiasakan untuk menjadi PENDENGAR YANG BAIK. Makanya, keberanian untuk bertanya itu tidak terbangun,” jelas pak Adi.
“Kemarin… pernah ada kejadian yang menjadi pelajaran berharga buat saya. Saya pernah memarahi anak saya di depan teman-teman mainnya. Lalu, ketika kami makan malam, dia tiba-tiba mengangkat tangannya dan saya persilahkan untuk bicara. Kamu tahu apa yang dikatakan oleh anak saya itu? Dia bilang; ‘Pa, saya cuma mau minta 1 hal… lain kali kalau ingin memarahi saya, tolong jangan di depan teman-teman saya’ begitu katanya. Dan saya menyetujuinya. Makanya sekarang kalau saya tiba-tiba memanggilnya ketika dia sedang main, dia sudah sadar duluan bahwa dia pasti punya kesalahan.”

Aku melihat nada agak bergetar dari suara pak Adhy. Sepertinya ia terharu terhadap kejadian itu. Ia benar-benar orang tua yang luar biasa; mau berkompromi dan mendengarkan pendapat anaknya. Kelak, aku pun harus bisa menjadi orang tua yang seperti itu. aamiin.
“Pak!” aku mengangkat tangan. “Ada kalanya nanti masyarakat desa akan bertanya hal-hal yang mungkin belum kami kuasai. Karena, sesuai penjelasan Bapak tadi, bahwa mereka akan menganggap kami adalah orang yang serba tahu. Nah, pertanyaannya adalah… bagiamana caranya kita menjelaskan tapi tidak terkesan sok tahu dan kewibawaan kami tetap terjaga, Pak?” tanyaku.
Pak Adhy lalu memberikan pemahaman kepada kami bahwa tugas kami di sana memang bukan mengajari. Kamilah yang harus belajar. Lalu, ketika pelajaran itu bisa diselipkan di sela obrolan, selipkanlah. Jangan sampai terkesan menggurui dan lebih tahu dari mereka. Justru kami harus merendahkan diri.

***

Sebelum pak Ahmad berbicara, kak Suci kembali berkata; “Tolong budayakan mencatat yaaa, teman-teman.” Ah, ini mah gue banget, kak!

Topik : Karakteristik Relawan
Oleh : Ahmad Muhammad
Pukul : 10.58wib

 “Mohon maaf ya sebelumnya.. saya salah fahaam, saya fikir tadi cek kesehatan itu lama. Eh, ternyata sudah selesai toh sejak tadi, hehe,” kata pak Ahmad.
Ada 4 hal yang harus dimiliki oleh Relawan: Empati (rasa prihatin), motivasi (motivasi tidak selalu menimbulkan tekad), determinasi (to be or not to be), dedikasi (pembuktian apakah kita seorang relawan atau bukan, lebih ready untuk to give more than to take). Pak Ahmad sangat mengagumi pak Haris,  karena beliau sangat empati terhadap lahan gambut dan karhutla. Pak Ahmad mengingatkan kami bahwa kami jangan coba-coba membuat gagasa seblum tahu persis bagaimana keadaannya. Kita semua harus mengubah gagasan menjadi rencana yang lebih konkrit. Gagasan : masih khayalan awal
Rencana : kita kumpulkan msy, kita undang pembicara, berapa biayanya (lebih terperinci). Kami hanya MENDORONG, yang melaksanakan tetaplah harus masyarakat. Tugas kami adalah MENGEVALUASI hasil. Inti dari STUDI  (Pusat Studi Bencana) adalah ada DATA yang bisa digunakan untuk pertimbangan selanjutnya.

Topik : Kebakaran pada lahan gambut (sebuah pengantar singkat)
Pukul : 11.08wib
Oleh : Ahmad Muhammad

“Syarat terjadinya kebakaran : Bahan bakar (harus ada sesuatu yang dibakar), Udara (oksigen), panas. Yang bisa dibakar hanya bahan organik (semua benda yang mengadung KARBON). Kalau dalam konteks karhutla, bahan organik adalah semua yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tapi tidak semua bahan organik mudah terbakar (flammability); Kayu yang keras, mudah terbakar. Tapi ranting yang kering apalagi daun, mudah terbakar. Tingkat KEBASAHAN (kelembapan) adalah penentu tingkat kemudahan terbakar suatu bahan.”
Selanjutnya, pak Ahmad menjelaskan tentang TRADISI PENGGUNAAN API. Bahwaorang-orang afrika terbiasa dengan api dalam setiap upacaranya. Insya allah akan segera dilegalkan cara membakar secara tradisional. Sekarang, pola fikir kita adalah PRAGMATISME (ingin cepat, tapi tidak memikirkan bagaimana cara ter-aman).
Ciri penggunaan api yang bijaksana:
-          Skala relative dan bertahap
-          Rambatan api ke sekeliling laha dicegah dengan sekat bakar/skat kanal
-          Api yang akan merambat ke luar selalu dihalau
Itulah kenapa orang-orang dulu yang melakukan ladang berpindah tidak pernah mengakibatkan kebakaran hutan seperti yang sekarang ini. karena mereka punya ilmunya yang sebenarnya tidak diajarkan di perguruan tinggi. 65% pembakaran itu menyebabkan rusaknya kebun-kebun yang sebenarnya sudah produktif.

Orang melayu dan orang dayak (dulu) tidak pernah melakukan pembakaran pada lahan gambut.
 “2 hari yang lalu ada 5 lahan yang sudah terbakar. Di Bengkalis sudah mulai ada titik api. Kalau sempat terjadi kebakaran lagi, pak Joko** bisa jatuh.  Karena, Janjinya pak Jokowi itu janjinya muluk-muluk. Pembakaran biomassa adalah masa penyusun makhluk hidup yang dalam konteks ini adalah biomassa tumbuhan. Pembakaran biomassa  itu mudah, cepat dan murah. Dapat mengurangi keasaman tanah serta meningkatkan kesuburan tanah. Kata orang melayu ‘Gambut ini kuat masamnya’. Periode kerawanan sangat tinggi (bulan Februari, lalu pada bulan Juni, Juli, Agustus).” jelas pak Ahmad.
“Intinya, BIOMASSA itu adalah tumbuh-tumbuhan kan? Kenapa sih mesti pake istilah Biomasa? Bikin pusing aja,” bisikku kepada Yudi.
“Biar Nampak ilmiaaah,” jawab Yudi, so bijak. “Kalau dibilang Juntaian-juntaian ranting yang kehijauan, itu malah jadi puisi nanti.”
Rahmat geleng-geleng kepala mendengar obrolan kami.
“Kamu sedang baca apa itu?” pak Ahmad menegur Teguh yang belum lama datang.
Aku berusaha melihat buku apa yang Teguh baca. Tapi tak terlihat. Barangkali adalah 20 bahasa populer dunia yang biasanya ia baca.
“Jangan sia-siakan waktumu! Harus tempatkan dirimu pada tempat yang benar, dengan cara yang benar pada agenda yang benar. Saya tidak amarah kamu tidak memperhatikan saya, tapi lebih baik kamu berpura-pura ke luar saja daripada di sini tapi tidak fokus,” jelas pak Ahmad.

Pak Ahmad menayangkan gambar di slide..
“Ini adalah VEGETASI PENANGKAP API: semak berkayu, semak tak berkayu, rumput, paku. Bagaimana api merambat pada lahan gambut? Nah, ini istimewa, karena tidak ada pada jenis tanah lainnya; Merayap di permukaan tanah, melompat di udara (jumping fire) dan merambat di bawah permukaan tanah (ini butuh syarat; harus kering). Kalau pada tanah mineral; hanya 2 cara (selain melompat di udara). Kedalaman muka air menentukan seberapa dalam kelembapan tanah,” jelas pak Ahmad.
“Hah? Muka air? Bagaimana rupanya muka air itu? Ah, Bisa jadi judul puisi nih!” celetuh Yudi.
“Serasah, paku-pakuan, rumput (bagian bawah hutan yang mudah terbakar). Setiap peristiwa KEBAKARAN, menimbulkan bahan bakar baru. Itulah sebabnya kenapa setelah terjadi kebakaran, biasanya kebakaran akan berulang di tempat yang sama. Sekat bakar (fire breaker) merupakan suatu yang dipersiapkan untuk memutus perambatan api. Berupa tanah terbuka memanjang, parit atau lajur vegetasi yang tidak mudah terbakar. Sebenarnya, Nanas dan lidah buaya bisa menghambat api. Tpai tidak ada yang mau budidaya lidah buaya sebanyak 5 hektar. Hahaa,” pak Ahmad tertawa.
“Bapak ini lucu yaa! Tapi tetap terlihat bahwa dia adalah orang berilmu kan?” kataku.
“Iyaaa,” kata Yudi.
 “Belum pernah dengar PENGGEMBALAAN API ya sebelumnya? Nah ini merupakan suatu metode pembakaran lahan dengan pengawasan dan pengendalian yang ketat oleh manusia. 1 kali pembakaran hilanglah 100cm tanah gambut. Orang tebing tinggi kemarin pernah melakukan ini; MELAWAN API DENGAN API.”

“Kalau dalam puisi ada juga Pak, tapi bukan penggembalaan Pak; gombalan gombalan. Haha. Api aja harus dijaga, apalagi perasaan? Ayo kita jaga hati!” kata Yudi.
TINDAKAN MITIGASI BERUPA :
1.       Pencegahan sesuatu yang belum terjadi
2.       Penganggulangan sesuatu yang sedang terjadi
3.       Pengurangan dampak dari sesuatu yang telah terjadi.
Badan restorasi gambut : lebih banyak untuk MENGURANGI
Mengapa kebakaran terjadi :
1.       Factor yang TIDAK DAPAT dikendalikan oleh  manusia. Misalnya iklim dan musim
Kita berbuat sesuatu untuk mempengaruhi IKLIM, tapi kita tidak bisa mengendalikan IKLIM
2.       Factor yang BISA dikendalikan oleh manusia
Factor-faktor yang terkait manusia
1.       PENGETAHHUAN yang berkaitan dengan karlahut (iklim dan musim, bahan bakar,
“Saya lebih suka sekarang menyebutnya dengan karlahut karena lebih feminism; karla,” jelas pak Ahmad
2.       Peraturan
3.       Kemampuan (Modal untuk membiayai mitigasi, Anggaran, Sumber daya, Kesadaran)
“Bagaimaana mungkin aku bisa menyadarkan hati yang tidak pernah sadar dengan pemiliknya sendiri?” kata Yudi.
4.       Upaya
“Memangnya siapa yang mengatakan bahwa bulan januari itu adalah bulan yang pertama ya?” tanya pak Ahmad.
“Penulis Tentang Januari, Pak. Ini bukunyaaa. Hehee,” celetuk yudi, pelan.

“Kalau ditebas, rumputnya rebah dan mudah busuk menjadi humus. Tapi kalau disemprot dengan Pestisida membuat tumbuhan yang disemprot itu MATI BERDIRI. bukannya makin merunduk tumbuhannya, malah MAKIN SOMBONG dia. Haha,” jelas pak Ahmad dengan kocaknya.
“Judul puisiku nanti; ‘Jangan biarkan rumput Mati Berdiri’,” celetuk Yudi lagi.
“Yang punya MANDALA AGNI itu siapa? KLHK ya? Bukannya DEPAG? Heee.” Tanya pak Ahmad, melucu.
“Manggaleh Agni, haha,” sahut Ospa.
“TUGAS  anda menjelang berangkat :
1.       Cari dan kumpulkan informasi tentang profil desa masing-masing
2.       Cari dan kumpulkan informasi tentang kasus KARLAHUT di desa masing-masing
3.       Pelajari buku-buku panduan mitigasi karlahut
Yang menjadi PR besar adalah mendata lahan-lahan yang tahun lalu terbakar. Biasanya lahan yang pernah terbakar akan terulang lagi terbakar di tempat yang sama. Untuk melihat ekonomi warga, lihatlah dari rumah warganya; semi pemanen, permanen atau kepemilikan rumah, apakah milik pribadi, nyewa.”

***

Malam ini, untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama, aku dan Rini berboncengan menuju Sambal Lesung untuk membeli makan malam. Ah, aku rindu Riiin. Sudah sejak tadi siang, setelah pembekalan RDDSIBU aku berada di kosan Vani. Rini sudah sampai di sini sejak subuh tadi. Ia segan kalau langsung ke kosanku. Belum sanggup seandainya kak Dewi tidak ramah padanya.
“El pesan apa?”
“Aku Bakmi goreng aja Rin.”
Kami duduk berdua di bangku panjang dekat pintu ke luar dari warung ini. Aku mulai bercerita tentang banyak hal yang belum diketahui oleh Rini; Sidang Skripsi, Perasaanku, kesibukanku selama ini dan RDDSIBU. Sebenarnya aku ingin bercerita sejak tadi kepadanya. Tapi, aku tidak ingin Vani dengar karena aku ingin cerita hanya kepada Rini. Karena aku bisa memastikan Rini memahamiku. Ternyata benar, ketika aku bercerita tentang pengabdian 2,5 bulan yang akan ku jalani nanti, Rini tidak serta merta bertanya; “Ada gajinya nggak tu El?” seperti yang pernah ditanyakan orang-orang sebelum ini.

“El, temankan aku beli obat flu ya!”
Setelah dari Sambal Lesung, kami mampir di Apotek jalan Bina Krida. Sejak tadi pagi, Rini agak demam dan flu. Tubuhnya benar-benar lemah dengan rasa dingin dan lelah. Aku baru faham itu saat ini. Maafkan aku ya Rin, selama ini nggak peka padamu.
“El, temenin aku beli jus pokat yaaa!” pinta Rini lagi.
Kami singgah di samping Kantin Alif, jalan Balam Sakti. Sambil menunggu jus Pokat selesai, aku kembali melanjutkan cerita. Menceritakan apa saja yang bisa diceritakan padanya. Aku bahagia seperti ini.

***

Kami udah sampai di kosan Vani lagi. Segera kami buka menu malam ini dan menikmatinya bersama. Sesekali aku mencomot ayam penyetnya Vani dan Rini. Mereka pun demikian, mencomot Bakmieku. Alhamdulillah…semoga segala sesuatunya berkah hari ini. Usai makan, aku segera berpamitan pulang. Esok Rini akan ku jemput untuk nginap di kosanku. ^_^


*Tulisan ini diselesaikan pukul 08.16wib, hari Selasa, 1 Maret 2016

Tidak ada komentar: