Senin, 07 Maret 2016

Tunggu Hatiku Pulih dulu





Setelah selesai dari seuah PERSINGGUNAN, selalu ada bagian-bagian yang hilang dari KEUTUHAN sedia kala. Ada suasana atau rasa yang berbeda dan tak se-sama sebelumnya. Waktu akan menggantikan bagian yang hilang itu dengan hal baru yang lebih BAIK. Seusai sebuah persinggungan, memang akan ada hal baru yang terpetik. Dan semoga waktu akan mengajarkan kita untuk menjadi BARU dengan segala pemaafan yang baik dan persaudaraan yang berkekalan. Sebab, selalu ada pelajaran yang ditunjukkan oleh sang WAKTU.

*Seusai persinggungan – Metamor(Prosa)
***

Aku berdebar-debar. Sedikit khawatir kalau pak Danur sudah meninggalkan kampus. Huft! Keasyikan membaca buku malah membuatku lelet begini, padahal ini lebih prioritas dan waktunya terbatas. Ku lajukan motorku, meninggalkan kosan. Dengan malas, aku bergerak, beranjak dari bebukuan yang sejak tadi ku baca secara acak.  Aku memang seperti ini dalam membaca buku; Jika hanya terfokus pada 1  buku hingga khatam, pasti tidak terlalu meninggalkan KESAN. Maka aku mengacaknya secara bebas; beberapa halaman dari buku A lompat membaca beberapa halaman dari buku B lalu kembali lagi ke buku A atau malah lompat ke buku C. hahaa, aneh ya!
 


“Banyak juga baju kotorku!” gumamku sambil merendam baju-baju.
Usai merendam baju, aku merapikan kamar kemudian mandi dan bersiap-siap ke kampus.
“Jam 9.30wib hari Senin silahkan bagi yang mau bimbingan sama saya!” seru Pak Danur, hari Sabtu kemarin.
Ku lihat jam di HP. Sudah menunjukkan pukul 10.00wib. Aku terjepit oleh waktu. Harus buru-buru sampai di kampus nih!
“Mamakeeeeee?” sapa Titin dari seberang jalan, ujung gang kosku.
“Heyyy… ngapain Cin?” kataku sambil bergerak mendekatinya.
“Mau ke kosan Cin loh padahaaaal!. Cin mau ke mana?”
“Kok nggak bilang-bilang sih? Mau ketemu dosen Cin.”
“Ya sengaja mau ngasih surprise! Tin udah belikan sarapan juga nih 2 buat kita.”
“Ya udah, yoklah kita ke kos!” ajakku langsung.
“Ntar Mamake terlambat ndak ketemu dosennya? Udah janji belum? Ntar Dosen Mamake nunggu lama pula?”
“Nggak kok! Aman tuh! Lagian Mamake belum ada janji sama Bapak tuh. Yuk!”

Akhirnya, takdir membuatku kembali ke kosan lagi. Aku sama sekali tak ingin membuat Titin sedih; Bahkan hanya tersebab oleh buru-buruku ke kampus. Aku sama sekali tak ingin mengecewakannya yang telah membelikanku sarapan, sekalipun sebenarnya aku sudah sarapan. Aku ingin membuatnya sangat nyaman bercerita kepadaku dan berada di sebelahku.
“Wawwww…pecal ya yang Titin belikaan. Maaciiih Ciiinnn!” kataku sambil mulai melahapnya.
“Cinn…ternyata kita udah lama juga ya nggak ketemu dan nggak ceritaaa.”
“Iyaa yaa.. agak-agak 2 minggu lebih yaa. Kemarin waktu Cin wisuda, Mamake nggak ngelihat Titin. Dan setelah sampai di rumah, barulah terasa ada yang kurang. Eh, sadarlah Mamake kalau kita nggak ketemu hari itu. Setelah ketemu Lia dan Yudi, Mamake langsung ke luar dari gedung Gasing itu. Cin sampai jam berapa di sana?”
“Sampai jam 3 Mamakee. Teman-teman banyak yang ngabarin pengen ketemu, tapi Tin tunggu-tunggu dekat pintu D malah nggak ada nongol-nongol orang tu.”

Ya Allah, atas kemurahan hati dan pengorbananku yang sederhana ini… mohon tunjukilah aku jalan lainMu untuk menyempurnakan urusanku yang tertunda. Aku serahkan penyempurnaannya padaMu. Engkau pasti tahu bagaimana caranya. Lagi pula, ini salahku. Coba saja jika aku lebih cekatan tadi memulai hari, tentu aku tidak perlu menyulitkan diriku seperti ini, kan? Maaf ya Allah. Maaf wahai diri. Doaku dalam hati. Aku sering kali seperti ini.
“Tahu nggak Mamakeee.. sehari sebelum wisuda tu badan Cin remukkk kali. Bayangkanlah, Tin 3 hari bolak-balik naik motor buat jemput keluarga Tin. Hari pertama jemput Mak, hari kedua jemput Bapak, hari ke tiga jemput Adek. Udah nggak terasa kayak badan lagi lah pokoknya Mamakeee. Demi keluarga..”
“Ya ampuun Ciiinn. 4 jam kan sekali berangkat tuu ke Kuansing? Aciaaannn..”

Kemudian Titin bercerita kepadaku tentang perjuangannya melamar pekerjaan. Dari cerita-cerita sebelumnya, aku menyimpulkan bahwa kesempatan itu selalu saja serba ‘nyaris’ ia raih. Aku sedih, karena belum bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Setiap kali mendengar teman-teman yang kesulitan menemukan pekerjaan sperti ini, tekadku di dalam hati selalu bertambah kuat; Aku harus sukses sehingga bisa menolong orang lain lebih banyak. Aamiin. Tiba-tiba, aku ada ide! Aku akan mencari tahu tentang lowongan kerja di kantornya seseorang, siapa tahu ada lowongan di sana. Dan aku jadi berkhayal, andai saja Titin bekerja di sana… tentulah Titin akan menjadi perpanjangan tangan dan jembatanku menujunya. ^_^
“Makasih ya Mamake udah mau dengeri Tiiin. Oh ya, yang Tin bilang ‘rahasia’ tadi tolong jangan ditulis di blog ya! Awasss!”
“Hahhaa…okeeh Cintaaa.”
Tak terlalu lama Titin di sini. Hanya sekitar 20 menit saja dan ia segera berpamitan. Ia sudah ada janji dengan temannya untuk kembali melamar kerja. Semoga sukses ya Ciiin.

***

Benar dugaanku. Pak Danur sudah sejam yang lalu meninggalkan kampus. Ah, bagaimana ini ya Allah? Aku terduduk beberapa saat di koridor. Bingung harus berbuat apa. Akhirnya, ku dekati 2 orang junior yang sedang membicarakan jadwal kuliah. Ku jepret jadwal pelajaran mereka supaya aku lebih mudah mendeteksi jadwal mengajar Pak Danur.
“Beli pena bertinta cair ah!” kataku.
Aku menuju foto kopi Ocu untuk membeli pena. Lalu, aku kembali terduduk di pinggiran kelas Bahasa Inggris. Aku termenung beberapa saat, memikirkan banyak rencana dan siasat. Tapi ujung-ujungnya tak satupun yang ku perbuat sebagai solusi.
Assalamualaikum Cinta... ^_^
Sehat dan baik-baik aja kan???
SMS Mami ku terima. SMSnya bagai penyejuk di tengah teriknya matahari kemarau. Mami kok tahu sih kalau anaknya sedang gundah gulana? Makasih ya Allah, sudah menghadiahkan mami seperti ini untukku. Aku jadi sedikit fresh sekarang. Ku putuskan untuk ke Prodi, siapa tahu ada petunjuk di sana.
“Itu blanko pendaftaran Yudisium ya Tia?” tanyaku kepada Tia yang sedang tekun menulisi berlembar-lembar formulir.
“Iya Lisss.”

Seperti kekhawatiranku, ia malah mengkhawatirkanku. Kadang, aku tidak suka dikhawatirkan oleh orang lain. Aku hanya butuh solusi dan penenang. Terutama untuk saat-saat seperti ini. Ah, syukurlah blanko itu sudah ku isi sejak bulan Juli tahun lalu. Saking optimisnya bisa wisuda bulan Oktober, hehe.
“Oh iyaaaa.. Dek Novi bisa membantuku nih!” tiba-tiba aku dapat ide untuk menumpang scan dengan dek Novi.
Kebetulan ia sedang di di Hima Pefsi. Aku langsung menjemputnya ke sana. Lalu kami melaju menuju kosannya.
“Dek, Kakak belajar 1 hal hari ini. Ternyata, Kakak begitu lemah ketika ada deadline dengan orang lain. Kalau deadline dengan diri sendiri, Kakak selalu siap berkejaran dengan waktu karena Kakak hanya berurusan dengan diri Kakak sendiri. Tapi kalau dengan orang lain? Kadang ia yang nggak sesuai dengan kita, kadang ia nggak bisa kita harapkan bisa secepat yang kita kehendaki, kadang kita nggak bisa menyesuaikan ketepatan waktu dengannya. Ah, Kakak selalu kalah kalau berurusan dengan deadline kayak gini Dek,” aku-ku.
“Ya iyalah Kak. berurusan dengan orang lain itu memang ribet, Kak.”

***

Kami sudah sampai. Cukup lama juga kami menggunakan berbagai cara supaya hasil scannernya benar-benar bening dan seperti aslinya. Ah, benar saja, keterbatasan itu memang memicu kreativitas tiada batas. Alhamdulillah, akhirnya yang diinginkan berhasil diwujudkan.
“Ntar di lembar ucapan terimakasih di SKRIPSI Kakak, akan kakak tuliskan nama Cek di sana. Sebagai orang yang udah membantu men-scan-kan sesuatu, ehhee,” kataku.
“Sihiyyyy.. ada-ada Cek nii haa. Makan di Kalasan kita yuk?”
“Ayukkk!”
Makan berdua lagi. Persis seperti kemarin siang. ^_^ Setelah selesai makan, aku kembali ke kampus. Bertemu Kak Titin dan menyerahkan 3 lembar pengesahan yang harus ditandatangani oleh Kajur IPS dan Dekan FKIP. Seperti biasa, ia bertanya; “Kok kamu baru nongol? Ke mana saja kamu?” kepadaku yang memang semenjak ujian baru nongol hari ini. Detik ini, aku belajar satu hal; “Ternyata, menampakkan wajah kita kepada orang lain itu kadang sangat diperlukan. Meskipun kita tidak melakukan apa-apa. Meskipun kita tidak berurusan apa-apa dengannya.”
“Nongkrong di Puskom ah!” kataku setelah ke luar dari ruangan Kak Titin.
Aku menghabiskan sore di puskom. Tidak untuk menulis apapun. Tidak untuk memposting apapun. Aku hanya ingin duduk di sini, sambil membaca buku Hujan Matahari yang ku pinjam dari Yudi. Untuk saat ini dan mungkin beberapa hari ke depan, aku hanya ingin membaca. Menulisnya… emm… tunggu hatiku pulih dulu.

*Tulisan ini diselesaikan pada tanggal 11 Februari 2016, pukul 07.33wib.

Tidak ada komentar: