Jumat, 02 September 2016

Prepare for Tomorrrow English Camp 2016



Janji yang paling menyisakan rasa bersalah itu bukan janji kepada pacar, janji kepada teman atau janji kepada orang tua. Tapi, janji kepada diri sendiri. Tak ada yang menyedihkan selain pengingkaran diri terhadap janji diri sendiri. Jangan kira aku tidak pernah ingkar. Pernah! Bahkan belakangan semakin sering. Mengingkari janji ternyata mirip seperti candu; sekali saja diingkari, maka akan menjadi kebiasaan. Kamu mau tahu janji apa yang sering ku ingkari kepada diri sendiri? MENULIS. Yap, aku sering ingkar janji tentang yang satu ini. Aku berjanji untuk menulis setiap hari, tapi nyatanya tak setiap hari aku menulis. Bagaimana ya? Aku pun sering kalah dengan diri sendiri.
*Penulis yang menyesali dirinya – metamor (Prosa)

***

Titin sedang fokus nonton drama Korea. Ntah apa judulnya. Ok Jung kalau tidak salah. Dia sedang fokus dan lawakanku pun tak digubrisnya. Sadis memang! Gara-gara drama Korea, aku pun terlupakan. Hiksss. Sambil sarapan, Lia dan Winda pun ikut-ikutan Titin nonton. Sementara aku sengaja berlindung di balik badan Titin supaya tidak terkontaminasi dengan film itu.
“Winda kok suka nonton film nggak jelas sih?” tanyaku, jutek.
“Jelas kok filmnya. Ada warnanya tuh!” jawab Winda.
Aku tertawa kecil.
“Makanya dia berlindung di balikku sebab dia takut kalau terlanjur suka nonton Korea, nanti jadinya kecanduan. Hahhaa. Nah, supaya dia nggak terkontaminasi, dijelek-jelekkannya film Korea. Huuuuu,” sahut Titin.
Aku tertawa kecil lagi. Well, di posisi ini, aku yang kalah. Mana sanggup aku melawan 3 orang? Ngalah deh! Hehe. Usai sarapan, kami mendaur ulang sampah plastik dan membentuknya menjadi pola-pola bunga. Aku paling suka dengan plastik yang warna ungu. Cantik banget! Apalagi kalau dikombinasikan dengan warna pink! Wuhuuuu…

Aku mencari kesibukan; Memenuhi target postingan di teachmelovelife.blogspot.co.id.  Postingan one day one wisdom di bulan Agustus masih bolong-bolong. This time to complete it! Semoga bermanfaat, semoga menjadi amal jariyah hingga ke syuga kelak. aamiin. Memang sedikit lelah mengejar target seperti ini, tapi lelah yang penuh dengan kebahagiaan. Aku pernah membaca hadist bahwa ada dosa-dosa yang tidak akan terhapus dengan pahala sholat atau puasa, kecuali dengan berlelah-lelah dalam kebaikan. May this is a path a way for. amiin.

***

Usai makan siang, kami bergegas ke kampus untuk mempersiapkan English Camp 2016. Titin berboncengan dengan Lia sedangkan aku sendirian dan sudah jalan duluan. Kami mengemudi cukup laju sebab seharusnya pukul 14.00wib kami sudah tiba di Bumi Perkemahan. Tapi nyatanya kami baru tiba di sana pukul 15.00. hiksss.
“Mu ngilang kemana sih tadi Cin?” tanyaku geram ketika baru sampai. Sebab sewaktu di LPPM, ku lihat ke belakang, Titin dan Lia ngilang dan akhirnya aku celingukan di rektorat, tak tahu arah jalan pulang (halaahhhh, apaan sih ini?). Untung aja ketemu  dek Wowok dan dek Juni.
“Heh, koe itu yang ngilang!  Wong udah jelas kita mau ke Buper, mu malah nyelonong aja ntah ke manaaa!” balas Lia dengan wajah sok galak.
“Hihiiii. Aku aja heran dengan diriku sendiri, Cin. Kok aku nggak ngeh ya kalau kita mau ke Buper?”
Setelah mobil pick up tiba, kami dibantu oleh Pramuka dan Menwa, bersama-sama mengangkut batang-batang kayu dan ranting untuk dijadikan api unggun besok malam. Ketika hendak melemparkan kayu ke atas mobil, aku kurang berhati-hati dan pinggangku malah terbentur kayunya. Aku menga-aduh. Diam sejenak, memastikan bahwa bekas kecelakaan kemarin tidak kambuh lagi. Setelah yakin aman, aku mengangkut kayu lagi.

