Sabtu, 06 Februari 2016

Teri Merii Kahaani

Kehidupan ini memang tak selamanya masuk AKAL. Ada kalanya, hukum sebab-akibat menjadi tak berlaku dalam hidup. Ada yang terjadi padahal tak ada penyebabnya. Ada yang justru tak terwujud, padahal sudah diciptakan penyebabnya. Jika kita menemui masa serupa itu, yang harus kita lakukan hanyalah memelihara HUSNUZHON (Baik Sangka) kepadaNya. Barangkali ia punya alasan lain untuk menghadirkan akibat yang lebih baik atas sebab yang kita upayakan. Sebab, Ia tak pernah kehabisan cara untuk mengabulkan DOA hambaNya.


***

Yana sudah mengajakku untuk berangkat. Aku hanya meng-OK-kan saja, tapi sebenarnya aku masih lanjut ngeblog. Biar saja dia mengira aku sedang bersiap-siap juga, hehe. 15 menit kemudian barulah aku bergerak meninggalkan kosan. Berhenti sebentar di tempat bensin karena tangki minyaa sudah sekarat.
“Bang! Ini kelebihan kembaliannya,” kataku seraya menyerahkan uang Rp 500 kepadanya.
“Oh, nggak Kak. Sekarang harga minyaknya cuma Rp 8500.”
“Ohhh..okay! makasih Bang.”
Dia adalah penjual yang jujur ternyata pemirsa. Segera ku lanjutkan tujuanku; kosan Yana. Ternyata dia sudah standby menungguku di depan kosannya.
“Maaf ya Cekkk…ekee lamaa.”
“Hah, Na udah hafal dah! Pasti sedang nulis kan?”
“Hehhee..iyaaa. Semalam kan Bang Wira minta tolong designkan blognya… nah, tadi pagi itu nyelesaikan sedikit lagi Dek. Bububuyuuu. Hehe.”
“Na tu sebel loh kalau lihat Kakak nulis. Pasti lupa sama dunia sekitar dan nggak tahu waktu lagi. Kalau janjian sama Kakak dan Kakak telat, udah bisa dipastikan sebelumnya Kakak sedang nulis. Huh!”
“Bububuuyuuuu..maap. hehe,” rengekku. “Alhamdulillah, Bang Wira suka banget dengan blognya yang sekarang Dek. Puas lah Kakak udah bisa membantu orang.”

Kami terus melaju. Setelah nyaris ke ujung Subrantas, berbelok ke kiri memasuki gang Anggrek.
Setelah 100 meter, belok ke kiri lagi. Dan….. tibalah kami di Kolam Renang yang dirindukan. Aku dan Yana langsung jebur. Byurrrrrrrrr! Kali ini tidak sesepi ketika aku pertama kali ke sini bersama Lia. Banyak juga akhwat-akhwat UR yang berenang dan kami pun saling sapa.
“Dek, bisa ngapung dengan badan telentang?”
“Nggak tahu Na Kak. belum pernah Na coba.”
Yana langsung berupaya mencoba terapung. Meskipun gagal, tapi setidaknya ia sudah mencoba berkali-kali. Berbeda denganku yang hanya berani menontonnya saja; karena temat takut tenggelam. Huahhhh.
“Sini Na bantu memapah Kakak!”
“Awas ya jangan dilepaskannn!”
“Iyaaaa.”
Aku mencoba serileks mungkin dalam posisi telentang. Tak ada yang paling membuatku takjub kecuali langit luas yang ku pandang di atas sana. Diam-diam, Dek yana melepas tangannya dari menopangku. Tentu saja, aku refleks memeluknya karena aku masih tak yakin bahwa aku bisa mengapung. Huahhhhh.. Yana malah jadi menggendongku dalam air. Hihiii. Ketika aku bergantian menopang Yana, ternyata dia tak se-penakut aku. Meskipun ia pun belum bisa terapung, tapi setidaknya dia tidak serempong eke cyiinnn. Hehee.
“Dek, menurut Adek si anu bisa berenang nggak ya?” tanyaku.
“Bisa lah Kak. Cowok biasanya sih jarang yang nggak bisa berenang.”
“Emmmmm… kalau Bang **** menurur Adek bisa nggak?”
“Bisalah.. dia kan satpam!” jawab Yana.
“Hushhhh! Kok satpam sih? Satpol PP loh!”
“Hahaa.. iya, iya, lupa Na Kak. ehhee. Eh, Kak, jangan ngomongin itu di siniiii,” bisik Yana padaku sambil mengedarkan pandangannya kepada yang lain.
“Ohh. I know! I know! Hehee.”

Kami melanjutkan berenang. Di sela-selanya kami lomba lari dalam air, lomba lompat dalam air, lomba tahan nafas, lomba menari dalam air, lomba meringkuk dalam air. Huahhhh, banyak ya ternyata? Sampai kak Berry bertanya… “Kalian sedang ngapain sih Dek?”  dan kami hanya cengengesan saja.
Sudah 2 jam kami bermain air dan aku sudah mulai menggigil. Aku mengajak Yana untuk udahan. Badan rasanya oyong ketika mengentas dari dalam kolam. Serasa masing terombang-ambing oleh air.
“Kak? Main di sini yuk?” Yana mengajakku nyemplung ke kolam anak-anak yang dalamnya hanya selutut orang dewasa.
“Haha.. ayukkk!” dan aku pun malah tergoda.
Kami berenang dengan bebas tanpa takut tenggelam. Berenang ke ujung kolam, lalu berputar lagi. Tapi, kali ini kami nggak bisa lomba-lombaan, karena airnya cetek banget.
“Seger banget ya Dek airnya di kolam yang ini!”
“Iyalaaah.. nggak ada yang make dan belum jorkii.”
Setengah jam berlalu, aku dan Yana kemudian berkemas untuk pulang. Yang lainnya masih asyik berenang, mungkin mereka nggak punya deadline sepertiku hari ini. Sambil menunggu Yana, ku periksa HPku.

Diberitahukan kepada mahasiswa yang akan ujian tanggal 10 ini, harap untuk segera ke Prodi paling lambat pukul 09.30wib. Jika tidak, maka akan dinyatakan batal mengikuti ujian.
“Dek Yanaaaaaaa! Buruaaaaaaaannn!” teriakku, panik.
Ku lihat jam di HP. Sudah pukul 09.00wib. Duh! Mana aku siap-siap nggak bisa sebentar pula.. Grrr.
“Bu, berapa? Kami berdua.”
“Rp 14.000 Dek.”
Setelah membayar, aku langsung menyalakan motor. Dek Yana baru ke luar dan kami langsung melaju. Meskipun panik, aku tidak lantas ngebut tanpa tahu aturan. Aku berusaha untuk ngebut dalam taraf normal dan tidak menceritakan apapun ke Yana. Takutnya aku malah semakin panik.
“Kak dibalaaaaaaaaasss ***an Kaak BBM Naaa! Ahhaahaaa…” Yana tiba-tiba memekik.
“Serius lah Deeeeeeeek? Masa iyaaaaa?” teriakku pula.
“Iya loh Kak! kann… benar firasat Na tadi. Dia pasti balas BBM
Naa.”
“Apa jawabannya Dek?”
Insya Allah Yana ^_^. Gitu katanya Kak.Hhuahhhh… don’t-don’t, dia sebentar lagi bakal ngundang kita ke pernikahannya Kak. Tahan-tahan mental aja lah ya Kak. hahahaa.”

“Apa pertanyaan Adek sebelumnya memangnya?”
Apakah Abang akan menjadi ayah dalam waktu dekat? Gitu Na tanya Kak semalam Kak. Kalau Na lihat sih, Abang tu tipe orang yang suka dengan cewek yang udah lama dikenalnya Kak.”
“Kok dia pilih kasih sih? Dia kan nggak kenal sama Adek. Sementara BBM Kakak udah sejak berhari-hari lalu, nggak ada dibalasnya. Padahal udah di read.”
“Itulah kan Kak, aneh betul dia tuuu Kak! Na aja heran kemarin dia tiba-tiba ngebalas BBM Yana yang udah duluuu banget. Padahal, Yana pun udah udah lupa dengan pertanyaan itu dan bahkan riwayat chatnya pun udah Na hapus. Aneh dia tuu Kak! Makhluk macam apa sih dia?”
Aku hanya terdiam. Bermain teka-teki dengan kombinasi antara fikiran  dan perasaan. Biarlah rahasia.

***

Awalnya, aku berniat untuk tidak mandi saja dan langsung ke kampus dengan baju compang-camping begini. Tapi, untunglah aku masih waras dan nggak melaksanakannya. Aku segera berkemas dan berpakaian serapi mungkin. Sempat menghabiskan waktu 10 menit juga untuk mencari slip pembayaran ujian Skripsi yang ntah ke mana ngilangnya. Setelah itu, aku ngeprint ijazahku yang discan-kan oleh papi. Alhamdulillah, berkat kecanggihan teknologi saat ini, ijazahku benar-benar seperti legalisir sungguhan.
“Berapa Bang?”
“Rp 3000.”
Aku langsung menuju Prodi. Nafasku terengah-engah sesampainya di atas. Adik-adik yang akan ujian bersamaku langsung mempersilahkanku untuk duduk sejenak. Setelah cukup tenang, ku beranikan diri bertemu pak RM.
“Paaaakk, Elisa mau nyerahkan syarat ujian Kompre nih Pak,” ku sodorkan Transkip nilai dan SK Pembimbing kepada pak RM. “Tapi Pak, ada 1 masalah nih Pak.”
“Ha…apa tuu?” tanya pak RM, lembut.
“Slip pembayarannya ntah di mana Pak. Mungkin karena Elysa udah agak lama juga kemarin bayarnya, sekitar tanggal 1 Februari. Jadinya, sekarang udah nggak nyadar ntah di mana slip itu Pak.”
“Wahh…gimana tuh? Harus dicari yaaa.”
“Iya Pak, Elisa akan cari ulang nanti Pak. Tapi, izinkan Elysa tetap ikut ujian dulu ya Pak, hehe. makasih Pak.”

Huft, syukurlah sekarang Ka Prodinya adalah pak RM. Semoga segala urusan bisa lebih mudah dan cepat selanjutnya, aamiin. Aku langsung menuju kak Titin. Sebelum mengetuk pintunya, aku membaca doa nabi Musa terlebih dahulu.
“Assalamualaikum…” dan ketika pintu telah ku buka, terkejutlah aku bahwa ternyata di dalam sedang ramai orang. Yang membuat jantungku dag-dig-dug adalah karena pengurus perpus FKIP ada juga di sini. Ah, bisa malu aku kalau sempat kak Titin mengomeliku seperti sebelumnya. Ya Allah, permudahlah.
“Kak, mau nyerahkan syarat ujian kompre. Kemarin yang kurang tinggal ijazahnya Kak,” kataku, langsung menuntun fikiran kak Titin. Soalnya aku takut ia mengomeli hal yang sebenarnya kemarin sudah pernah diomelinya.
Aku semakin berdebar-debar ketika halaman ijazahku dibukanya.
“Eyalaaahh! Kamu lahir di Palembang ternyataaa!” kata kak Titin dengang nada tinggi.
“Iii..iyaa Kak.”
“Wong kito galooo!”
“Iyo Kak, wong kito galooo! Hehehe.”
“Ini kamu Elysa Riska kan?” tanya salah satu pengurus FKIP.
“Iya Kak.”

“Udah beres kan urusannya di perpus?” bisik kak Titin kepada kakak tadi.
“Udah. Kemarin CDnya sempat nggak bisa terbaca. Terus, saya telvon dia. Akhirnya diperbaikinya ulang.”
Aku hanya diam saja sambil tersenyum.
“Okeh deh!” kata Kak Titin setelah memeriksa semua berkasku.
“Makasih Kak.”
Ku tutup pintu jurusan dan semuanya terasa legaaaaaaaaaaaaaaa.
“Dek, tolong susun berkas kita ya per penguji, biar Kakak yang ke Bina Krida memfoto kopikan berita acara kita nii,” usulku.
“Okeeh Kak.”
Sekembalinya aku dari sana, adek-adek ini mengabarkan bahwa kak Gusti (09) masih belum ada kabar. Ditelvon nggak diangkat-angkat. Waduh, kalau kayak gini ceritanya, Kakak itu terancam nggak bisa ikut ujian nih! Aku berusaha menghubunginya terus, tanpa putus. Alhamdulillah diangkat juga akhirnya.

“Kakak sedang ada acara keluarga Dek di Bangkinang. Udah sampai Bangkinang pula dah. Gimana nih? Bisa nggak tolong Kakak? Apapun yang nanti terpakai uang Adek, besok Kakak ganti pokoknya.”
Tapi ketika ternyata aku tahu bahwa kakak itu belum menyerahkan persyaratan ujian, aku mengatakan padanya dengan sangat menyesal bahwa ia belum bisa ikut ujian kata pak RM. Tapi, setelah ku coba melobi pak RM lagi, Alhamdulillah pak RM memberi tenggang waktu sampai hari selasa kepada kak Gusti untuk melengkapi persyaratannya.
“Makasihhh ya Dek. Alhamdulillah ya Allah. Selasa semuanya insya allah beres Dek syaratnya.”
Aku hanya mencoba menolong mereka yang nggak punya harapan lagi. Karena aku tahu betapa sedih dan sulitnya berada di penghujung harapan.

***

“Dek Yanaaaaaa!” teriakku kepada Yana, di kamarnya. Loh? Kok nggak ada orang?
“Hey Kak Ciiiinn? Dari manaaa?” Yana nongol dari belakangku.
“Dari Prodi Dek. Alhamdulillah urusan ujian udah kelar dan sekarang tinggal mempersiapkan diri aja untuk hari Rabu.”
“Alhamdulillah Kak.”
“Tadi Kakak kan BBMan sama Bang Yudi dan Kak Lia. Kakak minta bang Yudi untuk pakai jas hitam dan kak Lia pakai kebaya di hari sidang Kakak besok supaya setelah itu kami bisa foto bareng. Yahh… walaupun kenyataannya nggak bisa yudisium dan wisuda bareng, tapi setidaknya kami bisa menghadirkan momen itu besok Dek. Kakak juga pengen Adek, Romcek, Okta dan yang lainnya datang semua besok. Jadi, kita langsung bisa foto studio. Khawatirnya, nanti pas Kakak wisuda di bulan Oktober, mereka nggak bisa hadir dan setidaknya Kakak nggak merasa terlalu sedih.”
“Ide bagus tuh Kak! nanti diperbesar aja Kak fotonya di kamar. Jadi, waktu Kakak besok Kakka nikah, eh teringat lagi dengan teman-teman semasa kuliah. Sihiyyyyyy.”
“Yuhuuuuuu Dek ciin.”

"Kak? Gimana ntar? Jadi intel Kakak tu nemuin Abang tu?"
"Nggak jadi Dek. Lagi-lagi ditunda. Dari Sabtu ke Sabtu. Dari Sabtu ke Selasa. Kakak masih harus bersabar Dek."
"Ohhh... diganti jadi hari selasa ya Kak? Sabar ya Kak. Allah nggak akan kehabisan cara untuk menyatukan 2 hati, jika memang ia menghendaki."
"Sihiiiiiiiyyy. So sweet. Hemmm.. ya mau digimanain lagi Dek. Kakak harus menunggu dalam seanggun-anggunnya diam."
 Aku hanya takut caraku mendekatkanmu adalah
cara menjauhkanku padaNya.
Sebuah Screen Shoot dari Teguh ku baca. Lalu ku balas...
So sweet. Tapi ada yang janggal tuh Dek. Bukan mendekatkanmu, tapi mendekatimu. Bukan padaNya, tapi dariNya. Aku mengusulkan Teguh untuk membuat tab 'Quotes of the day' di blognya. Eh, bocah manja ini malah memintaku membuatkannya. Bukan hanya itu, ia pun memintaku untuk merapikan blognya. Mak kan punya bakat jadi tukang bersih-bersih, begitu katanya. Grrrr!

Perutku keroncongan. Mulailah ia mengeluarkan bunyi kriukk-kriuuk di dalam sana. Yana sudah makan ternyata setelah berenang tadi. Akhirnya aku mesan nasi bungkus delievery seperti biasanya. Ketika aku makan, Yana malah tertidur. Barulah setelah azan berkumandang, kami sholat bersama. Aku masih di sini sampai sore. Melengkapi puisi-puisi di blog sementara dek Yana melanjutkan skripsinya. Sampai Ashar menjeda…
 “Dekkkkkk!” Pekikku tiba-tiba kepada Yana.
“Ngapa Kak?”
“Kakak udah tahu mau S2 di manaaaa!” teriakku lagi.
Yana tetap meneruskan mengepelnya. “Emang di mana Kak?”
“Di Indiaaaaaaaa Dek! Kakak pengen belajar sastra di sanaaaaa. Huahhhh. Ye yeeee!”
Yana tertawa kecil melihat tingkahku yang sedang amat kegirangan ini. Segera ku buka laman google dan ku telusuri tentang beasiswa-beasiswa S2 di India berikut dengan pengalaman luar biasa yang akan diperoleh. Aku semakin menjadi-jadi ketika menyadari bahwa India juga memiliki Gurun dan Salju sekaligus. Huahhhhhh.. How sweet you are! Di ujung pencarianku, aku menemukan sebauh fakta bahwa professor-professor di Inggris kebanyakan juga adalah orang India bahkan yang bekerja di Apple. Bismillah! Goes to India!

Aku kembali disadarkan bahwa budaya Indonesia sebagian besar terpengaruh oleh India, bahkan agama Hindu pun asalnya dari sana. Ingin sekali rasanya melihat lebih dekat negeri ‘pembawa budaya’ itu. Aku masih terus melanjutkan pencarianku tentang India sementara Dek Yana sedang mencuci baju. Lagu Tere Merii Kahaani masih terus mengalun, menemaniku yang sedang khusuk dalam pencarian.

Tidak ada komentar: