Ada beberapa informasi penting yang ku lihat di FB dan beberapa tulisan yang ku update di blog. Ada sebuah rasa penasaran ketika membaca status seseorang di FB yang serupa ini, Selamat lebaran ya. Mohon maaf lahir dan bathin, kadang diakhiri dengan namanya dan diikuti label ‘keluarga besar’. Lalu, pertanyaannya adalah, “Benarkah dia menuliskan itu dari hatinya dengan penuh kesadaran? Ia meminta maaf kepada semua orang, berarti dia pun sudah melakukan hal yang sama kepada semua orang, bukan?” Dan, kalau kalimat itu ditulis oleh seseorang yang aku tahu tidak menyukaiku, pertanyaan itu akan bertambah menjadi, “Benarkah statusmu itu pun kau tujukan kepadaku? Tapi kenapa sikapmu tak mencerminkannya?”
MENULIS adalah AKU; caraku beristirahat, caraku memaafkan, caraku mencintai dan caraku hidup abadi.
Rabu, 24 Juni 2015
Parodi: Benarkah Maafmu itu Maaf?
Ada beberapa informasi penting yang ku lihat di FB dan beberapa tulisan yang ku update di blog. Ada sebuah rasa penasaran ketika membaca status seseorang di FB yang serupa ini, Selamat lebaran ya. Mohon maaf lahir dan bathin, kadang diakhiri dengan namanya dan diikuti label ‘keluarga besar’. Lalu, pertanyaannya adalah, “Benarkah dia menuliskan itu dari hatinya dengan penuh kesadaran? Ia meminta maaf kepada semua orang, berarti dia pun sudah melakukan hal yang sama kepada semua orang, bukan?” Dan, kalau kalimat itu ditulis oleh seseorang yang aku tahu tidak menyukaiku, pertanyaan itu akan bertambah menjadi, “Benarkah statusmu itu pun kau tujukan kepadaku? Tapi kenapa sikapmu tak mencerminkannya?”
Langganan:
Postingan (Atom)