“Aku nggak ikutan ya. Aku seksi dokumentasi aja yaa!” teriak Titin dari pinggir pos.
“Heh! Fotografernya tolong ikutilah ke mana modelnya pergi! Foto kami buruan!” pinta Lia, mirip emak-emak.
“Cin, ada botol-botol nih!” kataku kepada Lia.
“Buat apa Kak?” tanya dek Hardi.
“Buat didaur ulang Dek.”
“Oh, itu ada 2 karung di sana. Soalnya kami ada acara juga kemarin di sini Kak.”
Lia langsung melirikku dengan tatapan penuh misi. Aku pun menatapnya demikian.
“Untung aja kita berani bilang ya Cin. Eh, malah dikasih 2 karung kita. Yesss!” kata Lia.
Aku tersenyum. Beruntung kali memiliki teman sepertinya yang tidak jaim dan bahkan dialah yang selalu berinisiatif untuk membawa pulang sampah-sampah. Love you Cin! Mari kita ubah sampah jadi berkah!

“Aduhhhhhhhh sakiiiiitttttt!” aku memekik ketika semur hitam yang lengket di ranting, menyengatku.
“Aku nggak mau bantuuuu lagi ah! Sakittttttttt kalii rasanyaaaa,” teriakku sambil berlari meninggalkan yang lain.
“Alaahh, Kakak tu pura-pura aja tuh! Tadi kena kayu dikit aja udah sakit pinggang. Sekarang kena semut kecil aja dah kesakitan,” kata Andi dengan sangat tega, pemirsaaaaaa.
Aku tak peduli. Aku duduk di pos sambil mengurut-ngurut jari tengahku yang mulai membengkak.
“Kenapa Mamake?” tanya Titin.
“Disengat tomket, Ciiin!”
“Cepaaat kasih taik hiduuuung, Mamakeeeeee!” pekik Titin.
“Masa iya gitu?”
“Iyaaa. Cepatlah kasih taik hiduuuung!” paksa Titin lagi.

Aku menurutinya. Meski agak jorkiiii. Iyuuuuhhh. Tapi, bukannya makin sembuh, tanganku malah semakin merah dan bengkak. Hiksss. Setelah kayu api unggun memadai, kami bergerak menuju lapangan Taekwondo, tempat English Camp akan dilaksanakan.  Sambil memandang langit. Sungguh cantik langit siang ini. Aku sangat suka memandang langit; langit siang, langit senja dan langit malam. Semoga, kelak aku pun berjodoh dengan seseorang yang sama-sama suka memandang langit. Lalu kelak, kami akan memandang langit berdua. aamiin.
“Cin, tolong akuuuuu!” teriakku kepada Lia sebab tak berani menyeberangi parit.
“Jangan ragu Cin, melangkah aja. Aku aja sampai, masa mu nggak sampai sih kakinya?”
Tapi aku memang sangat takut dan lebih memilih untuk turun dulu ke dalam parit, baru mendakit lagi ke atas. *Pekerjaan bodoh macam apa ini pemirsaaa?
“Ihhh, buah merah-merah ni cantiiik kali Mamakeee!” kata Titin sambil mulai memunguti guguran buah Saga.
“Buah Saga namanya ni Cin!”
“Ohhh, ini yang namanya Saga tu ya?” kata Lia.
“Yuhuuuuuu Ciiin,” jawabku lagi.

Bukannya menolong yang lainnya mengangkat kayu, aku dan Titin malah keasyikan memunguti buah Saga. Sudah ku bilang,
tanganku sakit dan aku nggak mau lagi megang kayu itu. Setelah kayu api unggun selesai disusun, mereka beristirahat sambil melihat aku dan Titin yang masih juga memunguti Saga. Holmes dan Yohanes ikutan memunguti Saga, membantu kami seikhlasnya.
“Cin, dah Azan. Sholat di mana nih?”
Lia mengajakku sholat di Mushola Rektorat sementara Titin dan Juni sedang membeli air minum dan cemilan untuk kerja kita sore ini. Usai sholat Ashar, aku dan Lia makan cantik dulu dengan bekal yang kami bawa dari rumah tadi. Barulah kembali dan mendirikan tenda bersama yang lainnya. Usai mendirikan tenda, teman-teman mendirikan Gapura bertuliskan “Welcome to English Camp 2016” dan mendirikan booth di sisi kiri tenda.

“Cin, aku nggak akan jatuh kan kalau kayak gini?” tanya Lia sambil memegang pasak tenda.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Bruukkkkkkkkkkkkk! Lia sudah terjatuh. Semuanya tertawa karena tingkahnya. Termasuk dirinya sendiri.
“Aku mau bilang tadi bahwa pasak tu nggak kuat Cin! Hahaa, Eh mu malah udah jatuh duluan,” kataku.
Lia masih belum berhenti tertawa; “Ini tragedy namanya ya Ciin, haha.”
Yang tidak datang dalam prepare sore ini adalah Joshua yang masih di Jakarta, dek Nila (ntah apa kabarnya) sementara dek Trialen baru datang agak sorean sebab ada keperluan. Sambil melihat cowok-cowok memasang tenda, aku ngobrol dengan kak Peni..
“Kak, Kakak tinggal di mana?”
“Di taman Karya, ngekos.”
“Kakak orang mana?”
“Tembilahan. Inhil.”

“Ooo.. Oh iya Kak, ada nggak hari ini Adek-adek yang ke KUI untuk ngajuin proposal ke luar negeri?”
“Hari ini nggak ada kayaknya Lis. Mau ke mana dia?”
“Ke Malaysia Kak.”
“Oh, senin besoklah kalau gitu.”
“KUI akan bantu apa aja Kak biasanya?”
“Tiket pulang-pergi (air cost) dan uang pendaftaran.”
“Udah sejak kapan sih Kak KUI ngebantuin gini Kak? Dan kalau udah dapat dari WR III, bisa dapat lagi dari KUI Kak?”
“Udah sejak tahun lalu Lis. Wah, nggak bisa donk, karena namanya ntar doble dan yang akan sulit ya yang bersangkutan.”
“Kalau misalnya nih Elis S2 di sini Kak, apakah bisa dapat bantuan lagi dari KUI? Atau KUI cuma ngebantu anak S1 aja?”
“Bisa semua kayaknya. Yang penting kan mahasiswa UR.”

Aku manggut-manggut. Coba tebak, rencana apa yang ada dalam kepalaku? Hihii.
“Kak, nanti kalau di KUI ada plastik yang masih bagus, atau botol-botol, atau minuman gelas, jangan dibuang ya Kak. Kasih tahu aja Elis, biar Elis ambil, ehehe.”
“Biasanya tiap sore diberesin sama ESU tuh Lis. Emang buat apa sih Lis?” tanya kak Peni.
“Buat di daur ulang Kak.”
Aku menunjukkan, bunga-bunga berwarna ungu dan pink yang tadi pagi kami buat.
“Cantik yaaa. Kreatif!”
"Itu apaan yang di dalam karung?" tanya kak Leni.
"Botol-botol plastik, Kak. Untuk kami daur ulang, hehee," jawab Lia.
"Dapat darimana kalian?"
"Dari buper tadi Kak. Kemarin kan ada kemah di sana Kak."
"Memanglah ya, kalian berjiwa pemulung sejati."
Aku, Lia dan Titin terkekeh mendengar candaan kak Leni yang cetar barusaaan. Tak apalah, kelak, kami akan membuat video viral untuk Mimpi Selembar Daun Maple dengan Mimpi Setumpuk Sampah. eheh. amiin.
Selanjutnya, aku ngobrol dengan dek  Sora.
“Adek suku apa?”
“Melayu Kak.”
“Orang tua kedua-duanya Melayu?”
“Iya Kak. kenapa Kak?”
“Nggak ada Batak-bataknya?”
“Nggak Kak. Emang aku kayak orang Batak ya Kak?”
“Kadang, nadanya terdengar seperti Batak Dek. So, agama Adek apa?”
“Islam Kak.”

Refleks aku memegang bahunya. “Eh, Kak fikir selama ini bukan Islam Dek. Waduhhh, maaf ya Dek. Biasanya kan teman-teman tu Kakak lihat yang muslim selalu pakai jilbab, sekalipun kadang di luar nggak pake. Adek sendiri, kalau boleh tau kenapa nggak pakai jilbab?”
“Masih terikat sama hobi Kak.”
“Apa hobi Adek?”
“Dance Kak. Dance K-Pop gitu. hehee. Makanya, rasanya belum siap pakai Jilbab Kak. Sedang proses menuju siap, Kak.”
“Aamiin ya Allah.”
Menjelang maghrib, teman-teman cowok belum juga selesai mendirikan booth. Aku dan Lia terpaksa harus pulang duluan, sebab kami kan perempuan yang harus  dilindungi dari kejahatan *eyaaaak. Sedangkan Titin sedang pergi dengan dek Juni ngurusin konsumsi. Malam ini, kabarnya Menwa akan menjaga tenda supaya aman terkendali hingga esok.

“Nggak makan Cin?” tanya Lia.
“Nggak. Mau tidur agak cepat malam ini soalnya agak ngerasa mau demam gitu. Ntah karena kecapekan ntah karena disengat semut tadi.”
Tapi kemudian, Lia masuk ke dalam kamar dan makan di depanku. Tentu saja aku tergoda. Langsung saja ku dekati ia dan bersiap merampok makanannya.
“Aku udah tahu, mu pasti akan tergoda. Makanya, ku bawakan sendoknya 2. Hahaa.”
Niat untuk diet malam ini terpaksa dipending lagi pemirsaaaaa. Diet is never be the truth. Hahaa. Ya Allah, semoga acara besok lancar tanpa hambatan yang tak sanggup kami atasi. Aamiin.

Tidak ada komentar: