
Untuk adik-adik yang dekat
denganku…
Dek, sejujurnya Kakak nggak selalu SIAP dengan CEMOOHANMU sekalipun itu
hanya CANDAANMU saja. Kakak juga tidak selalu SANGGUP berdebat denganmu
(sebenarnya). Apalagi jika itu semakin memperlihatkan bahwa kakak tidak LEBIH
tahu darimu. Bahkan sejujurnya Kakak tidak menyukai perdebatan. Hati ini tetap
hati manusia Dek; Bisa merasa tersinggung, sedih, marah atau kecewa.
Kakak tahu kamu hanya bercanda. Tapi, tidak bisakah kau pilih candaan
yang lebih RAMAH? Beruntung saat ini Kakak sudah jauh lebih stabil daripada
Kakak yang dulu, sebelum kita saling mengenal. Dulu, Kakak bisa dengan tega
membalas KETERSINGGUNGAN Kakak kepada seseorang sekalipun itu di tempat umum
dan ia adalah orang terdekat.
Kita tidak sedang bersaing kan Dek? Maka tolong jangan MERENDAHKAN
Kakak ketika posisimu lebih tinggi. Jangan pula DENGKI kepada Kakak manakala
posisi kakak lebih tinggi darimu. Kita kan saudara? Kenapa mesti membawa
kedengkian dalam persaudaraan ini?
Dan satu lagi. Perbanyaklah MERENDAHKAN hatimu. Ada saatnya tak jadi
masalah jika kamu MENINGGIKAN diri. Tapi akan jadi masalah jika kamu selalu
begitu dan tak tahu WAKTU. Kakak hanya ingin kamu tumbuh dewasa sebagai sosok
yang tak hanya CERDAS Pemikirannya tapi juga CERDAS perasaannya. Orang tua kita
mungkin tak tahu sampai sebegini detilnya tentang keadaan jiwa kita.
Sebaliknya, teman-teman di sekitar kita lah yang paling bisa merasakan karakter
kita. Maka, merasa beruntunglah jika ada teman yang suka MENASEHATIMU. Itu pun
nantinya akan berguna untuk kehidupanmu. Ingat Dek, kadang kita tak perlu
menunjukkan KEPINTARAN yang kita punya kepada orang lain. Tetapi sikap yang
HANGAT dan BERSAHABAT adalah hal yang dirindukan kapanpun dan dimana pun kita
berada.
Tapi, ketahuilah Dek.
Kakak berbicara seperti ini bukan berarti rasa sayang kakak berkurang padamu.
Ia tetap dan akan selalu tumbuh di sana. Di hati.
*Surat untuk Adik - Metamor(Prosa)
***
“El, bangun woooy! Udah jam setengah 6 wooy!” seru Rini.
Aku menggeliat, mengerjapkan mata berulang kali barulah
menegakkan tubuh.
“Rin, tahu nggak berapa postingan Instagramku semalam?”
Ini benar-benar pertanyaan yang ‘nggak tahu waktu’. Ini
masih subuh loh, Elysa Rizka Armalaaa.
“Emmmm… 12 ribu.” Rini pun tak kalah aneh; mau menanggapi
pertanyaanku.
“Yang masuk akal ajalah Riiin!”
“Sepuluh!”
“Salah. 14 belas, heheeee.”
Aku lalu beranjak berwudhu dan setelah berwudhu, ada lagi
pernyataan tak tahu waktu yang ku utarakan.
“Rin, aku semalam nyetrika long blazer hitam itu jam 12
malam loh. Hehee. Aku sering kali pengen beli sesuatu karena suka ketika
melihat orang lain memakainya. Tapi ternyata yang aku dapatkan jauh lebih
bagus, lebih berkualitas dan lebih keren daripada yang ku inginkan sebelumnya.
Selalu kayak gitu Rin.”
Rini hanya manggut-manggut mendengarku. Takbir pun ku mulai.
Kami rukuk dan sujud bersama-sama.
***
Rini ku tinggalkan di Puskom. Lalu aku bergegas ke
Pendidikan Ekonomi untuk menemui pak Sumarno. Ku serahkan laptopku kepada Rini
supaya dia bisa mendownload video dari laptopku.
“Dek? Ada lihat Pak Sumarno?”
“Barusan aja pergi Kak. sekitar 15 menit yang lalu lah Kak.”
Duh! Lagi-lagi aku terlambat!.Bidikanku meleset!
“Emmm…Memangnya Bapak tu tadi nggak ngajar Dek?”
“Ngajar Kak. Tapi cuma setengah jam aja masuknya.”
Aku bergerak ke HIMA. Siapa tahu ada salah satu dari
adek-adek yang ngumpul di HIMA yang tahu perihal pak Sumarno. Tapi ternyata
nggak ada. Aku meminta tolong kepada juniorku untuk mengSMS bapak; di mana dan
kapan hari ini aku bisa menemuinya? Tapi setelah bermenit-menit berlalu,
jawaban itu tak kunjung juga ku terima. Aku sudah ngobrol dan menyarankan
banyak hal kepada dek Aisyah untuk SKRIPSInya, demi membunuh waktu. Dan,
sekarang ku putuskan untuk menyusul Rini ke Puskom.
“Udah ketemu Bapak tu?”
“Belum Rin. nggak rezekiku hari ini. Cukup untuk hari ini
dan aku free! Besok baru usahain lagi.”
Sudah ada beberapa video SUCI yang didownload oleh Rini. Ku
keluarkan HPku dan ada banyak BBM yang masuk ternyata. Maklumlah, paket internetku
sudah habis semalam. Ada 1 pesan dari bang Ahmad Anhar saputra. Ia mengucapkan
selamat wisuda untukku. Langsung saja ku jelaskan padanya bahwa aku belum
wisuda bulan ini. Selanjutnya bang Putra memintaku mengajarinya ngeblog. Ia
mengaku takjub dengan blogku karena desinnya seperti website dengan tab-tab di
kepala lamannya. Ku coba sebisa mungkin mengajarinya lewat chat BBM sambil
mengiriminya gambar di setiap langkahnya.
“Rin, meskipun dulu awalnya aku merasa kesulitan banget
mengeksplore blog ini secara otodidak, tapi sekarang manfaatnya benar-benar
terasa. Ternyata ilmuku itu bermanfaat banget. Nih bang Putra minta ajarin
ngeblog sama aku.”
“Eh, si Yudi ngajakin bareng ke wisudanya Lia nih! Dia otw
ke jembatan kupu-kupu katanya El.”
Kami langsung bergerak ke jembatan kupu-kupu. Eh, malah
nggak ada batang hidung Yudi di sini. Karena aku nggak sabar menunggu sekaligus
khawatir udah diduluin Yudi, ku putuskanlah untuk segera ke Grand Gasing.
Beberapa satpam sempat mengataiku mirip orang india lah, kayak pendekarlah
gara-gara aku pakai headbelt. Ah, bodo amat! Yang penting, aku merasa keren
hari ini, sihiyyy.
***
Aku, Yudi dan Rini membeli bunga terlebih dulu sebelum
memasuki halam Grand Gasing.
“Eh, sebenarnya hadiah macam apa sih yang spesial dan
bermakna di hari wisuda gini Yu?”
“Hadiah apapun yang diberikan menjadi sangat berharga di
momen seperti ini El,” jawab Yudi.
“Sihiyyy. So Sweet. Kita hadiahi aja Lia dengan puisi yuuk?”
ajakku.
“Plisss, jangan sekarang! Owhh tidaaak! Banyak kali hutang
tulisanku nii. Otakku sedang hank. Banyak tempahan dari teman-teman yang belum
selesai.”
“Sihiyy.. tempahan dank!”
“terlalu banyak momen yang berlalu dan belum sempat ku
tuliskan.”
“Makanya, nulis diary donk Yuuud!”
“Mau siih. Tapi susahhh.”
Aku jadi melamuni diri sendiri; ‘Berarti aku luar biasa
donk? Bisa nulis diary setiap hari dan ternyata ini adalah hal yang TIDAK MUDAH
bagi orang lain.’
“Yuk!”
Ajakan Rini membuyarkan lamunanku. Kami berjalan bertiga
menuju grand gasing yang jauhnya lumayan juga. Kira-kira 100 meter dengan
kondisi jalan tanah dan berkerikil. Aku bertemu bang Dade dan mengucapkan
selamat kepadanya. Ah, URC… aku banyak hutang padamu…Baktiku kurang.
***
Sudah ku edarkan pandangan ke seluruh penjuru, tapi tak ku
temui juga sosok Lia. Rini pun tak berhasil menemukannya. Ah, barangkali Lia
sudah ke luar. Ku putuskanlah untuk duduk di sembarang tempat. Eh, ternyata di
belakangku ada bang Zulfa yang sedang dikelilingi oleh anak-anak BEM lain. Luar
biasa banget bang ZUlfa ini. Papan ucapan untuknya terbentang di sepanjang
jalan di depan dekanat FKIP. Ramainya sampai-
“Nah, kalau ini namanya Wulan Kumala Dewi Pak, Bukk… Dia
kemarin menjadi koordinator aktivis perempuan seluruh Indonesia.”
“Bang, Elis juga mau dikenalkaaan!” pekikku, tiba-tiba
nimbrung.
“Nah, kalau ini namanya Elysa Rizka Armala Pak, Buk. Dia
mahasiswa Berprestasi Universitas Riau tahun 2014,” jelas bang Zulfa sembari
aku menyalami kedua orang tuanya.
Acara dilanjutkan dengan berfoto bersama. Serasa gedung
gasing ini hanya milik kami saja dan yang lain hanya numpang. Hehee. Heboh
banget sih kaminya. Rini pun dipaksa bergabung. Setelah itu, pencarian kami
terhadap Lia pun berlanjut. Kami sudah menyusuri panggung senat dan sudah
menajamkan pandangan, tapi tak juga kami temui Lia.
“Eh, kita foto di situ yok! Aku bawa toga juga nih!” kata
Yudi sambil menunjuk backdrop bertuliskan selamat wisuda mahasiswa Universitas
Riau.
Aku, Rini dan Yudi mengambil beberapa kali pose. Serasa
berada di studio foto sungguhan aja.
“El, aku duduk di sana yaa!” kata Rini. Sepertinya ia mulai
lelah.
Aku segera menghampiri Dian, Ratih dan beberapa teman
lainnya yang sempat ku temui di sini.
“Bububuyuuuuu!” teriakku ketika Lia melintas.
“Heyyy.. tunggu bentar ya Ciiinn!”
Ia lalu menghilang ntah ke mana. Mungkin diajak berfoto dengan teman-temannya. Beberapa menit kami
menunggu, barulah ia muncul lagi. Kami langsung berfoto ria sepuasnya dengan
berbagai angel dan pose. Beruntung banget Yudi bawa Toga juga hari ini karena
aku tidak terlalu merasa bersalah karena kemarin tidak bertemu dengannya. Ah,
andai momen ini adalah Februari tahun lalu,
tentu akan ada seseorang yang ingin ku temui setelah Lia.
***
Kami berjalan menuju parkiran…
“Riiinn, beliin aku balon ituuu!” kata Yudi sambil menunjuk
balon berbentuk karakter Marsha.
“Ya ampuun Yud? Beneran nih mau balon kayak gitu? Tadi
katanya minta boneka doraemooon?” tanyaku.
“Iya ini beneran. Aku dikasih apapun mau aja. karena semua
hadiah di hari ini terasa sangat berharga.”
“Sihiyyyyyy… Nyusul ya hadiahnya.”
Aku mulai bercerita kepada Lia tentang seseorang. Perasaan
ini memang aneh; seolah rasa BOSAN tak pernah menyinggahiku untuk selalu
menyebut-nyebut namanya. Aku memberi tahu Lia bahwa Rini sudah tahu semuanya.
Sesekali Lia terkagum-kagum mendengarkan ceritaku.
“Sihiyyy.. Jika kalian memang berjodoh, insya allah akan
dipertemukan pada waktunya.”
“Aamiin Ciiin. Eh, kira-kira besok waktu aku wisuda, dia bisa
datang nggak ya? hahaha.”
“Semoga bisaa.”
Karena Lia nggak bawa motor sementara Yudi mendadak
menghilang, akhirnya kami tartig (boncengan bertiga). Tujuan kami adalah
Science Park UR; tempat keluarganya Lia berkumpul. Di tengah perjalanan, hujan
turun. Semakin lama semakin deras bahkan sampai membuat mataku pedih dan hanya
bisa menyipit.
“Haiii Ibuuukkk! Apakabar Buukk?” sapaku kepada mamanya Lia.
Karena tangan ibuk sedang belepotan setelah makan, maka aku
langsung saja memeluknya.
“Lia jadi artis hari ini Buuuk. Kelamaan foto-foto dia tadi.
Ditarik ke sana ke sini sama teman-temannya. Hhehehe,” kataku.
“Iyaaa.. Jadi asrtis sehari, sebelum jadi RATU sehari,
hehehe,” sahut Lia.
“Kapan jadi Ratu Sehari tuu?” tanya saudaranya Lia.
Ntah kenapa aku tiba-tiba deg-degan menanti apa jawaban yang
akan diberikan Lia.
“Jika waktunya sudah tiba, pada masa yang tepat pokoknya,
hehehe. Ya kan Cin?”
Aku tersenyum memandangnya. Ternyata aku lega mendengarnya. Tak
lama kemudian, aku dan Rini permisi ke Arfaunnas karena kami belum sholat
Zuhur.
“Rin, apa yang membuat Rini lebih mendukungku dengan si anu
tu daripada kak ****?”
“Emmm…ya karena dia berwibawa, berkharisma, dan…. Lebih
meyakinkan aja sih intinya.”
“Tapi masalahnya, dia belum tentu suka sama aku Rin. hahaha.
Nggak apa-apalah yaa, yang penting kita selalu yakin bahwa Allah pasti akan
memilihkan yang terbaik untuk kita.”
Di mesjd Arfaunnas, aku bertemu dengan beberapa orang yang
melihatku dengan tatapan agak sinis. Aku sering kali merasakan tatapan sejenis
ini ketika penampilanku sedikit stylish. Aku nggak nyaman ditatap seperti itu.
Bahkan, ada juga yang seolah menghindariku untuk menyapa. Ah, apa yang salah
denganku? Kadang, aku lebih merasa nyaman dengan teman-teman yang awam dengan
‘batasan’, karena mereka terlihat lebih tulus dalam menyapa seperti biasanya
saja. mungkin ada sesekali komentar polos mereka; ‘Cantik kali Eeelll hari
ini!’ dan aku lebih menghargai itu daripada diam-diam mengingkari dalam hati.
***
Usai sholat Zuhur, kami kembali lagi ke Science Park. Ada
Yudi dan Teguh juga yang menunggu di sana. Sebelumnya, tadi aku sempat bertemu
kak Ami. Dia titip salam untuk Lia. Awalnya, aku ragu untuk menyapanya, tapi
akhirnya ia yang lebih dulu menyapaku.
“Hati-hatii yaaa… selamat jalaaan,” kataku sambil melambaikan
tangan kepada keluarga besarnya Lia yang pulang.
“Ih, rempong!” kata Teguh ketika aku baru datang.
“Biarin wekkk!” balasku.
Aku duduk di samping Vina dan Susi yang baru saja datang.
“Ih, apaan tuh headbeltnya pakai tali plastik!” lanjut Teguh
lagi.
“Biarin aja! Mak kan cinta lingkungan. Daripada terbuang,
mending dimanfaatkan aja.”
“Ih, nggak kayak gitu cara memanfaatkannya. Dijual Rp 200
loh sekarang harga plastik,” lanjut Teguh, masih belum juga cukup mengataiku.
“Nanti baca tulisan Adek ya Mak! Tentang kantong plastik yang sekarang
berbayar.”
“Intinya Adek setuju atau nggak?”
“Nggak lah! Itu nggak seimbang. Kalau mau mengurangi
penggunaan plastik, bukan gitu caranya. Disubstitusikan kek ke kantong kertas
yang kayak di luar negeri itu. lagian nanggung banget kalau cuma Rp 200.”
“Ya setidaknya kan ketika orang harus membayar Rp 200 untuk
1 kantong plastik, mereka akan lebih mempertimbangkan lagi untuk membawa
kantong dari rumahnya yang masih bisa digunakan. Itu kan idenya bang Andrika,
MAWAPRES UI duluu Dek.”
“Iya tahuuu. Tapi itu bukan solusi loh, bahkan itu
menguntungkan produsen.”
“Hemmm…kalau mak sih setuju-setuju aja,” tutupku.
Vina terheran-heran melihat kami yang baru saja berjumpa
tapi langsung berdebat sengit seperti itu. Teguh dimintai tolong untuk
memfotokan Lia beserta keluarga intinya. Mereka menggunakan baju muslim bertema
Kuning gold hari ini. Benar-benar keluarga bahagia.
“Cin, mana pangeranmu?” tanyaku pada Vina.
“Dia cuma nganterin aja tadi, terus pergi lagi dan nitipin
aku ke Susi, hehee.”
“Apa nih perbedaannya sebelum BER-PANGERAN dan setelah
BER-PANGERAN, Cin?”
“Banyak Cin. Terutama, dalam hal ibadah. Itu terasa banget
perbedaannya. Mungkin kalau dulu, aku banyak bercita-cita pengen ke sini pengen
ke sana, tapi sekarang tujuan-tujuan duniawi itu berubah; Bagiamana caranya
jodoh kita tidak hanya sampai di dunia aja, tetapi berjodoh juga di syurga.
Terus, nggak galau-galau lagi yang pasti..”
“Menurut Vina, apa yang menyebabkan kita galau memangnya?”
“Yaaa.. Emm… karena waktu kita gelisah, nggak ada yang
menenangkan. Itu sih, Lis.”
“Ohohooo.”
“Ciyee… yang pengen berguru sama Vinaaa,” sindir Susi.
“Bentar lagi pasti muncul tuh di blognya Elis!” lanjutnya lagi.
“Iya Cin. Pastinyaaa. Tongkrongin terus yaa! Hehe.”
Kami bergerak ke RM Pondok Hijau untuk makan siang. Sekarang
sudah pukul 15.00wib dan kami sudah sangat kelaparan. Terlebih Rini.
“Yud, bonceng Rini ya! Soalnya Lia sama aku.”
Yudi belagak seperti berdoa, memohon ampun kepada Allah
karena terpaksa harus membonceng Rini.
“Jangan macam-macam sama aku ya Riinn!”
“Ih, siapa juga yang mau macam-macam. Jauh-jauh nyaa aku
duduknya niii!”
Diam-diam, aku memfoto mereka. Karena ternyata baju mereka
sangat matching; bernuansa pink.
***
“CIn kenapa nggak pakai sayur makannya?” tanyaku pada Vina.
“Sedang nggak pengen aja Cin.”
“Udah ada dedek ya di dalam perutnya? Udah berapa bulan?”
“Udah, Alhamdulillah. Jalan 3 bulan Cin.”
“Tapi bukannya sayur itu sehat ya Cin? Kok nggak mau makan
sayur sih?” tanyaku lagi.
“Ciiin! Beda loh. Ntar rasain sendiri deh kalau sedang
hamil!” sahut Lia, sok faham dengan kehamilan.
Penyakitku ketika makan bareng orang lain kambuh… “Nggak
habis?” tanyaku kepada yudi, Teguh, Lia dan Rini. Lalu tentu saja mereka akan
membuliku karena keanehanku itu.
“Kak Rini kapan pulang ke Medan?” tanya Teguh.
“Hari sabtu ini.”
“Loh cuma sebentar toh! Ciyeee..emak sendirian lagiii..”
teguh pun mulai bersenandung untuk mengejekku.
Aku hanya memanyunkan mulut. Kekonyolan dan obrolan hangat
pun berlangsung di meja makan yang kami satukan ini. sesekali terjadi
perdebatan antara Yudi, Teguh dan Aku. Vina tak habis fikir pada kami. Mungkin
dia syok pemirsaaa. heheee.
“Kak Liaaa…makasih ya atas traktirannya,” kata Teguh setelah
makan siang selesai.
Lia mengangguk dan tersenyum. Tujuan kami selanjutnya adalah
berfoto bersama di taman Ekaliptus yang bertuliskan UNIVERSITAS RIAU. Tidak sah
rasanya kalau seorang wisudawan belum berfoto di tempat khas ini. Di sinilah
kami launching Tentang Januari dan hari ini kami kembali mengabadikannya sebagai
Keluarga Januari. Vina dan Susi tidak bisa ikut karena harus segera pulang.
“Cin, temenin aku ketemu seseorang yuk di FAPERTA?” ajak Lia
setelah sesi foto selesai.
Kami bertiga ke FAPERTA dan ternyata yang ditemuinya adalah
bang Adi; tetangganya Lia yang pernah juga bertemu denganku sewaktu aku
berkunjung ke Kampar kemarin. Ah, ternyata dia wisuda juga hari ini. Selamat
dan sukses selalu bang Adiii! Setelah itu kami bergegas menuju mushola Faperta
untuk sholat Ashar.
“Kami kan udah berteman sejak kecil Cin, jadi Emaknya ingin
menjodohkan aku sama dia. Tapi, dia aja udah punya pacar.”
“Eh, udah punya pacar Abang tu? Kemarin waktu ku tanya,
katamu belum,” kataku.
“Eh, kemarin kan mu nanyanya abang tu udah punya calon istri
atau belum? Ya ku jawab belum lah.”
“Loh? Kan dia udah punya pacar. Memangnya belum tentu itu
jadi calonnya ya?”
“Ya belum tentulah.”
“Ih, gugur bunga (baca: lagu kebangsaan) aku dah Cin!
Kemarin tu ku kira Abang tu adalah orang yang ‘menjaga’ diri dan hati. Gugur
bunga pokoknya Cin.”
“Hihii..acian. Gugur bunga akhirnya mu ya?
“Tapi kalian mirip loh Cin. Don’t-don’t jodoh.”
Berikutnya, giliran aku mengganggu Rini.
“Rin, pasti Bang *** dulu pernah main ke Faperta juga kan
Rin? Dia pasti pernah melintas di jalan yang kita lewati ini kan Rin? Dia pasti
pernah menapakkan kaki di atas tanah yang kita pijak ini kan Rin?”
“Ah, sudahlah El!” sahut Rini, malas. Aku tertawa.
***
“Udahlah Cin, pilih **** aja. Dia lebih pasti daripada bang
***!” kata Lia dengan tegas.
“Eh, iya kah Ciiin? Mu menilai si anu tu lebih pasti dari
mana memangnya?”
Lia pun menjelaskan beberapa pandangannya tentang cowok yang
sedang mempersiapkan diri dengan cowok yang masih ingin bersantai-santai. Aku
menyimaknya takzim sambil terus melangkah menuju parkiran.
“Kayaknya Abang tu mau ngejar S3 dulu Cin. Ntahlah! Kemarin
kan pernah dia bilang di grup; Eksplor
diri kita dulu. Terus, ku jawab gini; Rosulullah
dulu mengeksplore dirinya dengan sang istri loh bang. Terus abang tu
bilang gini; Itu kan Rosulullah, bukan kita. Aku jawab lagi; Iya, Rosul yang menjadi sebaik-baik teladan
kita. Dan terakhir
dibalasnya; Disconect. Hahaa.”
“Parah ya
Cin. Berarti dia benar-benar ingin menunjukkan bahwa dia berbeda pendapat
denganmu. Sampai-sampai setegas dan setega itu berkata; Disconnet. Hemmmm… Bang
*** juga kayaknya gitu ya kan Cin?”
“Iya.
Mereka berdua kok mirip ya?”
“Ya karena
itulah mereka bersahabat Cin. Kita kan menyerupai sahabat kita, toh?”
Obrolan
kami harus berhenti dulu karena Rini ketemu Vanni dan kami berfoto bersama
dengannya. Selanjutnya kami menuju Subrantas karena Lia akan pulang naik bus.
“Mu kayak
pengantin kabur aja Cin. Pakai kebaya dan bawa bunga naik bus. Hahaha,” kataku.
“Masa iya
Cin? Tapi mempelai prianya kan nggak ada?”
“Ya yang
kabur tu cuma mempelai perempuannya aja. Melarikan diri dari pernikahan. Kayak
di film-film India itu. ahhaha.”
Obrolan
kami masih berlanjut sambil menunggu bus kota melintas. Sebenarnya, beberapa
meter dari tempat kami berdiri, aku sudah melihat ada bus kota yang standby,
tapi aku sengaja diam saja karena masih ingin Lia di sini. Ku ajak terus Lia
ngobrol supaya ia tak menoleh ke arah sana. *Licik.com.
“Cin,
sebenarnya aku malu harus mengakui perasaanku ini, hehe. Sejujurnya aku memang
suka sama Abang kita yang satu tu.”
“Heleeehh,
dah dari dulu pun aku tahu! Terbaca kok! Ahhaaa,” ledekku.
“Tapi ya
gitu. kita kan cari yang pasti-pasti aja ya kan Cin?”
“Iya Cin,
setuju! Sebagai seorang perempuan, sebenarnya USIA perasaan kita itu tergantung
kepastian si cowok. Kalaupun toh kita suka, tapi dia nggak pasti, kita pasti
akan mundur juga. Intinya, perasaan ini hanya akan menjadi PERASAAn dan nggak
akan berubah menjadi APA-APA kalau nggak ada kepastian dan keputusan.”
“Eh, itu
busnyaa” teriak Rini.
Lia
langsung menaiki bus dan mengkode ‘I LOVE YOU’ dari gerak bibirnya kepada kami.
Kami melambaikan tangan kepadanya.
“Ehmmm..
El, Lia terbukti Iluminati!” kata Rini.
“Iya Rin,
ternyata benar Lia terbukti Illuminati. Ahhaa.”
Red: Illuminati yang kami maksud adalah salah satu judul video Skinnyindonesia24 yang lucu banget.
Red: Illuminati yang kami maksud adalah salah satu judul video Skinnyindonesia24 yang lucu banget.
Aku
mengajak Rini pulang lewat jalan yang berbeda. Aku berniat memintanya
memfotokanku di sana, tapi sayangnya baterai HPku lowbat. Aku sudah berusaha
mengecasnya sambil lesehan di pinggir jalan, tapi ternyata laptopku juga sesaat
kemudian lowbat. Huhuuu. Akhirnya kami langsung pulang. Malam ini kami akan
cuti dinner sepertinya karena perut masih cukup kenyang.
“Rin,
semalam aku nulis di Instagram gini; Perlu
diingat bahwa PENULIS tidak selau SAMA dengan TULISANNYA. Ada hal yang kadang
tak sesuai dengan dirinya yang sebenarnya. Bisa jadi karena ia tidak PUAS
dengan kehidupannya atau ia ingin memiliki KEHIDUPAN kedua di dalam
tulisan-tulisannya. Nah,
aku ingin nulisin novelette atas kisah-kisahku ini Rin. Novelku yang dulu itu
hanya akan ku simpan aja sebagai pondasiku. Nggak akan ku coba untuk
nerbitkannya lagi.”
"Pertanyaannya sekarang, kalau ternyata El nggak menikah sama dia gimana?"
"Ya nggak masalah Rin. Berarti itu akan jadi kehidupan kedua dalam tulisanku. sihiyyyyy."
“Eh, El,
aku pernah baca novelnya ILANA TAN. Nah, penulisnya itu menulis dari sudut
pandang masing-masing karakter. Misalnya ada 4 tokoh di sana, jadi dia
menguraikan 4 sudut pandang karakternya itu. Jadi, kita tahu perasaan
masing-masing tokoh itu kayak mana. Yang tadinya salah faham, jadi tahu apa
yang sebenarnya terjadi.”
“Aku pernah
terfikir juga untuk menulis dengan gaya kayak gitu Rin. Ahhh, syukurlah karena
Rini ngasih tahu aku info barusan. Kadang, aku berfikir juga untuk jadi penulis
bergaya ‘Adu Domba’. Misalnya, sebenarnya si A ini nggak suka sama B, tapi
penulisnya mendeskripsikan bahwa si A itu tergila-gila sama si B. ahhaa.
Pembacanya dikibulin Rin. ahhaha. Keren kan?”
Rini
manggut-manggut dan ikut tertawa. Sore ini kami habiskan dengan bercerita
ngalor ngidul. Aku tidur di samping Rini di atas tempat tidur yang lebarnya
nggak seberapa ini.
***
Malam ini, Rini mengorbankan dirinya untuk menjadi tumbalku
demi informasi tentang seseorang. Rini menyerahkan HPnya padaku supaya aku
mengetik sendiri. Tapi, ternyata keypad Andronya Rini bukan main sulitnya ku
gunakan. Berulang kali salah dan lama sekali selesainya per chat. Rini hanya
diam saja dan menertawakanku.
Zom, Kau masih ada
kontekan sama si **** tu?
Orak..
Setahu mu. **** tu
gimana di sekolah duluu?
Baik Rin. Mantaplah kalau untuk jodoh.
Aku terbahak-bahak di samping Rini. Rini penasaran dengan
isi chatku dan akhirnya ia pun tertawa. Kok bisa ‘ngena’ gitu ya kalimatnya?
Hahahaa…
Itu kan dulu Zooom, sekarang kau kan nggak tahu
kabar diaaa. Keluarganya gimana Zom?
Sekarang dia baik
jugaa. Rumah aku di pekan
jaraknya cuma 20
meter dengan rumah diaa. Sering
ke masjid. MAWAPRES
pula pas kuliah.
“Rin, kawanmu ini tahu kalau si anu tu MAWAPRES jugaaak!
Hahaa.”
“Ya tahulah. MAWAPRES tu kan terkenal kali.”
Dia tinggal di sini
dengan siapa Zom?
Orang tuanya sering juga aku liat di rumah pekan.
“Jangan pakai ‘Zom’ teruslah ujungnya El. Aku nggak sekaku
itu kalau ngomong sama dia. Ah, curiga pula dia nantiik!”
“Makanya, ketikkanlah haa! Susah loh keypadnyaa. Eh, cak
tanyain, warna cat rumahnya apa? warna kesukannya apa?”
“Apalah.. Nggak penting kali pun! Yang pasti-pasti ajalah
El!”
“Hhaha.. aku nggak ngebayangin Rin kalau cerita ini
difilmkan besok. Kira-kira siapa ya yang menjadi tokoh ‘aku’ di film itu
nantik? Bisa nggak dia sealay dan segila aku? Hehehe.”
“Cuma ada 1 Elysa di dunia ini, El. 1 pun udah minta ampun
lah pokoknya!”
Apa kesibukan dia
sekarang?
Dia punya berapa Adek?
Ping
1 Adek cowok.
Kesibukannya orakk
tahu.
“Lah? Rin? ternyata adeknya cuma 1 toh? Aku fikir banyak
loh! Sehingga dia benar-benar pengen meringankan beban orang tuanya dan
benar-benar fokus untuk berkarir. Huahhh, dia memang laki-laki yang bertanggung
jawab. Sekalipun adeknya cuma 1, tapi dia tetap merasa punya kewajiban besar
sebagai anak pertama.”
Kau di mana ni
sekarang?
Ping
Aku sedang di siak. Ente dimana?
Pekanbaru nih dah
sejak sabtu..
Besok kalau kau di pekan, agak-agak tegur dan mainlah
ke rumahnya biar dapat informasi baru hahahaaa..
Aduh, bahaya ente
sekarang yaa Rin.
“Rin, Rini diketawain sama dia. Maap ya Rin, Rini jadi
tumbalku sekarang. Tahan-tahan malu ajalah yaa. Eh, btw, nanti kalau Rini
ditanyai sama dia, jangan-jangan Rini buka mulut pula ndak?”
“Ya nggaklah! Kurang kerjaan kali aku.”
“Ya siapa tahu kan Rini diam-diam ngasih tau dia. Hahaha.
Jaga rahasia ya RIn!”
Kapan ente pulang?
Udah kelar urusan kampus?
Ini informasi untuk teman aku yang tak bisa disebutkan namanya.
Sabtu aku pulang. Tinggal nunggu leges lagi.
Ah, gaya ente lah!
Ciyuuss loh. Aku aja nggak kenal sama dia. Teman aku
nih haa rempong kali nanya tentang dia. Apalagi pas ku
kasih tau kalau kau kenal sama dia.
Iyelaahhh tuuu.
“Rin, tanyain lagi Hobinya apaaa?"
Hobinya apaa?
Maaf banyak nanya zom, maklum lah. Hahaa.
Hobinya music. Dia
vokalis.
“Dia Vokalis El. udah taunya El kalau yang ini kan?”
“Iya udah tahuu.”
Ohhh…anak band. Kalo
olahraga? Udah punya pacar dia? Hahah.
Olahraga suka suka juga.. nggak tahu aku.
Udah sejak kapan
tetanggaan?
Udah 2 tahun. Sekarang udah nggak. sekarang dah
pindah rumah aku di pekan.
“Loh El! Udah nggak tetanggaan ternyata orang nii!”
“Duh! Macam mana nyaa! Rini tahu nggak rumah dia yang lama
tu di manaa?”
“Di Delima juga kok! Tapi masuk-masuk gang lagi. Aku lupaa
pula.”
“Eh, dia di Delima ya? ih, ternyata selama ini dia dekat ya.
sihiyyyy. Kapan-kapan kita pura-pura nyasar ke sana yuk Rin? hahaa.”
Waktu SMA dia
berprestasi?
Iyaa.
“Udah puas kan El? Udah boleh nya aku tidur?” tanya Rini
dengan logat bataknya.
“Udah Rin. makacih ya intel barukuuuu. Hehehe.”
“Iyuuuuh! Ku rebut dia dari El baru tahu rasa!”
*Tulisan ini diselesaikan pukul
18.51wib, hari Jumat, 26 Februari 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar